Pagi itu, di pekan ketiga September 2022 ketika kita semua baru berangsur-angsur memulai apa yang disebut “new normal” pasca pandemi COVID-19, aktivitas di kampus perlahan-lahan kembali ke mode luring. Kalau bagiku, bagaimana pun keadaannya, bulan September selalu istimewa, usiaku saat itu baru berubah angka. Tapi, kali ini, apa dan siapa yang menungguku di depan sana masih kubiarkan menjadi misteri saja. Bagaimana nanti kesudahannya? Tak mesti kubayangkan saat itu juga. Tapi, dari tadi kepalaku dipenuhi kelebat bayangan seperti teaser film petualangan. Siap tak siap, aku harus siap memulai petualangan baru: menjadi dosen wali.
***
Hari ini aku berangkat lebih pagi dari biasanya, tak sabar rasanya menyambut wajah-wajah baru yang akan mengisi paruh terakhir dekade keempatku, setidaknya dalam empat tahun ke depan. Daftar nama-nama mereka sudah kuperiksa sejak pekan lalu. Memori di kepalaku mulai berputar-putar, membayangkan masa laluku saat aku seusia mereka. Delapan belas tahun sebelumnya, satu langkah besar dalam hidup telah kuambil, merantau ke Bandung. Saat itu, lidahku masih terbata-bata, mencoba mereka-reka orang-orang baru, lingkungan baru, dan banyak hal lainnya yang serba baru. “Kira-kira, akan jadi apa aku nanti setelah lulus? Kuatkah aku bertahan dalam pusaran zaman yang terus berubah? Siapa nanti yang akan jadi kawan-kawan baruku?”
Hari ini, pertanyaanku berubah. “Apakah aku siap menemani mereka bertumbuh? Bekal apa yang sudah aku persiapkan untuk membersamai mereka? Akan jadi orang seperti apa aku nanti setelah mereka lulus?” Pagi itu, kami, dosen-dosen Prodi Teknik Biomedis dipanggil ke depan, diperkenalkan satu persatu oleh Kaprodi di depan seratus sembilan mahasiswa baru yang kami terima di semester Ganjil 2022/2023 yang dibagi ke dalam tiga kelas. Tiga puluh tujuh di antaranya akan menjadi tanggung jawabku.
Siangnya kami bertemu kembali di ruang kelas, sesi perwalian perdana. Dari tiga puluh tujuh nama yang kuterima, ternyata ada satu nama yang sama denganku, kupikir namaku sudah cukup langka di generasiku, rupanya masih ada orang tua yang memakainya untuk menamai anak perempuannya. Alasan ini pun akhirnya kupakai untuk memilih panggilanku untuk mereka, “Makcik”, nama panggilanku bagi wajah-wajah muda mahasiswa waliku di kelas TB-46-01, perwakilan dari seluruh nusantara, dari Aceh sampai Papua.
***
Hari-hari berlanjut sebagaimana biasa, semua orang beradaptasi pasca pandemi, tak terkecuali aku dan para mahasiswaku. Semester ini, aku mengajar mereka di kelas Fisika dan Pembentukan Karakter. Menunggu hasil semester pertama mereka seperti menunggu transkrip pertama ketika aku kuliah dulu, tapi kali ini bebannya terasa sedikit lebih berat. “Bisakah mereka beradaptasi dalam setengah tahun pertama ini?” Alhamdulillah, ternyata lumayan mulus. Aku cukup optimis semester selanjutnya akan berjalan tak jauh berbeda. Tapi, ternyata tantangan pertama aku hadapi saat mereka mengakhiri semester dua, rata-rata IP mereka terjun bebas. Aku termenung cukup lama, mencari-cari sebab dan akar permasalahannya. Kuperhatikan satu persatu daftar nilai yang kuterima, sampai suatu hari salah seorang dari mereka meminta waktu untuk menemuiku, disusul oleh beberapa lainnya. Kudengarkan satu persatu keluh kesahnya, ada yang menangis, ada yang terdiam cukup lama sebelum bisa bercerita panjang di depanku. Permasalahannya cukup beragam, tapi ada beberapa benang merah yang bisa kuuraikan perlahan-lahan. Anak-anak muda ini belum menemukan tumpuan, alasan paling kuat untuk membuat mereka bertahan, kebingungan menentukan tujuan. Dari cerita-cerita yang kudengar, banyak dari mereka yang memilih kampus dan jurusan ini bukan dari keinginannya sendiri, tapi karena arahan atau keinginan orang tua. Alasan klasik lainnya karena tidak diterima di Fakultas Kedokteran.
Dulu, dulu sekali ketika aku memutuskan untuk kuliah di jurusan Teknik Fisika, di Bandung dan di ITB, semua keputusan itu kuputuskan sendiri. Aku hanya meminta restu saja dari orang tuaku. Sejak aku masih kecil, mereka selalu berpesan, ketika memilih sesuatu, pertimbangkan matang-matang, dan jika sudah memilih, maka aku harus bertanggung jawab dengan pilihan tersebut, bagaimana pun konsekuensinya. Kukira, pengalamanku ini tak bisa serta merta langsung kujadikan contoh untuk permasalahan mahasiswaku. Di fase ini, tanpa sadar ada sudut dalam kepalaku yang mulai ditempati oleh para penghuni baru, nama-nama yang mulai kupikirkan masa depannya.
Tapi sebenarnya, ketakutan-ketakutan yang mereka rasakan saat itu, sedikit banyak memiliki kesamaan dengan apa yang pernah aku rasakan ketika seusia mereka. Namanya juga masa-masa pencarian jati diri, kalau tak takut justru aneh. Aku bukan tipe orang yang gampang untuk digurui, maka orang-orang yang bisa kudengarkan nasihatnya adalah orang-orang terpilih yang tak banyak jumlahnya. Sampai sekarang pun masih seperti itu, meskipun kadarnya sudah kuatur sedemikian rupa sehingga tak seliar ketika aku masih lebih muda. Skenario baru mulai kupikirkan, aku juga tak mau menggurui mereka, aku akan mengajak mereka berpikir, aku akan mengajak mereka merenung!
Aku percaya manusia itu mempunyai kesempatan untuk dilahirkan dua kali, pertama ketika lahir dari rahim ibunya, kedua ketika sadar apa tujuan hidupnya dan untuk itu tahu apa yang ingin dilakukannya di dunia ini. Apakah semua orang akan lahir dua kali? Belum tentu. Mulai hari itu, saat mereka pertama kali bertemu denganku, kuazamkan dalam hatiku bahwa aku akan berusaha hadir agar mereka bisa lahir kembali untuk kedua kalinya. Aku berutang banyak dari guru-guru dan dosen-dosenku dulu untuk alasan ini. Meskipun sampai kapanpun tak akan terbayar, tapi melalui jalan amanah ini aku akan meneruskan warisan kebaikan mereka.
Sebelum memulai semester-semester selanjutnya, mereka semua selalu kukumpulkan di satu kelas. Kuajak berdiskusi panjang lebar tentang topik-topik berat yang menantang mereka untuk berpikir, menampar rasa enggan, mengajari mereka tahu diri, menempa mereka dengan keadaan-keadaan yang tidak nyaman, dan pada akhirnya berharap mereka bisa menjadi manusia-manusia yang bertanggung jawab dengan pilihan-pilihan yang berkelindan dalam hidup mereka. Tak hanya di kelas-kelas perwalian, tapi juga selalu kusisipkan di kelas-kelas mata kuliah yang kuampu di kelas mereka. Suatu waktu, aku mengajak mereka berdiskusi panjang lebar tentang berbagai topik, di antaranya “GenZ, generasi stroberi?”, “Future Essential Skills”, “Bagaimana mengenali diri dan menyusun Individual Development Plan?” atau topik-topik lain yang mereka minta sendiri. Lain waktu, kubagikan buku-buku untuk mereka baca. Diskusi-diskusi tersebut akhirnya berangsur-angsur menjadi semacam pemantik. Di sela-sela kesibukanku mengajar dan meneliti, satu persatu mereka meminta waktu berdiskusi, makin banyak waktu dan energi yang kusediakan khusus untuk mereka. Lelah? Tak mungkin tidak, tapi panggilan hatiku sudah di sini. Sudut kepalaku tadi perlahan menjadi ruang yang semakin lapang, tempat kami bertukar pikiran, dan tanpa kusadari aku pun terus bertumbuh menjadi versi-versi lain yang belum pernah kukenal sebelumnya.
Ada satu momen yang masih kuingat sampai sekarang, rasanya hari itu aku seperti terlahir kembali untuk ketiga kalinya, lebih tepatnya momen kedua kali dari kelahiranku yang kedua. Sore hari setelah batas akhir pengumpulan daftar nilai akhir semester tiga, aku menerima data nilai semester mereka, pada detik itu mataku berkaca-kaca, aku teryakinkan sekali lagi bahwa panggilan hidupku adalah menjadi seorang pendidik, profesi yang sebelumnya tak pernah aku inginkan. Rata-rata nilai mereka yang terjun bebas di semester sebelumnya naik secara signifikan di semester tiga, bahkan jauh melebihi rata-rata di semester pertama. Rasa bahagia jenis ini baru pertama kali aku rasakan seumur hidupku, melebihi rasa bahagia yang aku rasakan ketika pertama kali bisa naik sepeda, tak bisa ditukar dengan uang, tak bisa ditukar dengan hadiah yang lain, sederhana tapi mengharukan.
Tak jarang, tanpa sadar, aku memasang standar lebih tinggi untuk mereka, aku ingin menempa mereka dengan rasa tidak nyaman dan kondisi dengan solusi yang tidak instan. Tak jarang pula kudengar keluh mereka, tapi aku harus tega, karena aku yakin tantangan di luar sana akan jauh lebih hebat dari kondisi simulasi yang mereka hadapi di dalam kampus. Dalam proses ini, aku pun bertumbuh, aku mengenal versi lain dari diriku, salah satunya ternyata aku sangat senang menyelami alam pikiran manusia yang berupa-rupa. Kebanyakan orang tak sebagaimana tampaknya, banyak lapisan-lapisan yang tak kita ketahui sebelumnya. Apa alasan seseorang menjadi dirinya pada suatu waktu tak pernah sama satu sama lain, meskipun terlihat mirip pada lapisan luarnya. Tapi, aku menemukan helai benang merah yang lain, bahwa latar belakang pengasuhan ketika seseorang dibesarkan di usia anak sampai remaja sangat menentukan bagaimana dia bertumbuh di fase-fase selanjutnya, termasuk di usia dewasa muda. Di tengah perjalanan, aku kehilangan satu mahasiswa wali yang akhirnya memilih pindah ke kampus lain. Pertemuan yang lebih singkat ini mengajarkanku banyak hal, tentang hidup dan pilihan-pilihannya, tentang harapan-harapan yang tertumpu pada pundak seorang anak dari orang tuanya.
Waktu terus berlalu, aku menyaksikan mereka bertumbuh, ada yang aktif di berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa, ada yang sibuk menjadi asisten di lab-lab riset dan lab-lab praktikum, ada yang sudah bisa mengajari adik-adik kelasnya. Lagi, terasa-rasa dalam benakku, rasa bahagia yang tadi sudah kuceritakan. Jenis bahagia seperti ini mungkin yang bisa membuat para pendidik sampai rela bersusah payah, yang dulu hal tersebut tak pernah masuk dalam akalku.
Tak terasa sampailah mahasiswa-mahasiswa waliku di pergantian semester lima ke semester enam. Fase ini menjadi salah satu fase menentukan bagi mereka sekaligus mendebarkan bagi diriku sendiri. Di semester enam, mereka mulai dihadapkan pada mata kuliah-mata kuliah pilihan yang sebagian besar berbasis proyek Tugas Besar, termasuk mata kuliah wajib Proyek Perancangan Terintegrasi yang menuntut persiapan lebih dari mata kuliah biasa. Di semester ini pula mereka harus mempersiapkan Kerja Praktik yang akan dilaksanakan di masa liburan semester sebelum naik ke tingkat empat. Selain itu, di semester enam ini, ditawarkan kesempatan bagi mereka yang ingin lulus lebih cepat dalam waktu tiga setengah tahun. Banyak yang harus aku persiapkan agar mereka tak salah jalan. Ketika melepas mereka untuk Kerja Praktik pun, hatiku rasanya tak karuan, campur aduk antara senang dan khawatir. Bukankah ini yang aku inginkan? Ingin mereka terbang tinggi dan melepaskan genggamanku, fase ini adalah awalnya.
Sepulang mereka dari Kerja Praktik sebelum masuk ke semester tujuh, aku mengubah strategi perwalian. Kupikir fase ini jauh lebih menentukan dari fase sebelumnya karena kurang lebih satu tahun lagi mereka akan lulus. Perwalian di kelas massal tetap aku laksanakan untuk keperluan registrasi SKS, namun setelahnya aku mewajibkan sesi perwalian khusus per mahasiswa atau maksimal mereka bisa datang bersama empat orang kawannya menemuiku. Dalam satu sesi perwalian tersebut, aku bisa menghabiskan waktu paling sedikit tiga jam bahkan lebih. Hampir dua bulan kuhabiskan waktu untuk sesi konsultasi tersebut. Banyak momen-momen “Oh” yang kutemukan dari pertemuan-pertemuan itu, ketika mulai kuketahui lapisan-lapisan lebih dalam yang belum pernah kukenal sebelumnya. Hampir selalu ada yang menangis, tak sedikit pula yang dengan gamblang menggambarkan rasa takut dan kekhawatirannya. Dua bulan tersebut banyak mengubah cara pandangku tentang mendidik manusia, membuatku mengevaluasi hidupku sendiri, dan mempertanyakan, apakah sudah cukup bekal yang kupersiapkan untuk mereka? Momen ini juga membuat deretan doaku makin panjang. Ruang di sudut kepalaku tadi sudah berubah menjadi rumah yang harus siap kehilangan penghuninya, tak lama lagi.
Tingkat empat mereka lalui dengan berupa-rupa pengalaman. Empat orang di antaranya menjadi mahasiswa bimbinganku, angkatan kedua di Prodi Teknik Biomedis yang aku bimbing. Pengalaman membimbing mereka pun tak kalah istimewanya, dari momen eksperimen dan pengujian di Rumah Sakit dan klinik, bimbingan jarak jauh ketika mereka harus mengambil data di kota lain, sampai momen-momen di mana aku sempat kehilangan kesabaran. Banyak mahasiswa yang mungkin belum tahu, Tugas Akhir itu bukan hanya menantang bagi mahasiswa, bagi dosen pembimbing pun tak kalah serunya. Di fase ini, bertepatan pula dengan penugasan baruku di struktural, di dua posisi berbeda yang hanya berjeda sepuluh bulan. Karenanya, aku pun harus beradaptasi lagi di tengah amanah yang semakin bertambah. Tak mudah, tapi aku terus berusaha hingga sampailah di hari-hari yang menentukan, Sidang Tugas Akhir. Alhamdulillah, empat orang ini berhasil menyelesaikan Tugas Akhirnya dengan nilai terbaik dan termasuk di antara mahasiswa yang sidang pertama di angkatannya. Rasa bahagia jenis yang tadi mengetuk lagi, kali ini ditambahi bunga-bunga, aku sampai harus menemukan momen sendiri untuk menikmati rasa haru dan harumnya.
***
Ibarat gelombang pasang yang mulai menyurut, fase hidupku bersama TB-46-01 mulai memasuki babak terakhir. Alhamdulillah, Allah izinkan tiga puluh satu dari mereka dapat menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan sarjananya dengan baik, artinya tak lama lagi mereka akan diwisuda. Dalam momen acara perpisahan bulan lalu, tumpah ruah perasaanku menemui titik baliknya. Kesempatan itu kumanfaatkan baik-baik untuk memotret dengan seksama wajah-wajah yang telah menemaniku belajar dalam empat tahun terakhir ini, belajar menjadi manusia lagi dan selalu belajar untuk menjadi guru yang baik. Kuperhatikan wajah-wajah yang selama empat tahun ini kutemui dalam berbagai fase dan ungkapan emosinya.
Tak hanya mereka, aku pun berubah menjadi versi yang berbeda dari empat tahun sebelumnya. Pertanyaanku di pertengahan September, empat tahun yang lalu: “Akan jadi orang seperti apa aku nanti setelah mereka lulus?” mulai kutemukan jawabannya sekarang. Hari-hari terakhir ini, menjelang dekade kelima hidupku, mereka telah mengubah banyak hal, tak hanya dalam hidup mereka tapi juga hidupku sendiri. Siap tak siap, aku harus siap. Rumah di sudut kepalaku tadi mulai kurapikan susunan barang-barangnya, kubersihkan setiap ruangannya, kupajang foto-foto mereka di salah satu dindingnya, kusiapkan pintu yang akan kubukakan kapan saja mereka ingin pulang, mereka-mereka yang telah aku pilih untuk menjadi penghuni tetap di rumah itu.
Kutemukan diriku hari ini telah menjadi manusia yang baru, yang harus menerima risiko dari cita-citaku sendiri, risiko kehilangan. Hari-hari ini, aku menemukan alasan dari rasa cintaku yang kubiarkan tumbuh untuk mereka, juga rasa cinta pada profesi yang akhirnya kupilih. Alasan pertama, aku tak pernah bisa melakukan apapun setengah hati, termasuk mencintai, apalagi diamanahi untuk mendampingi sekumpulan manusia. Kedua, dedikasi yang aku lakukan ini adalah sebuah bentuk “balas dendam” atas kekecewaanku terhadap hal-hal yang tak bisa kujangkau dan kukendalikan, salah satunya, penyelenggara negara. Apa yang aku lakukan ini setidaknya adalah sedikit yang bisa aku usahakan untuk generasi mendatang. Harapanku sesederhana, jika suatu saat mereka dihadapkan pada pilihan yang rumit, pilihan paling jujur dan berintegritaslah yang akan mereka pilih, betapapun sulitnya. Kapan tunas-tunas yang kutanam ini akan berbuah? Bukan urusanku, bahkan sampai aku tak ada lagi di dunia ini pun aku tak peduli. Biarlah mereka tumbuh, menemukan jalan hidup, dan menikmati buahnya sendiri, menjadi manusia-manusia baik di masa depan nanti. Seperti kata Ki Hadjar Dewantara: “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.”
Di malam perpisahan itu, setelah sesi diskusi panjang hampir lima jam, mereka menghadiahiku sebuah kotak, isinya dua puluh enam surat yang mereka tulis di atas kertas. Di tengah udara malam Lembang yang dingin, tiba-tiba hatiku menjadi hangat, sehangat kasih sayang ibuku yang malam itu berubah wujud menjadi doa-doa dan harapan yang mereka tuliskan untukku. Ingatanku terlempar ke puluhan tahun yang lalu ketika aku masih kecil. Di masa sekolah dulu, aku sering sekali berpindah-pindah sekolah. Setiap momen perpisahan itu, selalu aku yang menjadi orang yang meninggalkan, bukan ditinggalkan. Suatu hari, pernah seorang guruku menangis ketika aku pindah sekolah. Saat itu aku belum bisa memahami perasaan beliau seutuhnya. Saat aku meninggalkan Jerman dan kembali ke tanah air pun sama, aku yang meninggalkan, bukan ditinggalkan. Puluhan tahun kemudian, malam itu, aku baru sadar, “Oh, begini rasanya ditinggalkan.” Meskipun aku tak pernah mahir soal perpisahan, tapi ketika berada di posisi yang ditinggalkan ternyata rasanya jauh lebih menyedihkan. Rumah di sudut kepalaku tadi mulai kosong ditinggalkan penghuninya, tersisa lima orang lagi yang tak lama lagi juga akan segera menyusul kawan-kawannya. Persinggahan mereka di rumah itu adalah salah satu hadiah paling indah yang pernah Allah titipkan dalam hidupku. Ah, rasanya tak pernah cukup tulisan ini untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan. Rasa bahagia jenis baru tadi telah bercampur aduk dalam kepalaku, kuresapi dalam-dalam, hendak kusyukuri setiap detiknya.
Kata orang, kalau ada orang lain yang menginginkan dirimu lebih hebat dari dirinya, orang itu hanya orang tuamu saja. Tapi, hari ini izinkan aku menyimpulkan bahwa para pendidik yang sebenar-benarnya adalah orang-orang yang boleh masuk dalam golongan ini, setidaknya itulah yang aku rasakan setelah empat tahun terakhir ini. Aku ingin mahasiswa-mahasiswaku menjadi manusia-manusia yang lebih hebat dari diriku, dalam segala hal yang Allah izinkan mereka untuk mencapainya, setinggi-tingginya, sejauh-jauhnya.
***
Kawan-kawan TB-46-01, maafkan atas segala kekurangan dan kesalahan saya ketika kita belajar bersama. Jadilah versi terbaik kalian di masa depan nanti. Rumah yang pernah kalian singgahi, insyaAllah akan selalu saya bukakan pintunya kapan saja kalian ingin pulang. Jangan gampang menyerah. Kalau lelah tak apa berhenti sejenak, “satu-satu, pelan-pelan”. Terima kasih telah menjadi alasan bagi saya untuk menjadi lebih baik. Semoga Allah senantiasa menjaga kalian dalam setiap keadaan. Terima kasih telah membuat saya menjadi pemberani, yang berani hidup dan berani mencintai.
Bandung, 10 September 2026
***
What a privilege to have them, even just for a brief moment, and feel all of life in its essence. Dieses Gedicht ist für sie, puisi yang kutulis enam tahun yang lalu yang kini menemukan rumahnya.
Rumah di Sudut Jalan
Di beranda itu
semua tampak sederhana
bangku, meja, dan daun jendela
putih gading dimakan usia
Di halaman itu
semua tampak biasa
ayunan, rumput, dan bunga-bunga
basah, hijau, merona-rona
Di rumah itu
semua tampak bersahaja
sofa, buku, dan lemari kaca
menguning di bawah pendar cahaya
Di jalan itu
keping-keping peristiwa terserak
bercampur debu dan kerikil
menutupi lubang-lubang tergenang
membekukan masa dalam bingkai segitiga
Bandung, 1 Mei 2020