Showing posts with label Review Karya. Show all posts
Showing posts with label Review Karya. Show all posts

Tuesday, February 06, 2024

Indonesia, Rumahku Sekali Lagi

Sebuah Resensi dari Buku Jentera Langit Tenggara

 

Identitas Buku

·       Judul buku: Jentera Langit Tenggara

·       Pengarang: Hesty Susanti dan Michael Binuko

·       Penerbit: Tel-U Press

·       Tanggal terbit: 26 Januari 2024

·       ISBN: 978-623-6484-58-6

·       Tebal halaman: 85 halaman

·       Ukuran: 13 cm × 19 cm

·       Tautan penerbit: https://telupress.telkomuniversity.ac.id/product/jentera-langit-tenggara/

 

 

Sinopsis

Perjalanan pulang ke tanah air menjadi akhir sekaligus awal dari petualangan Hesty menyusuri relung-relung abstrak kehidupan yang ia terjemahkan dalam puisi dan penelitiannya di bidang instrumentasi medis. Titik akhir dan awal ini ditandai dengan puisi panjang yang dibaginya dalam dua bagian: Bochum, Sungguh Aku Mencintaimu bagian 1 dan 2. Puisi ini ia tulis di hari terakhir ia berada di Eropa setelah menjalani 4 tahun masa studinya di sebuah kota kecil di lembah Sungai Ruhr, Bochum, Jerman. Pagi itu, 1 Agustus 2015, menjelang puncak musim panas, ia menyusuri jalan setapak dan menumpang U-Bahn menuju kampus tercintanya, Ruhr Universität Bochum, lalu melanjutkan perjalanan ke pusat kota untuk sarapan di sebuah toko roti di Stasiun Bochum Hauptbahnhof. Ia mereka ulang jalur yang rutin dilaluinya hampir setiap hari selama 4 tahun ke belakang. Puisi pertama ini ditulisnya dengan bahasa yang lugas, hampir-hampir seperti cerita pendek, merangkum kenangan yang mengharu biru pada pagi yang sendu itu. Puisi-puisi selanjutnya mengalir dalam berupa-rupa pengalaman pada masa-masa adaptasinya kembali ke tanah air sambil menyelesaikan studi doktoralnya yang sempat tertunda. Dalam beberapa kesempatan, Hesty sering bepergian seorang diri ke tempat-tempat asing, namun hal itu belum pernah dilakukannya di tanah air sendiri hingga ia kembali ke Indonesia. Ia ingin mengenal diri dan tanah airnya “sekali lagi”, ia ingin mencintai yang asing dari sebermula. Perjalanannya ke Flores dan Kepulauan Komodo di akhir 2015 serta petualangannya ke Gunung Anak Krakatau di awal 2017 menjadi dua dari sekian perjalanan yang mengubah hidupnya. Dari dua perjalanan ini, lahir beberapa puisi yang ia sebut sebagai Indonesia, Rumahku Sekali Lagi.

 

Resensi Buku

Jentera Langit Tenggara adalah kumpulan puisi yang berisi hiruk pikuk dalam kepala Hesty ketika ia mencoba menggenggam kembali asal-usulnya di tengah rasa rindu akan tanah perantauan nun jauh di sana. Puisi-puisi Hesty lalu bercengkerama melalui dialog-dialog abstrak dengan sekumpulan ilustrasi goresan tangan sahabat karibnya, Michael Binuko. Meskipun semua puisi dalam buku ini adalah buah karya Hesty, namun ilustrasi dalam buku ini menempati porsi yang sangat dominan. Maka tak heran, nama Michael Binuko muncul pula sebagai “penulis”, tak seperti buku pada umumnya, ketika ilustrator hanya muncul namanya di halaman identitas buku saja.

 

Penamaan buku ini terinspirasi dari sebuah peristiwa penting dalam kalender astronomi dunia, yakni gerhana matahari total, 9 Maret 2016. Benda-benda angkasa telah lama menjadi sesuatu yang dicintai Hesty. Sering ia menyengaja bepergian ke suatu tempat, hanya untuk menyaksikan matahari terbit atau tenggelam atau kerlip bintang-gemintang di tempat-tempat yang jauh. Salah satu yang paling berkesan adalah matahari terbit yang ia saksikan di Pantai Xghajra, Republik Malta. Dalam buku ini, matahari yang sesaat tertutup bulan pada peristiwa gerhana yang ia potret dari Pantai Tanjung Tinggi itu, “dibungkus” oleh Hesty dalam sebuah miniatur benda asing yang jarang terdengar: Jentera. KBBI menerjemahkannya sebagai barang yang bundar berupa lingkaran, bersumbu, dan dapat berputar. Lalu, ia gabungkan dengan kata Langit dan Tenggara, seperti matahari yang ia saksikan di Desa Waerebo, jantung Nusa Tenggara, Flores. Bukan kebetulan pula, sahabatnya Binuko bercokol di Gedung Seni Rupa yang berada di bagian tenggara kampus Ganesha, almamater mereka.

 

Binuko menjadi orang pertama yang membaca utuh draf 56 puisi ini dan menerjemahkannya dalam ilustrasi-ilustrasi penuh makna. Beberapa dialog antara puisi dan ilustrasi yang dihadirkan dalam buku ini terlihat eksplisit, beberapa lainnya mereka biarkan menjadi implisit. Sebagaimana sastra dan seni, mereka ingin agar karya ini menggugah rasa dalam bentuk apa saja pembaca ingin menerjemahkannya.

 

Kelebihan Buku

Jentera Langit Tenggara mengajak pembaca untuk memaknai kehidupan dengan segala lika-likunya dalam ungkapan puisi dan ilustrasi sarat makna. Karya ini berhasil memotret pengalaman hidup dengan tema-tema sentral yang hampir dialami oleh semua orang, seperti keluarga, sahabat, masa kecil, kampung halaman, mimpi-mimpi, apresiasi pada alam, kritik sosial, renungan/refleksi, serta semangat untuk menjalani setiap peran dari masing-masing kita dalam persinggahan di dunia yang sesungguhnya tak seberapa lama.

 

Kelemahan Buku

Buku ini bukan buku yang “ringan” karena menuntut pembacanya untuk berpikir sedikit mendalam agar bisa menerjemahkan serta mengapresiasinya. Pembaca perlu meluangkan kesempatan untuk menyepi sesaat dalam alam pikiran agar bisa bertualang dalam dialog-dialog abstrak yang disuguhkan.




Thursday, November 26, 2015

Menjumpai yang Tak Tergantikan

Sahabat, meminjam kata-kata dari seniman Ugo Untoro, yang pernah dituliskan oleh salah seorang sahabat saya, Tiaswening Maharsi, dalam bukunya "Dunia Simon":

"Tidak hanya berbunga-bunga, hatiku berbuah-buah."

Begitu pun yang saya rasakan ketika buku pertama saya "Harum Hujan Bulan November" ini diterbitkan. Buku ini adalah hadiah kecil saya untuk tiga orang yang paling saya cintai: Mamak, Mamo, dan Abang. Sahabat-sahabat pun dapat membaca kisah mereka yang saya tuliskan dalam buku ini.

Berikut, beberapa bait resensi yang dituliskan sahabat saya yang lain, FX. Widyatmoko (Koskow):

Kumpulan kisah yang disusun secara alur waktu ini - yaitu sejak 3 November 2011 hingga 26 Juni 2014 - berkisah tentang sesuatu yang tak tergantikan. Yang tak tergantikan ini tak lain kisah-kisah yang dialami Hesty: tentang kedua orangtuanya, kakaknya, ibu petugas di kantor pos, guru, teman-teman sekolah, kuliah, dan mereka yang dijumpainya tanpa direncana. Beberapa kisah yang ditulis juga dialamatkan kepada alam, pula syukur kepada Tuhan. Kisah-kisah tersebut ditulis Hesty dari berbagai tempat: Bandung, Zug, Zürich, Nijmegen, Groningen, Utrecht, dan yang paling sering Bochum, Jerman, tempat Hesty melanjutkan studi. Kisah-kisah juga berasal dari orangtuanya, yang mana kisah tersebut membuat Hesty pergi menjumpai yang dikisahkan tersebut (tentang saudara jauh).

Tulisan-tulisan Hesty, meski terkesan sebagai sebuah catatan perjalanan, namun lebih dekat kepada surat. Jika catatan perjalanan lebih mendekati pada laporan, sebaliknya tulisan Hesty dalam buku berjudul "Harum Hujan Bulan November" ini lebih memilih untuk tak sebatas pelaporan, namun memberi alasan untuk apa ia dilaporkan. Di antara kisah-kisah tersebut hadir beberapa puisi, hadir pula foto. Setidaknya terdapat perbedaan antara kisah-kisah yang dituliskan (dalam bentuk esai), puisi, dan foto dalam buku tersebut.

Pada kisah-kisah yang dituliskan dalam bentuk esai, Hesty kerap bertutur tentang orang-orang yang dijumpainya. Pada puisi dan foto, tersampaikan yang sebaliknya, Hesty mengajukan pertanyaan-pertanyaan, terkesan lebih tentang dirinya, mungkin tentang sendirinya (pula foto seekor bebek yang di bagian bawah foto tersebut disertakan pertanyaan "kayuhmu hendak ke mana?"). Mungkin ada alasan tertentu mengapa hal tersebut terkesan demikian. Namun, yang lebih utama yaitu pada kejujuran serta keterbukaan dalam menuliskan kisah-kisah dan bagaimana memberi bingkai untuknya.

Kisah-kisah Hesty pun dapat dipahami sebagai satu kesadaran mengenal yang lain, yang berbeda. Pada kesadaran inilah kisah-kisah yang dituliskan Hesty dapat dipandang menjadi perjuangan kita bersama yaitu saling menghargai sesama, alam, masa lalu, benda-benda, serta harapan hidup ke depan, terutama di zaman yang kian bergegas dan menyisa sepotong-potong cerita yang berlalu lalang, yang membuat kita gagal utuh menangkapnya karena diri kita (di)sibuk(kan) oleh aktivitas mengganti-ganti citra.

Orang-orang dalam kisah-kisah yang dituliskan Hesty pun menjadi seseorang. Bingkai seseorang dan yang tak tergantikan inilah yang bagi saya terasa mengesankan. Dituliskan oleh Hesty, bahwa: "...Kata orang, bepergianlah, maka engkau akan mengenal sahabat seperjalananmu, karena banyak hal yang akan teruji di sana..." (Bochum-Nijmegen dan Mimpi-Mimpi Masa Silam). Kisah-kisah yang dituliskan Hesty, baik melalui bentuk esai, puisi, dan foto, tak lain adalah usaha mengingat dan memberi harapan pada orang-orang, pada waktu, pada ruang, yang dari situ menempatkan kita pun menjadi seseorang bagi yang lain, bagi yang tidak tergantikan itu.

Teruntuk para sahabat yang telah membantu saya hingga buku ini lahir, saya haturkan terima kasih sebesar-besarnya dari hati yang paling dalam. Semoga karya kecil ini menemui perannya, memberikan sepercik manfaat bagi orang-orang di sekelilingnya.

Bandung, 8 Oktober 2015



Wednesday, July 23, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 26 Ramadhan, Dunia Simon, Dunia dalam Lipatan

Seperti halnya kakek, ayah dan abang, membaca adalah salah satu kegemaranku, terutama membaca buku-buku sastra dan buku-buku bertema kebudayaan. Buku adalah dunia lain tempat pikiranku menyepi, berkelana ke tempat-tempat asing dan mengenal orang-orang yang asing pula, yang sesungguhnya berada tak jauh-jauh, dalam tempurung kepalaku sendiri. Dunia-dunia asing yang kuciptakan sendiri itu meluap-luap seperti asap yang mengepul dari sebuah bejana. Kemudian melayang perlahan-lahan, wangi menyeruak seisi ruangan, lalu kuhirup dalam-dalam. Aromanya itu memabukkan, seperti wangi kertas usang di sudut perpustakaan. Hadiah-hadiah terbaik dalam hidupku, juga kiriman-kiriman pos yang paling kutunggu biasanya adalah buku. Bila hatiku dirundung rindu yang kucari juga buku. Langit boleh kelabu, September boleh bersalju, selama ada buku mimpi-mimpiku akan senantiasa mengharu biru. 

Musim semi tahun ini, sebuah buku menghampiriku, buku yang melanglang jauh dari tanah kelahiranku. Dunia Simon, sebuah kumpulan cerita pendek. Ibarat kekasih yang dipertemukan kembali, aku seperti telah lama jatuh cinta pada Dunia Simon. Cinta lama yang masih sama indahnya. Sejak helai halaman pertama, aku menemukan diriku terperangkap dalam kejadian-kejadian yang dialami oleh tokoh "aku" dalam Dunia Simon. Menebak-nebak apa yang melintas dalam tatapan kosongnya kepada rinai hujan pukul tiga yang memburamkan kaca jendela. Aku melamun ketika "aku" termenung, aku gelisah ketika "aku" menunggu. Kadang-kadang "aku" tiba-tiba pula berubah menjadi aku, merindu. 

Dunia Simon kuajak bercengkrama sambil berdiri di dalam gerbong kereta, sambil melangkah menyusuri anak tangga, atau sambil menunggu hujan reda. Lain waktu akan kuajak dia berkelana, mewakili mimpi penulisnya. Aku terkadang lupa, bahwa "aku" tak sepenuhnya ingin menceritakan semua kisahnya padaku. Tatapnya sering berbalas tajam ke arahku ketika aku mulai menggerutu, tak sabar ingin menyaru menjadi dirinya. "Aku" terkadang lugu, terkadang naif, lain waktu seketika berubah menjadi sosok pemberani. "Aku" adalah jiwa yang jujur yang tak hendak menutup-nutupi jati dirinya di hadapanku. "Aku" akan menangis bila hendak menangis, akan mengumpat bila hendak mengumpat. "Aku" seperti diombang-ambingkan waktu yang dilesap-lesapkan oleh jendela kereta yang tengah menderu.  

Ketika "aku" mengalami kejadian-kejadian konyol, aku terkekeh, seperti menertawakan diriku sendiri. Ketika "aku" terjebak dalam momen-momen emosional, aku terdiam, bungkam tak hendak melawan. Ketika "aku" dikalahkan oleh masa lalu, aku cepat-cepat membalik helai-helai halaman terdahulu. Berharap masih ada hal-hal yang dapat kuperbaiki. Bagaimana aku tak jatuh cinta pada Dunia Simon. Pandai sekali dia mengajak pembacanya menyaru menjadi "aku", atau setidaknya hadir dalam lipatan-lipatan waktu yang telah membeku, dalam sebuah buku.


Aku percaya, karya-karya indah seperti ini hadir dari tangan-tangan dingin milik orang-orang yang jujur dalam berkarya. Karya yang tak hendak berteriak-teriak ingin dipuji, namun pandai mengambil hati para pembacanya. Karya yang tak perlu dimenangkan oleh terlalu banyak jiwa, namun cukup memenuhi hati orang-orang yang mencintainya. Dalam sastra, hampir segala peristiwa memungkinkan untuk dilukiskan sekehendak hati penulisnya, namun sangat mungkin pula untuk ditafsirkan sekehendak hati pembacanya. Aku mencintai sastra-sastra yang bersahaja, yang ramah mengajak pembacanya merasuk ke dalam setiap peristiwa. Mengutip pengantar yang ditulis Koskow dalam Dunia Simon: "Dalam seni, soal rasa merasa diharapkan memberikan gambaran bahwa hidup tak selalu dapat dimengerti tuntas. Menulis tak mampu menggantikan sentuhan. Namun, sastra, mungkin, diciptakan agar sentuhan yang dituliskan jadi cara agar rasa merasa memang dibutuhkan, se-ordinary apa yang dituliskannya tersebut."

Dunia Simon, lahir sebagai buah karya dari Wihambuko Tiaswening Maharsi. Perempuan yang baru saja kukenal di dunia maya melalui Tan Kinira, sebuah penerbit di Yogyakarta. Sebelumnya buku-buku terbitan Tan Kinira telah menyusulku lebih dahulu ke Eropa, buah karya Lelaki Budiman (Percakapan Diam-Diam), Koskow (Teman Merawat Percakapan) dan Mohammad Hadid (Meledek Pesona Metropolitan). Ilustrasi dalam Dunia Simon pun tak kalah apik. Gores-gores pensil Avira Paramastuti telah serta-merta menjebak aku dalam ketidaksadaran yang lebih dalam, hanyut perlahan bersama limpahan hujan. Tiba-tiba "aku" datang dengan seulas senyum penuh tanda tanya. "Mungkin cinta diciptakan kemudian, setelah semuanya, setelah manusia-manusia di dunia mulai merasa kesepian", bisiknya padaku sambil menghela nafasnya dalam-dalam. Aku terdiam. 

Bochum, 23 Juli 2014

Sunday, July 06, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 9 Ramadhan, Mimpi untuk Nelayan Nusantara

Sebuah Ulasan Proposal


Siang itu, di awal Mei tahun ini, aku terkantuk-kantuk seorang diri di ruangan kantor. Sembari menghabiskan dua potong roti makan siangku, aku berselancar di internet, sekedar iseng mencari-cari artikel tentang jurnalisme. Lalu tanpa sengaja aku menemukan link tawaran beasiswa proyek fotografi oleh sebuah lembaga di Amerika. Kubaca dengan seksama segala keterangan dan persyaratannya. Masih ada waktu sekitar 2 bulan untuk mendaftar. Namun yang menjadi masalah, aku tak punya kapasitas dan kemampuan yang memadai untuk bidang ini. Mungkin aku bisa kalau hanya sekedar menuliskan beberapa ide, namun documentary photography dan photojournalism bukanlah bidangku. Lalu aku teringat akan mimpi salah seorang sahabatku, Ponda, untuk mendokumentasikan budaya kelautan nusantara. Tanpa membuang waktu, kesempatan ini pun lalu kuceritakan padanya.

Singkat cerita, sejak pertengahan Mei kami mulai bergerak untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Tawaran beasiswa ini bukan hal main-main, perlu persiapan matang dan serius. Kami mulai mengumpulkan semua literatur yang berhubungan dengan ide-ide dalam proposal yang nantinya akan diajukan. Setidaknya proposal ini nantinya akan membahas ulasan mengenai budaya kelautan nusantara, bidang keilmuan photojournalism, serta ide orisinal yang “menggigit” agar bisa bersaing dengan peserta-peserta lainnya dari seluruh dunia. Berikut ulasan secara umum dari proposal yang pada hari ini, hari ke 9 Ramadhan, akhirnya rampung dikerjakan.

Berangkat dari kenyataan bahwa kehidupan nelayan nusantara masih jauh dari kata sejahtera, proposal ini mengulas berbagai fakta dan data secara umum yang menggambarkan kehidupan nelayan nusantara dari segi ekonomi. Sebagian besar masyarakat miskin di Indonesia hidup di daerah pesisir dan pedesaan. Beberapa faktor penting menjadi penyebab utama kemiskinan nelayan di Indonesia, antara lain minimnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan mereka serta sebuah sistem yang sudah seperti “lingkaran setan”, yang menjerat nelayan dengan ketergantungan dan minimnya upah dari pemodal. Dari waktu ke waktu, nelayan-nelayan tradisional hidup di bawah garis kemiskinan, tanpa pula ada kemajuan yang berarti dari sisi teknologi.

Ide menarik yang menjadi pokok gagasan yang diajukan dalam proposal ini adalah pendokumentasian kehidupan nelayan ketika menghadapi masa-masa paceklik dalam serangkaian foto. Masa paceklik berlangsung hampir 8 bulan. Dalam musim ini tak jarang mereka pulang melaut tanpa hasil sama sekali. Kenyataan ini telah membentuk suatu sistem imajiner yang didasari oleh intuisi mereka untuk bertahan hidup. Keluarga nelayan harus pandai-pandai mencari penghasilan tambahan selain melaut ketika musim paceklik tiba. Perbedaan budaya dan karakteristik sumber daya ekonomi lokal akan menghasilkan keragaman foto dokumentasi yang unik di tiap-tiap daerah. 


Seorang penulis pernah mengatakan bahwa kemiskinan itu tidak untuk ditangisi. Foto dokumentasi yang menggambarkan kehidupan miskin suatu komunitas telah lama dilakukan orang. Umumnya mereka digambarkan sebagai objek yang lemah, tak berdaya dan menunggu uluran tangan. Namun, dalam proposal ini, Ponda menginginkan untuk memotret sisi lain dari kehidupan miskin nelayan nusantara, berkebalikan dari anggapan umum yang ada sekarang. Nelayan dikenal sebagai kelompok masyarakat yang tangguh dan tahan banting menghadapi kesulitan hidup. Karakter ini terbentuk dari kerasnya pekerjaan mereka di laut, yang menuntut kesabaran, keberanian dan kerjasama yang solid di antara mereka. Karakter-karakter seperti ketangguhan, kerja keras, serta kemandirian yang ditunjukkan nelayan dan keluarganya inilah yang nanti akan ditekankan dalam foto-foto yang akan dibuat. 

Sudut pandang ini nantinya diharapkan mampu menggugah audience untuk belajar banyak dari nilai-nilai positif karakter nelayan tadi serta menerapkannya dalam kehidupan. Adapun impact  tidak langsung yang tidak kalah penting, diharapkan foto-foto ini mampu membangkitkan kepedulian masyarakat dan pemerintah akan lingkungan laut dan kesejahteraan nelayan. Indonesia menyimpan potensi kelautan yang luar biasa, mulai dari sumber daya perikanan sampai budaya maritimnya. Maka sungguh ironis menyaksikan kenyataan sekarang di mana lebih banyak pihak asing yang berlomba-lomba untuk mempelajari, memanfaatkan dan melestarikannya, sedangkan masyarakat Indonesia sendiri seperti tidak peduli. Selain itu, proyek ini dapat pula menjadi sumber data visual dan pemetaan budaya maritim nusantara yang akan bermanfaat di masa yang akan datang. 

Foto telah lama menjadi media penyampai informasi yang dapat diandalkan. “A picture is worth a thousand words”. Genre fotografi yang akan ditekankan dalam hal ini adalah documentary photography dan photojournalism. Kedua genre ini telah lama dijadikan sarana untuk menyampaikan informasi yang dapat dipercaya. Baik documentary photography maupun photojournalism, memiliki kode etik yang sama, yang menekankan pada kejujuran serta membatasi photo editing seminimal mungkin, yaitu terbatas hanya pada tujuan untuk memperbaiki kualitas teknis dari foto.

Masalah-masalah teknis dari pengimplementasian proyek kemudian dibahas lebih detail di bagian akhir tulisan. Proposal ini juga dilengkapi dengan portfolio dari proyek sebelumnya yang sudah sejak beberapa tahun yang lalu dikerjakan secara pribadi oleh Ponda, proyek sepanjang masa yang dinamakannya “Manusia Laut”, berisi rangkaian foto-foto kehidupan nelayan di Belitung dan Sulawesi. Aku didaulat Ponda untuk memberikan judul yang pas, satu malam aku memikirkannya. Lalu, aku datang dengan sebuah judul yang di dalamnya kusisipkan semangat: “Sea People, a Vivid Portrait of Indonesian Fishermen’s Struggle”. Berangkat dari mimpi-mimpi sederhana, semoga proposal ini menjadi langkah awal untuk mewujudkannya.

Ingatanku pun melayang-layang ke masa silam, belasan tahun yang lalu. Perahu nelayan setengah jadi tergeletak di tepi pantai. Papan-papannya pun masih basah dan wangi, belum dicat. Perahu itu dibuat oleh ayah kawan kecilku, seorang nelayan asal Desa Juru Seberang. Kami biasa menghabiskan sore bermain-main di rumahnya yang terletak di bibir Pantai Air Saga, menunggu air pasang sambil bermain bola atau melempari buah-buah asam jawa di halaman kosong tak jauh dari dermaga. Perlahan-lahan matahari beranjak ke peraduannya, hendak mencium bibir cakrawala. Kaki-kaki kecil kami telah basah oleh deraian ombak air pasang menjelang senja, menitipkan rindu pada jiwa-jiwa penjelajah samudera, nelayan nusantara.

Foto-foto diambil dari koleksi "Manusia Laut" [Ponda Sujadi]
Terima kasih kepada Pak Koskow yang telah bersedia meminjamkan buku-buku sebagai bahan bacaan serta Ulfa yang telah meluangkan waktunya untuk memeriksa tata bahasa dan ejaan proposal dalam Bahasa Inggris.

Bochum, 6 Juli 2014

Wednesday, October 16, 2013

Balada Gerbong Kereta

Catatan Perjalanan di akhir musim panas, September 2013

Musim panas baru saja berlalu, namun hangatnya masih meninggalkan bekas dalam ingatan. Hari-hari kelabu tak bermatahari, semilir angin dingin merenggut daun-daun yang tak kuasa lagi berpegang erat pada rantingnya. Ada perasaan sedih terselip dalam hati ini, perasaan seperti ditinggalkan orang terkasih, yang menyelinap diam-diam tanpa peringatan.

Aku gemar sekali menghabiskan waktu luangku memperhatikan lalu lalang manusia dan hiruk pikuknya di dalam gerbong kereta. Sore ini, seperti hari-hari yang telah lalu dalam dua tahun terakhir ini, sesekali kuluangkan akhir pekanku untuk mengunjungi sahabatku Mira di kota Nijmegen, Belanda. Sebuah kota kecil nan cantik di hilir Sungai Rhein, yang berubah namanya menjadi Rijn dalam lafal Belanda. Dua setengah jam perjalanan kereta melintasi perbatasan Jerman-Belanda di Kota Kaldenkirchen-Venlo ini selalu menyisakan kesan yang senantiasa menyemai kenangan.  

Biasanya aku memulai perjalanan pada sore hari dan sampai di stasiun Nijmegen Centraal menjelang magrib. Aku menumpang kereta pertama menuju Viersen, kereta regional tujuan Mönchengladbach. Kereta ini hanya 1 tingkat, tak seperti jenis kereta regional lainnya yang biasanya bertingkat 2. Perjalanan tak sampai 1 jam ini biasanya kuhabiskan dengan membaca buku, sambil sesekali memperhatikan orang-orang yang lalu lalang dan asyik dengan kesibukannya masing-masing.

Hampir selalu aku bertemu orang-orang yang membawa serta anjing peliharaannya, anjing-anjing yang sudah terbiasa diajak dalam perjalanan antar kota, sehingga jarang sekali menyalak atau mengganggu penumpang lain. Sore ini, seorang nenek menggendong seekor anjing mungil nan lucu, yang sejak tadi hanya memperhatikan saja lalu lalang orang di sekitarnya, damai dia dalam gendongan sang nenek. Lalu tak jauh dari bangku mereka, duduk seorang Bapak yang sejak tadi membolak-balik halaman surat kabar, mimik mukanya agak serius, tak tertarik dia pada keadaan di sekelilingnya.

Salah satu alasanku membaca buku dalam perjalanan adalah kegemaranku menghubung-hubungkan peristiwa-peristiwa dalam buku pada kenyataan yang sedang kualami dalam setiap perjalanan. Selalu saja jalinan cerita dalam buku yang kubaca saling terhubung dengan khayalan dan memori dalam tempurung kepalaku yang tak lebih besar dari bola cricket ini. Lalu frame-frame pemandangan dari jendela kereta melesap berganti-ganti seperti rangkaian cerita dalam film-film.

Selalu ada suasana berbeda di setiap musim. Beberapa bulan lalu di musim semi, ladang gandum masih menghijau, ladang raps menguning sempurna, lalu beberapa hamparan lainnya ditanami sayur-sayuran. Di akhir musim panas ini, gandum telah selesai dipanen, gulungan jerami dibiarkan terserak di ladang-ladang. Beberapa ladang sudah ditanami jagung yang tak lama lagi akan dipanen di musim gugur. Ketika kereta berjalan agak melambat, pelan-pelan aku bisa melihat pucuk-pucuk pepohonan yang berbaris rapi di kejauhan, rupanya pohon-pohon cemara yang sengaja dibudidayakan untuk hiasan di hari Natal.

Ladang-ladang ini sungguh luas seperti tak bertepi, sampai batas cakrawala yang kulihat hanya hamparan hijau tanam-tanaman. Batas-batasnya adalah deretan pepohonan yang berjajar rapi atau jalan-jalan desa yang hanya sesekali dilalui kendaraan. Rumah-rumah petani dengan kebun kecil berbunga sesekali menyembul di balik pepohonan, menyelinap berganti-ganti dengan pemandangan orang bersepeda atau mesin-mesin pertanian yang teronggok bisu tak bertuan. Tak lama lagi, pohon-pohon ini akan menguning, memerah, lalu berguguran daunnya tertiup angin, menyisakan ranggas yang harus tegar menantang beku. Ladang-ladang ini pun akan tidur panjang berselimut salju, putih menyilaukan mata.


Lalu aku akan melintasi perbatasan dengan kereta kedua, Eurobahn, kereta kuning yang akan mengantarkanku sampai ke Kota Venlo. Biasanya aku hanya berdiri saja dalam kereta ini, karena perjalanannya tak lebih dari setengah jam. Desa-desa yang kulewati semakin sulit aku mendefinisikannya, masih Jerman atau sudah Belanda, biasanya aku bisa menandainya jika sinyal telepon genggamku sudah berubah menjadi NL-KPN, sebuah nama operator komunikasi asal Belanda. Tanda lain adalah semakin banyaknya kulihat orang bersepeda. Di dalam kereta ini, biasanya lebih banyak kutemui orang-orang yang berbicara dalam bahasa Belanda, mimik wajah mereka lebih ramah, lebih terkesan santai dan tidak sekaku orang Jerman. Dari tadi sekelompok anak usia belasan tahun tak berhenti bercerita, mereka sepertinya sedang merencanakan liburan akhir pekan bersama-sama, ah aku hanya menebak-nebak saja karena aku tak begitu paham bahasa Belanda.

Oh iya, buku yang kubaca sore ini adalah "Teman Merawat Percakapan", sebuah catatan jejak perjalanan berkarya Pak Koskow dalam dunia seni grafis. Beliau adalah dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta, seorang guru sekaligus sahabat dari sahabatku Ponda. Cerita-cerita Pak koskow tentang masa kecilnya, tentang reuni bersama kawan-kawan SD-nya sampai pengalaman-pengalamannya berkarya dari waktu ke waktu telah memenuhi otakku akan kenangan-kenangan pada tanah air tercinta. Seseorang pernah mengatakan padaku, cerita yang luar biasa itu bukan tentang pencapaian yang tiada terkira, namun justru tentang keseharian yang senantiasa menorehkan makna untuk kemudian dikenang pada masa yang akan datang. Itulah cerita yang dimiliki semua orang, yakni cerita tentang masa kecil yang tak terlupakan, cerita tentang perjuangan menemukan makna kehidupan, cerita tentang persahabatan atau cinta yang tak lekang dimakan waktu. Cerita-cerita yang sama sesungguhnya akan selalu kita temukan kapan saja dan tak peduli di mana, bahkan di sudut-sudut kereta di negeri jauh ini. Dia melintasi batas negara dan budaya, bahkan mimik wajah bisa menceritakan seribu kisah yang boleh jadi hanya tak mampu saja terekspresikan lewat kata-kata.

Kereta berhenti lambat-lambat di ujung stasiun Venlo. Aku turun dengan sedikit tergesa demi mengejar kereta selanjutnya, kereta senja Veolia. Hiasan bunga-bunga plastik di tiang-tiang stasiun tak kuhiraukan, bunga-bunga yang tetap cantik di segala musim, tak peduli musim apa dan tak peduli pula dengan lalu lalang orang-orang di sekitarnya. Kereta Belanda ini berwarna merah putih dan di beberapa dinding luarnya terlukis wajah-wajah tokoh yang tak kukenal, entah siapa. Perjalanan dari Venlo menuju Nijmegen kurang lebih 1 jam, dan perjalanan terakhir ini yang sesungguhnya paling kutunggu-tunggu, saat lembar-lembar terakhir buku yang kubaca mencapai kesimpulannya, lalu segenap cerita mencapai titik baliknya, berkejaran dengan matahari yang pelan-pelan menunduk ingin mencumbu cakrawala. Awan kelabu sedikit tersibak membiarkan berkas-berkas sinar dari langit mengintip malu-malu pada sapi-sapi gemuk yang digiring petani pulang ke kandang. Kemudian perlahan ladang-ladang petani berganti oleh deretan rumah penduduk, lalu tak lama kemudian Sungai Rijn dengan cantiknya memantulkan kilau matahari senja. Sebuah sore yang sempurna, sesempurna ingatanku akan kenangan pada orang-orang tercinta. Lalu sebaris kata-kata dari Buku "Teman Merawat Percakapan" terngiang-ngiang dibisikkan angin senja: "Aku mengingatmu dengan cara yang sederhana, menyimpanmu di tempat yang teristimewa."

Bochum, 16 Oktober 2013
[Tamat]
[Sambungan dari: Balada Stasiun Kereta:
http://maktjik.blogspot.de/2012/12/balada-stasiun-kereta.html]

Tuesday, May 07, 2013

Langlang Buana ‘Percakapan Diam-Diam’


Berawal dari kecintaanku pada seni, demikianlah kisah petualangan sebuah buku bermula. Sebuah buku berisi lantunan kata-kata dalam sebuah ‘Percakapan Diam-Diam’, yang telah tunai petualangannya sampai ke Bochum, Jerman, kota kecil tempatku berjuang saat ini.

Suatu sore di bulan Juni, musim panas tahun lalu, sepulang dari kampus, seperti biasa aku melepas lelah sambil membaca buku, menunggu malam tiba, sambil mengamati deras arus informasi dari berbagai media sosial. Sore itu, tanpa sengaja aku menemukan sebuah akun twitter: @lelakibudiman, nama yang unik kupikir. Sejak saat itu, sering kusimak ‘kicauan’ sang @lelakibudiman, yang di kemudian hari kuketahui bahwa ia menulis sebuah buku kumpulan puisi: ‘Percakapan Diam-Diam’, ilustrasi oleh Koskow, dosen ISI Yogyakarta, yang juga pernah mengajar sahabatku, Ponda.

Ayahku juga seorang pembaca akut, kupikir tak ada salahnya menghadiahi beliau sebuah buku. Tanpa pikir panjang, aku pun memesan ‘Percakapan Diam-Diam’ untuk dikirim ke kampung halaman. Nanti saja pikirku, bila masih ada umur untuk pulang, ‘Percakapan Diam-Diam’ bisa kubaca sambil menikmati sore di beranda rumah bersama Ayah.

‘Percakapan Diam-Diam’ pun memulai petualangan pertamanya  dari Jogja ke Tanjungpandan pada November 2012. ‘Bukumu sudah sampai’, kata Ayah pada suatu sore. Lalu Beliau membacakan beberapa bait puisi di dalamnya. ‘Percakapan Diam-Diam’ masih tak terjangkau olehku, saat itu ia mewakili rindu.

Januari lalu, karibku Mira yang sedang belajar di Nijmegen, Belanda, berencana pulang untuk menghadiri pernikahan kerabatnya. Aku pun serta merta meminta kesediaan Mira untuk mengajak ‘Percakapan Diam-Diam’ pulang bersamanya nanti ke Belanda. ‘Percakapan Diam-Diam’ pun melanjutkan petualangan berikutnya dari Tanjungpandan ke Cimahi, Depok dan Jakarta, untuk selanjutnya menempuh perjalanan ribuan mil ke Amsterdam dan Nijmegen pada Februari lalu.

‘Percakapan Diam-Diam’ menikmati musim dingin di Nijmegen, musim dingin yang panjang dan baru beranjak pergi di awal April tahun ini. Mungkin ia terkejut agaknya, melihat kelabu yang enggan pergi, kadang sayup dingin menggigit tiba-tiba menyelinap dari celah pintu. Saat itu ia mewakili tubuh kami, orang Indonesia, yang ringkih diterjang hawa dingin, demi mengejar mimpi di negeri antah berantah ini.

'Percakapan Diam-Diam' pada suatu siang nan cerah
di Keukenhof, Lisse, Belanda
Musim semi datang terlambat, bunga-bunga liar yang sempat bersemi di awal Maret, harus mengurungkan niatnya, rupanya salju masih betah menemani kami berlama-lama. Kuharap ‘Percakapan Diam-Diam’ masih sabar menungguku sampai musim semi tak berbohong lagi.

Bulan Mei pun tiba membawa hawa hangat dan semilir teduh sepanjang sore. Waktu yang tepat untuk menjemput ‘Percakapan Diam-Diam’. Sabtu pagi di Stasiun Leiden Centraal, pada sebuah pertemuan malu-malu, ‘Percakapan Diam-Diam’ terbata mengenalkan diri padaku, tabik senyum rindu, tak ragu lalu kuajak ia menikmati semi di taman bunga Keukenhof.

Dalam perjalanan pulang kembali ke Nijmegen, kubaca lirih sebuah puisi dalam ‘Percakapan Diam-Diam’:

'Percakapan Diam-Diam'  di jendela kereta
dalam perjalanan pulang menuju Nijmegen
Pun Angin Tak Mampu

Ijinkan aku sejenak
menikmati  lembut denyut
yang tak sempat kau ucapkan

Hingga esok
Kubisikkan lirih
selamat pagi.

Pun angin tak mampu
mencuri dengar
debar itu dari hatimu.
***


Seorang gadis Belanda, melirik penasaran mendengar lirih suaraku, senyumnya mengembang. ‘Ini puisi, Nona. Puisi yang kami bawa jauh dari negeri kami, tempat nenek moyangmu dulu pernah menjajah leluhur kami’, gumamku dalam hati.

‘Percakapan Diam-Diam’ pun mengakhiri petualangan panjangnya, tiba dengan senyum bersahaja di Bochum. Kini ia duduk manis di rak bukuku, rumah barunya. Sore ini kami bercakap-cakap, sambil minum kopi. Kabarnya rindu tak perlu alasan, begitu kata ‘Percakapan Diam-Diam’:

Sajak Kecil tentang Rindu

Mungkin tak semua hal membutuhkan alasan, seperti kerinduan.
Datang begitu saja, tiba-tiba. Tanpa alasan, namun menyenangkan.
Kita tak pernah tahu alasan apa yang membuat kita saling merindukan?
Jarak?

Sebelumnya kita tak pernah dipersatukan jarak.
Atau mungkin kita merindukan sebuah pertemuan? Kita belum pernah bertemu sebelumnya. Rindu itu menelusup tiba-tiba.

Kita tak saling memikirkan, namun saling merindukan.
Sebab kerinduan teramat jujur hingga tak mampu membuat alasan.
Alasan kerinduan adalah rindu itu sendiri.
***

Kami pun menutup sore nan manis, semanis reguk-reguk kopi kami yang mulai dingin dicuri senja, dengan sajak terakhir dari 'Percakapan Diam-Diam':

Tiga Sajak Kecil yang Kutulis Sebagai Surat Cinta

(1)
Aku
Tingkap jendela
'Percakapan Diam-Diam' pada suatu sore nan teduh di Bochum
Menunggu cahaya
Datang memberi nama
Pada Warna

(2)
Engkau
Cahaya, tanpa nama
Menyapa
Tanpa kata
Tanpa swara

(3)
Kita
Hanyalah kecil ruang
Menjamu cahaya
Meramu warna
Dan, menamainya: Cinta
***

Bochum, 7 Mei 2013

Catatan kaki:
Terima kasih Mas @lelakibudiman dan Pak Koskow, yang telah mempersembahkan karya unik nan indah. Saya menantikan karya-karya selanjutnya. ‘Adik’ sang ‘Percakapan Diam-Diam’ di tan kinira, ‘Teman Merawat Percakapan’ sudah sampai dengan selamat di London, ia akan ikut berpetualang bersama sahabat saya ke Belanda, Perancis dan Swiss, sebelum kami bertemu musim panas nanti di Jerman.

Wednesday, May 28, 2008

Pelajaran Moral versi Laskar Pelangi

Ini adalah salah satu sisi paling lucu, absurd dan menarik menurut saya dari karya Andrea Hirata yang berisi pelajaran moral dan ungkapan-ungkapan yang mengandung sindiran. Selain teori gila menurut ibunya yang ada 44 macam itu tentu saja.

Berikut petikannya :
Pelajaran moral nomor satu : Jika tak rajin sholat maka pandai-pandailah berenang. 
Pelajaran moral nomor dua : Jangan tanyakan nama dan alamat pada orang yang tinggal di kebun. 
Pelajaran moral nomor tiga : Jika Anda cantik, hidup Anda tak tenang. 
Pelajaran moral nomor empat : Ternyata nasib yang juga sangat misterius itu adalah seorang pemandu bakat ! 
Pelajaran moral nomor lima : Jangan bersahabat dengan orang yang gila perdukunan. 
Pelajaran moral nomor enam : Jika Anda memiliki kesempatan untuk mendapatkan cinta pertama di sebuah toko kelontong, meskipun toko itu bobrok dan bau tengik, maka rebutlah cepat-cepat kesempatan itu, karena cinta pertama semacam itu bisa menjadi demikian indah tak terperikan ! 
Pelajaran moral nomor tujuh : Ternyata rahasia menarik perhatian seorang gadis adalah kita harus menjadi pelari yang gesit. 
Pelajaran moral nomor delapan : Jika Anda seorang produser film dan ingin untung besar, maka pakailah seorang sutradara yang otaknya bebal. 
Pelajaran moral nomor sembilan : Jika Anda sering ditanggap untuk berbicara di depan umum dan kerap tulalit karena kehabisan topik, maka belajarlah dulu jadi tukang gosip. 
Pelajaran moral nomor sepuluh : Jangan sekali-sekali datang ke Eropa pada bulan Desember. 
Pelajaran moral nomor sebelas : Untuk mendapatkan wanita cantik, tapi bodoh, rupanya Anda hanya perlu menjadi seorang provokator. 
Pelajaran moral nomor dua belas : Ke mana pun tempat telah kutempuh, apa pun yang telah kucapai, dan dengan siapa pun aku berhubungan, aku tetaplah seorang lelaki udik, tak dapat kubasuh-basuh. 
Pelajaran moral nomor tiga belas : Tukang jam, tukang reparasi televisi, tukang dadu cangkir dan penerbit buku adalah profesi-profesi yang patut dicurigai, dimana pun mereka berada. Jangan bicarakan keadaan negeri kita dengan seorang ekonom klasik. Pesimis ! 
Pelajaran moral nomor empat belas : Tertawalah, seisi dunia akan tertawa bersamamu; jangan bersedih karena engkau hanya akan bersedih sendiri.

Wednesday, April 02, 2008

Laskar Pelangi, sebuah karya...

Sudah ribuan orang terinspirasi dengan kisah anak Melayu ini. Mungkin kata sebagian orang agak basi mengulas kisah ini berulang kali. Namun tidak bagiku. Karya putra Belitong ini telah menjadi best seller, bahkan sampai ke Malaysia.

Demikian banyak hal menakjubkan yang diangkat dalam buku Andrea Hirata ini. Mungkin satu kata saja tidak akan cukup menggambarkan rasa salutku pada Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Sejak lama aku bermimpi ada orang yang dengan penuh percaya diri mengangkat ranah budaya kampung halaman kami. Dengan kemunculan tetralogi ini mimpi itu pun terwujud. Sebuah memoar hidup yang disajikan dengan pendekatan sastra telah hadir di tengah-tengah kita.

Dalam Laskar Pelangi, Ikal (sapaan akrab pengarang ini) memotret dengan apik kehidupan kaum marginal yang justru lahir di tanah yang kaya raya. Kemarginalan ini tidak untuk ditangisi atau dikasihani. Tetapi, di sinilah Ikal dengan gagah berani menoreh mimpi-mimpi anak-anak kampung itu. Lintang, demikian salah seorang inspirator bagi anak-anak miskin anggota Laskar Pelangi. Bagi mereka, Lintang bagaikan purnama yang membuat mereka berani bercita-cita. Anak miskin putra nelayan semenanjung ini demikian cerdas tapi demikian rendah hati. Ada lagi Bu Mus dan Pak Harfan, guru yang rela mengajar bahkan tanpa dibayar, yang tak jemu membakar semangat mereka. Dalam segala keterbatasan inilah para tokoh dalam buku ini dengan bangga memaknai setiap episode kehidupan mereka, berjuang dan berusaha melakukan yang terbaik dalam hidup mereka.

Perjuangan hidup Ikal pun berlanjut dalam Sang Pemimpi. Demikian kuat semangat Ikal, Arai dan Jimbron untuk bersekolah. Mereka rela bangun sejak dini hari untuk bekerja menjadi kuli ngambat demi membiayai hidup dan sekolah mereka kala itu. Hanya mimpi-mimpi dan semangat yang menjadi modal mereka, yang lain mereka tak punya. Diiringi segenap usaha dan do'a akhirnya Allah mengabulkan cita-cita mereka. Ikal dan Arai mampu meraih pendidikan tinggi bahkan sampai ke Perancis tanpa sepeser pun uang dari orang tua.

Sedangkan Edensor menggambarkan petualangan Ikal dan Arai selama bersekolah di Perancis. Seperti impian sepi guru sastra mereka waktu SMA dulu, mereka berhasil menjelajah Eropa sampai ke Afrika. Dalam penjelajahan ini, Ikal dan Arai menemukan mozaik-mozaik hidup mereka. Pena-pena Ikal berhasil menyajikan dengan apik sekelumit budaya masyarakat Eropa dan sebagian Afrika. Yang menarik, budaya ini diangkat dari sudut pandang orang Indonesia, yang notabene orang kampung sama sepertiku. Tapi bukan berarti cerita ini menjadi kampungan dan norak. Sama sekali tidak.

Satu lagi Maryamah Karpov, buku terakhir dari rangkaian Tetralogi ini. Rencananya akan terbit dalam tahun ini.

Tak terbayangkan bangganya aku menjadi orang Belitong. Pulau kecilku ini ternyata menyimpan orang-orang luar biasa. Terimakasih Andrea Hirata yang telah menjadi inspirasi. Yang telah dengan bangga dan gagah berani mempersembahkan sebuah karya bermutu.

Bandung, 20 Februari 2008