Showing posts with label Belitong. Show all posts
Showing posts with label Belitong. Show all posts

Saturday, July 26, 2025

Sore (dan Aku) yang Tak Ingin Melawan Waktu

Kata orang, usia 40 tahun adalah titik di mana kita seperti terlahir kembali, terlahir untuk kedua kalinya dalam versi yang sudah jadi. Makanya tak jarang kita lihat, seseorang dengan karakter tertentu yang sudah melekat pada dirinya akan sulit diubah jika usianya sudah menginjak 40 tahun ke atas. Tapi, aku termasuk dari sedikit orang yang naif dan masih percaya bahwa seseorang bisa berubah, setidaknya sampai hari ini. Sore kemarin, keyakinanku itu dibenarkan oleh seorang Sore dalam film Sore: Istri dari Masa Depan. Namun, dia membenarkan anggapanku itu dengan sebuah catatan kaki yang  menampar mentah-mentah egoku.

***

Sore itu, aku menatap diam-diam rumah yang sudah berangsur-angsur dikosongkan sejak pekan lalu itu. Semua perabot dan barang sudah dinaikkan ke bak truk untuk diangkut ke rumah Kakekku. Rumah dengan teras bertangga dan dua bilah daun jendela itu adalah rumah dinas PT. KIA yang sebelumnya ditempati oleh Pamanku sekeluarga. Pamanku itu Abang dari Ayahku. Aku masuk ke dalam mobil sedan Datsun coklat dan duduk di jok belakang, disusul Abang sepupuku yang kerepotan memasukkan 4 ekor kucingnya ke dalam mobil, seekor induk dan 3 ekor anaknya yang masih kecil. Di dalam mobil, aku menggendong dua dari kucing manis itu. Pak Salim, mantan bawahan Pamanku menginjak gas, sedan itu pun melaju menyusul truk yang sudah berlalu lebih dulu. Sambil menggendong 2 kucingnya, Abang sepupuku terus menatap ke arah belakang mobil yang membawa kami, diam dan tidak menangis. Pak Salim diam, aku juga diam, padahal saat itu dadaku sesak menahan air mata yang tumpah ruah dalam buluh napasku. Pohon kersen yang biasa aku panjati di halaman rumah itu seperti layu dan menggugurkan daun-daunnya. Daun-daunnya itu terbang terbawa angin bersama kenangan-kenangan yang luruh dimakan waktu.

Namun, rentetan kejadian hampir 30 tahun yang lalu itu tak pernah hilang dari ingatanku hingga hari ini. Sejak hari itu, aku dan Abangku seperti ketambahan satu saudara kandung lagi, bukan Adik, tapi Abang sepupu kami. Ketika itu, Pamanku (Ayahnya) belum lama berpulang, saat usia Abang sepupuku belum genap 15 tahun, hanya berselang 9 bulan setelah Ibunya berpulang lebih dahulu. Dia punya seorang Abang dan seorang Kakak perempuan, keduanya saat itu sedang berkuliah di Bandung. Setelah kehilangan kedua orang tua mereka, Abang sepupuku tinggal di rumah Kakekku yang sudah lama hanya ditempati salah seorang Bibiku, Kakak dan Abangnya kembali ke Bandung untuk menyelesaikan pendidikan mereka.

Sejak saat itu, kami bertiga tumbuh bersama. Abangku paling dekat dengan Abang sepupuku, usia mereka hanya terpaut 1 tahun. Setiap pulang sekolah, aku dan Abangku biasanya singgah ke rumah Kakek untuk membaca komik dan majalah anak-anak miliknya. Koleksi buku dan gamenya banyak sekali, pemberian Ayah dan Ibunya dulu. Sejak kecil, dia senang menggambar dan bermain musik. Hobi Abangku juga tak jauh berbeda. Kalau denganku, persamaan kami adalah soal kucing-kucing yang kami sayangi.

Kejadian-kejadian yang berlangsung cepat itu, sampai hari ini masih meninggalkan bekas mendalam, mengiris dalam benakku. Tapi, aku ingat betul, Abang sepupuku tidak menangis, baik ketika Ibu maupun Ayahnya berpulang. Aku hanya ingat dia menangis ketika dia bertengkar saja. Aku mungkin serupa dengan dirinya, dulu aku biasanya menangis karena marah, bukan karena sedih, tapi seiring waktu, aku juga berubah.

***

Rol film kuputar kembali ke masa sekarang. Abang sepupuku kini telah menjadi seorang Ayah dari seorang anak laki-laki. Keponakanku itu saat ini duduk di kelas 1 SMP. Di masa dewasa, kami tak mengobrol sesering dulu. Meskipun tidak sering bertemu, sesekali aku menanyakan kabarnya ke Ayah dan Ibuku atau Abangku yang sekarang tinggal tak berjauhan dari rumahnya. Entah mengapa, dia juga salah satu sosok yang relatif sering hadir dalam mimpiku, selain mendiang Kakek dan Nenekku, baik dari pihak Ayah maupun Ibuku. Lukisan goresan pensilnya ketika dia kuliah di Jurusan Desain Grafis dulu masih kupajang sampai hari ini, lukisan sebuah rumah berdinding kulit di tepi telaga, di bawah temaram cahaya bulan. Tiap melihat lukisan itu, memori dalam kepalaku terlempar kembali ke kejadian sore itu ketika aku melihat teras berpagar rendah itu untuk terakhir kalinya. Seperti tipikal stereotipe sebagian seniman, Abang sepupuku perokok berat, pekerjaannya yang memang menuntut sisi kreatif sering sekali menyita waktu istirahat malamnya, malam hari dia terjaga, siang hari dia baru tidur. Makannya juga tidak berpantang, dan jarang kami melihat dia berolahraga.

Beberapa pekan yang lalu, aku menerima panggilan video dari Abangku, wajahnya muram seperti hampir menangis. Dia mengabarkan bahwa kemarin Abang sepupuku terkena serangan jantung. Aku terdiam, suaraku tercekat. Kepalaku serasa berputar-putar. Dipan rumah sakit, buah srikaya dan permen mint tiba-tiba muncul dalam ingatanku. Tiga benda yang paling kuingat ketika Pamanku berpulang dulu. Beliau sudah lama memiliki masalah jantung. Dulu waktu aku masih kecil, Ayahku rutin mengantarnya berobat ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita di Jakarta, dr. Sibarani nama dokter spesialis jantung yang merawatnya. Di hari-hari terakhirnya, Pamanku minta dibelikan buah srikaya dan permen mint, dua benda itu teronggok muram di sebelah dipan pembaringan terakhirnya di Rumah Sakit Timah, tak jauh dari sekolahku dulu.

Setelah dirawat hampir seminggu di Rumah Sakit, Abang sepupuku kembali ke rumah, dirawat jalan sambil berangsur-angsur belajar berjalan dan belajar menelan kembali. Proses penyembuhannya memang pasti butuh waktu dan kesabaran. Selama dirawat, Abangku yang berdiskusi langsung dengan dokter yang merawatnya. Kejadian ini cukup membuat kami sekeluarga khawatir, apalagi yang tinggal jauh dari sana, termasuk aku. Lalu, tak sampai seminggu setelah kembali ke rumah, rupanya tak banyak yang berubah dari Abang sepupuku, bukan kondisi kesehatannya, tapi kebiasaan hidupnya yang sudah tercetak paten di usianya yang sudah menginjak awal 40-an ini. Menerima kenyataan itu, perasaanku campur aduk. Ada rasa marah, sedih, takut, dan kecewa yang mewujud dalam perih dan memori-memori traumatis masa kecilku ketika tumbuh besar bersama dirinya. Deru roda mobil Datsun itu tiba-tiba melintas dalam mimpiku, aku terbangun dalam igau, mataku basah, jam masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


***

Kembali ke film Sore: Istri dari Masa Depan. Sebagai lulusan Teknik Fisika, aku tak mau membahas aspek fisika dari film ini, bukan karena tak kompeten, tapi bukan itu pelajaran paling menghujam yang kudapat setelah menonton Sore, sore kemarin. Supaya tidak spoiler, aku tak akan menceritakan detail filmnya. Serupa dengan versi seriesnya, film ini mengangkat fiksi sains yang dikemas dalam penceritaan dan sinematografi yang sangat artistik. Seorang Sore kembali ke masa lalu untuk bertemu dengan Jo, suaminya (yang saat itu belum menjadi suaminya). Misinya hanya satu: ingin membuat hidup Jo menjadi lebih baik. Jo yang seorang fotografer ini, gaya hidupnya awut-awutan, tipikal gaya hidup sebagian seniman: perokok berat, sering begadang, jarang olahraga, ditambah hobi minum alkohol. Karena gaya hidup ini, di masa depan, Jo meninggal lebih dahulu dari istrinya, di usia relatif muda, karena serangan jantung. 

Dalam usahanya, Sore entah sudah berapa ribu siklus mengulang-ulang rangkaian kejadian yang sama untuk mengubah Jo. Sikus-siklus berulang yang melelahkan dan menyakitkan ini pada akhirnya membuat Sore tersadar, yang bisa mengubah Jo bukan dia, tapi diri Jo sendiri. Tugas dia hanya mencintai Jo, setulus-tulusnya. Jo tetaplah Jo, dalam paket lengkap dengan segala sifat dan kebiasaan hidupnya. Di akhir film, Jo kembali ke tanah air, dalam potongan garis waktu yang belum bertemu Sore di masa mendatang, lalu dia seperti mendapat “ilham” untuk memperbaiki gaya hidupnya agar menjadi lebih baik. Meskipun belum mengenal Sore, siklus-siklus percobaan Sore mengubah Jo dalam potongan-potongan garis waktu yang berbeda tadi seperti sudah tertanam di alam bawah sadar Jo. Wujud cinta yang tulus dari seorang Sore pada sosok Jo berhasil mengubah Jo menjadi versi lebih baik dari dirinya di masa lalu. Lalu, Jo mengatakan: “Orang berubah bukan karena rasa takut, tapi karena dicintai.” Potongan kalimat ini seketika menyentak kesadaranku, menampar egoku yang runtuh seketika.

***

Masa penyembuhan Abang sepupuku adalah proses yang melelahkan lahir dan batin, bukan hanya bagi dirinya, tapi juga bagi kami sebagai keluarga. Abangku adalah sedikit dari manusia yang kukenal yang hatinya luas sekali. Aku yakin, dia belum atau tidak akan menonton film Sore. Tapi, pelajaran dari film ini yang tadi menampar kesadaranku, sudah diterapkan oleh Abangku jauh-jauh hari sebelum film ini dibuat, dalam wujud yang terang benderang, tanpa banyak teori ini itu. Abangku adalah orang paling sabar dalam menghadapi masa turbulensi Abang sepupuku dalam hari-hari belakangan ini. Wujud cintanya tenang dan menenangkan, tak hendak melawan. Aku berefleksi kembali, sebenarnya rasa marah dan kecewaku tadi apakah sebenar-benarnya wujud cinta yang tulus untuk Abang sepupuku, atau hanya ego dan keras kepalaku saja yang ingin dia berubah sesuai keinginan dan gambaran ideal dalam versiku? Pada akhirnya, dalam idealisme rasa sayang ini, yang harus berubah itu bukan Abang sepupuku, tapi aku sendiri. Selama ini, apakah pernah aku terpikir, luka yang mana dalam jiwanya yang belum mengering? Cukupkah kasih sayang yang dia terima selepas kepergian Ayah Ibunya?

Hidup yang tak seberapa lama ini punya seribu wajah dan lapisan-lapisan yang tak harus tersingkap semuanya. Tapi, sesekali aku perlu berhenti sejenak dan mengamatinya lebih tenang untuk menyingkap rahasia-rahasia yang dititipkan oleh Sang Pemilik hidup. Usia menjadi sesuatu yang relatif, dan kematian tak mengenal tua dan muda. Tahun lalu, ketika reuni 20 tahun angkatan kami, seorang dosenku memberikan nasihat: menginjak usia 40, hidup itu idealnya bukan lagi tentang diri sendiri, tapi sudah harus memikirkan lebih banyak tentang orang-orang lain dan persiapan untuk kembali ke haribaan Ilahi. 

“Abang-Abangku, aku menyayangi kalian, dan akan terus belajar untuk mencintai setulus-tulusnya, inshaa Allah.”

Bandung, 26 Juli 2025

Tuesday, February 06, 2024

Indonesia, Rumahku Sekali Lagi

Sebuah Resensi dari Buku Jentera Langit Tenggara

 

Identitas Buku

·       Judul buku: Jentera Langit Tenggara

·       Pengarang: Hesty Susanti dan Michael Binuko

·       Penerbit: Tel-U Press

·       Tanggal terbit: 26 Januari 2024

·       ISBN: 978-623-6484-58-6

·       Tebal halaman: 85 halaman

·       Ukuran: 13 cm × 19 cm

·       Tautan penerbit: https://telupress.telkomuniversity.ac.id/product/jentera-langit-tenggara/

 

 

Sinopsis

Perjalanan pulang ke tanah air menjadi akhir sekaligus awal dari petualangan Hesty menyusuri relung-relung abstrak kehidupan yang ia terjemahkan dalam puisi dan penelitiannya di bidang instrumentasi medis. Titik akhir dan awal ini ditandai dengan puisi panjang yang dibaginya dalam dua bagian: Bochum, Sungguh Aku Mencintaimu bagian 1 dan 2. Puisi ini ia tulis di hari terakhir ia berada di Eropa setelah menjalani 4 tahun masa studinya di sebuah kota kecil di lembah Sungai Ruhr, Bochum, Jerman. Pagi itu, 1 Agustus 2015, menjelang puncak musim panas, ia menyusuri jalan setapak dan menumpang U-Bahn menuju kampus tercintanya, Ruhr Universität Bochum, lalu melanjutkan perjalanan ke pusat kota untuk sarapan di sebuah toko roti di Stasiun Bochum Hauptbahnhof. Ia mereka ulang jalur yang rutin dilaluinya hampir setiap hari selama 4 tahun ke belakang. Puisi pertama ini ditulisnya dengan bahasa yang lugas, hampir-hampir seperti cerita pendek, merangkum kenangan yang mengharu biru pada pagi yang sendu itu. Puisi-puisi selanjutnya mengalir dalam berupa-rupa pengalaman pada masa-masa adaptasinya kembali ke tanah air sambil menyelesaikan studi doktoralnya yang sempat tertunda. Dalam beberapa kesempatan, Hesty sering bepergian seorang diri ke tempat-tempat asing, namun hal itu belum pernah dilakukannya di tanah air sendiri hingga ia kembali ke Indonesia. Ia ingin mengenal diri dan tanah airnya “sekali lagi”, ia ingin mencintai yang asing dari sebermula. Perjalanannya ke Flores dan Kepulauan Komodo di akhir 2015 serta petualangannya ke Gunung Anak Krakatau di awal 2017 menjadi dua dari sekian perjalanan yang mengubah hidupnya. Dari dua perjalanan ini, lahir beberapa puisi yang ia sebut sebagai Indonesia, Rumahku Sekali Lagi.

 

Resensi Buku

Jentera Langit Tenggara adalah kumpulan puisi yang berisi hiruk pikuk dalam kepala Hesty ketika ia mencoba menggenggam kembali asal-usulnya di tengah rasa rindu akan tanah perantauan nun jauh di sana. Puisi-puisi Hesty lalu bercengkerama melalui dialog-dialog abstrak dengan sekumpulan ilustrasi goresan tangan sahabat karibnya, Michael Binuko. Meskipun semua puisi dalam buku ini adalah buah karya Hesty, namun ilustrasi dalam buku ini menempati porsi yang sangat dominan. Maka tak heran, nama Michael Binuko muncul pula sebagai “penulis”, tak seperti buku pada umumnya, ketika ilustrator hanya muncul namanya di halaman identitas buku saja.

 

Penamaan buku ini terinspirasi dari sebuah peristiwa penting dalam kalender astronomi dunia, yakni gerhana matahari total, 9 Maret 2016. Benda-benda angkasa telah lama menjadi sesuatu yang dicintai Hesty. Sering ia menyengaja bepergian ke suatu tempat, hanya untuk menyaksikan matahari terbit atau tenggelam atau kerlip bintang-gemintang di tempat-tempat yang jauh. Salah satu yang paling berkesan adalah matahari terbit yang ia saksikan di Pantai Xghajra, Republik Malta. Dalam buku ini, matahari yang sesaat tertutup bulan pada peristiwa gerhana yang ia potret dari Pantai Tanjung Tinggi itu, “dibungkus” oleh Hesty dalam sebuah miniatur benda asing yang jarang terdengar: Jentera. KBBI menerjemahkannya sebagai barang yang bundar berupa lingkaran, bersumbu, dan dapat berputar. Lalu, ia gabungkan dengan kata Langit dan Tenggara, seperti matahari yang ia saksikan di Desa Waerebo, jantung Nusa Tenggara, Flores. Bukan kebetulan pula, sahabatnya Binuko bercokol di Gedung Seni Rupa yang berada di bagian tenggara kampus Ganesha, almamater mereka.

 

Binuko menjadi orang pertama yang membaca utuh draf 56 puisi ini dan menerjemahkannya dalam ilustrasi-ilustrasi penuh makna. Beberapa dialog antara puisi dan ilustrasi yang dihadirkan dalam buku ini terlihat eksplisit, beberapa lainnya mereka biarkan menjadi implisit. Sebagaimana sastra dan seni, mereka ingin agar karya ini menggugah rasa dalam bentuk apa saja pembaca ingin menerjemahkannya.

 

Kelebihan Buku

Jentera Langit Tenggara mengajak pembaca untuk memaknai kehidupan dengan segala lika-likunya dalam ungkapan puisi dan ilustrasi sarat makna. Karya ini berhasil memotret pengalaman hidup dengan tema-tema sentral yang hampir dialami oleh semua orang, seperti keluarga, sahabat, masa kecil, kampung halaman, mimpi-mimpi, apresiasi pada alam, kritik sosial, renungan/refleksi, serta semangat untuk menjalani setiap peran dari masing-masing kita dalam persinggahan di dunia yang sesungguhnya tak seberapa lama.

 

Kelemahan Buku

Buku ini bukan buku yang “ringan” karena menuntut pembacanya untuk berpikir sedikit mendalam agar bisa menerjemahkan serta mengapresiasinya. Pembaca perlu meluangkan kesempatan untuk menyepi sesaat dalam alam pikiran agar bisa bertualang dalam dialog-dialog abstrak yang disuguhkan.




Tuesday, July 25, 2023

Gerak Gerik Rindu

Lebih dari separuh usiaku kuhabiskan di perantauan, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu waktu ke waktu yang lain. Seharusnya, ruang dan waktu yang berganti-ganti itu yang mendominasi alam pikiranku. Tapi, alam mimpiku tetap itu-itu saja, dibekukan waktu dalam rumah masa kecilku nun jauh di Belitung sana, ditambah satu dua episode masa perantauanku di Bochum dulu. Definisiku tentang rindu kampung halaman jadi dua, dua-duanya diawali huruf B. 

Aku masih menerka-nerka apa yang sebenarnya mengikat batin kita akan suatu tempat? Dari sekian banyak kemungkinan, mungkin di antaranya adalah orang tua. Aku teringat pertama kali aku merantau meninggalkan kampung halaman adalah ketika aku lulus SMP dan pindah ke Bangka. Saat itu, aku berangkat lebih dahulu dan tinggal di rumah salah satu pamanku, adik Ibuku. Ayah dan Ibuku baru menyusul pindah ke Bangka beberapa bulan kemudian. Di bulan-bulan awal itu aku merasa kosong, rindu kampung halaman, rindu Ayah dan Ibuku, rindu kucing kesayanganku. Apalagi aku tahu bahwa nanti kami tidak akan kembali ke rumah yang sama lagi. Sakit maagku kambuh lagi. 

Belakangan ini aku sering dilanda perasaan yang sama meskipun sudah lebih dari dua dekade kutinggalkan kampung halaman, atau kurang dari itu jika Bangka tak masuk dalam hitungan. Persoalannya melingkar-lingkar seperti tak berkesudahan, tak pulang rindu, sehabis pulang bertambah rindu. Pulang pun sudah menjelma menjadi berupa-rupa muka: pulang ke Belitung, pulang ke Bandung, pulang ke Bangka, atau bahkan pulang ke Bochum? 

Hari-hari yang kita lalui seperti mimpi saja. Tahu-tahu sudah lewat seminggu, sebulan, setahun. Tahu-tahu sudah tua, tahu-tahu sudah habis jatah usia. Pekan lalu Ayahku mengunjungiku di Bandung. Tiap salat berjamaah ragaku seperti terlempar ke masa puluhan tahun lalu, ketika aku diajari Ayah salat untuk pertama kalinya. Di ruang tamu rumah kami dulu, aku salat di belakang Ayah, menirukan gerakannya satu per satu meskipun belum hafal setiap bacaannya. Setiap selesai salam, waktu itu aku diam-diam sering menggerutu lantaran bacaan doa Ayahku tak pernah singkat. Lain waktu, di ruang yang sama aku menghafal lagu pertama yang akan aku nyanyikan di depan kelas Taman Kanak-Kanak: "Kupu-Kupu yang Lucu". Padahal masuk sekolahnya masih tahun depannya. Malam itu Ibuku menggoreng kue wijen untuk lebaran. Abang tertawa-tawa saja melihat tingkahku. 

Dulu sebelum aku bisa bersepeda, setiap pagi Ayah mengantarku ke sekolah. Pulangnya kadang dijemput Ayah, kadang dijemput Ibu, tergantung siapa yang sempat. Pulangnya aku sering diajak ke pasar ikan. Di pasar inilah aku diajari Ayah mengenal macam-macam ikan. Ketika itu usiaku belum genap 10 tahun. Sejak bangun hingga tidur kembali rasanya tak ada masa yang tak kulewatkan bersama Ayah, Ibu, dan Abangku. Kalau kata Ibuku, di masa-masa itu, kaki mereka jadi kepala, kepala jadi kaki, saking sibuknya mengurus kami sambil bekerja. 

Lalu, puluhan tahun berlalu, kini Ayah dan Ibuku sudah pensiun. Fisik mereka pun sudah tak sekuat dulu. Peran pelan-pelan mulai bertukar. Melihat setiap gerak-gerik mereka sering aku diliputi kekhawatiran, jangan sampai mereka terlambat makan, jangan sampai mereka lelah, jangan sampai mereka kurang tidur, jangan sampai mereka kedinginan dan kepanasan, jangan sampai mereka sakit, jangan sampai mereka kesepian. 

Pernah aku bertanya pada Ibuku, mengapa dulu lampu kamarku tak pernah beliau padamkan ketika aku tidur. Kata beliau, takut ada serangga malam yang menggigitku. Rupanya meskipun sejak kelas 2 SD aku sudah tidur di kamar sendiri, setiap malam beliau rutin menengok kamarku tanpa sepengetahuanku. Lalu, ketika aku sudah bisa bersepeda dan bersikeras tak mau diantar ke sekolah, di keranjang sepedaku tak pernah tertinggal jas hujan yang selalu beliau selipkan. Ayahku lain lagi, setiap aku, Abang atau Ibuku ulang tahun, ada dua menu wajib yang selalu beliau belikan, es putar Babah Pilai dan rujak tahu Bu Mala. Rasa kedua makanan itu masih lekat dalam ingatanku hingga sekarang, perlambang cinta yang sederhana dari beliau. 

Aku teringat dengan salah satu nama Allah, Al Lathif: Yang Maha Halus. Dari kasih sayang yang Allah bagikan di seluruh alam semesta ini, kasih sayang dalam gerak-gerik halus ungkapan cinta orang tua kepada anaknya adalah satu dari perwujudan nama itu. Puluhan tahun kemudian aku baru menyadarinya. 

Episode kehidupan dunia ini penuh teka-teki dan jalan yang berliku-liku. Ujungnya pasti sama, kematian. Ujung yang sekaligus juga sebagai awal mula kehidupan akhirat yang kekal. Siapa yang lebih dahulu mendapat giliran, tak ada yang tahu, bisa jadi anak, bisa jadi orang tua. Namun, kehilangan yang teramat sangat konon dirasakan orang tua yang kehilangan anak, jauh mengalahkan yang sebaliknya karena orang tua mengurus anak dengan harapan yang jauh terbentang dan menyematkan cita-cita hidup anaknya di masa depan. 

Kehidupan yang sesungguhnya tidak di sini, namun di akhirat yang kekal abadi. Semoga Allah mempertemukan dan mengumpulkan kita kembali bersama orang-orang yang kita cintai di JannahNya kelak. Mengutip Surah Yunus ayat 9, tanggal di mana aku dilahirkan: 
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai." 

Pada titik-titik tertentu, kita hanya dapat berpasrah didera rindu yang seringkali datang tiba-tiba, indah dan tak ada gantinya, namun sekaligus perih tak ada obatnya karena waktu memang tak pernah ada pengulangnya. Hanya di JannahNya yang kekal kelak yang tak akan kita temui lagi segala kesedihan. Yaa Rabbanaa, perkenankanlah kami menjadi penduduknya.

Bandung, Agustus 2022

Sunday, June 20, 2021

Kakek dan Nenek Buyutku Tercinta

Ada dua orang dalam lingkar keluargaku yang kelak sangat ingin aku temui, mereka adalah kakek dan nenek Ibuku atau orang tua dari nenekku dari pihak Ibu. Di Belitung, kami biasa menyebut mereka dengan panggilan Datok (Datuk) Laki dan Datok Bini. Dalam Bahasa Indonesia, biasa kita kenal dengan Kakek dan Nenek Buyut.

Kakek Buyutku sudah meninggal sebelum aku lahir, kalau Nenek Buyutku meninggal waktu aku masih balita. Praktis aku hanya mengenal dua sosok ini dari cerita orang tuaku atau orang-orang di sekitarku yang dulu mengenal mereka semasa hidup. 

Kakek Buyutku dulu berprofesi sebagai guru, orang-orang biasa memanggil beliau Haji Ibrahim/Guru Ibrahim. Sedangkan Nenek Buyutku seorang ibu rumah tangga dengan segudang keterampilan, orang-orang biasa memanggil beliau Nek Haji Mai (Maisarah). 

Kek Ibrahim dan Nek Maisarah ini harum sekali namanya di kalangan keluarga, kaum kerabat, dan handai taulan. Mereka dikenal sebagai pasangan yang cerdas, berpikiran progresif, toleran, dan dermawan. 

Mereka berdua lahir di kampung, jauh dari Kota Tanjungpandan, dan bukan dari lingkar keluarga bangsawan seperti keluarga dari pihak Ayahku. Dengan latar belakang seperti itu, keduanya fasih berbicara dan menulis dalam Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Arab, hal yang sangat langka pada zamannya, apalagi di kalangan rakyat biasa. 

Mereka berdua juga terampil berdagang dan berwirausaha, sekaligus fakih dalam ilmu agama. Pada saat yang sama, mereka berdua juga dikenal sebagai orang-orang berpikiran terbuka, pergaulannya luas tak mengenal sekat. Rumah mereka dulu terbuka untuk semua kalangan dan usia, bebas bagi siapa saja yang ingin belajar, meminta pertolongan, atau sekadar bersilaturahmi. 

Belitung sudah lama menjadi pusaran peradaban dengan percampuran berbagai suku bangsa. Kek Ibrahim dan Nek Mai dulu punya banyak saudara angkat dari berbagai kalangan, tak sedikit pula yang sempat bersyahadat memeluk Agama Islam atas wasilah mereka. 

Anak rantau dari kampung yang ingin bersekolah di Tanjungpandan boleh tinggal di rumah mereka. Perantau dari Madura, Bawean, dan Sulawesi yang cukup banyak jumlahnya di Belitung pun sama, banyak sekali yang jadi saudara angkat mereka. Mereka naungi orang-orang rantau ini dalam masa-masa adaptasi mereka ketika pertama kali sampai di Belitung. 

Orang-orang Tionghoa yang sampai saat ini cukup banyak jumlahnya di Belitung pun sama saja, banyak yang menjadi saudara angkat Kek Ibrahim dan Nek Mai. Aku ingat cerita Ibuku beberapa tahun yang lalu. Ketika itu, sehari sebelum Hari Raya, Ibuku singgah di sebuah toko kelontong tak jauh dari rumah kami untuk membeli kelapa. Nyonya Tionghoa pemilik toko memperhatikan Ibuku seperti penasaran, begitu pun Ibuku. Akhirnya Ibuku bertanya, "Nya, dulu Nyonya pernah tinggal di Jalan Gang Perai, bukan ya?" Sang Nyonya Tionghoa langsung menjawab, "Betul, kamu siapa ya? Dari tadi saya juga penasaran, seperti tak asing wajahnya, tapi saya lupa." Ibuku hanya menjawab singkat saja, "Saya cucu Kek Haji Ibrahim, Nya." Lalu berderet-deretlah cerita Sang Nyonya tentang masa kecilnya di kampung itu. 

Singkat cerita, dulu, Kakek dan Nenek Sang Nyonya Tionghoa ini pernah bertetangga dengan Kakek dan Nenek Buyutku. Lalu, di akhir tahun 50-an dan awal tahun 60-an, Pemerintah Orde Lama memberikan pilihan kepada perantau-perantau Tionghoa di Indonesia yang sebelumnya memiliki kewarganegaraan ganda RRT-Indonesia untuk memilih salah satunya. Kakek dan nenek Sang Nyonya ini akhirnya memilih untuk mempertahankan kewarganegaraan RRT mereka dan pulang ke RRT. Mereka pun bersiap-siap, rumah dan kebun yang mereka usahakan akhirnya mereka jual ke Kek Ibrahim. Lalu, entah apa yang terjadi, keluarga ini batal pulang ke RRT. Rumah dan tanah sudah dijual, praktis mereka tak punya tempat bernaung lagi. 

Kek Ibrahim lalu mengizinkan keluarga Tionghoa ini untuk menempati kembali rumah dan kebun yang sudah mereka jual kepada beliau tanpa membatalkan transaksi jual beli yang sudah terjadi. Singkatnya, mereka boleh tinggal  kembali di sana dan mengusahakan kembali kebunnya sampai kapan pun tanpa perlu membayar sepeser pun ke Kek Ibrahim. 

Kembali ke Sang Nyonya. Ketika itu, sang Nyonya masih remaja, ia ingat dengan jelas semua peristiwa yang tadi diceritakannya kepada Ibuku. Di akhir cerita ia menutup dengan mata berkaca-kaca, "Sampai kapan pun saya tidak akan lupa dengan Kek Ibrahim dan Nek Mai, karena keduanyalah yang telah menolong Kakek dan Nenek saya. Mereka tak pernah pindah dari rumah dan kebun itu sampai akhir hayat mereka."

Lalu aku membayangkan, kalau pada era sekarang Kek Ibrahim dan Nek Mai masih hidup pasti mereka sedih melihat bibit-bibit perpecahan dengan saudara-saudara kita dari kalangan Tionghoa yang sering sekali diembus-embuskan oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab. 

Kekagumanku tak habis-habis kepada kedua sosok ini, apalagi Nek Maisarah. Nek Maisarah adalah potret perempuan cerdas, berdaya, dan berpikiran maju. Nek Mai dulu sangat fasih melantunkan syair dan hikayat Melayu yang menceritakan kisah-kisah Nabi dan Rasul, dan tokoh-tokoh besar bangsa Melayu. Kata Ibuku, lantunannya itu tak sembarangan, ada nada dan iramanya, skripnya ditulis dalam Bahasa Melayu dengan huruf Arab gundul. Cucu-cucu beliau biasa menyimak kisah-kisah itu selepas Magrib, berkumpul dalam lingkar nan hangat di ruang tengah rumah beliau. 

Nek Mai juga penyayang binatang, yang paling kuingat dulu waktu aku masih balita, di rumah beliau selalu ada kucing. Beliau juga beternak ayam dan entog. Waktu masih muda, Nek Mai terampil menunggang kuda. Soal kuda ini yang aku paling kagum. Pertama, kuda adalah binatang langka di Belitung, sampai sekarang pun tak banyak jumlahnya. Kedua, Nek Mai ini seorang perempuan, anak kampung pula, dan lahir jauh sebelum Indonesia merdeka. Perempuan pada zamannya, jangankan menunggang kuda ke sana ke mari,  bisa diizinkan ke luar rumah berjalan kaki pun sesuatu yang belum selumrah sekarang.

Lain waktu, Ibuku menuturkan kisah kedua suami istri ini ketika mereka menunaikan ibadah haji. Kapalnya berlayar berbulan-bulan membawa penumpang beserta seluruh kebutuhan mereka selama perjalanan, termasuk ternak. Sejak itu aku paham, mengapa dulu penjajah Belanda sangat berhati-hati dengan orang-orang yang sudah menunaikan ibadah haji. Orang-orang ini menempuh perjalanan panjang lagi sulit, mereka yang bisa kembali ke tanah air adalah orang-orang terpilih yang telah tertempa. Orang-orang akan dengan mudah mendengarkan kata-kata mereka, mereka punya tempat di hati masyarakat. Sekali Belanda berulah, mereka bisa dengan mudah mengerahkan kekuatan ribuan orang untuk melawan. 

Kek Ibrahim dan Nek Mai dikaruniai 4 orang anak, yang tertua Kek Long Siddiq, kedua Nek Anjang Zaina, ketiga Nek Ute Badi'ah (nenekku), dan yang terakhir Nek Busu Farida. Keempat-empatnya juga sudah tiada. Mereka berempat dulu disekolahkan sampai tingkat Sekolah Menengah Agama oleh orang tuanya. Lalu, Kek Siddiq melanjutkan pendidikannya sampai ke Arab Saudi dan sempat tinggal beberapa tahun di sana, Nek Zaina dan Nenekku sempat berprofesi sebagai pendidik seperti ayahnya, lalu Nek Busu Farida, si Bungsu, sempat disekolahkan ayahnya sampai ke Palembang. Kek Ibrahim dan Nek Mai memilih pindah dari Kota Kecamatan di Kampit Belitung Timur ke Tanjungpandan, agar anak-anaknya bisa sekolah, hal yang sangat langka dilakukan orang-orang pada zamannya. Keduanya sudah menyadari pentingnya pendidikan, di saat orang-orang kebanyakan tak ambil peduli. Kalau soal ini, sampai sekarang pun di kampung-kampung di Belitung, hal ini masih menjadi PR besar untuk pemerintah dan masyarakat. 

Masih banyak kisah-kisah harum Kek Ibrahim dan Nek Mai yang sering kudengar, bahkan dari orang-orang di luar lingkar keluarga kami. Sampai sekarang aku masih sangat penasaran, bagaimana mereka bisa tumbuh menjadi orang-orang seperti itu pada zamannya, bagaimana pula dengan orang tua mereka. 

Hari ini aku teringat dan ingin sekali bercerita tentang Kek Ibrahim dan Nek Mai lantaran tadi pagi aku bercerita kepada Ayahku tentang kain kafan untukku sendiri yang sudah kusiapkan. Kata Ayahku, Nek Mai dulu selangkah lebih siap secara teknis dari persiapanku. Beliau bahkan sudah menyiapkan nisan yang bertuliskan namanya sendiri jauh sebelum hari kematiannya tiba. 

Seorang sahabat pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling cerdas?" Rasulullah SAW menjawab, "Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas." 

Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang dimaksud oleh Rasulullah SAW dalam hadits ini. 

Aku terdiam mendengarkan kisah dari Ayahku tadi. Dua sosok ini, Kek Ibrahim dan Nek Mai adalah pendahuluku, yang melalui jalan mereka aku hadir di dunia ini. Mereka tak sekolah sampai ke pelosok dunia untuk menghayati setiap butir ilmu yang mereka terima dari guru-guru dan orang tua mereka. Mereka adalah bukti nyata dari penghayatan ilmu yang bermanfaat dalam wujud yang sebenar-benarnya, ilmu yang tak hanya menempel dalam ingatan, tapi diwujudkan dalam praktik kehidupan untuk kebermanfaatan hidup yang seluas-luasnya. 

Kisah hidup mereka ini kutulis bukan dengan maksud berbangga-bangga akan nasab dan keturunan, namun untuk memetik sebanyak-banyaknya hikmah dan teladan dari mereka yang telah tiada, utamanya pula untuk diriku sendiri. Kalau rindu bisa didefinisikan dengan kata-kata, kisah ini adalah surat rinduku untuk mereka, Kakek dan Nenek Buyutku tercinta. Semoga Allah merahmati mereka. 

Bandung, 20 Juni 2021

Tuesday, April 06, 2021

Ibu

Bersyukurlah bagi siapa saja yang masih memiliki orang tua, terutama Ibu. Hubunganku dengan Ibu tak pernah sederhana seperti kebanyakan anak perempuan satu-satunya. Kami membutuhkan waktu puluhan tahun untuk saling mengenal dan saling memahami. 


Sejak dulu, beliau bukan orang yang kuajak bicara kalau aku menghadapi hal-hal besar dalam hidup. Mungkin terakhir kali Ibu menjadi pusat hidupku adalah ketika aku masih balita. Saat itu, kalau aku sakit yang kucari pasti Ibu, kalau aku menangis, yang kupanggil juga Ibu. 

Tahun berganti, aku bertumbuh, Ibu pun menua. Ketika aku beranjak remaja hingga masuk fase dewasa aku jarang sekali bercerita kepada Ibu. Percakapan kami hanya sebatas cerita ringan, tak pernah mendalam. Kami pun pernah memasuki fase-fase hubungan paling hambar. Aku merasa kehilangan Ibu, mungkin Ibu pun merasa kehilangan aku. 

Kadang kawan-kawanku bertanya, apa yang sebenarnya aku cari di perantauan dan petualangan-petualanganku yang seperti tak berkesudahan? Ternyata dengan bepergian jauh, aku jadi lebih mengenal Ibu, semakin jauh raga kami terpisah, semakin tumbuh rasa sayangku yang dulu hampir hilang. Perlahan-lahan Allah mendekatkan hati kami lagi. Hari ini, aku menelpon Ibu hampir 3 jam. Belum pernah aku bercerita selama dan seterbuka itu dengan Ibu. Percakapan tadi seakan membayar lunas lebih dari 20 tahun masa hidupku yang kulewatkan "tanpa" Ibu. I let her know almost about everything in my life. 

Tahukah engkau, kawan? Kalau ada hati manusia yang lebih luas dari samudera, maka hati Ibulah jawabannya. Kalau ada rasa sayang yang tak bertepi, maka kasih sayang Ibulah yang senantiasa menaungi. Tadi, aku seperti kembali ke rumah lama yang sudah bertahun-tahun tak kukunjungi. Kutanyakan pada Ibu. "Mak, pernahkah Mamak merasa marah dan kecewa kepadaku?"  "Nak, bahkan tanpa engkau meminta maaf pun, Mamak akan selalu memaafkanmu. Mamak ini orang yang telah dititipkan Allah untuk melahirkanmu." Tanpa diminta pun, Ibu selalu mendoakanku, bahkan sebelum aku terlahir dari rahimnya. 

Ya Rahman, ya Rahiim... Jika kasih sayang Ibu melimpah ruah tak putus-putus sepanjang usia seperti itu, maka aku tak bisa membayangkan bagaimana kasih sayang-Mu. 



Friday, March 26, 2021

Surat kepada Ayah

Matahari telah condong ke ufuk barat ketika aku tiba di ujung dermaga. Tahun telah memasuki penggalan ketiga, bulan-bulan di mana angin barat telah mengintai diam-diam dari ujung samudra. Aku pun tak tahu di mana ujung samudra itu, yang kutahu seperti janji yang selalu mereka tepati, gelombang pasang dan gemuruh angin akan mengepung lautan selama berbulan-bulan ke depan, memaksa perahu-perahu tertambat di dermaga ditinggalkan tuannya. 

Aku membayangkan Ibu duduk seorang diri menghabiskan sisa hari-harinya yang senantiasa bergemuruh dipenuhi mimpi tak berkesudahan, mimpi-mimpi yang ia rajut sejak mata kecilnya melampaui ujung cakrawala Tanjong Pendam. Hati kecilnya teramat yakin, ada dunia luas di luar sana yang akan ia jelajahi melampaui segala kemungkinan, Ayah tentu tahu.

Ayah, nelayan-nelayan Marsaxlokk berperahu biru itu berlayar jauh hingga ke laut Belitong senja ini. Perahu mereka menjingga memantulkan matahari megah yang teramat setia kepada Pulau Kalimoa. Nelayan-nelayan Mediterania itu tak berbicara dalam Melayu maupun Indonesia. Tapi, Ibu pernah berkata, “Cinta melampaui segala bahasa yang pernah diciptakan manusia di atas dunia ini, Ram.” Perahu-perahu itu berlayar berbulan-bulan hanya demi mengantarkan cinta Ayah untuk Ibu, dua anak manusia yang paling aku cintai di dunia ini. Mereka berlabuh dalam diam, diayun-ayunkan ombak hingga semesta melarut dalam jingga yang paripurna.

Apa yang akan kuceritakan kepada Ayah ini adalah sebuah perjalanan yang meresap perlahan dari ujung-ujung jari kakiku ketika menyusuri pasir lembut sepanjang Pantai Tanjong Tinggi, pantai yang dahulu hanya kubayangkan dari cerita-cerita Ibu sejak aku terkantuk-kantuk dalam buaiannya. Perempuan yang bahkan baru benar-benar aku kenal tak lebih dalam hari-hari belakangan ini. Hampir separuh dunia harus kutempuh untuk mengumpulkan serpihan-serpihan perjalanan hidupnya, itu pun dengan gerutu, hingga ke tanah asing yang bahkan tak kukenal. Tapi, entah bagaimana kini aku merasa pulang. Aku tak tahu, sejak kapan tanah ini melumat habis kesombonganku hingga hancur berkeping-keping. Aku menyerah tanpa perlawanan dan untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan kebahagiaan tak terperi justru dalam kekalahan yang kuinginkan jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam. 

Pernah pula pada suatu sore di akhir musim dingin beberapa tahun yang lalu, Ibu berkata kepadaku: “Ram, hidup ini tak lebih dari hanya menumpang.” “Menumpang bagaimana, Bu?” “Ya, menumpang”, lanjut Ibu. “Menumpang pada seonggok tanah, menumpang pada aliran udara yang kita hirup setiap detik, menumpang pada urat-urat sungai yang mengalir di permukaan dan perut bumi, menumpang pada waktu yang menguraikan ingatan masa lalu dan mimpi-mimpi masa depan.” Pada sore yang cerah itu, tumpukan salju berkilauan disiram semburat matahari yang menembus ujung-ujung ranting Magnolia yang mulai menguncup, menunggu cuaca menghangat beberapa pekan lagi ketika kelopak-kelopak merah mudanya memenuhi hati Ibu. Aku diam mengamati teduh wajah perempuan yang melahirkanku ini. Pandangannya bergeming melintasi pagar yang membatasi halaman belakang, menerobos jalan dan hutan kecil yang masih meranggas, melintasi sungai Rhein hingga akhirnya diterbangkan angin dari tepi padang, membawanya jauh ke awang-awang. Sesaat kemudian, matanya tajam menatapku, “Ram, Ibu akan pulang!”

Ratusan purnama telah berlalu sejak sore itu, dan kini aku berada di sini, duduk seorang diri di ujung dermaga. Aku berbicara kepada sekawanan camar yang terbang labuh, berharap mereka akan menyampaikan ini kepada Ibu. “Iya Bu, engkau benar. Hidup ini tak lebih dari hanya menumpang.” Bagian mana dari kerak bumi ini yang kusebut sebagai tanah air? Bagian mana dari lempeng benua ini yang kupanggil sebagai kampung halaman? Pertanyaan tak berkesudahan yang sudah sejak lama menghantuiku itu baru saja kutemukan jawabannya, di sini, dekat sekali dari urat leherku, dibisikkan Ibu di telingaku bertahun-tahun yang lalu.

Dalam diriku mengalir darah dari sungai-sungai purba yang membelah pesisir Belitong, menembus rawa bakau dan nipah, menyusuri teluk yang memisahkan Birzebbuga dari Marsaxlokk, dihanyutkan arus Mediterania jauh menuju utara, dan akhirnya bermuara di lembah Rhein yang melegenda. Dalam napasku mengalun gemuruh angin yang membentangkan layar perahu nelayan Burong Mandi, menyapu debu yang menyelimuti kuil prasejarah Hagar Qim, dan menerbangkan helai-helai maple yang berbaris rapi di tepian Ruhr setiap musim gugur. Namun, kenangan masa kecil yang aku simpan tak lebih dari penggalan ketiga dari darah dan angin yang menyisiri lembah-lembah Eropa. 

Ayah, aku tak pernah bisa meminta untuk dilahirkan di tanah mana dan terlahir oleh siapa. Tapi, ingin sekali aku kabarkan kepadamu melalui lembaran-lembaran surat ini, bahwa darah dan tulang yang telah menopang hidupku berikut nama yang tersemat dalam dadaku adalah hadiah terindah yang pernah Ayah dan Ibu titipkan kepadaku. Ayah, surat ini akan kutitipkan kepada juntai-juntai gandum yang akan menguning pada musim panas nanti di tepian Kemnadersee. Sempatkanlah dirimu untuk memetik helai demi helainya perlahan-lahan untuk kau baca sepanjang sore. Barangkali jika angin sudah lebih bersahabat, aku akan menyusulmu nanti. Kita bertemu di bawah jembatan batu tak jauh dari dermaga besar Valetta. Nanti, Ibu akan kubawa serta.

Anakmu selalu,

Ram


Catatan:

Potongan cerita pendek ini kutulis di Bandung pada akhir April 2019. Proses kreatif dibalik tulisan ini dilatarbelakangi oleh kenangan tentang kampung halamanku: Belitong, salah satu tanah perantauanku: Bochum, Jerman, dan persinggahanku yang paling berkesan selama merantau di Eropa: Malta. 


Wednesday, March 24, 2021

Matematika - Nostalgia, Cita-Cita, dan Keindahan Bahasa

Sejak aku bisa mengingat, aku sangat tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan angka dan ide tentang mengurutkan benda-benda. Waktu kecil, aku sering membangun miniatur rumah-rumahan dari susunan ranting-ranting perdu yang kupotong dalam ukuran seragam. Lain waktu, kucingku kulatih untuk melompat sampai ketinggian tertentu, atau kuajak dia berlari dalam jumlah putaran yang kuatur sedemikian rupa.

Sejak masuk Sekolah Dasar, mata pelajaran yang paling kusukai tentu saja matematika. Pengalamanku bersama guru matematikaku di Sekolah Dasar mungkin adalah satu dari sekian banyak hal yang mempengaruhi pilihan-pilihan hidupku hingga dewasa. Guruku itu, Ibu Fatimah namanya. Dari kacamata anak-anak, matematika seringkali menjadi momok yang menakutkan. Tapi, Bu Fatimah memperkenalkan matematika kepada kami dengan caranya sendiri, hingga menjelma menjadi sesuatu yang indah, menarik, dan tidak membosankan. Cara pandang ini membuka cakrawala yang lebih luas di kepalaku untuk menerima berbagai kemungkinan tak terbatas dari hanya sekadar angka-angka.

Masuk ke Sekolah Menengah Pertama, aku bertemu dengan guru matematika yang boleh dibilang langka. Kami memanggilnya Pak Nawi. Mengapa kubilang langka? Karena Pak Nawi mampu mengubah matematika menjadi dongeng-dongeng yang membawa pikiran kita ke alam imajinasi yang luas. Kadang bisa ditertawakan, kadang menggelitik rasa penasaran, kadang pula membuat kita mempertanyakan hal-hal yang jarang terpikirkan.

Dua orang guruku ini adalah orang-orang yang seringkali tanpa kusadari telah mempengaruhi banyak hal dalam hidupku. Mereka menembus batas-batas pikiran kecilku yang dulu hanya membayangkan dunia tak lebih dari cakrawala Pantai Tanjong Pendam, tempat aku dan teman-temanku biasa menyaksikan matahari tenggelam. Mereka menantangku, menuding raguku, mencambuk rasa percaya diriku, bahwa aku bisa menjadi apa saja yang aku mau. Mereka mengajarkan matematika sebagai sebuah falsafah, sebuah puisi, sebuah nyanyian merdu yang berkelindan dalam alam bawah sadarku:

"Matematika adalah bahasa. Dia tidak bergantung kepada fenomena-fenomena yang direpresentasikannya. Namun sebaliknya, fenomena-fenomena tersebut yang bergantung kepadanya. Kebergantungan inilah yang menentukan seberapa dalam kita (ingin/dapat) memahami realitas yang tertangkap oleh panca indra atas fenomena-fenomena yang terjadi di alam raya. Sebagaimana bahasa, matematika pun mengandung takaran keindahan yang mampu ditangkap oleh mereka yang (ingin) memahaminya."

Bandung, 24 Maret 2021




Wednesday, February 10, 2021

Pohon Rambutan Yai

Pergantian berupa-rupa kejadian dalam hidup kadang membawa kita kembali ke suatu masa yang rasanya tidak pernah tidak kita rindukan. Kejadian-kejadian itu tak melulu harus yang hebat-hebat. Kejadian-kejadian itu dapat pula meliputi sesuatu yang kecil, halus seperti pergerakan benda-benda yang tidak kita sadari, atau pergantian musim dan cuaca. Pergerakan matahari, aliran air, arah angin, dan bintang gemintang menyanyikan hidup pada bebijian yang berkecambah. Hara diisap oleh akar-akar tumbuhan, menyemi daun-daun, menyemai buah-buahan pada tangkai-tangkainya. 

Aku dilahirkan di tanah khatulistiwa yang disiram matahari sepanjang tahun. Pergantian musim-musim, panas dan hujan, berarti pula pergantian musim buah-buahan. Pertengahan musim hujan di awal tahun menandai salah satu musim buah kesukaanku sejak kanak-kanak, buah rambutan. Mengapa bagiku buah ini begitu istimewa, tak sekadar rasanya saja? Mari kuceritakan, Kawan. 

Dulu, dulu sekali, ketika aku masih kecil, tersebutlah seorang kakek, aku memanggilnya Yai. Beliau adalah tetangga kami, sekaligus keluarga dari pihak ayahku. Sejak aku bisa mengingat, yang kutahu Yai sudah pensiun. Dulu, kudengar beliau mengepalai Kantor Penerangan di kabupaten kami. 

Aku mengenal Yai sebagai seorang kakek yang rajin bercocok tanam. Apa saja yang ditanamnya pasti tumbuh dengan baik, berbunga, berbuah. Tangannya "dingin" kalau kata ibuku.  Hampir setiap hari ada saja tanaman yang dirawatnya. Sesekali aku melihatnya bepergian dengan sepeda phoenix. Rambutnya disisir rapi ke belakang, mengkilap dan wangi minyak rambutnya masih kuingat sampai sekarang. Lalu, rambut yang rapi itu akan ditutupinya dengan peci hitam dan sepeda pun dikayuhnya entah ke mana. Nanti, sepulangnya yang entah dari mana itu, ada saja cerita yang dibawanya. Yai juga kukenal sebagai sosok yang humoris dan ramah. Beliau mempunyai beberapa cucu, tapi yang juga bertetangga dengan kami dan umurnya tak berjauhan denganku hanya 4 orang. Mereka adalah sahabat-sahabat pertamaku dalam hidup. Kami tumbuh dan besar bersama dalam kasih sayang Yai. 

Di depan rumah kami dulu, pada sepetak tanah yang Yai jadikan kebun, tumbuhlah dua pohon rambutan. Sejak aku bisa mengingat, yang kutahu pohon rambutan itu sudah tinggi menjulang, cabang-cabangnya banyak sekali, rimbun pula daunnya. Saking rimbunnya, panas dan terik tak akan terasa bila kita berteduh di bawahnya. Ketika tiba musimnya, buah-buah manis itu akan menggelayut pada cabang-cabangnya, merah merona, menggoda tangan-tangan kecil kami. Tapi, aku tahu, Yai tak senang kalau kami memetik rambutan tanpa seizinnya. Maka, kami akan menunggu dengan sabar sampai tiba hari panen yang dinanti-nantikan. 

Ayahku tahu, aku menyukai buah rambutan. Maka, tak perlu menunggu hari panen itu pun, sejak para pedagang mulai menjual rambutan di pasar-pasar, ayahku pasti akan membelikan buah rambutan untuk dibawa pulang. Tapi, tetap saja, hari panen buah rambutan Yai adalah yang paling istimewa, tak pernah sama, tak ada yang bisa menggantikannya. 

Pada hari raya itu, aku, abangku, dan keempat cucu Yai akan bekerja sepanjang hari memetik buah-buah rambutan dari cabang-cabang rendah yang berada dalam jangkauan kami. Orang-orang dewasa akan memetik dari cabang-cabang yang lebih tinggi dengan memanjat atau dengan galah. Lalu, buah-buah rambutan itu akan dipilah-pilah, dibersihkan dari daunnya, dan diikat dalam kumpulan beberapa tangkai. Kami, anak-anak, akan bertugas membagi-bagikannya ke para tetangga, lalu sisanya dititipkan di kedai-kedai dekat rumah kami. 

Kenangan-kenangan sederhana tentang pohon rambutan Yai, selalu mengingatkanku kepada sahabat dan keluargaku, kepada kampung halamanku, kepada asal di mana aku bermula. Rambutan tak menjadi sekadar buah saja, ia adalah salah satu representasi paling manis dari kenangan masa kecilku, kenangan akan kasih sayang dari orang-orang terkasih. 

Bertahun-tahun kemudian, terlebih ketika aku merantau ke Eropa, di mana mendapatkan rambutan tak lebih mudah dari mencari ikan kala purnama, ketika aku benar-benar mendapatkannya, maka aku akan menyediakan waktu istimewa untuk mengingat Yai. Sekarang pun, meski aku sudah kembali ke tanah air dan mendapatkan buah rambutan tak lagi sesulit dulu, tetap saja awal tahun yang menandai musim rambutan itu selalu menjadi saat-saat yang istimewa. Maka, bagiku buah rambutan adalah buah kasih sayang, tak lebih dan tak kurang. 

Bandung, 10 Februari 2021





Wednesday, May 11, 2016

Jentera Langit

Pagi itu,
setelah didera ribuan rindu,
dua jentera langit saling bercumbu

Tak ada yang lebih indah dari perjumpaan mereka
pada sehelai pagi yang biru itu
Meski tak lama,
namun seisi angkasa seketika menjadi cemburu,
begitu pun aku

Lihatlah gumpal-gumpal awan itu,
berarak mereka menyelimuti langit timur yang sendu.

Tanjong Tinggi, Belitong, 9 Maret 2016

Tanjong Pendam [2]

Langitmu adalah hamparan kanvas
Lautmu adalah benatangan kertas
Bias cahaya senjamu adalah goresan kuas

Tanjong Pendam tak pernah mencintai yang lain,
hanya Engkau saja wahai Kalimoa
Tanjong Pendam tak pernah merindukan yang lain,
hanya Engkau saja wahai Air Saga

Tanjong Pendam adalah sebentuk permata yang merona setiap senja
Tanjong Pendam adalah sebentuk cinta yang teramat setia

Tanjong Pendam, Tanjung Pandan, Belitong, 7 Maret 2016

Cerita Kupu-Kupu

Sayap kupu-kupu tak pernah salah arah.
Dia terbang rendah di sela-sela kelopak bunga,
bercengkerama menghisap sarinya.

Lalu, disiram rinai hujan,
putik pun menyembul berenda-renda.
Sesekali kilau embun
menempel pada pipinya.

Aku hanya mengingat yang manis-manis saja tentang mereka:
cerita sekawanan kupu-kupu,
kelopak bunga,
embun,
dan matahari senja.

Gantong, Belitong, 6 Februari 2016

Wednesday, February 24, 2016

Pendar Cahaya Bulan Memelukku

Ingatanku tiba pada suatu malam yang sangat biasa, aku, ayahku, ibuku, dan abangku, saudara kandungku satu-satunya. Rembulan mengawang rendah, awan tipis seperti berasap-asap melingkupi bola matanya yang sendu. Cahaya pucatnya berpendar dipantulkan pucuk-pucuk pohon kelapa yang melambai-lambai, entah kepada siapa. Aku dipakaikan ibu jaket wol hijau tua, sedikit berbunga, tapi tak berenda. Abang dipakaikan ayah jaket bercorak hitam, coklat muda, dan biru tua, dari bahan wol juga.

Sisa hujan sore tadi masih menggenang di tepian jalan aspal berbatu. Suara jangkrik menguasai sudut-sudut temaram di tepi padang ilalang, menebas sepi-sepi. Sepeda motor ayah, Yamaha PX-80, warna merah, masih kerap lalu lalang dalam mimpiku. Malam tadi, ia menghampiriku.


Seperti yang dikisahkan kunang-kunang kepadaku. Malam itu, kami pulang dari rumah kakek, ayah membonceng abang di bagian depan, ibu duduk di bagian belakang, aku digendong ibu sehingga pandanganku menghadap ke belakang. Pada malam yang dingin itu, hanya aku saja yang menatap teduh wajah rembulan, sesekali ia merayuku, tak ada orang lain tahu. Aku bertanya pada ibu: “Wahai ibu, mengapakah gerangan rembulan mengikutiku dan masih tak hendak pulang? Bukankah malam semakin merambat? Tak takutkah ia dipeluk gelap?” Semakin erat ibu mendekapku. “Tidurlah Nak, sebentar lagi kita sampai”.

Payung langit dipenuhi anak-anak bintang yang berkerlap-kerlip memperhatikan kami. Seperti untaian cinta ayah yang mencium lembut rambut abang, seperti helaian cinta ibu yang menidurkanku dalam pelukannya, malam yang sangat biasa itu sesungguhnya teramat istimewa.

Bandung, 24 Februari 2016

Wednesday, June 10, 2015

Merantau dan Lihatlah Dunia di Luar Sana

Apa yang ada di benak Anda saat mendengar kata "merantau"? Bagi saya pribadi, merantau tak hanya sekedar meninggalkan kampung halaman berbekal nekat, namun pola pikir yang matang harus dibangun jauh-jauh hari, jauh sebelum langkah kaki meninggalkan segala kenyamanan di tanah kelahiran. Segala kemungkinan tak terduga, baik kemungkinan positif maupun negatif akan kita temui di negeri orang. Yang pertama harus dipersiapkan adalah tujuan apa yang ingin kita capai di perantauan nanti. Tak ada salahnya bermimpi, bahkan mimpilah yang masih menjadi bara semangat yang tetap menyala, yang menguatkan saya menjalani hari-hari. Jangan lupa persiapkan mental sekeras baja dan kunci terakhir adalah tawakal.

Motivasi terbesar saya ketika merantau meninggalkan kampung halaman adalah keinginan untuk mengisi masa muda dengan ilmu-ilmu baru, duduk bersama orang-orang yang belum saya kenal sebelumnya, mendengarkan kuliah dari guru-guru terbaik, membaca buku-buku dari perpustakaan-perpustakaan terbaik, serta mengenal orang-orang dari berbagai ras dan kebudayaan yang berbeda-beda. Singkatnya, saya ingin melihat dunia, melebihi sekat-sekat bahasa, usia, ruang dan waktu.

Dalam era globalisasi sekarang ini, dunia seakan tanpa sekat. Orang-orang dengan mudahnya bisa bepergian ke sana ke mari dalam waktu yang relatif singkat. Arus deras informasi menghantam dari segala penjuru. Apa jadinya jika kita tak mempersiapkan bekal dalam diri kita? Tentunya kita akan terombang-ambing seperti tanpa pendirian, menjadi gagap budaya, gagap kepribadian serta gagap-gagap lainnya yang akan susul-menyusul menghantui hidup kita. Bekal pertama bagi seorang anak adalah pendidikan keluarga, satuan komunitas terkecil, tempat segala mimpi bermula. Kepribadian yang kuat, nilai-nilai moral dan agama yang baik, akan menjadi mata uang berharga yang akan berlaku sepanjang usia.

Salah satu benang merah yang mewarnai motivasi orang untuk merantau adalah kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Pendidikan tak pernah mengenal usia, berapa pun usia Anda, jangan pernah berhenti belajar. Bagi generasi muda, kesempatan emas ini jangan disia-siakan. Sebelum kesehatan terenggut dari tubuh kita, sebelum waktu terampas oleh kesibukan-kesibukan lainnya, isilah masa muda untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Generasi muda khususnya, mempunyai kesempatan luas untuk menuntut ilmu di negeri orang. Kesempatan terbuka lebar di depan mata, kembali ke diri sendiri, mau atau tidak kita memanfaatkan kesempatan-kesempatan tersebut. Saya sering menemui anak-anak muda dengan potensi luar biasa, tapi ketidakpercayaan diri mengungkung keberanian mereka untuk melangkah. Rasa rendah diri karena berasal dari daerah atau keluarga yang kurang mampu, rasa minder karena dibesarkan di kampung, dan beban-beban negatif lainnya telah menghalangi sekian banyak bibit-bibit unggul di masa depan untuk menularkan energi-energi positif bagi lingkungan di sekelilingnya.

Sebelum melangkah meninggalkan kampung halaman untuk melanjutkan pendidikan, terutama selepas SMA, kita harus mengetahui lebih dahulu, potensi dan bakat terbesar apa yang ada dalam diri kita masing-masing. Jika sudah yakin, carilah sekolah dan lingkungan terbaik untuk mengembangkan bakat dan potensi tersebut. Tancapkan cita-cita untuk bergabung di lingkungan pendidikan terbaik. Tercapai atau tidak nantinya, itu urusan belakangan. Namun, motivasi awal ini akan menjadi bekal kita untuk mempersiapkan usaha terbaik demi mewujudkannnya.

Saya memperhatikan dengan seksama sistem pendidikan di Jerman, di mana sedari kecil anak-anak Jerman sudah diajak untuk mengenal potensinya masing-masing. Pendidikan dasar diwarnai sebagian besar oleh proses bermain, anak-anak tak terlalu disibukkan dengan beragam PR yang menyita waktu bermain mereka. Melalui proses bermain yang menyenangkan ini, mereka diarahkan untuk mengenal hobi dan bakat masing-masing. Dalam tahap pendidikan selanjutnya, sejak kira-kira tingkat setara SMP, mereka sudah harus memilih sekolah jenis apa yang menentukan nasib mereka nantinya sampai tahap perguruan tinggi. Sistem ini meminimalisasi gagap dan kebingungan-kebingungan yang umumnya dialami anak-anak selepas SMA ketika akan memilih program studi di perguruan tinggi.

Saya tak ingin menyalahkan sistem pendidikan yang berlaku sekarang di Indonesia, di mana sekolah-sekolah pada umumnya belum bisa memfasilitasi terlalu jauh untuk mengenali dan mengembangkan bakat dan potensi diri ini. Lingkungan dan budaya kita tak jarang masih mempunyai pola pikir, bahwa anak pintar itu adalah anak yang meraih nilai-nilai terbaik bidang eksakta, atau "straight A" dalam semua mata pelajaran. Padahal, kecerdasan itu tak hanya kecerdasan matematika dan sains, banyak kecerdasan lain yang tak kalah berharga, seperti kecerdasan dalam bidang seni, olahraga, dan lain-lain. Manusia dikaruniai bakat-bakat yang berbeda-beda untuk menjadi yang terbaik sesuai potensinya masing-masing jika dimaksimalkan. Dengan sistem dan budaya sekeliling yang belum terlalu mengakomodasi tujuan ini, tugas kitalah untuk memaksimalkan pencarian diri masing-masing. Maksimalkan potensi yang ada sejak belia, warnai dengan kepercayaan diri dan bercita-citalah setinggi-tingginya.

Selain ketidakpercayaan diri, hal lain yang sering menghinggapi generasi muda yang baru merantau ke luar daerah adalah sifat "ikut-ikutan" atau dalam bahasa Belitung dikenal istilah "seuru'-uru'an". "Seuru'an-uru'an" ini adalah sifat yang sangat berbahaya, apalagi seringkali menyerang pada fase-fase kritis yang sangat menentukan. Anak-anak muda yang dihinggapi sifat ini hatinya dipenuhi oleh euforia karena baru saja mencapai tahap paling keren dalam hidupnya: lulus SMA dan diizinkan oleh orang tua untuk pertama kalinya merantau meninggalkan tanah kelahiran. Akibatnya, mereka lupa tujuan awal untuk apa mereka merantau. Padahal kompetisi yang luar biasa sudah menunggu di depan mata. Untuk mendapatkan sekolah dan lingkungan pendidikan terbaik, tentunya kita harus bersaing dengan ribuan siswa dari seluruh tanah air. Persaingan sengit sesungguhnya dimulai pada tahap ini, bukan hanya sebelum menghadapi UN.

Kepercayaan diri, motivasi dan tujuan yang kuat serta moral dan kepribadian yang tangguh adalah bekal terbaik yang harus kita persiapkan untuk meraih cita-cita. Apapun yang akan kita hadapi di luar sana, kita tak akan kehilangan pijakan paling dasar: motivasi untuk bermanfaat bagi orang banyak dalam bidang apapun yang akan kita geluti nantinya. Merantau akan melatih mental kita sekeras baja, karena berupa-rupa pengalaman yang akan kita temui tak akan selalu manis. Keberhasilan dan kegagalan hanyalah bagian yang sangat relatif, proses yang kita jalani adalah pelajaran sesungguhnya yang tak akan pernah kita peroleh jika kita hanya berdiam diri di zona nyaman dan tanah kelahiran sendiri. Merantau pada akhirnya akan mengantarkan kita pada perjalanan-perjalanan tak terduga, bukan hanya untuk mengenal dunia, tapi lebih dari itu, dalam perjalanan panjang tersebut kita akan diajak untuk mengenal siapa diri kita sesungguhnya. Betapa kerdilnya kita di hadapan Sang Pencipta dan alam raya yang tak akan ada habis-habisnya untuk kita jelajahi sampai akhir usia.




Mengutip sebuah syair yang sangat terkenal dari Imam Syafi'i, cukuplah rindu pada tanah kelahiran yang menguatkan para perantau menjelajahi setiap jengkal tanah-tanah impian.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak 'kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak 'kan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak 'kan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa sebelum ditambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

Merantaulah
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkanlah negerimu dan menjadi asinglah di negeri orang

Bochum, tepian Sungai Ruhr, 9 Juni 2015