Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Tuesday, April 06, 2021

Ruang

Dalam ruang tak berjendela

detak sunyi dipantul-pantulkan

dari dasar diafragma

menyelinap di sela-sela iga


Ruang itu mengempis

merambatkan embusan udara

pada buluh-buluh napas

menggetarkan pita suara


Teriak parau tercekik

sesak sempit terhimpit

dalam gelap nan pelik

mendaki menuju langit


Di kedalaman dasar samudra

yang diliputi awan gelap gulita

tidakkah kau lihat pendar cahaya?

samar-samar telapak tanganmu meraba

detak itu di dalam dada


Ruang itu mengembang

Bilah-bilah cahaya

menyapu sudut-sudutnya

membuka pintu-pintunya

melapang dalam kasih sayang-Nya


Cahaya itu yang kelak kita bawa

ketika ruh berpisah dari raga


Bandung, 1 Mei 2020


Catatan:

Puisi ini kutulis untuk diri sendiri dan salah seorang sahabat yang sangat kucintai di dunia ini, terinspirasi dari ayat dalam Al Qur'an, yaitu Surat Al An'am ayat 125 dan Surat An Nur ayat 40.




Ibu

Bersyukurlah bagi siapa saja yang masih memiliki orang tua, terutama Ibu. Hubunganku dengan Ibu tak pernah sederhana seperti kebanyakan anak perempuan satu-satunya. Kami membutuhkan waktu puluhan tahun untuk saling mengenal dan saling memahami. 


Sejak dulu, beliau bukan orang yang kuajak bicara kalau aku menghadapi hal-hal besar dalam hidup. Mungkin terakhir kali Ibu menjadi pusat hidupku adalah ketika aku masih balita. Saat itu, kalau aku sakit yang kucari pasti Ibu, kalau aku menangis, yang kupanggil juga Ibu. 

Tahun berganti, aku bertumbuh, Ibu pun menua. Ketika aku beranjak remaja hingga masuk fase dewasa aku jarang sekali bercerita kepada Ibu. Percakapan kami hanya sebatas cerita ringan, tak pernah mendalam. Kami pun pernah memasuki fase-fase hubungan paling hambar. Aku merasa kehilangan Ibu, mungkin Ibu pun merasa kehilangan aku. 

Kadang kawan-kawanku bertanya, apa yang sebenarnya aku cari di perantauan dan petualangan-petualanganku yang seperti tak berkesudahan? Ternyata dengan bepergian jauh, aku jadi lebih mengenal Ibu, semakin jauh raga kami terpisah, semakin tumbuh rasa sayangku yang dulu hampir hilang. Perlahan-lahan Allah mendekatkan hati kami lagi. Hari ini, aku menelpon Ibu hampir 3 jam. Belum pernah aku bercerita selama dan seterbuka itu dengan Ibu. Percakapan tadi seakan membayar lunas lebih dari 20 tahun masa hidupku yang kulewatkan "tanpa" Ibu. I let her know almost about everything in my life. 

Tahukah engkau, kawan? Kalau ada hati manusia yang lebih luas dari samudera, maka hati Ibulah jawabannya. Kalau ada rasa sayang yang tak bertepi, maka kasih sayang Ibulah yang senantiasa menaungi. Tadi, aku seperti kembali ke rumah lama yang sudah bertahun-tahun tak kukunjungi. Kutanyakan pada Ibu. "Mak, pernahkah Mamak merasa marah dan kecewa kepadaku?"  "Nak, bahkan tanpa engkau meminta maaf pun, Mamak akan selalu memaafkanmu. Mamak ini orang yang telah dititipkan Allah untuk melahirkanmu." Tanpa diminta pun, Ibu selalu mendoakanku, bahkan sebelum aku terlahir dari rahimnya. 

Ya Rahman, ya Rahiim... Jika kasih sayang Ibu melimpah ruah tak putus-putus sepanjang usia seperti itu, maka aku tak bisa membayangkan bagaimana kasih sayang-Mu. 



Engkau, Hamba Terkasih dari Dzat Yang Maha Memperhatikan, Menguasai dan Memelihara

Angin selatan berhembus syahdu, mengayun-ayunkan semak dan perdu. Pada jenjang-jenjang anak tangga itu, langkahmu menapak satu persatu seiring kumandang adzan menyeru. Jeda itu, jarum jam tiba-tiba menjelma debar memburu. Aku? Terdiam dibekukan waktu. 


Matahari telah tergelincir ke barat, rentang kedua sebelum berselimut malam. Engkau hilang di keramaian, dalam baris-baris bergelombang, tenggelam. Doa-doa melangit dari bait-bait lirih, ketika kepala ditundukkan dalam-dalam. Aku? Kian terpaku dalam diam.

Lalu, perlahan-lahan, temaram lampu dipadamkan. Waktu bergulir kembali, hingga ruh berpisah dari badan. 

Bandung, 21 Desember 2019




Terbiasa

Mungkin kita hanya perlu terbiasa

melupakan yang buruk

dan mengingat yang baik-baik saja


Mungkin kita memang butuh terbiasa

meleburkan amarah

dan mengikhlaskan apa-apa yang telah ditelan masa


Mungkin kita ternyata harus terbiasa

meneruskan hidup yang tak seberapa lama

hingga kelak menghadap SAng Maha


Mungkin aku, mungkin juga engkau

salah satu dari kita

akan mendapat giliran pertama


Bandung, 18 Desember 2020




About the Famous Ayaat in the Qur'an: "inna ma'a al 'usri yusran"

Let me tell you something beautiful and amazing about a famous ayaat in the Qur'an: "inna ma'a al 'usri yusran."

It's simply translated: 

"Certainly, with hardship comes ease."

Let's take a deeper analysis about the grammar and the sentence structure. Please, bear with me. It might sounds complicated for you who don't know Arabic, but believe me it's just the very basic. Even though it is, we can see how the knowledge of Arabic can give us a certain nuance, the deeper one, to the meaning of the ayaats of the Qur'an.
 
First, we'll talk about the grammar (Nahw). 
In Arabic, an ism (person, place, thing, idea, adjective, adverb, and more) has 4 properties, i.e.,
1. Status: Raf', Nasb, Jarr
2. Number
3. Gender
4. Type:
a. Proper (specific). 
b. Common (not specific).
 
Back to the sentence:
"inna" means "certainly". It's called Harf of Nasb, and its victim is an ism in Nasb status.

In this sentence, its victim is the word (ism) "yusran", meaning "ease". So, "yusran" is in Nasb status. And, because it has tanween (or simply an "an" sound at its end), its status is common (unknown, not specific) and has magnification meaning. 

"ma'a" means "with". It's called special Mudaf. Let's just skip the detail about what it is. 

"al 'usri" means "the hardship". Its type is proper. So, "the hardship" is specific, known (because it has "al"), and not magnified (because it has no tanween). 

Then, we'll talk about sentence structure. 
In Arabic sentence structure (ism based), we have 3 components, i.e.:
1. Mubtada' (subject/topic),
2. Khabar (predicate/information)
3. Muta'alliq bil khabar (secondary predicate/MBK)

Back to the sentence:
Here, "inna" and its victim "yusran" is the Mubtada' (subject) 

And, "ma'a al usri" is MBK (secondary predicate). 

No khabar (predicate) in this sentence. 

Normally, the sentence starts with Mubtada' and then khabar, MBK, etc. But, here in this sentence, we have MBK first, and then a "delayed Mubtada". This flip/weird order gives a certain meaning, it creates the meaning of "only" to the sentence. 

So, with all the complicated things I just mentioned, here is the summary. 

"inna ma'a al usri yusran", in more complex translation will be:

"Certainly, with every known hardship there is (only comes) an ease that is unknown."

You don't even know what the ease gonna be, it's mysterious, but no doubt about it, for sure it's there. Just because you don't know, it doesn't mean that an ease doesn't exist. The hardship is not magnified. So, as big as you think a problem is, that's not big. And, the ease that is coming has been magnified. 

So, Allah is saying in this beautiful ayaat that hardship is limited and you can see the hardship but what you can't see is the ease. And the ease is so much bigger than the hardship. It's mysterious, unknown, and magnified. Allah is also saying some great mysterious ease is coming, but it would ONLY come with hardship. So, the ONLY reason you have hardship is so Allah can give you ease. 

More than that, Allah even says it twice, not just even once, in ayaat 5 and 6 of Surah Al Inshiraah (94th Surah, 30th juz).

A copy of the Qur'an opened for reading. (Wikipedia, https://www.flickr.com/photos/el7bara/45540389/)