Showing posts with label Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Perjalanan. Show all posts

Friday, March 26, 2021

Surat kepada Ayah

Matahari telah condong ke ufuk barat ketika aku tiba di ujung dermaga. Tahun telah memasuki penggalan ketiga, bulan-bulan di mana angin barat telah mengintai diam-diam dari ujung samudra. Aku pun tak tahu di mana ujung samudra itu, yang kutahu seperti janji yang selalu mereka tepati, gelombang pasang dan gemuruh angin akan mengepung lautan selama berbulan-bulan ke depan, memaksa perahu-perahu tertambat di dermaga ditinggalkan tuannya. 

Aku membayangkan Ibu duduk seorang diri menghabiskan sisa hari-harinya yang senantiasa bergemuruh dipenuhi mimpi tak berkesudahan, mimpi-mimpi yang ia rajut sejak mata kecilnya melampaui ujung cakrawala Tanjong Pendam. Hati kecilnya teramat yakin, ada dunia luas di luar sana yang akan ia jelajahi melampaui segala kemungkinan, Ayah tentu tahu.

Ayah, nelayan-nelayan Marsaxlokk berperahu biru itu berlayar jauh hingga ke laut Belitong senja ini. Perahu mereka menjingga memantulkan matahari megah yang teramat setia kepada Pulau Kalimoa. Nelayan-nelayan Mediterania itu tak berbicara dalam Melayu maupun Indonesia. Tapi, Ibu pernah berkata, “Cinta melampaui segala bahasa yang pernah diciptakan manusia di atas dunia ini, Ram.” Perahu-perahu itu berlayar berbulan-bulan hanya demi mengantarkan cinta Ayah untuk Ibu, dua anak manusia yang paling aku cintai di dunia ini. Mereka berlabuh dalam diam, diayun-ayunkan ombak hingga semesta melarut dalam jingga yang paripurna.

Apa yang akan kuceritakan kepada Ayah ini adalah sebuah perjalanan yang meresap perlahan dari ujung-ujung jari kakiku ketika menyusuri pasir lembut sepanjang Pantai Tanjong Tinggi, pantai yang dahulu hanya kubayangkan dari cerita-cerita Ibu sejak aku terkantuk-kantuk dalam buaiannya. Perempuan yang bahkan baru benar-benar aku kenal tak lebih dalam hari-hari belakangan ini. Hampir separuh dunia harus kutempuh untuk mengumpulkan serpihan-serpihan perjalanan hidupnya, itu pun dengan gerutu, hingga ke tanah asing yang bahkan tak kukenal. Tapi, entah bagaimana kini aku merasa pulang. Aku tak tahu, sejak kapan tanah ini melumat habis kesombonganku hingga hancur berkeping-keping. Aku menyerah tanpa perlawanan dan untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan kebahagiaan tak terperi justru dalam kekalahan yang kuinginkan jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam. 

Pernah pula pada suatu sore di akhir musim dingin beberapa tahun yang lalu, Ibu berkata kepadaku: “Ram, hidup ini tak lebih dari hanya menumpang.” “Menumpang bagaimana, Bu?” “Ya, menumpang”, lanjut Ibu. “Menumpang pada seonggok tanah, menumpang pada aliran udara yang kita hirup setiap detik, menumpang pada urat-urat sungai yang mengalir di permukaan dan perut bumi, menumpang pada waktu yang menguraikan ingatan masa lalu dan mimpi-mimpi masa depan.” Pada sore yang cerah itu, tumpukan salju berkilauan disiram semburat matahari yang menembus ujung-ujung ranting Magnolia yang mulai menguncup, menunggu cuaca menghangat beberapa pekan lagi ketika kelopak-kelopak merah mudanya memenuhi hati Ibu. Aku diam mengamati teduh wajah perempuan yang melahirkanku ini. Pandangannya bergeming melintasi pagar yang membatasi halaman belakang, menerobos jalan dan hutan kecil yang masih meranggas, melintasi sungai Rhein hingga akhirnya diterbangkan angin dari tepi padang, membawanya jauh ke awang-awang. Sesaat kemudian, matanya tajam menatapku, “Ram, Ibu akan pulang!”

Ratusan purnama telah berlalu sejak sore itu, dan kini aku berada di sini, duduk seorang diri di ujung dermaga. Aku berbicara kepada sekawanan camar yang terbang labuh, berharap mereka akan menyampaikan ini kepada Ibu. “Iya Bu, engkau benar. Hidup ini tak lebih dari hanya menumpang.” Bagian mana dari kerak bumi ini yang kusebut sebagai tanah air? Bagian mana dari lempeng benua ini yang kupanggil sebagai kampung halaman? Pertanyaan tak berkesudahan yang sudah sejak lama menghantuiku itu baru saja kutemukan jawabannya, di sini, dekat sekali dari urat leherku, dibisikkan Ibu di telingaku bertahun-tahun yang lalu.

Dalam diriku mengalir darah dari sungai-sungai purba yang membelah pesisir Belitong, menembus rawa bakau dan nipah, menyusuri teluk yang memisahkan Birzebbuga dari Marsaxlokk, dihanyutkan arus Mediterania jauh menuju utara, dan akhirnya bermuara di lembah Rhein yang melegenda. Dalam napasku mengalun gemuruh angin yang membentangkan layar perahu nelayan Burong Mandi, menyapu debu yang menyelimuti kuil prasejarah Hagar Qim, dan menerbangkan helai-helai maple yang berbaris rapi di tepian Ruhr setiap musim gugur. Namun, kenangan masa kecil yang aku simpan tak lebih dari penggalan ketiga dari darah dan angin yang menyisiri lembah-lembah Eropa. 

Ayah, aku tak pernah bisa meminta untuk dilahirkan di tanah mana dan terlahir oleh siapa. Tapi, ingin sekali aku kabarkan kepadamu melalui lembaran-lembaran surat ini, bahwa darah dan tulang yang telah menopang hidupku berikut nama yang tersemat dalam dadaku adalah hadiah terindah yang pernah Ayah dan Ibu titipkan kepadaku. Ayah, surat ini akan kutitipkan kepada juntai-juntai gandum yang akan menguning pada musim panas nanti di tepian Kemnadersee. Sempatkanlah dirimu untuk memetik helai demi helainya perlahan-lahan untuk kau baca sepanjang sore. Barangkali jika angin sudah lebih bersahabat, aku akan menyusulmu nanti. Kita bertemu di bawah jembatan batu tak jauh dari dermaga besar Valetta. Nanti, Ibu akan kubawa serta.

Anakmu selalu,

Ram


Catatan:

Potongan cerita pendek ini kutulis di Bandung pada akhir April 2019. Proses kreatif dibalik tulisan ini dilatarbelakangi oleh kenangan tentang kampung halamanku: Belitong, salah satu tanah perantauanku: Bochum, Jerman, dan persinggahanku yang paling berkesan selama merantau di Eropa: Malta. 


Friday, November 13, 2020

Life is a Grand Affair

The year of 2020 has given me many experiences. No matter what, all of them have been crafted deeply in my heart, Alhamdulillah. This year marks the end and the beginning of many things in my life. As long as the soul is still in the body, during that time all endings and beginnings will alternate in recorded rotation.

"I am marching into my own pace in my own path and will always be."

Normal standards that apply to the average person do not always have to be a reference. After all, I have been through my life for more than 3 decades without much heeding to these standards, and it's okay. For me, life is more exciting to be lived like this, run through the adventures in my own definition, not from the definitions set by others. If other people want to join me, that's great, otherwise that's great too. Because at the end of the day, we are all alone and will be responsible for our deeds only, not others'. 

Someone once asked me: "Have you ever want to have a permanent job, a permanent house, or a family of your own?" 

I don't know how to answer these questions properly. All I know, I never intend to dedicate my life just to pursue those "permanent-permanent club". I try to pursue something more essential than that: "How do I hold the responsibility for my life later after the death?" Again, if those "permanent-permanent club" ever pass by my life, it's great, otherwise it's great too. Because, this worldly life is basically not permanent either. Yes, "back to the basic" often works to answer those questions.

I have challenged myself in what I consider big: breaking boundaries. The first: breaking the limit of my intellectuality by challenging myself to complete my Ph.D journey. The second: breaking the limit of my independence by challenging myself to travel alone to foreign places. The first and the second one turn out to be addicting, it's not easy to brake them either. And the third one: breaking through the limit of my courage by challenging myself to be true to my own feelings. The third one sounds cliché, but it was one of the boldest moves in my life and I never regret it. So far, I've only ever loved 2 men besides my father and my brother. (Thank you for passing by my life, by the way). And I told them, if time has the limit and it is the death and/or the Judgment Day, I love them until the end of time, truly. Because after that, I can't help anyone and can't be helped by anyone other than Allah. 

After completing those three challenges during this year, it's already more than enough for myself, and I shall continue on the next journeys to be more useful to others, hopefully inshaa Allah.

People around me often consider me as a "free spirit". And I am always looking forward to meet many more "kindred spirits" during my lifetime. Even though, I don't care much about those terminologies. 

Someone else also once asked me: "Have you ever felt lonely being yourself that's often considered unconventional by others?"

Maybe yes sometimes, but most of the time, no. I feel completely complete. I am not saying that I am always happy. Happiness is just a bonus and I believe it's the state of mind, not the state of others' presences. I don't pursue it because this world is not the place of the true happines. This world is not the resting place, it's the testing place. My life has been also in many ups and downs, but I never have a reason to not love it. Yes, I love my life unconditionally until the day I meet My Rabb inshaa Allah. Hopefully, you too.

PS. I am in the process of writing my third book, I don't know when it will be finished, but I am excited to introduce it to the world someday inshaa Allah. Again, first thing first, need to arrange the priorities.

Bandung, 13 November 2020.

Photo courtesy: Michael Binuko. He once told me, "It's you, an anomaly".

Wednesday, May 11, 2016

Tanjong Pendam [2]

Langitmu adalah hamparan kanvas
Lautmu adalah benatangan kertas
Bias cahaya senjamu adalah goresan kuas

Tanjong Pendam tak pernah mencintai yang lain,
hanya Engkau saja wahai Kalimoa
Tanjong Pendam tak pernah merindukan yang lain,
hanya Engkau saja wahai Air Saga

Tanjong Pendam adalah sebentuk permata yang merona setiap senja
Tanjong Pendam adalah sebentuk cinta yang teramat setia

Tanjong Pendam, Tanjung Pandan, Belitong, 7 Maret 2016

Cerita Kupu-Kupu

Sayap kupu-kupu tak pernah salah arah.
Dia terbang rendah di sela-sela kelopak bunga,
bercengkerama menghisap sarinya.

Lalu, disiram rinai hujan,
putik pun menyembul berenda-renda.
Sesekali kilau embun
menempel pada pipinya.

Aku hanya mengingat yang manis-manis saja tentang mereka:
cerita sekawanan kupu-kupu,
kelopak bunga,
embun,
dan matahari senja.

Gantong, Belitong, 6 Februari 2016

Sisa Purnama

Pokok pepaya yang sebatang kara.
Anjing kecoklatan yang bahagia.
Rumah-rumah Wae Rebo yang bersahaja.
Punggung perbukitan yang hijau senantiasa.
Masih ingatkan Engkau sisa purnama
yang malu-malu dicumbu cakrawala?
Pada pagi yang wangi di jantung Nusa Tenggara. 

Ruteng, Flores, 28 Desember 2015

Lembah Wae Rebo

Kawan,
pada pagi yang biru itu,
halimun menguap perlahan
dari lembah-lembah Wae Rebo.

Sayup-sayup kudengar
cericit burung pada dahan kayu di tepi jurang.
Jalan setapak yang kulewati masih basah,
sisa hujan semalam,
yang masih malu-malu menyapa Manggarai.

Namamu kutulis di atas selembar daun,
di antara pokok-pokok berdaun merah
yang aku tak tahu namanya.
Biar angin yang menjaganya. 

Wae Rebo, Flores, 28 Desember 2015

Aku Pulang ke Matamu

Kupu-kupu melayang-layang,
seperti kertas kuning,
sisa layangan yang terbang gagah
di langit sebelah timur.

Hujan telah menyapu sebagian pulau.
Rumput keemasan perlahan menghijau.
Ombak berbuih-buih dihempaskan angin
pada karang-karang yang tumpah dari langit.

Bukit-bukit terjal, samar-samar,
kokoh tertancap di Laut Flores.
Elang terbang labuh,
perahu-perahu masih tertambat,
diombang-ambingkan riak pagi yang sepi.

Di kedalaman Laut Flores,
aku melihat mata yang merona-rona,
mata-mata dari surga.
Di kedalaman hatimu,
aku melihat jernih air mata yang biru,
berhulu di kaki bukit kelabu,
menghilir ke tepian sudut matamu.

Labuan Bajo, Flores, 24 Desember 2015

Wednesday, December 16, 2015

Yogyakarta

Butiran pasir basah telah mengering
sisa hujan semalam
Aroma Sekaten menyergap
menyela lalu lalang yang melintas-lintas
memenuhi udara lembab bulan Desember

Engkau tak pernah menua 
hanya memupuk bijak bestari
Engkau tak penah berubah
hanya menyeka keringat tengah hari

Derap-derap sepatu kanvas
Gores-gores cat di ujung kuas
Denting-denting dawai gitar
Bait-bait ceritera, pula puisi
Patung-patung di tepi jalan
Ukiran kayu di sudut genteng
Bangsal-bangsal Joglo nan bersahaja

Jogja,
aku mencintaimu seperti hangat musim semi
aku mengenangmu seperti angin selatan nan mendayu-dayu
Tetaplah seperti itu,
seperti pertama kali aku mengenalmu, dahulu

Stasiun Tugu Yogyakarta, 13 Desember 2015


Thursday, November 26, 2015

Menjumpai yang Tak Tergantikan

Sahabat, meminjam kata-kata dari seniman Ugo Untoro, yang pernah dituliskan oleh salah seorang sahabat saya, Tiaswening Maharsi, dalam bukunya "Dunia Simon":

"Tidak hanya berbunga-bunga, hatiku berbuah-buah."

Begitu pun yang saya rasakan ketika buku pertama saya "Harum Hujan Bulan November" ini diterbitkan. Buku ini adalah hadiah kecil saya untuk tiga orang yang paling saya cintai: Mamak, Mamo, dan Abang. Sahabat-sahabat pun dapat membaca kisah mereka yang saya tuliskan dalam buku ini.

Berikut, beberapa bait resensi yang dituliskan sahabat saya yang lain, FX. Widyatmoko (Koskow):

Kumpulan kisah yang disusun secara alur waktu ini - yaitu sejak 3 November 2011 hingga 26 Juni 2014 - berkisah tentang sesuatu yang tak tergantikan. Yang tak tergantikan ini tak lain kisah-kisah yang dialami Hesty: tentang kedua orangtuanya, kakaknya, ibu petugas di kantor pos, guru, teman-teman sekolah, kuliah, dan mereka yang dijumpainya tanpa direncana. Beberapa kisah yang ditulis juga dialamatkan kepada alam, pula syukur kepada Tuhan. Kisah-kisah tersebut ditulis Hesty dari berbagai tempat: Bandung, Zug, Zürich, Nijmegen, Groningen, Utrecht, dan yang paling sering Bochum, Jerman, tempat Hesty melanjutkan studi. Kisah-kisah juga berasal dari orangtuanya, yang mana kisah tersebut membuat Hesty pergi menjumpai yang dikisahkan tersebut (tentang saudara jauh).

Tulisan-tulisan Hesty, meski terkesan sebagai sebuah catatan perjalanan, namun lebih dekat kepada surat. Jika catatan perjalanan lebih mendekati pada laporan, sebaliknya tulisan Hesty dalam buku berjudul "Harum Hujan Bulan November" ini lebih memilih untuk tak sebatas pelaporan, namun memberi alasan untuk apa ia dilaporkan. Di antara kisah-kisah tersebut hadir beberapa puisi, hadir pula foto. Setidaknya terdapat perbedaan antara kisah-kisah yang dituliskan (dalam bentuk esai), puisi, dan foto dalam buku tersebut.

Pada kisah-kisah yang dituliskan dalam bentuk esai, Hesty kerap bertutur tentang orang-orang yang dijumpainya. Pada puisi dan foto, tersampaikan yang sebaliknya, Hesty mengajukan pertanyaan-pertanyaan, terkesan lebih tentang dirinya, mungkin tentang sendirinya (pula foto seekor bebek yang di bagian bawah foto tersebut disertakan pertanyaan "kayuhmu hendak ke mana?"). Mungkin ada alasan tertentu mengapa hal tersebut terkesan demikian. Namun, yang lebih utama yaitu pada kejujuran serta keterbukaan dalam menuliskan kisah-kisah dan bagaimana memberi bingkai untuknya.

Kisah-kisah Hesty pun dapat dipahami sebagai satu kesadaran mengenal yang lain, yang berbeda. Pada kesadaran inilah kisah-kisah yang dituliskan Hesty dapat dipandang menjadi perjuangan kita bersama yaitu saling menghargai sesama, alam, masa lalu, benda-benda, serta harapan hidup ke depan, terutama di zaman yang kian bergegas dan menyisa sepotong-potong cerita yang berlalu lalang, yang membuat kita gagal utuh menangkapnya karena diri kita (di)sibuk(kan) oleh aktivitas mengganti-ganti citra.

Orang-orang dalam kisah-kisah yang dituliskan Hesty pun menjadi seseorang. Bingkai seseorang dan yang tak tergantikan inilah yang bagi saya terasa mengesankan. Dituliskan oleh Hesty, bahwa: "...Kata orang, bepergianlah, maka engkau akan mengenal sahabat seperjalananmu, karena banyak hal yang akan teruji di sana..." (Bochum-Nijmegen dan Mimpi-Mimpi Masa Silam). Kisah-kisah yang dituliskan Hesty, baik melalui bentuk esai, puisi, dan foto, tak lain adalah usaha mengingat dan memberi harapan pada orang-orang, pada waktu, pada ruang, yang dari situ menempatkan kita pun menjadi seseorang bagi yang lain, bagi yang tidak tergantikan itu.

Teruntuk para sahabat yang telah membantu saya hingga buku ini lahir, saya haturkan terima kasih sebesar-besarnya dari hati yang paling dalam. Semoga karya kecil ini menemui perannya, memberikan sepercik manfaat bagi orang-orang di sekelilingnya.

Bandung, 8 Oktober 2015



Tuesday, September 29, 2015

Bochum, Sungguh Aku Mencintaimu

Aku masih ingat, sore itu, langit kelabumu menyambutku malu-malu. Aku meringis menahan desir dingin angin musim gugur yang menerbangkan helai-helai daun maple merah jingga. Berminggu-minggu mendung seperti terperangkap tak hendak beranjak. Hanya sesekali kulihat matahari mengintip di celah-celah ranting pepohonan yang mulai meranggas.

Lalu sampailah pada suatu masa, ketika remah-remah salju berderai-derai diterbangkan angin. Alam pun diam berselimut beku, dan hatiku tiba-tiba didera rindu, rindu pada hangat matahari yang membelai lembut kulitku.

Engkau tak membiarkan rinduku menjadi biru. Perlahan-lahan matahari musim semi menyelinap di sela-sela pucuk daun hijau muda. Lalu, engkau hadiahkan padaku helai-helai kelopak magnolia merah muda, juga kuntum-kuntum bunga raps kuning merona.
  

Hujanmu tak pernah lama, aku pun jarang mendengar gemuruh petir menyambar-nyambar. Namun pernah kulihat anginmu memberontak menjelma badai, menumbangkan pepohonan yang melintang di jalan-jalan dan rel kereta.

Lalu, datanglah hari-hari nan panjang. Sampai bosan aku menanti senja yang seperti tak kunjung tiba, panas dan gerah terperangkap lamat-lamat di celah-celah jendela. Sesekali kulihat sekawanan kuda dan domba-domba merumput di padang-padang hijau tepi telaga. Ladang-ladang terhampar sejauh mata memandang hingga ke ujung cakrawala.

Kemudian pelan-pelan, matahari seperti terenggut dari haluannya. Dedaunan hijau tua perlahan-lahan menguning, menjingga, lalu tangkai jemarinya mencoba berpegang erat pada ujung-ujung rantingnya, namun tak lagi kuasa. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, musim pun datang dan pergi, silih berganti.

Bochum, engkau telah memenuhi hatiku hingga meluap-luap, mengajarkanku kebijaksanaan dalam setiap helai pergantian musimmu. Pada detik ini aku sadar, bahwa aku telah jatuh cinta, pada setiap jengkal tanahmu, pada setiap desir anginmu, pada setiap tetes hujan dan derai saljumu, pada setiap lirih bahasa cintamu.

Bochum, terima kasih telah mengizinkanku menghirup desir nafasmu. Terima kasih untuk semua cinta dan kenangan indah yang akan terukir selamanya dalam sanubariku, hingga akhir hayatku. Suatu hari nanti jika kau izinkan lagi kita bertemu, tentu 'kan kubawakan engkau segenggam rindu.

Bochum, 7 November 2011 - 1 Agustus 2015

Wednesday, June 10, 2015

Merantau dan Lihatlah Dunia di Luar Sana

Apa yang ada di benak Anda saat mendengar kata "merantau"? Bagi saya pribadi, merantau tak hanya sekedar meninggalkan kampung halaman berbekal nekat, namun pola pikir yang matang harus dibangun jauh-jauh hari, jauh sebelum langkah kaki meninggalkan segala kenyamanan di tanah kelahiran. Segala kemungkinan tak terduga, baik kemungkinan positif maupun negatif akan kita temui di negeri orang. Yang pertama harus dipersiapkan adalah tujuan apa yang ingin kita capai di perantauan nanti. Tak ada salahnya bermimpi, bahkan mimpilah yang masih menjadi bara semangat yang tetap menyala, yang menguatkan saya menjalani hari-hari. Jangan lupa persiapkan mental sekeras baja dan kunci terakhir adalah tawakal.

Motivasi terbesar saya ketika merantau meninggalkan kampung halaman adalah keinginan untuk mengisi masa muda dengan ilmu-ilmu baru, duduk bersama orang-orang yang belum saya kenal sebelumnya, mendengarkan kuliah dari guru-guru terbaik, membaca buku-buku dari perpustakaan-perpustakaan terbaik, serta mengenal orang-orang dari berbagai ras dan kebudayaan yang berbeda-beda. Singkatnya, saya ingin melihat dunia, melebihi sekat-sekat bahasa, usia, ruang dan waktu.

Dalam era globalisasi sekarang ini, dunia seakan tanpa sekat. Orang-orang dengan mudahnya bisa bepergian ke sana ke mari dalam waktu yang relatif singkat. Arus deras informasi menghantam dari segala penjuru. Apa jadinya jika kita tak mempersiapkan bekal dalam diri kita? Tentunya kita akan terombang-ambing seperti tanpa pendirian, menjadi gagap budaya, gagap kepribadian serta gagap-gagap lainnya yang akan susul-menyusul menghantui hidup kita. Bekal pertama bagi seorang anak adalah pendidikan keluarga, satuan komunitas terkecil, tempat segala mimpi bermula. Kepribadian yang kuat, nilai-nilai moral dan agama yang baik, akan menjadi mata uang berharga yang akan berlaku sepanjang usia.

Salah satu benang merah yang mewarnai motivasi orang untuk merantau adalah kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Pendidikan tak pernah mengenal usia, berapa pun usia Anda, jangan pernah berhenti belajar. Bagi generasi muda, kesempatan emas ini jangan disia-siakan. Sebelum kesehatan terenggut dari tubuh kita, sebelum waktu terampas oleh kesibukan-kesibukan lainnya, isilah masa muda untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Generasi muda khususnya, mempunyai kesempatan luas untuk menuntut ilmu di negeri orang. Kesempatan terbuka lebar di depan mata, kembali ke diri sendiri, mau atau tidak kita memanfaatkan kesempatan-kesempatan tersebut. Saya sering menemui anak-anak muda dengan potensi luar biasa, tapi ketidakpercayaan diri mengungkung keberanian mereka untuk melangkah. Rasa rendah diri karena berasal dari daerah atau keluarga yang kurang mampu, rasa minder karena dibesarkan di kampung, dan beban-beban negatif lainnya telah menghalangi sekian banyak bibit-bibit unggul di masa depan untuk menularkan energi-energi positif bagi lingkungan di sekelilingnya.

Sebelum melangkah meninggalkan kampung halaman untuk melanjutkan pendidikan, terutama selepas SMA, kita harus mengetahui lebih dahulu, potensi dan bakat terbesar apa yang ada dalam diri kita masing-masing. Jika sudah yakin, carilah sekolah dan lingkungan terbaik untuk mengembangkan bakat dan potensi tersebut. Tancapkan cita-cita untuk bergabung di lingkungan pendidikan terbaik. Tercapai atau tidak nantinya, itu urusan belakangan. Namun, motivasi awal ini akan menjadi bekal kita untuk mempersiapkan usaha terbaik demi mewujudkannnya.

Saya memperhatikan dengan seksama sistem pendidikan di Jerman, di mana sedari kecil anak-anak Jerman sudah diajak untuk mengenal potensinya masing-masing. Pendidikan dasar diwarnai sebagian besar oleh proses bermain, anak-anak tak terlalu disibukkan dengan beragam PR yang menyita waktu bermain mereka. Melalui proses bermain yang menyenangkan ini, mereka diarahkan untuk mengenal hobi dan bakat masing-masing. Dalam tahap pendidikan selanjutnya, sejak kira-kira tingkat setara SMP, mereka sudah harus memilih sekolah jenis apa yang menentukan nasib mereka nantinya sampai tahap perguruan tinggi. Sistem ini meminimalisasi gagap dan kebingungan-kebingungan yang umumnya dialami anak-anak selepas SMA ketika akan memilih program studi di perguruan tinggi.

Saya tak ingin menyalahkan sistem pendidikan yang berlaku sekarang di Indonesia, di mana sekolah-sekolah pada umumnya belum bisa memfasilitasi terlalu jauh untuk mengenali dan mengembangkan bakat dan potensi diri ini. Lingkungan dan budaya kita tak jarang masih mempunyai pola pikir, bahwa anak pintar itu adalah anak yang meraih nilai-nilai terbaik bidang eksakta, atau "straight A" dalam semua mata pelajaran. Padahal, kecerdasan itu tak hanya kecerdasan matematika dan sains, banyak kecerdasan lain yang tak kalah berharga, seperti kecerdasan dalam bidang seni, olahraga, dan lain-lain. Manusia dikaruniai bakat-bakat yang berbeda-beda untuk menjadi yang terbaik sesuai potensinya masing-masing jika dimaksimalkan. Dengan sistem dan budaya sekeliling yang belum terlalu mengakomodasi tujuan ini, tugas kitalah untuk memaksimalkan pencarian diri masing-masing. Maksimalkan potensi yang ada sejak belia, warnai dengan kepercayaan diri dan bercita-citalah setinggi-tingginya.

Selain ketidakpercayaan diri, hal lain yang sering menghinggapi generasi muda yang baru merantau ke luar daerah adalah sifat "ikut-ikutan" atau dalam bahasa Belitung dikenal istilah "seuru'-uru'an". "Seuru'an-uru'an" ini adalah sifat yang sangat berbahaya, apalagi seringkali menyerang pada fase-fase kritis yang sangat menentukan. Anak-anak muda yang dihinggapi sifat ini hatinya dipenuhi oleh euforia karena baru saja mencapai tahap paling keren dalam hidupnya: lulus SMA dan diizinkan oleh orang tua untuk pertama kalinya merantau meninggalkan tanah kelahiran. Akibatnya, mereka lupa tujuan awal untuk apa mereka merantau. Padahal kompetisi yang luar biasa sudah menunggu di depan mata. Untuk mendapatkan sekolah dan lingkungan pendidikan terbaik, tentunya kita harus bersaing dengan ribuan siswa dari seluruh tanah air. Persaingan sengit sesungguhnya dimulai pada tahap ini, bukan hanya sebelum menghadapi UN.

Kepercayaan diri, motivasi dan tujuan yang kuat serta moral dan kepribadian yang tangguh adalah bekal terbaik yang harus kita persiapkan untuk meraih cita-cita. Apapun yang akan kita hadapi di luar sana, kita tak akan kehilangan pijakan paling dasar: motivasi untuk bermanfaat bagi orang banyak dalam bidang apapun yang akan kita geluti nantinya. Merantau akan melatih mental kita sekeras baja, karena berupa-rupa pengalaman yang akan kita temui tak akan selalu manis. Keberhasilan dan kegagalan hanyalah bagian yang sangat relatif, proses yang kita jalani adalah pelajaran sesungguhnya yang tak akan pernah kita peroleh jika kita hanya berdiam diri di zona nyaman dan tanah kelahiran sendiri. Merantau pada akhirnya akan mengantarkan kita pada perjalanan-perjalanan tak terduga, bukan hanya untuk mengenal dunia, tapi lebih dari itu, dalam perjalanan panjang tersebut kita akan diajak untuk mengenal siapa diri kita sesungguhnya. Betapa kerdilnya kita di hadapan Sang Pencipta dan alam raya yang tak akan ada habis-habisnya untuk kita jelajahi sampai akhir usia.




Mengutip sebuah syair yang sangat terkenal dari Imam Syafi'i, cukuplah rindu pada tanah kelahiran yang menguatkan para perantau menjelajahi setiap jengkal tanah-tanah impian.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak 'kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak 'kan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak 'kan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa sebelum ditambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

Merantaulah
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkanlah negerimu dan menjadi asinglah di negeri orang

Bochum, tepian Sungai Ruhr, 9 Juni 2015

Thursday, December 04, 2014

Refleksi Waktu

Waktu seperti benang yang diulurkan memanjang, terkadang menyimpul, kusut tak menemui ujungnya. Tetapi, selalu ada cara untuk mengurainya perlahan, menemui untaiannya yang mula-mula. Begitulah yang aku rasakan ketika kembali ke tanah air setelah bertahun-tahun tak pulang. Hari-hari berjalan sebiasa malam dan siang berganti dalam keteraturannya, seperti tak ada yang berubah. Tetapi ketika menoleh kembali ke belakang, aku takjub bagaimana waktu telah mengubah segalanya, pun aku sendiri yang perlahan digerogoti usia. Kini, aku merasakan bahwa waktu hanyalah lembar-lembar persinggahan yang mengantarkanku ke berbagai tempat dan peristiwa, menemui orang-orang yang juga datang silih berganti. Aku ingin tak satu pun menguasai hati ini, sehebat apa pun dia menggetarkan relung-relung terdalam, bilik-bilik rapuh yang seringkali tak terjamah logika. Wahai dunia, aku ingin engkau hanya bersemayam dalam genggaman tanganku saja, karena persinggahanku sesungguhnya tak akan lama.

Bochum, 4 Desember 2014

Pantai Katwijk, The Netherlands, musim semi 2013.


Sunday, July 27, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 30 Ramadhan, Mengantarkan Ramadhan Pulang

Pulang tak selalu tentang kebahagiaan, terkadang kesedihan mengiringi rindu yang kian mengembang. Ramadhan melambai dari kejauhan, memperhatikan wajah-wajah perindu yang penuh harap akan sebuah perjumpaan. Matahari belum seberapa tinggi ketika kami tiba. Aku memanggul ransel dan sebuah tas tenteng, menahan terik matahari musim panas yang masih betah menemani hingga Ramadhan beranjak pergi.

"Assalamu'alaykum", brother muslim itu membukakan pintu seraya mengucapkan salam kepada kami. Kami disambut hangat dan dipersilakannya masuk. "Rachid", begitu dia memperkenalkan diri pada kami. Apartemen mini satu lantai ini sudah sejak jauh-jauh hari kupesan untuk kami sewa selama empat hari. Sebuah apartemen mahasiswa yang terletak tak jauh dari Masjid Raya. Begitulah kejadian acak yang seperti tak berpola mempertemukan kami dengan brother Rachid, saudara kami yang baik hati. Brother Rachid menjelaskan fasilitas apartemen yang akan kami tempati, meminjami kunci, lalu kemudian pamit pada kami. Selama kami di sini, dia akan menempati rumah yang lain, mungkin rumah orangtua atau kakaknya yang sejak tadi diceritakannya. Tak lupa dia menunjukkan arah menuju Masjid Raya, agar nanti kami bisa berlebaran di sana.

Ketika siang mulai beranjak, kami menyusuri sudut-sudut Rue menuju Masjid. Kompleks bangunan bercorak hijau abu-abu itu mencakup area yang cukup luas, diapit tiga jalan utama. Kami menuju pintu masuk utama. Dua orang bapak setengah baya duduk di belakang sebuah meja, melayani pembayaran zakat fitrah 5 € per jiwa. Aku memberanikan diri bertanya: " Assalamu'alaykum, apakah Bapak berbicara dalam bahasa Inggris?" Sang Bapak tersenyum menjawab salamku sambil membalas: "Apakah Anda berbicara dalam bahasa Arab?" Aku pun menggeleng sambil tersenyum. Baiklah, masih dalam bahasa Inggris aku mencoba bertanya tentang jadwal pelaksanaan sholat Idul Fitri. Sang Bapak dengan bahasa Inggris campur Perancis dan Arab berusaha menjelaskan pada kami. Intinya beliau belum dapat memastikan hingga hasil musyawarah para ulama setempat nanti malam diumumkan. Aku takjub bagaimana rasa persaudaraan itu telah memecahkan sekat-sekat bahasa, budaya dan suku bangsa. Assalamu'alaykum adalah salam yang sama pula, yang mengandung doa, berlaku di seluruh dunia dan senantiasa menyejukkan jiwa.

Sore itu, perjalanan kami lanjutkan menyusuri jalur-jalur kereta bawah tanah menuju "magnet" raksasa yang namanya telah tersohor hampir ke seluruh dunia. Entah bangsa apa saja yang lalu lalang tak habis-habis mengelilingi kaki-kakinya hingga radius sekian kilometer. Matahari masih menyengat. Hawa pengap dan debu diterbangkan angin hingga mengepul mengeruhkan udara. Sekelompok anak asyik berenang di sebuah kolam yang terletak tepat di hadapan muka sang raksasa. Caroussel mini berputar-putar mempermainkan kuda-kuda plastik yang ditingkahi kerlip lampu dan irama musik nan riang. Taman-taman dipenuhi para wisatawan, jalanan pun tak kunjung sepi.

Sambil menunggu matahari tenggelam, dalam riuh keramaian aku merasa kehilangan. Bias-bias senja disembunyikan gumpal-gumpal awan, namun sesekali mengintip pada celah-celah kaki sang raksasa pesolek malam. Tunai sudah Ramadhan tahun ini menemuiku, dan aku mengantarnya dari sudut berdebu di tengah keramaian. Senyumnya perlahan hilang ditelan malam. Lalu tak lama, brother Rachid menghubungi kami, memberitakan bahwa besok hari Senin, Masjid Raya akan mengadakan sholat Idul Fitri sekitar pukul 8 pagi. Riak-riak Seine menari-nari dipermainkan kerlip lampu kota dan kapal wisata yang hilir mudik melintasinya. Angin berhembus pelan, mengantarkan wangi kenangan Ramadhan yang akan selalu aku rindukan. Ramadhan, pulanglah ke peraduan, simpanlah cinta kami padamu dalam serpih-serpih kerinduan.

Paris, 27 Juli 2014

Saturday, July 26, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 29 Ramadhan, Pulanglah, Meski dalam Bayang-Bayang

Ramadhan terlalu lekas pergi. Pagi ini, ketika bias-bias mentari mengintip samar-samar dari celah ranting pepohonan, aku melihat senyum yang ragu. Ragu akan sebuah pertemuan kembali. Waktu berputar perlahan-lahan menggerogoti zaman dan hidup masih tentang pilihan-pilihan.

Di hari-hari terakhir Ramadhan, masih membekas dalam ingatan, ketika wangi asap mengepul pelan-pelan, menyeruak dari dapur-dapur hingga malam menjelang. Aku termenung di sudut stasiun yang ramai. Memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang dalam perjalanan. Kubiarkan kenangan-kenangan masa silam melintas-lintas memenuhi udara, mengambang larut dalam kerinduan yang paling dalam.

Ramadhan menguap pelan-pelan. Langkah-langkah kaki tergesa dalam kerumunan. Pulang menemui jejak-jejak kerinduan, menjumpai cinta yang mula-mula. Harum hari raya memanggil-manggil dari kejauhan. Aku pun pulang, menemui aku yang terjebak dalam keramaian dan hiruk pikuk impian.

Aku ingin menemui kenangan masa silam dalam setiap perjalanan. Aku ingin merangkul kerinduan yang kusematkan dalam setiap langkah. Aku ingin membisikkan harum Ramadhan pada desir angin yang meriakkan aliran Seine. Aku ingin hanya Kau saja yang menemaniku menjemput Syawal di bawah gemintang. Hingga luruh segenap jiwa, ketika aku menemuiMu nanti pada suatu masa.

Essen - Mülheim an der Ruhr, 26 Juli 2014

Thursday, July 24, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 27 Ramadhan, U-35 Sahabat Kami

Transportasi umum di Bochum, kota kecil kesayangan kami ini bisa dibilang sangat baik, aman, dan nyaman. Jalur-jalur utama dalam kota hingga ke wilayah pinggiran kota dilalui oleh U-Bahn, tram dan bus. U-Bahn adalah kepanjangan dari Untergrund-Bahn, jika diartikan secara bebas menjadi "kereta bawah tanah". Pada kenyataannya U-Bahn di Bochum berwujud kereta "mini" 2 gerbong yang berhenti di halte-halte bawah tanah maupun halte yang dibangun di permukaan, untuk melayani transportasi dalam kota.

Salah satu jalur utama yang membelah Bochum dari utara ke selatan adalah jalur U-Bahn U-35 yang menghubungkan Schloß Strünkede, sebuah istana peninggalan bangsawan Roman dari abad ke-12, dengan Hustadt di bagian selatan yang terletak tak jauh dari tepian Sungai Ruhr dan Danau Kemnadersee di selatan kampus Ruhr Universität Bochum. U-35 juga berhenti di stasiun utama Bochum Hauptbahnhof dan 2 kampus terbesar di Bochum, Ruhr Universität Bochum dan Fachhochschule Bochum (Bochum University of Applied Science). Maka U-35 lah yang menjadi moda transportasi utama yang kutumpangi sehari-hari.

Aku masih ingat ketika pertama kali menjadi penumpang U-35. Pagi itu, di akhir musim gugur 2011, kabut tipis menyelimuti Bochum, udara dingin mendesir menerbangkan dedaunan dari ranting-ranting pohon. Halte Markstraße yang bisa kucapai dengan berjalan kaki 5 menit dari asrama telah dipenuhi oleh  antrian penumpang yang rata-rata mahasiswa. Karena ini kali pertama, maka aku mencoba bertanya ke salah satu penumpang untuk memastikan apakah aku tidak menuju arah yang salah.

Sejak pagi itu, U-35 menjadi sahabat baikku. Dia selalu setia mengantarku ke sana ke mari, tak peduli hujan, badai, salju, siang maupun malam. Dia hampir selalu tiba tepat waktu. Selama aku di sini, hanya tiga kali seingatku U-35 tak beroperasi, yaitu ketika protes besar-besaran digelar oleh serikat buruh di Ruhr area dan sekitarnya. Praktis, transportasi umum di Bochum lumpuh total. Semua U-Bahn, tram, dan bus dalam kota, termasuk kereta regional antar kota dihentikan operasinya. Maka mau tak mau aku harus berjalan kaki ke kampus, melewati deretan hutan kecil dan pemukiman. Kalau cuaca sedang bagus, perjalanannya akan terasa menyenangkan, tetapi ketika musim dingin mulai mengintai, perjalanan sekitar 25 menit itu akan terasa cukup menantang. Berjalan di bawah udara beku dalam waktu sesingkat itu pernah membuat hidungku sampai berdarah.

Interior U-35 dirancang sedemikian rupa sehingga bisa menampung para penumpang dengan optimal. Di beberapa bagian disediakan space khusus untuk mereka yang membawa sepeda atau kereta bayi, termasuk beberapa tempat duduk yang disediakan untuk penumpang difabel, manula, ibu hamil dan orang sakit. Pada jam-jam sibuk, U-35 akan dipenuhi penumpang, maka hampir setiap pagi jarang sekali aku mendapat tempat duduk. Namun, mau sepadat apapun antriannya, tak pernah aku melihat penumpang yang berebut dan saling mendorong tak terkendali. Semuanya tetap berjalan tertib. Tempelan iklan di dalam gerbongnya ditata teratur, badan gerbongnya berwarna putih keabuan berlist merah, corak kain jok tempat duduknya berwarna merah cerah, lantainya selalu bersih dan dering sirine pengaman pintunya tak kalah merdu berpadu dengan rekaman suara pemaklumat yang mengumumkan nama setiap halte pemberhentian. Begitulah U-35 sahabat kami melalui hari-harinya, dia telah bersolek sejak pagi buta untuk mengantarkan orang-orang yang mencintainya.

U-35 mewarnai sebagian besar perjalananku. Aku bertemu orang-orang asing yang tak kukenal dari berbagai bangsa, juga orang-orang yang kemudian menjadi sahabat dan saudara. Aku mendengar bahasa-bahasa asing yang dituturkan oleh penutur aslinya. Aku melihat bagaimana hormatnya para penumpang kepada manula dan orang difabel. Namun di sisi lain, aku juga mengagumi kemandirian mereka. Di sini tak jarang aku melihat para manula dan orang difabel yang bepergian sendiri, karena fasilitas umum yang disediakan negara memang sangat mendukung. Tetapi tetap saja, semuanya tak semudah yang kita bayangkan dan tetap butuh keberanian. Lain waktu aku juga sering bertemu dengan pegawai cleaning service yang bertugas membersihkan halte, seorang bapak berwajah Asia Selatan, seorang ibu berambut keriting berwajah Latin, dan satu orang lagi bapak berperawakan besar dan berambut pirang. Jika tiba musim dingin dan bersalju, pekerjaan mereka menjadi bertambah, mengeruk salju dan menaburkan remah-remah pasir dan garam agar orang-orang tak terpeleset.

Setiap hari, selalu saja aku bertemu orang-orang dengan raut wajah yang berbeda-beda. Seorang ibu setengah baya yang menatap kosong keluar jendela, anak kecil yang sesenggukan karena baru berhenti menangis, sepasang kekasih yang saling menatap malu-malu, seorang mahasiswa yang sedang serius membolak-balik halaman buku, seorang bapak yang membaca headline berita pagi dari surat kabar terbitan lokal, seorang ayah yang menggandeng tangan anak perempuannya, dan aku yang tak bosan-bosan menyaksikan denyut kehidupan yang masih terus mengalir di dalam U-35, drama kehidupan yang menyimpan sejuta cerita.

Baru kali ini, aku benar-benar kehilangan U-35. Sejak tanggal 19 yang lalu hingga besok, seminggu penuh U-35 dari Wasserstraße menuju Hustadt tak beroperasi. Kabarnya ada perbaikan beberapa jalur rel utama dan penyelesaian sebuah halte baru. U-35 dalam beberapa hari ini digantikan oleh bus khusus yang diberi nama U-35E. Maka benarlah adanya, sesuatu itu terkadang akan terasa sangat bernilai ketika dia tiada. Ketika masih ada dan tersedia sebagaimana biasa, maka kita sering melupakan jasanya. U-35 sahabat kami, terima kasih yang tak terhingga kuucapkan untuk setiap orang yang telah bekerja keras untuk menjadikanmu ada.

Bochum, 24 Juli 2014 

Tuesday, July 22, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 25 Ramadhan, Menikmati Keindahan Jerman bersama WandernRuhr

Di akhir musim panas tahun lalu, aku dipertemukan dengan sekelompok anak muda yang mempunyai kegemaran yang sama denganku, bertualang menikmati alam. Kata orang, persahabatan itu bukan lantaran lamanya saling mengenal, tapi kecenderungan jiwa, itu saja. Aku menemukan mimpi-mimpiku bersama sahabat-sahabatku ini, menjelajahi pelosok hutan, menikmati harum rerumputan dan desir angin belaian alam. Pada sehelai pagi nan sejuk di awal September tahun lalu, sebuah perjalanan panjang pun dimulai. Perjalanan tentang persahabatan dan butir-butir rindu yang kami kumpulkan untuk tanah kelahiran.  


Aku percaya, setiap pertemuan di dunia ini terjadi bukan karena kebetulan. Seorang guruku pernah bercerita, bahwa segala fenomena acak di alam ini disebut acak karena manusia saja yang belum menemukan polanya. Sesungguhnya memang ada formula-formula yang telah tersusun dengan sempurna di balik segala peristiwa. Begitu pula dengan pertemuanku dengan sahabat-sahabatku ini, seperti tanpa sengaja dan tanpa rencana. Pagi itu, embun masih tersisa pada helai-helai daun dan rerumputan. Hari-hari di awal September adalah masa-masa pergantian musim, ketika musim panas belum sepenuhnya beranjak, tetapi musim gugur pun belum sepenuhnya tiba. Petualangan pertama kami dimulai pada pagi yang masih sepi, ketika gerbong-gerbong kereta regional menuju Heimbach mengantarkan kami ke Taman Nasional Eifel, sebuah taman nasional yang terletak di sebelah tenggara kota Aachen.

Hari itu sekaligus menjadi pengalaman pertama bagiku menjelajahi taman nasional di Jerman. Aku kagum pada sistem yang diatur oleh pemerintah Jerman untuk melestarikan alam tanpa mengesampingkan potensi lokal yang sudah lama terbangun di sekitar taman nasional. Di sepanjang wilayah perbatasan hutan dan pemukiman, para penduduk tetap bisa mengusahakan ladang dan tanah pertanian. Sistem yang terintegrasi ini kemudian dibangun untuk dijadikan sumber perekonomian yang lain, pariwisata. Area taman nasional sekaligus juga menjadi guru, layar terkembang dari sang alam. Salah satu kearifan alam yang kukagumi dari orang Jerman adalah bagaimana mereka menjaga sumber-sumber air. Sungai terpencil di tengah hutan akan sama jernihnya dengan danau-danau di pinggiran kota atau aliran selokan di sepanjang jalan pedesaan.


Sejak petualangan pertama itu, kami menjadi termotivasi untuk mengunjungi taman-taman nasional lainnya di sekitar negara bagian Nordrhein-Westfalen. Sepanjang musim gugur sampai menjelang musim dingin tahun lalu setidaknya kami mengunjungi 6 kawasan hutan dan pedesaan sampai ke daerah perbatasan Belgia dan Belanda. Dalam setiap perjalanan, aku menemukan kerinduan pada petualangan-petualangan masa kecilku, berguru pada alam. Aku pun menemukan sahabat-sahabat baru, yang kemudian menjadi seperti saudaraku sendiri di perantauan ini. Kegemaran yang sama menjelajah alam, memotret, dan bepergian bersama membuat persahabatan kami semakin erat. Maka pada suatu hari, terbentuklah klub para petualang nekat yang lalu kami namakan WandernRuhr. Wandern diambil dari bahasa Jerman yang berarti berjalan kaki atau hiking dalam bahasa Inggris. Lalu, Ruhr adalah nama dari sebuah sungai yang mengalir melintasi kota-kota di mana kami tinggal, mulai dari Dortmund, Bochum, Essen, Duisburg, Mülheim, dan sekitarnya. Sungai Ruhr merupakan anak sungai Rhein nan legendaris itu, sungai yang menjadi salah satu urat nadi perekonomian wilayah Jerman bagian barat hingga Belanda.  

Dalam setiap petualangan bersama WandernRuhr, aku belajar tentang arti kedisiplinan dan kekompakan. Untuk mencapai kawasan hutan yang ingin kami kunjungi, biasanya kami sudah harus stand by di stasiun yang menjadi titik tolak perjalanan sejak pagi buta. Keterlambatan 5 menit saja bisa menyebabkan perubahan jadwal tiba di tempat tujuan hingga berjam-jam. Pada setiap kesempatan, kami menjadi mengerti artinya saling berbagi, menghormati dan bertoleransi. Selain menerobos kawasan hutan, kami biasanya melintasi wilayah pedesaan yang cantik dengan tanah-tanah pertanian yang subur. Pada musim panas, sapi-sapi gemuk, domba dan kuda-kuda dibiarkan berkeliaran di sekitar ladang dan padang rumput. Menikmati siraman matahari yang masih cukup hangat menjelang musim gugur.

Dalam beberapa kesempatan, aku bertemu pula dengan penduduk lokal. Pada suatu sore ketika menunggu bis pulang dari kawasan hutan Winterberg di Elkeringhausen, aku sempat bertegur sapa dengan seorang nenek yang tengah menyapu daun-daun yang berguguran di halaman rumahnya. Sang nenek sejak tadi tersenyum ramah sambil memperhatikan kami dari kejauhan. Beliau tiba-tiba menghampiri dan bertanya padaku: "Kalian mengenakan Kopftuch (kerudung), berarti kalian Muslim ya?" Setengah terkejut aku mendengar pertanyaan sang nenek. Aku terharu, di desa sesepi ini, yang bahkan kendaraan pun jarang sekali lewat di depan rumahnya, nenek baik hati ini mengenal kehidupan Muslim dan tanpa menaruh curiga menyapaku dengan ramah bahkan mengajak berbincang-bincang. Sang nenek melanjutkan, "Lalu dengan tetap berbusana seperti ini (sambil menunjuk kerudung dan rok yang kukenakan), kalian tadi menjelajah hutan dan turun naik perbukitan? Hebat sekali!" "Iya, Nek" jawabku mantap. Aku mengucapkan terima kasih pada sang nenek sebelum pamit meninggalkan desa yang perlahan ditelan kabut pada sore musim gugur itu, sebuah desa nan cantik yang tak akan aku lupakan.

Riak-riak aliran sungai yang memantulkan bias-bias matahari menjelang senja, helai-helai daun yang merona jingga, semak dan rerumputan yang menyembunyikan jamur-jamur cantik berwarna-warni, hewan-hewan ternak yang bebas berkeliaran di tepi ladang, kucing-kucing yang malu-malu mengintip dari teras rumah pemiliknya, serta perahu yang teronggok bisu di permukaan telaga. Serpih-serpih kenangan dari setiap perjalananku bersama WandernRuhr akan senantiasa memenuhi lorong-lorong hatiku, meskipun nanti ketika kami tak bersama-sama lagi. Berikut ini catatan kenang-kenangan yang pernah kutulis dan foto-foto yang kuabadikan dari sebagian perjalanan kami. Dokumentasi petualangan WandernRuhr biasanya kami kumpulkan pada halaman Facebook di bawah ini: 

"Sehelai pagi nan sejuk mengabarkan rindu yang mengawang rendah di pelupuk mata. Rindu yang tak tahu aku definisinya, yang tiba-tiba saja menelusup celah-celah kenangan ribuan hari yang telah lalu, dahulu. Tak segores awan menghias langit, mentari betah berlama-lama hingga senja tiba, merona secerah biru samudera. Riak-riak telaga tersiram cahaya, kemilau tak ada habisnya. Langkah-langkah kakiku seperti menelusur masa lalu, saat mimpi kurajut dari pilinan benang semangat yang kukumpulkan satu-persatu. Aku berhenti, angin diam, syahdu alam mengalun dalam pejam. "Masih ingatkah engkau perjalanan kita waktu itu?" Begitu sepenggal rindu yang mungkin kau lantunkan nanti, dalam ribuan hari yang masih kutunggu, mungkin juga kau". [Taman Nasional Eifel, Heimbach, September 2013].

"Harum rumput basah dibasuh embun. Ramah mentari malu-malu mengintip dari celah-celah gemunung, menyeruak halimun yang diam-diam menunggu. Kerlip lampu dari kejauhan samar-samar menari, ditingkahi semburat bayangan pagi. Ranting masih diam, angin pun masih malas merayu". [Elkeringhausen, Winterberg, Oktober 2013]


Bochum, 22 Juli 2014