Showing posts with label Bandung. Show all posts
Showing posts with label Bandung. Show all posts

Wednesday, September 09, 2026

Rumah di Sudut Jalan

Pagi itu, di pekan ketiga September 2022 ketika kita semua baru berangsur-angsur memulai apa yang disebut “new normal” pasca pandemi COVID-19, aktivitas di kampus perlahan-lahan kembali ke mode luring. Kalau bagiku, bagaimana pun keadaannya, bulan September selalu istimewa, usiaku saat itu baru berubah angka. Tapi, kali ini, apa dan siapa yang menungguku di depan sana masih kubiarkan menjadi misteri saja. Bagaimana nanti kesudahannya? Tak mesti kubayangkan saat itu juga. Tapi, dari tadi kepalaku dipenuhi kelebat bayangan seperti teaser film petualangan. Siap tak siap, aku harus siap memulai petualangan baru: menjadi dosen wali.

***

Hari ini aku berangkat lebih pagi dari biasanya, tak sabar rasanya menyambut wajah-wajah baru yang akan mengisi paruh terakhir dekade keempatku, setidaknya dalam empat tahun ke depan. Daftar nama-nama mereka sudah kuperiksa sejak pekan lalu. Memori di kepalaku mulai berputar-putar, membayangkan masa laluku saat aku seusia mereka. Delapan belas tahun sebelumnya, satu langkah besar dalam hidup telah kuambil, merantau ke Bandung. Saat itu, lidahku masih terbata-bata, mencoba mereka-reka orang-orang baru, lingkungan baru, dan banyak hal lainnya yang serba baru. “Kira-kira, akan jadi apa aku nanti setelah lulus? Kuatkah aku bertahan dalam pusaran zaman yang terus berubah? Siapa nanti yang akan jadi kawan-kawan baruku?

Hari ini, pertanyaanku berubah. “Apakah aku siap menemani mereka bertumbuh? Bekal apa yang sudah aku persiapkan untuk membersamai mereka? Akan jadi orang seperti apa aku nanti setelah mereka lulus?” Pagi itu, kami, dosen-dosen Prodi Teknik Biomedis dipanggil ke depan, diperkenalkan satu persatu oleh Kaprodi di depan seratus sembilan mahasiswa baru yang kami terima di semester Ganjil 2022/2023 yang dibagi ke dalam tiga kelas. Tiga puluh tujuh di antaranya akan menjadi tanggung jawabku.

Siangnya kami bertemu kembali di ruang kelas, sesi perwalian perdana. Dari tiga puluh tujuh nama yang kuterima, ternyata ada satu nama yang sama denganku, kupikir namaku sudah cukup langka di generasiku, rupanya masih ada orang tua yang memakainya untuk menamai anak perempuannya. Alasan ini pun akhirnya kupakai untuk memilih panggilanku untuk mereka, “Makcik”, nama panggilanku bagi wajah-wajah muda mahasiswa waliku di kelas TB-46-01, perwakilan dari seluruh nusantara, dari Aceh sampai Papua.

***

Hari-hari berlanjut sebagaimana biasa, semua orang beradaptasi pasca pandemi, tak terkecuali aku dan para mahasiswaku. Semester ini, aku mengajar mereka di kelas Fisika  dan Pembentukan Karakter. Menunggu hasil semester pertama mereka seperti menunggu transkrip pertama ketika aku kuliah dulu, tapi kali ini bebannya terasa sedikit lebih berat. “Bisakah mereka beradaptasi dalam setengah tahun pertama ini?Alhamdulillah, ternyata lumayan mulus. Aku cukup optimis semester selanjutnya akan berjalan tak jauh berbeda. Tapi, ternyata tantangan pertama aku hadapi saat mereka mengakhiri semester dua, rata-rata IP mereka terjun bebas. Aku termenung cukup lama, mencari-cari sebab dan akar permasalahannya. Kuperhatikan satu persatu daftar nilai yang kuterima, sampai suatu hari salah seorang dari mereka meminta waktu untuk menemuiku, disusul oleh beberapa lainnya. Kudengarkan satu persatu keluh kesahnya, ada yang menangis, ada yang terdiam cukup lama sebelum bisa bercerita panjang di depanku. Permasalahannya cukup beragam, tapi ada beberapa benang merah yang bisa kuuraikan perlahan-lahan. Anak-anak muda ini belum menemukan tumpuan, alasan paling kuat untuk membuat mereka bertahan, kebingungan menentukan tujuan. Dari cerita-cerita yang kudengar, banyak dari mereka yang memilih kampus dan jurusan ini bukan dari keinginannya sendiri, tapi karena arahan atau keinginan orang tua. Alasan klasik lainnya karena tidak diterima di Fakultas Kedokteran.

Dulu, dulu sekali ketika aku memutuskan untuk kuliah di jurusan Teknik Fisika, di Bandung dan di ITB, semua keputusan itu kuputuskan sendiri. Aku hanya meminta restu saja dari orang tuaku. Sejak aku masih kecil, mereka selalu berpesan, ketika memilih sesuatu, pertimbangkan matang-matang, dan jika sudah memilih, maka aku harus bertanggung jawab dengan pilihan tersebut, bagaimana pun konsekuensinya. Kukira, pengalamanku ini tak bisa serta merta langsung kujadikan contoh untuk permasalahan mahasiswaku. Di fase ini, tanpa sadar ada sudut dalam kepalaku yang mulai ditempati oleh para penghuni baru, nama-nama yang mulai kupikirkan masa depannya.

Tapi sebenarnya, ketakutan-ketakutan yang mereka rasakan saat itu, sedikit banyak memiliki kesamaan dengan apa yang pernah aku rasakan ketika seusia mereka. Namanya juga masa-masa pencarian jati diri, kalau tak takut justru aneh. Aku bukan tipe orang yang gampang untuk digurui, maka orang-orang yang bisa kudengarkan nasihatnya adalah orang-orang terpilih yang tak banyak jumlahnya. Sampai sekarang pun masih seperti itu, meskipun kadarnya sudah kuatur sedemikian rupa sehingga tak seliar ketika aku masih lebih muda. Skenario baru mulai kupikirkan, aku juga tak mau menggurui mereka, aku akan mengajak mereka berpikir, aku akan mengajak mereka merenung!

Aku percaya manusia itu mempunyai kesempatan untuk dilahirkan dua kali, pertama ketika lahir dari rahim ibunya, kedua ketika sadar apa tujuan hidupnya dan untuk itu tahu apa yang ingin dilakukannya di dunia ini. Apakah semua orang akan lahir dua kali? Belum tentu. Mulai hari itu, saat mereka pertama kali bertemu denganku, kuazamkan dalam hatiku bahwa aku akan berusaha hadir agar mereka bisa lahir kembali untuk kedua kalinya. Aku berutang banyak dari guru-guru dan dosen-dosenku dulu untuk alasan ini. Meskipun sampai kapanpun tak akan terbayar, tapi melalui jalan amanah ini aku akan meneruskan warisan kebaikan mereka.

Sebelum memulai semester-semester selanjutnya, mereka semua selalu kukumpulkan di satu kelas. Kuajak berdiskusi panjang lebar tentang topik-topik berat yang menantang mereka untuk berpikir, menampar rasa enggan, mengajari mereka tahu diri, menempa mereka dengan keadaan-keadaan yang tidak nyaman, dan pada akhirnya berharap mereka bisa menjadi manusia-manusia yang bertanggung jawab dengan pilihan-pilihan yang berkelindan dalam hidup mereka. Tak hanya di kelas-kelas perwalian, tapi juga selalu kusisipkan di kelas-kelas mata kuliah yang kuampu di kelas mereka. Suatu waktu, aku mengajak mereka berdiskusi panjang lebar tentang berbagai topik, di antaranya “GenZ, generasi stroberi?”, “Future Essential Skills”, “Bagaimana mengenali diri dan menyusun Individual Development Plan?” atau topik-topik lain yang mereka minta sendiri. Lain waktu, kubagikan buku-buku untuk mereka baca. Diskusi-diskusi tersebut akhirnya berangsur-angsur menjadi semacam pemantik. Di sela-sela kesibukanku mengajar dan meneliti, satu persatu mereka meminta waktu berdiskusi, makin banyak waktu dan energi yang kusediakan khusus untuk mereka. Lelah? Tak mungkin tidak, tapi panggilan hatiku sudah di sini. Sudut kepalaku tadi perlahan menjadi ruang yang semakin lapang, tempat kami bertukar pikiran, dan tanpa kusadari aku pun terus bertumbuh menjadi versi-versi lain yang belum pernah kukenal sebelumnya.

Ada satu momen yang masih kuingat sampai sekarang, rasanya hari itu aku seperti terlahir kembali untuk ketiga kalinya, lebih tepatnya momen kedua kali dari kelahiranku yang kedua. Sore hari setelah batas akhir pengumpulan daftar nilai akhir semester tiga, aku menerima data nilai semester mereka, pada detik itu mataku berkaca-kaca, aku teryakinkan sekali lagi bahwa panggilan hidupku adalah menjadi seorang pendidik, profesi yang sebelumnya tak pernah aku inginkan. Rata-rata nilai mereka yang terjun bebas di semester sebelumnya naik secara signifikan di semester tiga, bahkan jauh melebihi rata-rata di semester pertama. Rasa bahagia jenis ini baru pertama kali aku rasakan seumur hidupku, melebihi rasa bahagia yang aku rasakan ketika pertama kali bisa naik sepeda, tak bisa ditukar dengan uang, tak bisa ditukar dengan hadiah yang lain, sederhana tapi mengharukan.

Tak jarang, tanpa sadar, aku memasang standar lebih tinggi untuk mereka, aku ingin menempa mereka dengan rasa tidak nyaman dan kondisi dengan solusi yang tidak instan. Tak jarang pula kudengar keluh mereka, tapi aku harus tega, karena aku yakin tantangan di luar sana akan jauh lebih hebat dari kondisi simulasi yang mereka hadapi di dalam kampus. Dalam proses ini, aku pun bertumbuh, aku mengenal versi lain dari diriku, salah satunya  ternyata aku sangat senang menyelami alam pikiran manusia yang berupa-rupa. Kebanyakan orang tak sebagaimana tampaknya, banyak lapisan-lapisan yang tak kita ketahui sebelumnya. Apa alasan seseorang menjadi dirinya pada suatu waktu tak pernah sama satu sama lain, meskipun terlihat mirip pada lapisan luarnya. Tapi, aku menemukan helai benang merah yang lain, bahwa latar belakang pengasuhan ketika seseorang dibesarkan di usia anak sampai remaja sangat menentukan bagaimana dia bertumbuh di fase-fase selanjutnya, termasuk di usia dewasa muda. Di tengah perjalanan, aku kehilangan satu mahasiswa wali yang akhirnya memilih pindah ke kampus lain. Pertemuan yang lebih singkat ini mengajarkanku banyak hal, tentang hidup dan pilihan-pilihannya, tentang harapan-harapan yang tertumpu pada pundak seorang anak dari orang tuanya.

Waktu terus berlalu, aku menyaksikan mereka bertumbuh, ada yang aktif di berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa, ada yang sibuk menjadi asisten di lab-lab riset dan lab-lab praktikum, ada yang sudah bisa mengajari adik-adik kelasnya. Lagi, terasa-rasa dalam benakku, rasa bahagia yang tadi sudah kuceritakan. Jenis bahagia seperti ini mungkin yang bisa membuat para pendidik sampai rela bersusah payah, yang dulu hal tersebut tak pernah masuk dalam akalku.

Tak terasa sampailah mahasiswa-mahasiswa waliku di pergantian semester lima ke semester enam. Fase ini menjadi salah satu fase menentukan bagi mereka sekaligus mendebarkan bagi diriku sendiri. Di semester enam, mereka mulai dihadapkan pada mata kuliah-mata kuliah pilihan yang sebagian besar berbasis proyek Tugas Besar, termasuk mata kuliah wajib Proyek Perancangan Terintegrasi yang menuntut persiapan lebih dari mata kuliah biasa. Di semester ini pula mereka harus mempersiapkan Kerja Praktik yang akan dilaksanakan di masa liburan semester sebelum naik ke tingkat empat. Selain itu, di semester enam ini, ditawarkan kesempatan bagi mereka yang ingin lulus lebih cepat dalam waktu tiga setengah tahun. Banyak yang harus aku persiapkan agar mereka tak salah jalan. Ketika melepas mereka untuk Kerja Praktik pun, hatiku rasanya tak karuan, campur aduk antara senang dan khawatir. Bukankah ini yang aku inginkan? Ingin mereka terbang tinggi dan melepaskan genggamanku, fase ini adalah awalnya.

Sepulang mereka dari Kerja Praktik sebelum masuk ke semester tujuh, aku mengubah strategi perwalian. Kupikir fase ini jauh lebih menentukan dari fase sebelumnya karena kurang lebih satu tahun lagi mereka akan lulus. Perwalian di kelas massal tetap aku laksanakan untuk keperluan registrasi SKS, namun setelahnya aku mewajibkan sesi perwalian khusus per mahasiswa atau maksimal mereka bisa datang bersama empat orang kawannya menemuiku. Dalam satu sesi perwalian tersebut, aku bisa menghabiskan waktu paling sedikit tiga jam bahkan lebih. Hampir dua bulan kuhabiskan waktu untuk sesi konsultasi tersebut. Banyak momen-momen “Oh” yang kutemukan dari pertemuan-pertemuan itu, ketika mulai kuketahui lapisan-lapisan lebih dalam yang belum pernah kukenal sebelumnya. Hampir selalu ada yang menangis, tak sedikit pula yang dengan gamblang menggambarkan rasa takut dan kekhawatirannya. Dua bulan tersebut banyak mengubah cara pandangku tentang mendidik manusia, membuatku mengevaluasi hidupku sendiri, dan mempertanyakan, apakah sudah cukup bekal yang kupersiapkan untuk mereka? Momen ini juga membuat deretan doaku makin panjang. Ruang di sudut kepalaku tadi sudah berubah menjadi rumah yang harus siap kehilangan penghuninya, tak lama lagi.

Tingkat empat mereka lalui dengan berupa-rupa pengalaman. Empat orang di antaranya menjadi mahasiswa bimbinganku, angkatan kedua di Prodi Teknik Biomedis yang aku bimbing. Pengalaman membimbing mereka pun tak kalah istimewanya, dari momen eksperimen dan pengujian di Rumah Sakit dan klinik, bimbingan jarak jauh ketika mereka harus mengambil data di kota lain, sampai momen-momen di mana aku sempat kehilangan kesabaran. Banyak mahasiswa yang mungkin belum tahu, Tugas Akhir itu bukan hanya menantang bagi mahasiswa, bagi dosen pembimbing pun tak kalah serunya. Di fase ini, bertepatan pula dengan penugasan baruku di struktural, di dua posisi berbeda yang hanya berjeda sepuluh bulan. Karenanya, aku pun harus beradaptasi lagi di tengah amanah yang semakin bertambah. Tak mudah, tapi aku terus berusaha hingga sampailah di hari-hari yang menentukan, Sidang Tugas Akhir. Alhamdulillah, empat orang ini berhasil menyelesaikan Tugas Akhirnya dengan nilai terbaik dan termasuk di antara mahasiswa yang sidang pertama di angkatannya. Rasa bahagia jenis yang tadi mengetuk lagi, kali ini ditambahi bunga-bunga, aku sampai harus menemukan momen sendiri untuk menikmati rasa haru dan harumnya.

***

Ibarat gelombang pasang yang mulai menyurut, fase hidupku bersama TB-46-01 mulai memasuki babak terakhir. Alhamdulillah, Allah izinkan tiga puluh satu dari mereka dapat menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan sarjananya dengan baik, artinya tak lama lagi mereka akan diwisuda. Dalam momen acara perpisahan bulan lalu, tumpah ruah perasaanku menemui titik baliknya. Kesempatan itu kumanfaatkan baik-baik untuk memotret dengan seksama wajah-wajah yang telah menemaniku belajar dalam empat tahun terakhir ini, belajar menjadi manusia lagi dan selalu belajar untuk menjadi guru yang baik. Kuperhatikan wajah-wajah yang selama empat tahun ini kutemui dalam berbagai fase dan ungkapan emosinya.

Tak hanya mereka, aku pun berubah menjadi versi yang berbeda dari empat tahun sebelumnya. Pertanyaanku di pertengahan September, empat tahun yang lalu: “Akan jadi orang seperti apa aku nanti setelah mereka lulus?” mulai kutemukan jawabannya sekarang. Hari-hari terakhir ini, menjelang dekade kelima hidupku, mereka telah mengubah banyak hal, tak hanya dalam hidup mereka tapi juga hidupku sendiri. Siap tak siap, aku harus siap. Rumah di sudut kepalaku tadi mulai kurapikan susunan barang-barangnya, kubersihkan setiap ruangannya, kupajang foto-foto mereka di salah satu dindingnya, kusiapkan pintu yang akan kubukakan kapan saja mereka ingin pulang, mereka-mereka yang telah aku pilih untuk menjadi penghuni tetap di rumah itu.

Kutemukan diriku hari ini telah menjadi manusia yang baru, yang harus menerima risiko dari cita-citaku sendiri, risiko kehilangan. Hari-hari ini, aku menemukan alasan dari rasa cintaku yang kubiarkan tumbuh untuk mereka, juga rasa cinta pada profesi yang akhirnya kupilih. Alasan pertama, aku tak pernah bisa melakukan apapun setengah hati, termasuk mencintai, apalagi diamanahi untuk mendampingi sekumpulan manusia. Kedua, dedikasi yang aku lakukan ini adalah sebuah bentuk “balas dendam” atas kekecewaanku terhadap hal-hal yang tak bisa kujangkau dan kukendalikan, salah satunya, penyelenggara negara. Apa yang aku lakukan ini setidaknya adalah sedikit yang bisa aku usahakan untuk generasi mendatang. Harapanku sesederhana, jika suatu saat mereka dihadapkan pada pilihan yang rumit, pilihan paling jujur dan berintegritaslah yang akan mereka pilih, betapapun sulitnya. Kapan tunas-tunas yang kutanam ini akan berbuah? Bukan urusanku, bahkan sampai aku tak ada lagi di dunia ini pun aku tak peduli. Biarlah mereka tumbuh, menemukan jalan hidup, dan menikmati buahnya sendiri, menjadi manusia-manusia baik di masa depan nanti. Seperti kata Ki Hadjar Dewantara: “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.”

Di malam perpisahan itu, setelah sesi diskusi panjang hampir lima jam, mereka menghadiahiku sebuah kotak, isinya dua puluh enam surat yang mereka tulis di atas kertas. Di tengah udara malam Lembang yang dingin, tiba-tiba hatiku menjadi hangat, sehangat kasih sayang ibuku yang malam itu berubah wujud menjadi doa-doa dan harapan yang mereka tuliskan untukku. Ingatanku terlempar ke puluhan tahun yang lalu ketika aku masih kecil. Di masa sekolah dulu, aku sering sekali berpindah-pindah sekolah. Setiap momen perpisahan itu, selalu aku yang menjadi orang yang meninggalkan, bukan ditinggalkan. Suatu hari, pernah seorang guruku menangis ketika aku pindah sekolah. Saat itu aku belum bisa memahami perasaan beliau seutuhnya. Saat aku meninggalkan Jerman dan kembali ke tanah air pun sama, aku yang meninggalkan, bukan ditinggalkan. Puluhan tahun kemudian, malam itu, aku baru sadar, “Oh, begini rasanya ditinggalkan.” Meskipun aku tak pernah mahir soal perpisahan, tapi ketika berada di posisi yang ditinggalkan ternyata rasanya jauh lebih menyedihkan. Rumah di sudut kepalaku tadi mulai kosong ditinggalkan penghuninya, tersisa lima orang lagi yang tak lama lagi juga akan segera menyusul kawan-kawannya. Persinggahan mereka di rumah itu adalah salah satu hadiah paling indah yang pernah Allah titipkan dalam hidupku. Ah, rasanya tak pernah cukup tulisan ini untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan. Rasa bahagia jenis baru tadi telah bercampur aduk dalam kepalaku, kuresapi dalam-dalam, hendak kusyukuri setiap detiknya.

Kata orang, kalau ada orang lain yang menginginkan dirimu lebih hebat dari dirinya, orang itu hanya orang tuamu saja. Tapi, hari ini izinkan aku menyimpulkan bahwa para pendidik yang sebenar-benarnya adalah orang-orang yang boleh masuk dalam golongan ini, setidaknya itulah yang aku rasakan setelah empat tahun terakhir ini. Aku ingin mahasiswa-mahasiswaku menjadi manusia-manusia yang lebih hebat dari diriku, dalam segala hal yang Allah izinkan mereka untuk mencapainya, setinggi-tingginya, sejauh-jauhnya.

***

Kawan-kawan TB-46-01, maafkan atas segala kekurangan dan kesalahan saya ketika kita belajar bersama. Jadilah versi terbaik kalian di masa depan nanti. Rumah yang pernah kalian singgahi, insyaAllah akan selalu saya bukakan pintunya kapan saja kalian ingin pulang. Jangan gampang menyerah. Kalau lelah tak apa berhenti sejenak, “satu-satu, pelan-pelan”. Terima kasih telah menjadi alasan bagi saya untuk menjadi lebih baik. Semoga Allah senantiasa menjaga kalian dalam setiap keadaan. Terima kasih telah membuat saya menjadi pemberani, yang berani hidup dan berani mencintai.

Bandung, 10 September 2026

***

What a privilege to have them, even just for a brief moment, and feel all of life in its essence. Dieses Gedicht ist für sie, puisi yang kutulis enam tahun yang lalu yang kini menemukan rumahnya.

 

Rumah di Sudut Jalan

Di beranda itu

semua tampak sederhana

bangku, meja, dan daun jendela

putih gading dimakan usia

 

Di halaman itu

semua tampak biasa

ayunan, rumput, dan bunga-bunga

basah, hijau, merona-rona

 

Di rumah itu

semua tampak bersahaja

sofa, buku, dan lemari kaca

menguning di bawah pendar cahaya

 

Di jalan itu

keping-keping peristiwa terserak

bercampur debu dan kerikil

menutupi lubang-lubang tergenang

membekukan masa dalam bingkai segitiga

Bandung, 1 Mei 2020

Tuesday, February 06, 2024

Indonesia, Rumahku Sekali Lagi

Sebuah Resensi dari Buku Jentera Langit Tenggara

 

Identitas Buku

·       Judul buku: Jentera Langit Tenggara

·       Pengarang: Hesty Susanti dan Michael Binuko

·       Penerbit: Tel-U Press

·       Tanggal terbit: 26 Januari 2024

·       ISBN: 978-623-6484-58-6

·       Tebal halaman: 85 halaman

·       Ukuran: 13 cm × 19 cm

·       Tautan penerbit: https://telupress.telkomuniversity.ac.id/product/jentera-langit-tenggara/

 

 

Sinopsis

Perjalanan pulang ke tanah air menjadi akhir sekaligus awal dari petualangan Hesty menyusuri relung-relung abstrak kehidupan yang ia terjemahkan dalam puisi dan penelitiannya di bidang instrumentasi medis. Titik akhir dan awal ini ditandai dengan puisi panjang yang dibaginya dalam dua bagian: Bochum, Sungguh Aku Mencintaimu bagian 1 dan 2. Puisi ini ia tulis di hari terakhir ia berada di Eropa setelah menjalani 4 tahun masa studinya di sebuah kota kecil di lembah Sungai Ruhr, Bochum, Jerman. Pagi itu, 1 Agustus 2015, menjelang puncak musim panas, ia menyusuri jalan setapak dan menumpang U-Bahn menuju kampus tercintanya, Ruhr Universität Bochum, lalu melanjutkan perjalanan ke pusat kota untuk sarapan di sebuah toko roti di Stasiun Bochum Hauptbahnhof. Ia mereka ulang jalur yang rutin dilaluinya hampir setiap hari selama 4 tahun ke belakang. Puisi pertama ini ditulisnya dengan bahasa yang lugas, hampir-hampir seperti cerita pendek, merangkum kenangan yang mengharu biru pada pagi yang sendu itu. Puisi-puisi selanjutnya mengalir dalam berupa-rupa pengalaman pada masa-masa adaptasinya kembali ke tanah air sambil menyelesaikan studi doktoralnya yang sempat tertunda. Dalam beberapa kesempatan, Hesty sering bepergian seorang diri ke tempat-tempat asing, namun hal itu belum pernah dilakukannya di tanah air sendiri hingga ia kembali ke Indonesia. Ia ingin mengenal diri dan tanah airnya “sekali lagi”, ia ingin mencintai yang asing dari sebermula. Perjalanannya ke Flores dan Kepulauan Komodo di akhir 2015 serta petualangannya ke Gunung Anak Krakatau di awal 2017 menjadi dua dari sekian perjalanan yang mengubah hidupnya. Dari dua perjalanan ini, lahir beberapa puisi yang ia sebut sebagai Indonesia, Rumahku Sekali Lagi.

 

Resensi Buku

Jentera Langit Tenggara adalah kumpulan puisi yang berisi hiruk pikuk dalam kepala Hesty ketika ia mencoba menggenggam kembali asal-usulnya di tengah rasa rindu akan tanah perantauan nun jauh di sana. Puisi-puisi Hesty lalu bercengkerama melalui dialog-dialog abstrak dengan sekumpulan ilustrasi goresan tangan sahabat karibnya, Michael Binuko. Meskipun semua puisi dalam buku ini adalah buah karya Hesty, namun ilustrasi dalam buku ini menempati porsi yang sangat dominan. Maka tak heran, nama Michael Binuko muncul pula sebagai “penulis”, tak seperti buku pada umumnya, ketika ilustrator hanya muncul namanya di halaman identitas buku saja.

 

Penamaan buku ini terinspirasi dari sebuah peristiwa penting dalam kalender astronomi dunia, yakni gerhana matahari total, 9 Maret 2016. Benda-benda angkasa telah lama menjadi sesuatu yang dicintai Hesty. Sering ia menyengaja bepergian ke suatu tempat, hanya untuk menyaksikan matahari terbit atau tenggelam atau kerlip bintang-gemintang di tempat-tempat yang jauh. Salah satu yang paling berkesan adalah matahari terbit yang ia saksikan di Pantai Xghajra, Republik Malta. Dalam buku ini, matahari yang sesaat tertutup bulan pada peristiwa gerhana yang ia potret dari Pantai Tanjung Tinggi itu, “dibungkus” oleh Hesty dalam sebuah miniatur benda asing yang jarang terdengar: Jentera. KBBI menerjemahkannya sebagai barang yang bundar berupa lingkaran, bersumbu, dan dapat berputar. Lalu, ia gabungkan dengan kata Langit dan Tenggara, seperti matahari yang ia saksikan di Desa Waerebo, jantung Nusa Tenggara, Flores. Bukan kebetulan pula, sahabatnya Binuko bercokol di Gedung Seni Rupa yang berada di bagian tenggara kampus Ganesha, almamater mereka.

 

Binuko menjadi orang pertama yang membaca utuh draf 56 puisi ini dan menerjemahkannya dalam ilustrasi-ilustrasi penuh makna. Beberapa dialog antara puisi dan ilustrasi yang dihadirkan dalam buku ini terlihat eksplisit, beberapa lainnya mereka biarkan menjadi implisit. Sebagaimana sastra dan seni, mereka ingin agar karya ini menggugah rasa dalam bentuk apa saja pembaca ingin menerjemahkannya.

 

Kelebihan Buku

Jentera Langit Tenggara mengajak pembaca untuk memaknai kehidupan dengan segala lika-likunya dalam ungkapan puisi dan ilustrasi sarat makna. Karya ini berhasil memotret pengalaman hidup dengan tema-tema sentral yang hampir dialami oleh semua orang, seperti keluarga, sahabat, masa kecil, kampung halaman, mimpi-mimpi, apresiasi pada alam, kritik sosial, renungan/refleksi, serta semangat untuk menjalani setiap peran dari masing-masing kita dalam persinggahan di dunia yang sesungguhnya tak seberapa lama.

 

Kelemahan Buku

Buku ini bukan buku yang “ringan” karena menuntut pembacanya untuk berpikir sedikit mendalam agar bisa menerjemahkan serta mengapresiasinya. Pembaca perlu meluangkan kesempatan untuk menyepi sesaat dalam alam pikiran agar bisa bertualang dalam dialog-dialog abstrak yang disuguhkan.




Tuesday, July 25, 2023

Gerak Gerik Rindu

Lebih dari separuh usiaku kuhabiskan di perantauan, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu waktu ke waktu yang lain. Seharusnya, ruang dan waktu yang berganti-ganti itu yang mendominasi alam pikiranku. Tapi, alam mimpiku tetap itu-itu saja, dibekukan waktu dalam rumah masa kecilku nun jauh di Belitung sana, ditambah satu dua episode masa perantauanku di Bochum dulu. Definisiku tentang rindu kampung halaman jadi dua, dua-duanya diawali huruf B. 

Aku masih menerka-nerka apa yang sebenarnya mengikat batin kita akan suatu tempat? Dari sekian banyak kemungkinan, mungkin di antaranya adalah orang tua. Aku teringat pertama kali aku merantau meninggalkan kampung halaman adalah ketika aku lulus SMP dan pindah ke Bangka. Saat itu, aku berangkat lebih dahulu dan tinggal di rumah salah satu pamanku, adik Ibuku. Ayah dan Ibuku baru menyusul pindah ke Bangka beberapa bulan kemudian. Di bulan-bulan awal itu aku merasa kosong, rindu kampung halaman, rindu Ayah dan Ibuku, rindu kucing kesayanganku. Apalagi aku tahu bahwa nanti kami tidak akan kembali ke rumah yang sama lagi. Sakit maagku kambuh lagi. 

Belakangan ini aku sering dilanda perasaan yang sama meskipun sudah lebih dari dua dekade kutinggalkan kampung halaman, atau kurang dari itu jika Bangka tak masuk dalam hitungan. Persoalannya melingkar-lingkar seperti tak berkesudahan, tak pulang rindu, sehabis pulang bertambah rindu. Pulang pun sudah menjelma menjadi berupa-rupa muka: pulang ke Belitung, pulang ke Bandung, pulang ke Bangka, atau bahkan pulang ke Bochum? 

Hari-hari yang kita lalui seperti mimpi saja. Tahu-tahu sudah lewat seminggu, sebulan, setahun. Tahu-tahu sudah tua, tahu-tahu sudah habis jatah usia. Pekan lalu Ayahku mengunjungiku di Bandung. Tiap salat berjamaah ragaku seperti terlempar ke masa puluhan tahun lalu, ketika aku diajari Ayah salat untuk pertama kalinya. Di ruang tamu rumah kami dulu, aku salat di belakang Ayah, menirukan gerakannya satu per satu meskipun belum hafal setiap bacaannya. Setiap selesai salam, waktu itu aku diam-diam sering menggerutu lantaran bacaan doa Ayahku tak pernah singkat. Lain waktu, di ruang yang sama aku menghafal lagu pertama yang akan aku nyanyikan di depan kelas Taman Kanak-Kanak: "Kupu-Kupu yang Lucu". Padahal masuk sekolahnya masih tahun depannya. Malam itu Ibuku menggoreng kue wijen untuk lebaran. Abang tertawa-tawa saja melihat tingkahku. 

Dulu sebelum aku bisa bersepeda, setiap pagi Ayah mengantarku ke sekolah. Pulangnya kadang dijemput Ayah, kadang dijemput Ibu, tergantung siapa yang sempat. Pulangnya aku sering diajak ke pasar ikan. Di pasar inilah aku diajari Ayah mengenal macam-macam ikan. Ketika itu usiaku belum genap 10 tahun. Sejak bangun hingga tidur kembali rasanya tak ada masa yang tak kulewatkan bersama Ayah, Ibu, dan Abangku. Kalau kata Ibuku, di masa-masa itu, kaki mereka jadi kepala, kepala jadi kaki, saking sibuknya mengurus kami sambil bekerja. 

Lalu, puluhan tahun berlalu, kini Ayah dan Ibuku sudah pensiun. Fisik mereka pun sudah tak sekuat dulu. Peran pelan-pelan mulai bertukar. Melihat setiap gerak-gerik mereka sering aku diliputi kekhawatiran, jangan sampai mereka terlambat makan, jangan sampai mereka lelah, jangan sampai mereka kurang tidur, jangan sampai mereka kedinginan dan kepanasan, jangan sampai mereka sakit, jangan sampai mereka kesepian. 

Pernah aku bertanya pada Ibuku, mengapa dulu lampu kamarku tak pernah beliau padamkan ketika aku tidur. Kata beliau, takut ada serangga malam yang menggigitku. Rupanya meskipun sejak kelas 2 SD aku sudah tidur di kamar sendiri, setiap malam beliau rutin menengok kamarku tanpa sepengetahuanku. Lalu, ketika aku sudah bisa bersepeda dan bersikeras tak mau diantar ke sekolah, di keranjang sepedaku tak pernah tertinggal jas hujan yang selalu beliau selipkan. Ayahku lain lagi, setiap aku, Abang atau Ibuku ulang tahun, ada dua menu wajib yang selalu beliau belikan, es putar Babah Pilai dan rujak tahu Bu Mala. Rasa kedua makanan itu masih lekat dalam ingatanku hingga sekarang, perlambang cinta yang sederhana dari beliau. 

Aku teringat dengan salah satu nama Allah, Al Lathif: Yang Maha Halus. Dari kasih sayang yang Allah bagikan di seluruh alam semesta ini, kasih sayang dalam gerak-gerik halus ungkapan cinta orang tua kepada anaknya adalah satu dari perwujudan nama itu. Puluhan tahun kemudian aku baru menyadarinya. 

Episode kehidupan dunia ini penuh teka-teki dan jalan yang berliku-liku. Ujungnya pasti sama, kematian. Ujung yang sekaligus juga sebagai awal mula kehidupan akhirat yang kekal. Siapa yang lebih dahulu mendapat giliran, tak ada yang tahu, bisa jadi anak, bisa jadi orang tua. Namun, kehilangan yang teramat sangat konon dirasakan orang tua yang kehilangan anak, jauh mengalahkan yang sebaliknya karena orang tua mengurus anak dengan harapan yang jauh terbentang dan menyematkan cita-cita hidup anaknya di masa depan. 

Kehidupan yang sesungguhnya tidak di sini, namun di akhirat yang kekal abadi. Semoga Allah mempertemukan dan mengumpulkan kita kembali bersama orang-orang yang kita cintai di JannahNya kelak. Mengutip Surah Yunus ayat 9, tanggal di mana aku dilahirkan: 
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai." 

Pada titik-titik tertentu, kita hanya dapat berpasrah didera rindu yang seringkali datang tiba-tiba, indah dan tak ada gantinya, namun sekaligus perih tak ada obatnya karena waktu memang tak pernah ada pengulangnya. Hanya di JannahNya yang kekal kelak yang tak akan kita temui lagi segala kesedihan. Yaa Rabbanaa, perkenankanlah kami menjadi penduduknya.

Bandung, Agustus 2022

Tuesday, April 06, 2021

Awan, Hujan, dan Matahari

Lirih angin menghinggapi dahan nan rapuh

renyah tawanya mengibaskan daun-daun

ranting menggapai-gapai yang tak tergapai:

awan


Berarak-arak ke tepian cakrawala

sekawanan burung terbang labuh

meramaikan senja setelah reda:

hujan


Tanah basah menyeruak wangi

dingin memeluk perlahan

mengantarkan yang akan kembali esok:

matahari


Bandung, 14 Februari 2019




Menanggalkan Tanggal-Tanggal

Satu persatu angka tanggal dari baris-baris bulan

kubiarkan berjatuhan, terserak dari almanak

nanti akan ada yang memungutnya

orang-orang yang enggan lupa


Tanggal-tanggal yang kutanggalkan dari ingatan

samar-samar getirnya di pangkal lidah

kali terakhir perlahan kutelan

bersama ludah dan gula-gula


Air mata menggenang

mengantarkan yang lampau

samar-samar manisnya di ujung lidah

seperti senyummu selalu


Aku enggan mengingat

tanggal-tanggal itu


Bandung, 24 Februari 2019




Engkau, Hamba Terkasih dari Dzat Yang Maha Memperhatikan, Menguasai dan Memelihara

Angin selatan berhembus syahdu, mengayun-ayunkan semak dan perdu. Pada jenjang-jenjang anak tangga itu, langkahmu menapak satu persatu seiring kumandang adzan menyeru. Jeda itu, jarum jam tiba-tiba menjelma debar memburu. Aku? Terdiam dibekukan waktu. 


Matahari telah tergelincir ke barat, rentang kedua sebelum berselimut malam. Engkau hilang di keramaian, dalam baris-baris bergelombang, tenggelam. Doa-doa melangit dari bait-bait lirih, ketika kepala ditundukkan dalam-dalam. Aku? Kian terpaku dalam diam.

Lalu, perlahan-lahan, temaram lampu dipadamkan. Waktu bergulir kembali, hingga ruh berpisah dari badan. 

Bandung, 21 Desember 2019




Rumah di Sudut Jalan

Di beranda itu

semua tampak sederhana

bangku, meja, dan daun jendela

putih gading dimakan usia


Di halaman itu

semua tampak biasa

ayunan, rumput, dan bunga-bunga

basah, hijau, merona-rona


Di rumah itu

semua tampak bersahaja

sofa, buku, dan lemari kaca

menguning di bawah pendar cahaya


Di jalan itu

keping-keping peristiwa terserak

bercampur debu dan kerikil

menutupi lubang-lubang tergenang

membekukan masa dalam bingkai segitiga


Bandung, 1 Mei 2020




Koma

Berdiri di antara bayang-bayang yang condong ke barat di waktu pagi, kudengar desir aliran darahku sendiri. Darah yang kubawa serta dari tanah tembuni, yang cabang-cabangnya sunyi mengalir ke laut. Mungkin desirnya mengandung petir dan badai, mungkin pula mengandung teduh selepas hujan. 

Yang aku tahu, mereka senantiasa menggema, dipantul-pantulkan oleh dinding tembus pandang yang kunamai sukma. Dari balik dinding itu, aku melihat engkau berjalan lalu lalang, menyela pergiliran pagi dan petang. Aku sampai hafal, di tikungan mana engkau akan berbalik arah, pada bait adzan ke berapa langkahmu menaiki anak tangga. Engkau menjelma dalam aliran sunyi desir darahku, menjadi teka-teki yang tak ingin aku pecahkan. 

Di dunia ini, banyak hal yang tak perlu ada jawabnya. Tak sedikit pula yang hanya akan menjadi indah jika tetap menjadi tanya, tak menjadi titik, hanya disela koma, dalam lirik doa. 

Bandung, 1 Agustus 2020




Terbiasa

Mungkin kita hanya perlu terbiasa

melupakan yang buruk

dan mengingat yang baik-baik saja


Mungkin kita memang butuh terbiasa

meleburkan amarah

dan mengikhlaskan apa-apa yang telah ditelan masa


Mungkin kita ternyata harus terbiasa

meneruskan hidup yang tak seberapa lama

hingga kelak menghadap SAng Maha


Mungkin aku, mungkin juga engkau

salah satu dari kita

akan mendapat giliran pertama


Bandung, 18 Desember 2020




Wednesday, March 24, 2021

Simon Admiraal and the Romantic History of Mazhab Bandung

After attending two consecutive scientific conferences in Bali and Yogya, my life apparently has to be switched back into its balance position. Fortunately, after coming back to Bandung, this month, Faculty of Fine Art and Design, Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) is celebrating its 70th anniversary. It's special of course and some interesting events are waiting for art lovers. 

Last Friday, I had a chance to attend a talk show about Simon Admiraal, an important figure who initiated the art school (Universiteit Leergang voor Tekenleraren) in Bandung back in 1947, which is now FSRD ITB. Simon was born in Jakarta in 1903 and had an art education in Den Haag. Just 2 years after the opening of the school, he went to his father's homeland, The Netherlands, without ever coming back to his mother's homeland, Indonesia. That's why, people know very little about him as FSRD's founding father. Twenty five years after his death, the story has been eventually revealed and trace its roots. 

This event was held in Galeri Soemardja ITB, as a part of the exhibition about Simon Admiraal, opened two days earlier. That afternoon, Mrs. Marjon Berkenvelder (Simon's granddaughter), her husband and daughter told us about Simon's life, the humanistic side of the maestro. How they describe Simon as a serious and dedicated person. He never spent his days without working on any kind of arts. He always shared his view about art and its all possible forms to his family. Mrs. Marjon is also an artist and Simon was very proud of her. Simon worked in almost every kind of arts. He was a painter, a sculptor, a graphic designer, an interior designer, and also an architect. No wonder, FSRD ITB has grown gracefully with those genres until now. 

Simon had very complicated experience of life. In the end period of Dutch authorization in Indonesia, he had to spend his life in concentration camps in Pekanbaru and Cimahi. He even lost one of his children. But, even in those very tough time, he never lost his spirit. With a hope that one day he would be released from the jail, he designed his dream house in a very detail scale and order. That house was supposed to be built in Bogor. Though, it had never been materialized, I found it very romantic and emotional. 

With one of its visions in history, Galeri Soemardja team really did a really great job. They have researched this material from the scratch and coming with this wonderful history about their school and its roots. Back in 2016, they searched every possibilities to find any valuable information and eventually found a bright spot. They (my friend, Michael Binuko is one of them) even went to The Netherlands to meet Simon's family. This is just a beginning of their upcoming long project. I am really looking forward for other amazing works and stories. Like what your founding father did, a wonderful work never be done without dedication and perseverance.

*I wrote this note on August 2017 as a memento of the 70th anniversary of Faculty of Fine Art and Design, Institut Teknologi Bandung. I am not part of it, but this event has left a fond and special memory for me as an art enthusiast.



Friday, November 13, 2020

Life is a Grand Affair

The year of 2020 has given me many experiences. No matter what, all of them have been crafted deeply in my heart, Alhamdulillah. This year marks the end and the beginning of many things in my life. As long as the soul is still in the body, during that time all endings and beginnings will alternate in recorded rotation.

"I am marching into my own pace in my own path and will always be."

Normal standards that apply to the average person do not always have to be a reference. After all, I have been through my life for more than 3 decades without much heeding to these standards, and it's okay. For me, life is more exciting to be lived like this, run through the adventures in my own definition, not from the definitions set by others. If other people want to join me, that's great, otherwise that's great too. Because at the end of the day, we are all alone and will be responsible for our deeds only, not others'. 

Someone once asked me: "Have you ever want to have a permanent job, a permanent house, or a family of your own?" 

I don't know how to answer these questions properly. All I know, I never intend to dedicate my life just to pursue those "permanent-permanent club". I try to pursue something more essential than that: "How do I hold the responsibility for my life later after the death?" Again, if those "permanent-permanent club" ever pass by my life, it's great, otherwise it's great too. Because, this worldly life is basically not permanent either. Yes, "back to the basic" often works to answer those questions.

I have challenged myself in what I consider big: breaking boundaries. The first: breaking the limit of my intellectuality by challenging myself to complete my Ph.D journey. The second: breaking the limit of my independence by challenging myself to travel alone to foreign places. The first and the second one turn out to be addicting, it's not easy to brake them either. And the third one: breaking through the limit of my courage by challenging myself to be true to my own feelings. The third one sounds cliché, but it was one of the boldest moves in my life and I never regret it. So far, I've only ever loved 2 men besides my father and my brother. (Thank you for passing by my life, by the way). And I told them, if time has the limit and it is the death and/or the Judgment Day, I love them until the end of time, truly. Because after that, I can't help anyone and can't be helped by anyone other than Allah. 

After completing those three challenges during this year, it's already more than enough for myself, and I shall continue on the next journeys to be more useful to others, hopefully inshaa Allah.

People around me often consider me as a "free spirit". And I am always looking forward to meet many more "kindred spirits" during my lifetime. Even though, I don't care much about those terminologies. 

Someone else also once asked me: "Have you ever felt lonely being yourself that's often considered unconventional by others?"

Maybe yes sometimes, but most of the time, no. I feel completely complete. I am not saying that I am always happy. Happiness is just a bonus and I believe it's the state of mind, not the state of others' presences. I don't pursue it because this world is not the place of the true happines. This world is not the resting place, it's the testing place. My life has been also in many ups and downs, but I never have a reason to not love it. Yes, I love my life unconditionally until the day I meet My Rabb inshaa Allah. Hopefully, you too.

PS. I am in the process of writing my third book, I don't know when it will be finished, but I am excited to introduce it to the world someday inshaa Allah. Again, first thing first, need to arrange the priorities.

Bandung, 13 November 2020.

Photo courtesy: Michael Binuko. He once told me, "It's you, an anomaly".

Wednesday, May 11, 2016

Jemari Waktu

Di sela jemari itu,
menetes satu per satu,
ingatan yang terbelit jaring-jaring waktu

Ke mana suara itu?
Bersahut-sahutan ia menggema,
dipantul-pantulkan dinding,
yang mengepung darah,
meletup-letup dalam dadaku

Sesak, nafasku tersengal,
keringat berjatuhan dari langit
bulir-bulir bening di sela jemari itu
tak usah kau seka

Awan-awan rendah,
bernaung di bawah kabut,
bergumul dengan asap
yang kuciptakan sendiri,
dari api dan kerasak kering
dari pohon-pohon ingatan

Ke mana cahaya itu?
Tanganku menggapai-gapai
sayup-sayup sampai

Dingin memelukku,
angin membayang-bayangiku,
di sela jemari itu,
meniupkan napasnya yang wangi

Tidurlah, sayang
pagi akan membasuhmu.

Bandung, 11 Mei 2016




Teduh

Mengalirlah menuju samudera
hingga tak ada lagi kesedihan yang tersisa
Wahai butir-butir air yang membawa serta
segala kesementaraan

Kutitipkan pula,
satu dua perkara,
yang selalu kuhadirkan dalam doa-doa
Bawalah serta

Tunggu aku di sana,
di ujung bukit sebelah tenggara
saat angin bergeming menuju senja,
senja terakhir yang menjinggakan semesta

Ketika itu,
semua pulang,
satu per satu, menuju Sang Maha

Bandung, 29 April 2016

Suara

Aku mendengar gemericik sungai dipeluk sepi.
Aku mendengar amukan ombak
yang menelan parau suara.
Aku mendengar gemerosok kerasak
yang diterbangkan angin.
Aku mendengar halilintar yang merambat
bersama cahaya.
Aku mendengar lirih tangis anak pesisir
Aku mendengar keroncong perut-perut lapar.
Aku mendengar tawa-tawa terbahak
dari sekawanan bajing.

Aroma busuk menyerbak.
Mataku berair,
menahan bau serakah,
menahan kesedihan yang berkarat,
dalam aliran anak-anak sungai.

Bandung 17 Februari 2016

Puisi untuk Ibu

Helai-helai benang yang ia renda menjadi doa.
Derap-derap langkah yang ia hentakkan melawan masa.
Jaring-jaring rencana
yang berkelindan dalam kepalanya.

Letih dan bahagia yang mengambang di sela renyah tawanya.
Bias-bias harap yang berjentera
dalam bola matanya.
Butir-butir peluh yang ia seka dari keningnya.

Dingin malam, setangkup tangan.
Dibelai hembusan angin senja,
di wajahnya, aku melihat bayang-bayang surga.

Bandung, 18 Februari 2016

Berlembar-lembar Perca(ya)

Karena pagi masih teramat malu
untuk bercermin pada gumpal awan
yang melintas-lintas di sela bukit.

Anjing kampung berbulu coklat,
kemilau emas disiram cahaya fajar,
dari retak-retak cermin tak berbingkai

Rerumputan tak beranjak dari mesranya
bersama embun sejak semalam,
padahal hujan sudah lama pulang dijemput angin.

Tahun menuju penghujung doa
yang masih berhias rangkai-rangkai semoga.
Engkau hanya perlu menyimpan
berlembar-lembar perca(ya).

Bandung, 16 Februari 2016