Showing posts with label Biografi. Show all posts
Showing posts with label Biografi. Show all posts

Tuesday, February 06, 2024

Indonesia, Rumahku Sekali Lagi

Sebuah Resensi dari Buku Jentera Langit Tenggara

 

Identitas Buku

·       Judul buku: Jentera Langit Tenggara

·       Pengarang: Hesty Susanti dan Michael Binuko

·       Penerbit: Tel-U Press

·       Tanggal terbit: 26 Januari 2024

·       ISBN: 978-623-6484-58-6

·       Tebal halaman: 85 halaman

·       Ukuran: 13 cm × 19 cm

·       Tautan penerbit: https://telupress.telkomuniversity.ac.id/product/jentera-langit-tenggara/

 

 

Sinopsis

Perjalanan pulang ke tanah air menjadi akhir sekaligus awal dari petualangan Hesty menyusuri relung-relung abstrak kehidupan yang ia terjemahkan dalam puisi dan penelitiannya di bidang instrumentasi medis. Titik akhir dan awal ini ditandai dengan puisi panjang yang dibaginya dalam dua bagian: Bochum, Sungguh Aku Mencintaimu bagian 1 dan 2. Puisi ini ia tulis di hari terakhir ia berada di Eropa setelah menjalani 4 tahun masa studinya di sebuah kota kecil di lembah Sungai Ruhr, Bochum, Jerman. Pagi itu, 1 Agustus 2015, menjelang puncak musim panas, ia menyusuri jalan setapak dan menumpang U-Bahn menuju kampus tercintanya, Ruhr Universität Bochum, lalu melanjutkan perjalanan ke pusat kota untuk sarapan di sebuah toko roti di Stasiun Bochum Hauptbahnhof. Ia mereka ulang jalur yang rutin dilaluinya hampir setiap hari selama 4 tahun ke belakang. Puisi pertama ini ditulisnya dengan bahasa yang lugas, hampir-hampir seperti cerita pendek, merangkum kenangan yang mengharu biru pada pagi yang sendu itu. Puisi-puisi selanjutnya mengalir dalam berupa-rupa pengalaman pada masa-masa adaptasinya kembali ke tanah air sambil menyelesaikan studi doktoralnya yang sempat tertunda. Dalam beberapa kesempatan, Hesty sering bepergian seorang diri ke tempat-tempat asing, namun hal itu belum pernah dilakukannya di tanah air sendiri hingga ia kembali ke Indonesia. Ia ingin mengenal diri dan tanah airnya “sekali lagi”, ia ingin mencintai yang asing dari sebermula. Perjalanannya ke Flores dan Kepulauan Komodo di akhir 2015 serta petualangannya ke Gunung Anak Krakatau di awal 2017 menjadi dua dari sekian perjalanan yang mengubah hidupnya. Dari dua perjalanan ini, lahir beberapa puisi yang ia sebut sebagai Indonesia, Rumahku Sekali Lagi.

 

Resensi Buku

Jentera Langit Tenggara adalah kumpulan puisi yang berisi hiruk pikuk dalam kepala Hesty ketika ia mencoba menggenggam kembali asal-usulnya di tengah rasa rindu akan tanah perantauan nun jauh di sana. Puisi-puisi Hesty lalu bercengkerama melalui dialog-dialog abstrak dengan sekumpulan ilustrasi goresan tangan sahabat karibnya, Michael Binuko. Meskipun semua puisi dalam buku ini adalah buah karya Hesty, namun ilustrasi dalam buku ini menempati porsi yang sangat dominan. Maka tak heran, nama Michael Binuko muncul pula sebagai “penulis”, tak seperti buku pada umumnya, ketika ilustrator hanya muncul namanya di halaman identitas buku saja.

 

Penamaan buku ini terinspirasi dari sebuah peristiwa penting dalam kalender astronomi dunia, yakni gerhana matahari total, 9 Maret 2016. Benda-benda angkasa telah lama menjadi sesuatu yang dicintai Hesty. Sering ia menyengaja bepergian ke suatu tempat, hanya untuk menyaksikan matahari terbit atau tenggelam atau kerlip bintang-gemintang di tempat-tempat yang jauh. Salah satu yang paling berkesan adalah matahari terbit yang ia saksikan di Pantai Xghajra, Republik Malta. Dalam buku ini, matahari yang sesaat tertutup bulan pada peristiwa gerhana yang ia potret dari Pantai Tanjung Tinggi itu, “dibungkus” oleh Hesty dalam sebuah miniatur benda asing yang jarang terdengar: Jentera. KBBI menerjemahkannya sebagai barang yang bundar berupa lingkaran, bersumbu, dan dapat berputar. Lalu, ia gabungkan dengan kata Langit dan Tenggara, seperti matahari yang ia saksikan di Desa Waerebo, jantung Nusa Tenggara, Flores. Bukan kebetulan pula, sahabatnya Binuko bercokol di Gedung Seni Rupa yang berada di bagian tenggara kampus Ganesha, almamater mereka.

 

Binuko menjadi orang pertama yang membaca utuh draf 56 puisi ini dan menerjemahkannya dalam ilustrasi-ilustrasi penuh makna. Beberapa dialog antara puisi dan ilustrasi yang dihadirkan dalam buku ini terlihat eksplisit, beberapa lainnya mereka biarkan menjadi implisit. Sebagaimana sastra dan seni, mereka ingin agar karya ini menggugah rasa dalam bentuk apa saja pembaca ingin menerjemahkannya.

 

Kelebihan Buku

Jentera Langit Tenggara mengajak pembaca untuk memaknai kehidupan dengan segala lika-likunya dalam ungkapan puisi dan ilustrasi sarat makna. Karya ini berhasil memotret pengalaman hidup dengan tema-tema sentral yang hampir dialami oleh semua orang, seperti keluarga, sahabat, masa kecil, kampung halaman, mimpi-mimpi, apresiasi pada alam, kritik sosial, renungan/refleksi, serta semangat untuk menjalani setiap peran dari masing-masing kita dalam persinggahan di dunia yang sesungguhnya tak seberapa lama.

 

Kelemahan Buku

Buku ini bukan buku yang “ringan” karena menuntut pembacanya untuk berpikir sedikit mendalam agar bisa menerjemahkan serta mengapresiasinya. Pembaca perlu meluangkan kesempatan untuk menyepi sesaat dalam alam pikiran agar bisa bertualang dalam dialog-dialog abstrak yang disuguhkan.




Tuesday, July 25, 2023

Gerak Gerik Rindu

Lebih dari separuh usiaku kuhabiskan di perantauan, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu waktu ke waktu yang lain. Seharusnya, ruang dan waktu yang berganti-ganti itu yang mendominasi alam pikiranku. Tapi, alam mimpiku tetap itu-itu saja, dibekukan waktu dalam rumah masa kecilku nun jauh di Belitung sana, ditambah satu dua episode masa perantauanku di Bochum dulu. Definisiku tentang rindu kampung halaman jadi dua, dua-duanya diawali huruf B. 

Aku masih menerka-nerka apa yang sebenarnya mengikat batin kita akan suatu tempat? Dari sekian banyak kemungkinan, mungkin di antaranya adalah orang tua. Aku teringat pertama kali aku merantau meninggalkan kampung halaman adalah ketika aku lulus SMP dan pindah ke Bangka. Saat itu, aku berangkat lebih dahulu dan tinggal di rumah salah satu pamanku, adik Ibuku. Ayah dan Ibuku baru menyusul pindah ke Bangka beberapa bulan kemudian. Di bulan-bulan awal itu aku merasa kosong, rindu kampung halaman, rindu Ayah dan Ibuku, rindu kucing kesayanganku. Apalagi aku tahu bahwa nanti kami tidak akan kembali ke rumah yang sama lagi. Sakit maagku kambuh lagi. 

Belakangan ini aku sering dilanda perasaan yang sama meskipun sudah lebih dari dua dekade kutinggalkan kampung halaman, atau kurang dari itu jika Bangka tak masuk dalam hitungan. Persoalannya melingkar-lingkar seperti tak berkesudahan, tak pulang rindu, sehabis pulang bertambah rindu. Pulang pun sudah menjelma menjadi berupa-rupa muka: pulang ke Belitung, pulang ke Bandung, pulang ke Bangka, atau bahkan pulang ke Bochum? 

Hari-hari yang kita lalui seperti mimpi saja. Tahu-tahu sudah lewat seminggu, sebulan, setahun. Tahu-tahu sudah tua, tahu-tahu sudah habis jatah usia. Pekan lalu Ayahku mengunjungiku di Bandung. Tiap salat berjamaah ragaku seperti terlempar ke masa puluhan tahun lalu, ketika aku diajari Ayah salat untuk pertama kalinya. Di ruang tamu rumah kami dulu, aku salat di belakang Ayah, menirukan gerakannya satu per satu meskipun belum hafal setiap bacaannya. Setiap selesai salam, waktu itu aku diam-diam sering menggerutu lantaran bacaan doa Ayahku tak pernah singkat. Lain waktu, di ruang yang sama aku menghafal lagu pertama yang akan aku nyanyikan di depan kelas Taman Kanak-Kanak: "Kupu-Kupu yang Lucu". Padahal masuk sekolahnya masih tahun depannya. Malam itu Ibuku menggoreng kue wijen untuk lebaran. Abang tertawa-tawa saja melihat tingkahku. 

Dulu sebelum aku bisa bersepeda, setiap pagi Ayah mengantarku ke sekolah. Pulangnya kadang dijemput Ayah, kadang dijemput Ibu, tergantung siapa yang sempat. Pulangnya aku sering diajak ke pasar ikan. Di pasar inilah aku diajari Ayah mengenal macam-macam ikan. Ketika itu usiaku belum genap 10 tahun. Sejak bangun hingga tidur kembali rasanya tak ada masa yang tak kulewatkan bersama Ayah, Ibu, dan Abangku. Kalau kata Ibuku, di masa-masa itu, kaki mereka jadi kepala, kepala jadi kaki, saking sibuknya mengurus kami sambil bekerja. 

Lalu, puluhan tahun berlalu, kini Ayah dan Ibuku sudah pensiun. Fisik mereka pun sudah tak sekuat dulu. Peran pelan-pelan mulai bertukar. Melihat setiap gerak-gerik mereka sering aku diliputi kekhawatiran, jangan sampai mereka terlambat makan, jangan sampai mereka lelah, jangan sampai mereka kurang tidur, jangan sampai mereka kedinginan dan kepanasan, jangan sampai mereka sakit, jangan sampai mereka kesepian. 

Pernah aku bertanya pada Ibuku, mengapa dulu lampu kamarku tak pernah beliau padamkan ketika aku tidur. Kata beliau, takut ada serangga malam yang menggigitku. Rupanya meskipun sejak kelas 2 SD aku sudah tidur di kamar sendiri, setiap malam beliau rutin menengok kamarku tanpa sepengetahuanku. Lalu, ketika aku sudah bisa bersepeda dan bersikeras tak mau diantar ke sekolah, di keranjang sepedaku tak pernah tertinggal jas hujan yang selalu beliau selipkan. Ayahku lain lagi, setiap aku, Abang atau Ibuku ulang tahun, ada dua menu wajib yang selalu beliau belikan, es putar Babah Pilai dan rujak tahu Bu Mala. Rasa kedua makanan itu masih lekat dalam ingatanku hingga sekarang, perlambang cinta yang sederhana dari beliau. 

Aku teringat dengan salah satu nama Allah, Al Lathif: Yang Maha Halus. Dari kasih sayang yang Allah bagikan di seluruh alam semesta ini, kasih sayang dalam gerak-gerik halus ungkapan cinta orang tua kepada anaknya adalah satu dari perwujudan nama itu. Puluhan tahun kemudian aku baru menyadarinya. 

Episode kehidupan dunia ini penuh teka-teki dan jalan yang berliku-liku. Ujungnya pasti sama, kematian. Ujung yang sekaligus juga sebagai awal mula kehidupan akhirat yang kekal. Siapa yang lebih dahulu mendapat giliran, tak ada yang tahu, bisa jadi anak, bisa jadi orang tua. Namun, kehilangan yang teramat sangat konon dirasakan orang tua yang kehilangan anak, jauh mengalahkan yang sebaliknya karena orang tua mengurus anak dengan harapan yang jauh terbentang dan menyematkan cita-cita hidup anaknya di masa depan. 

Kehidupan yang sesungguhnya tidak di sini, namun di akhirat yang kekal abadi. Semoga Allah mempertemukan dan mengumpulkan kita kembali bersama orang-orang yang kita cintai di JannahNya kelak. Mengutip Surah Yunus ayat 9, tanggal di mana aku dilahirkan: 
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai." 

Pada titik-titik tertentu, kita hanya dapat berpasrah didera rindu yang seringkali datang tiba-tiba, indah dan tak ada gantinya, namun sekaligus perih tak ada obatnya karena waktu memang tak pernah ada pengulangnya. Hanya di JannahNya yang kekal kelak yang tak akan kita temui lagi segala kesedihan. Yaa Rabbanaa, perkenankanlah kami menjadi penduduknya.

Bandung, Agustus 2022

Sunday, June 20, 2021

Kakek dan Nenek Buyutku Tercinta

Ada dua orang dalam lingkar keluargaku yang kelak sangat ingin aku temui, mereka adalah kakek dan nenek Ibuku atau orang tua dari nenekku dari pihak Ibu. Di Belitung, kami biasa menyebut mereka dengan panggilan Datok (Datuk) Laki dan Datok Bini. Dalam Bahasa Indonesia, biasa kita kenal dengan Kakek dan Nenek Buyut.

Kakek Buyutku sudah meninggal sebelum aku lahir, kalau Nenek Buyutku meninggal waktu aku masih balita. Praktis aku hanya mengenal dua sosok ini dari cerita orang tuaku atau orang-orang di sekitarku yang dulu mengenal mereka semasa hidup. 

Kakek Buyutku dulu berprofesi sebagai guru, orang-orang biasa memanggil beliau Haji Ibrahim/Guru Ibrahim. Sedangkan Nenek Buyutku seorang ibu rumah tangga dengan segudang keterampilan, orang-orang biasa memanggil beliau Nek Haji Mai (Maisarah). 

Kek Ibrahim dan Nek Maisarah ini harum sekali namanya di kalangan keluarga, kaum kerabat, dan handai taulan. Mereka dikenal sebagai pasangan yang cerdas, berpikiran progresif, toleran, dan dermawan. 

Mereka berdua lahir di kampung, jauh dari Kota Tanjungpandan, dan bukan dari lingkar keluarga bangsawan seperti keluarga dari pihak Ayahku. Dengan latar belakang seperti itu, keduanya fasih berbicara dan menulis dalam Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Arab, hal yang sangat langka pada zamannya, apalagi di kalangan rakyat biasa. 

Mereka berdua juga terampil berdagang dan berwirausaha, sekaligus fakih dalam ilmu agama. Pada saat yang sama, mereka berdua juga dikenal sebagai orang-orang berpikiran terbuka, pergaulannya luas tak mengenal sekat. Rumah mereka dulu terbuka untuk semua kalangan dan usia, bebas bagi siapa saja yang ingin belajar, meminta pertolongan, atau sekadar bersilaturahmi. 

Belitung sudah lama menjadi pusaran peradaban dengan percampuran berbagai suku bangsa. Kek Ibrahim dan Nek Mai dulu punya banyak saudara angkat dari berbagai kalangan, tak sedikit pula yang sempat bersyahadat memeluk Agama Islam atas wasilah mereka. 

Anak rantau dari kampung yang ingin bersekolah di Tanjungpandan boleh tinggal di rumah mereka. Perantau dari Madura, Bawean, dan Sulawesi yang cukup banyak jumlahnya di Belitung pun sama, banyak sekali yang jadi saudara angkat mereka. Mereka naungi orang-orang rantau ini dalam masa-masa adaptasi mereka ketika pertama kali sampai di Belitung. 

Orang-orang Tionghoa yang sampai saat ini cukup banyak jumlahnya di Belitung pun sama saja, banyak yang menjadi saudara angkat Kek Ibrahim dan Nek Mai. Aku ingat cerita Ibuku beberapa tahun yang lalu. Ketika itu, sehari sebelum Hari Raya, Ibuku singgah di sebuah toko kelontong tak jauh dari rumah kami untuk membeli kelapa. Nyonya Tionghoa pemilik toko memperhatikan Ibuku seperti penasaran, begitu pun Ibuku. Akhirnya Ibuku bertanya, "Nya, dulu Nyonya pernah tinggal di Jalan Gang Perai, bukan ya?" Sang Nyonya Tionghoa langsung menjawab, "Betul, kamu siapa ya? Dari tadi saya juga penasaran, seperti tak asing wajahnya, tapi saya lupa." Ibuku hanya menjawab singkat saja, "Saya cucu Kek Haji Ibrahim, Nya." Lalu berderet-deretlah cerita Sang Nyonya tentang masa kecilnya di kampung itu. 

Singkat cerita, dulu, Kakek dan Nenek Sang Nyonya Tionghoa ini pernah bertetangga dengan Kakek dan Nenek Buyutku. Lalu, di akhir tahun 50-an dan awal tahun 60-an, Pemerintah Orde Lama memberikan pilihan kepada perantau-perantau Tionghoa di Indonesia yang sebelumnya memiliki kewarganegaraan ganda RRT-Indonesia untuk memilih salah satunya. Kakek dan nenek Sang Nyonya ini akhirnya memilih untuk mempertahankan kewarganegaraan RRT mereka dan pulang ke RRT. Mereka pun bersiap-siap, rumah dan kebun yang mereka usahakan akhirnya mereka jual ke Kek Ibrahim. Lalu, entah apa yang terjadi, keluarga ini batal pulang ke RRT. Rumah dan tanah sudah dijual, praktis mereka tak punya tempat bernaung lagi. 

Kek Ibrahim lalu mengizinkan keluarga Tionghoa ini untuk menempati kembali rumah dan kebun yang sudah mereka jual kepada beliau tanpa membatalkan transaksi jual beli yang sudah terjadi. Singkatnya, mereka boleh tinggal  kembali di sana dan mengusahakan kembali kebunnya sampai kapan pun tanpa perlu membayar sepeser pun ke Kek Ibrahim. 

Kembali ke Sang Nyonya. Ketika itu, sang Nyonya masih remaja, ia ingat dengan jelas semua peristiwa yang tadi diceritakannya kepada Ibuku. Di akhir cerita ia menutup dengan mata berkaca-kaca, "Sampai kapan pun saya tidak akan lupa dengan Kek Ibrahim dan Nek Mai, karena keduanyalah yang telah menolong Kakek dan Nenek saya. Mereka tak pernah pindah dari rumah dan kebun itu sampai akhir hayat mereka."

Lalu aku membayangkan, kalau pada era sekarang Kek Ibrahim dan Nek Mai masih hidup pasti mereka sedih melihat bibit-bibit perpecahan dengan saudara-saudara kita dari kalangan Tionghoa yang sering sekali diembus-embuskan oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab. 

Kekagumanku tak habis-habis kepada kedua sosok ini, apalagi Nek Maisarah. Nek Maisarah adalah potret perempuan cerdas, berdaya, dan berpikiran maju. Nek Mai dulu sangat fasih melantunkan syair dan hikayat Melayu yang menceritakan kisah-kisah Nabi dan Rasul, dan tokoh-tokoh besar bangsa Melayu. Kata Ibuku, lantunannya itu tak sembarangan, ada nada dan iramanya, skripnya ditulis dalam Bahasa Melayu dengan huruf Arab gundul. Cucu-cucu beliau biasa menyimak kisah-kisah itu selepas Magrib, berkumpul dalam lingkar nan hangat di ruang tengah rumah beliau. 

Nek Mai juga penyayang binatang, yang paling kuingat dulu waktu aku masih balita, di rumah beliau selalu ada kucing. Beliau juga beternak ayam dan entog. Waktu masih muda, Nek Mai terampil menunggang kuda. Soal kuda ini yang aku paling kagum. Pertama, kuda adalah binatang langka di Belitung, sampai sekarang pun tak banyak jumlahnya. Kedua, Nek Mai ini seorang perempuan, anak kampung pula, dan lahir jauh sebelum Indonesia merdeka. Perempuan pada zamannya, jangankan menunggang kuda ke sana ke mari,  bisa diizinkan ke luar rumah berjalan kaki pun sesuatu yang belum selumrah sekarang.

Lain waktu, Ibuku menuturkan kisah kedua suami istri ini ketika mereka menunaikan ibadah haji. Kapalnya berlayar berbulan-bulan membawa penumpang beserta seluruh kebutuhan mereka selama perjalanan, termasuk ternak. Sejak itu aku paham, mengapa dulu penjajah Belanda sangat berhati-hati dengan orang-orang yang sudah menunaikan ibadah haji. Orang-orang ini menempuh perjalanan panjang lagi sulit, mereka yang bisa kembali ke tanah air adalah orang-orang terpilih yang telah tertempa. Orang-orang akan dengan mudah mendengarkan kata-kata mereka, mereka punya tempat di hati masyarakat. Sekali Belanda berulah, mereka bisa dengan mudah mengerahkan kekuatan ribuan orang untuk melawan. 

Kek Ibrahim dan Nek Mai dikaruniai 4 orang anak, yang tertua Kek Long Siddiq, kedua Nek Anjang Zaina, ketiga Nek Ute Badi'ah (nenekku), dan yang terakhir Nek Busu Farida. Keempat-empatnya juga sudah tiada. Mereka berempat dulu disekolahkan sampai tingkat Sekolah Menengah Agama oleh orang tuanya. Lalu, Kek Siddiq melanjutkan pendidikannya sampai ke Arab Saudi dan sempat tinggal beberapa tahun di sana, Nek Zaina dan Nenekku sempat berprofesi sebagai pendidik seperti ayahnya, lalu Nek Busu Farida, si Bungsu, sempat disekolahkan ayahnya sampai ke Palembang. Kek Ibrahim dan Nek Mai memilih pindah dari Kota Kecamatan di Kampit Belitung Timur ke Tanjungpandan, agar anak-anaknya bisa sekolah, hal yang sangat langka dilakukan orang-orang pada zamannya. Keduanya sudah menyadari pentingnya pendidikan, di saat orang-orang kebanyakan tak ambil peduli. Kalau soal ini, sampai sekarang pun di kampung-kampung di Belitung, hal ini masih menjadi PR besar untuk pemerintah dan masyarakat. 

Masih banyak kisah-kisah harum Kek Ibrahim dan Nek Mai yang sering kudengar, bahkan dari orang-orang di luar lingkar keluarga kami. Sampai sekarang aku masih sangat penasaran, bagaimana mereka bisa tumbuh menjadi orang-orang seperti itu pada zamannya, bagaimana pula dengan orang tua mereka. 

Hari ini aku teringat dan ingin sekali bercerita tentang Kek Ibrahim dan Nek Mai lantaran tadi pagi aku bercerita kepada Ayahku tentang kain kafan untukku sendiri yang sudah kusiapkan. Kata Ayahku, Nek Mai dulu selangkah lebih siap secara teknis dari persiapanku. Beliau bahkan sudah menyiapkan nisan yang bertuliskan namanya sendiri jauh sebelum hari kematiannya tiba. 

Seorang sahabat pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling cerdas?" Rasulullah SAW menjawab, "Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas." 

Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang dimaksud oleh Rasulullah SAW dalam hadits ini. 

Aku terdiam mendengarkan kisah dari Ayahku tadi. Dua sosok ini, Kek Ibrahim dan Nek Mai adalah pendahuluku, yang melalui jalan mereka aku hadir di dunia ini. Mereka tak sekolah sampai ke pelosok dunia untuk menghayati setiap butir ilmu yang mereka terima dari guru-guru dan orang tua mereka. Mereka adalah bukti nyata dari penghayatan ilmu yang bermanfaat dalam wujud yang sebenar-benarnya, ilmu yang tak hanya menempel dalam ingatan, tapi diwujudkan dalam praktik kehidupan untuk kebermanfaatan hidup yang seluas-luasnya. 

Kisah hidup mereka ini kutulis bukan dengan maksud berbangga-bangga akan nasab dan keturunan, namun untuk memetik sebanyak-banyaknya hikmah dan teladan dari mereka yang telah tiada, utamanya pula untuk diriku sendiri. Kalau rindu bisa didefinisikan dengan kata-kata, kisah ini adalah surat rinduku untuk mereka, Kakek dan Nenek Buyutku tercinta. Semoga Allah merahmati mereka. 

Bandung, 20 Juni 2021

Tuesday, April 06, 2021

Ibu

Bersyukurlah bagi siapa saja yang masih memiliki orang tua, terutama Ibu. Hubunganku dengan Ibu tak pernah sederhana seperti kebanyakan anak perempuan satu-satunya. Kami membutuhkan waktu puluhan tahun untuk saling mengenal dan saling memahami. 


Sejak dulu, beliau bukan orang yang kuajak bicara kalau aku menghadapi hal-hal besar dalam hidup. Mungkin terakhir kali Ibu menjadi pusat hidupku adalah ketika aku masih balita. Saat itu, kalau aku sakit yang kucari pasti Ibu, kalau aku menangis, yang kupanggil juga Ibu. 

Tahun berganti, aku bertumbuh, Ibu pun menua. Ketika aku beranjak remaja hingga masuk fase dewasa aku jarang sekali bercerita kepada Ibu. Percakapan kami hanya sebatas cerita ringan, tak pernah mendalam. Kami pun pernah memasuki fase-fase hubungan paling hambar. Aku merasa kehilangan Ibu, mungkin Ibu pun merasa kehilangan aku. 

Kadang kawan-kawanku bertanya, apa yang sebenarnya aku cari di perantauan dan petualangan-petualanganku yang seperti tak berkesudahan? Ternyata dengan bepergian jauh, aku jadi lebih mengenal Ibu, semakin jauh raga kami terpisah, semakin tumbuh rasa sayangku yang dulu hampir hilang. Perlahan-lahan Allah mendekatkan hati kami lagi. Hari ini, aku menelpon Ibu hampir 3 jam. Belum pernah aku bercerita selama dan seterbuka itu dengan Ibu. Percakapan tadi seakan membayar lunas lebih dari 20 tahun masa hidupku yang kulewatkan "tanpa" Ibu. I let her know almost about everything in my life. 

Tahukah engkau, kawan? Kalau ada hati manusia yang lebih luas dari samudera, maka hati Ibulah jawabannya. Kalau ada rasa sayang yang tak bertepi, maka kasih sayang Ibulah yang senantiasa menaungi. Tadi, aku seperti kembali ke rumah lama yang sudah bertahun-tahun tak kukunjungi. Kutanyakan pada Ibu. "Mak, pernahkah Mamak merasa marah dan kecewa kepadaku?"  "Nak, bahkan tanpa engkau meminta maaf pun, Mamak akan selalu memaafkanmu. Mamak ini orang yang telah dititipkan Allah untuk melahirkanmu." Tanpa diminta pun, Ibu selalu mendoakanku, bahkan sebelum aku terlahir dari rahimnya. 

Ya Rahman, ya Rahiim... Jika kasih sayang Ibu melimpah ruah tak putus-putus sepanjang usia seperti itu, maka aku tak bisa membayangkan bagaimana kasih sayang-Mu. 



Wednesday, February 10, 2021

Pohon Rambutan Yai

Pergantian berupa-rupa kejadian dalam hidup kadang membawa kita kembali ke suatu masa yang rasanya tidak pernah tidak kita rindukan. Kejadian-kejadian itu tak melulu harus yang hebat-hebat. Kejadian-kejadian itu dapat pula meliputi sesuatu yang kecil, halus seperti pergerakan benda-benda yang tidak kita sadari, atau pergantian musim dan cuaca. Pergerakan matahari, aliran air, arah angin, dan bintang gemintang menyanyikan hidup pada bebijian yang berkecambah. Hara diisap oleh akar-akar tumbuhan, menyemi daun-daun, menyemai buah-buahan pada tangkai-tangkainya. 

Aku dilahirkan di tanah khatulistiwa yang disiram matahari sepanjang tahun. Pergantian musim-musim, panas dan hujan, berarti pula pergantian musim buah-buahan. Pertengahan musim hujan di awal tahun menandai salah satu musim buah kesukaanku sejak kanak-kanak, buah rambutan. Mengapa bagiku buah ini begitu istimewa, tak sekadar rasanya saja? Mari kuceritakan, Kawan. 

Dulu, dulu sekali, ketika aku masih kecil, tersebutlah seorang kakek, aku memanggilnya Yai. Beliau adalah tetangga kami, sekaligus keluarga dari pihak ayahku. Sejak aku bisa mengingat, yang kutahu Yai sudah pensiun. Dulu, kudengar beliau mengepalai Kantor Penerangan di kabupaten kami. 

Aku mengenal Yai sebagai seorang kakek yang rajin bercocok tanam. Apa saja yang ditanamnya pasti tumbuh dengan baik, berbunga, berbuah. Tangannya "dingin" kalau kata ibuku.  Hampir setiap hari ada saja tanaman yang dirawatnya. Sesekali aku melihatnya bepergian dengan sepeda phoenix. Rambutnya disisir rapi ke belakang, mengkilap dan wangi minyak rambutnya masih kuingat sampai sekarang. Lalu, rambut yang rapi itu akan ditutupinya dengan peci hitam dan sepeda pun dikayuhnya entah ke mana. Nanti, sepulangnya yang entah dari mana itu, ada saja cerita yang dibawanya. Yai juga kukenal sebagai sosok yang humoris dan ramah. Beliau mempunyai beberapa cucu, tapi yang juga bertetangga dengan kami dan umurnya tak berjauhan denganku hanya 4 orang. Mereka adalah sahabat-sahabat pertamaku dalam hidup. Kami tumbuh dan besar bersama dalam kasih sayang Yai. 

Di depan rumah kami dulu, pada sepetak tanah yang Yai jadikan kebun, tumbuhlah dua pohon rambutan. Sejak aku bisa mengingat, yang kutahu pohon rambutan itu sudah tinggi menjulang, cabang-cabangnya banyak sekali, rimbun pula daunnya. Saking rimbunnya, panas dan terik tak akan terasa bila kita berteduh di bawahnya. Ketika tiba musimnya, buah-buah manis itu akan menggelayut pada cabang-cabangnya, merah merona, menggoda tangan-tangan kecil kami. Tapi, aku tahu, Yai tak senang kalau kami memetik rambutan tanpa seizinnya. Maka, kami akan menunggu dengan sabar sampai tiba hari panen yang dinanti-nantikan. 

Ayahku tahu, aku menyukai buah rambutan. Maka, tak perlu menunggu hari panen itu pun, sejak para pedagang mulai menjual rambutan di pasar-pasar, ayahku pasti akan membelikan buah rambutan untuk dibawa pulang. Tapi, tetap saja, hari panen buah rambutan Yai adalah yang paling istimewa, tak pernah sama, tak ada yang bisa menggantikannya. 

Pada hari raya itu, aku, abangku, dan keempat cucu Yai akan bekerja sepanjang hari memetik buah-buah rambutan dari cabang-cabang rendah yang berada dalam jangkauan kami. Orang-orang dewasa akan memetik dari cabang-cabang yang lebih tinggi dengan memanjat atau dengan galah. Lalu, buah-buah rambutan itu akan dipilah-pilah, dibersihkan dari daunnya, dan diikat dalam kumpulan beberapa tangkai. Kami, anak-anak, akan bertugas membagi-bagikannya ke para tetangga, lalu sisanya dititipkan di kedai-kedai dekat rumah kami. 

Kenangan-kenangan sederhana tentang pohon rambutan Yai, selalu mengingatkanku kepada sahabat dan keluargaku, kepada kampung halamanku, kepada asal di mana aku bermula. Rambutan tak menjadi sekadar buah saja, ia adalah salah satu representasi paling manis dari kenangan masa kecilku, kenangan akan kasih sayang dari orang-orang terkasih. 

Bertahun-tahun kemudian, terlebih ketika aku merantau ke Eropa, di mana mendapatkan rambutan tak lebih mudah dari mencari ikan kala purnama, ketika aku benar-benar mendapatkannya, maka aku akan menyediakan waktu istimewa untuk mengingat Yai. Sekarang pun, meski aku sudah kembali ke tanah air dan mendapatkan buah rambutan tak lagi sesulit dulu, tetap saja awal tahun yang menandai musim rambutan itu selalu menjadi saat-saat yang istimewa. Maka, bagiku buah rambutan adalah buah kasih sayang, tak lebih dan tak kurang. 

Bandung, 10 Februari 2021





Tuesday, February 09, 2021

Kebebasan Berpikir

Pada gagasan tentang kemerdekaan, terkandung pula di dalamnya kebebasan berpikir. Jika engkau masih merasa takut untuk membaca buku-buku tertentu atau menyimak pembicaraan orang-orang tertentu karena kekhawatiran akan terpengaruh, bukan karena pilihan sadar masalah kesukaan saja, artinya engkau belum sepenuhnya berkuasa atas pikiranmu sendiri. Untuk sampai pada tahap ini, memang tidak serta merta terjadi begitu saja. Aku sendiri berproses sejak belia untuk memapar diriku sendiri dengan beragam pemikiran, tak peduli apapun pendapat orang tentang pemikiran-pemikiran tersebut. Aku lebih memilih untuk mencoba menyelaminya sendiri, membaca, mempelajari, menganalisis, membandingkan, berdiskusi dengan banyak orang, lalu memutuskan pada akhirnya, apakah pemikiran-pemikiran tersebut akan bersemayam dalam kepalaku sebagai sekadar pengetahuan saja, atau sebagai gagasan yang lebih besar untuk kuanut, tak terkecuali untuk masalah agama.

Mungkin terdengar liar dan berbahaya untuk sebagian orang, tapi tidak untuk kedua orang tuaku. Sejak kecil, aku dan abangku dibebaskan oleh mereka untuk memilih, untuk berpikir dan berpendapat, namun tentu dengan arahan-arahan yang kadarnya mereka atur sedemikian rupa, tidak mengekang tapi tidak pula lepas kendali, sampai pada saatnya ketika mereka yakin, aku dan abangku bisa berdiri sendiri. Dulu, kupikir, perlakuan yang kuterima ini biasa saja, tak ada yang istimewa, tapi semakin jauh aku merantau, semakin banyak orang yang kukenal, aku mendapati ternyata tak banyak anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan sepertiku, terlebih pula untuk seorang perempuan yang dibesarkan di dunia timur.

Di rumah kami dulu, aku membaca macam-macam buku, dari literatur tasawuf milik kakekku, novel-novel klasik dan modern, sampai komik milik abang sepupuku. Aku memilih pula untuk berpindah-pindah sekolah karena ternyata tak semua guru bisa berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan kritisku. Konsekuensi positifnya aku bisa mengenal semakin banyak kawan dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, etnis, budaya, dan agama. Aku ingin melihat dunia dari kacamata mereka yang berbeda dariku dan itu tidak kurang menyenangkannya dari kesukaanku melahap buku-buku.

Kemerdekaan berpikir adalah anugerah yang mesti kurawat baik-baik karena ia adalah pedang bermata dua. Intelektualitas hanya satu dari tiga komponen yang membentuk manusia serta membedakannya dari binatang. Manusia adalah makhluk biologis, intelektual, sekaligus spiritual. Timpang salah satunya saja, tak akan pernah baik kesudahannya. Maka, pada akhirnya, perjalanan hidup kita tak lain adalah petualangan tak henti-henti dalam menyeimbangkan ketiganya sejak kali pertama Ibu mengantarkan kita ke dunia, hingga napas terakhir kelak mengembus dari dalam dada.

Bandung, 9 Februari 2021. 

Friday, November 13, 2020

Life is a Grand Affair

The year of 2020 has given me many experiences. No matter what, all of them have been crafted deeply in my heart, Alhamdulillah. This year marks the end and the beginning of many things in my life. As long as the soul is still in the body, during that time all endings and beginnings will alternate in recorded rotation.

"I am marching into my own pace in my own path and will always be."

Normal standards that apply to the average person do not always have to be a reference. After all, I have been through my life for more than 3 decades without much heeding to these standards, and it's okay. For me, life is more exciting to be lived like this, run through the adventures in my own definition, not from the definitions set by others. If other people want to join me, that's great, otherwise that's great too. Because at the end of the day, we are all alone and will be responsible for our deeds only, not others'. 

Someone once asked me: "Have you ever want to have a permanent job, a permanent house, or a family of your own?" 

I don't know how to answer these questions properly. All I know, I never intend to dedicate my life just to pursue those "permanent-permanent club". I try to pursue something more essential than that: "How do I hold the responsibility for my life later after the death?" Again, if those "permanent-permanent club" ever pass by my life, it's great, otherwise it's great too. Because, this worldly life is basically not permanent either. Yes, "back to the basic" often works to answer those questions.

I have challenged myself in what I consider big: breaking boundaries. The first: breaking the limit of my intellectuality by challenging myself to complete my Ph.D journey. The second: breaking the limit of my independence by challenging myself to travel alone to foreign places. The first and the second one turn out to be addicting, it's not easy to brake them either. And the third one: breaking through the limit of my courage by challenging myself to be true to my own feelings. The third one sounds cliché, but it was one of the boldest moves in my life and I never regret it. So far, I've only ever loved 2 men besides my father and my brother. (Thank you for passing by my life, by the way). And I told them, if time has the limit and it is the death and/or the Judgment Day, I love them until the end of time, truly. Because after that, I can't help anyone and can't be helped by anyone other than Allah. 

After completing those three challenges during this year, it's already more than enough for myself, and I shall continue on the next journeys to be more useful to others, hopefully inshaa Allah.

People around me often consider me as a "free spirit". And I am always looking forward to meet many more "kindred spirits" during my lifetime. Even though, I don't care much about those terminologies. 

Someone else also once asked me: "Have you ever felt lonely being yourself that's often considered unconventional by others?"

Maybe yes sometimes, but most of the time, no. I feel completely complete. I am not saying that I am always happy. Happiness is just a bonus and I believe it's the state of mind, not the state of others' presences. I don't pursue it because this world is not the place of the true happines. This world is not the resting place, it's the testing place. My life has been also in many ups and downs, but I never have a reason to not love it. Yes, I love my life unconditionally until the day I meet My Rabb inshaa Allah. Hopefully, you too.

PS. I am in the process of writing my third book, I don't know when it will be finished, but I am excited to introduce it to the world someday inshaa Allah. Again, first thing first, need to arrange the priorities.

Bandung, 13 November 2020.

Photo courtesy: Michael Binuko. He once told me, "It's you, an anomaly".

Thursday, November 26, 2015

Menjumpai yang Tak Tergantikan

Sahabat, meminjam kata-kata dari seniman Ugo Untoro, yang pernah dituliskan oleh salah seorang sahabat saya, Tiaswening Maharsi, dalam bukunya "Dunia Simon":

"Tidak hanya berbunga-bunga, hatiku berbuah-buah."

Begitu pun yang saya rasakan ketika buku pertama saya "Harum Hujan Bulan November" ini diterbitkan. Buku ini adalah hadiah kecil saya untuk tiga orang yang paling saya cintai: Mamak, Mamo, dan Abang. Sahabat-sahabat pun dapat membaca kisah mereka yang saya tuliskan dalam buku ini.

Berikut, beberapa bait resensi yang dituliskan sahabat saya yang lain, FX. Widyatmoko (Koskow):

Kumpulan kisah yang disusun secara alur waktu ini - yaitu sejak 3 November 2011 hingga 26 Juni 2014 - berkisah tentang sesuatu yang tak tergantikan. Yang tak tergantikan ini tak lain kisah-kisah yang dialami Hesty: tentang kedua orangtuanya, kakaknya, ibu petugas di kantor pos, guru, teman-teman sekolah, kuliah, dan mereka yang dijumpainya tanpa direncana. Beberapa kisah yang ditulis juga dialamatkan kepada alam, pula syukur kepada Tuhan. Kisah-kisah tersebut ditulis Hesty dari berbagai tempat: Bandung, Zug, Zürich, Nijmegen, Groningen, Utrecht, dan yang paling sering Bochum, Jerman, tempat Hesty melanjutkan studi. Kisah-kisah juga berasal dari orangtuanya, yang mana kisah tersebut membuat Hesty pergi menjumpai yang dikisahkan tersebut (tentang saudara jauh).

Tulisan-tulisan Hesty, meski terkesan sebagai sebuah catatan perjalanan, namun lebih dekat kepada surat. Jika catatan perjalanan lebih mendekati pada laporan, sebaliknya tulisan Hesty dalam buku berjudul "Harum Hujan Bulan November" ini lebih memilih untuk tak sebatas pelaporan, namun memberi alasan untuk apa ia dilaporkan. Di antara kisah-kisah tersebut hadir beberapa puisi, hadir pula foto. Setidaknya terdapat perbedaan antara kisah-kisah yang dituliskan (dalam bentuk esai), puisi, dan foto dalam buku tersebut.

Pada kisah-kisah yang dituliskan dalam bentuk esai, Hesty kerap bertutur tentang orang-orang yang dijumpainya. Pada puisi dan foto, tersampaikan yang sebaliknya, Hesty mengajukan pertanyaan-pertanyaan, terkesan lebih tentang dirinya, mungkin tentang sendirinya (pula foto seekor bebek yang di bagian bawah foto tersebut disertakan pertanyaan "kayuhmu hendak ke mana?"). Mungkin ada alasan tertentu mengapa hal tersebut terkesan demikian. Namun, yang lebih utama yaitu pada kejujuran serta keterbukaan dalam menuliskan kisah-kisah dan bagaimana memberi bingkai untuknya.

Kisah-kisah Hesty pun dapat dipahami sebagai satu kesadaran mengenal yang lain, yang berbeda. Pada kesadaran inilah kisah-kisah yang dituliskan Hesty dapat dipandang menjadi perjuangan kita bersama yaitu saling menghargai sesama, alam, masa lalu, benda-benda, serta harapan hidup ke depan, terutama di zaman yang kian bergegas dan menyisa sepotong-potong cerita yang berlalu lalang, yang membuat kita gagal utuh menangkapnya karena diri kita (di)sibuk(kan) oleh aktivitas mengganti-ganti citra.

Orang-orang dalam kisah-kisah yang dituliskan Hesty pun menjadi seseorang. Bingkai seseorang dan yang tak tergantikan inilah yang bagi saya terasa mengesankan. Dituliskan oleh Hesty, bahwa: "...Kata orang, bepergianlah, maka engkau akan mengenal sahabat seperjalananmu, karena banyak hal yang akan teruji di sana..." (Bochum-Nijmegen dan Mimpi-Mimpi Masa Silam). Kisah-kisah yang dituliskan Hesty, baik melalui bentuk esai, puisi, dan foto, tak lain adalah usaha mengingat dan memberi harapan pada orang-orang, pada waktu, pada ruang, yang dari situ menempatkan kita pun menjadi seseorang bagi yang lain, bagi yang tidak tergantikan itu.

Teruntuk para sahabat yang telah membantu saya hingga buku ini lahir, saya haturkan terima kasih sebesar-besarnya dari hati yang paling dalam. Semoga karya kecil ini menemui perannya, memberikan sepercik manfaat bagi orang-orang di sekelilingnya.

Bandung, 8 Oktober 2015



Sunday, May 17, 2015

Adikku Sayang

Terlahir sebagai bungsu, aku tak pernah merasakan menjadi seorang kakak. Namun, dari sekian sepupu yang aku miliki, aku paling dekat dengan Cici, adik kecilku yang kini sudah beranjak dewasa. Tujuh setengah tahun jarak usia kami. Aku masih ingat ketika dulu, pagi-pagi sekali, Mamak mengajakku menjenguk Acik di klinik bersalin dekat rumah kami. Acik adalah panggilanku untuk Ibunda Cici, adik ibuku. Pagi itu, aku merasa seperti baru saja dibelikan mainan baru atau seperti baru bisa naik sepeda, bahagianya sederhana, namun tak terkira. Sejak kecil aku memang sangat dekat dengan Acik, beliaulah yang membantu Mamak untuk mengasuhku sejak kanak-kanak. Pagi itu, Acik telah menjadi seorang ibu, dari seorang bayi perempuan mungil, adik sepupuku.

Waktu memang tak pernah iba, dia melesat meninggalkan kita, yang kadang masih termangu dalam lorong-lorongnya. Dulu ketika Cici masih kecil, setiap pulang sekolah, aku selalu minta diantar Mamak ke rumah Acik. Liburan sekolah pun biasanya kuhabiskan di rumah Acik untuk bermain bersama Cici.

Sore ini, aku termangu melihat teks-teks yang dikirimkan Cici ke emailku. Ada perasaan haru sekaligus bangga. Cici minta dikoreksikan abstrak Tugas Akhirnya, artinya sebentar lagi dia akan diwisuda. Adik kecilku kini telah menjadi gadis pintar yang sedang meneliti pengembangan reaktor nuklir. Sejak SD prestasinya memang sangat cemerlang. 2011 lalu, tepat sebelum aku merantau ke Jerman, Cici memperoleh beasiswa penuh dari BATAN untuk menempuh program sarjana di Fisika ITB, bidang kekhususan nuklir.

Adikku sebentar lagi akan menjadi sarjana. Mimpi-mimpiku akan selalu kubagi bersamanya. Jangan berhenti sampai di situ saja, merantaulah lebih jauh dan lihatlah dunia. Suatu hari nanti, kita ceritakan kepada nenek dan kakek tentang negeri-negeri jauh dan mimpi-mimpi masa kecil kita, meskipun hanya di hadapan pusara mereka.

Bochum, 17 Mei 2015

Monday, July 21, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 24 Ramadhan, Dhani, Lelaki Kecil Permata Hati Kami

Lebih dari dua tahun yang lalu, lelaki kecil itu lahir ke dunia. Masih belum terbit pagi di sini, kabar bahagia itu serta merta mengenyahkan rasa kantukku. Pada pagi musim semi itu, abang telah menjadi ayah. Bayi mungil itu diberi nama Muhammad Dhani Cakrawijaya, lelaki kecil permata hati kami. Aku belum pernah bertemu Dhani hingga hari ini. Jarak dan waktu memisahkan kami, seperti perahu nelayan yang disembunyikan cakrawala. Meski tak pernah tampak dari ujung dermaga, tetapi senantiasa hadir di sana. Akulah sang perahu itu, sedangkan Dhani adalah lelaki kecil yang berlari-lari di bibir dermaga, masih tak bosan-bosan menunggu senja.

Waktu seperti dipermainkan dalam gulungan-gulungan sekoci benang yang berputar-putar, dikayuh oleh sang penjahit kemudian menjelujur bermeter-meter kain tak bertepi. Tahu-tahu telah habis segulung, berganti lagi dengan gulungan baru. Begitu terus menerus sampai penjahit pun lupa bahwa jarum telah menggerogoti helai-helai usianya, perlahan-lahan.

Dhani, lelaki kecil yang hadir kali pertama di musim semi itu, perlahan-lahan memenuhi lorong-lorong hati kami. Tangisnya dirindukan, sorot mata lugunya tak puas-puas menjadi pemandangan. Setiap hari ada saja cerita yang kudengar dari ayah, bunda, kakek dan neneknya. Dhani mulai pandai berjalan ketika usianya belum genap setahun. Semua barang ingin diraihnya, sejauh jangkauan kaki kecilnya. Seisi rumah pun sibuk dibuatnya. Lain lagi ceritanya ketika Dhani mulai pandai mengucapkan kata-kata sederhana. Semua pembicaraan yang didengar pasti akan ditirunya. Sepanjang hari, rumah abang tak pernah sepi oleh ocehan Dhani. Kicaunya baru akan reda ketika tidur, seperti mainan yang kehabisan baterainya. Dhani tumbuh menjadi anak periang dan senang berkawan. Setiap bertemu kakek dan nenek, dia selalu bercerita tentang apa saja yang baru dialaminya, pengalaman bersama kawan-kawannya atau orang-orang yang baru dikenalnya.

Dhani tak setiap hari bisa bertemu ayahnya, lantaran abang ditugaskan di luar kota. Tiap bertemu ayahnya beberapa pekan sekali, dari kejauhan Dhani sudah memanggil-manggil: “Ayah...Ayah...!“ sambil menghambur ke arah ayahnya. Lalu mulut kecilnya tak berhenti berkicau-kicau, bercerita ini itu, sambil sibuk bermain menunjukkan keahlian-keahlian barunya. Mainan pertama yang disukai Dhani adalah bola dan sepeda roda tiga. Barang-barang di rumahnya pun tak luput menjadi sasaran. Kursi dibolak-balik, lalu ditungganginya seperti kuda. Meja didorong-dorongnya ke sana ke mari tak tentu arah.

Setiap hari selalu saja ada kejutan yang dibuat Dhani. Sudah beberapa pekan ini, dia punya kebiasaan baru, minta diantar ke Taman Kanak-kanak, padahal tak ada orang yang menyuruhnya. Setiap hari, dia sudah bangun pagi-pagi sekali, minta dimandikan dan dipakaikan baju kesayangannya. Lalu minta disiapkan tas sandang kesukaannya. Bang Nugra, begitu Dhani memanggil sahabat kesayangan yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Tahun ini, Nugra yang sudah berusia 5 tahun, masuk TK. Dhani tak mau ketinggalan, dia pun serta merta minta diantar bersama Nugra. Di sekolah barunya itu, Dhani ikut bermain bersama kakak-kakaknya, orang menyanyi, dia pun ikut menyanyi juga. Setiap tiba waktu bermain di luar kelas, Dhani berlari-lari ke sana ke mari, tak kenal takut dan lelah. Dhani tak pernah malu-malu menanyakan ini itu pada gurunya, padahal bicaranya pun masih belum sempurna. Meskipun menjadi murid tak resmi alias anak bawang, kadang Dhani justru lebih bersemangat dibanding kawan-kawannya. Dalam alam pikiran sederhananya, Dhani menemukan kegembiraan tiada tara bisa bermain bersama Nugra dan kawan-kawannya. 

Dhani, pada pundakmu teriring doa dan harapan dari orang-orang yang menyayangimu. Walau kita belum sempat bertemu, selalu ada rindu yang terombang-ambing dipermainkan riak-riak gelombang. Makcik memperhatikanmu dari kejauhan, tangan-tangan kecilmu yang mengumpulkan remah-remah kerang, kaki-kaki kecilmu yang berlari-lari menentang hujan. Jika nanti engkau telah dewasa, jangan hanya bermenung di bibir dermaga. Berlarilah hingga teriakmu tersapu angin musim gugur. Melompatlah hingga nafasmu mengembun dibekukan musim dingin. Tersenyumlah seperti musim semi dan bersemangatlah seperti matahari musim panas. Bila telah tiba waktunya, kayuhlah bidukmu, lintasi samudera, lalu berkelanalah hingga ujung dunia.

Bochum, 21 Juli 2014

Tuesday, July 15, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 18 Ramadhan, Kartu Pos dari Texas

Membuka kotak surat selalu menjadi kebiasaan menyenangkan bagiku. Walaupun sedang tidak menunggu surat atau paket, kejutan-kejutan yang tak jarang kutemui di dalam kotak surat menjadikan rutinitas ini tak pernah membosankan. Sore kemarin, sepulang dari kampus, kutemukan selembar kartu pos bergambar bunga tergeletak di dalam kotak suratku. Setelah kubaca ternyata dikirim jauh melintasi samudera, dari Amerika.

Kartu pos cantik itu tepatnya bergambar sebuah buldozer yang teronggok di padang bunga bluebonnet, bunga khas musim panas yang banyak tumbuh di Negara Bagian Texas. Aku tersenyum membacanya. Dalam hatiku, kartu pos ini benar-benar merepresentasikan karakter pengirimnya, tomboy tapi sekaligus feminin. Uple, begitu kami biasa memanggilnya, pertama kali kukenal ketika dia baru memulai Tugas Akhir sarjananya di lab kami, lab Instrumentasi Medik, sekitar 4 tahun yang lalu. Uple sebenarnya berasal dari gedung sebelah, Jurusan Biologi, bukan Teknik Fisika. Tetapi kerjasama yang sudah terbangun sejak satu tahun sebelumnya antara lab kami dengan salah satu lab di Biologi telah mengantarkan Uple sejak saat itu menjadi sahabat sepermainan kami.

Aku teringat pada diriku sendiri bertahun-tahun sebelumnya ketika pertama kali bertemu Uple. Gadis ini sekilas tak tampak seperti perempuan kebanyakan seusianya. Pakaiannya lebih seperti anak laki-laki. Namun siapa sangka, setelah bertahun-tahun aku bersahabat dengannya, kuketahui bahwa perasaan Uple halus luar biasa. Uple dibesarkan sebagai anak tunggal dari orang tua yang keduanya adalah polisi. Aku yang sejak kecil sangat tertarik dengan hal-hal berbau militer, selalu tersenyum mendengar cerita-cerita Uple tentang masa kecilnya. Bagaimana pleton-pleton taruna Polri, kendaraan-kendaraan militer dan senjata menjadi kesehariannya. Cerita-cerita yang didengar Uple sejak masa kecilnya adalah tentang bagaimana ibunya mengurus korban-korban tindak kriminalitas, terutama perempuan dan anak-anak, bagaimana ibunya menghadapi para pelanggar lalu lintas di jalan raya, atau tentang bagaimana ayahnya terlibat dalam operasi penangkapan buronan berbagai tindak kejahatan. Lingkungan seperti ini telah membentuk karakter Uple menjadi seorang pemberani.  

Salah satu hal yang kukagumi dari sahabatku ini adalah sifat kemandiriannya. Walaupun lahir sebagai anak semata wayang, tak pernah ada kesan manja dan keras kepala yang tampak darinya, dua karakter yang aku sendiri pun sangat sulit menghilangkannya jika berinteraksi dengan orang-orang terdekat. Meski usianya lebih muda, sesungguhnya Uple berpikir jauh lebih dewasa. Tahun-tahun terakhirku di Bandung banyak kuhabiskan bersama Uple. Kami mengelilingi pelosok Bandung dengan sepeda motornya yang legendaris itu. Sepeda motor ini juga telah mengantar Tante, sahabat kami yang lain, ke sana ke mari, menerobos hujan, panas, dan malam yang dingin.

Uple, sama sepertiku dan beberapa sahabat kami yang lain, punya cita-cita untuk merantau ke tempat-tempat yang jauh dan merasakan pengalaman menuntut ilmu di negeri orang. Fase-fase pencarian ini kami lalui dalam proses yang tidak mudah. Penolakan demi penolakan tak jarang membuat semangatnya sedikit surut, tetapi cita-cita yang sudah tertanam sejak lama membuatnya tak menyerah. Aku dan beberapa sahabatku merantau lebih dahulu ke Eropa. Dia masih harus bersabar menunggu gilirannya tiba.

Lalu pada suatu sore, aku menerima kabar gembira. Uple mengabariku bahwa dia diterima di salah satu universitas di Amerika, tinggal menunggu beasiswa. Untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjana di luar negeri, tak jarang urusan beasiswa ini justru menjadi kunci. Banyak kawan-kawanku yang sudah diterima di universitas, namun urung untuk memulai studinya lantaran tak memiliki beasiswa. Uple melamar ke salah satu lembaga beasiswa yang prestisius dari Amerika, Fulbright. Aku yakin seyakin-yakinnya dia akan diterima, karena aku tahu bagaimana kemampuannya. Namun, sebagai orang beragama, kami tetap berusaha, menunggu dan menyerahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa.

Nasib memang telah merentangkan sayap-sayapnya, penuh misteri sehingga kita hanya bisa menduga-duga. Perjalanan panjang meraih cita-cita sungguh tak akan sia-sia. Ada banyak peluh dan air mata yang senantiasa mengiringinya. Musim panas tahun lalu, Uple akhirnya berangkat ke Amerika untuk memulai studi S2-nya dalam bidang neuroscience di University of Texas at Dallas. Dalam bulan-bulan terakhir sebelum keberangkatannya, aku menerima kabar dari Vebi bahwa kini Uple memutuskan untuk mengenakan pakaian muslimah. Uple akan menjadi duta, representasi muslimah Indonesia yang akan merantau untuk menuntut ilmu di Amerika. Dialah Ulfa, sahabatku yang mengajarkanku akan banyak hal, tentang hidup, keberanian dan cita-cita.

Bochum, 15 Juli 2014 

Saturday, July 12, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 15 Ramadhan, Sahabat dari Tanah Rencong

Sudah 2 tahun aku mengenalnya. Perempuan cerdas yang hanya terpaut 2 tahun pula usianya lebih muda dariku ini adalah sosok sahabat yang aku kagumi. Rachmi Meutia, begitu namanya. Nama belakangnya itu nama khas yang menunjukkan tanah kelahirannya, tanah rencong Aceh yang sudah sejak lama aku ingin mengunjunginya.

Aceh sudah sejak dulu menarik perhatianku. Sejarah panjang perjuangan rakyatnya pada masa pendudukan kolonial Belanda mengenalkanku pada sosok yang sangat aku kagumi, Laksamana Keumalahayati, seorang tokoh pejuang Aceh yang sangat disegani pada masanya. Di salah satu sudut ruang temaram Museum Bahari di Jakarta Utara, aku bertemu Keumalahayati untuk pertama kalinya. Sosok perempuan pejuang ini diabadikan sejarahnya dalam sebuah lukisan seukuran manusia dewasa. Keumalahayati konon merupakan laksamana perempuan pertama di dunia dalam sejarah modern. Dia memimpin armada perang Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah gugur) yang dikenal tangguh dan berani. Bahkan Cornelis de Houtman, pemimpin rombongan pertama kolonial Belanda yang sampai ke Nusantara pada tahun 1596 itu mati di ujung rencong sang laksamana. Sejarah ketokohan para pahlawan Aceh adalah representasi keberanian dan watak tangguh orang-orang Aceh.

Di era kemerdekaan, Aceh melalui pula sejarah panjang pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM). Kemudian peristiwa dahsyat tsunami pada 26 Desember 2004 telah pula menoreh sejarah di tanah rencong. Dalam 2 periode peristiwa besar inilah Rachmi dibesarkan. Dia menjadi saksi hidup bagaimana Aceh melalui pasang surut dan serangkaian masa-masa kelam.

Rachmi pernah bercerita bagaimana dia melalui masa-masa SMP-nya di sebuah pesantren berasrama yang berada cukup jauh dari rumahnya, sehingga hanya beberapa kali dalam sebulan dia bisa pulang ke Banda Aceh. Ketika itu, Aceh sedang berada dalam situasi tak menentu saat diberlakukannya DOM oleh pemerintah pusat. Berita kematian seolah menjadi santapan mereka sehari-hari, suasana di mana-mana terasa sangat tidak aman. Kecurigaan antar pihak-pihak yang berselisih sangat mudah memicu kontak senjata. Pernah pada suatu hari, ketika Rachmi dan teman-temannya sedang berada di kelas, sebuah peluru nyasar mengenai dinding dan sebuah pohon di halaman sekolahnya. Setiap kali terjadi kontak senjata, mereka akan dikumpulkan oleh guru dan bersembunyi mengendap-endap hampir dalam posisi tiarap untuk menghindari peluru nyasar. Perjalanan pulang pergi rumah-asramanya pun bukan hal yang mudah. Ayah dan ibu yang mengantar jemputnya ketika itu hampir selalu harus melalui pemeriksaan dari aparat keamanan di pos-pos penjagaan. Rachmi juga menjadi saksi bagaimana orang-orang yang dikenalnya menjadi korban dalam periode mencekam penuh ketidakpastian itu.

Kemudian, ketika gempa dan tsunami melanda Aceh pada tahun 2004, Rachmi saat itu duduk di kelas 2 SMA Modal Bangsa, salah satu SMA favorit di Aceh yang juga berasrama. Saat kejadian itu, Rachmi dan teman-teman sekelasnya sedang berolahraga di halaman kompleks asrama. Mereka merasakan gempa yang sangat dahsyat, yang kemudian diketahui berkekuatan hingga 9 Mw (moment magnitude scale). Sedangkan keluarga besar Rachmi: Ayah, Ibu, serta 3 adiknya saat kejadian itu sedang berada di rumah mereka di Banda Aceh. Aku merinding ketika Rachmi menceritakan kejadian ini, mataku berkaca-kaca. Namun, kulihat sorot matanya begitu tegar, tak ada setitik pun air mata. Ibu dan 2 adik Rachmi ikut menjadi korban meninggal dalam peristiwa ini. Maka yang tersisa adalah Ayah, seorang adik, dan abangnya yang ketika itu sedang kuliah di Yogyakarta.

Kata Rachmi, dia tak banyak menangis di depan ayahnya karena dia ingin agar ayahnya tegar menghadapi ujian yang sungguh luar biasa ini. Tsunami Aceh merenggut korban jiwa hingga lebih dari 230.000 orang. Lalu hadirlah sosok Bunda, begitu Rachmi dan saudara-saudara kandungnya memanggil ibu sambung mereka. Bukan hal mudah bagi keluarga-keluarga Aceh yang menjadi korban tsunami untuk bangkit kembali dan melanjutkan hidup. Aku tak bisa membayangkan jika aku sendiri yang mengalaminya.

Singkat cerita Rachmi pun menikah tak lama sebelum keberangkatannya ke Jerman untuk melanjutkan pendidikan Masternya. Tak lama setelah itu pula, Rachmi kehilangan ayahnya. Rachmi, betapa besar ujian yang telah Allah berikan untukmu di usia semuda ini, bahkan sejak engkau menghabiskan masa kanak-kanakmu. Engkau sungguh telah mewarisi sifat-sifat tangguh dan berani dari para leluhurmu dulu, seperti sang laksamana dan perempuan-perempuan hebat Aceh lainnya. Cerita-cerita Rachmi ini sering membuatku malu pada diri sendiri. Aku yang tak pernah mengalami ujian sehebat itu kadang tak jarang berkeluh kesah dan kurang bersyukur.

Persahabatanku bersama Rachmi mengajarkanku banyak sekali pelajaran hidup. Kami sering berdiskusi tentang berbagai hal, dari persoalan remeh temeh hingga tema-tema serius. Kemarin sore ketika Ramadhan sudah lewat 2 pekan, Rachmi mengunjungiku. Menunggu waktu berbuka puasa kami bercerita tentang banyak hal, lagi-lagi cerita Rachmi selalu membuatku terus berpikir dan banyak belajar. Perempuan penyayang ini adalah sahabat solihah yang senantiasa akan kukenang kebaikannya seumur hidupku, insyaAllah. Terima kasih, Mi. Semoga Allah selalu memberkahi keluargamu.

Bochum, 12 Juli 2014