Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

Saturday, July 26, 2025

Sore (dan Aku) yang Tak Ingin Melawan Waktu

Kata orang, usia 40 tahun adalah titik di mana kita seperti terlahir kembali, terlahir untuk kedua kalinya dalam versi yang sudah jadi. Makanya tak jarang kita lihat, seseorang dengan karakter tertentu yang sudah melekat pada dirinya akan sulit diubah jika usianya sudah menginjak 40 tahun ke atas. Tapi, aku termasuk dari sedikit orang yang naif dan masih percaya bahwa seseorang bisa berubah, setidaknya sampai hari ini. Sore kemarin, keyakinanku itu dibenarkan oleh seorang Sore dalam film Sore: Istri dari Masa Depan. Namun, dia membenarkan anggapanku itu dengan sebuah catatan kaki yang  menampar mentah-mentah egoku.

***

Sore itu, aku menatap diam-diam rumah yang sudah berangsur-angsur dikosongkan sejak pekan lalu itu. Semua perabot dan barang sudah dinaikkan ke bak truk untuk diangkut ke rumah Kakekku. Rumah dengan teras bertangga dan dua bilah daun jendela itu adalah rumah dinas PT. KIA yang sebelumnya ditempati oleh Pamanku sekeluarga. Pamanku itu Abang dari Ayahku. Aku masuk ke dalam mobil sedan Datsun coklat dan duduk di jok belakang, disusul Abang sepupuku yang kerepotan memasukkan 4 ekor kucingnya ke dalam mobil, seekor induk dan 3 ekor anaknya yang masih kecil. Di dalam mobil, aku menggendong dua dari kucing manis itu. Pak Salim, mantan bawahan Pamanku menginjak gas, sedan itu pun melaju menyusul truk yang sudah berlalu lebih dulu. Sambil menggendong 2 kucingnya, Abang sepupuku terus menatap ke arah belakang mobil yang membawa kami, diam dan tidak menangis. Pak Salim diam, aku juga diam, padahal saat itu dadaku sesak menahan air mata yang tumpah ruah dalam buluh napasku. Pohon kersen yang biasa aku panjati di halaman rumah itu seperti layu dan menggugurkan daun-daunnya. Daun-daunnya itu terbang terbawa angin bersama kenangan-kenangan yang luruh dimakan waktu.

Namun, rentetan kejadian hampir 30 tahun yang lalu itu tak pernah hilang dari ingatanku hingga hari ini. Sejak hari itu, aku dan Abangku seperti ketambahan satu saudara kandung lagi, bukan Adik, tapi Abang sepupu kami. Ketika itu, Pamanku (Ayahnya) belum lama berpulang, saat usia Abang sepupuku belum genap 15 tahun, hanya berselang 9 bulan setelah Ibunya berpulang lebih dahulu. Dia punya seorang Abang dan seorang Kakak perempuan, keduanya saat itu sedang berkuliah di Bandung. Setelah kehilangan kedua orang tua mereka, Abang sepupuku tinggal di rumah Kakekku yang sudah lama hanya ditempati salah seorang Bibiku, Kakak dan Abangnya kembali ke Bandung untuk menyelesaikan pendidikan mereka.

Sejak saat itu, kami bertiga tumbuh bersama. Abangku paling dekat dengan Abang sepupuku, usia mereka hanya terpaut 1 tahun. Setiap pulang sekolah, aku dan Abangku biasanya singgah ke rumah Kakek untuk membaca komik dan majalah anak-anak miliknya. Koleksi buku dan gamenya banyak sekali, pemberian Ayah dan Ibunya dulu. Sejak kecil, dia senang menggambar dan bermain musik. Hobi Abangku juga tak jauh berbeda. Kalau denganku, persamaan kami adalah soal kucing-kucing yang kami sayangi.

Kejadian-kejadian yang berlangsung cepat itu, sampai hari ini masih meninggalkan bekas mendalam, mengiris dalam benakku. Tapi, aku ingat betul, Abang sepupuku tidak menangis, baik ketika Ibu maupun Ayahnya berpulang. Aku hanya ingat dia menangis ketika dia bertengkar saja. Aku mungkin serupa dengan dirinya, dulu aku biasanya menangis karena marah, bukan karena sedih, tapi seiring waktu, aku juga berubah.

***

Rol film kuputar kembali ke masa sekarang. Abang sepupuku kini telah menjadi seorang Ayah dari seorang anak laki-laki. Keponakanku itu saat ini duduk di kelas 1 SMP. Di masa dewasa, kami tak mengobrol sesering dulu. Meskipun tidak sering bertemu, sesekali aku menanyakan kabarnya ke Ayah dan Ibuku atau Abangku yang sekarang tinggal tak berjauhan dari rumahnya. Entah mengapa, dia juga salah satu sosok yang relatif sering hadir dalam mimpiku, selain mendiang Kakek dan Nenekku, baik dari pihak Ayah maupun Ibuku. Lukisan goresan pensilnya ketika dia kuliah di Jurusan Desain Grafis dulu masih kupajang sampai hari ini, lukisan sebuah rumah berdinding kulit di tepi telaga, di bawah temaram cahaya bulan. Tiap melihat lukisan itu, memori dalam kepalaku terlempar kembali ke kejadian sore itu ketika aku melihat teras berpagar rendah itu untuk terakhir kalinya. Seperti tipikal stereotipe sebagian seniman, Abang sepupuku perokok berat, pekerjaannya yang memang menuntut sisi kreatif sering sekali menyita waktu istirahat malamnya, malam hari dia terjaga, siang hari dia baru tidur. Makannya juga tidak berpantang, dan jarang kami melihat dia berolahraga.

Beberapa pekan yang lalu, aku menerima panggilan video dari Abangku, wajahnya muram seperti hampir menangis. Dia mengabarkan bahwa kemarin Abang sepupuku terkena serangan jantung. Aku terdiam, suaraku tercekat. Kepalaku serasa berputar-putar. Dipan rumah sakit, buah srikaya dan permen mint tiba-tiba muncul dalam ingatanku. Tiga benda yang paling kuingat ketika Pamanku berpulang dulu. Beliau sudah lama memiliki masalah jantung. Dulu waktu aku masih kecil, Ayahku rutin mengantarnya berobat ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita di Jakarta, dr. Sibarani nama dokter spesialis jantung yang merawatnya. Di hari-hari terakhirnya, Pamanku minta dibelikan buah srikaya dan permen mint, dua benda itu teronggok muram di sebelah dipan pembaringan terakhirnya di Rumah Sakit Timah, tak jauh dari sekolahku dulu.

Setelah dirawat hampir seminggu di Rumah Sakit, Abang sepupuku kembali ke rumah, dirawat jalan sambil berangsur-angsur belajar berjalan dan belajar menelan kembali. Proses penyembuhannya memang pasti butuh waktu dan kesabaran. Selama dirawat, Abangku yang berdiskusi langsung dengan dokter yang merawatnya. Kejadian ini cukup membuat kami sekeluarga khawatir, apalagi yang tinggal jauh dari sana, termasuk aku. Lalu, tak sampai seminggu setelah kembali ke rumah, rupanya tak banyak yang berubah dari Abang sepupuku, bukan kondisi kesehatannya, tapi kebiasaan hidupnya yang sudah tercetak paten di usianya yang sudah menginjak awal 40-an ini. Menerima kenyataan itu, perasaanku campur aduk. Ada rasa marah, sedih, takut, dan kecewa yang mewujud dalam perih dan memori-memori traumatis masa kecilku ketika tumbuh besar bersama dirinya. Deru roda mobil Datsun itu tiba-tiba melintas dalam mimpiku, aku terbangun dalam igau, mataku basah, jam masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


***

Kembali ke film Sore: Istri dari Masa Depan. Sebagai lulusan Teknik Fisika, aku tak mau membahas aspek fisika dari film ini, bukan karena tak kompeten, tapi bukan itu pelajaran paling menghujam yang kudapat setelah menonton Sore, sore kemarin. Supaya tidak spoiler, aku tak akan menceritakan detail filmnya. Serupa dengan versi seriesnya, film ini mengangkat fiksi sains yang dikemas dalam penceritaan dan sinematografi yang sangat artistik. Seorang Sore kembali ke masa lalu untuk bertemu dengan Jo, suaminya (yang saat itu belum menjadi suaminya). Misinya hanya satu: ingin membuat hidup Jo menjadi lebih baik. Jo yang seorang fotografer ini, gaya hidupnya awut-awutan, tipikal gaya hidup sebagian seniman: perokok berat, sering begadang, jarang olahraga, ditambah hobi minum alkohol. Karena gaya hidup ini, di masa depan, Jo meninggal lebih dahulu dari istrinya, di usia relatif muda, karena serangan jantung. 

Dalam usahanya, Sore entah sudah berapa ribu siklus mengulang-ulang rangkaian kejadian yang sama untuk mengubah Jo. Sikus-siklus berulang yang melelahkan dan menyakitkan ini pada akhirnya membuat Sore tersadar, yang bisa mengubah Jo bukan dia, tapi diri Jo sendiri. Tugas dia hanya mencintai Jo, setulus-tulusnya. Jo tetaplah Jo, dalam paket lengkap dengan segala sifat dan kebiasaan hidupnya. Di akhir film, Jo kembali ke tanah air, dalam potongan garis waktu yang belum bertemu Sore di masa mendatang, lalu dia seperti mendapat “ilham” untuk memperbaiki gaya hidupnya agar menjadi lebih baik. Meskipun belum mengenal Sore, siklus-siklus percobaan Sore mengubah Jo dalam potongan-potongan garis waktu yang berbeda tadi seperti sudah tertanam di alam bawah sadar Jo. Wujud cinta yang tulus dari seorang Sore pada sosok Jo berhasil mengubah Jo menjadi versi lebih baik dari dirinya di masa lalu. Lalu, Jo mengatakan: “Orang berubah bukan karena rasa takut, tapi karena dicintai.” Potongan kalimat ini seketika menyentak kesadaranku, menampar egoku yang runtuh seketika.

***

Masa penyembuhan Abang sepupuku adalah proses yang melelahkan lahir dan batin, bukan hanya bagi dirinya, tapi juga bagi kami sebagai keluarga. Abangku adalah sedikit dari manusia yang kukenal yang hatinya luas sekali. Aku yakin, dia belum atau tidak akan menonton film Sore. Tapi, pelajaran dari film ini yang tadi menampar kesadaranku, sudah diterapkan oleh Abangku jauh-jauh hari sebelum film ini dibuat, dalam wujud yang terang benderang, tanpa banyak teori ini itu. Abangku adalah orang paling sabar dalam menghadapi masa turbulensi Abang sepupuku dalam hari-hari belakangan ini. Wujud cintanya tenang dan menenangkan, tak hendak melawan. Aku berefleksi kembali, sebenarnya rasa marah dan kecewaku tadi apakah sebenar-benarnya wujud cinta yang tulus untuk Abang sepupuku, atau hanya ego dan keras kepalaku saja yang ingin dia berubah sesuai keinginan dan gambaran ideal dalam versiku? Pada akhirnya, dalam idealisme rasa sayang ini, yang harus berubah itu bukan Abang sepupuku, tapi aku sendiri. Selama ini, apakah pernah aku terpikir, luka yang mana dalam jiwanya yang belum mengering? Cukupkah kasih sayang yang dia terima selepas kepergian Ayah Ibunya?

Hidup yang tak seberapa lama ini punya seribu wajah dan lapisan-lapisan yang tak harus tersingkap semuanya. Tapi, sesekali aku perlu berhenti sejenak dan mengamatinya lebih tenang untuk menyingkap rahasia-rahasia yang dititipkan oleh Sang Pemilik hidup. Usia menjadi sesuatu yang relatif, dan kematian tak mengenal tua dan muda. Tahun lalu, ketika reuni 20 tahun angkatan kami, seorang dosenku memberikan nasihat: menginjak usia 40, hidup itu idealnya bukan lagi tentang diri sendiri, tapi sudah harus memikirkan lebih banyak tentang orang-orang lain dan persiapan untuk kembali ke haribaan Ilahi. 

“Abang-Abangku, aku menyayangi kalian, dan akan terus belajar untuk mencintai setulus-tulusnya, inshaa Allah.”

Bandung, 26 Juli 2025

Tuesday, July 25, 2023

Gerak Gerik Rindu

Lebih dari separuh usiaku kuhabiskan di perantauan, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu waktu ke waktu yang lain. Seharusnya, ruang dan waktu yang berganti-ganti itu yang mendominasi alam pikiranku. Tapi, alam mimpiku tetap itu-itu saja, dibekukan waktu dalam rumah masa kecilku nun jauh di Belitung sana, ditambah satu dua episode masa perantauanku di Bochum dulu. Definisiku tentang rindu kampung halaman jadi dua, dua-duanya diawali huruf B. 

Aku masih menerka-nerka apa yang sebenarnya mengikat batin kita akan suatu tempat? Dari sekian banyak kemungkinan, mungkin di antaranya adalah orang tua. Aku teringat pertama kali aku merantau meninggalkan kampung halaman adalah ketika aku lulus SMP dan pindah ke Bangka. Saat itu, aku berangkat lebih dahulu dan tinggal di rumah salah satu pamanku, adik Ibuku. Ayah dan Ibuku baru menyusul pindah ke Bangka beberapa bulan kemudian. Di bulan-bulan awal itu aku merasa kosong, rindu kampung halaman, rindu Ayah dan Ibuku, rindu kucing kesayanganku. Apalagi aku tahu bahwa nanti kami tidak akan kembali ke rumah yang sama lagi. Sakit maagku kambuh lagi. 

Belakangan ini aku sering dilanda perasaan yang sama meskipun sudah lebih dari dua dekade kutinggalkan kampung halaman, atau kurang dari itu jika Bangka tak masuk dalam hitungan. Persoalannya melingkar-lingkar seperti tak berkesudahan, tak pulang rindu, sehabis pulang bertambah rindu. Pulang pun sudah menjelma menjadi berupa-rupa muka: pulang ke Belitung, pulang ke Bandung, pulang ke Bangka, atau bahkan pulang ke Bochum? 

Hari-hari yang kita lalui seperti mimpi saja. Tahu-tahu sudah lewat seminggu, sebulan, setahun. Tahu-tahu sudah tua, tahu-tahu sudah habis jatah usia. Pekan lalu Ayahku mengunjungiku di Bandung. Tiap salat berjamaah ragaku seperti terlempar ke masa puluhan tahun lalu, ketika aku diajari Ayah salat untuk pertama kalinya. Di ruang tamu rumah kami dulu, aku salat di belakang Ayah, menirukan gerakannya satu per satu meskipun belum hafal setiap bacaannya. Setiap selesai salam, waktu itu aku diam-diam sering menggerutu lantaran bacaan doa Ayahku tak pernah singkat. Lain waktu, di ruang yang sama aku menghafal lagu pertama yang akan aku nyanyikan di depan kelas Taman Kanak-Kanak: "Kupu-Kupu yang Lucu". Padahal masuk sekolahnya masih tahun depannya. Malam itu Ibuku menggoreng kue wijen untuk lebaran. Abang tertawa-tawa saja melihat tingkahku. 

Dulu sebelum aku bisa bersepeda, setiap pagi Ayah mengantarku ke sekolah. Pulangnya kadang dijemput Ayah, kadang dijemput Ibu, tergantung siapa yang sempat. Pulangnya aku sering diajak ke pasar ikan. Di pasar inilah aku diajari Ayah mengenal macam-macam ikan. Ketika itu usiaku belum genap 10 tahun. Sejak bangun hingga tidur kembali rasanya tak ada masa yang tak kulewatkan bersama Ayah, Ibu, dan Abangku. Kalau kata Ibuku, di masa-masa itu, kaki mereka jadi kepala, kepala jadi kaki, saking sibuknya mengurus kami sambil bekerja. 

Lalu, puluhan tahun berlalu, kini Ayah dan Ibuku sudah pensiun. Fisik mereka pun sudah tak sekuat dulu. Peran pelan-pelan mulai bertukar. Melihat setiap gerak-gerik mereka sering aku diliputi kekhawatiran, jangan sampai mereka terlambat makan, jangan sampai mereka lelah, jangan sampai mereka kurang tidur, jangan sampai mereka kedinginan dan kepanasan, jangan sampai mereka sakit, jangan sampai mereka kesepian. 

Pernah aku bertanya pada Ibuku, mengapa dulu lampu kamarku tak pernah beliau padamkan ketika aku tidur. Kata beliau, takut ada serangga malam yang menggigitku. Rupanya meskipun sejak kelas 2 SD aku sudah tidur di kamar sendiri, setiap malam beliau rutin menengok kamarku tanpa sepengetahuanku. Lalu, ketika aku sudah bisa bersepeda dan bersikeras tak mau diantar ke sekolah, di keranjang sepedaku tak pernah tertinggal jas hujan yang selalu beliau selipkan. Ayahku lain lagi, setiap aku, Abang atau Ibuku ulang tahun, ada dua menu wajib yang selalu beliau belikan, es putar Babah Pilai dan rujak tahu Bu Mala. Rasa kedua makanan itu masih lekat dalam ingatanku hingga sekarang, perlambang cinta yang sederhana dari beliau. 

Aku teringat dengan salah satu nama Allah, Al Lathif: Yang Maha Halus. Dari kasih sayang yang Allah bagikan di seluruh alam semesta ini, kasih sayang dalam gerak-gerik halus ungkapan cinta orang tua kepada anaknya adalah satu dari perwujudan nama itu. Puluhan tahun kemudian aku baru menyadarinya. 

Episode kehidupan dunia ini penuh teka-teki dan jalan yang berliku-liku. Ujungnya pasti sama, kematian. Ujung yang sekaligus juga sebagai awal mula kehidupan akhirat yang kekal. Siapa yang lebih dahulu mendapat giliran, tak ada yang tahu, bisa jadi anak, bisa jadi orang tua. Namun, kehilangan yang teramat sangat konon dirasakan orang tua yang kehilangan anak, jauh mengalahkan yang sebaliknya karena orang tua mengurus anak dengan harapan yang jauh terbentang dan menyematkan cita-cita hidup anaknya di masa depan. 

Kehidupan yang sesungguhnya tidak di sini, namun di akhirat yang kekal abadi. Semoga Allah mempertemukan dan mengumpulkan kita kembali bersama orang-orang yang kita cintai di JannahNya kelak. Mengutip Surah Yunus ayat 9, tanggal di mana aku dilahirkan: 
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai." 

Pada titik-titik tertentu, kita hanya dapat berpasrah didera rindu yang seringkali datang tiba-tiba, indah dan tak ada gantinya, namun sekaligus perih tak ada obatnya karena waktu memang tak pernah ada pengulangnya. Hanya di JannahNya yang kekal kelak yang tak akan kita temui lagi segala kesedihan. Yaa Rabbanaa, perkenankanlah kami menjadi penduduknya.

Bandung, Agustus 2022

Sunday, June 20, 2021

Kakek dan Nenek Buyutku Tercinta

Ada dua orang dalam lingkar keluargaku yang kelak sangat ingin aku temui, mereka adalah kakek dan nenek Ibuku atau orang tua dari nenekku dari pihak Ibu. Di Belitung, kami biasa menyebut mereka dengan panggilan Datok (Datuk) Laki dan Datok Bini. Dalam Bahasa Indonesia, biasa kita kenal dengan Kakek dan Nenek Buyut.

Kakek Buyutku sudah meninggal sebelum aku lahir, kalau Nenek Buyutku meninggal waktu aku masih balita. Praktis aku hanya mengenal dua sosok ini dari cerita orang tuaku atau orang-orang di sekitarku yang dulu mengenal mereka semasa hidup. 

Kakek Buyutku dulu berprofesi sebagai guru, orang-orang biasa memanggil beliau Haji Ibrahim/Guru Ibrahim. Sedangkan Nenek Buyutku seorang ibu rumah tangga dengan segudang keterampilan, orang-orang biasa memanggil beliau Nek Haji Mai (Maisarah). 

Kek Ibrahim dan Nek Maisarah ini harum sekali namanya di kalangan keluarga, kaum kerabat, dan handai taulan. Mereka dikenal sebagai pasangan yang cerdas, berpikiran progresif, toleran, dan dermawan. 

Mereka berdua lahir di kampung, jauh dari Kota Tanjungpandan, dan bukan dari lingkar keluarga bangsawan seperti keluarga dari pihak Ayahku. Dengan latar belakang seperti itu, keduanya fasih berbicara dan menulis dalam Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Arab, hal yang sangat langka pada zamannya, apalagi di kalangan rakyat biasa. 

Mereka berdua juga terampil berdagang dan berwirausaha, sekaligus fakih dalam ilmu agama. Pada saat yang sama, mereka berdua juga dikenal sebagai orang-orang berpikiran terbuka, pergaulannya luas tak mengenal sekat. Rumah mereka dulu terbuka untuk semua kalangan dan usia, bebas bagi siapa saja yang ingin belajar, meminta pertolongan, atau sekadar bersilaturahmi. 

Belitung sudah lama menjadi pusaran peradaban dengan percampuran berbagai suku bangsa. Kek Ibrahim dan Nek Mai dulu punya banyak saudara angkat dari berbagai kalangan, tak sedikit pula yang sempat bersyahadat memeluk Agama Islam atas wasilah mereka. 

Anak rantau dari kampung yang ingin bersekolah di Tanjungpandan boleh tinggal di rumah mereka. Perantau dari Madura, Bawean, dan Sulawesi yang cukup banyak jumlahnya di Belitung pun sama, banyak sekali yang jadi saudara angkat mereka. Mereka naungi orang-orang rantau ini dalam masa-masa adaptasi mereka ketika pertama kali sampai di Belitung. 

Orang-orang Tionghoa yang sampai saat ini cukup banyak jumlahnya di Belitung pun sama saja, banyak yang menjadi saudara angkat Kek Ibrahim dan Nek Mai. Aku ingat cerita Ibuku beberapa tahun yang lalu. Ketika itu, sehari sebelum Hari Raya, Ibuku singgah di sebuah toko kelontong tak jauh dari rumah kami untuk membeli kelapa. Nyonya Tionghoa pemilik toko memperhatikan Ibuku seperti penasaran, begitu pun Ibuku. Akhirnya Ibuku bertanya, "Nya, dulu Nyonya pernah tinggal di Jalan Gang Perai, bukan ya?" Sang Nyonya Tionghoa langsung menjawab, "Betul, kamu siapa ya? Dari tadi saya juga penasaran, seperti tak asing wajahnya, tapi saya lupa." Ibuku hanya menjawab singkat saja, "Saya cucu Kek Haji Ibrahim, Nya." Lalu berderet-deretlah cerita Sang Nyonya tentang masa kecilnya di kampung itu. 

Singkat cerita, dulu, Kakek dan Nenek Sang Nyonya Tionghoa ini pernah bertetangga dengan Kakek dan Nenek Buyutku. Lalu, di akhir tahun 50-an dan awal tahun 60-an, Pemerintah Orde Lama memberikan pilihan kepada perantau-perantau Tionghoa di Indonesia yang sebelumnya memiliki kewarganegaraan ganda RRT-Indonesia untuk memilih salah satunya. Kakek dan nenek Sang Nyonya ini akhirnya memilih untuk mempertahankan kewarganegaraan RRT mereka dan pulang ke RRT. Mereka pun bersiap-siap, rumah dan kebun yang mereka usahakan akhirnya mereka jual ke Kek Ibrahim. Lalu, entah apa yang terjadi, keluarga ini batal pulang ke RRT. Rumah dan tanah sudah dijual, praktis mereka tak punya tempat bernaung lagi. 

Kek Ibrahim lalu mengizinkan keluarga Tionghoa ini untuk menempati kembali rumah dan kebun yang sudah mereka jual kepada beliau tanpa membatalkan transaksi jual beli yang sudah terjadi. Singkatnya, mereka boleh tinggal  kembali di sana dan mengusahakan kembali kebunnya sampai kapan pun tanpa perlu membayar sepeser pun ke Kek Ibrahim. 

Kembali ke Sang Nyonya. Ketika itu, sang Nyonya masih remaja, ia ingat dengan jelas semua peristiwa yang tadi diceritakannya kepada Ibuku. Di akhir cerita ia menutup dengan mata berkaca-kaca, "Sampai kapan pun saya tidak akan lupa dengan Kek Ibrahim dan Nek Mai, karena keduanyalah yang telah menolong Kakek dan Nenek saya. Mereka tak pernah pindah dari rumah dan kebun itu sampai akhir hayat mereka."

Lalu aku membayangkan, kalau pada era sekarang Kek Ibrahim dan Nek Mai masih hidup pasti mereka sedih melihat bibit-bibit perpecahan dengan saudara-saudara kita dari kalangan Tionghoa yang sering sekali diembus-embuskan oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab. 

Kekagumanku tak habis-habis kepada kedua sosok ini, apalagi Nek Maisarah. Nek Maisarah adalah potret perempuan cerdas, berdaya, dan berpikiran maju. Nek Mai dulu sangat fasih melantunkan syair dan hikayat Melayu yang menceritakan kisah-kisah Nabi dan Rasul, dan tokoh-tokoh besar bangsa Melayu. Kata Ibuku, lantunannya itu tak sembarangan, ada nada dan iramanya, skripnya ditulis dalam Bahasa Melayu dengan huruf Arab gundul. Cucu-cucu beliau biasa menyimak kisah-kisah itu selepas Magrib, berkumpul dalam lingkar nan hangat di ruang tengah rumah beliau. 

Nek Mai juga penyayang binatang, yang paling kuingat dulu waktu aku masih balita, di rumah beliau selalu ada kucing. Beliau juga beternak ayam dan entog. Waktu masih muda, Nek Mai terampil menunggang kuda. Soal kuda ini yang aku paling kagum. Pertama, kuda adalah binatang langka di Belitung, sampai sekarang pun tak banyak jumlahnya. Kedua, Nek Mai ini seorang perempuan, anak kampung pula, dan lahir jauh sebelum Indonesia merdeka. Perempuan pada zamannya, jangankan menunggang kuda ke sana ke mari,  bisa diizinkan ke luar rumah berjalan kaki pun sesuatu yang belum selumrah sekarang.

Lain waktu, Ibuku menuturkan kisah kedua suami istri ini ketika mereka menunaikan ibadah haji. Kapalnya berlayar berbulan-bulan membawa penumpang beserta seluruh kebutuhan mereka selama perjalanan, termasuk ternak. Sejak itu aku paham, mengapa dulu penjajah Belanda sangat berhati-hati dengan orang-orang yang sudah menunaikan ibadah haji. Orang-orang ini menempuh perjalanan panjang lagi sulit, mereka yang bisa kembali ke tanah air adalah orang-orang terpilih yang telah tertempa. Orang-orang akan dengan mudah mendengarkan kata-kata mereka, mereka punya tempat di hati masyarakat. Sekali Belanda berulah, mereka bisa dengan mudah mengerahkan kekuatan ribuan orang untuk melawan. 

Kek Ibrahim dan Nek Mai dikaruniai 4 orang anak, yang tertua Kek Long Siddiq, kedua Nek Anjang Zaina, ketiga Nek Ute Badi'ah (nenekku), dan yang terakhir Nek Busu Farida. Keempat-empatnya juga sudah tiada. Mereka berempat dulu disekolahkan sampai tingkat Sekolah Menengah Agama oleh orang tuanya. Lalu, Kek Siddiq melanjutkan pendidikannya sampai ke Arab Saudi dan sempat tinggal beberapa tahun di sana, Nek Zaina dan Nenekku sempat berprofesi sebagai pendidik seperti ayahnya, lalu Nek Busu Farida, si Bungsu, sempat disekolahkan ayahnya sampai ke Palembang. Kek Ibrahim dan Nek Mai memilih pindah dari Kota Kecamatan di Kampit Belitung Timur ke Tanjungpandan, agar anak-anaknya bisa sekolah, hal yang sangat langka dilakukan orang-orang pada zamannya. Keduanya sudah menyadari pentingnya pendidikan, di saat orang-orang kebanyakan tak ambil peduli. Kalau soal ini, sampai sekarang pun di kampung-kampung di Belitung, hal ini masih menjadi PR besar untuk pemerintah dan masyarakat. 

Masih banyak kisah-kisah harum Kek Ibrahim dan Nek Mai yang sering kudengar, bahkan dari orang-orang di luar lingkar keluarga kami. Sampai sekarang aku masih sangat penasaran, bagaimana mereka bisa tumbuh menjadi orang-orang seperti itu pada zamannya, bagaimana pula dengan orang tua mereka. 

Hari ini aku teringat dan ingin sekali bercerita tentang Kek Ibrahim dan Nek Mai lantaran tadi pagi aku bercerita kepada Ayahku tentang kain kafan untukku sendiri yang sudah kusiapkan. Kata Ayahku, Nek Mai dulu selangkah lebih siap secara teknis dari persiapanku. Beliau bahkan sudah menyiapkan nisan yang bertuliskan namanya sendiri jauh sebelum hari kematiannya tiba. 

Seorang sahabat pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling cerdas?" Rasulullah SAW menjawab, "Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas." 

Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang dimaksud oleh Rasulullah SAW dalam hadits ini. 

Aku terdiam mendengarkan kisah dari Ayahku tadi. Dua sosok ini, Kek Ibrahim dan Nek Mai adalah pendahuluku, yang melalui jalan mereka aku hadir di dunia ini. Mereka tak sekolah sampai ke pelosok dunia untuk menghayati setiap butir ilmu yang mereka terima dari guru-guru dan orang tua mereka. Mereka adalah bukti nyata dari penghayatan ilmu yang bermanfaat dalam wujud yang sebenar-benarnya, ilmu yang tak hanya menempel dalam ingatan, tapi diwujudkan dalam praktik kehidupan untuk kebermanfaatan hidup yang seluas-luasnya. 

Kisah hidup mereka ini kutulis bukan dengan maksud berbangga-bangga akan nasab dan keturunan, namun untuk memetik sebanyak-banyaknya hikmah dan teladan dari mereka yang telah tiada, utamanya pula untuk diriku sendiri. Kalau rindu bisa didefinisikan dengan kata-kata, kisah ini adalah surat rinduku untuk mereka, Kakek dan Nenek Buyutku tercinta. Semoga Allah merahmati mereka. 

Bandung, 20 Juni 2021

Tuesday, April 06, 2021

Ibu

Bersyukurlah bagi siapa saja yang masih memiliki orang tua, terutama Ibu. Hubunganku dengan Ibu tak pernah sederhana seperti kebanyakan anak perempuan satu-satunya. Kami membutuhkan waktu puluhan tahun untuk saling mengenal dan saling memahami. 


Sejak dulu, beliau bukan orang yang kuajak bicara kalau aku menghadapi hal-hal besar dalam hidup. Mungkin terakhir kali Ibu menjadi pusat hidupku adalah ketika aku masih balita. Saat itu, kalau aku sakit yang kucari pasti Ibu, kalau aku menangis, yang kupanggil juga Ibu. 

Tahun berganti, aku bertumbuh, Ibu pun menua. Ketika aku beranjak remaja hingga masuk fase dewasa aku jarang sekali bercerita kepada Ibu. Percakapan kami hanya sebatas cerita ringan, tak pernah mendalam. Kami pun pernah memasuki fase-fase hubungan paling hambar. Aku merasa kehilangan Ibu, mungkin Ibu pun merasa kehilangan aku. 

Kadang kawan-kawanku bertanya, apa yang sebenarnya aku cari di perantauan dan petualangan-petualanganku yang seperti tak berkesudahan? Ternyata dengan bepergian jauh, aku jadi lebih mengenal Ibu, semakin jauh raga kami terpisah, semakin tumbuh rasa sayangku yang dulu hampir hilang. Perlahan-lahan Allah mendekatkan hati kami lagi. Hari ini, aku menelpon Ibu hampir 3 jam. Belum pernah aku bercerita selama dan seterbuka itu dengan Ibu. Percakapan tadi seakan membayar lunas lebih dari 20 tahun masa hidupku yang kulewatkan "tanpa" Ibu. I let her know almost about everything in my life. 

Tahukah engkau, kawan? Kalau ada hati manusia yang lebih luas dari samudera, maka hati Ibulah jawabannya. Kalau ada rasa sayang yang tak bertepi, maka kasih sayang Ibulah yang senantiasa menaungi. Tadi, aku seperti kembali ke rumah lama yang sudah bertahun-tahun tak kukunjungi. Kutanyakan pada Ibu. "Mak, pernahkah Mamak merasa marah dan kecewa kepadaku?"  "Nak, bahkan tanpa engkau meminta maaf pun, Mamak akan selalu memaafkanmu. Mamak ini orang yang telah dititipkan Allah untuk melahirkanmu." Tanpa diminta pun, Ibu selalu mendoakanku, bahkan sebelum aku terlahir dari rahimnya. 

Ya Rahman, ya Rahiim... Jika kasih sayang Ibu melimpah ruah tak putus-putus sepanjang usia seperti itu, maka aku tak bisa membayangkan bagaimana kasih sayang-Mu. 



Wednesday, February 10, 2021

Pohon Rambutan Yai

Pergantian berupa-rupa kejadian dalam hidup kadang membawa kita kembali ke suatu masa yang rasanya tidak pernah tidak kita rindukan. Kejadian-kejadian itu tak melulu harus yang hebat-hebat. Kejadian-kejadian itu dapat pula meliputi sesuatu yang kecil, halus seperti pergerakan benda-benda yang tidak kita sadari, atau pergantian musim dan cuaca. Pergerakan matahari, aliran air, arah angin, dan bintang gemintang menyanyikan hidup pada bebijian yang berkecambah. Hara diisap oleh akar-akar tumbuhan, menyemi daun-daun, menyemai buah-buahan pada tangkai-tangkainya. 

Aku dilahirkan di tanah khatulistiwa yang disiram matahari sepanjang tahun. Pergantian musim-musim, panas dan hujan, berarti pula pergantian musim buah-buahan. Pertengahan musim hujan di awal tahun menandai salah satu musim buah kesukaanku sejak kanak-kanak, buah rambutan. Mengapa bagiku buah ini begitu istimewa, tak sekadar rasanya saja? Mari kuceritakan, Kawan. 

Dulu, dulu sekali, ketika aku masih kecil, tersebutlah seorang kakek, aku memanggilnya Yai. Beliau adalah tetangga kami, sekaligus keluarga dari pihak ayahku. Sejak aku bisa mengingat, yang kutahu Yai sudah pensiun. Dulu, kudengar beliau mengepalai Kantor Penerangan di kabupaten kami. 

Aku mengenal Yai sebagai seorang kakek yang rajin bercocok tanam. Apa saja yang ditanamnya pasti tumbuh dengan baik, berbunga, berbuah. Tangannya "dingin" kalau kata ibuku.  Hampir setiap hari ada saja tanaman yang dirawatnya. Sesekali aku melihatnya bepergian dengan sepeda phoenix. Rambutnya disisir rapi ke belakang, mengkilap dan wangi minyak rambutnya masih kuingat sampai sekarang. Lalu, rambut yang rapi itu akan ditutupinya dengan peci hitam dan sepeda pun dikayuhnya entah ke mana. Nanti, sepulangnya yang entah dari mana itu, ada saja cerita yang dibawanya. Yai juga kukenal sebagai sosok yang humoris dan ramah. Beliau mempunyai beberapa cucu, tapi yang juga bertetangga dengan kami dan umurnya tak berjauhan denganku hanya 4 orang. Mereka adalah sahabat-sahabat pertamaku dalam hidup. Kami tumbuh dan besar bersama dalam kasih sayang Yai. 

Di depan rumah kami dulu, pada sepetak tanah yang Yai jadikan kebun, tumbuhlah dua pohon rambutan. Sejak aku bisa mengingat, yang kutahu pohon rambutan itu sudah tinggi menjulang, cabang-cabangnya banyak sekali, rimbun pula daunnya. Saking rimbunnya, panas dan terik tak akan terasa bila kita berteduh di bawahnya. Ketika tiba musimnya, buah-buah manis itu akan menggelayut pada cabang-cabangnya, merah merona, menggoda tangan-tangan kecil kami. Tapi, aku tahu, Yai tak senang kalau kami memetik rambutan tanpa seizinnya. Maka, kami akan menunggu dengan sabar sampai tiba hari panen yang dinanti-nantikan. 

Ayahku tahu, aku menyukai buah rambutan. Maka, tak perlu menunggu hari panen itu pun, sejak para pedagang mulai menjual rambutan di pasar-pasar, ayahku pasti akan membelikan buah rambutan untuk dibawa pulang. Tapi, tetap saja, hari panen buah rambutan Yai adalah yang paling istimewa, tak pernah sama, tak ada yang bisa menggantikannya. 

Pada hari raya itu, aku, abangku, dan keempat cucu Yai akan bekerja sepanjang hari memetik buah-buah rambutan dari cabang-cabang rendah yang berada dalam jangkauan kami. Orang-orang dewasa akan memetik dari cabang-cabang yang lebih tinggi dengan memanjat atau dengan galah. Lalu, buah-buah rambutan itu akan dipilah-pilah, dibersihkan dari daunnya, dan diikat dalam kumpulan beberapa tangkai. Kami, anak-anak, akan bertugas membagi-bagikannya ke para tetangga, lalu sisanya dititipkan di kedai-kedai dekat rumah kami. 

Kenangan-kenangan sederhana tentang pohon rambutan Yai, selalu mengingatkanku kepada sahabat dan keluargaku, kepada kampung halamanku, kepada asal di mana aku bermula. Rambutan tak menjadi sekadar buah saja, ia adalah salah satu representasi paling manis dari kenangan masa kecilku, kenangan akan kasih sayang dari orang-orang terkasih. 

Bertahun-tahun kemudian, terlebih ketika aku merantau ke Eropa, di mana mendapatkan rambutan tak lebih mudah dari mencari ikan kala purnama, ketika aku benar-benar mendapatkannya, maka aku akan menyediakan waktu istimewa untuk mengingat Yai. Sekarang pun, meski aku sudah kembali ke tanah air dan mendapatkan buah rambutan tak lagi sesulit dulu, tetap saja awal tahun yang menandai musim rambutan itu selalu menjadi saat-saat yang istimewa. Maka, bagiku buah rambutan adalah buah kasih sayang, tak lebih dan tak kurang. 

Bandung, 10 Februari 2021





Wednesday, February 24, 2016

Pendar Cahaya Bulan Memelukku

Ingatanku tiba pada suatu malam yang sangat biasa, aku, ayahku, ibuku, dan abangku, saudara kandungku satu-satunya. Rembulan mengawang rendah, awan tipis seperti berasap-asap melingkupi bola matanya yang sendu. Cahaya pucatnya berpendar dipantulkan pucuk-pucuk pohon kelapa yang melambai-lambai, entah kepada siapa. Aku dipakaikan ibu jaket wol hijau tua, sedikit berbunga, tapi tak berenda. Abang dipakaikan ayah jaket bercorak hitam, coklat muda, dan biru tua, dari bahan wol juga.

Sisa hujan sore tadi masih menggenang di tepian jalan aspal berbatu. Suara jangkrik menguasai sudut-sudut temaram di tepi padang ilalang, menebas sepi-sepi. Sepeda motor ayah, Yamaha PX-80, warna merah, masih kerap lalu lalang dalam mimpiku. Malam tadi, ia menghampiriku.


Seperti yang dikisahkan kunang-kunang kepadaku. Malam itu, kami pulang dari rumah kakek, ayah membonceng abang di bagian depan, ibu duduk di bagian belakang, aku digendong ibu sehingga pandanganku menghadap ke belakang. Pada malam yang dingin itu, hanya aku saja yang menatap teduh wajah rembulan, sesekali ia merayuku, tak ada orang lain tahu. Aku bertanya pada ibu: “Wahai ibu, mengapakah gerangan rembulan mengikutiku dan masih tak hendak pulang? Bukankah malam semakin merambat? Tak takutkah ia dipeluk gelap?” Semakin erat ibu mendekapku. “Tidurlah Nak, sebentar lagi kita sampai”.

Payung langit dipenuhi anak-anak bintang yang berkerlap-kerlip memperhatikan kami. Seperti untaian cinta ayah yang mencium lembut rambut abang, seperti helaian cinta ibu yang menidurkanku dalam pelukannya, malam yang sangat biasa itu sesungguhnya teramat istimewa.

Bandung, 24 Februari 2016

Thursday, November 26, 2015

Menjumpai yang Tak Tergantikan

Sahabat, meminjam kata-kata dari seniman Ugo Untoro, yang pernah dituliskan oleh salah seorang sahabat saya, Tiaswening Maharsi, dalam bukunya "Dunia Simon":

"Tidak hanya berbunga-bunga, hatiku berbuah-buah."

Begitu pun yang saya rasakan ketika buku pertama saya "Harum Hujan Bulan November" ini diterbitkan. Buku ini adalah hadiah kecil saya untuk tiga orang yang paling saya cintai: Mamak, Mamo, dan Abang. Sahabat-sahabat pun dapat membaca kisah mereka yang saya tuliskan dalam buku ini.

Berikut, beberapa bait resensi yang dituliskan sahabat saya yang lain, FX. Widyatmoko (Koskow):

Kumpulan kisah yang disusun secara alur waktu ini - yaitu sejak 3 November 2011 hingga 26 Juni 2014 - berkisah tentang sesuatu yang tak tergantikan. Yang tak tergantikan ini tak lain kisah-kisah yang dialami Hesty: tentang kedua orangtuanya, kakaknya, ibu petugas di kantor pos, guru, teman-teman sekolah, kuliah, dan mereka yang dijumpainya tanpa direncana. Beberapa kisah yang ditulis juga dialamatkan kepada alam, pula syukur kepada Tuhan. Kisah-kisah tersebut ditulis Hesty dari berbagai tempat: Bandung, Zug, Zürich, Nijmegen, Groningen, Utrecht, dan yang paling sering Bochum, Jerman, tempat Hesty melanjutkan studi. Kisah-kisah juga berasal dari orangtuanya, yang mana kisah tersebut membuat Hesty pergi menjumpai yang dikisahkan tersebut (tentang saudara jauh).

Tulisan-tulisan Hesty, meski terkesan sebagai sebuah catatan perjalanan, namun lebih dekat kepada surat. Jika catatan perjalanan lebih mendekati pada laporan, sebaliknya tulisan Hesty dalam buku berjudul "Harum Hujan Bulan November" ini lebih memilih untuk tak sebatas pelaporan, namun memberi alasan untuk apa ia dilaporkan. Di antara kisah-kisah tersebut hadir beberapa puisi, hadir pula foto. Setidaknya terdapat perbedaan antara kisah-kisah yang dituliskan (dalam bentuk esai), puisi, dan foto dalam buku tersebut.

Pada kisah-kisah yang dituliskan dalam bentuk esai, Hesty kerap bertutur tentang orang-orang yang dijumpainya. Pada puisi dan foto, tersampaikan yang sebaliknya, Hesty mengajukan pertanyaan-pertanyaan, terkesan lebih tentang dirinya, mungkin tentang sendirinya (pula foto seekor bebek yang di bagian bawah foto tersebut disertakan pertanyaan "kayuhmu hendak ke mana?"). Mungkin ada alasan tertentu mengapa hal tersebut terkesan demikian. Namun, yang lebih utama yaitu pada kejujuran serta keterbukaan dalam menuliskan kisah-kisah dan bagaimana memberi bingkai untuknya.

Kisah-kisah Hesty pun dapat dipahami sebagai satu kesadaran mengenal yang lain, yang berbeda. Pada kesadaran inilah kisah-kisah yang dituliskan Hesty dapat dipandang menjadi perjuangan kita bersama yaitu saling menghargai sesama, alam, masa lalu, benda-benda, serta harapan hidup ke depan, terutama di zaman yang kian bergegas dan menyisa sepotong-potong cerita yang berlalu lalang, yang membuat kita gagal utuh menangkapnya karena diri kita (di)sibuk(kan) oleh aktivitas mengganti-ganti citra.

Orang-orang dalam kisah-kisah yang dituliskan Hesty pun menjadi seseorang. Bingkai seseorang dan yang tak tergantikan inilah yang bagi saya terasa mengesankan. Dituliskan oleh Hesty, bahwa: "...Kata orang, bepergianlah, maka engkau akan mengenal sahabat seperjalananmu, karena banyak hal yang akan teruji di sana..." (Bochum-Nijmegen dan Mimpi-Mimpi Masa Silam). Kisah-kisah yang dituliskan Hesty, baik melalui bentuk esai, puisi, dan foto, tak lain adalah usaha mengingat dan memberi harapan pada orang-orang, pada waktu, pada ruang, yang dari situ menempatkan kita pun menjadi seseorang bagi yang lain, bagi yang tidak tergantikan itu.

Teruntuk para sahabat yang telah membantu saya hingga buku ini lahir, saya haturkan terima kasih sebesar-besarnya dari hati yang paling dalam. Semoga karya kecil ini menemui perannya, memberikan sepercik manfaat bagi orang-orang di sekelilingnya.

Bandung, 8 Oktober 2015



Sunday, May 17, 2015

Adikku Sayang

Terlahir sebagai bungsu, aku tak pernah merasakan menjadi seorang kakak. Namun, dari sekian sepupu yang aku miliki, aku paling dekat dengan Cici, adik kecilku yang kini sudah beranjak dewasa. Tujuh setengah tahun jarak usia kami. Aku masih ingat ketika dulu, pagi-pagi sekali, Mamak mengajakku menjenguk Acik di klinik bersalin dekat rumah kami. Acik adalah panggilanku untuk Ibunda Cici, adik ibuku. Pagi itu, aku merasa seperti baru saja dibelikan mainan baru atau seperti baru bisa naik sepeda, bahagianya sederhana, namun tak terkira. Sejak kecil aku memang sangat dekat dengan Acik, beliaulah yang membantu Mamak untuk mengasuhku sejak kanak-kanak. Pagi itu, Acik telah menjadi seorang ibu, dari seorang bayi perempuan mungil, adik sepupuku.

Waktu memang tak pernah iba, dia melesat meninggalkan kita, yang kadang masih termangu dalam lorong-lorongnya. Dulu ketika Cici masih kecil, setiap pulang sekolah, aku selalu minta diantar Mamak ke rumah Acik. Liburan sekolah pun biasanya kuhabiskan di rumah Acik untuk bermain bersama Cici.

Sore ini, aku termangu melihat teks-teks yang dikirimkan Cici ke emailku. Ada perasaan haru sekaligus bangga. Cici minta dikoreksikan abstrak Tugas Akhirnya, artinya sebentar lagi dia akan diwisuda. Adik kecilku kini telah menjadi gadis pintar yang sedang meneliti pengembangan reaktor nuklir. Sejak SD prestasinya memang sangat cemerlang. 2011 lalu, tepat sebelum aku merantau ke Jerman, Cici memperoleh beasiswa penuh dari BATAN untuk menempuh program sarjana di Fisika ITB, bidang kekhususan nuklir.

Adikku sebentar lagi akan menjadi sarjana. Mimpi-mimpiku akan selalu kubagi bersamanya. Jangan berhenti sampai di situ saja, merantaulah lebih jauh dan lihatlah dunia. Suatu hari nanti, kita ceritakan kepada nenek dan kakek tentang negeri-negeri jauh dan mimpi-mimpi masa kecil kita, meskipun hanya di hadapan pusara mereka.

Bochum, 17 Mei 2015

Thursday, April 23, 2015

Tentang Bandung, Kampung Halaman Keduaku

Bandung, sebuah kota yang namanya terngiang-ngiang dalam benakku, bahkan jauh sebelum aku menginjakkan kaki di sana. Kalau tak salah ingat, aku mendengar nama Bandung pertama kali dari ayahku. Beliau bercerita tentang sebuah sekolah, sebuah institut, tempat orang-orang belajar sains, seni dan teknologi. Waktu itu mulut kecilku spontan berseloroh, "Baiklah, nanti kalau sudah besar, aku mau sekolah ke Bandung saja, ambil jurusan mesin, biar bisa membuat mesin-mesin canggih!" "Dipakai untuk apa?", tanya ayahku. Aku menggeleng, "Belum tahu, nanti kita lihat saja!"

Sejak saat itu, kalau ditanya mau ke mana kalau sudah besar, aku selalu menjawab, "Aku ingin ke Bandung!" Belasan tahun kemudian, aku pun diantar ayah ke kota kembang ini, mengadu nasib, merantau meninggalkan kampung halaman. Tujuh tahun kuhabiskan masa mudaku di kota ini. Satu-satunya hal yang masih kusesali hingga saat ini adalah kemampuan Basa Sundaku yang tak maju-maju. Hanya dapat logatnya saja, yang bahkan menjadi aksen Bahasa Indonesiaku sampai saat ini. Aku mesti bertemu orang sekampung dulu untuk mengembalikan aksen Melayuku, lebih dari itu, orang yang baru mengenalku akan mengira bahwa aku berasal dari tatar Sunda.

Bandung menjadi kampung halaman ke dua bagiku, setelah Belitung. Bangka luput dari perhatianku, karena masa SMA yang kuhabiskan di sana masih kalah berkesan dibandingkan masa-masa yang kuhabiskan di Kota Paris van Java ini. Ketika aku meninggalkan Indonesia, tak jarang secara tak sadar, aku mengaku sebagai orang Bandung. Spontan saja, alam bawah sadarku yang menginginkannya. Meskipun jika mengobrol lebih jauh, aku tentu saja akan bercerita tentang kampung halamanku, Belitung, tanah Melayu yang melahirkanku.
 
Lama meninggalkan kampung halaman, membuatku merasa cepat betah berada di tempat yang baru. Lalu, setelah beberapa lama, aku pun akan merasa bahwa perantauan adalah juga kampung halamanku. Bochum pun akan bernasib serupa dalam benakku. Dia telah menggerogoti relung-relung terdalam dalam hatiku. Aku belum pergi meninggalkannya, namun pelan-pelan aku mulai didera rindu.

Besok pagi, Bandung akan menyambut tamu-tamu kehormatan dari berbagai negara, khususnya dari kawasan Asia dan Afrika. Wajah Bandung sudah banyak berubah, semakin cantik dan sering membuatku menitikkan air mata, bangga dan haru. Bandung, izinkan aku sekali lagi mendekap sejuk udara pagimu, ketika halimun perlahan-lahan menyeruak dari punggung-punggung gemunung di sekelilingmu. Izinkan aku berlari lagi bersama derumu. Sabarlah, kelak kita akan bertemu, tak lupa kubawakan engkau segenggam rindu.

Bochum, 23 April 2015

Monday, July 21, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 24 Ramadhan, Dhani, Lelaki Kecil Permata Hati Kami

Lebih dari dua tahun yang lalu, lelaki kecil itu lahir ke dunia. Masih belum terbit pagi di sini, kabar bahagia itu serta merta mengenyahkan rasa kantukku. Pada pagi musim semi itu, abang telah menjadi ayah. Bayi mungil itu diberi nama Muhammad Dhani Cakrawijaya, lelaki kecil permata hati kami. Aku belum pernah bertemu Dhani hingga hari ini. Jarak dan waktu memisahkan kami, seperti perahu nelayan yang disembunyikan cakrawala. Meski tak pernah tampak dari ujung dermaga, tetapi senantiasa hadir di sana. Akulah sang perahu itu, sedangkan Dhani adalah lelaki kecil yang berlari-lari di bibir dermaga, masih tak bosan-bosan menunggu senja.

Waktu seperti dipermainkan dalam gulungan-gulungan sekoci benang yang berputar-putar, dikayuh oleh sang penjahit kemudian menjelujur bermeter-meter kain tak bertepi. Tahu-tahu telah habis segulung, berganti lagi dengan gulungan baru. Begitu terus menerus sampai penjahit pun lupa bahwa jarum telah menggerogoti helai-helai usianya, perlahan-lahan.

Dhani, lelaki kecil yang hadir kali pertama di musim semi itu, perlahan-lahan memenuhi lorong-lorong hati kami. Tangisnya dirindukan, sorot mata lugunya tak puas-puas menjadi pemandangan. Setiap hari ada saja cerita yang kudengar dari ayah, bunda, kakek dan neneknya. Dhani mulai pandai berjalan ketika usianya belum genap setahun. Semua barang ingin diraihnya, sejauh jangkauan kaki kecilnya. Seisi rumah pun sibuk dibuatnya. Lain lagi ceritanya ketika Dhani mulai pandai mengucapkan kata-kata sederhana. Semua pembicaraan yang didengar pasti akan ditirunya. Sepanjang hari, rumah abang tak pernah sepi oleh ocehan Dhani. Kicaunya baru akan reda ketika tidur, seperti mainan yang kehabisan baterainya. Dhani tumbuh menjadi anak periang dan senang berkawan. Setiap bertemu kakek dan nenek, dia selalu bercerita tentang apa saja yang baru dialaminya, pengalaman bersama kawan-kawannya atau orang-orang yang baru dikenalnya.

Dhani tak setiap hari bisa bertemu ayahnya, lantaran abang ditugaskan di luar kota. Tiap bertemu ayahnya beberapa pekan sekali, dari kejauhan Dhani sudah memanggil-manggil: “Ayah...Ayah...!“ sambil menghambur ke arah ayahnya. Lalu mulut kecilnya tak berhenti berkicau-kicau, bercerita ini itu, sambil sibuk bermain menunjukkan keahlian-keahlian barunya. Mainan pertama yang disukai Dhani adalah bola dan sepeda roda tiga. Barang-barang di rumahnya pun tak luput menjadi sasaran. Kursi dibolak-balik, lalu ditungganginya seperti kuda. Meja didorong-dorongnya ke sana ke mari tak tentu arah.

Setiap hari selalu saja ada kejutan yang dibuat Dhani. Sudah beberapa pekan ini, dia punya kebiasaan baru, minta diantar ke Taman Kanak-kanak, padahal tak ada orang yang menyuruhnya. Setiap hari, dia sudah bangun pagi-pagi sekali, minta dimandikan dan dipakaikan baju kesayangannya. Lalu minta disiapkan tas sandang kesukaannya. Bang Nugra, begitu Dhani memanggil sahabat kesayangan yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Tahun ini, Nugra yang sudah berusia 5 tahun, masuk TK. Dhani tak mau ketinggalan, dia pun serta merta minta diantar bersama Nugra. Di sekolah barunya itu, Dhani ikut bermain bersama kakak-kakaknya, orang menyanyi, dia pun ikut menyanyi juga. Setiap tiba waktu bermain di luar kelas, Dhani berlari-lari ke sana ke mari, tak kenal takut dan lelah. Dhani tak pernah malu-malu menanyakan ini itu pada gurunya, padahal bicaranya pun masih belum sempurna. Meskipun menjadi murid tak resmi alias anak bawang, kadang Dhani justru lebih bersemangat dibanding kawan-kawannya. Dalam alam pikiran sederhananya, Dhani menemukan kegembiraan tiada tara bisa bermain bersama Nugra dan kawan-kawannya. 

Dhani, pada pundakmu teriring doa dan harapan dari orang-orang yang menyayangimu. Walau kita belum sempat bertemu, selalu ada rindu yang terombang-ambing dipermainkan riak-riak gelombang. Makcik memperhatikanmu dari kejauhan, tangan-tangan kecilmu yang mengumpulkan remah-remah kerang, kaki-kaki kecilmu yang berlari-lari menentang hujan. Jika nanti engkau telah dewasa, jangan hanya bermenung di bibir dermaga. Berlarilah hingga teriakmu tersapu angin musim gugur. Melompatlah hingga nafasmu mengembun dibekukan musim dingin. Tersenyumlah seperti musim semi dan bersemangatlah seperti matahari musim panas. Bila telah tiba waktunya, kayuhlah bidukmu, lintasi samudera, lalu berkelanalah hingga ujung dunia.

Bochum, 21 Juli 2014

Sunday, July 20, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 23 Ramadhan, Resep Akhir Pekan, Ikan Buncis Pedas

Ramadhan akhir pekan kali ini, aku ingin berbagi resep masakan yang kumodifikasi sendiri, ikan buncis pedas. Sebagai anak melayu pesisir, aku dibesarkan bersama laut dan ikan menjadi makanan utama keluarga kami. Resep sederhana kali ini terinspirasi dari cuaca panas beberapa hari ini yang telah mengubah Bochum layaknya kampung halamanku sendiri, pesisir Belitong yang sepanjang tahun tersiram panas matahari khatulistiwa. Berikut bahan-bahan dan cara memasaknya.

Bahan-bahan:
1. Ikan (kali ini aku menggunakan ikan dorade).
2. Buncis
3. Minyak goreng
4. Daun jeruk
5. Tomat kecil (tomat cherry)

Bumbu-bumbu:
1. Cabe merah keriting
2. Bawang merah
3. Bawang putih
4. Terasi
5. Lengkuas (memarkan)
6. Garam
7. Gula

Cara memasak:
  1. Haluskan semua bumbu, kecuali lengkuas. Tumis hingga harum, tambahkan gula, garam dan daun jeruk.
  2. Masukkan ikan dorade yang sudah dipotong-potong, tambahkan sedikit air.
  3. Masukkan potongan buncis (1 batang dipotong menjadi 2 bagian saja) dan tomat.
  4. Tutup wajan hingga ikan dan buncis empuk (kira-kira 15 menit dengan api sedang). Ikan buncis pedas siap dihidangkan dengan nasi putih hangat.
Bochum, 20 Juli 2014

Thursday, July 17, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 20 Ramadhan, Kampung Halaman

Ramadhan hampir memasuki babak ke tiga, babak terakhir menuju hari raya. Ada perasaan sedih bercampur bahagia. Sedih, karena hanya tinggal beberapa hari lagi kita akan berpisah dengannya. Tapi sekaligus bahagia, karena tak lama lagi akan tiba pula hari raya. Dulu, ketika aku masih di Bandung, di minggu-minggu terakhir bulan Ramadhan, aku sudah bersiap-siap untuk pulang ke kampung halaman. Aku biasanya menumpang mobil travel yang berangkat pagi buta, lalu sampai di bandara Soekarno-Hatta ketika kantuk belum reda. Penerbangan dari Jakarta ke Tanjongpandan tak memakan waktu lama, 45 menit saja.

Tanjongpandan, tempat kelahiranku itu, bagiku selamanya tak pernah berubah. Wangi paginya, terik mataharinya, debu jalanannya, riuh pasarnya, selalu menyimpan kenangan yang tak musnah dilindas zaman. Sebenarnya rutinitas mudik bagiku lebih dari sekedar pulang. Bukan hanya menemukan rumah, tapi lebih dari itu, aku ingin menemui aku, diriku sendiri di masa lalu, yang belum hanyut oleh gelombang pasang. Aku yang hanya mengenal batas dermaga sebagai ujung dunia. Aku yang hanya tahu kerontang kemarau dan hujan yang tumpah ruah memenuhi sungai, lalu dihanyutkan mimpi menuju muara.

Perairan Pulau lengkuas, Belitong
Aku ingin menemui berupa-rupa kesederhanaan yang disembunyikan zaman dari hiruk pikuk kebaruan. Meskipun tak bisa terlalu sering pulang, aku bersyukur masih memiliki kampung halaman. Kampung halaman adalah representasi semangat yang mula-mula, yang muncul pada pagi jingga nan teramat muda. Kampung halaman adalah representasi rindu, yang tumbuh di sela-sela ombak yang terhempas mengharu biru. Kampung halaman adalah tempat kembali, bingkai yang menunggu keping-keping mozaiknya tersusun kembali, suatu hari nanti.

Bochum, 17 Juli 2014

Sunday, July 13, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 16 Ramadhan, Resep Akhir Pekan, Ikan dan Telur Masak Acar

Makanan tak jarang mengingatkan orang pada rumah, masa kecil dan kampung halaman. Lalu, hampir setiap orang pula menganggap masakan ibunya sebagai masakan terenak di dunia. Ada ikatan psikologis pada memori rasa, aroma dan kasih sayang yang hanya terkandung dalam masakan ibu. Ikatan psikologis ini akan tetap teringat bahkan hingga kita dewasa. Kalau bagiku, masakan paling enak adalah masakan ibu, juga ayahku. Masakan melayu pesisir yang didominasi oleh bahan-bahan yang berasal dari laut, bumbu-bumbu dengan cita rasa pedas dan sedikit asin. Di rumah kami, makanan laut adalah menu utama, daging-dagingan hanya dimasak oleh ibuku pada kesempatan-kesempatan khusus seperti hari raya. 

Akhir pekan ini, di hari ke 16 Ramadhan, aku memasak masakan Belitong favoritku sejak kecil. Masakan ini adalah masakan berbumbu pertama yang kukenal dan mau kumakan. Dulu, ketika Acik (adik ibuku) mengasuhku, kalau beliau bertanya aku ingin dimasakkan apa, yang kujawab selalu Acar. Cara memasaknya sangat mudah dan memerlukan waktu yang tidak terlalu lama. Berikut bahan-bahan dan cara memasaknya.

Bahan-bahan:
1.     Ikan laut ½ kg (kali ini aku menggunakan ikan Forelle (sejenis Salmon)).
2.     4 butir telur.
3.     Minyak goreng.
4.     Garam secukupnya.
5.     Gula secukupnya.
6.     Daun jeruk.
7.     Air perasan jeruk (lime atau lemon).

Bumbu-bumbu yang dihaluskan:
1.     6 siung bawang merah
2.     2 siung bawang putih.
3.     6 buah cabe merah keriting.
4.     3 buah cabe rawit.
5.     2 cm lengkuas.
6.     3 cm kunyit.
7.     1 batang sereh.
8.     2 biji kemiri.

Cara memasak:
  1. Haluskan bumbu dengan blender atau ulekan.
  2. Rebus telur hingga matang, bersihkan kulitnya, lalu goreng hingga permukaannya mampu menyerap bumbu.
  3. Bersihkan ikan, potong-potong lalu lumuri dengan air perasan jeruk dan garam. Kemudian goreng hingga kekuningan (jangan terlalu matang).
  4. Tumis bumbu-bumbu hingga harum dan matang. Tambahkan daun jeruk, gula, garam dan air perasan jeruk.
  5. Masukkan ikan dan telur ke dalam bumbu sedikit demi sedikit hingga tercampur sempurna. Acar siap dihidangkan dengan nasi putih hangat.

 Bochum, 13 Juli 2014

Tuesday, July 08, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 11 Ramadhan, Memori Hujan

Langit Eropa jarang sekali menurunkan hujan sepanjang hari, bukan seperti di negeri tropis, air tumpah ruah seperti tercurah dari langit setiap musim penghujan. Di sini, rinai-rinai hujan kadang kala berubah wujudnya menjadi butiran-butiran es yang berhamburan dari langit. Bila musim dingin tiba, dia berubah menjadi derai-derai salju yang menari-nari dipermainkan angin seperti kapas yang kehilangan bobotnya. Langit Eropa selalu punya butir-butir penuh kejutan di setiap musimnya.

Hari ini hujan turun tak henti-henti sejak dini hari. Musim panas tahun ini seperti enggan menampakkan diri, malu-malu. Ramadhan telah memasuki babak kedua, seperti mimpi saja 10 hari berlalu. Steffi pamit padaku akhir pekan yang lalu, dia akan liburan bersama keluarganya selama 3 minggu. Aku "dioleh-olehi"-nya 2 lembar tulisan, daftar pekerjaan yang harus kuselesaikan selama dia pergi. Matahari tak hadir sepanjang hari ini, seperti Steffi, namun entah disengat memori hujan, aku malah bangun terlalu pagi. Ratusan data yang kukumpulkan selama berminggu-minggu sebelumnya kini harus kuterjemahkan satu per satu. Hari ini aku hanya beristirahat tak lebih dari 30 menit, selebihnya aku tak beranjak dari kursi. Menjelang sore, ratusan data tadi mulai tersenyum padaku, senyum penuh misteri dalam ratusan angka dan diagram warna-warni.



***
Genangan-genangan air sepanjang jalan yang kulewati tadi pagi, rombongan mahasiswa yang berjalan di bawah payung warna-warni, mengingatkanku pada memori hujan bulan Februari. Bandung 3 tahun yang lalu. Hampir pukul 6 sore, perutku sudah sangat lapar. Rintik-rintik hujan pertama mulai turun, padahal aku baru seperempat perjalanan pulang. Hari ini, tiba-tiba saja aku memilih jalur angkutan umum berbeda dari biasanya. Aku rindu suasana Gedung Sate sore hari, juga pucuk-pucuk mahoni yang baru bersemi di sepanjang Jalan Diponegoro.

Perjalananku singkat saja. Aku turun di pertigaan Jalan Supratman, tepat di depan Asrama Mahasiswa Gunong Tajam, asrama mahasiswa Belitong, persinggahanku ketika pertama kali ke Bandung, 10 tahun yang lalu. Hari makin gelap dan hujan masih lebat, air tergenang dimana-dimana. Aku bertemu seorang ibu yang kelihatannya baru pulang kerja. "Nak, mau pulang kemana? Boleh Ibu ikut sampai Surapati? Nanti Ibu mau naik angkot pink dari situ". "Oh, tentu saja boleh Bu", jawabku spontan.

Kami melewati Jalan Pusdai yang tergenang, sambil sesekali berhenti untuk menghindari cipratan air dari kendaraan yang lewat. Di bawah naungan payung kecil itu, obrolan kami mengalir. Ibu Maya, begitu beliau mengenalkan diri padaku. Beliau bekerja di Jalan Citarum, hanya beberapa ratus meter dari Pusdai, rumahnya lumayan jauh dari sini, di Ujung Berung. Bu Maya bercerita bahwa anak sulungnya sudah bekerja, seorang alumnus Farmasi Unpad. Sedangkan anak bungsunya baru tamat dari jurusan perhotelan, juga sudah bekerja dan berniat melanjutkan kuliah lagi.Tersirat rasa bangga di wajah beliau, padahal aku tahu beliau sedang lelah setelah seharian bekerja.

Aku pun mengenalkan diriku. Beliau antusias sekali ketika tahu bahwa aku hidup terpisah jauh dari keluarga, hidup sendiri di Bandung dan masih memimpikan banyak hal. "Ibu doakan Nak Hesty sukses dan tercapai cita-citanya. Orangtua seperti Ibu tidak akan mewariskan apa-apa, selain ilmu yang bermanfaat. Karena warisan harta betapapun banyaknya, akan habis". Kami berpisah di tepi jalan Surapati, dalam rintik hujan yang mulai reda.

Pesan Bu Maya adalah pesan yang sama seperti yang disampaikan Ibuku dulu ketika aku akan merantau ke Bandung. Aku menjadi rindu, rindu sekali pada Ibuku. Kiranya hujan sore ini mampu mengantarkan rinduku kepada Beliau, jauh sampai ke kampung halamanku. Kupeluk erat tasku yang basah. Dalam dingin dan mendung, hatiku tiba-tiba menjadi hangat, sehangat kasih sayang Ibuku.

Bochum, 8 Juli 2014