Showing posts with label Campus Life. Show all posts
Showing posts with label Campus Life. Show all posts

Wednesday, March 24, 2021

Simon Admiraal and the Romantic History of Mazhab Bandung

After attending two consecutive scientific conferences in Bali and Yogya, my life apparently has to be switched back into its balance position. Fortunately, after coming back to Bandung, this month, Faculty of Fine Art and Design, Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) is celebrating its 70th anniversary. It's special of course and some interesting events are waiting for art lovers. 

Last Friday, I had a chance to attend a talk show about Simon Admiraal, an important figure who initiated the art school (Universiteit Leergang voor Tekenleraren) in Bandung back in 1947, which is now FSRD ITB. Simon was born in Jakarta in 1903 and had an art education in Den Haag. Just 2 years after the opening of the school, he went to his father's homeland, The Netherlands, without ever coming back to his mother's homeland, Indonesia. That's why, people know very little about him as FSRD's founding father. Twenty five years after his death, the story has been eventually revealed and trace its roots. 

This event was held in Galeri Soemardja ITB, as a part of the exhibition about Simon Admiraal, opened two days earlier. That afternoon, Mrs. Marjon Berkenvelder (Simon's granddaughter), her husband and daughter told us about Simon's life, the humanistic side of the maestro. How they describe Simon as a serious and dedicated person. He never spent his days without working on any kind of arts. He always shared his view about art and its all possible forms to his family. Mrs. Marjon is also an artist and Simon was very proud of her. Simon worked in almost every kind of arts. He was a painter, a sculptor, a graphic designer, an interior designer, and also an architect. No wonder, FSRD ITB has grown gracefully with those genres until now. 

Simon had very complicated experience of life. In the end period of Dutch authorization in Indonesia, he had to spend his life in concentration camps in Pekanbaru and Cimahi. He even lost one of his children. But, even in those very tough time, he never lost his spirit. With a hope that one day he would be released from the jail, he designed his dream house in a very detail scale and order. That house was supposed to be built in Bogor. Though, it had never been materialized, I found it very romantic and emotional. 

With one of its visions in history, Galeri Soemardja team really did a really great job. They have researched this material from the scratch and coming with this wonderful history about their school and its roots. Back in 2016, they searched every possibilities to find any valuable information and eventually found a bright spot. They (my friend, Michael Binuko is one of them) even went to The Netherlands to meet Simon's family. This is just a beginning of their upcoming long project. I am really looking forward for other amazing works and stories. Like what your founding father did, a wonderful work never be done without dedication and perseverance.

*I wrote this note on August 2017 as a memento of the 70th anniversary of Faculty of Fine Art and Design, Institut Teknologi Bandung. I am not part of it, but this event has left a fond and special memory for me as an art enthusiast.



Thursday, October 22, 2015

Sehelai Daun Jati

Pada sehelai daun jati
Tersangkut debu yang digerus sepi
Bersama sehelai daun jati
Luruh perlahan jingga mentari

Pada sehelai daun jati
kukirimkan rindu pada maple
yang gugur dicumbu angin
Bersama sehelai daun jati
Cikapundung mengalir deras
menyapu lembah-lembah Ruhr

Di tepi tanah lapang
sehelai daun jati mencuri dengar
parau suara meneriakkan janji
"Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater"
Toga-toga wangi, basah tersiram euforia
pada sore nan gemuruh

Patung Ganesha masih tertegun
ditemani juntai-juntai bunga September,
helai-helai daun jati,
dan kemarau yang enggan pergi.

Ganesha 10, 17 Oktober 2015










Tuesday, September 29, 2015

Bochum, Sungguh Aku Mencintaimu

Aku masih ingat, sore itu, langit kelabumu menyambutku malu-malu. Aku meringis menahan desir dingin angin musim gugur yang menerbangkan helai-helai daun maple merah jingga. Berminggu-minggu mendung seperti terperangkap tak hendak beranjak. Hanya sesekali kulihat matahari mengintip di celah-celah ranting pepohonan yang mulai meranggas.

Lalu sampailah pada suatu masa, ketika remah-remah salju berderai-derai diterbangkan angin. Alam pun diam berselimut beku, dan hatiku tiba-tiba didera rindu, rindu pada hangat matahari yang membelai lembut kulitku.

Engkau tak membiarkan rinduku menjadi biru. Perlahan-lahan matahari musim semi menyelinap di sela-sela pucuk daun hijau muda. Lalu, engkau hadiahkan padaku helai-helai kelopak magnolia merah muda, juga kuntum-kuntum bunga raps kuning merona.
  

Hujanmu tak pernah lama, aku pun jarang mendengar gemuruh petir menyambar-nyambar. Namun pernah kulihat anginmu memberontak menjelma badai, menumbangkan pepohonan yang melintang di jalan-jalan dan rel kereta.

Lalu, datanglah hari-hari nan panjang. Sampai bosan aku menanti senja yang seperti tak kunjung tiba, panas dan gerah terperangkap lamat-lamat di celah-celah jendela. Sesekali kulihat sekawanan kuda dan domba-domba merumput di padang-padang hijau tepi telaga. Ladang-ladang terhampar sejauh mata memandang hingga ke ujung cakrawala.

Kemudian pelan-pelan, matahari seperti terenggut dari haluannya. Dedaunan hijau tua perlahan-lahan menguning, menjingga, lalu tangkai jemarinya mencoba berpegang erat pada ujung-ujung rantingnya, namun tak lagi kuasa. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, musim pun datang dan pergi, silih berganti.

Bochum, engkau telah memenuhi hatiku hingga meluap-luap, mengajarkanku kebijaksanaan dalam setiap helai pergantian musimmu. Pada detik ini aku sadar, bahwa aku telah jatuh cinta, pada setiap jengkal tanahmu, pada setiap desir anginmu, pada setiap tetes hujan dan derai saljumu, pada setiap lirih bahasa cintamu.

Bochum, terima kasih telah mengizinkanku menghirup desir nafasmu. Terima kasih untuk semua cinta dan kenangan indah yang akan terukir selamanya dalam sanubariku, hingga akhir hayatku. Suatu hari nanti jika kau izinkan lagi kita bertemu, tentu 'kan kubawakan engkau segenggam rindu.

Bochum, 7 November 2011 - 1 Agustus 2015

Sunday, May 17, 2015

Adikku Sayang

Terlahir sebagai bungsu, aku tak pernah merasakan menjadi seorang kakak. Namun, dari sekian sepupu yang aku miliki, aku paling dekat dengan Cici, adik kecilku yang kini sudah beranjak dewasa. Tujuh setengah tahun jarak usia kami. Aku masih ingat ketika dulu, pagi-pagi sekali, Mamak mengajakku menjenguk Acik di klinik bersalin dekat rumah kami. Acik adalah panggilanku untuk Ibunda Cici, adik ibuku. Pagi itu, aku merasa seperti baru saja dibelikan mainan baru atau seperti baru bisa naik sepeda, bahagianya sederhana, namun tak terkira. Sejak kecil aku memang sangat dekat dengan Acik, beliaulah yang membantu Mamak untuk mengasuhku sejak kanak-kanak. Pagi itu, Acik telah menjadi seorang ibu, dari seorang bayi perempuan mungil, adik sepupuku.

Waktu memang tak pernah iba, dia melesat meninggalkan kita, yang kadang masih termangu dalam lorong-lorongnya. Dulu ketika Cici masih kecil, setiap pulang sekolah, aku selalu minta diantar Mamak ke rumah Acik. Liburan sekolah pun biasanya kuhabiskan di rumah Acik untuk bermain bersama Cici.

Sore ini, aku termangu melihat teks-teks yang dikirimkan Cici ke emailku. Ada perasaan haru sekaligus bangga. Cici minta dikoreksikan abstrak Tugas Akhirnya, artinya sebentar lagi dia akan diwisuda. Adik kecilku kini telah menjadi gadis pintar yang sedang meneliti pengembangan reaktor nuklir. Sejak SD prestasinya memang sangat cemerlang. 2011 lalu, tepat sebelum aku merantau ke Jerman, Cici memperoleh beasiswa penuh dari BATAN untuk menempuh program sarjana di Fisika ITB, bidang kekhususan nuklir.

Adikku sebentar lagi akan menjadi sarjana. Mimpi-mimpiku akan selalu kubagi bersamanya. Jangan berhenti sampai di situ saja, merantaulah lebih jauh dan lihatlah dunia. Suatu hari nanti, kita ceritakan kepada nenek dan kakek tentang negeri-negeri jauh dan mimpi-mimpi masa kecil kita, meskipun hanya di hadapan pusara mereka.

Bochum, 17 Mei 2015

Thursday, April 16, 2015

Cerita "Mati Lampu" di Kampus Kami

Sore kemarin, sekitar pukul 2, aku baru saja menyelesaikan pekerjaan di kantor. Sisa waktu istirahat kupakai saja untuk berselancar di dunia maya. Tiba-tiba, "crek" aliran listrik terputus. Rekan-rekan kerjaku segera keluar ruangan, memastikan bahwa ruangan lain mengalami hal serupa. Lampu di beberapa lorong masih tampak menyala, karena listriknya berasal dari sumber cadangan.

Wajah mereka tampak gelisah, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mungkin terdengar aneh dan berlebihan bagi kita orang Indonesia. "Pasti ada yang tidak beres!", pikir mereka. Sejak aku tinggal di Jerman 4 tahun belakangan ini, ini kali pertama terjadi pemutusan aliran listrik secara mendadak, tanpa pemberitahuan sama sekali. Biasanya kalau pun ada pemutusan untuk tujuan perawatan jaringan, pemberitahuannya sudah dari jauh-jauh hari, bahkan 3 bulan sebelumnya, dan itu pun tak pernah total diputuskan semua, agar kegiatan akademik dapat berlangsung sebagaimana biasa.

Kami pun dipulangkan lebih awal. Sesampai di asrama aku menyalakan laptop dan mencoba mencari tahu lewat internet. Ah, aku baru sadar, internet di asrama terhubung dengan jaringan yang sama dari kampus. Jadi, percuma saja. Lalu, aku mencoba mengecek melalui telepon selularku yang sudah kehabisan kuota internet, lambatnya bukan main. Akun Facebook RUB ternyata tak henti-hentinya memberikan informasi tentang kejadian "luar biasa" ini.

Dari beberapa informasi yang kuperoleh, sejak sore petugas terkait bahu-membahu sigap bekerja, layaknya tim siaga bencana, memastikan tak ada orang yang celaka oleh karena kejadian ini. Para petugas dari "stadwerke" segera memeriksa penyebab putusnya aliran listrik yang melumpuhkan seluruh area kampus.

Perbaruan informasi terus menerus disampaikan oleh para petugas. Sampai pukul 2 pagi, masih kulihat beberapa berita bersliweran. Para petugas menemukan bagian yang bermasalah pada salah satu sambungan yang terletak tak jauh dari pabrik Opel. Katanya ini kejadian stromausfall terbesar sejak 25 tahun terakhir ini. Beberapa petugas yang diwawancarai menyampaikan bahwa mereka tak akan pulang, sampai semuanya selesai diperbaiki.

Pukul 4 pagi, kuterima email dari sekretariat kampus. Mereka memberitahukan proses perbaikan yang sedang berjalan dan beberapa hal terkait kegiatan di kampus yang terkena dampak langsung. Pukul 8 pagi, kuterima email lain dari Supervisorku, berisi himbauan untuk tetap berada di rumah selama masa perbaikan, terkait alasan keselamatan kerja dan sebagainya.

Itulah, sekelumit kisah "mati lampu", yang sedikit menghebohkan warga kampus kami. Banyak pelajaran yang dapat kita petik dari kejadian ini, tentang dedikasi para petugas, tentang kesigapan dan tanggap bencana, serta tentang arti penting teknologi yang telah mendarah daging dalam jiwa mereka. Lalu, di tanah air bagaimana? Mari kita berbenah, Kawan.

Bochum, 16 April 2015

Wednesday, October 15, 2014

Dr.-Ing. versus Dr. med.

Takaran mudah dan tidaknya segala sesuatu sangat relatif. Tergantung siapa lawan bicara kita, bagaimana horizon pengetahuan masing-masing pihak yang berbicara, apa konteks pembicaraannya, dan sebagainya. Namun, kerelatifan ini tidak serta merta menjadikan salah satu pihak merasa lebih tinggi atau lebih tahu dari pihak lain. Kerendahhatian inilah pelajaran yang kuperoleh sepanjang hari kemarin. 

Setelah beberapa bulan hanya berkonsultasi via e-mail. Akhirnya kami kembali bertemu dengan dokter Tim secara langsung. Kali ini, dia yang mengunjungi institut kami. Dengan segudang ide baru, Tim mengemukakan permintaannya di depan kami. Aku tergelitik dengan kalimat pembuka yang diucapkannya: "Mungkin aku akan mengajukan beberapa pertanyaan "bodoh", tapi kalian jangan tertawa, ya." 

Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Tim adalah pertanyaan dari sudut pandangnya sebagai seorang dokter tentang masalah teknis yang lebih berkaitan dengan latar belakang kami sebagai insinyur. Kali ini, Tim mengajak kami berkolaborasi untuk menulis publikasi di sebuah jurnal kedokteran. Hal-hal teknis yang dimintanya dari kami mungkin terlihat "sederhana" di mata kedua pembimbingku, Georg dan Steffi. Namun, bagi Tim, hal ini tentu saja tidak sederhana.  

Kedua pembimbingku mencoba menjelaskan solusi-solusi teknis yang akan kami tawarkan, dengan bahasa yang sedapat mungkin bisa dimengerti oleh Tim. Georg mengajak Tim "membaca" beberapa grafik dan diagram. Tim mengangguk-angguk, sambil beberapa kali berkata: "Luar biasa, aku takjub dengan penerjemahan masalah klinis ini di dalam bahasa kalian." Matanya berbinar-binar.

Di akhir diskusi, Georg bertukar peran menjadi penanya "awam". Dia menirukan kalimat Tim: "Saya juga punya pertanyaan "bodoh", tapi jangan ditertawakan ya." Tim tersenyum, lalu mendongeng tentang sistem saraf yang menjadi kawan akrabnya sehari-hari sebagai anestesiologis. Georg pun memujinya, sambil menggeleng-geleng, menandakan kekagumannya pada Tim. Tiga orang bersahaja ini berasal dari latar belakang yang sangat berbeda. Masing-masing berdedikasi terhadap bidangnya. Namun tak sedikit pun saling meremehkan dan merasa lebih tinggi satu sama lain. 

Pagi ini Steffi kembali berdiskusi denganku untuk merencanakan eksperimen lanjutan. Kata Steffi, jurnal kedokteran ini impact factor-nya jauh lebih besar dibandingkan tulisan-tulisan kami di bidang engineering. "Kita sungguh beruntung, Hesty, bertemu orang seperti Tim. Kau akan belajar banyak hal, bagaimana berbagi dan belajar di tengah pusaran arus berbagai bidang keilmuan. Jaga baik-baik semangatmu sampai akhir." Aku tertegun mendengar nasihat Steffi. 
  
Aku tak bisa lagi meminta lebih dari ini. Perjalanan ini mungkin akan membawaku kepada petualangan-petualangan yang lebih panjang, "berkarat" dalam pengelanaan intelektual sekaligus spiritual yang akan membentang antara Bochum dan Bandung, Jerman dan Indonesia. "Dr.-Med., Dr.-Ing., Dr. atau apa pun "hanyalah" sederet huruf, gelar yang akan kau pertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Maka, berpikirlah lebih dalam, lebih dari sekedar permukaan", nasihatku kepada diriku sendiri.  
  
Bochum, 15 Oktober 2014.



Thursday, July 24, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 27 Ramadhan, U-35 Sahabat Kami

Transportasi umum di Bochum, kota kecil kesayangan kami ini bisa dibilang sangat baik, aman, dan nyaman. Jalur-jalur utama dalam kota hingga ke wilayah pinggiran kota dilalui oleh U-Bahn, tram dan bus. U-Bahn adalah kepanjangan dari Untergrund-Bahn, jika diartikan secara bebas menjadi "kereta bawah tanah". Pada kenyataannya U-Bahn di Bochum berwujud kereta "mini" 2 gerbong yang berhenti di halte-halte bawah tanah maupun halte yang dibangun di permukaan, untuk melayani transportasi dalam kota.

Salah satu jalur utama yang membelah Bochum dari utara ke selatan adalah jalur U-Bahn U-35 yang menghubungkan Schloß Strünkede, sebuah istana peninggalan bangsawan Roman dari abad ke-12, dengan Hustadt di bagian selatan yang terletak tak jauh dari tepian Sungai Ruhr dan Danau Kemnadersee di selatan kampus Ruhr Universität Bochum. U-35 juga berhenti di stasiun utama Bochum Hauptbahnhof dan 2 kampus terbesar di Bochum, Ruhr Universität Bochum dan Fachhochschule Bochum (Bochum University of Applied Science). Maka U-35 lah yang menjadi moda transportasi utama yang kutumpangi sehari-hari.

Aku masih ingat ketika pertama kali menjadi penumpang U-35. Pagi itu, di akhir musim gugur 2011, kabut tipis menyelimuti Bochum, udara dingin mendesir menerbangkan dedaunan dari ranting-ranting pohon. Halte Markstraße yang bisa kucapai dengan berjalan kaki 5 menit dari asrama telah dipenuhi oleh  antrian penumpang yang rata-rata mahasiswa. Karena ini kali pertama, maka aku mencoba bertanya ke salah satu penumpang untuk memastikan apakah aku tidak menuju arah yang salah.

Sejak pagi itu, U-35 menjadi sahabat baikku. Dia selalu setia mengantarku ke sana ke mari, tak peduli hujan, badai, salju, siang maupun malam. Dia hampir selalu tiba tepat waktu. Selama aku di sini, hanya tiga kali seingatku U-35 tak beroperasi, yaitu ketika protes besar-besaran digelar oleh serikat buruh di Ruhr area dan sekitarnya. Praktis, transportasi umum di Bochum lumpuh total. Semua U-Bahn, tram, dan bus dalam kota, termasuk kereta regional antar kota dihentikan operasinya. Maka mau tak mau aku harus berjalan kaki ke kampus, melewati deretan hutan kecil dan pemukiman. Kalau cuaca sedang bagus, perjalanannya akan terasa menyenangkan, tetapi ketika musim dingin mulai mengintai, perjalanan sekitar 25 menit itu akan terasa cukup menantang. Berjalan di bawah udara beku dalam waktu sesingkat itu pernah membuat hidungku sampai berdarah.

Interior U-35 dirancang sedemikian rupa sehingga bisa menampung para penumpang dengan optimal. Di beberapa bagian disediakan space khusus untuk mereka yang membawa sepeda atau kereta bayi, termasuk beberapa tempat duduk yang disediakan untuk penumpang difabel, manula, ibu hamil dan orang sakit. Pada jam-jam sibuk, U-35 akan dipenuhi penumpang, maka hampir setiap pagi jarang sekali aku mendapat tempat duduk. Namun, mau sepadat apapun antriannya, tak pernah aku melihat penumpang yang berebut dan saling mendorong tak terkendali. Semuanya tetap berjalan tertib. Tempelan iklan di dalam gerbongnya ditata teratur, badan gerbongnya berwarna putih keabuan berlist merah, corak kain jok tempat duduknya berwarna merah cerah, lantainya selalu bersih dan dering sirine pengaman pintunya tak kalah merdu berpadu dengan rekaman suara pemaklumat yang mengumumkan nama setiap halte pemberhentian. Begitulah U-35 sahabat kami melalui hari-harinya, dia telah bersolek sejak pagi buta untuk mengantarkan orang-orang yang mencintainya.

U-35 mewarnai sebagian besar perjalananku. Aku bertemu orang-orang asing yang tak kukenal dari berbagai bangsa, juga orang-orang yang kemudian menjadi sahabat dan saudara. Aku mendengar bahasa-bahasa asing yang dituturkan oleh penutur aslinya. Aku melihat bagaimana hormatnya para penumpang kepada manula dan orang difabel. Namun di sisi lain, aku juga mengagumi kemandirian mereka. Di sini tak jarang aku melihat para manula dan orang difabel yang bepergian sendiri, karena fasilitas umum yang disediakan negara memang sangat mendukung. Tetapi tetap saja, semuanya tak semudah yang kita bayangkan dan tetap butuh keberanian. Lain waktu aku juga sering bertemu dengan pegawai cleaning service yang bertugas membersihkan halte, seorang bapak berwajah Asia Selatan, seorang ibu berambut keriting berwajah Latin, dan satu orang lagi bapak berperawakan besar dan berambut pirang. Jika tiba musim dingin dan bersalju, pekerjaan mereka menjadi bertambah, mengeruk salju dan menaburkan remah-remah pasir dan garam agar orang-orang tak terpeleset.

Setiap hari, selalu saja aku bertemu orang-orang dengan raut wajah yang berbeda-beda. Seorang ibu setengah baya yang menatap kosong keluar jendela, anak kecil yang sesenggukan karena baru berhenti menangis, sepasang kekasih yang saling menatap malu-malu, seorang mahasiswa yang sedang serius membolak-balik halaman buku, seorang bapak yang membaca headline berita pagi dari surat kabar terbitan lokal, seorang ayah yang menggandeng tangan anak perempuannya, dan aku yang tak bosan-bosan menyaksikan denyut kehidupan yang masih terus mengalir di dalam U-35, drama kehidupan yang menyimpan sejuta cerita.

Baru kali ini, aku benar-benar kehilangan U-35. Sejak tanggal 19 yang lalu hingga besok, seminggu penuh U-35 dari Wasserstraße menuju Hustadt tak beroperasi. Kabarnya ada perbaikan beberapa jalur rel utama dan penyelesaian sebuah halte baru. U-35 dalam beberapa hari ini digantikan oleh bus khusus yang diberi nama U-35E. Maka benarlah adanya, sesuatu itu terkadang akan terasa sangat bernilai ketika dia tiada. Ketika masih ada dan tersedia sebagaimana biasa, maka kita sering melupakan jasanya. U-35 sahabat kami, terima kasih yang tak terhingga kuucapkan untuk setiap orang yang telah bekerja keras untuk menjadikanmu ada.

Bochum, 24 Juli 2014 

Saturday, July 19, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 22 Ramadhan, Aku dan Teknik Fisika

Aku masih teringat, malam itu selepas magrib, aku dan abang harap-harap cemas menunggu pengumuman SPMB (Seleksi Peneriman Mahasiswa Baru) di internet. Aku sudah pasrah, tanganku mulai dingin. Kuketikkan nomor ujianku satu per satu, lalu serta merta di layar monitor muncul deretan angka "250945", kode jurusan Teknik Fisika. Aku menulis jurusan Teknik Sipil sebagai pilihan ke dua, lantaran aku paling suka memperhatikan konstruksi jembatan yang kokoh dan jalan raya yang berkelok-kelok.

Sebenarnya, aku memilih Teknik Fisika sebagai pilihan pertama bukan karena mengenal apa itu Teknik Fisika. Sepanjang masa persiapan SPMB 2 bulan sebelumnya, tak pernah terlintas di pikiranku untuk memilih jurusan asing ini. Niat awalku dulu ketika pertama kali meninggalkan rumah, aku ingin mendaftar di jurusan Arsitektur, lalu berganti lagi menjadi jurusan Teknik Penerbangan, Teknik Elektro, berubah lagi menjadi Matematika, lalu yang terakhir Teknik Sipil. Berubah-ubah tak tentu arah, lalu pada suatu sore kutanyakan pada guruku, satu per satu tentang jurusan-jurusan yang kuminati tadi, terakhir tiba-tiba kutanyakan tentang Teknik Fisika. Dari sekian banyak penjelasan itu, hanya Teknik Fisika yang tidak kumengerti apa isinya, guruku menyebut-nyebut tentang akustik dan teknologi nano, istilah-istilah yang masih terlalu asing di telingaku ketika itu.

Lalu seperti tiba-tiba saja aku sudah menjadi mahasiswa. Ketika itu Jurusan Teknik Fisika hanya dibuka di 4 institusi pendidikan di seluruh Indonesia: ITB, ITS, UGM, dan Universitas Nasional. Lalu menyusul beberapa tahun kemudian di Universitas Telkom (dulu STT Telkom). Aku menjalani hari-hari sebagai calon insinyur bersama kawan-kawanku. Cita-citaku ketika itu pun terus-menerus berubah. Suatu hari aku ingin menjadi insinyur, selanjutnya tiba-tiba aku ingin sekali membangun sebuah biro arsitek, lalu kemudian berganti lagi, aku ingin menjadi peneliti, lalu entah cita-cita seperti apa lagi yang melintas-lintas dalam pikiranku ketika itu.

Kehidupan di kampus begitu dinamis, tempat berpusarnya arus deras berbagai macam ilmu pengetahuan, pandangan hingga ideologi. Tempat berbagai ilmu dikicau-kicaukan, dipikirkan, dipelajari, bahkan disombongkan. Di Teknik Fisika pula aku mengenal sahabat-sahabatku di lab medik untuk pertama kalinya. Pagi itu, pagi yang cerah di bulan Agustus, kuperhatikan satu persatu wajah kawan-kawanku. Dari 118 orang kawan sejurusanku, hanya 19 orang mahasiswinya. Wajah kami masih polos, lidah kami masih kental berbau kampung halaman, dengan logat khas dari berbagai daerah.

Kami semakin terbiasa ketika orang-orang bertanya: "Kuliah jurusan apa, Dek?" "Teknik Fisika, Bu". Lalu dijawab dengan nada agak panjang: "Oooh, Fisika…". Lalu, kami akan merasa perlu menjelaskan apa itu Teknik Fisika kepada mereka. Aku tidak tahu, apakah generasi mahasiswa Teknik Fisika sekarang masih mengalami hal serupa hingga saat ini. Lalu, apa sebenarnya Teknik Fisika?

Seorang dosenku pernah becerita, bahwa Teknik Fisika itu adalah tentang "mengukur" atau "measure". Mengukur apa? Mengukur apa saja yang perlu diukur. Sehingga seorang sarjana Teknik Fisika harus memahami segala macam fenomena fisis dari berbagai lintas ilmu keteknikan atau engineering sekaligus matematika untuk keperluan pengukuran tersebut. Pola pendidikan berbagai cabang ilmu teknik yang terbagi sekarang umumnya menghasilkan lulusan-lulusan dengan disiplin ilmu yang spesifik dan terspesialisasi. Akan tetapi, hubungan antara berbagai ilmu rekayasa dan teknologi tadi dengan ilmu-ilmu dasar murni dan ilmu dasar terapan belum terjembatani. Di sinilah sebenarnya peran Teknik Fisika, sebagai jembatan untuk mempercepat riset dan pengembangan ilmu-ilmu dasar serta menunjang pemanfaatannya secara lebih efektif  di sektor-sektor industri dan dunia usaha.

Oleh karena itu, kami mempelajari berbagai ilmu dasar keteknikan dan fisika dalam spektrum yang relatif lebar, termasuk pula bahasa penunjangnya, matematika. Tak heran, lulusan Teknik Fisika yang melanjutkan ke pendidikan Pascasarjana dapat masuk ke berbagai jurusan teknik yang sangat beragam, demikian pula bagi lulusannya yang memilih langsung untuk bekerja. Lulusan Teknik Fisika itu ibarat pisau "tumpul" dan panjang yang menunggu untuk dipotong, diambil bagian yang disukai lalu ditajamkan kembali sesuai kebutuhan.


Hari ini, 19 Juli, 6 tahun yang lalu, yang juga bertepatan dengan hari Sabtu, aku dan kawan-kawanku diwisuda. Masih mengenakan toga, hari itu kami diarak berkeliling kampus dengan sebuah mobil pick up bak terbuka, dari halaman belakang Gedung Sabuga lalu disambut sorak sorai kerumunan mahasiswa yang sudah menyemut di depan Gerbang Ganesha. 10 tahun berlalu hanya seperti mimpi. Rasanya baru kemarin aku berkenalan dengan kawan-kawan baru. Kini kawan-kawanku sudah bertebaran hampir di seluruh benua, mengejar mimpi mereka, mewarnai dunia dengan Teknik Fisika.

Bochum, 19 Juli 2014

Tuesday, July 15, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 18 Ramadhan, Kartu Pos dari Texas

Membuka kotak surat selalu menjadi kebiasaan menyenangkan bagiku. Walaupun sedang tidak menunggu surat atau paket, kejutan-kejutan yang tak jarang kutemui di dalam kotak surat menjadikan rutinitas ini tak pernah membosankan. Sore kemarin, sepulang dari kampus, kutemukan selembar kartu pos bergambar bunga tergeletak di dalam kotak suratku. Setelah kubaca ternyata dikirim jauh melintasi samudera, dari Amerika.

Kartu pos cantik itu tepatnya bergambar sebuah buldozer yang teronggok di padang bunga bluebonnet, bunga khas musim panas yang banyak tumbuh di Negara Bagian Texas. Aku tersenyum membacanya. Dalam hatiku, kartu pos ini benar-benar merepresentasikan karakter pengirimnya, tomboy tapi sekaligus feminin. Uple, begitu kami biasa memanggilnya, pertama kali kukenal ketika dia baru memulai Tugas Akhir sarjananya di lab kami, lab Instrumentasi Medik, sekitar 4 tahun yang lalu. Uple sebenarnya berasal dari gedung sebelah, Jurusan Biologi, bukan Teknik Fisika. Tetapi kerjasama yang sudah terbangun sejak satu tahun sebelumnya antara lab kami dengan salah satu lab di Biologi telah mengantarkan Uple sejak saat itu menjadi sahabat sepermainan kami.

Aku teringat pada diriku sendiri bertahun-tahun sebelumnya ketika pertama kali bertemu Uple. Gadis ini sekilas tak tampak seperti perempuan kebanyakan seusianya. Pakaiannya lebih seperti anak laki-laki. Namun siapa sangka, setelah bertahun-tahun aku bersahabat dengannya, kuketahui bahwa perasaan Uple halus luar biasa. Uple dibesarkan sebagai anak tunggal dari orang tua yang keduanya adalah polisi. Aku yang sejak kecil sangat tertarik dengan hal-hal berbau militer, selalu tersenyum mendengar cerita-cerita Uple tentang masa kecilnya. Bagaimana pleton-pleton taruna Polri, kendaraan-kendaraan militer dan senjata menjadi kesehariannya. Cerita-cerita yang didengar Uple sejak masa kecilnya adalah tentang bagaimana ibunya mengurus korban-korban tindak kriminalitas, terutama perempuan dan anak-anak, bagaimana ibunya menghadapi para pelanggar lalu lintas di jalan raya, atau tentang bagaimana ayahnya terlibat dalam operasi penangkapan buronan berbagai tindak kejahatan. Lingkungan seperti ini telah membentuk karakter Uple menjadi seorang pemberani.  

Salah satu hal yang kukagumi dari sahabatku ini adalah sifat kemandiriannya. Walaupun lahir sebagai anak semata wayang, tak pernah ada kesan manja dan keras kepala yang tampak darinya, dua karakter yang aku sendiri pun sangat sulit menghilangkannya jika berinteraksi dengan orang-orang terdekat. Meski usianya lebih muda, sesungguhnya Uple berpikir jauh lebih dewasa. Tahun-tahun terakhirku di Bandung banyak kuhabiskan bersama Uple. Kami mengelilingi pelosok Bandung dengan sepeda motornya yang legendaris itu. Sepeda motor ini juga telah mengantar Tante, sahabat kami yang lain, ke sana ke mari, menerobos hujan, panas, dan malam yang dingin.

Uple, sama sepertiku dan beberapa sahabat kami yang lain, punya cita-cita untuk merantau ke tempat-tempat yang jauh dan merasakan pengalaman menuntut ilmu di negeri orang. Fase-fase pencarian ini kami lalui dalam proses yang tidak mudah. Penolakan demi penolakan tak jarang membuat semangatnya sedikit surut, tetapi cita-cita yang sudah tertanam sejak lama membuatnya tak menyerah. Aku dan beberapa sahabatku merantau lebih dahulu ke Eropa. Dia masih harus bersabar menunggu gilirannya tiba.

Lalu pada suatu sore, aku menerima kabar gembira. Uple mengabariku bahwa dia diterima di salah satu universitas di Amerika, tinggal menunggu beasiswa. Untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjana di luar negeri, tak jarang urusan beasiswa ini justru menjadi kunci. Banyak kawan-kawanku yang sudah diterima di universitas, namun urung untuk memulai studinya lantaran tak memiliki beasiswa. Uple melamar ke salah satu lembaga beasiswa yang prestisius dari Amerika, Fulbright. Aku yakin seyakin-yakinnya dia akan diterima, karena aku tahu bagaimana kemampuannya. Namun, sebagai orang beragama, kami tetap berusaha, menunggu dan menyerahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa.

Nasib memang telah merentangkan sayap-sayapnya, penuh misteri sehingga kita hanya bisa menduga-duga. Perjalanan panjang meraih cita-cita sungguh tak akan sia-sia. Ada banyak peluh dan air mata yang senantiasa mengiringinya. Musim panas tahun lalu, Uple akhirnya berangkat ke Amerika untuk memulai studi S2-nya dalam bidang neuroscience di University of Texas at Dallas. Dalam bulan-bulan terakhir sebelum keberangkatannya, aku menerima kabar dari Vebi bahwa kini Uple memutuskan untuk mengenakan pakaian muslimah. Uple akan menjadi duta, representasi muslimah Indonesia yang akan merantau untuk menuntut ilmu di Amerika. Dialah Ulfa, sahabatku yang mengajarkanku akan banyak hal, tentang hidup, keberanian dan cita-cita.

Bochum, 15 Juli 2014 

Friday, July 04, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 7 Ramadhan, Nasihat dari Pak Guru

Ada orang-orang yang dilahirkan untuk menjadi inspirasi bagi banyak orang. Menebar semangat pantang menyerah yang menjalar hingga ke sum-sum tulang. Tak berlebihan rasanya jika yang akan kuceritakan ini adalah sosok guru yang telah lama menjadi salah satu inspirasi dalam hidupku. Beliau berhasil membakar semangat kami, murid-muridnya, tak berhenti, pun hingga hari ini.

Ingatanku kembali ke masa-masa yang kuhabiskan di tanah air beberapa tahun yang lalu. Selepas SMA, sebagaimana anak-anak sebaya di kampung halamanku, aku meninggalkan rumah untuk melanjutkan pendidikan ke Pulau Jawa. Sejak SD aku memang selalu bercita-cita untuk sekolah di ITB, padahal aku sendiri tak begitu paham apa, di mana, dan ilmu seperti apa yang diajarkan di sana. Cita-citaku ketika itu sangatlah dangkal dan lebih tergiring oleh kebiasaan sekitar. Aku pun diliputi rasa tidak percaya diri, lantaran hanya lulusan sekolah daerah, dan kampung halamanku pun tak banyak dikenal, belum seperti sekarang.

Singkat cerita, di akhir tahun 2004 aku seperti tiba-tiba saja sudah menjadi mahasiswa, masih sedikit mabuk akan euphoria menjadi mahasiswa baru dengan segala atribut yang melekat padanya. Saat itu aku belum berpikir tentang tanggung jawab sebagai manusia, dilahirkan dengan membawa misi yang tidak sederhana di dunia ini. Mungkin jangan jauh-jauh dulu, tanggung jawab sebagai individu pun ketika itu belum sepenuhnya terpatri dalam alam pikiran sadarku, apalagi tanggung jawab kepada keluarga, agama bahkan bangsa dan negara. Menjadi mahasiswa baru bukanlah hal yang mudah, jika tak pandai-pandai kita akan terlalu hanyut oleh euphoria, atau bahkan menjadi panik menemukan diri sendiri yang kalah bersaing dengan orang lain. Jauh tertinggal dan akhirnya harus rela pulang lewat pintu Annex (Gedung Rektorat ITB), alias drop out. Tingkat pertama kulalui dengan hasil lumayan, namun belum ada motivasi yang benar-benar "menggigit" untuk kujadikan alasan kuat bertahan di sana.

Kolam "Indonesia Tenggelam" - Kampus ITB
Kemudian aku dipertemukan Allah dengan sosok Pak Guru, Pak Hermawan, dosen mata kuliah Matematika Rekayasa, mata kuliah wajib yang ketika itu kuambil di semester tiga. Sejak perkuliahan pertama, ada sesuatu yang kurasakan berbeda dari sosok beliau.  Mulai dari gaya bicara, bahasa tubuh, dan gaya mengajarnya selalu membangkitkan semangat dan motivasi baru bagiku. Sampai pada suatu pagi, perkuliahan Pak Her hari itu menjadi salah satu hari paling bersejarah dalam hidupku yang masih kuingat sampai hari ini. Pak Her dikenal sebagai sosok dosen yang cerdas, santun, berjiwa kepemimpinan, dan relijius. Beliau adalah salah satu ahli nano technology  yang dimiliki Indonesia. Belum pernah aku melihat beliau marah. Namun pagi itu rupanya tingkah kami membuat beliau sedikit gusar. Pagi itu, setelah perkuliahan Pak Her, kami harus mengumpulkan PR untuk mata kuliah yang lain sebelum pukul 9. Selama perkuliahan, sebagian besar dari kami sibuk menyelesaikan PR, lalu bolak-balik keluar kelas untuk mengumpulkannya di kantor tata usaha. Pak Her tetap melanjutkan kuliahnya seperti biasa, lalu sampai pada suatu ketika beliau berhenti dan meminta kami semua untuk menutup buku dan mendengarkan beliau. Aku tahu ketika itu beliau menahan marah, namun yang keluar dari mulutnya adalah nasihat panjang penuh penyesalan akan sikap kami sepanjang pagi tadi, seperti seorang bapak yang dengan lembut menasihati anak-anaknya. Suara beliau timbul tenggelam. Aku seperti mendengarkan riwayat panjang perjuangan anak bangsa yang sangat kuat menancapkan cita-citanya untuk bermanfaat bagi banyak orang. Ketika menempuh pendidikan S2 dan S3 di Amerika, Pak Her pun sempat harus bekerja paruh waktu, mulai dari menjadi petugas cleaning service, memberi makan binatang percobaan di laboratorium Biologi sampai menjadi tukang parkir di stadion sepak bola kampus. Kata-kata beliau yang selalu kuingat adalah "Never ever surrender!"

Satu nasihat beliau yang menjadi titik awal perubahan besar dalam hidupku adalah nasihat beliau tentang pentingnya pendidikan bagi kami, kaum perempuan. Kata Pak Her, mau jadi apapun engkau nanti, sekolahlah setinggi-tingginya, jadilah perempuan secerdas-cerdasnya, karena generasi yang hebat lahir dari rahim perempuan-perempuan yang hebat pula. Beliau melanjutkan: "Saya bisa membayangkan, anak-anak yang sejak dalam buaian diasuh oleh ibu-ibu luar biasa itu nantinya akan menjadi apa". Senyumnya mengembang dengan nada penutup kalimat yang hampir-hampir tak terdengar. Seketika semangat dari sorot mata Pak Her membiusku hingga ke ubun-ubun. Sejak hari itu, aku bertekad untuk menjadi perempuan hebat seperti kata beliau.

Siang ini, di hari ke 7 Ramadhan, Pak Joko, seorang Pak guruku yang lain, membagikan tautan ceramah Pak Her di halaman Facebook-nya. Pak Her berbicara sebagai Ketua Asosiasi Masjid Kampus Indonesia. Kuliah singkat tak sampai 30 menit itu lagi-lagi berhasil memompa semangatku, judulnya pun lantang dan penuh energi: "Panggilan Konstitusi, Seruan Kitab Suci – Tanggungjawab Umat Islam dalam Membangun Peradaban Indonesia yang Unggul." Pertama-tama Pak Her memaparkan potensi Indonesia yang dianugerahi kekayaan yang sangat luar biasa, mulai dari kekayaan alam, budaya, wilayah yang luas dan strategis, serta jumlah penduduk yang sangat besar. Sejak lahir, sebagai bangsa kita sudah diberi tantangan dengan problem yang luar biasa kompleks. Tentunya kita akan bertanya, mengapa kita merupakan bagian dari negara yang sedemikian luar biasanya ini? Tujuan itu, sebenarnya dengan sangat cerdas telah dirumuskan oleh para pendiri negara ini, yang dituangkan dalam konstitusi, yaitu agar kita turut berperan secara aktif memelihara dan menjaga perdamaian dunia. Akan sangat efektif kita memikul tugas dan amanah tersebut jika kita telah mampu membenahi dan menyelesaikan persoalan di dalam negeri kita sendiri. Tugas dan amanah ini sebenarnya juga tertera di Al Qur’an, yaitu dalam Surat Al Baqarah ayat 143: "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu". 


Bukan Pak Her namanya kalau beliau tak mampu mengajak muridnya untuk menggantungkan mimpi setinggi-tingginya. Beliau bercerita tentang negara-negara yang sudah lebih dahulu unggul dalam peradaban dunia. Kita sebagai bangsa yang masih dipandang sebelah mata tak boleh sedikit pun ragu dan pesimis, bahwa pada suatu saat nanti kita akan mampu mewujudkan cita-cita luhur para pendiri negara ini untuk berperan aktif di level dunia karena kita sudah bisa menyelesaikan persoalan di dalam negeri. Mindset ini harus selalu hidup di dalam pikiran setiap warga negara, khususnya bagi kita yang beragama Islam karena hal itu sekaligus merupakan tugas suci yang diamanahkan oleh Al Qur’an. 

Untuk mewujudkan itu semua, pertama-tama, yang harus kita kuasai sebagai syarat perlu adalah 3 hal, yaitu sains, teknologi, dan seni. Namun syarat perlu ini harus dilengkapi pula dengan syarat cukup, yaitu karakter atau akhlakul karimah. "Knowledge is power, but character is more". Sehingga kekuatan yang dimiliki itu nantinya tidak digunakan secara sewenang-wenang. 

Berangkat dari amanah luar biasa ini, Pak Her kembali memaparkan persoalan-persoalan yang kini dihadapi bangsa Indonesia. Intinya bangsa kita tak pernah kekurangan masalah. Dari segala potensi yang sudah dipaparkan tadi, lalu bagaimana kita mengolah itu semua menjadi sesuatu yang berdaya guna untuk mewujudkan mimpi dari para founding fathers negeri ini sekaligus amanah dari kitab suci tadi? Untuk menjawab pertanyaan ini, tidak ada salahnya kita belajar dari bangsa-bangsa lain yang telah lebih dahulu berperan luar biasa dalam memajukan peradaban dunia. Dunia ini diisi oleh berbagai bangsa agar kita saling mengenal dan saling belajar satu sama lain. Lalu berturut-turut beliau bercerita tentang bangsa Jerman, Korea dan Amerika. Intinya kita bisa belajar banyak dari contoh-contoh tersebut dimulai dari adanya tekad untuk mentransformasi bangsa ini menjadi bangsa yang lebih maju, sejahtera, dan adil.

Semuanya harus dimulai dari sebuah keyakinan bahwa kita bisa melakukannya. Barangkali tidak perlu seluruh warga negara, tetapi cukup sekelompok kecil yang benar-benar mempunyai tekad yang sangat kuat, bersungguh-sungguh dan berdedikasi. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang diberikan nikmat lebih, salah satunya adalah kelompok kecil yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi.  Tanggung jawab mereka menjadi lebih besar untuk menggerakkan semua perubahan itu. Sampai di sini, aku tertegun dan merasa tertampar, bukankah aku juga menjadi bagian dari orang-orang yang beliau maksud?

Di akhir kuliah, beliau menekankan bahwa kita harus yakin, bahwa selama yang kita lakukan adalah untuk kebaikan, tidak hanya bagi diri kita sendiri tetapi juga untuk kemanusiaan, maka yakinlah semua mimpi dan cita-cita kita insyaAllah akan tercapai. Hanya dengan keyakinan itu kita berani melangkah. Kita membutuhkan karakter yang siap untuk bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja tuntas, bekerja mawas, bekerja yang berkualitas, dengan landasan integritas dan ikhlas.

Setengah jam pun berlalu dengan sangat singkat. Tak terasa mataku berkaca-kaca mendengarkan rangkaian nasihat beliau dan foto-foto tanah air yang sudah hampir 3 tahun aku tinggalkan. Aku teringat pertemuan terakhirku dengan Pak Her sebelum berangkat ke sini. Beliau menasihatkan kepadaku agar aku belajar dan berusaha sekeras-kerasnya. Kata Pak Her aku harus jadi orang cerdas dan tak boleh kalah dengan rekan-rekanku nanti, orang-orang Eropa. Pak Her juga sempat mengucapkan maaf dan terima kasih padaku karena telah bersedia meluangkan waktuku di kampus dalam 1 tahun terakhir sebelum keberangkatanku. Aku terdiam menahan haru, bukankah aku yang seharusnya meminta maaf dan berterima kasih kepada beliau? Bapak guru ini, sosok luar biasa yang duduk di depanku siang itu akan senantiasa menjadi inspirasi luar biasa dalam hidupku. Aku membuka kembali email balasan dari Pak Her yang beliau kirim kepadaku beberapa tahun yang lalu ketika aku baru tiba di Jerman. "Hesty, kalau pun ada pengalaman saya di US, sewaktu mengambil S3 dulu, yang mungkin bermanfaat adalah jangan menyerah sampai usaha terakhir dan selalu berdoa kepada Allah agar diberi jalan keluar yang terbaik dari masalah yang dihadapi". "Guruku, terima kasihku, semoga Allah senantiasa memberkahi hidupmu."

Link video kuliah di atas:

Berikut kukutipkan pernyataan yang pernah disampaikan seorang kawan:

748 languages
1340 ethnic groups
17480 islands
6 official religions
Length of the area is equal as from Paris to Moscow
Hold together as one nation, Indonesia

Isn't that incredible?

I used to think that "one motherland, one nation, one language" was not more than a jargon. But after I travelled to Switzerland where all announcements are in three languages (German, French and Italian) and so with Belgium which is divided into "French Belgium" and "Dutch Belgium", I realize now that Indonesia is a miracle. [Rihan Handaulah]

Bochum, 4 Juli 2014

Thursday, July 03, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 6 Ramadhan, Bertemu Kawan Lama, Control Engineering

Sejak memutuskan untuk melanjutkan studi selepas sarjana, sebenarnya aku sempat berakrab-akrab dengan bidang yang sebenarnya kurang kusukai, control engineering. Akan tetapi program magister yang dulu kuambil, sebagian besar kurikulumnya membahas tentang hal tersebut. Program yang dulu kuambil mempunyai singkatan nama yang charming, PINK (Program Instrumentasi dan Kontrol), juga menjadi nama salah satu dari 2 kelompok keahlian di Teknik Fisika. Lalu mengapa aku memutuskan untuk berakrab-akrab dengan bidang yang justru tidak kusukai? Begini ceritanya.

Di akhir semester 6 program sarjana Teknik Fisika, kami harus memutuskan untuk mengambil bidang keahlian apa yang nantinya akan terus diseriusi hingga mengambil Tugas Akhir di semester 8. Aku yang pada waktu itu masih bingung untuk memutuskan di antara 2 pilihan, bidang Proses Material atau Instrumentasi Medik, akhirnya memutuskan untuk mengambil yang ke dua. Laboratorium Instrumentasi Medik berada di bawah Kelompok Keahlian Instrumentasi dan Kontrol. Semakin jauh kami tenggelam di dalamnya, tergiring pula nasibku untuk mengambil program magister tadi. Sebenarnya penekanan yang kuambil lebih ke arah instrumentasi, bukan kontrol. Tetapi semasa perkuliahan di 2 semester pertama, tetap saja kami harus mengambil mata kuliah wajib yang sangat pekat berbau kontrol. 

Sejak masih di program sarjana, kalau bertemu mata kuliah kontrol, hidupku jumpalitan seperti tikus yang berusaha keluar dari lubang jarum, asal lulus. Di program magister pun tak jauh berbeda, seperti mengulang trauma masa lalu, namun tak juga jera. Melelahkan, tapi getir manisnya terasa pula. Aku masih ingat hari-hari yang kami lalui di minggu terakhir masa ujian akhir mata kuliah Kontrol Otomatik. Aku dan beberapa kawanku hanya tidur mungkin tak lebih dari 1 jam, selepas ujian kami pulang dengan wajah hampir seperti zombie. Tetapi nasib rupanya selalu menyimpan rahasia. Beberapa tahun kemudian atas rekomendasi dari Pak Yul, dosen pengampu Kontrol Otomatik dan salah seorang ahli control engineering di Teknik Fisika, akhirnya aku terdampar di sini. Ketika itu Pak Yul masih menjabat sebagai Atase Pendidikan di KBRI Berlin, beliau baru saja mengadakan kunjungan ke Ruhr Universität Bochum, universitas tempat beliau menamatkan program doktoralnya dulu. Kini aku pun seperti mengulang masa-masa  perjuangan beliau pada dekade 90-an di kota kecil ini.

Lalu hari ini, di hari ke 6 Ramadhan, aku mendapat sedikit kejutan. Sudah hampir 4 tahun aku tak berakrab-akrab dengan kontrol, aku pun sudah tak tahu lagi bagaimana kabarnya. Pagi ini, seorang mahasiswa master di Research Group kami mempresentasikan thesis-nya di depan kami. Tertegun aku membaca judulnya: "Design and Implementation of Adaptive Control for Blood Pumps". Sang mahasiswa yang sejak tadi berdiri di depan ruangan tiba-tiba berubah menjadi Pak Yul, bahasa Jermannya hampir-hampir seperti native, dari namanya kuduga dia berasal dari Iran. Serta merta ratusan istilah kontrol seperti termuntahkan dari kepalanya, mengambang di udara, lalu menari-nari dan tersenyum sinis ke arahku. Aku seperti dipertemukan dengan kawan lama, cinta yang dulu, tetapi masih sama indahnya.

Bochum, 3 Juli 2014

Wednesday, July 02, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 5 Ramadhan, Sahabat-sahabat Sepanjang Masa

Beberapa tahun yang lalu ketika pertama kali aku mulai mengerjakan Tugas Akhir sarjana di laboratorium, dipertemukanlah aku dengan sekelompok anak muda yang hingga hari ini menjadi sahabat-sahabat baikku. Kami menghabiskan sebagian besar waktu bersama, tak jarang hingga larut malam ketika eksperimen-eksperimen menunggu untuk dikerjakan. Jika tiba bulan Ramadhan, tak jarang pula kami masih berada di kampus saat waktu berbuka. Biasanya kami akan berbuka puasa bersama di Masjid Salman atau warung-warung makan di sekitar Jalan Gelap Nyawang. Lain waktu menjelang libur lebaran, Pak Supri kepala lab kami, Lab Instrumentasi Medik, akan mengajak kami berbuka puasa bersama di lab. Momen ini biasanya kami jadikan ajang berkumpul bersama sebelum sebagian besar dari kami mudik ke kampung halaman masing-masing.

Assembly Point di kampus ITB
Hari-hari yang kami lalui bersama sedikit banyak telah mengubah sebagian besar hidupku dalam beberapa tahun belakangan ini. Aku pun belajar banyak hal dari mereka, tak cukup pula waktu rasanya jika sudah berkumpul bersama, mulai dari mengerjakan hal-hal serius sampai hal-hal paling konyol. Pernah pada suatu periode, ITB mendirikan rambu-rambu penanda untuk berkumpul pada keadaan darurat atau Assembly Point di sejumlah titik di wilayah kampus. Kalau aku tak salah ingat tersebar di 21 titik. Entah angin apa yang membawa kami, pada suatu hari tercetus ide untuk berfoto bersama di setiap titik tersebut. Hampir setiap akhir pekan kami berkeliling kampus dan mengabadikannya dalam foto-foto tak penting, kami sampai hampir hafal di mana letak titik-titik tersebut. Kegiatan konyol tak penting ini lalu kami namakan “Wisata Assembly Point”. Ketika itu entah serius atau bercanda kami sering berseloroh, suatu hari nanti kami harus melanjutkan wisata Assembly Point ini sampai ke luar negeri.

Assembly Point di Ruhr Universität Bochum
Sekian tahun berlalu, nasib pun membawa kami sampai ke negeri-negeri yang jauh. Kami harus berpisah karena mimpi-mimpi yang dulu kami rajut bersama, mimpi untuk sekolah lagi. Dalam 4 tahun terakhir ini kami hidup terpisah-pisah, aku di Bochum, sahabat-sahabatku yang lain memilih ke Bremen (Jerman), Nijmegen (Belanda), London (Inggris), Dallas (Amerika Serikat), Manchester (Inggris), Tsukuba (Jepang), dan beberapa memilih tetap berada di tanah air. Saat tiba bulan Ramadhan seperti ini, meskipun kami tak bisa berbuka puasa bersama lagi, tetapi keseharian yang kami bagi dalam group chatting cukuplah menggantikan kebersamaan itu. Di saat sahabat-sahabatku di tanah air berbuka puasa, kami yang di Eropa masih merasakan terik panas tengah hari, lalu yang di Amerika baru lepas waktu subuh untuk memulai puasanya, sementara yang di Jepang sudah akan siap-siap sholat Tarawih. Kebiasaan berfoto di Assembly Point  pun masih kami lanjutkan sampai sekarang. Suatu hari nanti akan tiba saatnya ketika kami diizinkan Allah untuk kembali bersama. Lalu, serpih-serpih kenangan itu akan kami susun mozaiknya pada suatu masa ketika kami tak lagi muda, sejuta cerita tentangku, tentang kita. 

Bochum, 2 Juli 2014