Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Friday, March 26, 2021

Surat kepada Ayah

Matahari telah condong ke ufuk barat ketika aku tiba di ujung dermaga. Tahun telah memasuki penggalan ketiga, bulan-bulan di mana angin barat telah mengintai diam-diam dari ujung samudra. Aku pun tak tahu di mana ujung samudra itu, yang kutahu seperti janji yang selalu mereka tepati, gelombang pasang dan gemuruh angin akan mengepung lautan selama berbulan-bulan ke depan, memaksa perahu-perahu tertambat di dermaga ditinggalkan tuannya. 

Aku membayangkan Ibu duduk seorang diri menghabiskan sisa hari-harinya yang senantiasa bergemuruh dipenuhi mimpi tak berkesudahan, mimpi-mimpi yang ia rajut sejak mata kecilnya melampaui ujung cakrawala Tanjong Pendam. Hati kecilnya teramat yakin, ada dunia luas di luar sana yang akan ia jelajahi melampaui segala kemungkinan, Ayah tentu tahu.

Ayah, nelayan-nelayan Marsaxlokk berperahu biru itu berlayar jauh hingga ke laut Belitong senja ini. Perahu mereka menjingga memantulkan matahari megah yang teramat setia kepada Pulau Kalimoa. Nelayan-nelayan Mediterania itu tak berbicara dalam Melayu maupun Indonesia. Tapi, Ibu pernah berkata, “Cinta melampaui segala bahasa yang pernah diciptakan manusia di atas dunia ini, Ram.” Perahu-perahu itu berlayar berbulan-bulan hanya demi mengantarkan cinta Ayah untuk Ibu, dua anak manusia yang paling aku cintai di dunia ini. Mereka berlabuh dalam diam, diayun-ayunkan ombak hingga semesta melarut dalam jingga yang paripurna.

Apa yang akan kuceritakan kepada Ayah ini adalah sebuah perjalanan yang meresap perlahan dari ujung-ujung jari kakiku ketika menyusuri pasir lembut sepanjang Pantai Tanjong Tinggi, pantai yang dahulu hanya kubayangkan dari cerita-cerita Ibu sejak aku terkantuk-kantuk dalam buaiannya. Perempuan yang bahkan baru benar-benar aku kenal tak lebih dalam hari-hari belakangan ini. Hampir separuh dunia harus kutempuh untuk mengumpulkan serpihan-serpihan perjalanan hidupnya, itu pun dengan gerutu, hingga ke tanah asing yang bahkan tak kukenal. Tapi, entah bagaimana kini aku merasa pulang. Aku tak tahu, sejak kapan tanah ini melumat habis kesombonganku hingga hancur berkeping-keping. Aku menyerah tanpa perlawanan dan untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan kebahagiaan tak terperi justru dalam kekalahan yang kuinginkan jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam. 

Pernah pula pada suatu sore di akhir musim dingin beberapa tahun yang lalu, Ibu berkata kepadaku: “Ram, hidup ini tak lebih dari hanya menumpang.” “Menumpang bagaimana, Bu?” “Ya, menumpang”, lanjut Ibu. “Menumpang pada seonggok tanah, menumpang pada aliran udara yang kita hirup setiap detik, menumpang pada urat-urat sungai yang mengalir di permukaan dan perut bumi, menumpang pada waktu yang menguraikan ingatan masa lalu dan mimpi-mimpi masa depan.” Pada sore yang cerah itu, tumpukan salju berkilauan disiram semburat matahari yang menembus ujung-ujung ranting Magnolia yang mulai menguncup, menunggu cuaca menghangat beberapa pekan lagi ketika kelopak-kelopak merah mudanya memenuhi hati Ibu. Aku diam mengamati teduh wajah perempuan yang melahirkanku ini. Pandangannya bergeming melintasi pagar yang membatasi halaman belakang, menerobos jalan dan hutan kecil yang masih meranggas, melintasi sungai Rhein hingga akhirnya diterbangkan angin dari tepi padang, membawanya jauh ke awang-awang. Sesaat kemudian, matanya tajam menatapku, “Ram, Ibu akan pulang!”

Ratusan purnama telah berlalu sejak sore itu, dan kini aku berada di sini, duduk seorang diri di ujung dermaga. Aku berbicara kepada sekawanan camar yang terbang labuh, berharap mereka akan menyampaikan ini kepada Ibu. “Iya Bu, engkau benar. Hidup ini tak lebih dari hanya menumpang.” Bagian mana dari kerak bumi ini yang kusebut sebagai tanah air? Bagian mana dari lempeng benua ini yang kupanggil sebagai kampung halaman? Pertanyaan tak berkesudahan yang sudah sejak lama menghantuiku itu baru saja kutemukan jawabannya, di sini, dekat sekali dari urat leherku, dibisikkan Ibu di telingaku bertahun-tahun yang lalu.

Dalam diriku mengalir darah dari sungai-sungai purba yang membelah pesisir Belitong, menembus rawa bakau dan nipah, menyusuri teluk yang memisahkan Birzebbuga dari Marsaxlokk, dihanyutkan arus Mediterania jauh menuju utara, dan akhirnya bermuara di lembah Rhein yang melegenda. Dalam napasku mengalun gemuruh angin yang membentangkan layar perahu nelayan Burong Mandi, menyapu debu yang menyelimuti kuil prasejarah Hagar Qim, dan menerbangkan helai-helai maple yang berbaris rapi di tepian Ruhr setiap musim gugur. Namun, kenangan masa kecil yang aku simpan tak lebih dari penggalan ketiga dari darah dan angin yang menyisiri lembah-lembah Eropa. 

Ayah, aku tak pernah bisa meminta untuk dilahirkan di tanah mana dan terlahir oleh siapa. Tapi, ingin sekali aku kabarkan kepadamu melalui lembaran-lembaran surat ini, bahwa darah dan tulang yang telah menopang hidupku berikut nama yang tersemat dalam dadaku adalah hadiah terindah yang pernah Ayah dan Ibu titipkan kepadaku. Ayah, surat ini akan kutitipkan kepada juntai-juntai gandum yang akan menguning pada musim panas nanti di tepian Kemnadersee. Sempatkanlah dirimu untuk memetik helai demi helainya perlahan-lahan untuk kau baca sepanjang sore. Barangkali jika angin sudah lebih bersahabat, aku akan menyusulmu nanti. Kita bertemu di bawah jembatan batu tak jauh dari dermaga besar Valetta. Nanti, Ibu akan kubawa serta.

Anakmu selalu,

Ram


Catatan:

Potongan cerita pendek ini kutulis di Bandung pada akhir April 2019. Proses kreatif dibalik tulisan ini dilatarbelakangi oleh kenangan tentang kampung halamanku: Belitong, salah satu tanah perantauanku: Bochum, Jerman, dan persinggahanku yang paling berkesan selama merantau di Eropa: Malta. 


Saturday, November 03, 2012

Aku ketika Tua [2]


Temaram beranda tersiram purnama, sesekali serangga malam singgah mencari cahaya. Kita hanyalah bayang-bayang samar menuju malam. Di antara rumpun-rumpun gelagah di kaki bukit sana, dulu pernah kau bercerita. Ada nelayan paruh baya, terampil dia membuat perahu. Dia tak pernah sekolah, tapi mahir membaca gugus bintang, haluan satu-satunya saat dia berada di tengah samudera.

Katamu, belajar itu sederhana saja. Mimpiku dulu tak muluk-muluk, kau juga. Toh sekarang dalam damai yang sederhana, sudah lebih dari cukup kita habiskan usia senja kita. Aku menulis, kau membaca. Kau melukis, aku bersenandung saja. Entah berapa sore lagi yang tersisa untuk kita di beranda ini. Tak banyak tanda, tahu-tahu telah lewat satu minggu, satu bulan, satu tahun, dan kita pun semakin menua.

Obrolan kita tak jauh dari kata "dulu", dan selorohmu menertawakan kebodohan-kebodohan masa muda kita. Suatu waktu kau berkata, katamu kau ingin melihat ujung dunia, entah dimana. Ujung dunia? Saat nafas-nafas manusia seperti meniti hati-hati di pinggir jurang desing peluru? Atau, saat sunyi mengendap lamat-lamat di tepi-tepi jurang gemunung tengah benua? Kakiku pernah ke sana, kau juga. Lalu kita tersenyum bangga atas pencapaian konyol sepanjang masa.

Besok kalau ada waktu, aku ingin merombak perpustakaan kita. Rak buku kita juga sudah menua. Kata anak-anak di sekolah Pak Cik, mereka ingin menghabiskan libur Ramadhan di perpustakaan kita. Siap-siap lah kau hibur mereka. Kalau musim sedang bagus, akan kuajak mereka ke hutan mencari cendawan atau boleh kau ajak mereka memotret senja di ujung muara.

Tahun depan, muridku dulu hendak berlibur ke sini katanya. Musim panas ini, dia akan pulang membawa oleh-oleh dari negeri sakura, rampung sudah studinya setelah 5 tahun yang penuh warna. Satu persatu muridku menjelajah dunia, kini kutahu apa itu rasa bangga di hati seorang guru. Bagaimana kabar sahabatmu dulu? Masih sering dia mendaki gunung? Satu persatu pula sahabat terbaik mendahului kita, kita pun menunggu giliran tiba.

Semalam aku bermimpi melihat ladang gandum luas tak bertepi, sudah kuning kecoklatan menunggu panen raya. Lalu kita berubah kembali muda, tiba-tiba seekor elang terbang labuh ke arah kita. Matanya mengancam penuh selidik. Pertanda apa, entahlah. Aku ragu, apakah tahun depan masih ada untuk kita? Mungkin potret kemarin sore di dermaga itu, bayang terakhir kita.

Bila aku mendahuluimu, aku ingin kau teruskan tulisanku tentang rumah hari tua, naskahnya sudah kusimpan rapi di komputer kita. Pun bila engkau yang mendahuluiku, akan kuteruskan petualanganmu menyusuri kampung pesisir setiap senja. Merangkai potret diam namun pandai bercerita, lalu kutulis kisah bahwa aku bangga pernah dipertemukan dengan seorang manusia, kau...

Bochum, 4 November 2012
Photo illustration by Ponda Sujadi
[Sambungan dari tulisan pertama: http://maktjik.blogspot.de/2012/11/aku-ketika-tua.html]

Aku ketika Tua


Pokok-pokok cengkeh berjajar di tepi padang rumput, ilalang bergoyang lembut disapa angin, di bukit ini rumah kita, sederhana saja, panggung kayu beratap rumbia. Di beranda ini kita habiskan sore, berbincang tentang nostalgia, sambil menyeruput kopi hangat, lalu kucing kita bermanja-manja tak hendak lepas dari pangkuan. Kalau hujan tentulah aku yang akan lebih berbahagia, carik-carik kertas nampaknya akan lebih banyak tergores tinta, besok saja kita berburu senja.

Coba kau lihat di ujung muara, perahu itu pun hanya tergolek ditinggalkan tuannya, cuaca sedang tak berpihak pada kita. Kalau besok cerah, kutemani lah kau mencari angin. Dulu waktu kita masih muda, pernah kau bercerita tentang layang-layang yang sekonyong-konyong putus dari talinya, pemiliknya entah siapa. Kapan-kapan boleh kau ajak anak-anak bermain layang-layang di pekarangan kita.

Besok sudah hari Jumat, sebentar lagi musim anak-anak libur sekolah. Sholatlah di Surau, sementara aku ingin menghabiskan sisa hari di sekolah Pak Cik. Minggu lalu anak-anak bertanya tentang persoalan aljabar sederhana, kupenuhi janjiku besok. Sebenarnya aku hanya ingin bercerita saja pada mereka. Lalu jemputlah aku menjelang pukul empat, lepas Ashar kita ke dermaga saja, naik sepeda. Barangkali saja senja besok itu senja milikmu, seperti tempo hari. Silhoutte perahu nelayan kapan hari itu jadi kesayanganku hingga hari ini. 

Tiba-tiba kita terdiam, dan aku bertanya memecah bisu: "Pernah kau menyesal tentang masa muda?" Katamu, "Ah, untuk apa? Toh, hari tak akan bergerak mundur. Kau mau habiskan sisa umurmu di sini saja aku sudah bahagia". "Ya sudah, hari sudah sore, jangan lupa kau tutup pintu kandang ayam kita, sementara aku menyalakan lampu pelita. Nanti malam lepas mengaji, kita makan di beranda depan, bulan sedang purnama, tak kalah cantik dibanding senja di dermaga".

Bochum, 3 November 2012
Photo illustration by Ponda Sujadi
[Bersambung ke tulisan ke dua: 
http://maktjik.blogspot.de/2012/11/aku-ketika-tua-2.html]