Showing posts with label Fotografi. Show all posts
Showing posts with label Fotografi. Show all posts

Wednesday, February 24, 2016

Pendar Cahaya Bulan Memelukku

Ingatanku tiba pada suatu malam yang sangat biasa, aku, ayahku, ibuku, dan abangku, saudara kandungku satu-satunya. Rembulan mengawang rendah, awan tipis seperti berasap-asap melingkupi bola matanya yang sendu. Cahaya pucatnya berpendar dipantulkan pucuk-pucuk pohon kelapa yang melambai-lambai, entah kepada siapa. Aku dipakaikan ibu jaket wol hijau tua, sedikit berbunga, tapi tak berenda. Abang dipakaikan ayah jaket bercorak hitam, coklat muda, dan biru tua, dari bahan wol juga.

Sisa hujan sore tadi masih menggenang di tepian jalan aspal berbatu. Suara jangkrik menguasai sudut-sudut temaram di tepi padang ilalang, menebas sepi-sepi. Sepeda motor ayah, Yamaha PX-80, warna merah, masih kerap lalu lalang dalam mimpiku. Malam tadi, ia menghampiriku.


Seperti yang dikisahkan kunang-kunang kepadaku. Malam itu, kami pulang dari rumah kakek, ayah membonceng abang di bagian depan, ibu duduk di bagian belakang, aku digendong ibu sehingga pandanganku menghadap ke belakang. Pada malam yang dingin itu, hanya aku saja yang menatap teduh wajah rembulan, sesekali ia merayuku, tak ada orang lain tahu. Aku bertanya pada ibu: “Wahai ibu, mengapakah gerangan rembulan mengikutiku dan masih tak hendak pulang? Bukankah malam semakin merambat? Tak takutkah ia dipeluk gelap?” Semakin erat ibu mendekapku. “Tidurlah Nak, sebentar lagi kita sampai”.

Payung langit dipenuhi anak-anak bintang yang berkerlap-kerlip memperhatikan kami. Seperti untaian cinta ayah yang mencium lembut rambut abang, seperti helaian cinta ibu yang menidurkanku dalam pelukannya, malam yang sangat biasa itu sesungguhnya teramat istimewa.

Bandung, 24 Februari 2016

Thursday, November 26, 2015

Menjumpai yang Tak Tergantikan

Sahabat, meminjam kata-kata dari seniman Ugo Untoro, yang pernah dituliskan oleh salah seorang sahabat saya, Tiaswening Maharsi, dalam bukunya "Dunia Simon":

"Tidak hanya berbunga-bunga, hatiku berbuah-buah."

Begitu pun yang saya rasakan ketika buku pertama saya "Harum Hujan Bulan November" ini diterbitkan. Buku ini adalah hadiah kecil saya untuk tiga orang yang paling saya cintai: Mamak, Mamo, dan Abang. Sahabat-sahabat pun dapat membaca kisah mereka yang saya tuliskan dalam buku ini.

Berikut, beberapa bait resensi yang dituliskan sahabat saya yang lain, FX. Widyatmoko (Koskow):

Kumpulan kisah yang disusun secara alur waktu ini - yaitu sejak 3 November 2011 hingga 26 Juni 2014 - berkisah tentang sesuatu yang tak tergantikan. Yang tak tergantikan ini tak lain kisah-kisah yang dialami Hesty: tentang kedua orangtuanya, kakaknya, ibu petugas di kantor pos, guru, teman-teman sekolah, kuliah, dan mereka yang dijumpainya tanpa direncana. Beberapa kisah yang ditulis juga dialamatkan kepada alam, pula syukur kepada Tuhan. Kisah-kisah tersebut ditulis Hesty dari berbagai tempat: Bandung, Zug, Zürich, Nijmegen, Groningen, Utrecht, dan yang paling sering Bochum, Jerman, tempat Hesty melanjutkan studi. Kisah-kisah juga berasal dari orangtuanya, yang mana kisah tersebut membuat Hesty pergi menjumpai yang dikisahkan tersebut (tentang saudara jauh).

Tulisan-tulisan Hesty, meski terkesan sebagai sebuah catatan perjalanan, namun lebih dekat kepada surat. Jika catatan perjalanan lebih mendekati pada laporan, sebaliknya tulisan Hesty dalam buku berjudul "Harum Hujan Bulan November" ini lebih memilih untuk tak sebatas pelaporan, namun memberi alasan untuk apa ia dilaporkan. Di antara kisah-kisah tersebut hadir beberapa puisi, hadir pula foto. Setidaknya terdapat perbedaan antara kisah-kisah yang dituliskan (dalam bentuk esai), puisi, dan foto dalam buku tersebut.

Pada kisah-kisah yang dituliskan dalam bentuk esai, Hesty kerap bertutur tentang orang-orang yang dijumpainya. Pada puisi dan foto, tersampaikan yang sebaliknya, Hesty mengajukan pertanyaan-pertanyaan, terkesan lebih tentang dirinya, mungkin tentang sendirinya (pula foto seekor bebek yang di bagian bawah foto tersebut disertakan pertanyaan "kayuhmu hendak ke mana?"). Mungkin ada alasan tertentu mengapa hal tersebut terkesan demikian. Namun, yang lebih utama yaitu pada kejujuran serta keterbukaan dalam menuliskan kisah-kisah dan bagaimana memberi bingkai untuknya.

Kisah-kisah Hesty pun dapat dipahami sebagai satu kesadaran mengenal yang lain, yang berbeda. Pada kesadaran inilah kisah-kisah yang dituliskan Hesty dapat dipandang menjadi perjuangan kita bersama yaitu saling menghargai sesama, alam, masa lalu, benda-benda, serta harapan hidup ke depan, terutama di zaman yang kian bergegas dan menyisa sepotong-potong cerita yang berlalu lalang, yang membuat kita gagal utuh menangkapnya karena diri kita (di)sibuk(kan) oleh aktivitas mengganti-ganti citra.

Orang-orang dalam kisah-kisah yang dituliskan Hesty pun menjadi seseorang. Bingkai seseorang dan yang tak tergantikan inilah yang bagi saya terasa mengesankan. Dituliskan oleh Hesty, bahwa: "...Kata orang, bepergianlah, maka engkau akan mengenal sahabat seperjalananmu, karena banyak hal yang akan teruji di sana..." (Bochum-Nijmegen dan Mimpi-Mimpi Masa Silam). Kisah-kisah yang dituliskan Hesty, baik melalui bentuk esai, puisi, dan foto, tak lain adalah usaha mengingat dan memberi harapan pada orang-orang, pada waktu, pada ruang, yang dari situ menempatkan kita pun menjadi seseorang bagi yang lain, bagi yang tidak tergantikan itu.

Teruntuk para sahabat yang telah membantu saya hingga buku ini lahir, saya haturkan terima kasih sebesar-besarnya dari hati yang paling dalam. Semoga karya kecil ini menemui perannya, memberikan sepercik manfaat bagi orang-orang di sekelilingnya.

Bandung, 8 Oktober 2015



Thursday, October 22, 2015

Sehelai Daun Jati

Pada sehelai daun jati
Tersangkut debu yang digerus sepi
Bersama sehelai daun jati
Luruh perlahan jingga mentari

Pada sehelai daun jati
kukirimkan rindu pada maple
yang gugur dicumbu angin
Bersama sehelai daun jati
Cikapundung mengalir deras
menyapu lembah-lembah Ruhr

Di tepi tanah lapang
sehelai daun jati mencuri dengar
parau suara meneriakkan janji
"Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater"
Toga-toga wangi, basah tersiram euforia
pada sore nan gemuruh

Patung Ganesha masih tertegun
ditemani juntai-juntai bunga September,
helai-helai daun jati,
dan kemarau yang enggan pergi.

Ganesha 10, 17 Oktober 2015










Tuesday, September 29, 2015

Bochum, Sungguh Aku Mencintaimu

Aku masih ingat, sore itu, langit kelabumu menyambutku malu-malu. Aku meringis menahan desir dingin angin musim gugur yang menerbangkan helai-helai daun maple merah jingga. Berminggu-minggu mendung seperti terperangkap tak hendak beranjak. Hanya sesekali kulihat matahari mengintip di celah-celah ranting pepohonan yang mulai meranggas.

Lalu sampailah pada suatu masa, ketika remah-remah salju berderai-derai diterbangkan angin. Alam pun diam berselimut beku, dan hatiku tiba-tiba didera rindu, rindu pada hangat matahari yang membelai lembut kulitku.

Engkau tak membiarkan rinduku menjadi biru. Perlahan-lahan matahari musim semi menyelinap di sela-sela pucuk daun hijau muda. Lalu, engkau hadiahkan padaku helai-helai kelopak magnolia merah muda, juga kuntum-kuntum bunga raps kuning merona.
  

Hujanmu tak pernah lama, aku pun jarang mendengar gemuruh petir menyambar-nyambar. Namun pernah kulihat anginmu memberontak menjelma badai, menumbangkan pepohonan yang melintang di jalan-jalan dan rel kereta.

Lalu, datanglah hari-hari nan panjang. Sampai bosan aku menanti senja yang seperti tak kunjung tiba, panas dan gerah terperangkap lamat-lamat di celah-celah jendela. Sesekali kulihat sekawanan kuda dan domba-domba merumput di padang-padang hijau tepi telaga. Ladang-ladang terhampar sejauh mata memandang hingga ke ujung cakrawala.

Kemudian pelan-pelan, matahari seperti terenggut dari haluannya. Dedaunan hijau tua perlahan-lahan menguning, menjingga, lalu tangkai jemarinya mencoba berpegang erat pada ujung-ujung rantingnya, namun tak lagi kuasa. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, musim pun datang dan pergi, silih berganti.

Bochum, engkau telah memenuhi hatiku hingga meluap-luap, mengajarkanku kebijaksanaan dalam setiap helai pergantian musimmu. Pada detik ini aku sadar, bahwa aku telah jatuh cinta, pada setiap jengkal tanahmu, pada setiap desir anginmu, pada setiap tetes hujan dan derai saljumu, pada setiap lirih bahasa cintamu.

Bochum, terima kasih telah mengizinkanku menghirup desir nafasmu. Terima kasih untuk semua cinta dan kenangan indah yang akan terukir selamanya dalam sanubariku, hingga akhir hayatku. Suatu hari nanti jika kau izinkan lagi kita bertemu, tentu 'kan kubawakan engkau segenggam rindu.

Bochum, 7 November 2011 - 1 Agustus 2015

Thursday, December 04, 2014

Refleksi Waktu

Waktu seperti benang yang diulurkan memanjang, terkadang menyimpul, kusut tak menemui ujungnya. Tetapi, selalu ada cara untuk mengurainya perlahan, menemui untaiannya yang mula-mula. Begitulah yang aku rasakan ketika kembali ke tanah air setelah bertahun-tahun tak pulang. Hari-hari berjalan sebiasa malam dan siang berganti dalam keteraturannya, seperti tak ada yang berubah. Tetapi ketika menoleh kembali ke belakang, aku takjub bagaimana waktu telah mengubah segalanya, pun aku sendiri yang perlahan digerogoti usia. Kini, aku merasakan bahwa waktu hanyalah lembar-lembar persinggahan yang mengantarkanku ke berbagai tempat dan peristiwa, menemui orang-orang yang juga datang silih berganti. Aku ingin tak satu pun menguasai hati ini, sehebat apa pun dia menggetarkan relung-relung terdalam, bilik-bilik rapuh yang seringkali tak terjamah logika. Wahai dunia, aku ingin engkau hanya bersemayam dalam genggaman tanganku saja, karena persinggahanku sesungguhnya tak akan lama.

Bochum, 4 Desember 2014

Pantai Katwijk, The Netherlands, musim semi 2013.


Thursday, July 24, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 27 Ramadhan, U-35 Sahabat Kami

Transportasi umum di Bochum, kota kecil kesayangan kami ini bisa dibilang sangat baik, aman, dan nyaman. Jalur-jalur utama dalam kota hingga ke wilayah pinggiran kota dilalui oleh U-Bahn, tram dan bus. U-Bahn adalah kepanjangan dari Untergrund-Bahn, jika diartikan secara bebas menjadi "kereta bawah tanah". Pada kenyataannya U-Bahn di Bochum berwujud kereta "mini" 2 gerbong yang berhenti di halte-halte bawah tanah maupun halte yang dibangun di permukaan, untuk melayani transportasi dalam kota.

Salah satu jalur utama yang membelah Bochum dari utara ke selatan adalah jalur U-Bahn U-35 yang menghubungkan Schloß Strünkede, sebuah istana peninggalan bangsawan Roman dari abad ke-12, dengan Hustadt di bagian selatan yang terletak tak jauh dari tepian Sungai Ruhr dan Danau Kemnadersee di selatan kampus Ruhr Universität Bochum. U-35 juga berhenti di stasiun utama Bochum Hauptbahnhof dan 2 kampus terbesar di Bochum, Ruhr Universität Bochum dan Fachhochschule Bochum (Bochum University of Applied Science). Maka U-35 lah yang menjadi moda transportasi utama yang kutumpangi sehari-hari.

Aku masih ingat ketika pertama kali menjadi penumpang U-35. Pagi itu, di akhir musim gugur 2011, kabut tipis menyelimuti Bochum, udara dingin mendesir menerbangkan dedaunan dari ranting-ranting pohon. Halte Markstraße yang bisa kucapai dengan berjalan kaki 5 menit dari asrama telah dipenuhi oleh  antrian penumpang yang rata-rata mahasiswa. Karena ini kali pertama, maka aku mencoba bertanya ke salah satu penumpang untuk memastikan apakah aku tidak menuju arah yang salah.

Sejak pagi itu, U-35 menjadi sahabat baikku. Dia selalu setia mengantarku ke sana ke mari, tak peduli hujan, badai, salju, siang maupun malam. Dia hampir selalu tiba tepat waktu. Selama aku di sini, hanya tiga kali seingatku U-35 tak beroperasi, yaitu ketika protes besar-besaran digelar oleh serikat buruh di Ruhr area dan sekitarnya. Praktis, transportasi umum di Bochum lumpuh total. Semua U-Bahn, tram, dan bus dalam kota, termasuk kereta regional antar kota dihentikan operasinya. Maka mau tak mau aku harus berjalan kaki ke kampus, melewati deretan hutan kecil dan pemukiman. Kalau cuaca sedang bagus, perjalanannya akan terasa menyenangkan, tetapi ketika musim dingin mulai mengintai, perjalanan sekitar 25 menit itu akan terasa cukup menantang. Berjalan di bawah udara beku dalam waktu sesingkat itu pernah membuat hidungku sampai berdarah.

Interior U-35 dirancang sedemikian rupa sehingga bisa menampung para penumpang dengan optimal. Di beberapa bagian disediakan space khusus untuk mereka yang membawa sepeda atau kereta bayi, termasuk beberapa tempat duduk yang disediakan untuk penumpang difabel, manula, ibu hamil dan orang sakit. Pada jam-jam sibuk, U-35 akan dipenuhi penumpang, maka hampir setiap pagi jarang sekali aku mendapat tempat duduk. Namun, mau sepadat apapun antriannya, tak pernah aku melihat penumpang yang berebut dan saling mendorong tak terkendali. Semuanya tetap berjalan tertib. Tempelan iklan di dalam gerbongnya ditata teratur, badan gerbongnya berwarna putih keabuan berlist merah, corak kain jok tempat duduknya berwarna merah cerah, lantainya selalu bersih dan dering sirine pengaman pintunya tak kalah merdu berpadu dengan rekaman suara pemaklumat yang mengumumkan nama setiap halte pemberhentian. Begitulah U-35 sahabat kami melalui hari-harinya, dia telah bersolek sejak pagi buta untuk mengantarkan orang-orang yang mencintainya.

U-35 mewarnai sebagian besar perjalananku. Aku bertemu orang-orang asing yang tak kukenal dari berbagai bangsa, juga orang-orang yang kemudian menjadi sahabat dan saudara. Aku mendengar bahasa-bahasa asing yang dituturkan oleh penutur aslinya. Aku melihat bagaimana hormatnya para penumpang kepada manula dan orang difabel. Namun di sisi lain, aku juga mengagumi kemandirian mereka. Di sini tak jarang aku melihat para manula dan orang difabel yang bepergian sendiri, karena fasilitas umum yang disediakan negara memang sangat mendukung. Tetapi tetap saja, semuanya tak semudah yang kita bayangkan dan tetap butuh keberanian. Lain waktu aku juga sering bertemu dengan pegawai cleaning service yang bertugas membersihkan halte, seorang bapak berwajah Asia Selatan, seorang ibu berambut keriting berwajah Latin, dan satu orang lagi bapak berperawakan besar dan berambut pirang. Jika tiba musim dingin dan bersalju, pekerjaan mereka menjadi bertambah, mengeruk salju dan menaburkan remah-remah pasir dan garam agar orang-orang tak terpeleset.

Setiap hari, selalu saja aku bertemu orang-orang dengan raut wajah yang berbeda-beda. Seorang ibu setengah baya yang menatap kosong keluar jendela, anak kecil yang sesenggukan karena baru berhenti menangis, sepasang kekasih yang saling menatap malu-malu, seorang mahasiswa yang sedang serius membolak-balik halaman buku, seorang bapak yang membaca headline berita pagi dari surat kabar terbitan lokal, seorang ayah yang menggandeng tangan anak perempuannya, dan aku yang tak bosan-bosan menyaksikan denyut kehidupan yang masih terus mengalir di dalam U-35, drama kehidupan yang menyimpan sejuta cerita.

Baru kali ini, aku benar-benar kehilangan U-35. Sejak tanggal 19 yang lalu hingga besok, seminggu penuh U-35 dari Wasserstraße menuju Hustadt tak beroperasi. Kabarnya ada perbaikan beberapa jalur rel utama dan penyelesaian sebuah halte baru. U-35 dalam beberapa hari ini digantikan oleh bus khusus yang diberi nama U-35E. Maka benarlah adanya, sesuatu itu terkadang akan terasa sangat bernilai ketika dia tiada. Ketika masih ada dan tersedia sebagaimana biasa, maka kita sering melupakan jasanya. U-35 sahabat kami, terima kasih yang tak terhingga kuucapkan untuk setiap orang yang telah bekerja keras untuk menjadikanmu ada.

Bochum, 24 Juli 2014 

Tuesday, July 22, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 25 Ramadhan, Menikmati Keindahan Jerman bersama WandernRuhr

Di akhir musim panas tahun lalu, aku dipertemukan dengan sekelompok anak muda yang mempunyai kegemaran yang sama denganku, bertualang menikmati alam. Kata orang, persahabatan itu bukan lantaran lamanya saling mengenal, tapi kecenderungan jiwa, itu saja. Aku menemukan mimpi-mimpiku bersama sahabat-sahabatku ini, menjelajahi pelosok hutan, menikmati harum rerumputan dan desir angin belaian alam. Pada sehelai pagi nan sejuk di awal September tahun lalu, sebuah perjalanan panjang pun dimulai. Perjalanan tentang persahabatan dan butir-butir rindu yang kami kumpulkan untuk tanah kelahiran.  


Aku percaya, setiap pertemuan di dunia ini terjadi bukan karena kebetulan. Seorang guruku pernah bercerita, bahwa segala fenomena acak di alam ini disebut acak karena manusia saja yang belum menemukan polanya. Sesungguhnya memang ada formula-formula yang telah tersusun dengan sempurna di balik segala peristiwa. Begitu pula dengan pertemuanku dengan sahabat-sahabatku ini, seperti tanpa sengaja dan tanpa rencana. Pagi itu, embun masih tersisa pada helai-helai daun dan rerumputan. Hari-hari di awal September adalah masa-masa pergantian musim, ketika musim panas belum sepenuhnya beranjak, tetapi musim gugur pun belum sepenuhnya tiba. Petualangan pertama kami dimulai pada pagi yang masih sepi, ketika gerbong-gerbong kereta regional menuju Heimbach mengantarkan kami ke Taman Nasional Eifel, sebuah taman nasional yang terletak di sebelah tenggara kota Aachen.

Hari itu sekaligus menjadi pengalaman pertama bagiku menjelajahi taman nasional di Jerman. Aku kagum pada sistem yang diatur oleh pemerintah Jerman untuk melestarikan alam tanpa mengesampingkan potensi lokal yang sudah lama terbangun di sekitar taman nasional. Di sepanjang wilayah perbatasan hutan dan pemukiman, para penduduk tetap bisa mengusahakan ladang dan tanah pertanian. Sistem yang terintegrasi ini kemudian dibangun untuk dijadikan sumber perekonomian yang lain, pariwisata. Area taman nasional sekaligus juga menjadi guru, layar terkembang dari sang alam. Salah satu kearifan alam yang kukagumi dari orang Jerman adalah bagaimana mereka menjaga sumber-sumber air. Sungai terpencil di tengah hutan akan sama jernihnya dengan danau-danau di pinggiran kota atau aliran selokan di sepanjang jalan pedesaan.


Sejak petualangan pertama itu, kami menjadi termotivasi untuk mengunjungi taman-taman nasional lainnya di sekitar negara bagian Nordrhein-Westfalen. Sepanjang musim gugur sampai menjelang musim dingin tahun lalu setidaknya kami mengunjungi 6 kawasan hutan dan pedesaan sampai ke daerah perbatasan Belgia dan Belanda. Dalam setiap perjalanan, aku menemukan kerinduan pada petualangan-petualangan masa kecilku, berguru pada alam. Aku pun menemukan sahabat-sahabat baru, yang kemudian menjadi seperti saudaraku sendiri di perantauan ini. Kegemaran yang sama menjelajah alam, memotret, dan bepergian bersama membuat persahabatan kami semakin erat. Maka pada suatu hari, terbentuklah klub para petualang nekat yang lalu kami namakan WandernRuhr. Wandern diambil dari bahasa Jerman yang berarti berjalan kaki atau hiking dalam bahasa Inggris. Lalu, Ruhr adalah nama dari sebuah sungai yang mengalir melintasi kota-kota di mana kami tinggal, mulai dari Dortmund, Bochum, Essen, Duisburg, Mülheim, dan sekitarnya. Sungai Ruhr merupakan anak sungai Rhein nan legendaris itu, sungai yang menjadi salah satu urat nadi perekonomian wilayah Jerman bagian barat hingga Belanda.  

Dalam setiap petualangan bersama WandernRuhr, aku belajar tentang arti kedisiplinan dan kekompakan. Untuk mencapai kawasan hutan yang ingin kami kunjungi, biasanya kami sudah harus stand by di stasiun yang menjadi titik tolak perjalanan sejak pagi buta. Keterlambatan 5 menit saja bisa menyebabkan perubahan jadwal tiba di tempat tujuan hingga berjam-jam. Pada setiap kesempatan, kami menjadi mengerti artinya saling berbagi, menghormati dan bertoleransi. Selain menerobos kawasan hutan, kami biasanya melintasi wilayah pedesaan yang cantik dengan tanah-tanah pertanian yang subur. Pada musim panas, sapi-sapi gemuk, domba dan kuda-kuda dibiarkan berkeliaran di sekitar ladang dan padang rumput. Menikmati siraman matahari yang masih cukup hangat menjelang musim gugur.

Dalam beberapa kesempatan, aku bertemu pula dengan penduduk lokal. Pada suatu sore ketika menunggu bis pulang dari kawasan hutan Winterberg di Elkeringhausen, aku sempat bertegur sapa dengan seorang nenek yang tengah menyapu daun-daun yang berguguran di halaman rumahnya. Sang nenek sejak tadi tersenyum ramah sambil memperhatikan kami dari kejauhan. Beliau tiba-tiba menghampiri dan bertanya padaku: "Kalian mengenakan Kopftuch (kerudung), berarti kalian Muslim ya?" Setengah terkejut aku mendengar pertanyaan sang nenek. Aku terharu, di desa sesepi ini, yang bahkan kendaraan pun jarang sekali lewat di depan rumahnya, nenek baik hati ini mengenal kehidupan Muslim dan tanpa menaruh curiga menyapaku dengan ramah bahkan mengajak berbincang-bincang. Sang nenek melanjutkan, "Lalu dengan tetap berbusana seperti ini (sambil menunjuk kerudung dan rok yang kukenakan), kalian tadi menjelajah hutan dan turun naik perbukitan? Hebat sekali!" "Iya, Nek" jawabku mantap. Aku mengucapkan terima kasih pada sang nenek sebelum pamit meninggalkan desa yang perlahan ditelan kabut pada sore musim gugur itu, sebuah desa nan cantik yang tak akan aku lupakan.

Riak-riak aliran sungai yang memantulkan bias-bias matahari menjelang senja, helai-helai daun yang merona jingga, semak dan rerumputan yang menyembunyikan jamur-jamur cantik berwarna-warni, hewan-hewan ternak yang bebas berkeliaran di tepi ladang, kucing-kucing yang malu-malu mengintip dari teras rumah pemiliknya, serta perahu yang teronggok bisu di permukaan telaga. Serpih-serpih kenangan dari setiap perjalananku bersama WandernRuhr akan senantiasa memenuhi lorong-lorong hatiku, meskipun nanti ketika kami tak bersama-sama lagi. Berikut ini catatan kenang-kenangan yang pernah kutulis dan foto-foto yang kuabadikan dari sebagian perjalanan kami. Dokumentasi petualangan WandernRuhr biasanya kami kumpulkan pada halaman Facebook di bawah ini: 

"Sehelai pagi nan sejuk mengabarkan rindu yang mengawang rendah di pelupuk mata. Rindu yang tak tahu aku definisinya, yang tiba-tiba saja menelusup celah-celah kenangan ribuan hari yang telah lalu, dahulu. Tak segores awan menghias langit, mentari betah berlama-lama hingga senja tiba, merona secerah biru samudera. Riak-riak telaga tersiram cahaya, kemilau tak ada habisnya. Langkah-langkah kakiku seperti menelusur masa lalu, saat mimpi kurajut dari pilinan benang semangat yang kukumpulkan satu-persatu. Aku berhenti, angin diam, syahdu alam mengalun dalam pejam. "Masih ingatkah engkau perjalanan kita waktu itu?" Begitu sepenggal rindu yang mungkin kau lantunkan nanti, dalam ribuan hari yang masih kutunggu, mungkin juga kau". [Taman Nasional Eifel, Heimbach, September 2013].

"Harum rumput basah dibasuh embun. Ramah mentari malu-malu mengintip dari celah-celah gemunung, menyeruak halimun yang diam-diam menunggu. Kerlip lampu dari kejauhan samar-samar menari, ditingkahi semburat bayangan pagi. Ranting masih diam, angin pun masih malas merayu". [Elkeringhausen, Winterberg, Oktober 2013]


Bochum, 22 Juli 2014

Friday, July 18, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 21 Ramadhan, Memori Bratislava, Slovakia

Musim panas seperti baru menampakkan wajahnya yang malu-malu sejak awal Ramadhan tahun ini. Hawa panas, pengap dan gerah menyergap dari celah-celah jendela sejak malam tadi. 32 derajat Celcius ketika kulirik penunjuk cuaca di komputerku, pantas saja. Begitu jauhnya perbedaan temperatur udara antara musim panas dan musim dingin yang dirasakan oleh orang-orang di negara 4 musim. Aku jadi teringat perjalanan bersama sahabatku Mira di bulan Desember 2012 yang lalu, ketika musim dingin mulai menggigit, menyelimuti lamat-lamat bumi Eropa Timur.

Kami menumpang bis milik sebuah perusahaan transportasi Ceko dari Prague menuju Bratislava. Perjalanan sekitar 4 jam itu terasa lebih lama dari seharusnya, entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Salju mulai turun perlahan, lalu rinai-rinainya seperti tumpah ruah berhamburan dari langit. Kami yang memilih tempat duduk paling depan, tepat di belakang sopir, bisa menyaksikan langsung penampakan jalan raya yang kami lalui sepanjang perjalanan. Seperti di negeri dongeng antah berantah, aku ingat perjalanan sore itu, bis yang membawa kami seperti tertelan kabut salju. Jarak pandang mungkin tak lebih dari 3 meter. Pak sopir melambatkan kecepatan bis, di kiri kanan, kulihat samar-samar padang-padang yang tertutup salju, muram, kelabu berselimut beku.

Singkat cerita, sampailah kami di Bratislava, di sebuah stasiun bis yang sepi dan tampak tak begitu terawat. Tumpukan salju yang setengah mencair bercampur tanah kecoklatan membuat suasana terminal semakin kotor. Aku merapatkan retsleting jaket dan mengenakan sarung tanganku, angin musim dingin kali ini rupanya tak kalah mengiris. Tak ada catatan khusus mengenai kota tua di jantung Eropa Timur ini, sebelum kami menginjakkan kaki di sana, di sebuah negara “baru” pecahan Cekoslovakia. Seperti umumnya kota-kota di Eropa, Bratislava juga relatif sepi di hari natal.

Pegunungan di sekitar Devin Castle, Bratislava
Kami menginap di sebuah hostel di pusat kota, tak jauh dari gedung kedutaan Jerman dan Amerika Serikat. Pemilik hostel ini adalah seorang bapak setengah baya yang sangat ramah dan fasih berbahasa Inggris. Karena sedang liburan natal, semua pegawai hostel mengambil cuti. Semua kamar pun kosong, sehingga kami seperti menyewa sebuah hostel tak berpenghuni. Sang bapak pemilik hostel tinggal agak jauh dari situ, sehingga dia hanya datang setiap pagi untuk menyiapkan sarapan kami, selebihnya hanya kami berdua, menginap di bangunan sebesar rumah 3 lantai itu. Kami bebas menggunakan ruangan mana saja yang kami suka dan kami dipinjami kunci sendiri.

Di lantai bawah, sekaligus lobi tempat menerima tamu, terdapat Cafe dengan interior yang unik, atau kalau tak boleh dibilang seram. Betapa tidak, 3 boneka nenek sihir menggantung di langit-langitnya, menyeringai di bawah temaram lampu. Aksesoris lainnya berupa barang-barang antik dan koleksi uang kertas dari berbagai negara yang ditempel di salah satu dindingnya. Kami menemukan pecahan 500 Rupiah bergambar orang utan yang bergaya bersama wajah-wajah tokoh dari berbagai negara pada pecahan uang lainnya.

Di hari kedua, pegawai hostel sudah kembali bekerja. Seorang bapak yang membantu pemilik hostel mengelola Cafe ternyata tak kalah ramah, namun dia tak bisa berbahasa Inggris. Aku mencoba-coba saja mengajaknya berbicara dalam bahasa Jerman, dan ternyata dia menimpalinya. Transportasi umum di Bratislava adalah bis, tram dan taksi. Slovakia merupakan salah satu negara Eropa Timur pertama yang menggunakan mata uang Euro. Kesan semrawut masih terlihat di beberapa sudut kota. Namun, kesan paling dalam dari kunjungan kami ke kota di tepian Danube ini adalah keramahan penduduknya. Beberapa kali kami dibantu oleh orang-orang yang tak kami kenal ketika kami terlihat bingung melihat jadwal bis di sebuah terminal. Walaupun sebagian besar dari mereka tak bisa berbahasa Inggris, namun mereka berusaha membantu kami, bahkan dengan bahasa isyarat. Pernah juga pada suatu pagi, seorang kakek menawarkan diri untuk memotret kami tak jauh dari jembatan Novy Most yang membelah Danube, juga dengan bahasa isyarat. Ternyata keramahan pun tak ubahnya kejujuran, mata uang yang berlaku di mana-mana, Kawan. 

Bochum, 18 Juli 2014

Thursday, July 17, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 20 Ramadhan, Kampung Halaman

Ramadhan hampir memasuki babak ke tiga, babak terakhir menuju hari raya. Ada perasaan sedih bercampur bahagia. Sedih, karena hanya tinggal beberapa hari lagi kita akan berpisah dengannya. Tapi sekaligus bahagia, karena tak lama lagi akan tiba pula hari raya. Dulu, ketika aku masih di Bandung, di minggu-minggu terakhir bulan Ramadhan, aku sudah bersiap-siap untuk pulang ke kampung halaman. Aku biasanya menumpang mobil travel yang berangkat pagi buta, lalu sampai di bandara Soekarno-Hatta ketika kantuk belum reda. Penerbangan dari Jakarta ke Tanjongpandan tak memakan waktu lama, 45 menit saja.

Tanjongpandan, tempat kelahiranku itu, bagiku selamanya tak pernah berubah. Wangi paginya, terik mataharinya, debu jalanannya, riuh pasarnya, selalu menyimpan kenangan yang tak musnah dilindas zaman. Sebenarnya rutinitas mudik bagiku lebih dari sekedar pulang. Bukan hanya menemukan rumah, tapi lebih dari itu, aku ingin menemui aku, diriku sendiri di masa lalu, yang belum hanyut oleh gelombang pasang. Aku yang hanya mengenal batas dermaga sebagai ujung dunia. Aku yang hanya tahu kerontang kemarau dan hujan yang tumpah ruah memenuhi sungai, lalu dihanyutkan mimpi menuju muara.

Perairan Pulau lengkuas, Belitong
Aku ingin menemui berupa-rupa kesederhanaan yang disembunyikan zaman dari hiruk pikuk kebaruan. Meskipun tak bisa terlalu sering pulang, aku bersyukur masih memiliki kampung halaman. Kampung halaman adalah representasi semangat yang mula-mula, yang muncul pada pagi jingga nan teramat muda. Kampung halaman adalah representasi rindu, yang tumbuh di sela-sela ombak yang terhempas mengharu biru. Kampung halaman adalah tempat kembali, bingkai yang menunggu keping-keping mozaiknya tersusun kembali, suatu hari nanti.

Bochum, 17 Juli 2014

Monday, July 14, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 17 Ramadhan, Hari-Hari Pertama Masuk Sekolah

Hari ini, di hari ke 17 Ramadhan yang jatuh bertepatan dengan hari senin adalah hari yang istimewa. Setidaknya bagi beberapa sahabat, sanak saudara, dan handai taulanku yang memiliki anak berusia sekitar 6 hingga 7 tahun. Hari ini adalah hari pertama anak-anak mereka masuk Sekolah Dasar, sebuah titik awal perjalanan panjang yang akan mereka tempuh setidaknya dalam 12 tahun ke depan. Sebagian ada pula yang sudah mengawali lebih dahulu sekitar satu pekan.

Tidak seperti di Jerman, anak-anak di Indonesia, mulai dari pendidikan dasar hingga sekolah menengah diwajibkan memakai seragam, lengkap dengan topi dan dasi. Aku masih ingat wangi kain pakaian seragam yang baru dibeli ibuku di Pasar Dalam, Tanjongpandan. Pasarnya pun sekarang sudah tak ada lagi, sudah berubah menjadi area taman dan Tugu Bundaran Satam yang menjadi ikon Kota Tanjongpandan. Rok merah model lipat-lipat, kemeja putih yang kerahnya masih kaku dan baru sedikit lembut setelah beberapa kali dicuci, dasi dengan tali karet yang masih sempit mencekik leher, sepatu baru yang masih agak kebesaran, lalu topi yang harus diberi nama di bagian dalamnya karena rawan tertukar. Seragam SD adalah seragam yang paling kuingat seumur hidupku, seragam penuh kenangan.

Di hari pertama masuk SD dulu, aku didaftarkan orang tuaku di SD yang terletak di depan rumah kakek, SD Negeri 9 Tanjongpandan, SD yang berbeda dengan abang. Tiga tahun sebelumnya abang didaftarkan ayah di SD PN Timah, yang kemudian menjadi SD Negeri 39 Tanjongpandan. Memori hari pertama yang paling kuingat adalah ketika kami, murid-murid kelas 1 dikumpulkan oleh guru kelas kami, Bu Emi, untuk difoto satu per satu. Pas foto yang kemudian akan ditempel di halaman pertama Buku Rapor kami. Foto itu masih disimpan hingga hari ini oleh ibuku, wajahku tegang dan agak cemberut, karena kuingat banyak sekali anak-anak lain yang menangis di hari istimewa itu. Aku gusar melihat tingkah mereka.

Pelajaran yang paling kusukai sejak pekan pertama kelas 1 adalah Berhitung dan Menggambar. Pelajaran-pelajaran lain aku kurang suka. Aku ingat dulu ketika guru kami memberikan soal ulangan untuk pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila), aku protes dan tak mau mengerjakan sama sekali. Entah apa yang ada dalam pikiranku ketika itu. Protesku rupanya terus berlanjut ketika aku hanya mendapat peringkat kelas urutan ke 11, padahal aku yakin, nilaiku tak seburuk itu. Siang itu, aku pulang dengan wajah cemberut, aku minta pindah. Kalau tak dikabulkan, aku mengancam akan mogok sekolah. Ayahku kalang kabut, maka sejak kelas 2 aku dipindahkan ayah ke SD Negeri 39, SD yang sama dengan abang.

Ternyata aku lebih betah di sekolah yang baru. Jumlah murid dalam 1 kelas tak sebanyak waktu di sekolah yang lama. Kami menjadi sangat dekat satu sama lain. Aku menamatkan Sekolah Dasarku di sekolah yang terletak tak jauh dari Pantai Tanjong Pendam ini. Lima tahun masa kanak-kanak yang sangat berharga dan penuh kenangan. Di sekolah ini, pertama kali aku memiliki kawan anak nelayan. Lalu ada pula seorang kawan yang usianya terpaut sekitar 5 tahun lebih tua dari kami. Dialah kakak tertua yang selalu membela dan melindungi kami. Di sekolah ini pula, kepalaku pernah terluka. Pada suatu siang yang terik, ketika sedang asyik berlari-lari bersama kawan-kawanku, tiba-tiba tanpa sengaja dahiku membentur tiang besi penyangga ring basket. Darah segar mengucur, kawan-kawanku berteriak-teriak karena panik. Tetapi, aku tak sedikit pun menangis. Siang itu ketika ibuku datang menjemput dengan wajah pucat, aku malah tersenyum bangga. Di sekolah ini aku belajar untuk menjadi pemberani dan tidak cengeng, karena aku tahu banyak kawan-kawanku yang lebih tidak beruntung dariku.
 
Senja di Pantai Tanjong Pendam
Hari perpisahan SD adalah hari perpisahan sekolah paling sedih yang pernah aku rasakan. Karena ikatan emosional yang terbangun selama 5 tahun itu membuat kami sudah seperti saudara. Siang itu, kuperhatikan wajah kawan-kawan sekelasku satu per satu. Aku tak menangis karena gengsi, sebab aku tak dikenal sebagai anak yang cengeng. Padahal, bangunan sekolah rasanya seperti doyong dan akan roboh menimpaku. Aku sedih karena kami tak bisa lagi menghabiskan sore di sekitar dermaga dan pesisir perkampungan nelayan sepanjang Pantai Tanjong Pendam dan Air Saga. Kami tak bisa lagi bersepeda berkejar-kejaran hingga ujung Jeramba Kubu, yang ketika itu masih terbuat dari papan-papan kayu lusuh. Kami tak bisa lagi mandi air hujan lalu berlari-lari memanjat anak-anak tangga benteng Belanda. Begitu kami menamakan reruntuhan bangunan di bawah pohon beringin samping sekolah kami. Lalu ketika tiba bulan Agustus, bulan kemerdekaan yang identik dengan berbagai perlombaan, aku pernah memimpin kawan-kawanku mengikuti lomba baris-berbaris antar sekolah. Walaupun kemudian kami tak juara, tetapi selalu ada kenang-kenangan yang tak lekang dimakan usia.

Hari ini, melihat foto-foto anak-anak dengan seragam baru, ingin rasanya aku berpesan. "Nak, habiskanlah masa SD-mu dengan bermain sepuas-puasnya. Carilah sahabat sebanyak-banyaknya. Habiskan waktumu untuk mengenal alam dan ciptaan-Nya yang sungguh luar biasa. Berlarilah sejah-jauhnya, melompatlah setinggi-tingginya. Karena nanti di masa depan akan kau hadapi dunia yang kian sombong dan tak peduli. Dunia tak akan iba pada orang-orang pengecut dan tak punya jati diri. Maka jadilah pemberani!"

Bochum, 14 Juli 2014

Friday, July 11, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 14 Ramadhan, Sehelai Sore di Pantai Katwijk

Ramadhan sudah hampir memasuki paruh kedua, hanya sekejap mata. Hujan dan mendung yang menyelimuti Bochum akhir-akhir ini membuatku rindu pada kehangatan pantai. Aku dilahirkan jauh di negeri tropis, di tanah pesisir yang tersiram terik matahari sepanjang tahun. Jerman diselimuti musim dingin selama berbulan-bulan, bahkan hawa dingin sudah kami rasakan sejak permulaan musim gugur dan masih pula betah menemani hingga awal musim semi. Mungkin tak lebih dari 3 bulan, tanah ini benar-benar merasakan hawa hangat dan terik matahari sempurna. Di bulan-bulan musim panas pun tak jarang pula hujan dan badai menghembuskan hawa dingin yang tidak menyenangkan. Maka tak jarang aku merindukan siraman hangat mentari yang seperti tak habis-habis tercurah dari langit, menyulap butiran pasir di tepi pantai menjadi kerlip-kerlip putih yang menyilaukan. Pantai-pantai nan elok terhampar luas, sepanjang pesisir bagian barat Pulau Belitong, tanah kelahiranku. 

Di Eropa, kami hanya bisa mengunjungi pantai pada bulan-bulan tertentu, sejak sekitar pertengahan Mei hingga awal September. Selebihnya, pantai hanya akan menjadi mimpi buruk. Angin dingin berhembus menusuk tulang, air laut pun bahkan tak jarang sampai membeku. Di akhir musim semi tahun lalu, aku berkesempatan mengunjungi seorang sahabat lama, Hani, yang ketika itu sedang menempuh pendidikan Masternya di Leiden. Hani paham kalau aku merindukan laut, maka aku diajaknya menghabiskan sore nan cerah di Pantai Katwijk, sekitar setengah jam dari Leiden. Saat itulah kali pertama aku berkunjung ke pantai Eropa.

Pantai yang membentang panjang itu diselimuti pasir berwarna kelabu kecoklatan, bukan putih seperti di kampung halamanku. Tak ada sebatang pohon pun yang kutemui di sana, hanya semak rerumputan berdaun panjang dan ramping, sedikit menyerupai ilalang. Lalu, di sepanjang punggung dataran tanah yang lebih tinggi, berdiri beberapa bangunan, restoran-restoran serta penginapan. Saat itu, musim panas belum sepenuhnya menghampiri kami, semilir angin masih lumayan dingin. Aku berjalan menyusuri bibir pantai. Air lautnya seperti mengandung lumpur, kecoklatan dan berbuih. Melihat pantai seperti ini pun, orang Belanda sudah sangat bahagia. Aku membayangkan jika mereka melihat biru jernih air laut sepanjang bibir pantai berpasir putih di kampung halamanku. Mungkin mereka tak akan memilih pulang. Aku tak kecewa, setidaknya kerinduanku pada laut selama hampir dua tahun sedikit terobati. Aku mencari kesenangan sendiri, memperhatikan gerak-gerik orang-orang di tepi pantai yang menghabiskan sore di akhir musim semi itu dengan penuh keceriaan. Berikut beberapa foto yang sempat kuabadikan.


Bochum, 11 Juli 2014