Wednesday, September 09, 2026

Rumah di Sudut Jalan

Pagi itu, di pekan ketiga September 2022 ketika kita semua baru berangsur-angsur memulai apa yang disebut “new normal” pasca pandemi COVID-19, aktivitas di kampus perlahan-lahan kembali ke mode luring. Kalau bagiku, bagaimana pun keadaannya, bulan September selalu istimewa, usiaku saat itu baru berubah angka. Tapi, kali ini, apa dan siapa yang menungguku di depan sana masih kubiarkan menjadi misteri saja. Bagaimana nanti kesudahannya? Tak mesti kubayangkan saat itu juga. Tapi, dari tadi kepalaku dipenuhi kelebat bayangan seperti teaser film petualangan. Siap tak siap, aku harus siap memulai petualangan baru: menjadi dosen wali.

***

Hari ini aku berangkat lebih pagi dari biasanya, tak sabar rasanya menyambut wajah-wajah baru yang akan mengisi paruh terakhir dekade keempatku, setidaknya dalam empat tahun ke depan. Daftar nama-nama mereka sudah kuperiksa sejak pekan lalu. Memori di kepalaku mulai berputar-putar, membayangkan masa laluku saat aku seusia mereka. Delapan belas tahun sebelumnya, satu langkah besar dalam hidup telah kuambil, merantau ke Bandung. Saat itu, lidahku masih terbata-bata, mencoba mereka-reka orang-orang baru, lingkungan baru, dan banyak hal lainnya yang serba baru. “Kira-kira, akan jadi apa aku nanti setelah lulus? Kuatkah aku bertahan dalam pusaran zaman yang terus berubah? Siapa nanti yang akan jadi kawan-kawan baruku?

Hari ini, pertanyaanku berubah. “Apakah aku siap menemani mereka bertumbuh? Bekal apa yang sudah aku persiapkan untuk membersamai mereka? Akan jadi orang seperti apa aku nanti setelah mereka lulus?” Pagi itu, kami, dosen-dosen Prodi Teknik Biomedis dipanggil ke depan, diperkenalkan satu persatu oleh Kaprodi di depan seratus sembilan mahasiswa baru yang kami terima di semester Ganjil 2022/2023 yang dibagi ke dalam tiga kelas. Tiga puluh tujuh di antaranya akan menjadi tanggung jawabku.

Siangnya kami bertemu kembali di ruang kelas, sesi perwalian perdana. Dari tiga puluh tujuh nama yang kuterima, ternyata ada satu nama yang sama denganku, kupikir namaku sudah cukup langka di generasiku, rupanya masih ada orang tua yang memakainya untuk menamai anak perempuannya. Alasan ini pun akhirnya kupakai untuk memilih panggilanku untuk mereka, “Makcik”, nama panggilanku bagi wajah-wajah muda mahasiswa waliku di kelas TB-46-01, perwakilan dari seluruh nusantara, dari Aceh sampai Papua.

***

Hari-hari berlanjut sebagaimana biasa, semua orang beradaptasi pasca pandemi, tak terkecuali aku dan para mahasiswaku. Semester ini, aku mengajar mereka di kelas Fisika  dan Pembentukan Karakter. Menunggu hasil semester pertama mereka seperti menunggu transkrip pertama ketika aku kuliah dulu, tapi kali ini bebannya terasa sedikit lebih berat. “Bisakah mereka beradaptasi dalam setengah tahun pertama ini?Alhamdulillah, ternyata lumayan mulus. Aku cukup optimis semester selanjutnya akan berjalan tak jauh berbeda. Tapi, ternyata tantangan pertama aku hadapi saat mereka mengakhiri semester dua, rata-rata IP mereka terjun bebas. Aku termenung cukup lama, mencari-cari sebab dan akar permasalahannya. Kuperhatikan satu persatu daftar nilai yang kuterima, sampai suatu hari salah seorang dari mereka meminta waktu untuk menemuiku, disusul oleh beberapa lainnya. Kudengarkan satu persatu keluh kesahnya, ada yang menangis, ada yang terdiam cukup lama sebelum bisa bercerita panjang di depanku. Permasalahannya cukup beragam, tapi ada beberapa benang merah yang bisa kuuraikan perlahan-lahan. Anak-anak muda ini belum menemukan tumpuan, alasan paling kuat untuk membuat mereka bertahan, kebingungan menentukan tujuan. Dari cerita-cerita yang kudengar, banyak dari mereka yang memilih kampus dan jurusan ini bukan dari keinginannya sendiri, tapi karena arahan atau keinginan orang tua. Alasan klasik lainnya karena tidak diterima di Fakultas Kedokteran.

Dulu, dulu sekali ketika aku memutuskan untuk kuliah di jurusan Teknik Fisika, di Bandung dan di ITB, semua keputusan itu kuputuskan sendiri. Aku hanya meminta restu saja dari orang tuaku. Sejak aku masih kecil, mereka selalu berpesan, ketika memilih sesuatu, pertimbangkan matang-matang, dan jika sudah memilih, maka aku harus bertanggung jawab dengan pilihan tersebut, bagaimana pun konsekuensinya. Kukira, pengalamanku ini tak bisa serta merta langsung kujadikan contoh untuk permasalahan mahasiswaku. Di fase ini, tanpa sadar ada sudut dalam kepalaku yang mulai ditempati oleh para penghuni baru, nama-nama yang mulai kupikirkan masa depannya.

Tapi sebenarnya, ketakutan-ketakutan yang mereka rasakan saat itu, sedikit banyak memiliki kesamaan dengan apa yang pernah aku rasakan ketika seusia mereka. Namanya juga masa-masa pencarian jati diri, kalau tak takut justru aneh. Aku bukan tipe orang yang gampang untuk digurui, maka orang-orang yang bisa kudengarkan nasihatnya adalah orang-orang terpilih yang tak banyak jumlahnya. Sampai sekarang pun masih seperti itu, meskipun kadarnya sudah kuatur sedemikian rupa sehingga tak seliar ketika aku masih lebih muda. Skenario baru mulai kupikirkan, aku juga tak mau menggurui mereka, aku akan mengajak mereka berpikir, aku akan mengajak mereka merenung!

Aku percaya manusia itu mempunyai kesempatan untuk dilahirkan dua kali, pertama ketika lahir dari rahim ibunya, kedua ketika sadar apa tujuan hidupnya dan untuk itu tahu apa yang ingin dilakukannya di dunia ini. Apakah semua orang akan lahir dua kali? Belum tentu. Mulai hari itu, saat mereka pertama kali bertemu denganku, kuazamkan dalam hatiku bahwa aku akan berusaha hadir agar mereka bisa lahir kembali untuk kedua kalinya. Aku berutang banyak dari guru-guru dan dosen-dosenku dulu untuk alasan ini. Meskipun sampai kapanpun tak akan terbayar, tapi melalui jalan amanah ini aku akan meneruskan warisan kebaikan mereka.

Sebelum memulai semester-semester selanjutnya, mereka semua selalu kukumpulkan di satu kelas. Kuajak berdiskusi panjang lebar tentang topik-topik berat yang menantang mereka untuk berpikir, menampar rasa enggan, mengajari mereka tahu diri, menempa mereka dengan keadaan-keadaan yang tidak nyaman, dan pada akhirnya berharap mereka bisa menjadi manusia-manusia yang bertanggung jawab dengan pilihan-pilihan yang berkelindan dalam hidup mereka. Tak hanya di kelas-kelas perwalian, tapi juga selalu kusisipkan di kelas-kelas mata kuliah yang kuampu di kelas mereka. Suatu waktu, aku mengajak mereka berdiskusi panjang lebar tentang berbagai topik, di antaranya “GenZ, generasi stroberi?”, “Future Essential Skills”, “Bagaimana mengenali diri dan menyusun Individual Development Plan?” atau topik-topik lain yang mereka minta sendiri. Lain waktu, kubagikan buku-buku untuk mereka baca. Diskusi-diskusi tersebut akhirnya berangsur-angsur menjadi semacam pemantik. Di sela-sela kesibukanku mengajar dan meneliti, satu persatu mereka meminta waktu berdiskusi, makin banyak waktu dan energi yang kusediakan khusus untuk mereka. Lelah? Tak mungkin tidak, tapi panggilan hatiku sudah di sini. Sudut kepalaku tadi perlahan menjadi ruang yang semakin lapang, tempat kami bertukar pikiran, dan tanpa kusadari aku pun terus bertumbuh menjadi versi-versi lain yang belum pernah kukenal sebelumnya.

Ada satu momen yang masih kuingat sampai sekarang, rasanya hari itu aku seperti terlahir kembali untuk ketiga kalinya, lebih tepatnya momen kedua kali dari kelahiranku yang kedua. Sore hari setelah batas akhir pengumpulan daftar nilai akhir semester tiga, aku menerima data nilai semester mereka, pada detik itu mataku berkaca-kaca, aku teryakinkan sekali lagi bahwa panggilan hidupku adalah menjadi seorang pendidik, profesi yang sebelumnya tak pernah aku inginkan. Rata-rata nilai mereka yang terjun bebas di semester sebelumnya naik secara signifikan di semester tiga, bahkan jauh melebihi rata-rata di semester pertama. Rasa bahagia jenis ini baru pertama kali aku rasakan seumur hidupku, melebihi rasa bahagia yang aku rasakan ketika pertama kali bisa naik sepeda, tak bisa ditukar dengan uang, tak bisa ditukar dengan hadiah yang lain, sederhana tapi mengharukan.

Tak jarang, tanpa sadar, aku memasang standar lebih tinggi untuk mereka, aku ingin menempa mereka dengan rasa tidak nyaman dan kondisi dengan solusi yang tidak instan. Tak jarang pula kudengar keluh mereka, tapi aku harus tega, karena aku yakin tantangan di luar sana akan jauh lebih hebat dari kondisi simulasi yang mereka hadapi di dalam kampus. Dalam proses ini, aku pun bertumbuh, aku mengenal versi lain dari diriku, salah satunya  ternyata aku sangat senang menyelami alam pikiran manusia yang berupa-rupa. Kebanyakan orang tak sebagaimana tampaknya, banyak lapisan-lapisan yang tak kita ketahui sebelumnya. Apa alasan seseorang menjadi dirinya pada suatu waktu tak pernah sama satu sama lain, meskipun terlihat mirip pada lapisan luarnya. Tapi, aku menemukan helai benang merah yang lain, bahwa latar belakang pengasuhan ketika seseorang dibesarkan di usia anak sampai remaja sangat menentukan bagaimana dia bertumbuh di fase-fase selanjutnya, termasuk di usia dewasa muda. Di tengah perjalanan, aku kehilangan satu mahasiswa wali yang akhirnya memilih pindah ke kampus lain. Pertemuan yang lebih singkat ini mengajarkanku banyak hal, tentang hidup dan pilihan-pilihannya, tentang harapan-harapan yang tertumpu pada pundak seorang anak dari orang tuanya.

Waktu terus berlalu, aku menyaksikan mereka bertumbuh, ada yang aktif di berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa, ada yang sibuk menjadi asisten di lab-lab riset dan lab-lab praktikum, ada yang sudah bisa mengajari adik-adik kelasnya. Lagi, terasa-rasa dalam benakku, rasa bahagia yang tadi sudah kuceritakan. Jenis bahagia seperti ini mungkin yang bisa membuat para pendidik sampai rela bersusah payah, yang dulu hal tersebut tak pernah masuk dalam akalku.

Tak terasa sampailah mahasiswa-mahasiswa waliku di pergantian semester lima ke semester enam. Fase ini menjadi salah satu fase menentukan bagi mereka sekaligus mendebarkan bagi diriku sendiri. Di semester enam, mereka mulai dihadapkan pada mata kuliah-mata kuliah pilihan yang sebagian besar berbasis proyek Tugas Besar, termasuk mata kuliah wajib Proyek Perancangan Terintegrasi yang menuntut persiapan lebih dari mata kuliah biasa. Di semester ini pula mereka harus mempersiapkan Kerja Praktik yang akan dilaksanakan di masa liburan semester sebelum naik ke tingkat empat. Selain itu, di semester enam ini, ditawarkan kesempatan bagi mereka yang ingin lulus lebih cepat dalam waktu tiga setengah tahun. Banyak yang harus aku persiapkan agar mereka tak salah jalan. Ketika melepas mereka untuk Kerja Praktik pun, hatiku rasanya tak karuan, campur aduk antara senang dan khawatir. Bukankah ini yang aku inginkan? Ingin mereka terbang tinggi dan melepaskan genggamanku, fase ini adalah awalnya.

Sepulang mereka dari Kerja Praktik sebelum masuk ke semester tujuh, aku mengubah strategi perwalian. Kupikir fase ini jauh lebih menentukan dari fase sebelumnya karena kurang lebih satu tahun lagi mereka akan lulus. Perwalian di kelas massal tetap aku laksanakan untuk keperluan registrasi SKS, namun setelahnya aku mewajibkan sesi perwalian khusus per mahasiswa atau maksimal mereka bisa datang bersama empat orang kawannya menemuiku. Dalam satu sesi perwalian tersebut, aku bisa menghabiskan waktu paling sedikit tiga jam bahkan lebih. Hampir dua bulan kuhabiskan waktu untuk sesi konsultasi tersebut. Banyak momen-momen “Oh” yang kutemukan dari pertemuan-pertemuan itu, ketika mulai kuketahui lapisan-lapisan lebih dalam yang belum pernah kukenal sebelumnya. Hampir selalu ada yang menangis, tak sedikit pula yang dengan gamblang menggambarkan rasa takut dan kekhawatirannya. Dua bulan tersebut banyak mengubah cara pandangku tentang mendidik manusia, membuatku mengevaluasi hidupku sendiri, dan mempertanyakan, apakah sudah cukup bekal yang kupersiapkan untuk mereka? Momen ini juga membuat deretan doaku makin panjang. Ruang di sudut kepalaku tadi sudah berubah menjadi rumah yang harus siap kehilangan penghuninya, tak lama lagi.

Tingkat empat mereka lalui dengan berupa-rupa pengalaman. Empat orang di antaranya menjadi mahasiswa bimbinganku, angkatan kedua di Prodi Teknik Biomedis yang aku bimbing. Pengalaman membimbing mereka pun tak kalah istimewanya, dari momen eksperimen dan pengujian di Rumah Sakit dan klinik, bimbingan jarak jauh ketika mereka harus mengambil data di kota lain, sampai momen-momen di mana aku sempat kehilangan kesabaran. Banyak mahasiswa yang mungkin belum tahu, Tugas Akhir itu bukan hanya menantang bagi mahasiswa, bagi dosen pembimbing pun tak kalah serunya. Di fase ini, bertepatan pula dengan penugasan baruku di struktural, di dua posisi berbeda yang hanya berjeda sepuluh bulan. Karenanya, aku pun harus beradaptasi lagi di tengah amanah yang semakin bertambah. Tak mudah, tapi aku terus berusaha hingga sampailah di hari-hari yang menentukan, Sidang Tugas Akhir. Alhamdulillah, empat orang ini berhasil menyelesaikan Tugas Akhirnya dengan nilai terbaik dan termasuk di antara mahasiswa yang sidang pertama di angkatannya. Rasa bahagia jenis yang tadi mengetuk lagi, kali ini ditambahi bunga-bunga, aku sampai harus menemukan momen sendiri untuk menikmati rasa haru dan harumnya.

***

Ibarat gelombang pasang yang mulai menyurut, fase hidupku bersama TB-46-01 mulai memasuki babak terakhir. Alhamdulillah, Allah izinkan tiga puluh satu dari mereka dapat menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan sarjananya dengan baik, artinya tak lama lagi mereka akan diwisuda. Dalam momen acara perpisahan bulan lalu, tumpah ruah perasaanku menemui titik baliknya. Kesempatan itu kumanfaatkan baik-baik untuk memotret dengan seksama wajah-wajah yang telah menemaniku belajar dalam empat tahun terakhir ini, belajar menjadi manusia lagi dan selalu belajar untuk menjadi guru yang baik. Kuperhatikan wajah-wajah yang selama empat tahun ini kutemui dalam berbagai fase dan ungkapan emosinya.

Tak hanya mereka, aku pun berubah menjadi versi yang berbeda dari empat tahun sebelumnya. Pertanyaanku di pertengahan September, empat tahun yang lalu: “Akan jadi orang seperti apa aku nanti setelah mereka lulus?” mulai kutemukan jawabannya sekarang. Hari-hari terakhir ini, menjelang dekade kelima hidupku, mereka telah mengubah banyak hal, tak hanya dalam hidup mereka tapi juga hidupku sendiri. Siap tak siap, aku harus siap. Rumah di sudut kepalaku tadi mulai kurapikan susunan barang-barangnya, kubersihkan setiap ruangannya, kupajang foto-foto mereka di salah satu dindingnya, kusiapkan pintu yang akan kubukakan kapan saja mereka ingin pulang, mereka-mereka yang telah aku pilih untuk menjadi penghuni tetap di rumah itu.

Kutemukan diriku hari ini telah menjadi manusia yang baru, yang harus menerima risiko dari cita-citaku sendiri, risiko kehilangan. Hari-hari ini, aku menemukan alasan dari rasa cintaku yang kubiarkan tumbuh untuk mereka, juga rasa cinta pada profesi yang akhirnya kupilih. Alasan pertama, aku tak pernah bisa melakukan apapun setengah hati, termasuk mencintai, apalagi diamanahi untuk mendampingi sekumpulan manusia. Kedua, dedikasi yang aku lakukan ini adalah sebuah bentuk “balas dendam” atas kekecewaanku terhadap hal-hal yang tak bisa kujangkau dan kukendalikan, salah satunya, penyelenggara negara. Apa yang aku lakukan ini setidaknya adalah sedikit yang bisa aku usahakan untuk generasi mendatang. Harapanku sesederhana, jika suatu saat mereka dihadapkan pada pilihan yang rumit, pilihan paling jujur dan berintegritaslah yang akan mereka pilih, betapapun sulitnya. Kapan tunas-tunas yang kutanam ini akan berbuah? Bukan urusanku, bahkan sampai aku tak ada lagi di dunia ini pun aku tak peduli. Biarlah mereka tumbuh, menemukan jalan hidup, dan menikmati buahnya sendiri, menjadi manusia-manusia baik di masa depan nanti. Seperti kata Ki Hadjar Dewantara: “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.”

Di malam perpisahan itu, setelah sesi diskusi panjang hampir lima jam, mereka menghadiahiku sebuah kotak, isinya dua puluh enam surat yang mereka tulis di atas kertas. Di tengah udara malam Lembang yang dingin, tiba-tiba hatiku menjadi hangat, sehangat kasih sayang ibuku yang malam itu berubah wujud menjadi doa-doa dan harapan yang mereka tuliskan untukku. Ingatanku terlempar ke puluhan tahun yang lalu ketika aku masih kecil. Di masa sekolah dulu, aku sering sekali berpindah-pindah sekolah. Setiap momen perpisahan itu, selalu aku yang menjadi orang yang meninggalkan, bukan ditinggalkan. Suatu hari, pernah seorang guruku menangis ketika aku pindah sekolah. Saat itu aku belum bisa memahami perasaan beliau seutuhnya. Saat aku meninggalkan Jerman dan kembali ke tanah air pun sama, aku yang meninggalkan, bukan ditinggalkan. Puluhan tahun kemudian, malam itu, aku baru sadar, “Oh, begini rasanya ditinggalkan.” Meskipun aku tak pernah mahir soal perpisahan, tapi ketika berada di posisi yang ditinggalkan ternyata rasanya jauh lebih menyedihkan. Rumah di sudut kepalaku tadi mulai kosong ditinggalkan penghuninya, tersisa lima orang lagi yang tak lama lagi juga akan segera menyusul kawan-kawannya. Persinggahan mereka di rumah itu adalah salah satu hadiah paling indah yang pernah Allah titipkan dalam hidupku. Ah, rasanya tak pernah cukup tulisan ini untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan. Rasa bahagia jenis baru tadi telah bercampur aduk dalam kepalaku, kuresapi dalam-dalam, hendak kusyukuri setiap detiknya.

Kata orang, kalau ada orang lain yang menginginkan dirimu lebih hebat dari dirinya, orang itu hanya orang tuamu saja. Tapi, hari ini izinkan aku menyimpulkan bahwa para pendidik yang sebenar-benarnya adalah orang-orang yang boleh masuk dalam golongan ini, setidaknya itulah yang aku rasakan setelah empat tahun terakhir ini. Aku ingin mahasiswa-mahasiswaku menjadi manusia-manusia yang lebih hebat dari diriku, dalam segala hal yang Allah izinkan mereka untuk mencapainya, setinggi-tingginya, sejauh-jauhnya.

***

Kawan-kawan TB-46-01, maafkan atas segala kekurangan dan kesalahan saya ketika kita belajar bersama. Jadilah versi terbaik kalian di masa depan nanti. Rumah yang pernah kalian singgahi, insyaAllah akan selalu saya bukakan pintunya kapan saja kalian ingin pulang. Jangan gampang menyerah. Kalau lelah tak apa berhenti sejenak, “satu-satu, pelan-pelan”. Terima kasih telah menjadi alasan bagi saya untuk menjadi lebih baik. Semoga Allah senantiasa menjaga kalian dalam setiap keadaan. Terima kasih telah membuat saya menjadi pemberani, yang berani hidup dan berani mencintai.

Bandung, 10 September 2026

***

What a privilege to have them, even just for a brief moment, and feel all of life in its essence. Dieses Gedicht ist für sie, puisi yang kutulis enam tahun yang lalu yang kini menemukan rumahnya.

 

Rumah di Sudut Jalan

Di beranda itu

semua tampak sederhana

bangku, meja, dan daun jendela

putih gading dimakan usia

 

Di halaman itu

semua tampak biasa

ayunan, rumput, dan bunga-bunga

basah, hijau, merona-rona

 

Di rumah itu

semua tampak bersahaja

sofa, buku, dan lemari kaca

menguning di bawah pendar cahaya

 

Di jalan itu

keping-keping peristiwa terserak

bercampur debu dan kerikil

menutupi lubang-lubang tergenang

membekukan masa dalam bingkai segitiga

Bandung, 1 Mei 2020

Saturday, July 26, 2025

Sore (dan Aku) yang Tak Ingin Melawan Waktu

Kata orang, usia 40 tahun adalah titik di mana kita seperti terlahir kembali, terlahir untuk kedua kalinya dalam versi yang sudah jadi. Makanya tak jarang kita lihat, seseorang dengan karakter tertentu yang sudah melekat pada dirinya akan sulit diubah jika usianya sudah menginjak 40 tahun ke atas. Tapi, aku termasuk dari sedikit orang yang naif dan masih percaya bahwa seseorang bisa berubah, setidaknya sampai hari ini. Sore kemarin, keyakinanku itu dibenarkan oleh seorang Sore dalam film Sore: Istri dari Masa Depan. Namun, dia membenarkan anggapanku itu dengan sebuah catatan kaki yang  menampar mentah-mentah egoku.

***

Sore itu, aku menatap diam-diam rumah yang sudah berangsur-angsur dikosongkan sejak pekan lalu itu. Semua perabot dan barang sudah dinaikkan ke bak truk untuk diangkut ke rumah Kakekku. Rumah dengan teras bertangga dan dua bilah daun jendela itu adalah rumah dinas PT. KIA yang sebelumnya ditempati oleh Pamanku sekeluarga. Pamanku itu Abang dari Ayahku. Aku masuk ke dalam mobil sedan Datsun coklat dan duduk di jok belakang, disusul Abang sepupuku yang kerepotan memasukkan 4 ekor kucingnya ke dalam mobil, seekor induk dan 3 ekor anaknya yang masih kecil. Di dalam mobil, aku menggendong dua dari kucing manis itu. Pak Salim, mantan bawahan Pamanku menginjak gas, sedan itu pun melaju menyusul truk yang sudah berlalu lebih dulu. Sambil menggendong 2 kucingnya, Abang sepupuku terus menatap ke arah belakang mobil yang membawa kami, diam dan tidak menangis. Pak Salim diam, aku juga diam, padahal saat itu dadaku sesak menahan air mata yang tumpah ruah dalam buluh napasku. Pohon kersen yang biasa aku panjati di halaman rumah itu seperti layu dan menggugurkan daun-daunnya. Daun-daunnya itu terbang terbawa angin bersama kenangan-kenangan yang luruh dimakan waktu.

Namun, rentetan kejadian hampir 30 tahun yang lalu itu tak pernah hilang dari ingatanku hingga hari ini. Sejak hari itu, aku dan Abangku seperti ketambahan satu saudara kandung lagi, bukan Adik, tapi Abang sepupu kami. Ketika itu, Pamanku (Ayahnya) belum lama berpulang, saat usia Abang sepupuku belum genap 15 tahun, hanya berselang 9 bulan setelah Ibunya berpulang lebih dahulu. Dia punya seorang Abang dan seorang Kakak perempuan, keduanya saat itu sedang berkuliah di Bandung. Setelah kehilangan kedua orang tua mereka, Abang sepupuku tinggal di rumah Kakekku yang sudah lama hanya ditempati salah seorang Bibiku, Kakak dan Abangnya kembali ke Bandung untuk menyelesaikan pendidikan mereka.

Sejak saat itu, kami bertiga tumbuh bersama. Abangku paling dekat dengan Abang sepupuku, usia mereka hanya terpaut 1 tahun. Setiap pulang sekolah, aku dan Abangku biasanya singgah ke rumah Kakek untuk membaca komik dan majalah anak-anak miliknya. Koleksi buku dan gamenya banyak sekali, pemberian Ayah dan Ibunya dulu. Sejak kecil, dia senang menggambar dan bermain musik. Hobi Abangku juga tak jauh berbeda. Kalau denganku, persamaan kami adalah soal kucing-kucing yang kami sayangi.

Kejadian-kejadian yang berlangsung cepat itu, sampai hari ini masih meninggalkan bekas mendalam, mengiris dalam benakku. Tapi, aku ingat betul, Abang sepupuku tidak menangis, baik ketika Ibu maupun Ayahnya berpulang. Aku hanya ingat dia menangis ketika dia bertengkar saja. Aku mungkin serupa dengan dirinya, dulu aku biasanya menangis karena marah, bukan karena sedih, tapi seiring waktu, aku juga berubah.

***

Rol film kuputar kembali ke masa sekarang. Abang sepupuku kini telah menjadi seorang Ayah dari seorang anak laki-laki. Keponakanku itu saat ini duduk di kelas 1 SMP. Di masa dewasa, kami tak mengobrol sesering dulu. Meskipun tidak sering bertemu, sesekali aku menanyakan kabarnya ke Ayah dan Ibuku atau Abangku yang sekarang tinggal tak berjauhan dari rumahnya. Entah mengapa, dia juga salah satu sosok yang relatif sering hadir dalam mimpiku, selain mendiang Kakek dan Nenekku, baik dari pihak Ayah maupun Ibuku. Lukisan goresan pensilnya ketika dia kuliah di Jurusan Desain Grafis dulu masih kupajang sampai hari ini, lukisan sebuah rumah berdinding kulit di tepi telaga, di bawah temaram cahaya bulan. Tiap melihat lukisan itu, memori dalam kepalaku terlempar kembali ke kejadian sore itu ketika aku melihat teras berpagar rendah itu untuk terakhir kalinya. Seperti tipikal stereotipe sebagian seniman, Abang sepupuku perokok berat, pekerjaannya yang memang menuntut sisi kreatif sering sekali menyita waktu istirahat malamnya, malam hari dia terjaga, siang hari dia baru tidur. Makannya juga tidak berpantang, dan jarang kami melihat dia berolahraga.

Beberapa pekan yang lalu, aku menerima panggilan video dari Abangku, wajahnya muram seperti hampir menangis. Dia mengabarkan bahwa kemarin Abang sepupuku terkena serangan jantung. Aku terdiam, suaraku tercekat. Kepalaku serasa berputar-putar. Dipan rumah sakit, buah srikaya dan permen mint tiba-tiba muncul dalam ingatanku. Tiga benda yang paling kuingat ketika Pamanku berpulang dulu. Beliau sudah lama memiliki masalah jantung. Dulu waktu aku masih kecil, Ayahku rutin mengantarnya berobat ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita di Jakarta, dr. Sibarani nama dokter spesialis jantung yang merawatnya. Di hari-hari terakhirnya, Pamanku minta dibelikan buah srikaya dan permen mint, dua benda itu teronggok muram di sebelah dipan pembaringan terakhirnya di Rumah Sakit Timah, tak jauh dari sekolahku dulu.

Setelah dirawat hampir seminggu di Rumah Sakit, Abang sepupuku kembali ke rumah, dirawat jalan sambil berangsur-angsur belajar berjalan dan belajar menelan kembali. Proses penyembuhannya memang pasti butuh waktu dan kesabaran. Selama dirawat, Abangku yang berdiskusi langsung dengan dokter yang merawatnya. Kejadian ini cukup membuat kami sekeluarga khawatir, apalagi yang tinggal jauh dari sana, termasuk aku. Lalu, tak sampai seminggu setelah kembali ke rumah, rupanya tak banyak yang berubah dari Abang sepupuku, bukan kondisi kesehatannya, tapi kebiasaan hidupnya yang sudah tercetak paten di usianya yang sudah menginjak awal 40-an ini. Menerima kenyataan itu, perasaanku campur aduk. Ada rasa marah, sedih, takut, dan kecewa yang mewujud dalam perih dan memori-memori traumatis masa kecilku ketika tumbuh besar bersama dirinya. Deru roda mobil Datsun itu tiba-tiba melintas dalam mimpiku, aku terbangun dalam igau, mataku basah, jam masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


***

Kembali ke film Sore: Istri dari Masa Depan. Sebagai lulusan Teknik Fisika, aku tak mau membahas aspek fisika dari film ini, bukan karena tak kompeten, tapi bukan itu pelajaran paling menghujam yang kudapat setelah menonton Sore, sore kemarin. Supaya tidak spoiler, aku tak akan menceritakan detail filmnya. Serupa dengan versi seriesnya, film ini mengangkat fiksi sains yang dikemas dalam penceritaan dan sinematografi yang sangat artistik. Seorang Sore kembali ke masa lalu untuk bertemu dengan Jo, suaminya (yang saat itu belum menjadi suaminya). Misinya hanya satu: ingin membuat hidup Jo menjadi lebih baik. Jo yang seorang fotografer ini, gaya hidupnya awut-awutan, tipikal gaya hidup sebagian seniman: perokok berat, sering begadang, jarang olahraga, ditambah hobi minum alkohol. Karena gaya hidup ini, di masa depan, Jo meninggal lebih dahulu dari istrinya, di usia relatif muda, karena serangan jantung. 

Dalam usahanya, Sore entah sudah berapa ribu siklus mengulang-ulang rangkaian kejadian yang sama untuk mengubah Jo. Sikus-siklus berulang yang melelahkan dan menyakitkan ini pada akhirnya membuat Sore tersadar, yang bisa mengubah Jo bukan dia, tapi diri Jo sendiri. Tugas dia hanya mencintai Jo, setulus-tulusnya. Jo tetaplah Jo, dalam paket lengkap dengan segala sifat dan kebiasaan hidupnya. Di akhir film, Jo kembali ke tanah air, dalam potongan garis waktu yang belum bertemu Sore di masa mendatang, lalu dia seperti mendapat “ilham” untuk memperbaiki gaya hidupnya agar menjadi lebih baik. Meskipun belum mengenal Sore, siklus-siklus percobaan Sore mengubah Jo dalam potongan-potongan garis waktu yang berbeda tadi seperti sudah tertanam di alam bawah sadar Jo. Wujud cinta yang tulus dari seorang Sore pada sosok Jo berhasil mengubah Jo menjadi versi lebih baik dari dirinya di masa lalu. Lalu, Jo mengatakan: “Orang berubah bukan karena rasa takut, tapi karena dicintai.” Potongan kalimat ini seketika menyentak kesadaranku, menampar egoku yang runtuh seketika.

***

Masa penyembuhan Abang sepupuku adalah proses yang melelahkan lahir dan batin, bukan hanya bagi dirinya, tapi juga bagi kami sebagai keluarga. Abangku adalah sedikit dari manusia yang kukenal yang hatinya luas sekali. Aku yakin, dia belum atau tidak akan menonton film Sore. Tapi, pelajaran dari film ini yang tadi menampar kesadaranku, sudah diterapkan oleh Abangku jauh-jauh hari sebelum film ini dibuat, dalam wujud yang terang benderang, tanpa banyak teori ini itu. Abangku adalah orang paling sabar dalam menghadapi masa turbulensi Abang sepupuku dalam hari-hari belakangan ini. Wujud cintanya tenang dan menenangkan, tak hendak melawan. Aku berefleksi kembali, sebenarnya rasa marah dan kecewaku tadi apakah sebenar-benarnya wujud cinta yang tulus untuk Abang sepupuku, atau hanya ego dan keras kepalaku saja yang ingin dia berubah sesuai keinginan dan gambaran ideal dalam versiku? Pada akhirnya, dalam idealisme rasa sayang ini, yang harus berubah itu bukan Abang sepupuku, tapi aku sendiri. Selama ini, apakah pernah aku terpikir, luka yang mana dalam jiwanya yang belum mengering? Cukupkah kasih sayang yang dia terima selepas kepergian Ayah Ibunya?

Hidup yang tak seberapa lama ini punya seribu wajah dan lapisan-lapisan yang tak harus tersingkap semuanya. Tapi, sesekali aku perlu berhenti sejenak dan mengamatinya lebih tenang untuk menyingkap rahasia-rahasia yang dititipkan oleh Sang Pemilik hidup. Usia menjadi sesuatu yang relatif, dan kematian tak mengenal tua dan muda. Tahun lalu, ketika reuni 20 tahun angkatan kami, seorang dosenku memberikan nasihat: menginjak usia 40, hidup itu idealnya bukan lagi tentang diri sendiri, tapi sudah harus memikirkan lebih banyak tentang orang-orang lain dan persiapan untuk kembali ke haribaan Ilahi. 

“Abang-Abangku, aku menyayangi kalian, dan akan terus belajar untuk mencintai setulus-tulusnya, inshaa Allah.”

Bandung, 26 Juli 2025

Tuesday, February 06, 2024

Indonesia, Rumahku Sekali Lagi

Sebuah Resensi dari Buku Jentera Langit Tenggara

 

Identitas Buku

·       Judul buku: Jentera Langit Tenggara

·       Pengarang: Hesty Susanti dan Michael Binuko

·       Penerbit: Tel-U Press

·       Tanggal terbit: 26 Januari 2024

·       ISBN: 978-623-6484-58-6

·       Tebal halaman: 85 halaman

·       Ukuran: 13 cm × 19 cm

·       Tautan penerbit: https://telupress.telkomuniversity.ac.id/product/jentera-langit-tenggara/

 

 

Sinopsis

Perjalanan pulang ke tanah air menjadi akhir sekaligus awal dari petualangan Hesty menyusuri relung-relung abstrak kehidupan yang ia terjemahkan dalam puisi dan penelitiannya di bidang instrumentasi medis. Titik akhir dan awal ini ditandai dengan puisi panjang yang dibaginya dalam dua bagian: Bochum, Sungguh Aku Mencintaimu bagian 1 dan 2. Puisi ini ia tulis di hari terakhir ia berada di Eropa setelah menjalani 4 tahun masa studinya di sebuah kota kecil di lembah Sungai Ruhr, Bochum, Jerman. Pagi itu, 1 Agustus 2015, menjelang puncak musim panas, ia menyusuri jalan setapak dan menumpang U-Bahn menuju kampus tercintanya, Ruhr Universität Bochum, lalu melanjutkan perjalanan ke pusat kota untuk sarapan di sebuah toko roti di Stasiun Bochum Hauptbahnhof. Ia mereka ulang jalur yang rutin dilaluinya hampir setiap hari selama 4 tahun ke belakang. Puisi pertama ini ditulisnya dengan bahasa yang lugas, hampir-hampir seperti cerita pendek, merangkum kenangan yang mengharu biru pada pagi yang sendu itu. Puisi-puisi selanjutnya mengalir dalam berupa-rupa pengalaman pada masa-masa adaptasinya kembali ke tanah air sambil menyelesaikan studi doktoralnya yang sempat tertunda. Dalam beberapa kesempatan, Hesty sering bepergian seorang diri ke tempat-tempat asing, namun hal itu belum pernah dilakukannya di tanah air sendiri hingga ia kembali ke Indonesia. Ia ingin mengenal diri dan tanah airnya “sekali lagi”, ia ingin mencintai yang asing dari sebermula. Perjalanannya ke Flores dan Kepulauan Komodo di akhir 2015 serta petualangannya ke Gunung Anak Krakatau di awal 2017 menjadi dua dari sekian perjalanan yang mengubah hidupnya. Dari dua perjalanan ini, lahir beberapa puisi yang ia sebut sebagai Indonesia, Rumahku Sekali Lagi.

 

Resensi Buku

Jentera Langit Tenggara adalah kumpulan puisi yang berisi hiruk pikuk dalam kepala Hesty ketika ia mencoba menggenggam kembali asal-usulnya di tengah rasa rindu akan tanah perantauan nun jauh di sana. Puisi-puisi Hesty lalu bercengkerama melalui dialog-dialog abstrak dengan sekumpulan ilustrasi goresan tangan sahabat karibnya, Michael Binuko. Meskipun semua puisi dalam buku ini adalah buah karya Hesty, namun ilustrasi dalam buku ini menempati porsi yang sangat dominan. Maka tak heran, nama Michael Binuko muncul pula sebagai “penulis”, tak seperti buku pada umumnya, ketika ilustrator hanya muncul namanya di halaman identitas buku saja.

 

Penamaan buku ini terinspirasi dari sebuah peristiwa penting dalam kalender astronomi dunia, yakni gerhana matahari total, 9 Maret 2016. Benda-benda angkasa telah lama menjadi sesuatu yang dicintai Hesty. Sering ia menyengaja bepergian ke suatu tempat, hanya untuk menyaksikan matahari terbit atau tenggelam atau kerlip bintang-gemintang di tempat-tempat yang jauh. Salah satu yang paling berkesan adalah matahari terbit yang ia saksikan di Pantai Xghajra, Republik Malta. Dalam buku ini, matahari yang sesaat tertutup bulan pada peristiwa gerhana yang ia potret dari Pantai Tanjung Tinggi itu, “dibungkus” oleh Hesty dalam sebuah miniatur benda asing yang jarang terdengar: Jentera. KBBI menerjemahkannya sebagai barang yang bundar berupa lingkaran, bersumbu, dan dapat berputar. Lalu, ia gabungkan dengan kata Langit dan Tenggara, seperti matahari yang ia saksikan di Desa Waerebo, jantung Nusa Tenggara, Flores. Bukan kebetulan pula, sahabatnya Binuko bercokol di Gedung Seni Rupa yang berada di bagian tenggara kampus Ganesha, almamater mereka.

 

Binuko menjadi orang pertama yang membaca utuh draf 56 puisi ini dan menerjemahkannya dalam ilustrasi-ilustrasi penuh makna. Beberapa dialog antara puisi dan ilustrasi yang dihadirkan dalam buku ini terlihat eksplisit, beberapa lainnya mereka biarkan menjadi implisit. Sebagaimana sastra dan seni, mereka ingin agar karya ini menggugah rasa dalam bentuk apa saja pembaca ingin menerjemahkannya.

 

Kelebihan Buku

Jentera Langit Tenggara mengajak pembaca untuk memaknai kehidupan dengan segala lika-likunya dalam ungkapan puisi dan ilustrasi sarat makna. Karya ini berhasil memotret pengalaman hidup dengan tema-tema sentral yang hampir dialami oleh semua orang, seperti keluarga, sahabat, masa kecil, kampung halaman, mimpi-mimpi, apresiasi pada alam, kritik sosial, renungan/refleksi, serta semangat untuk menjalani setiap peran dari masing-masing kita dalam persinggahan di dunia yang sesungguhnya tak seberapa lama.

 

Kelemahan Buku

Buku ini bukan buku yang “ringan” karena menuntut pembacanya untuk berpikir sedikit mendalam agar bisa menerjemahkan serta mengapresiasinya. Pembaca perlu meluangkan kesempatan untuk menyepi sesaat dalam alam pikiran agar bisa bertualang dalam dialog-dialog abstrak yang disuguhkan.




Tuesday, July 25, 2023

Gerak Gerik Rindu

Lebih dari separuh usiaku kuhabiskan di perantauan, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu waktu ke waktu yang lain. Seharusnya, ruang dan waktu yang berganti-ganti itu yang mendominasi alam pikiranku. Tapi, alam mimpiku tetap itu-itu saja, dibekukan waktu dalam rumah masa kecilku nun jauh di Belitung sana, ditambah satu dua episode masa perantauanku di Bochum dulu. Definisiku tentang rindu kampung halaman jadi dua, dua-duanya diawali huruf B. 

Aku masih menerka-nerka apa yang sebenarnya mengikat batin kita akan suatu tempat? Dari sekian banyak kemungkinan, mungkin di antaranya adalah orang tua. Aku teringat pertama kali aku merantau meninggalkan kampung halaman adalah ketika aku lulus SMP dan pindah ke Bangka. Saat itu, aku berangkat lebih dahulu dan tinggal di rumah salah satu pamanku, adik Ibuku. Ayah dan Ibuku baru menyusul pindah ke Bangka beberapa bulan kemudian. Di bulan-bulan awal itu aku merasa kosong, rindu kampung halaman, rindu Ayah dan Ibuku, rindu kucing kesayanganku. Apalagi aku tahu bahwa nanti kami tidak akan kembali ke rumah yang sama lagi. Sakit maagku kambuh lagi. 

Belakangan ini aku sering dilanda perasaan yang sama meskipun sudah lebih dari dua dekade kutinggalkan kampung halaman, atau kurang dari itu jika Bangka tak masuk dalam hitungan. Persoalannya melingkar-lingkar seperti tak berkesudahan, tak pulang rindu, sehabis pulang bertambah rindu. Pulang pun sudah menjelma menjadi berupa-rupa muka: pulang ke Belitung, pulang ke Bandung, pulang ke Bangka, atau bahkan pulang ke Bochum? 

Hari-hari yang kita lalui seperti mimpi saja. Tahu-tahu sudah lewat seminggu, sebulan, setahun. Tahu-tahu sudah tua, tahu-tahu sudah habis jatah usia. Pekan lalu Ayahku mengunjungiku di Bandung. Tiap salat berjamaah ragaku seperti terlempar ke masa puluhan tahun lalu, ketika aku diajari Ayah salat untuk pertama kalinya. Di ruang tamu rumah kami dulu, aku salat di belakang Ayah, menirukan gerakannya satu per satu meskipun belum hafal setiap bacaannya. Setiap selesai salam, waktu itu aku diam-diam sering menggerutu lantaran bacaan doa Ayahku tak pernah singkat. Lain waktu, di ruang yang sama aku menghafal lagu pertama yang akan aku nyanyikan di depan kelas Taman Kanak-Kanak: "Kupu-Kupu yang Lucu". Padahal masuk sekolahnya masih tahun depannya. Malam itu Ibuku menggoreng kue wijen untuk lebaran. Abang tertawa-tawa saja melihat tingkahku. 

Dulu sebelum aku bisa bersepeda, setiap pagi Ayah mengantarku ke sekolah. Pulangnya kadang dijemput Ayah, kadang dijemput Ibu, tergantung siapa yang sempat. Pulangnya aku sering diajak ke pasar ikan. Di pasar inilah aku diajari Ayah mengenal macam-macam ikan. Ketika itu usiaku belum genap 10 tahun. Sejak bangun hingga tidur kembali rasanya tak ada masa yang tak kulewatkan bersama Ayah, Ibu, dan Abangku. Kalau kata Ibuku, di masa-masa itu, kaki mereka jadi kepala, kepala jadi kaki, saking sibuknya mengurus kami sambil bekerja. 

Lalu, puluhan tahun berlalu, kini Ayah dan Ibuku sudah pensiun. Fisik mereka pun sudah tak sekuat dulu. Peran pelan-pelan mulai bertukar. Melihat setiap gerak-gerik mereka sering aku diliputi kekhawatiran, jangan sampai mereka terlambat makan, jangan sampai mereka lelah, jangan sampai mereka kurang tidur, jangan sampai mereka kedinginan dan kepanasan, jangan sampai mereka sakit, jangan sampai mereka kesepian. 

Pernah aku bertanya pada Ibuku, mengapa dulu lampu kamarku tak pernah beliau padamkan ketika aku tidur. Kata beliau, takut ada serangga malam yang menggigitku. Rupanya meskipun sejak kelas 2 SD aku sudah tidur di kamar sendiri, setiap malam beliau rutin menengok kamarku tanpa sepengetahuanku. Lalu, ketika aku sudah bisa bersepeda dan bersikeras tak mau diantar ke sekolah, di keranjang sepedaku tak pernah tertinggal jas hujan yang selalu beliau selipkan. Ayahku lain lagi, setiap aku, Abang atau Ibuku ulang tahun, ada dua menu wajib yang selalu beliau belikan, es putar Babah Pilai dan rujak tahu Bu Mala. Rasa kedua makanan itu masih lekat dalam ingatanku hingga sekarang, perlambang cinta yang sederhana dari beliau. 

Aku teringat dengan salah satu nama Allah, Al Lathif: Yang Maha Halus. Dari kasih sayang yang Allah bagikan di seluruh alam semesta ini, kasih sayang dalam gerak-gerik halus ungkapan cinta orang tua kepada anaknya adalah satu dari perwujudan nama itu. Puluhan tahun kemudian aku baru menyadarinya. 

Episode kehidupan dunia ini penuh teka-teki dan jalan yang berliku-liku. Ujungnya pasti sama, kematian. Ujung yang sekaligus juga sebagai awal mula kehidupan akhirat yang kekal. Siapa yang lebih dahulu mendapat giliran, tak ada yang tahu, bisa jadi anak, bisa jadi orang tua. Namun, kehilangan yang teramat sangat konon dirasakan orang tua yang kehilangan anak, jauh mengalahkan yang sebaliknya karena orang tua mengurus anak dengan harapan yang jauh terbentang dan menyematkan cita-cita hidup anaknya di masa depan. 

Kehidupan yang sesungguhnya tidak di sini, namun di akhirat yang kekal abadi. Semoga Allah mempertemukan dan mengumpulkan kita kembali bersama orang-orang yang kita cintai di JannahNya kelak. Mengutip Surah Yunus ayat 9, tanggal di mana aku dilahirkan: 
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai." 

Pada titik-titik tertentu, kita hanya dapat berpasrah didera rindu yang seringkali datang tiba-tiba, indah dan tak ada gantinya, namun sekaligus perih tak ada obatnya karena waktu memang tak pernah ada pengulangnya. Hanya di JannahNya yang kekal kelak yang tak akan kita temui lagi segala kesedihan. Yaa Rabbanaa, perkenankanlah kami menjadi penduduknya.

Bandung, Agustus 2022

Sunday, June 20, 2021

Kakek dan Nenek Buyutku Tercinta

Ada dua orang dalam lingkar keluargaku yang kelak sangat ingin aku temui, mereka adalah kakek dan nenek Ibuku atau orang tua dari nenekku dari pihak Ibu. Di Belitung, kami biasa menyebut mereka dengan panggilan Datok (Datuk) Laki dan Datok Bini. Dalam Bahasa Indonesia, biasa kita kenal dengan Kakek dan Nenek Buyut.

Kakek Buyutku sudah meninggal sebelum aku lahir, kalau Nenek Buyutku meninggal waktu aku masih balita. Praktis aku hanya mengenal dua sosok ini dari cerita orang tuaku atau orang-orang di sekitarku yang dulu mengenal mereka semasa hidup. 

Kakek Buyutku dulu berprofesi sebagai guru, orang-orang biasa memanggil beliau Haji Ibrahim/Guru Ibrahim. Sedangkan Nenek Buyutku seorang ibu rumah tangga dengan segudang keterampilan, orang-orang biasa memanggil beliau Nek Haji Mai (Maisarah). 

Kek Ibrahim dan Nek Maisarah ini harum sekali namanya di kalangan keluarga, kaum kerabat, dan handai taulan. Mereka dikenal sebagai pasangan yang cerdas, berpikiran progresif, toleran, dan dermawan. 

Mereka berdua lahir di kampung, jauh dari Kota Tanjungpandan, dan bukan dari lingkar keluarga bangsawan seperti keluarga dari pihak Ayahku. Dengan latar belakang seperti itu, keduanya fasih berbicara dan menulis dalam Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Arab, hal yang sangat langka pada zamannya, apalagi di kalangan rakyat biasa. 

Mereka berdua juga terampil berdagang dan berwirausaha, sekaligus fakih dalam ilmu agama. Pada saat yang sama, mereka berdua juga dikenal sebagai orang-orang berpikiran terbuka, pergaulannya luas tak mengenal sekat. Rumah mereka dulu terbuka untuk semua kalangan dan usia, bebas bagi siapa saja yang ingin belajar, meminta pertolongan, atau sekadar bersilaturahmi. 

Belitung sudah lama menjadi pusaran peradaban dengan percampuran berbagai suku bangsa. Kek Ibrahim dan Nek Mai dulu punya banyak saudara angkat dari berbagai kalangan, tak sedikit pula yang sempat bersyahadat memeluk Agama Islam atas wasilah mereka. 

Anak rantau dari kampung yang ingin bersekolah di Tanjungpandan boleh tinggal di rumah mereka. Perantau dari Madura, Bawean, dan Sulawesi yang cukup banyak jumlahnya di Belitung pun sama, banyak sekali yang jadi saudara angkat mereka. Mereka naungi orang-orang rantau ini dalam masa-masa adaptasi mereka ketika pertama kali sampai di Belitung. 

Orang-orang Tionghoa yang sampai saat ini cukup banyak jumlahnya di Belitung pun sama saja, banyak yang menjadi saudara angkat Kek Ibrahim dan Nek Mai. Aku ingat cerita Ibuku beberapa tahun yang lalu. Ketika itu, sehari sebelum Hari Raya, Ibuku singgah di sebuah toko kelontong tak jauh dari rumah kami untuk membeli kelapa. Nyonya Tionghoa pemilik toko memperhatikan Ibuku seperti penasaran, begitu pun Ibuku. Akhirnya Ibuku bertanya, "Nya, dulu Nyonya pernah tinggal di Jalan Gang Perai, bukan ya?" Sang Nyonya Tionghoa langsung menjawab, "Betul, kamu siapa ya? Dari tadi saya juga penasaran, seperti tak asing wajahnya, tapi saya lupa." Ibuku hanya menjawab singkat saja, "Saya cucu Kek Haji Ibrahim, Nya." Lalu berderet-deretlah cerita Sang Nyonya tentang masa kecilnya di kampung itu. 

Singkat cerita, dulu, Kakek dan Nenek Sang Nyonya Tionghoa ini pernah bertetangga dengan Kakek dan Nenek Buyutku. Lalu, di akhir tahun 50-an dan awal tahun 60-an, Pemerintah Orde Lama memberikan pilihan kepada perantau-perantau Tionghoa di Indonesia yang sebelumnya memiliki kewarganegaraan ganda RRT-Indonesia untuk memilih salah satunya. Kakek dan nenek Sang Nyonya ini akhirnya memilih untuk mempertahankan kewarganegaraan RRT mereka dan pulang ke RRT. Mereka pun bersiap-siap, rumah dan kebun yang mereka usahakan akhirnya mereka jual ke Kek Ibrahim. Lalu, entah apa yang terjadi, keluarga ini batal pulang ke RRT. Rumah dan tanah sudah dijual, praktis mereka tak punya tempat bernaung lagi. 

Kek Ibrahim lalu mengizinkan keluarga Tionghoa ini untuk menempati kembali rumah dan kebun yang sudah mereka jual kepada beliau tanpa membatalkan transaksi jual beli yang sudah terjadi. Singkatnya, mereka boleh tinggal  kembali di sana dan mengusahakan kembali kebunnya sampai kapan pun tanpa perlu membayar sepeser pun ke Kek Ibrahim. 

Kembali ke Sang Nyonya. Ketika itu, sang Nyonya masih remaja, ia ingat dengan jelas semua peristiwa yang tadi diceritakannya kepada Ibuku. Di akhir cerita ia menutup dengan mata berkaca-kaca, "Sampai kapan pun saya tidak akan lupa dengan Kek Ibrahim dan Nek Mai, karena keduanyalah yang telah menolong Kakek dan Nenek saya. Mereka tak pernah pindah dari rumah dan kebun itu sampai akhir hayat mereka."

Lalu aku membayangkan, kalau pada era sekarang Kek Ibrahim dan Nek Mai masih hidup pasti mereka sedih melihat bibit-bibit perpecahan dengan saudara-saudara kita dari kalangan Tionghoa yang sering sekali diembus-embuskan oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab. 

Kekagumanku tak habis-habis kepada kedua sosok ini, apalagi Nek Maisarah. Nek Maisarah adalah potret perempuan cerdas, berdaya, dan berpikiran maju. Nek Mai dulu sangat fasih melantunkan syair dan hikayat Melayu yang menceritakan kisah-kisah Nabi dan Rasul, dan tokoh-tokoh besar bangsa Melayu. Kata Ibuku, lantunannya itu tak sembarangan, ada nada dan iramanya, skripnya ditulis dalam Bahasa Melayu dengan huruf Arab gundul. Cucu-cucu beliau biasa menyimak kisah-kisah itu selepas Magrib, berkumpul dalam lingkar nan hangat di ruang tengah rumah beliau. 

Nek Mai juga penyayang binatang, yang paling kuingat dulu waktu aku masih balita, di rumah beliau selalu ada kucing. Beliau juga beternak ayam dan entog. Waktu masih muda, Nek Mai terampil menunggang kuda. Soal kuda ini yang aku paling kagum. Pertama, kuda adalah binatang langka di Belitung, sampai sekarang pun tak banyak jumlahnya. Kedua, Nek Mai ini seorang perempuan, anak kampung pula, dan lahir jauh sebelum Indonesia merdeka. Perempuan pada zamannya, jangankan menunggang kuda ke sana ke mari,  bisa diizinkan ke luar rumah berjalan kaki pun sesuatu yang belum selumrah sekarang.

Lain waktu, Ibuku menuturkan kisah kedua suami istri ini ketika mereka menunaikan ibadah haji. Kapalnya berlayar berbulan-bulan membawa penumpang beserta seluruh kebutuhan mereka selama perjalanan, termasuk ternak. Sejak itu aku paham, mengapa dulu penjajah Belanda sangat berhati-hati dengan orang-orang yang sudah menunaikan ibadah haji. Orang-orang ini menempuh perjalanan panjang lagi sulit, mereka yang bisa kembali ke tanah air adalah orang-orang terpilih yang telah tertempa. Orang-orang akan dengan mudah mendengarkan kata-kata mereka, mereka punya tempat di hati masyarakat. Sekali Belanda berulah, mereka bisa dengan mudah mengerahkan kekuatan ribuan orang untuk melawan. 

Kek Ibrahim dan Nek Mai dikaruniai 4 orang anak, yang tertua Kek Long Siddiq, kedua Nek Anjang Zaina, ketiga Nek Ute Badi'ah (nenekku), dan yang terakhir Nek Busu Farida. Keempat-empatnya juga sudah tiada. Mereka berempat dulu disekolahkan sampai tingkat Sekolah Menengah Agama oleh orang tuanya. Lalu, Kek Siddiq melanjutkan pendidikannya sampai ke Arab Saudi dan sempat tinggal beberapa tahun di sana, Nek Zaina dan Nenekku sempat berprofesi sebagai pendidik seperti ayahnya, lalu Nek Busu Farida, si Bungsu, sempat disekolahkan ayahnya sampai ke Palembang. Kek Ibrahim dan Nek Mai memilih pindah dari Kota Kecamatan di Kampit Belitung Timur ke Tanjungpandan, agar anak-anaknya bisa sekolah, hal yang sangat langka dilakukan orang-orang pada zamannya. Keduanya sudah menyadari pentingnya pendidikan, di saat orang-orang kebanyakan tak ambil peduli. Kalau soal ini, sampai sekarang pun di kampung-kampung di Belitung, hal ini masih menjadi PR besar untuk pemerintah dan masyarakat. 

Masih banyak kisah-kisah harum Kek Ibrahim dan Nek Mai yang sering kudengar, bahkan dari orang-orang di luar lingkar keluarga kami. Sampai sekarang aku masih sangat penasaran, bagaimana mereka bisa tumbuh menjadi orang-orang seperti itu pada zamannya, bagaimana pula dengan orang tua mereka. 

Hari ini aku teringat dan ingin sekali bercerita tentang Kek Ibrahim dan Nek Mai lantaran tadi pagi aku bercerita kepada Ayahku tentang kain kafan untukku sendiri yang sudah kusiapkan. Kata Ayahku, Nek Mai dulu selangkah lebih siap secara teknis dari persiapanku. Beliau bahkan sudah menyiapkan nisan yang bertuliskan namanya sendiri jauh sebelum hari kematiannya tiba. 

Seorang sahabat pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling cerdas?" Rasulullah SAW menjawab, "Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas." 

Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang dimaksud oleh Rasulullah SAW dalam hadits ini. 

Aku terdiam mendengarkan kisah dari Ayahku tadi. Dua sosok ini, Kek Ibrahim dan Nek Mai adalah pendahuluku, yang melalui jalan mereka aku hadir di dunia ini. Mereka tak sekolah sampai ke pelosok dunia untuk menghayati setiap butir ilmu yang mereka terima dari guru-guru dan orang tua mereka. Mereka adalah bukti nyata dari penghayatan ilmu yang bermanfaat dalam wujud yang sebenar-benarnya, ilmu yang tak hanya menempel dalam ingatan, tapi diwujudkan dalam praktik kehidupan untuk kebermanfaatan hidup yang seluas-luasnya. 

Kisah hidup mereka ini kutulis bukan dengan maksud berbangga-bangga akan nasab dan keturunan, namun untuk memetik sebanyak-banyaknya hikmah dan teladan dari mereka yang telah tiada, utamanya pula untuk diriku sendiri. Kalau rindu bisa didefinisikan dengan kata-kata, kisah ini adalah surat rinduku untuk mereka, Kakek dan Nenek Buyutku tercinta. Semoga Allah merahmati mereka. 

Bandung, 20 Juni 2021

Monday, April 12, 2021

Musim Vaksin COVID-19 - Yuk Mengenal Jarum Suntik!

Jarum suntik atau jarum hypodermic adalah salah satu alat yang paling banyak digunakan dalam dunia kesehatan. Kebutuhannya semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Dengan ditemukannya vaksin COVID-19, barang ini kian akrab menyapa kita sehari-hari. Jika 70% persen saja dari seluruh penduduk dunia harus divaksin untuk mencapai herd immunity, artinya setidaknya dibutuhkan hampir 11 miliar jarum suntik untuk kebutuhan penyuntikan vaksin COVID-19. Angka ini belum termasuk kebutuhan di luar itu.

Ilustrasi penyuntikan vaksin COVID-19. (Senior Enlisted Advisor to the Chairman (SEAC) Ramon "CZ" Colon-Lopez receives a COVID-19 vaccine at Walter Reed National Military Medical Center, Bethesda, Md., Dec. 21, 2020. (DOD Photo by Navy Petty Officer 1st Class Carlos M. Vazquez II. Wikipedia).

Istilah hypodermic berasal dari kata hypo yang berarti di bawah, dan dermic yang berarti kulit. Jarum suntik dinamakan dengan istilah ini karena digunakan untuk melakukan prosedur penyuntikan sampai ke area di bawah kulit. 

Untuk tujuan penyuntikan atau pengambilan sampel jaringan dari dalam tubuh, jarum hypodermic terbuat dari bahan logam berbentuk tabung berongga dengan ujung (tip) yang sangat tajam dan biasanya digunakan bersamaan dengan syringe yang berfungsi untuk menampung cairan.

Sejarah Jarum Hypodermic

Sejarah mencatat bahwa jarum hypodermic pertama kali digunakan oleh Christopher Wren, seorang arsitek Inggris, pada 1656 untuk menyuntikkan obat ke pembuluh darah vena pada anjing. Setelahnya, beberapa ilmuwan sempat melakukan percobaan penyuntikan serupa pada manusia namun belum membuahkan hasil yang memuaskan. Sampai akhirnya, pada 1844, penyuntikan dengan jarum hypodermic berhasil dilakukan pertama kalinya pada manusia oleh seorang dokter Irlandia bernama Francis Rynd. 

Bagian-bagian Jarum Hypodermic

Berdasarkan ISO 7864 2016 (Sterile Hypodermic Needle for Single Use Requirements and Test Methods), jarum hypodermic terdiri bagian-bagian utama yaitu hub, penghubung (jointing medium), batang jarum, stylet dan penutup jarum (cap). Bagian hub, penghubung dan cap biasanya terbuat dari bahan plastik, sedangkan batang jarum dan stylet terbuat dari bahan logam. 

Tiga bagian utama batang jarum spinal (a) stylet, (b) batang jarum berongga, (c) stylet + batang jarum berongga. (Dokumen pribadi, Hesty Susanti).

Untuk jarum dengan diameter di atas 0,05 inchi, terutama jarum spinal (untuk penyuntikan di area tulang belakang) biasanya terdapat bagian batang tambahan yang disebut stylet, yaitu berupa silinder pejal (tidak berongga) yang memiliki diameter sama dengan diameter dalam dari bagian batang jarum yang berongga. Bagian ini dimasukkan ke dalam rongga batang jarum dengan tujuan untuk memperkokoh batang jarum sehingga tidak mudah bengkok atau patah ketika ditusukkan ke dalam bagian tubuh.

Bentuk ujung jarum hypodermic dikenal dengan istilah bevel. Bevel standar yang paling umum berbentuk irisan miring pada bagian ujung jarum, misalnya pada jenis Quincke. Bentuk bevel dengan variasi berbeda biasanya terdapat pada jarum spinal, di mana dikenal bevel berbentuk Tuohy (ujung sedikit melengkung) atau variasi lain dengan lubang tidak pada bagian paling ujung jarum, yaitu jenis Pencan, Sprotte, dan Whitacre.

Material Jarum Hypodermic

Jarum hypodermic terbuat dari bahan logam. Material yang paling banyak digunakan, yaitu baja stainless seri 300 atau 400, nikel (inconel), titanium, atau campuran nikel dan titanium (nitinol). Bahan-bahan ini dipilih karena memiliki sifat anti karat, kokoh, fleksibel dan tidak mudah patah. 

Material dasar ini biasanya dilapisi lagi dengan bahan tertentu untuk meningkatkan kehalusan permukaan agar lebih mudah ketika disuntikkan ke tubuh kita. Untuk kebutuhan tertentu, pelapisan dengan material tambahan dilakukan dengan tujuan agar jarum lebih mudah terlihat ketika penusukannya dilakukan dengan bantuan ultrasonografi (USG).

Ukuran Jarum Hypodermic

Ukuran jarum hypodermic mengacu kepada ukuran gauge (G) yang menunjukkan ukuran diameter dalam dan diameter luar tabung. Standar gauge (G) yang paling umum digunakan adalah Birmingham Gauge yang membagi ukuran diameter kawat logam dari ukuran 5/0G hingga 36G. Semakin besar angka G, maka semakin kecil diameter jarumnya.

Ukuran Birmingham Gauge yang digunakan khusus untuk jarum hypodermic kemudian dilengkapi pula dengan standar ukuran diameter dalam, ketebalan dinding tabung jarum, serta kode warna pada bagian penghubung antara jarum dan syringe (Luer connector) untuk memudahkan penggunaannya. 

Jarum hypodermic dengan berbagai ukuran. (6 hypodermic needles on luer connectors; from top to bottom by Birmingham gauge:Terumo 26G x 1/2" (0.45 x 12mm) (brown)Terumo 25G x 5/8" (0.5 x 16mm) (orange)Becton Dickinson 22G x 1 1/4" (0.7 x 30mm) (black)Becton Dickinson 21G x 1 1/2" (0.8 x 40mm) (green)Becton Dickinson 20G x 1 1/2" (0.9 x 40mm) (yellow)Terumo 19G x 1 1/2" (1.1 x 40mm) (white). Zephyris. Wikipedia).

Selain ukuran diameternya, jarum hypodermic juga dibagi-bagi dalam ukuran panjang sesuai dengan kebutuhannya, mulai dari panjang 0,5 inchi sampai 7 inchi. Jarum-jarum dengan ukuran di atas 3,5 inchi biasanya digunakan untuk penyuntikan di area tulang belakang (spinal) atau area abdominal (perut).

Ketajaman Jarum Hypodermic

Jarum hypodermic harus dibuat dengan standar ketajaman tertentu untuk meminimalkan rasa sakit atau trauma ketika disuntikkan ke tubuh kita. Untuk menguji ketajaman jarum hypodermic digunakan beberapa metode, antara lain pencitraan dengan mikroskop atau uji gaya (force). 

Salah satu metode mutakhir yang mulai banyak digunakan saat ini adalah mikroskop elektron (scanning electron microscopy/SEM) untuk mencitrakan bagian ujung (tip) jarum sampai skala nano meter (seper semiliar meter). Jika diameter sel kulit manusia sekitar 30 mikrometer (seper sejuta meter), maka lebar bagian ujung jarum hypodermic (tip) tidak boleh lebih dari 30 mikrometer. 

Bagian ujung jarum (tip) diperbesar dengan scanning electron microscopy/SEM. (Sharpness of Hypodermic Needles. Application Note. EM Analytical Ltd., United Kingdom. http://www.emanalytical.co.uk/wp-content/uploads/2019/09/Needle-application-note.pdf).

Metode lain untuk menguji ketajaman jarum dilakukan dengan menghitung gaya (force) ketika jarum disuntikkan ke tubuh, yaitu berupa gaya penetrasi/tembus (penetration force) dan gaya luncur (sliding force). Dalam pengujian, digunakan bahan polyurethane sebagai tiruan jaringan kulit dan otot manusia. 

Sampel jarum hypodermic yang diuji akan ditusukkan ke bahan polyurethane dengan kecepatan penusukan tetap, kemudian gaya (force) dihitung sebagai fungsi dari kedalaman menggunakan alat pengukur berupa load cell. Gaya penetrasi merupakan gaya maksimal yang dibutuhkan oleh jarum untuk menembus bahan, sedangkan gaya luncur adalah gaya rata-rata gesekan jarum yang dihitung senilai 80% dari kedalaman yang dicapai jarum. 

Penanganan Limbah Jarum Suntik

Jarum suntik merupakan alat kesehatan yang penggunaannya hanya sekali pakai untuk menghindari kontaminasi yang dapat menyebabkan infeksi dan penularan penyakit. Oleh karena itu, pasca penggunaannya membutuhkan penanganan khusus. 

Berdasarkan panduan yang dikeluarkan oleh FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat, limbah jarum suntik harus dimasukkan ke wadah khusus jarum suntik bekas segera setelah digunakan. Wadah ini harus diletakkan pada tempat yang tidak dapat dijangkau oleh anak-anak maupun binatang peliharaan dan hanya boleh diisi maksimal sampai ¾ kapasitas penuhnya.

Seperti jarum suntiknya itu sendiri, wadah khusus untuk membuang jarum suntik bekas ini juga hanya digunakan untuk sekali pakai. Wadah ini harus dikumpulkan ke area khusus, terpisah dari limbah-limbah kesehatan jenis lainnya untuk dikirimkan ke fasilitas penanganan limbah khusus jarum suntik. 

Cara paling umum untuk menangani limbah jarum suntik adalah melalui metode insinerasi (incineration) atau pembakaran. Meskipun metode insinerasi dapat memusnahkan limbah jarum suntik, namun hasil pembakarannya dapat menimbulkan zat-zat (biasanya berupa gas) berbahaya yang memerlukan penanganan khusus sebelum dibuang ke lingkungan.

Para ahli kemudian mengembangkan cara-cara lain yang lebih praktis dan ramah lingkungan yakni menggunakan mesin penghancur yang dilengkapi sekaligus dengan mesin sterilisasi. Dengan cara ini, logam dan bahan lain dari jarum suntik dapat dipisahkan dan didaur ulang kembali sebagai bahan mentah untuk membuat barang baru.

Takut Jarum Suntik?

Jika Anda takut disuntik, Anda tidak sendirian. Secara statistik, 22% orang dewasa mengalami ketakutan ini. Rasa takut akan jarum suntik dikenal dengan needle phobia atau aichmophobia. Menurut penelitian oleh Dr. James G. Hamilton, needle phobia kemungkinan besar bersifat genetik yang akarnya bisa ditelusuri dari sejarah evolusi manusia. 

Selama ribuan tahun yang lalu, manusia menghindari benda tajam sebagai bagian dari insting untuk bertahan hidup dengan cara menghindar dari kemungkinan bahaya. Tingkat keparahannya bisa bervariasi, dari mulai denyut jantung dan tekanan darah yang meningkat atau menurun, hingga kehilangan kesadaran (pingsan).

Jarum suntik dan syringe diproduksi dalam jumlah miliaran setiap tahunnya di seluruh dunia. Alat kesehatan yang tergolong sederhana ini telah membantu para tenaga kesehatan dalam menyelamatkan banyak pasien selama hampir dua abad terakhir. 

Perkembangannya telah mewarnai perjalanan panjang kehidupan manusia sampai kepada era sekarang ketika kita semua menghadapi pandemi COVID-19. Dengan pencapaian ini, tak berlebihan rasanya jika jarum suntik bisa disebut sebagai salah satu penemuan terhebat dalam sejarah peradaban umat manusia.

Referensi

1.Kucklick, T.R. The Medical Device R&D Handbook. CRC Press, 2013.

2.Sharpness of Hypodermic Needles. Application Note. EM Analytical Ltd., United Kingdom. http://www.emanalytical.co.uk/wp-content/uploads/2019/09/Needle-application-note.pdf

3.Leonardi, L., Vigano, M., and Nicolucci, A. Penetration Force and Cannula Sliding Profiles of Different Pen Needles: the PICASSO Study. Medical Devices: Evidence and Research. 2019, 12: 311-317.

4.Majcher, K., et al. Assessing the Sharpness of Hypodermic Needles after Repeated Use. Canadian Veterinary Journal. 2018, 59: 1112-1114.

5.Pereira, I.B., et al. Ultra-structural Evaluation of Needles and Their Role for Comfort during Subcutaneous Drug Administration. Journal of School of Nursing University of Sao Paulo. 2018, 52: e03307.

6.Craig, R. A History of Syringes and Needles. Faculty of Medicine, The University of Queenslans, Australia. 2018. https://medicine.uq.edu.au/blog/2018/12/history-syringes-and-needles

7.Best Way to Get Rid of Used Needles and Other Sharps. US Food and Drug Administration. 2021. https://www.fda.gov/medical-devices/safely-using-sharps-needles-and-syringes-home-work-and-travel/best-way-get-rid-used-needles-and-other-sharps

8.Dialysis Needle Sharpness Testing for Patient Comfort. News Medical Life Sciences. 2018. https://www.news-medical.net/whitepaper/20171018/Dialysis-Needle-Sharpness-Testing-for-Patient-Comfort.aspx

9.Birmingham Wire Gauge. The Engineering ToolBox. https://www.engineeringtoolbox.com/BWG-wire-gage-d_508.html

10.Sharps Waste Disposal: A How-to Guide. Cellitron. 2019. https://celitron.com/en/blog/sharps-waste-disposal


Artikel ini pertama kali terbit di Kumparan:

Musim Vaksin COVID-19 - Yuk Berkenalan dengan Jarum Suntik!