Monday, July 14, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 17 Ramadhan, Hari-Hari Pertama Masuk Sekolah

Hari ini, di hari ke 17 Ramadhan yang jatuh bertepatan dengan hari senin adalah hari yang istimewa. Setidaknya bagi beberapa sahabat, sanak saudara, dan handai taulanku yang memiliki anak berusia sekitar 6 hingga 7 tahun. Hari ini adalah hari pertama anak-anak mereka masuk Sekolah Dasar, sebuah titik awal perjalanan panjang yang akan mereka tempuh setidaknya dalam 12 tahun ke depan. Sebagian ada pula yang sudah mengawali lebih dahulu sekitar satu pekan.

Tidak seperti di Jerman, anak-anak di Indonesia, mulai dari pendidikan dasar hingga sekolah menengah diwajibkan memakai seragam, lengkap dengan topi dan dasi. Aku masih ingat wangi kain pakaian seragam yang baru dibeli ibuku di Pasar Dalam, Tanjongpandan. Pasarnya pun sekarang sudah tak ada lagi, sudah berubah menjadi area taman dan Tugu Bundaran Satam yang menjadi ikon Kota Tanjongpandan. Rok merah model lipat-lipat, kemeja putih yang kerahnya masih kaku dan baru sedikit lembut setelah beberapa kali dicuci, dasi dengan tali karet yang masih sempit mencekik leher, sepatu baru yang masih agak kebesaran, lalu topi yang harus diberi nama di bagian dalamnya karena rawan tertukar. Seragam SD adalah seragam yang paling kuingat seumur hidupku, seragam penuh kenangan.

Di hari pertama masuk SD dulu, aku didaftarkan orang tuaku di SD yang terletak di depan rumah kakek, SD Negeri 9 Tanjongpandan, SD yang berbeda dengan abang. Tiga tahun sebelumnya abang didaftarkan ayah di SD PN Timah, yang kemudian menjadi SD Negeri 39 Tanjongpandan. Memori hari pertama yang paling kuingat adalah ketika kami, murid-murid kelas 1 dikumpulkan oleh guru kelas kami, Bu Emi, untuk difoto satu per satu. Pas foto yang kemudian akan ditempel di halaman pertama Buku Rapor kami. Foto itu masih disimpan hingga hari ini oleh ibuku, wajahku tegang dan agak cemberut, karena kuingat banyak sekali anak-anak lain yang menangis di hari istimewa itu. Aku gusar melihat tingkah mereka.

Pelajaran yang paling kusukai sejak pekan pertama kelas 1 adalah Berhitung dan Menggambar. Pelajaran-pelajaran lain aku kurang suka. Aku ingat dulu ketika guru kami memberikan soal ulangan untuk pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila), aku protes dan tak mau mengerjakan sama sekali. Entah apa yang ada dalam pikiranku ketika itu. Protesku rupanya terus berlanjut ketika aku hanya mendapat peringkat kelas urutan ke 11, padahal aku yakin, nilaiku tak seburuk itu. Siang itu, aku pulang dengan wajah cemberut, aku minta pindah. Kalau tak dikabulkan, aku mengancam akan mogok sekolah. Ayahku kalang kabut, maka sejak kelas 2 aku dipindahkan ayah ke SD Negeri 39, SD yang sama dengan abang.

Ternyata aku lebih betah di sekolah yang baru. Jumlah murid dalam 1 kelas tak sebanyak waktu di sekolah yang lama. Kami menjadi sangat dekat satu sama lain. Aku menamatkan Sekolah Dasarku di sekolah yang terletak tak jauh dari Pantai Tanjong Pendam ini. Lima tahun masa kanak-kanak yang sangat berharga dan penuh kenangan. Di sekolah ini, pertama kali aku memiliki kawan anak nelayan. Lalu ada pula seorang kawan yang usianya terpaut sekitar 5 tahun lebih tua dari kami. Dialah kakak tertua yang selalu membela dan melindungi kami. Di sekolah ini pula, kepalaku pernah terluka. Pada suatu siang yang terik, ketika sedang asyik berlari-lari bersama kawan-kawanku, tiba-tiba tanpa sengaja dahiku membentur tiang besi penyangga ring basket. Darah segar mengucur, kawan-kawanku berteriak-teriak karena panik. Tetapi, aku tak sedikit pun menangis. Siang itu ketika ibuku datang menjemput dengan wajah pucat, aku malah tersenyum bangga. Di sekolah ini aku belajar untuk menjadi pemberani dan tidak cengeng, karena aku tahu banyak kawan-kawanku yang lebih tidak beruntung dariku.
 
Senja di Pantai Tanjong Pendam
Hari perpisahan SD adalah hari perpisahan sekolah paling sedih yang pernah aku rasakan. Karena ikatan emosional yang terbangun selama 5 tahun itu membuat kami sudah seperti saudara. Siang itu, kuperhatikan wajah kawan-kawan sekelasku satu per satu. Aku tak menangis karena gengsi, sebab aku tak dikenal sebagai anak yang cengeng. Padahal, bangunan sekolah rasanya seperti doyong dan akan roboh menimpaku. Aku sedih karena kami tak bisa lagi menghabiskan sore di sekitar dermaga dan pesisir perkampungan nelayan sepanjang Pantai Tanjong Pendam dan Air Saga. Kami tak bisa lagi bersepeda berkejar-kejaran hingga ujung Jeramba Kubu, yang ketika itu masih terbuat dari papan-papan kayu lusuh. Kami tak bisa lagi mandi air hujan lalu berlari-lari memanjat anak-anak tangga benteng Belanda. Begitu kami menamakan reruntuhan bangunan di bawah pohon beringin samping sekolah kami. Lalu ketika tiba bulan Agustus, bulan kemerdekaan yang identik dengan berbagai perlombaan, aku pernah memimpin kawan-kawanku mengikuti lomba baris-berbaris antar sekolah. Walaupun kemudian kami tak juara, tetapi selalu ada kenang-kenangan yang tak lekang dimakan usia.

Hari ini, melihat foto-foto anak-anak dengan seragam baru, ingin rasanya aku berpesan. "Nak, habiskanlah masa SD-mu dengan bermain sepuas-puasnya. Carilah sahabat sebanyak-banyaknya. Habiskan waktumu untuk mengenal alam dan ciptaan-Nya yang sungguh luar biasa. Berlarilah sejah-jauhnya, melompatlah setinggi-tingginya. Karena nanti di masa depan akan kau hadapi dunia yang kian sombong dan tak peduli. Dunia tak akan iba pada orang-orang pengecut dan tak punya jati diri. Maka jadilah pemberani!"

Bochum, 14 Juli 2014

Sunday, July 13, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 16 Ramadhan, Resep Akhir Pekan, Ikan dan Telur Masak Acar

Makanan tak jarang mengingatkan orang pada rumah, masa kecil dan kampung halaman. Lalu, hampir setiap orang pula menganggap masakan ibunya sebagai masakan terenak di dunia. Ada ikatan psikologis pada memori rasa, aroma dan kasih sayang yang hanya terkandung dalam masakan ibu. Ikatan psikologis ini akan tetap teringat bahkan hingga kita dewasa. Kalau bagiku, masakan paling enak adalah masakan ibu, juga ayahku. Masakan melayu pesisir yang didominasi oleh bahan-bahan yang berasal dari laut, bumbu-bumbu dengan cita rasa pedas dan sedikit asin. Di rumah kami, makanan laut adalah menu utama, daging-dagingan hanya dimasak oleh ibuku pada kesempatan-kesempatan khusus seperti hari raya. 

Akhir pekan ini, di hari ke 16 Ramadhan, aku memasak masakan Belitong favoritku sejak kecil. Masakan ini adalah masakan berbumbu pertama yang kukenal dan mau kumakan. Dulu, ketika Acik (adik ibuku) mengasuhku, kalau beliau bertanya aku ingin dimasakkan apa, yang kujawab selalu Acar. Cara memasaknya sangat mudah dan memerlukan waktu yang tidak terlalu lama. Berikut bahan-bahan dan cara memasaknya.

Bahan-bahan:
1.     Ikan laut ½ kg (kali ini aku menggunakan ikan Forelle (sejenis Salmon)).
2.     4 butir telur.
3.     Minyak goreng.
4.     Garam secukupnya.
5.     Gula secukupnya.
6.     Daun jeruk.
7.     Air perasan jeruk (lime atau lemon).

Bumbu-bumbu yang dihaluskan:
1.     6 siung bawang merah
2.     2 siung bawang putih.
3.     6 buah cabe merah keriting.
4.     3 buah cabe rawit.
5.     2 cm lengkuas.
6.     3 cm kunyit.
7.     1 batang sereh.
8.     2 biji kemiri.

Cara memasak:
  1. Haluskan bumbu dengan blender atau ulekan.
  2. Rebus telur hingga matang, bersihkan kulitnya, lalu goreng hingga permukaannya mampu menyerap bumbu.
  3. Bersihkan ikan, potong-potong lalu lumuri dengan air perasan jeruk dan garam. Kemudian goreng hingga kekuningan (jangan terlalu matang).
  4. Tumis bumbu-bumbu hingga harum dan matang. Tambahkan daun jeruk, gula, garam dan air perasan jeruk.
  5. Masukkan ikan dan telur ke dalam bumbu sedikit demi sedikit hingga tercampur sempurna. Acar siap dihidangkan dengan nasi putih hangat.

 Bochum, 13 Juli 2014

Saturday, July 12, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 15 Ramadhan, Sahabat dari Tanah Rencong

Sudah 2 tahun aku mengenalnya. Perempuan cerdas yang hanya terpaut 2 tahun pula usianya lebih muda dariku ini adalah sosok sahabat yang aku kagumi. Rachmi Meutia, begitu namanya. Nama belakangnya itu nama khas yang menunjukkan tanah kelahirannya, tanah rencong Aceh yang sudah sejak lama aku ingin mengunjunginya.

Aceh sudah sejak dulu menarik perhatianku. Sejarah panjang perjuangan rakyatnya pada masa pendudukan kolonial Belanda mengenalkanku pada sosok yang sangat aku kagumi, Laksamana Keumalahayati, seorang tokoh pejuang Aceh yang sangat disegani pada masanya. Di salah satu sudut ruang temaram Museum Bahari di Jakarta Utara, aku bertemu Keumalahayati untuk pertama kalinya. Sosok perempuan pejuang ini diabadikan sejarahnya dalam sebuah lukisan seukuran manusia dewasa. Keumalahayati konon merupakan laksamana perempuan pertama di dunia dalam sejarah modern. Dia memimpin armada perang Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah gugur) yang dikenal tangguh dan berani. Bahkan Cornelis de Houtman, pemimpin rombongan pertama kolonial Belanda yang sampai ke Nusantara pada tahun 1596 itu mati di ujung rencong sang laksamana. Sejarah ketokohan para pahlawan Aceh adalah representasi keberanian dan watak tangguh orang-orang Aceh.

Di era kemerdekaan, Aceh melalui pula sejarah panjang pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM). Kemudian peristiwa dahsyat tsunami pada 26 Desember 2004 telah pula menoreh sejarah di tanah rencong. Dalam 2 periode peristiwa besar inilah Rachmi dibesarkan. Dia menjadi saksi hidup bagaimana Aceh melalui pasang surut dan serangkaian masa-masa kelam.

Rachmi pernah bercerita bagaimana dia melalui masa-masa SMP-nya di sebuah pesantren berasrama yang berada cukup jauh dari rumahnya, sehingga hanya beberapa kali dalam sebulan dia bisa pulang ke Banda Aceh. Ketika itu, Aceh sedang berada dalam situasi tak menentu saat diberlakukannya DOM oleh pemerintah pusat. Berita kematian seolah menjadi santapan mereka sehari-hari, suasana di mana-mana terasa sangat tidak aman. Kecurigaan antar pihak-pihak yang berselisih sangat mudah memicu kontak senjata. Pernah pada suatu hari, ketika Rachmi dan teman-temannya sedang berada di kelas, sebuah peluru nyasar mengenai dinding dan sebuah pohon di halaman sekolahnya. Setiap kali terjadi kontak senjata, mereka akan dikumpulkan oleh guru dan bersembunyi mengendap-endap hampir dalam posisi tiarap untuk menghindari peluru nyasar. Perjalanan pulang pergi rumah-asramanya pun bukan hal yang mudah. Ayah dan ibu yang mengantar jemputnya ketika itu hampir selalu harus melalui pemeriksaan dari aparat keamanan di pos-pos penjagaan. Rachmi juga menjadi saksi bagaimana orang-orang yang dikenalnya menjadi korban dalam periode mencekam penuh ketidakpastian itu.

Kemudian, ketika gempa dan tsunami melanda Aceh pada tahun 2004, Rachmi saat itu duduk di kelas 2 SMA Modal Bangsa, salah satu SMA favorit di Aceh yang juga berasrama. Saat kejadian itu, Rachmi dan teman-teman sekelasnya sedang berolahraga di halaman kompleks asrama. Mereka merasakan gempa yang sangat dahsyat, yang kemudian diketahui berkekuatan hingga 9 Mw (moment magnitude scale). Sedangkan keluarga besar Rachmi: Ayah, Ibu, serta 3 adiknya saat kejadian itu sedang berada di rumah mereka di Banda Aceh. Aku merinding ketika Rachmi menceritakan kejadian ini, mataku berkaca-kaca. Namun, kulihat sorot matanya begitu tegar, tak ada setitik pun air mata. Ibu dan 2 adik Rachmi ikut menjadi korban meninggal dalam peristiwa ini. Maka yang tersisa adalah Ayah, seorang adik, dan abangnya yang ketika itu sedang kuliah di Yogyakarta.

Kata Rachmi, dia tak banyak menangis di depan ayahnya karena dia ingin agar ayahnya tegar menghadapi ujian yang sungguh luar biasa ini. Tsunami Aceh merenggut korban jiwa hingga lebih dari 230.000 orang. Lalu hadirlah sosok Bunda, begitu Rachmi dan saudara-saudara kandungnya memanggil ibu sambung mereka. Bukan hal mudah bagi keluarga-keluarga Aceh yang menjadi korban tsunami untuk bangkit kembali dan melanjutkan hidup. Aku tak bisa membayangkan jika aku sendiri yang mengalaminya.

Singkat cerita Rachmi pun menikah tak lama sebelum keberangkatannya ke Jerman untuk melanjutkan pendidikan Masternya. Tak lama setelah itu pula, Rachmi kehilangan ayahnya. Rachmi, betapa besar ujian yang telah Allah berikan untukmu di usia semuda ini, bahkan sejak engkau menghabiskan masa kanak-kanakmu. Engkau sungguh telah mewarisi sifat-sifat tangguh dan berani dari para leluhurmu dulu, seperti sang laksamana dan perempuan-perempuan hebat Aceh lainnya. Cerita-cerita Rachmi ini sering membuatku malu pada diri sendiri. Aku yang tak pernah mengalami ujian sehebat itu kadang tak jarang berkeluh kesah dan kurang bersyukur.

Persahabatanku bersama Rachmi mengajarkanku banyak sekali pelajaran hidup. Kami sering berdiskusi tentang berbagai hal, dari persoalan remeh temeh hingga tema-tema serius. Kemarin sore ketika Ramadhan sudah lewat 2 pekan, Rachmi mengunjungiku. Menunggu waktu berbuka puasa kami bercerita tentang banyak hal, lagi-lagi cerita Rachmi selalu membuatku terus berpikir dan banyak belajar. Perempuan penyayang ini adalah sahabat solihah yang senantiasa akan kukenang kebaikannya seumur hidupku, insyaAllah. Terima kasih, Mi. Semoga Allah selalu memberkahi keluargamu.

Bochum, 12 Juli 2014

Friday, July 11, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 14 Ramadhan, Sehelai Sore di Pantai Katwijk

Ramadhan sudah hampir memasuki paruh kedua, hanya sekejap mata. Hujan dan mendung yang menyelimuti Bochum akhir-akhir ini membuatku rindu pada kehangatan pantai. Aku dilahirkan jauh di negeri tropis, di tanah pesisir yang tersiram terik matahari sepanjang tahun. Jerman diselimuti musim dingin selama berbulan-bulan, bahkan hawa dingin sudah kami rasakan sejak permulaan musim gugur dan masih pula betah menemani hingga awal musim semi. Mungkin tak lebih dari 3 bulan, tanah ini benar-benar merasakan hawa hangat dan terik matahari sempurna. Di bulan-bulan musim panas pun tak jarang pula hujan dan badai menghembuskan hawa dingin yang tidak menyenangkan. Maka tak jarang aku merindukan siraman hangat mentari yang seperti tak habis-habis tercurah dari langit, menyulap butiran pasir di tepi pantai menjadi kerlip-kerlip putih yang menyilaukan. Pantai-pantai nan elok terhampar luas, sepanjang pesisir bagian barat Pulau Belitong, tanah kelahiranku. 

Di Eropa, kami hanya bisa mengunjungi pantai pada bulan-bulan tertentu, sejak sekitar pertengahan Mei hingga awal September. Selebihnya, pantai hanya akan menjadi mimpi buruk. Angin dingin berhembus menusuk tulang, air laut pun bahkan tak jarang sampai membeku. Di akhir musim semi tahun lalu, aku berkesempatan mengunjungi seorang sahabat lama, Hani, yang ketika itu sedang menempuh pendidikan Masternya di Leiden. Hani paham kalau aku merindukan laut, maka aku diajaknya menghabiskan sore nan cerah di Pantai Katwijk, sekitar setengah jam dari Leiden. Saat itulah kali pertama aku berkunjung ke pantai Eropa.

Pantai yang membentang panjang itu diselimuti pasir berwarna kelabu kecoklatan, bukan putih seperti di kampung halamanku. Tak ada sebatang pohon pun yang kutemui di sana, hanya semak rerumputan berdaun panjang dan ramping, sedikit menyerupai ilalang. Lalu, di sepanjang punggung dataran tanah yang lebih tinggi, berdiri beberapa bangunan, restoran-restoran serta penginapan. Saat itu, musim panas belum sepenuhnya menghampiri kami, semilir angin masih lumayan dingin. Aku berjalan menyusuri bibir pantai. Air lautnya seperti mengandung lumpur, kecoklatan dan berbuih. Melihat pantai seperti ini pun, orang Belanda sudah sangat bahagia. Aku membayangkan jika mereka melihat biru jernih air laut sepanjang bibir pantai berpasir putih di kampung halamanku. Mungkin mereka tak akan memilih pulang. Aku tak kecewa, setidaknya kerinduanku pada laut selama hampir dua tahun sedikit terobati. Aku mencari kesenangan sendiri, memperhatikan gerak-gerik orang-orang di tepi pantai yang menghabiskan sore di akhir musim semi itu dengan penuh keceriaan. Berikut beberapa foto yang sempat kuabadikan.


Bochum, 11 Juli 2014

Thursday, July 10, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 13 Ramadhan, Para Perantau dari Afrika

Sejak kecil aku mengagumi para perantau. Mereka rela meninggalkan kampung halaman dengan pengorbanan lahir batin yang tidak sedikit, untuk menuntut ilmu, mencari penghidupan yang lebih layak serta tujuan-tujuan mulia lainnya. Kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang para perantau dari benua dengan kebudayaan unik dan kaya, Afrika.

Tak seperti bangsa Eropa, aku pertama kali bertemu bangsa Afrika baru-baru saja, sejak merantau ke Jerman. Sebelumnya di tanah air, tak sekalipun aku bertemu orang-orang dari bangsa mereka. Silih berganti aku memiliki tetangga yang berasal dari Afrika, antara lain dari Uganda, Kenya, Ghana dan Guinea. Rata-rata dari mereka sangat fasih berbicara paling tidak dalam satu bahasa Eropa, imbas dari sejarah masa lalu ketika tanah air mereka diduduki oleh bangsa-bangsa Eropa. Mereka adalah perempuan-perempuan cerdas yang mampu mengubah stereotip yang ada di kepala orang-orang yang masih beranggapan bahwa bangsa Afrika adalah masyarakat kelas dua. Sebagai contoh saja, aku mengenal Catherine, sahabatku dari Uganda sebagai kandidat Doktor bidang ekonomi yang sangat brilian. Ibu muda ini menamatkan pendidikan Masternya di Swiss dengan sangat gemilang.

Salah satu hal yang menarik perhatianku sejak lama adalah kebudayaan dan sejarah bangsa-bangsa di dunia. Sebuah peta Afrika Timur yang menggambarkan danau-danau terbesar di Afrika menempel di samping tempat tidurku, sering mengantarkan mimpiku untuk mengunjunginya suatu hari nanti. Dulu waktu masih kecil, aku paling suka mengamat-amati Atlas yang dibelikan ayahku di Toko Buku Usaha. Membayang-bayangkan negeri-negeri jauh, serta berbagai bangsa yang mendiaminya. Ketika itu internet belum jamak seperti sekarang, sehingga imajinasiku hanya terbatas pada gambar-gambar yang kulihat dari buku-buku atau siaran televisi. Aku tak pernah mendengar bahasa-bahasa asing langsung dari penutur aslinya, yang kukenal hanya sebatas nama.
 
Perempuan-perempuan Afrika. Sumber: ingenieur.de (Universität Hohenheim)
Sore kemarin, aku memasak di dapur seperti biasa. Dapur kami ini seperti pusaran budaya tempat berkumpulnya berbagai bangsa. Sudah hampir seminggu aku kedatangan tetangga baru berwajah Afrika, belum juga sempat aku berbincang-bincang dengannya. Aku hanya sekedar menyapa dan tersenyum. Sore itu kali pertama aku berkenalan dengan Umu, begitu dia memperkenalkan namanya. Perempuan muda ini berasal dari sebuah negara yang dulu sulit aku membedakannya karena setidaknya ada 3 negara bernama sama di sekitar wilayah Teluk Guinea Afrika. Negara itu adalah Guinea, sering disebut Guinea Perancis, untuk membedakannya dengan Guinea Bissau dan Guinea Ekuator. Aku bertanya apakah dia bisa berbahasa Inggris, dia menggeleng: “Ich spreche ein bisschen Deutsch...“ “Saya hanya berbicara sedikit dalam Bahasa Jerman...“ Umu bercerita padaku bahwa saat ini dia sedang mengambil kursus Bahasa Jerman untuk mempersiapkan kuliah Masternya dalam bidang Informatika tahun depan. Lalu kutanya pula, sehari-hari dia berbicara dalam bahasa apa di tanah airnya. Bahasa Pular, ujarnya, lalu Bahasa Perancis sebagai bahasa kedua. Tak lama telepon genggam Umu berdering, dia berbicara dalam Bahasa Pular yang tadi diceritakannya. Aku seketika takjub mendengar bahasa asing ini untuk pertama kalinya. Iramanya cepat dengan penekanan-penekanan pada beberapa huruf konsonan serta diucapkan dengan intonasi lantang, seperti senandung yang mengiringi tarian-tarian eksotik berirama gembira.

Lalu setengah bercanda kutanyakan pada Umu, mengapa dia tidak kuliah saja di Perancis, tentunya dia tak perlu repot-repot untuk mempelajari Bahasa Jerman dan bisa langsung memulai kuliah Masternya. Umu menjawab sambil sedikit menggeleng, “Aku juga tidak tahu, Hesty. Tiba-tiba saja aku sudah menemukan diriku berada di negeri ini. Nasib seperti mengantarku ke sini, bukan ke Perancis“. Dalam hatiku, kita ternyata tak jauh berbeda, Umu. Aku pun begitu, niat merantau ke benua lain yang terpatri sejak lama seperti tiba-tiba saja mengantarkanku ke sini, ke Bochum, yang bahkan baru kukenal tak lebih dari 2 bulan sebelum keberangkatanku, bukan ke kota atau negara lain. Serangkaian usaha yang kita lakukan hanyalah cara, bukan penentu. Syarat cukupnya adalah izin Allah. Nasib senantiasa penuh misteri seperti masa depan yang tak pernah pasti.

Setelah hampir seminggu ini Bochum diguyur hujan, hari ini di hari ke 13 Ramadhan, matahari menampakkan senyumnya. Sebelumnya, sejak sore kemarin, kabut tebal menyelimuti udara. Dingin dan sendu, seperti halimun di punggung-punggung pegunungan yang melingkupi Bandung hampir setiap pagi. Aku pun menjadi rindu. Bandung sudah seperti kampung halaman ke dua bagiku, kampung halaman tempat aku menghabiskan awal-awal masa dewasa dan pencarian jati diri.

Aku pun teringat pada sebuah syair Ethiopia berjudul Guramayle. Guramayle adalah istilah yang digunakan oleh suku-suku di Ethiopia utara untuk menamakan sejenis tattoo yang mereka pasang di gusi bagian atas untuk memperindah senyuman. Guramayle sekaligus juga dipakai untuk menyebut orang-orang yang sok mencampuradukkan istilah-istilah bahasa asing ke dalam bahasa ibu mereka, dengan tujuan agar terdengar keren dan intelek. Syair “ejekan“ ini diciptakan oleh pengarangnya dengan maksud positif untuk mencerminkan pengaruh multibudaya bagi orang-orang Ethiopia yang merantau ke seluruh penjuru dunia. Guramayle adalah syair cinta para diaspora. Syair ini menggambarkan bagaimana sang pengarang mengalami gagap budaya ketika kembali ke tanah airnya setelah sekian lama mengalami banyak hal selama di perantauan. Di Ethiopia sendiri, Guramayle sering digunakan sebagai sindiran bagi mereka yang menjadi terlalu ke-“Eropa-Eropa“-an dan melupakan akar budaya mereka. Syair syahdu ini berpesan: “Ke manapun kakimu melangkah, sejauh apapun jarak yang pernah Kau tempuh, jangan pernah melupakan akarmu, tanah air dan bangsamu sendiri“.

Bochum, 10 Juli 2014

Wednesday, July 09, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 12 Ramadhan, Sahabat-sahabat dari Tepi Barat

“Bagaimana kabarmu, Kawan?“ “Alhamdulillah...“ sambil menjabat tanganku erat-erat. Selalu begitu dan senyum gadis pintar itu tak pernah pudar. Dialah Hafsa. Aku mengenalnya pertama kali secara tak sengaja. Saat itu, belum begitu lama aku kedatangan tetangga baru berkewarganegaraan Israel, Sirin namanya. Aku pun sempat dimintai bantuan oleh Sirin untuk mengatur setting internet di laptopnya. Sontak aku kaget dan bingung, karena tak satu pun tuts-tuts di keyboard laptopnya yang bisa kubaca, semuanya dalam abjad Hebrew. Kami berdua pun spontan tertawa. Aku kembali terkejut ketika dia mengucapkan salam padaku ketika aku pamit untuk kembali ke kamar. “Danke, Hesty! Assalamu’alaykum! Ich bin auch Muslim“. “Terima kasih, Hesty! Assalamu’alaykum! Saya juga seorang Muslim“ begitu katanya sambil tersenyum dan melambai padaku. 

Di lain kesempatan Sirin bercerita bahwa mereka sekeluarga berkewarganegaraan Israel, akan tetapi ibunya sebenarnya berasal dari Palestina. Ayahnya berasal dari Israel dan memeluk Islam sejak menikah dengan ibunya. Mereka sehari-hari berkomunikasi dalam Bahasa Arab dan sedikit Hebrew. Dia juga bercerita bahwa keadaan di Israel adalah selayaknya di sini (Jerman), orang-orang hidup makmur dan terpenuhi berbagai kebutuhannya. Komposisi masyarakatnya pun beragam, mulai dari Arab Muslim, penganut agama Yahudi, dan Kristen. Lalu hanya selemparan batu dari “negeri surga“ yang digambarkan Sirin tadi, orang-orang lainnya hidup dalam keprihatinan dan ketakutan akan ancaman serangan. Sampai di sini aku bingung, model konflik seperti apa yang sebenarnya terjadi di wilayah Tepi Barat (West Bank) dan sekitarnya, yang seingatku sejak aku bisa menonton televisi waktu aku masih kecil dulu hingga sekarang belum berkesudahan.

Sore itu kira-kira setahun yang lalu, seperti biasa sepulang dari kampus aku memasak makanan seadanya untuk makan malam. Sirin memperkenalkan Hafsa padaku. Kata Sirin, “Hafsa, ini Hesty, saudara kita dari Indonesia“. Waktu itu, Hafsa sedang mengunjungi Sirin, lalu beberapa bulan kemudian aku bertemu Hafsa untuk kedua kalinya di ruang cuci asrama. Dia bercerita bahwa dia baru saja pindah ke Roncallihaus. Gadis berkerudung ini berbicara dalam bahasa Jerman yang sangat fasih. Dia sedang menempuh pendidikan di salah universitas di Düsseldorf. Hafsa lalu bercerita padaku, bahwa dirinya berasal dari Palestina. Dia mengaku Bahasa Inggris-nya tak begitu lancar, lalu kami bertukar email untuk saling memberi kabar. Dia memintaku agar sering-sering menggunakan Bahasa Inggris ketika berkomunikasi dengannya, agar dia bisa belajar. Aku pun meminta kebalikannya, agar aku bisa memperbaiki Bahasa Jermanku.

Ini bukan kali pertama aku berkenalan dengan orang-orang dari wilayah Tepi Barat. Dulu ketika pertama kali mengambil kursus Bahasa Jerman, aku mengenal Manhal, seorang Muslim Israel, juga Ahmed dan Khalil, dua kawanku warga Palestina yang selalu meminta izin pada guru kami untuk menunaikan sholat setiap Jumat siang. Mereka tak secara spesifik menyebutkan perihal sholat Jumat, tapi guru kami yang baik hati selalu memberikan izin. Ahmed dan Khalil tak jarang bertemu denganku di jalan sekitar halte depan asrama. Dari kejauhan mereka sudah memberi salam, “Assalamu’alaykum, Schwester! Wie geht’s?“ “Assalamu’alaykum, Saudariku! Apa kabar?“ Khalil pernah bercerita padaku, bahwa untuk merantau ke sini bukanlah hal yang mudah bagi mereka. Dia sempat harus terjebak selama berminggu-minggu di Lebanon bersama ayahnya karena masalah keimigrasian dan konflik yang terjadi di sana. Lain waktu Manhal juga sempat bercerita padaku, ketika aku menanyakan bagaimana keadaan di sana. “Wilayah Israel itu ya wilayah Palestina. Permasalahan di sana sudah begitu kompleks. Saudara-saudara kami yang masih berada di wilayah Palestina hampir selalu menjadi korban. Aku tak tahu lagi harus mengatakan apa“, begitu kata Manhal dengan wajah murung dan sedih.

Aku tak paham detail persoalan yang sesungguhnya terjadi di sana. Yang kutahu dari sejarah yang pernah kubaca, awal mula konflik ini adalah ketika warga Yahudi dari seluruh dunia yang tergabung dalam gerakan Zionist berbondong-bondong “pulang” ke wilayah Tepi Barat. Mereka mengklaim wilayah itu sebagai hak mereka bulat-bulat. Pemerintahan pun dibentuk dan mereka menamakan diri sebagai Negara Israel. Pemukim Palestina yang menolak klaim orang-orang Zionist ini menjadi sasaran empuk tentara-tentara Israel. Peperangan yang terjadi pun sering kali tak seimbang, lemparan batu melawan perlengkapan militer Israel yang canggih. Berpuluh-puluh tahun, konflik tadi lalu berkembang menjadi konflik agama. Palestina kemudian menjadi simbol perjuangan Islam hampir di seluruh dunia, utamanya di Indonesia.

Di abad modern ini, ketika penjajahan fisik sudah menjadi hal yang tabu dan dianggap sebagai masa lalu hampir di seluruh dunia, warga Palestina masih merasakannya pun hingga detik ini. Aku bercerita di sini bukan ingin mengait-ngaitkan konflik ini dengan hal-hal berbau agama atau ras yang mungkin bisa menimbulkan prasangka bagi kawan-kawan. Tak ada orang yang bisa meminta untuk dilahirkan sebagai Arab, Yahudi (definisi Yahudi di sini sebagai bangsa bukan agama) atau apapun. Setelah kita lahir, selanjutnya hidup adalah tentang pilihan-pilihan, ingin kita jalani seperti apa. Agresi yang terjadi sekarang di Jalur Gaza adalah tragedi kemanusiaan, terlepas dari embel-embel persoalan lain yang kini berkembang. Aku juga bukan tak membaca, bahwa tak sedikit warga Yahudi di seluruh dunia yang menentang keras gerakan Zionist dan invasi Negara Israel atas Palestina ini.

Bagi kawan-kawan, tak ada salahnya menyisihkan waktu sejenak untuk mendoakan mereka yang saat ini sedang didera konflik di sana. Bulan Ramadhan yang seharusnya menjadi waktu-waktu spesial penuh keceriaan, selayaknya Ramadhan bagi muslim lainnya di seluruh dunia, kini menjadi mimpi buruk bagi mereka. Rudal-rudal Israel silih berganti ditembakkan ke wilayah pemukiman Palestina. Hujan mereka bukan lagi air, butir-butir es atau salju, tapi peluru. Jangan remehkan kekuatan doa. “Maafkan kami yang belum bisa membantu banyak dari sini”. Jika kawan-kawan mempunyai kelebihan rezeki, bisa kita temukan banyak sekali link-link di internet yang memuat informasi dari lembaga-lembaga penyalur bantuan materi untuk Palestina.

Masalah Palestina ini tak jarang pula menjadi isu sensitif di masyarakat. Terlepas dari apapun niatnya, persoalan ini bukan lagi hanya sekedar permasalahan agama, tapi lebih-lebih adalah masalah kemanusiaan. Ada pula yang berseloroh: “Ngapain sih capek-capek ngurusin negara orang? Negara sendiri aja belum beres.” Orang bijak tak akan berkata seperti itu. Bung Karno pernah dengan sangat lantang berkata: “Selama kemerdekaan bangsa Palestina beloem diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itoelah Bangsa Indonesia berdiri menantang pendjadjahan Israel” [Ir. Soekarno, 1962]. Semoga niat baik orang-orang yang berjuang untuk membantu Palestina, sekecil apa pun itu, senantiasa dijaga oleh Allah, dan bukan hanya sekedar latah atau ikut-ikutan. Aku percaya, kekuatan media yang dibangun dengan independensi dan niat yang tulus akan sangat berarti bagi mereka. Dunia harus tahu! Bahwa di era modern ini, penjajah Israel masih dengan sangat percaya diri dan sombong membunuhi sejumlah besar manusia. Bahwa, ada orang-orang yang bahkan tak sempat lagi memikirkan besok mau makan apa, tapi apakah besok nyawa dan tanah ini masih ada? Ingin rasanya aku menghabiskan sisa hidupku menjadi jurnalis di sana, agar darah dan nyawa ini ada juga artinya.

Sejak kemarin malam aku kehilangan kabar darinya, account Facebook-nya tiba-tiba nonaktif. “Hafsa, bagaimana kabarmu?” Aku yakin, dia akan selalu menjawab: “Alhamdulillah...“, seperti yang selama ini selalu diucapkannya, lalu teriring doa yang dihadiahkannya untukku. Doa kami semoga Allah melindungi keluargamu dan seluruh saudara-saudara kita di Palestina.

Sumber foto: 
Abdillah Onim, jurnalis dan relawan Indonesia yang saat ini bermukim di Gaza.
Facebook: Abdillah Onim

Bochum, 9 Juli 2014

Tuesday, July 08, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 11 Ramadhan, Memori Hujan

Langit Eropa jarang sekali menurunkan hujan sepanjang hari, bukan seperti di negeri tropis, air tumpah ruah seperti tercurah dari langit setiap musim penghujan. Di sini, rinai-rinai hujan kadang kala berubah wujudnya menjadi butiran-butiran es yang berhamburan dari langit. Bila musim dingin tiba, dia berubah menjadi derai-derai salju yang menari-nari dipermainkan angin seperti kapas yang kehilangan bobotnya. Langit Eropa selalu punya butir-butir penuh kejutan di setiap musimnya.

Hari ini hujan turun tak henti-henti sejak dini hari. Musim panas tahun ini seperti enggan menampakkan diri, malu-malu. Ramadhan telah memasuki babak kedua, seperti mimpi saja 10 hari berlalu. Steffi pamit padaku akhir pekan yang lalu, dia akan liburan bersama keluarganya selama 3 minggu. Aku "dioleh-olehi"-nya 2 lembar tulisan, daftar pekerjaan yang harus kuselesaikan selama dia pergi. Matahari tak hadir sepanjang hari ini, seperti Steffi, namun entah disengat memori hujan, aku malah bangun terlalu pagi. Ratusan data yang kukumpulkan selama berminggu-minggu sebelumnya kini harus kuterjemahkan satu per satu. Hari ini aku hanya beristirahat tak lebih dari 30 menit, selebihnya aku tak beranjak dari kursi. Menjelang sore, ratusan data tadi mulai tersenyum padaku, senyum penuh misteri dalam ratusan angka dan diagram warna-warni.



***
Genangan-genangan air sepanjang jalan yang kulewati tadi pagi, rombongan mahasiswa yang berjalan di bawah payung warna-warni, mengingatkanku pada memori hujan bulan Februari. Bandung 3 tahun yang lalu. Hampir pukul 6 sore, perutku sudah sangat lapar. Rintik-rintik hujan pertama mulai turun, padahal aku baru seperempat perjalanan pulang. Hari ini, tiba-tiba saja aku memilih jalur angkutan umum berbeda dari biasanya. Aku rindu suasana Gedung Sate sore hari, juga pucuk-pucuk mahoni yang baru bersemi di sepanjang Jalan Diponegoro.

Perjalananku singkat saja. Aku turun di pertigaan Jalan Supratman, tepat di depan Asrama Mahasiswa Gunong Tajam, asrama mahasiswa Belitong, persinggahanku ketika pertama kali ke Bandung, 10 tahun yang lalu. Hari makin gelap dan hujan masih lebat, air tergenang dimana-dimana. Aku bertemu seorang ibu yang kelihatannya baru pulang kerja. "Nak, mau pulang kemana? Boleh Ibu ikut sampai Surapati? Nanti Ibu mau naik angkot pink dari situ". "Oh, tentu saja boleh Bu", jawabku spontan.

Kami melewati Jalan Pusdai yang tergenang, sambil sesekali berhenti untuk menghindari cipratan air dari kendaraan yang lewat. Di bawah naungan payung kecil itu, obrolan kami mengalir. Ibu Maya, begitu beliau mengenalkan diri padaku. Beliau bekerja di Jalan Citarum, hanya beberapa ratus meter dari Pusdai, rumahnya lumayan jauh dari sini, di Ujung Berung. Bu Maya bercerita bahwa anak sulungnya sudah bekerja, seorang alumnus Farmasi Unpad. Sedangkan anak bungsunya baru tamat dari jurusan perhotelan, juga sudah bekerja dan berniat melanjutkan kuliah lagi.Tersirat rasa bangga di wajah beliau, padahal aku tahu beliau sedang lelah setelah seharian bekerja.

Aku pun mengenalkan diriku. Beliau antusias sekali ketika tahu bahwa aku hidup terpisah jauh dari keluarga, hidup sendiri di Bandung dan masih memimpikan banyak hal. "Ibu doakan Nak Hesty sukses dan tercapai cita-citanya. Orangtua seperti Ibu tidak akan mewariskan apa-apa, selain ilmu yang bermanfaat. Karena warisan harta betapapun banyaknya, akan habis". Kami berpisah di tepi jalan Surapati, dalam rintik hujan yang mulai reda.

Pesan Bu Maya adalah pesan yang sama seperti yang disampaikan Ibuku dulu ketika aku akan merantau ke Bandung. Aku menjadi rindu, rindu sekali pada Ibuku. Kiranya hujan sore ini mampu mengantarkan rinduku kepada Beliau, jauh sampai ke kampung halamanku. Kupeluk erat tasku yang basah. Dalam dingin dan mendung, hatiku tiba-tiba menjadi hangat, sehangat kasih sayang Ibuku.

Bochum, 8 Juli 2014

Monday, July 07, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 10 Ramadhan, Abiyan Kesayangan Kami

Waktu berlalu begitu cepat. Dari hari ke hari rasanya hanya seperti mimpi, tahu-tahu sudah malam, tahu-tahu sudah lewat 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun. Kita pun semakin menua dan sisa usia semakin berkurang jatahnya. Lalu, kita sudah berbuat apa? Untuk orang tua, keluarga, agama, bangsa dan negara. Kalau teringat akan hal ini, aku selalu diliputi perasaan bersalah. Hingga hari ini rasanya aku hanya berorientasi lebih banyak untuk diriku sendiri, jangankan memberikan manfaat untuk orang lain, lebih banyak merepotkan lebih tepatnya.

Musim gugur tahun 2011 pertama kali aku menginjakkan kaki di Bochum. Belum banyak orang Indonesia lainnya yang kukenal di kota kecil ini. Aku memulai studiku di Bochum atas rekomendasi Pak Yul, dosenku yang ketika itu sedang ditugaskan sebagai Atase Pendidikan di KBRI Berlin. Lewat email, Pak Yul memperkenalkanku dengan seorang mahasiswa Indonesia lainnya yang kebetulan satu fakultas denganku di Ruhr Universität Bochum, dialah Friska. Neng Pika, begitu kami memanggilnya, sedang menempuh program sarjana di Teknik Elektro. Dia tinggal di Bochum bersama suaminya, Panji, yang sama-sama sedang menempuh program sarjana. Aku mengenal pasangan muda ini sebagai orang-orang yang santun, ramah dan penyayang.

Singkat cerita, hari-hari pun berlalu, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Akhir musim semi tahun lalu, saat Neng Pika sedang hamil tua, aku sempat berjanji ingin memotretnya. Mumpung suasana musim semi sedang cantik-cantiknya. Tapi, rupanya karena kesibukan masing-masing, kesempatan itu tak tertunaikan. Musim panas pun mulai menyapa. Aku ingat di minggu-minggu terakhir sebelum bulan Ramadhan, Neng Pika sekeluarga telah bersiap-siap menanti kehadiran si buah hati. Harap-harap cemas kami menunggu. Berdasarkan perkiraan dokter, sang jabang bayi akan lahir beberapa hari lagi, mungkin pada hari-hari pertama bulan Ramadhan. Tapi, takdir kelahiran dan kematian, Allah-lah Yang Maha Mengatur. Bayi mungil itu lahir 3 hari sebelum Ramadhan tiba, tepat 1 tahun yang lalu, 7 Juli 2013.

Berita bahagia itu diumumkan oleh sahabat kami di group pengajian Indonesia Ruhr area dan sekitarnya. Berbagai ucapan selamat dan doa tak henti-hentinya berdatangan. Suatu kebahagiaan tak terhingga sekaligus amanah yang dititipkan Allah kepada Panji dan Neng Pika. Abiyan Adam Ashriza, begitu bayi laki-laki itu diberi nama. Kata Abiyan diambil dari kata Bayan dalam Bahasa Arab (Q.S Ar Rahman: 4), yang berarti berbicara. Maka nama Abiyan mengandung doa, yang berarti "fasih" dalam berbicara, berbahasa Arab dan bahasa-bahasa lainnya, termasuk bahasa Al Qur'anul Karim. Secara lengkap nama Abiyan Adam Ashriza mengandung arti keturunan pertama yang fasih dari keluarga Ashari dan Roza. Serangkaian nama yang indah, yang didalamnya terselip doa dan harapan bagi sang anak dari kedua orang tuanya.

Neng Pika dan Panji melalui hari-hari sebagai orang tua baru, sekaligus tetap menjalani rutinitas mereka sebagai mahasiswa. Aku kagum dengan ketangguhan pasangan muda ini. Hidup di perantauan tak pernah selalu mudah, berbagai tantangan senantiasa menghadang untuk menguji kesabaran dan sejauh mana rasa syukur kita kepada Sang Pencipta. Aku saja yang hanya sendiri dan tak harus mengurus siapa-siapa, tak jarang gelagapan menghadapi berbagai tantangan hidup, apalagi bagi mereka sebagai keluarga muda yang berada jauh dari orang tua. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan keberkahan untuk Neng Pika sekeluarga.

Abiyan tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria. Anak lucu ini jarang menangis dan lagi-lagi aku kagum melihat kesabaran Neng Pika dalam mengasuh Abiyan. Tak jarang kami bepergian bersama. Dalam setiap kesempatan, Abiyan mau diasuh hampir oleh siapa saja. Hanya sekali aku melihatnya rewel, waktu itu kami sedang di kereta dalam perjalanan pulang ke Bochum. Mungkin lantaran capek dan lapar, Abiyan menangis dan sedikit rewel. Selebihnya aku mengenal Abiyan sebagai anak periang.


Baru beberapa minggu yang lalu Abiyan bisa berjalan untuk pertama kalinya. Tak terasa hari ini, di hari ke 10 Ramadhan, tepat 1 tahun usianya. Teriring doa agar Abiyan tumbuh menjadi anak yang cerdas, sehat, serta soleh dan mensolehkan orang-orang di sekitarnya. Memperhatikan foto-fotonya yang kuabadikan dalam kamera dari waktu ke waktu, aku takjub bagaimana Allah sebaik-baik Pencipta, menciptakan makhluk yang bernama manusia. Sorot mata nan lugu, tangan dan kaki yang perlahan tegak, lalu melangkah dan kemudian berlari. Dalam setiap isyarat penciptaan ini terselip tanda-tanda Kekuasaan Allah. Maka, tak ada hak kita untuk menjadi sombong, lalu lupa bahwa kita pernah dan akhirnya pula akan menjadi makhluk tak berdaya.

Abiyan, kesayangan kami
Bila engkau dewasa nanti
Ingatlah bahwa engkau pernah berjanji
untuk menjadi sebaik-baik khalifah di muka bumi

Abiyan, kesayangan kami
Bila engkau dewasa nanti
Ingatlah orang tuamu yang tak henti-henti
mendoakanmu lebih dari mereka sendiri

Teriring salam sayang dan doa dari Maktjik untuk Abiyan.

Bochum, 7 Juli 2014

Sunday, July 06, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 9 Ramadhan, Mimpi untuk Nelayan Nusantara

Sebuah Ulasan Proposal


Siang itu, di awal Mei tahun ini, aku terkantuk-kantuk seorang diri di ruangan kantor. Sembari menghabiskan dua potong roti makan siangku, aku berselancar di internet, sekedar iseng mencari-cari artikel tentang jurnalisme. Lalu tanpa sengaja aku menemukan link tawaran beasiswa proyek fotografi oleh sebuah lembaga di Amerika. Kubaca dengan seksama segala keterangan dan persyaratannya. Masih ada waktu sekitar 2 bulan untuk mendaftar. Namun yang menjadi masalah, aku tak punya kapasitas dan kemampuan yang memadai untuk bidang ini. Mungkin aku bisa kalau hanya sekedar menuliskan beberapa ide, namun documentary photography dan photojournalism bukanlah bidangku. Lalu aku teringat akan mimpi salah seorang sahabatku, Ponda, untuk mendokumentasikan budaya kelautan nusantara. Tanpa membuang waktu, kesempatan ini pun lalu kuceritakan padanya.

Singkat cerita, sejak pertengahan Mei kami mulai bergerak untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Tawaran beasiswa ini bukan hal main-main, perlu persiapan matang dan serius. Kami mulai mengumpulkan semua literatur yang berhubungan dengan ide-ide dalam proposal yang nantinya akan diajukan. Setidaknya proposal ini nantinya akan membahas ulasan mengenai budaya kelautan nusantara, bidang keilmuan photojournalism, serta ide orisinal yang “menggigit” agar bisa bersaing dengan peserta-peserta lainnya dari seluruh dunia. Berikut ulasan secara umum dari proposal yang pada hari ini, hari ke 9 Ramadhan, akhirnya rampung dikerjakan.

Berangkat dari kenyataan bahwa kehidupan nelayan nusantara masih jauh dari kata sejahtera, proposal ini mengulas berbagai fakta dan data secara umum yang menggambarkan kehidupan nelayan nusantara dari segi ekonomi. Sebagian besar masyarakat miskin di Indonesia hidup di daerah pesisir dan pedesaan. Beberapa faktor penting menjadi penyebab utama kemiskinan nelayan di Indonesia, antara lain minimnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan mereka serta sebuah sistem yang sudah seperti “lingkaran setan”, yang menjerat nelayan dengan ketergantungan dan minimnya upah dari pemodal. Dari waktu ke waktu, nelayan-nelayan tradisional hidup di bawah garis kemiskinan, tanpa pula ada kemajuan yang berarti dari sisi teknologi.

Ide menarik yang menjadi pokok gagasan yang diajukan dalam proposal ini adalah pendokumentasian kehidupan nelayan ketika menghadapi masa-masa paceklik dalam serangkaian foto. Masa paceklik berlangsung hampir 8 bulan. Dalam musim ini tak jarang mereka pulang melaut tanpa hasil sama sekali. Kenyataan ini telah membentuk suatu sistem imajiner yang didasari oleh intuisi mereka untuk bertahan hidup. Keluarga nelayan harus pandai-pandai mencari penghasilan tambahan selain melaut ketika musim paceklik tiba. Perbedaan budaya dan karakteristik sumber daya ekonomi lokal akan menghasilkan keragaman foto dokumentasi yang unik di tiap-tiap daerah. 


Seorang penulis pernah mengatakan bahwa kemiskinan itu tidak untuk ditangisi. Foto dokumentasi yang menggambarkan kehidupan miskin suatu komunitas telah lama dilakukan orang. Umumnya mereka digambarkan sebagai objek yang lemah, tak berdaya dan menunggu uluran tangan. Namun, dalam proposal ini, Ponda menginginkan untuk memotret sisi lain dari kehidupan miskin nelayan nusantara, berkebalikan dari anggapan umum yang ada sekarang. Nelayan dikenal sebagai kelompok masyarakat yang tangguh dan tahan banting menghadapi kesulitan hidup. Karakter ini terbentuk dari kerasnya pekerjaan mereka di laut, yang menuntut kesabaran, keberanian dan kerjasama yang solid di antara mereka. Karakter-karakter seperti ketangguhan, kerja keras, serta kemandirian yang ditunjukkan nelayan dan keluarganya inilah yang nanti akan ditekankan dalam foto-foto yang akan dibuat. 

Sudut pandang ini nantinya diharapkan mampu menggugah audience untuk belajar banyak dari nilai-nilai positif karakter nelayan tadi serta menerapkannya dalam kehidupan. Adapun impact  tidak langsung yang tidak kalah penting, diharapkan foto-foto ini mampu membangkitkan kepedulian masyarakat dan pemerintah akan lingkungan laut dan kesejahteraan nelayan. Indonesia menyimpan potensi kelautan yang luar biasa, mulai dari sumber daya perikanan sampai budaya maritimnya. Maka sungguh ironis menyaksikan kenyataan sekarang di mana lebih banyak pihak asing yang berlomba-lomba untuk mempelajari, memanfaatkan dan melestarikannya, sedangkan masyarakat Indonesia sendiri seperti tidak peduli. Selain itu, proyek ini dapat pula menjadi sumber data visual dan pemetaan budaya maritim nusantara yang akan bermanfaat di masa yang akan datang. 

Foto telah lama menjadi media penyampai informasi yang dapat diandalkan. “A picture is worth a thousand words”. Genre fotografi yang akan ditekankan dalam hal ini adalah documentary photography dan photojournalism. Kedua genre ini telah lama dijadikan sarana untuk menyampaikan informasi yang dapat dipercaya. Baik documentary photography maupun photojournalism, memiliki kode etik yang sama, yang menekankan pada kejujuran serta membatasi photo editing seminimal mungkin, yaitu terbatas hanya pada tujuan untuk memperbaiki kualitas teknis dari foto.

Masalah-masalah teknis dari pengimplementasian proyek kemudian dibahas lebih detail di bagian akhir tulisan. Proposal ini juga dilengkapi dengan portfolio dari proyek sebelumnya yang sudah sejak beberapa tahun yang lalu dikerjakan secara pribadi oleh Ponda, proyek sepanjang masa yang dinamakannya “Manusia Laut”, berisi rangkaian foto-foto kehidupan nelayan di Belitung dan Sulawesi. Aku didaulat Ponda untuk memberikan judul yang pas, satu malam aku memikirkannya. Lalu, aku datang dengan sebuah judul yang di dalamnya kusisipkan semangat: “Sea People, a Vivid Portrait of Indonesian Fishermen’s Struggle”. Berangkat dari mimpi-mimpi sederhana, semoga proposal ini menjadi langkah awal untuk mewujudkannya.

Ingatanku pun melayang-layang ke masa silam, belasan tahun yang lalu. Perahu nelayan setengah jadi tergeletak di tepi pantai. Papan-papannya pun masih basah dan wangi, belum dicat. Perahu itu dibuat oleh ayah kawan kecilku, seorang nelayan asal Desa Juru Seberang. Kami biasa menghabiskan sore bermain-main di rumahnya yang terletak di bibir Pantai Air Saga, menunggu air pasang sambil bermain bola atau melempari buah-buah asam jawa di halaman kosong tak jauh dari dermaga. Perlahan-lahan matahari beranjak ke peraduannya, hendak mencium bibir cakrawala. Kaki-kaki kecil kami telah basah oleh deraian ombak air pasang menjelang senja, menitipkan rindu pada jiwa-jiwa penjelajah samudera, nelayan nusantara.

Foto-foto diambil dari koleksi "Manusia Laut" [Ponda Sujadi]
Terima kasih kepada Pak Koskow yang telah bersedia meminjamkan buku-buku sebagai bahan bacaan serta Ulfa yang telah meluangkan waktunya untuk memeriksa tata bahasa dan ejaan proposal dalam Bahasa Inggris.

Bochum, 6 Juli 2014

Saturday, July 05, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 8 Ramadhan, Resep Akhir Pekan, Membuat Banana Cake dengan Rice Cooker

Tak terasa, 1 minggu sudah Ramadhan menyapa. Sejak pagi tadi, mendung menggelayut rendah, awan kelabu bergumpal-gumpal, tapi hujan tak kunjung turun. Hawa panas dan pengap menyergap diam-diam. Musim panas memang begitu, sering pura-pura meniru cuaca dari negeri-negeri nan jauh. Sebenarnya aku merindukan sahabatku Mira, biasanya kalau akhir pekan seperti ini kami sering menghabiskan liburan bersama, mengotori dapur di rumah mungilnya di Nijmegen sana dengan berbagai resep masakan dan kue hasil kreasi iseng kami berdua. Hari ini, di hari ke 8 Ramadhan, aku mencoba satu resep praktis dari internet, banana cake yang dibuat dengan rice cooker

Berikut bahan-bahan dan cara membuatnya.

Bahan-bahan (basah):
1. 2 butir telur (pisahkan bagian kuning dan putih telurnya).
2. 50 gram gula pasir
3. 2 buah pisang (lebih bagus jika sudah terlalu matang).
4. 50 gram mentega (cairkan).
5. Kismis secukupnya.

Bahan-bahan (kering):
1. ½ cup tepung terigu (ayak).
2. ½ sendok teh baking powder.
3. Sedikit garam.

Alat:
1. Baskom besar
2. Pengocok
3. Rice cooker (rice cooker kecil kapasitas 5 cup untuk 1 resep).
4. Spatula
5. Timbangan atau gelas takar
6. Kantong plastik ukuran 1 liter untuk menghancurkan pisang.
7. Piring saji atau loyang


Cara membuat:
  1. Kocok putih telur sampai busanya mengembang (sedang), masukkan gula sedikit demi sedikit. Kocok hingga rata.
  2. Kemudian masukkan berturut-turut kuning telur, pisang yang telah dihancurkan, dan mentega cair. Kocok hingga semua bahan tercampur sempurna. Tambahkan kismis, aduk rata.
  3. Campurkan bahan-bahan kering hingga merata, lalu masukkan adonan ke dalam panci rice cooker.
  4. Tekan tombol cook, kemudian setelah beberapa menit, rice cooker akan kembali ke mode warm. Tunggu 10 menit, kemudian tekan kembali tombol cook. Ulangi proses cook-warm hingga 5 kali siklus.
  5. Tes apakah adonan sudah matang sempurna dengan menusukkan lidi, jika sudah tidak basah dan lengket berarti sudah matang.
  6. Keluarkan panci rice cooker dari penanaknya, letakkan dalam posisi terbalik pada piring saji atau loyang hingga seluruh bagian kue terhidang di piring. Banana cake siap disajikan.
Sumber (dengan sedikit modifikasi):

Bochum, 5 Juli 2014