Monday, August 12, 2013

Bait-bait Ramadhan

Oleh: Ian Sancin

Hari Pertama Ramadhan. Nafsu terindah bersama Tuhan. 
Bangunlah sahur... katamu, agar dingin pagi hinggap di kulit lembut yang kelak bakal rapuh dihisap bumi. Sementara lidah merasakan nikmatnya sebelum fajar. Tetapi nafsu ternikmat ketika matahari menyentuh siang... semakin lapar semakin dekat di hatimu. Mengapa itu hadir di tanyaku. Jawabmu, itu jembatan terpendek bahwa kau tak perlu membawa apa pun ketika datang padaNYA, kecuali yang kau dapatkan di siang puasamu.

Hari Ketiga Ramadhan. Di bawah Kaki Tuhan.
Seperti gelegar petir menghenjakkan ingatan agar tersadar pada pemiliknya... tetapi desir angin yang sejuk kadang melupakan ingatan hingga tertidur... seperti primata dihembus angin timur. Betapa mudah terlenanya ingatan bahkan lupa... Itukah rasa lapar diberikan, tanyaku padamu. Bisa jadi begitu, jawabmu... sebab bagaimana kau bisa minta maaf jika melupakan kesalahan yang pernah kau buat... agar mata lebih terang melihat dan telinga lebih peka mendengar....

Hari Ketujuh Ramadhan. Angin Melintasi Pucuk Pinus.
Lembang masih lengang, subuh di temaram fajar. Hanya terlihat bayang pucuk pinus bergerak lembut ditiup angin. Sebentar lagi cahaya berpendar... tanda puasa dimulai. Aku masih terdiam ketika kau tanyakan mengapa mematung memandang noktah cahaya di langit. Padahal kau tahu aku tak memikirkan apa-apa kecuali takjubku pada sang pemiliknya. Sungguh semestanya langit dan betapa kecil diri jika tak sanggup melintasi siang menuju senja yang hanya setengah bumi mengitari matahari. Dan setengah hari bukan apa-apa, bukan jarak antara cahaya ke cahaya yang bertabur di langit sana... Maha Besar dan Pemurahnya Allah meringankan beban umatNYA.

Hari Kedelapan Ramadhan. Di atas Belitong.
Hijau putih kuning masih menempel di ingatan... terbingkai di jendela kecil yang melintasi langit... warna itu seperti luka kulit menganga sukar tersembuhkan. Juga tak kulihat pondok huma atau pun ladang sahang, hanya barisan palma merimba.... Milik siapakah bumi tanyaku padamu, ketika terpikir bahwa tanah dikuasai manusia... lalu kau tersenyum sembari mengatakan... kematian pasti datang tapi mempercepat prosesnya tentu diharamkam... lantas aku jadi ikutan tersenyum sembari membayangkan bahwa hanya proses alam dapat membuat usia lebih panjang. Ah, tak cukuplah pelajaran dahaga dan lapar dalam puasa buat memahaminya.... Tidak, kecuali dari kebahagiaan, makan dan minum yang kau dapatkan, begitulah tegasmu....

Hari Kesepuluh Ramadhan. Menghormati Tanah.
Ketika rembulan, angin, hujan dan panas mengatur waktu, tetapi keinginan kita diatur kehendak memasuki segala musim. Ah! Kehendak tak berbatas dan kadang memang menghilangkan batas. Itukah puasa di berikan... tanyaku padamu. Lalu kau tersenyum tak menjawab. Aku terdiam cukup lama, dan akhirnya kau berkata bahwa bukan sekedar tak makan minum dan mengendalikan nafsu tapi mensucikan bumi di dalam tubuhmu. Aku hampir tertawa tapi tertahan setelah tahu bahwa nanti bakal jadi tanah lagi.

Ramadhan Keempatbelas. Sayup Azan.
Sayup azan menenteramkan, menggetarkan... membelah pagi buta di sunyi dingin tanpa mata... lalu, kokok ayam pun terhenti agar sujud subuh terlaksana. Ada yang berbeda dari gema yang sampai ke telinga ketika pikiran bertanya dan hati menjawabnya.... Sebuah suara hanyalah pertanda, katamu. Hanya untuk satu jawabankah, tanyaku padamu. Iya, semua untuk Tuhan, katamu, begitupun puasa sebab lapar bukanlah rasa laparnya, sebab lapar akan hilang jika kau berbuka. Lantas ia buat apa, tanyaku lagi. Ada keteguhan yang baik bakal membaikan sebab bahagia hanya di ketentraman bukan yang di kegelisahan, tegasmu...

Ramadhan Kedelapanbelas. 
Jika setiap hari ada hal sama yang berulang... mata tak liar lagi memandang. Lalu pikiran diam di kesenyapan... dan di dalamnya ada sesuatu yang kudapatkan, aku mengatakannya hanya gambaran... kau sendiri menyebutnya sekedar khayalan.... Keduanya seperti awan bergerak dengan bentuk berbeda... Mengapa begitu, tanyaku padamu... dan katamu, di balik gambaran bukan hanya sesuatu yang lain.... Lalu apa, tanyaku lagi. Kau diam tak menjawab... aku juga diam karena ternyata puasa tak pernah bakal berakhir yang isinya hanya batasan, sebab di luar Ramadhanlah ujian yang paling menentukan.

Ramadhan Keduapuluh. 
Dari manakah datangnya angin ini, ucapmu kepadaku ketika bergidik merasakan dinginnya.... Tentu saja dari arah mata angin, jawabku asal saja guna menepis rasa ngeri yang seketika hadir di gelap malam.... Ia datang kala rasa takutmu hadir, lanjutnya. Lalu mengapa rasa takutku muncul dalam kesunyianku, tanyaku lagi. Agar kau tahu bahwa kematian menjadi kesunyian yang mengerikan kecuali puasamu mabrur dalam zikirmu bersama angin di segala musim.

Ramadhan Keduapuluhtiga.
Di keheningan malam menanti laila... membuatmu tersenyum lugu padaku. Salahkah aku, tanyaku. Tak ada yang salah, jawabmu. Lalu, mengapa senyummu menyimpan sesuatu, tanyaku lagi. Seraya memandang langit malam yang pekat... kau berkata, laila ada di hatimu tak perlu kau tunggu turun dari langit pekat malam sebab dia ada di hati yang benderang ketika puasamu sepenuh cahaya. Lalu, yang dari langit itu apa...? Itu rahmat bagimu.

Ramadhan Keduapuluhempat.
Jika gelap datang pasti ada cahaya yang menerangi setidaknya satu malam di beredarnya rembulan... lalu aku diam, bermandi cahayanya tatkala gelap hatiku memekat dan ia mesti hilang dibersihkannya. Mengapa hanya satu malam laila hadir, tanyaku padamu... dan katamu, rembulan yang menerangi malam sesungguhnya sudah lebih dari laila memberikan berkahnya, hanya yang tak berpikirlah tak pernah merasakannya. Mengapa begitu... Katamu, dinding hati terlalu keras untuk ditembus. Ah, aku jadi malu pada puasaku... sebab enam hari lagi rembulan datang, apakah bakal membawa cahaya baru....

Ramadhan Keduapuluhlima.
Setidaknya perjalanan menuju lima hari lagi bukanlah perjalanan yang pendek sebab apa yang didapat di duapuluh lima hari lalu tak mesti terbawa angin begitu saja... kelapangan hati mestilah dipeluk erat agar tetap bersama sepanjang masa, agar ketika menghadapNya ada teman dalam kesunyian... dan bahagia dalam kegembiraan... begitulah aku berkata padamu. Lalu kau tersenyum, tapi menandai apa? Sudahlah kupikir kau memahami apa yang kupikirkan.... Ternyata tidak, lalu kau berujar, selalu kukatakan padamu... setelah beberapa hari berikutnya, permulaan perjalanan panjang ke ujian sesungguhnya.

Ramadhan Keduapuluhenam.
Bagimana mesti memulainya jika puasa merupakan permulaan di hidup berikutnya menuju yang sebenarnya... kau tak segera menjawab tapi memberikan daun kering yang jatuh ke tanah... lalu berkata, dia menjadi ringan sebab beban dunia tak lagi ada padanya.

Ramadhan Keduapuluhtujuh.
Aku masih tercenung bukan memikirkan ringannya beban yang terlepas selama duapuluh tujuh hari lalu, bukan pula memikirkan permulaan di ujian setelah tiga hari selanjutnya. Bukan, bukan itu... tapi ada yang mengganjal di pikiranku, setelah itu kau bakal ke mana, sebab kau tidak akan menemaniku di sepanjang masa, tanyaku padamu... dan jawabmu, jika puasamu mabrur, aku tetap bersamamu tapi tak lagi berkata-kata hanya memantaskan apa yang pantas untuk dipantaskan... maka pantaskanlah dirimu menjadi yang sebenarnya dirimu...

Ramadhan Keduapuluhdelapan.
Tak ada yang lebih mulia daripada kemuliaan itu sendiri... lalu jika didapatkan akankah derajadku menjadikanku lebih mulia dari yang sesungguhnya... Kau tertawa ngakak... seraya berkata, kemuliaan bukanlah mengejar derajat lebih tinggi tapi memeluk bahagia sejati. Aku tercenung... sepertinya ada yang salah di perjalanan puasaku. Kau tak salah, tandasmu, hanya bagimu kemuliaan serupa kehormatan yang kau dapatkan... padahal kemuliaan hadir atas kehendakNya.

Ramadhan Keduapuluhsembilan
Jika aku tak bersabar maka waktu begitu cepat berlalu sebab semua bisa kugapai dengan lebih cepat... akankah semua alat bantu yang menyertaiku mempercepat proses kematian... bisa jadi begitu jawabmu. Mengapa kau tak begitu tegas mengatakan yang sebenarnya, tanyaku. Jawabmu, kau masih memiliki pilihan hidup yang lebih panjang sebab waktu tidaklah berubah kecuali kau sendiri yang tak sabar dikawal olehnya...

Catatan kaki:
Pak Cik Ian, begitu aku memanggilnya. Mungkin lebih dari sepuluh tahun yang lalu, pertama kali aku bertemu beliau. Saat itu, aku masih duduk di bangku SMA, bukan sekali dua kudengar ayahku bercerita tentang Pak Cik Ian. Ayah begitu gembira menemukan saudara sepupunya ini ketika kami sekeluarga baru pindah ke Pangkalpinang. Waktu berlalu, kali kedua aku bertemu Pak Cik adalah ketika aku masih di Bandung, bulan April 2010, ketika Ayah Ibu mengunjungiku. Lalu kuminta Pak Cik membubuhkan tandatangan di sebuah novel karya Beliau, Yin Galema. Sebuah novel yang meninggalkan rasa bangga ketika selesai membacanya, sebuah novel yang kata ayahku tak sembarang orang bisa menulisnya bahkan untuk membacanya pun kau harus menggunakan hati serta halus perasaanmu, demi meresapi bait demi bait rangkai katanya. 

Aku masih ingat kata-kata Pak Cik, mungkin redaksinya berbeda, namun maknanya tetap kuingat: 'Dunia itu butuh seni dan seniman. Tak elok rasanya kalau hidup tanpa dibumbui seni', begitu kata Beliau. Terima kasih Pak Cik telah mengizinkan untuk merangkum bait-bait Ramadhan ini, terima kasih pula telah menjadi guru bagiku, karya-karyamu selalu menginspirasiku di tengah semak otak kiriku yang sering kali meluap tak mau kalah dengan otak kananku. Salam takzim dari Bochum. 

Bochum, musim panas, 12 Agustus 2013




Friday, July 12, 2013

Semburat Langkah dalam Bayangan Hujan

Malam sudah larut tapi mataku tak kunjung terpejam, bukannya tak mau, tapi memang malam itu  aku tak boleh tidur. Malam yang akan tercerai definisinya karena berkejaran dengan matahari, dalam ribuan mil perjalananku ke tanah seberang. Dalam gelap, kakiku sepertinya harus berlari lagi, berlari lebih kencang lagi. Apa yang akan kutemui nanti juga masih gelap. Lambaian ayah ibu mengantarku di tengah pekat malam Jakarta. Lambaian yang entah kapan akan kulihat lagi. Aku menoleh pada mereka untuk terakhir kali, senyumku mengembang, senyum pamitku untuk mereka yang selalu aku cintai.

Nekat saja pikirku, bekalku sudah lebih dari cukup, aku berbekal doa dan cinta dari orang-orang yang kusayangi. Perasaanku campur aduk, mereka yang telah memenuhi hatiku hingga meluap-luap selama hidupku, kini harus kutinggalkan jauh. Ah, kalau titik referensinya kutukar, bisa kuanggap mereka yang pergi, bukan aku. Gampang juga kupikir, ini hanya main-mainan logika saja. Baiklah, langkahku harus kukayuh, ceritanya baru akan dimulai.

Sore itu, di penghujung musim gugur, langit kelabu menyambutku. Tak ada basa basi, petugas pemeriksa paspor bertanya dengan tatapan dingin "What are you going to do in Germany?" "Study, Sir", jawabku singkat. Tak ada siapa-siapa yang kukenal di sini, harap-harap cemas kutunggu dua teman baruku. Lega ketika kulihat mereka melambai-lambai di pintu keluar. Moni dan Michal, dua teman baru yang dalam seminggu berikutnya membuatku merubah semua persepsiku tentang negeri dingin ini.

Terbangun aku di suatu pagi, kehilangan definisi ruang dan waktu. Kamar ini, ranjang ini, jendela ini, tiba-tiba tak sama lagi. Aku di mana? Kubuka gordyn jendela, hitam pekat di luar sana, aku pun kehilangan pagi, tapi pagi yang mana? Kulirik jam tanganku di atas meja, baru pukul 2, pukul 2 yang mana pula? Aku menghitung-hitung, mencoba kembali pada kesadaran yang sempurna.

Semua serba baru bagiku. Lingkungan baru, teman-teman baru, sistem dan aturan-aturan baru. Berkali-kali kuulangi dalam hati, "Mohon bersabar wahai tubuhku, jangan lelah dulu, petualangan ini baru saja dimulai". Aku tak punya alasan untuk tidak bersyukur apalagi menjadi malas dan skeptis tentang masa depanku.

Pukul 07.30, pagi-pagi sekali, aku sudah rapi jali, menunggu kawan baruku Moni, janji pertama yang aku buat dengan orang Jerman, dan memang tepat pukul 07.30 dia datang. Pelajaran pertama: tepat waktu. Banyak sekali yang harus kuurus hari ini, salah satu yang kutunggu-tunggu adalah bertemu supervisorku, Prof. Schmitz. Lalu, aku berkenalan dengan kawan-kawan baru, 8 orang muda yang penuh semangat. Kuperhatikan gerak-gerik dan tutur kata mereka, pelajaran berikutnya: tak satupun dari mereka yang memanggil supervisor kami dengan embel-embel Prof, Herr atau pun nama belakangnya, cukup nama depannya saja. Dengan begitu, obrolan mengalir lebih hangat, lebih akrab.

Pukul 12 siang, aku dan Moni masih berada di bank, tiba-tiba seperti tergesa ia menelpon. "Kau ada janji?" tanyaku. "Tidak, hanya sudah waktunya makan siang, sebentar lagi kita menyusul mereka ke Mensa", jawabnya sambil tersenyum. Oh, rupanya mereka punya kebiasaan makan siang bersama di Mensa, kantin universitas. Satu meja bersama supervisor dan para kolega. Dari obrolan mereka, terkesan tak ada jarak, walaupun aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan, tak sepatah pun. Siang ini aku makan roti, belum ada nasi. Lalu mereka bertanya-tanya, makanan apa yang aku bawa. Agak sulit menjelaskan apa itu rendang, kubilang saja semacam kari khas Indonesia, karena kupikir tak ada juga padanan kata dari bumbu-bumbunya dalam bahasa mereka.

Alhamdulillah, Dia mempertemukanku dengan orang-orang baik di saat aku tak punya siapa-siapa di sini. Dua teman baruku, Moni dan Michal, mahasiswa doctoral dan peneliti poctdoctoral, muda, cerdas dan baik hati. Di minggu pertama aku di sini, merekalah yang mengantarku ke sana kemari, mengurus ini itu, sampai menemaniku belanja barang-barang kebutuhanku hingga ke kota tetangga. Mereka yang menanyaiku tentang makanan apa yang tidak boleh kumakan, tentang kebutuhan khususku untuk beribadah sampai menjemputku di pagi dingin berkabut, menemaniku berjalan kaki ke kampus di saat semester ticket kereta-ku belum kuperoleh.

Sampai hari ini pun, tak jarang aku sampai merasa tidak enak karena kebaikan mereka. Michal akhirnya memilih berkarir di perusahaan. Cake pisang, bolu coklat dan teh hangat, sore sederhana yang akan tetap kuingat, perpisahan dengan teman kami, Michal yang baik hati.

Di sini, satuan terkecil Fakultas adalah Institut. Institut kami terdiri dari seorang Profesor, 2 orang dosen, 8 asisten peneliti (mahasiswa doctoral), seorang sekretaris dan seorang pegawai administrasi. Dengan 12 orang ini lah, hidupku dalam beberapa tahun ke depan akan kuwarnai. Kukenali wajah mereka satu persatu, salah seorang temanku berasal dari Iran, satu lagi berasal dari Kazakhstan namun sejak kecil pindah ke Jerman, dan sisanya adalah native Jerman.

Salah satu alasanku untuk berpetualang adalah aku ingin mengenal berupa-rupa manusia. Ingin kuselami pikiran mereka, kubaca budaya mereka dan kukenal dunia selain tanah asalku. Aku ingin belajar banyak hal.   Di sini aku tak akan kesepian, selama masih ada hujan, derainya bisa kutatap dari balik jendela, indah. Selama masih ada bintang, bulan dan awan, dongakku tak akan bosan menatap langit. Pun matahari walau tak sehangat yang selama ini kukenal, tak akan berubah menyiratkan harapan. Dalam setiap desir angin, pergantian musim dan lalu lalang manusia, ingin kuhirup nafas terdalam dengan mata terpejam. Biar serpihnya mengalir hingga urat nadiku, menenangkan.

Singkat saja kulewati bulan-bulan pertama yang semakin dingin, aku rindu matahari. Tanpa sadar, kita selalu mencetak persepsi-persepsi di kepala kita. Lalu pelan-pelan mencocokkannya dengan kenyataan yang kita temui setiap hari. Persepsi selalu bersifat subjektif, dibangun dari perasaan dan pengalaman, lalu tersusun sedemikian rupa menemani pembelajaran setiap insan sepanjang hidup. Persepsi pertamaku tentang Jerman adalah dingin, iklimnya, juga orang-orangnya. Benar atau tidak, sedikit demi sedikit kucoba definisikan sendiri. Dingin, menurut kulit Melayuku yang sebelumnya tak pernah tersentuh salju, tapi tidak setelah kulewati musim dingin pertama dengan suhu yang anjlok hingga -18°C. Allah Maha Kuasa, Dia menciptakan tubuh manusia sesempurna-sempurnanya, yang bisa menyesuaikan diri seiring waktu. Aku pun tetap bertahan hingga hari ini, menyambut musim dingin kedua yang terasa lebih "hangat", relatif bukan? Dingin, jika kita bertemu orang-orang tak dikenal yang lalu lalang di perjalanan, tapi tidak jika kita mengenal mereka secara personal. Ramah mereka tak kalah hangat dibanding matahari bulan Juli.

Dari 365 hari dalam satu tahun, mungkin tak lebih dari 3 bulan, Jerman disiram hangat matahari sempurna. Sisanya adalah hari-hari kelabu, dingin, hujan, bahkan bersalju, yang membuat orang tak betah berlama-lama di luar, bahkan sering sekali menciutkan semangat untuk bangun pagi. Bagaimana mungkin mereka akan seramah orang Indonesia yang bisa menikmati hangat sepanjang tahun. Mereka hanya punya musim panas yang tak begitu lama, yang sontak membuat orang-orang tiba-tiba riang gembira. Generasi demi generasi, alam telah membentuk mereka seperti itu. Suatu hari, aku duduk seorang diri di bangku kereta menuju Belanda. Aku harus turun di Arnhem, sebuah kota di timur Belanda dan melanjutkan perjalanan dengan kereta berikutnya. Orang Belanda relatif lebih ramah, teoriku tentang iklim tak sepenuhnya benar, mungkin karena mereka bangsa pedagang, entahlah. Sesampai di Belanda aku menjadi pelupa, satu hal yang paling lumrah dilakukan orang Indonesia: tersenyum!

Suatu waktu aku berpikir, apa yang membuat orang Jerman begitu giat. Dibanding Indonesia mereka tak punya apa-apa! Indonesia punya semuanya, iklim yang ramah sepanjang tahun, sumber daya alam yang melimpah, laut yang luas, hutan yang kaya, dan penduduk dengan persentase usia produktif yang relatif tinggi. Sungguh anugerah yang tak terhingga. Orang Jerman harus berjuang mengatasi tantangan alam, mereka tak boleh manja, kalau tak pintar-pintar mereka bisa mati konyol. Berabad-abad kenyataan ini mendorong mereka berpikir keras, mencari cara, mengolah akal, lalu terciptalah penemuan-penemuan hasil teknologi rekayasa untuk memudahkan hidup mereka. Selanjutnya seiring zaman, mereka lalu berpikir untuk menguasai dunia! Itulah manusia, kisahnya tak jauh-jauh dari nafsu yang senantiasa menderu.

Sejak kecil aku senang sekali mendengarkan bahasa-bahasa yang terdengar asing di telingaku. Dulu setiap pukul 5 pagi, radio BBC berbahasa Inggris gemerosok timbul tenggelam terdengar sayup-sayup dari ruangan tengah rumah kami atau sesekali ayahku menonton berita CNN di televisi. Aku belum mengerti apa yang disampaikan pewarta berita itu setiap pagi, sederhananya aku hanya senang mendengarkan mereka berkicau-kicau dalam bahasa mereka sendiri. Pada kenyataannya bahasa Inggrisku tak maju-maju. Belasan tahun kemudian, mau tak mau aku harus bisa berbahasa seperti mereka, ditambah lagi kenyataan baru, aku harus bisa berbahasa Jerman. Orang Jerman mencintai bahasa mereka seperti orang Melayu mencintai syair, tak bisa ditawar-tawar. Sejak Februari, di akhir musim dingin yang lalu, kupecut lidahku untuk belajar bahasa baru. Bahasa Jerman terdengar lebih berat, seperti suara orang sedang menggeram, huruf-hurufnya seperti keluar dari pangkal-pangkal leher dan nadanya naik turun, sekali lagi ini hanya persepsiku. Bulan demi bulan, sedikit demi sedikit aku tak lagi buta aksara. Kali pertama kulihat pamflet dan pengumuman di jalan-jalan, aku hanya mampu menerka-nerka dari gambarnya. Sekarang semuanya sudah terlihat lebih menarik, aku tak lagi buta arah, pun suara Ibu-Ibu pemaklumat di stasiun kereta sudah terdengar akrab di telinga. Sekarang aku paham apa isi perbincangan sahabat-sahabatku setiap makan siang, sekarang aku tahu apa yang mereka tertawakan. Setiap aku mencoba berbincang dalam bahasa Jerman, mereka begitu senang, walaupun berkali-kali aku harus mengulang-ngulang: "Wie bitte?". Tak masalah, setidaknya aku sudah mencoba, dan itu yang mereka hargai. 

Satu lagi yang kupelajari dari sahabat-sahabatku: segala sesuatu itu harus dibicarakan jika memang diperlukan, kalau kita tidak menyampaikan jangan harap mereka akan berinisiatif menanyakan, apalagi memberi bantuan. "Kami tak mahir membaca pikiran", begitulah kira-kira maksud mereka. Dan kalau sudah berniat membantu, mereka tak pernah setengah-setengah, kalau memang tidak bisa mereka akan menyampaikannya sejak awal.

Orang Jerman senang sekali menstatistikkan segala sesuatu, sehingga memudahkan mereka untuk melakukan evaluasi dan terus-menerus meningkatkan kualitas. Semuanya dibuat serba terstruktur dan rapi. Perjalanan dari kota A ke kota B akan lebih mudah diperkirakan, sehingga tak menyusahkan jika hendak membuat janji bertemu. Semuanya jadi serba mudah. Tapi diam-diam aku merindukan semrawut transportasi di tanah air, rasanya lebih menantang dan penuh duga-duga, lebih "nyeni"!

Sejak kecil aku menyukai museum, dan kota kecilku nun jauh di Pulau Belitong sana hanya punya satu museum mungil yang berdiri hingga hari ini, tak jauh dari sekolahku dulu. Museum yang merangkap menjadi kebun binatang, museum yang selalu aku rindukan. Aku begitu menikmati saat-saat larut terbawa bingkai-bingkai waktu yang terserak dalam keping-keping sejarah. Rasanya seperti hidup di zaman yang berbeda, dilahirkan kembali dan kebingungan menemukan jalan pulang. Di Jerman, hampir di setiap kota bisa kita temukan berbagai museum, mulai dari museum sejarah, museum seni, museum makanan, museum olahraga, museum tambang dan macam-macam museum lainnya. Tiap ada waktu luang aku selalu ke museum, menelisik helai-helai sejarah dalam temaram lampu di sudut-sudut ruangan tak berdaun pintu.

Aku tak ingin menilai suatu bangsa lebih berbudaya dibanding bangsa lainnya, karena aku percaya setiap budaya terbentuk oleh serangkaian alasan yang panjang, yang pada akhirnya membentuk ciri khas masing-masing. Kita hanya perlu meletakkannya pada tempat yang tepat.

Aku tak akan pernah tahu apa yang akan kuhadapi dalam petualangan ini, pun sampai kapan waktuku habis. Hidup kusebut sebagai petualangan, seperti yang selalu seorang sahabatku kenangkan. Aku hanya ingin berbuat terbaik yang aku bisa, menjalani setiap prosesnya dengan sabar dan syukur sambil sesekali menikmati kejutan-kejutannya. Biarlah kutinggalkan semua kemudahan-kemudahan di sana, yang sepanjang tahun bisa kukenakan pakaian dengan jenis yang sama, yang dengan mudahnya kuperoleh makanan-makanan yang tak perlu aku bertanya-tanya tentang kehalalannya, yang sepanjang hari bisa kuhabiskan waktu bersama keluarga dan para sahabat.

Di sini, memang tak akan ada pengganti yang sama, tapi akan kutemui pula berupa-rupa pengalaman yang tidak akan kuperoleh di sana. Tak terasa, sudah lebih dari setahun aku di sini. Empat musim telah menyapa dari balik jendela kamarku. Waktu tak akan pernah menunggu, sedetik pun, sekejap pun. Nyatanya dia terus berlalu, tak peduli berapa helai sesal yang kau bakar menjadi abu. Biarlah hanya rindu saja yang akan beradu dengan deru semangat, seperti bayangan hujan yang derainya beradu dengan matahari, langkahku masih belum berhenti.

Bochum, 12 Juli 2013

Empat musim yang setia menyapa dari balik jendela

Thursday, June 27, 2013

di antara

Menyoal pilihan hidup, bagiku tak lebih dari memandang elemen paling dasar dari kehidupan itu sendiri: "hidup untuk apa?" Otakku sedang sedikit rumit sore ini, ingin menalar sekelumit tanya pada diri sendiri. Aku ingin duduk sebentar, berhenti berlari lalu menoleh ke belakang, memandang kelok-kelok yang kadang sudah gelap tertelan belukar.

Pada detik ini, aku mencoba menyusun kembali remah-remah memori yang telah dengan sangat ajaib terangkai membentuk kehidupan yang kujalani pada sekian hari belakangan ini. Beruntung, tak sekali pun ayah ibuku memaksaku untuk menjadi apa, tapi terkadang nalar bebasku sering sekali terlalu menguasai.

Aku masih ingat, berbelas-belas tahun yang lalu, aku pernah punya cita-cita ingin menjadi penerjun payung, lalu ingin jadi tentara, dan terakhir ingin jadi insinyur. Khayalan-khayalan bebas masa kecil adalah api semangat yang senantiasa menyala, merangkai mimpi-mimpi yang bebas pula. Lalu asumsi-asumsi yang dulu kubuat dalam imajinasiku sendiri, dibumbui dengan perhitungan-perhitungan konyol, lambat laun menciptakan  kesadaran-kesadaran baru di kemudian hari, kesadaran akan berbagai ketidakmungkinan dan kenyataan yang pelan-pelan tak jarang bertolak belakang.

Aku paling gemar memperhatikan bagaimana kehidupan merangkai cerita yang diperankan oleh para pelakonnya. Kawan-kawan kecilku dulu, yang berbelas-belas tahun tak terdengar kabarnya, lalu seperti tiba-tiba saja telah menjadi "Bapak-Bapak" dan "Ibu-Ibu" yang dulu hanya kami kagumi lewat buku-buku atau tokoh-tokoh hidup yang kebetulan hadir dalam masa kecil kami. Si A kini telah menjadi dokter, si B jadi guru, lalu si C jadi polisi, dan si D jadi pengusaha. Sayangnya, aku telah melewatkan kisah-kisah mereka, yang tentu bukan hanya sesingkat dan semudah menggoreng telur untuk sarapan pagi.

Lalu, di fase kehidupan selanjutnya, aku bertemu orang-orang dengan berbagai kisah yang tak kalah seru. Ada sahabat yang pun tanpa diminta, selalu menyelipkan nama kita di setiap doanya, ada pula sahabat yang diam-diam menyimpan rindu dalam setiap pertengkaran kecil dan debat tak berkesudahan. Ada sahabat yang sudah tak tahu ingin mencapai apa lagi dalam hidupnya, karena saking suksesnya dalam takaran hidup duniawi, lalu merasakan kegamangan hidup yang luar biasa. Banyak orang yang tak seperti bagaimana tampaknya, keropos paling rapuh yang tersimpan dalam hati adalah teritori paling pribadi yang hanya diketahui oleh si pemilik raga, juga Sang Penciptanya. Oleh karena itu, aku tak pernah berani menilai pribadi orang lain, sedekat apa pun aku mengenalnya.

Lalu bagaimana dengan aku sendiri? Pun demikian adanya. Rangkaian pengalaman, mimpi, logika, usaha dan segala macam kelumit dalam hidup pelan-pelan telah membentuk aku yang seperti sekarang ini. Aku yang masih dengan mimpi-mimpi bebal menari-nari dalam kepala semenjak pagi, aku yang masih sering tak sabar menikmati episode-episode seru yang mengajakku berlari, lalu aku yang pun belum bisa bermanfaat untuk ayah ibuku hingga hari ini.

Setinggi apa pun cita-cita, sejauh apa pun jarak yang pernah ditempuh, selalu ada kata kembali yang senantiasa memberikan secercah harapan. Lelah yang terakumulasi sepanjang hari, punya kata kembali: malam, tidur, atau istirahat. Perjalanan jauh baik itu untuk merantau atau sekedar bepergian, punya kata kembali: pulang, atau mudik. Hidup dengan episode-episode yang tak terduga punya kata kembali: mati, kubur, atau akhirat. Pun fenomena-fenomena di alam ini senantiasa menemui fase kembali untuk istirahat dan memulai siklus berikutnya. Kata ayah ibuku: "Jadi apa pun engkau nanti, jadilah orang yang bermanfaat. Tujuan hidup di dunia ini hanya satu: untuk beribadah, itu saja".

Dalam rangkaian imajinasi bebalku ini, aku punya cita-cita yang sungguh sederhana: menikmati sisa hidup dengan damai di kampung halamanku nun jauh di seberang samudera sana. Hidup sederhana dalam rumah panggung beratap rumbia, tak punya segala macam alat komunikasi elektronik yang mengalihkan dunia nyata yang tinggal satu-satunya di hadapan mata. Lalu pelan-pelan nyawa ini direnggut tanpa ada yang menangisi, dan tanpa menyusahkan seorang pun juga. Ah, damai sekali rasanya.

Bochum, 27 Juni 2013
musim panas berinai hujan

Tuesday, May 07, 2013

Langlang Buana ‘Percakapan Diam-Diam’


Berawal dari kecintaanku pada seni, demikianlah kisah petualangan sebuah buku bermula. Sebuah buku berisi lantunan kata-kata dalam sebuah ‘Percakapan Diam-Diam’, yang telah tunai petualangannya sampai ke Bochum, Jerman, kota kecil tempatku berjuang saat ini.

Suatu sore di bulan Juni, musim panas tahun lalu, sepulang dari kampus, seperti biasa aku melepas lelah sambil membaca buku, menunggu malam tiba, sambil mengamati deras arus informasi dari berbagai media sosial. Sore itu, tanpa sengaja aku menemukan sebuah akun twitter: @lelakibudiman, nama yang unik kupikir. Sejak saat itu, sering kusimak ‘kicauan’ sang @lelakibudiman, yang di kemudian hari kuketahui bahwa ia menulis sebuah buku kumpulan puisi: ‘Percakapan Diam-Diam’, ilustrasi oleh Koskow, dosen ISI Yogyakarta, yang juga pernah mengajar sahabatku, Ponda.

Ayahku juga seorang pembaca akut, kupikir tak ada salahnya menghadiahi beliau sebuah buku. Tanpa pikir panjang, aku pun memesan ‘Percakapan Diam-Diam’ untuk dikirim ke kampung halaman. Nanti saja pikirku, bila masih ada umur untuk pulang, ‘Percakapan Diam-Diam’ bisa kubaca sambil menikmati sore di beranda rumah bersama Ayah.

‘Percakapan Diam-Diam’ pun memulai petualangan pertamanya  dari Jogja ke Tanjungpandan pada November 2012. ‘Bukumu sudah sampai’, kata Ayah pada suatu sore. Lalu Beliau membacakan beberapa bait puisi di dalamnya. ‘Percakapan Diam-Diam’ masih tak terjangkau olehku, saat itu ia mewakili rindu.

Januari lalu, karibku Mira yang sedang belajar di Nijmegen, Belanda, berencana pulang untuk menghadiri pernikahan kerabatnya. Aku pun serta merta meminta kesediaan Mira untuk mengajak ‘Percakapan Diam-Diam’ pulang bersamanya nanti ke Belanda. ‘Percakapan Diam-Diam’ pun melanjutkan petualangan berikutnya dari Tanjungpandan ke Cimahi, Depok dan Jakarta, untuk selanjutnya menempuh perjalanan ribuan mil ke Amsterdam dan Nijmegen pada Februari lalu.

‘Percakapan Diam-Diam’ menikmati musim dingin di Nijmegen, musim dingin yang panjang dan baru beranjak pergi di awal April tahun ini. Mungkin ia terkejut agaknya, melihat kelabu yang enggan pergi, kadang sayup dingin menggigit tiba-tiba menyelinap dari celah pintu. Saat itu ia mewakili tubuh kami, orang Indonesia, yang ringkih diterjang hawa dingin, demi mengejar mimpi di negeri antah berantah ini.

'Percakapan Diam-Diam' pada suatu siang nan cerah
di Keukenhof, Lisse, Belanda
Musim semi datang terlambat, bunga-bunga liar yang sempat bersemi di awal Maret, harus mengurungkan niatnya, rupanya salju masih betah menemani kami berlama-lama. Kuharap ‘Percakapan Diam-Diam’ masih sabar menungguku sampai musim semi tak berbohong lagi.

Bulan Mei pun tiba membawa hawa hangat dan semilir teduh sepanjang sore. Waktu yang tepat untuk menjemput ‘Percakapan Diam-Diam’. Sabtu pagi di Stasiun Leiden Centraal, pada sebuah pertemuan malu-malu, ‘Percakapan Diam-Diam’ terbata mengenalkan diri padaku, tabik senyum rindu, tak ragu lalu kuajak ia menikmati semi di taman bunga Keukenhof.

Dalam perjalanan pulang kembali ke Nijmegen, kubaca lirih sebuah puisi dalam ‘Percakapan Diam-Diam’:

'Percakapan Diam-Diam'  di jendela kereta
dalam perjalanan pulang menuju Nijmegen
Pun Angin Tak Mampu

Ijinkan aku sejenak
menikmati  lembut denyut
yang tak sempat kau ucapkan

Hingga esok
Kubisikkan lirih
selamat pagi.

Pun angin tak mampu
mencuri dengar
debar itu dari hatimu.
***


Seorang gadis Belanda, melirik penasaran mendengar lirih suaraku, senyumnya mengembang. ‘Ini puisi, Nona. Puisi yang kami bawa jauh dari negeri kami, tempat nenek moyangmu dulu pernah menjajah leluhur kami’, gumamku dalam hati.

‘Percakapan Diam-Diam’ pun mengakhiri petualangan panjangnya, tiba dengan senyum bersahaja di Bochum. Kini ia duduk manis di rak bukuku, rumah barunya. Sore ini kami bercakap-cakap, sambil minum kopi. Kabarnya rindu tak perlu alasan, begitu kata ‘Percakapan Diam-Diam’:

Sajak Kecil tentang Rindu

Mungkin tak semua hal membutuhkan alasan, seperti kerinduan.
Datang begitu saja, tiba-tiba. Tanpa alasan, namun menyenangkan.
Kita tak pernah tahu alasan apa yang membuat kita saling merindukan?
Jarak?

Sebelumnya kita tak pernah dipersatukan jarak.
Atau mungkin kita merindukan sebuah pertemuan? Kita belum pernah bertemu sebelumnya. Rindu itu menelusup tiba-tiba.

Kita tak saling memikirkan, namun saling merindukan.
Sebab kerinduan teramat jujur hingga tak mampu membuat alasan.
Alasan kerinduan adalah rindu itu sendiri.
***

Kami pun menutup sore nan manis, semanis reguk-reguk kopi kami yang mulai dingin dicuri senja, dengan sajak terakhir dari 'Percakapan Diam-Diam':

Tiga Sajak Kecil yang Kutulis Sebagai Surat Cinta

(1)
Aku
Tingkap jendela
'Percakapan Diam-Diam' pada suatu sore nan teduh di Bochum
Menunggu cahaya
Datang memberi nama
Pada Warna

(2)
Engkau
Cahaya, tanpa nama
Menyapa
Tanpa kata
Tanpa swara

(3)
Kita
Hanyalah kecil ruang
Menjamu cahaya
Meramu warna
Dan, menamainya: Cinta
***

Bochum, 7 Mei 2013

Catatan kaki:
Terima kasih Mas @lelakibudiman dan Pak Koskow, yang telah mempersembahkan karya unik nan indah. Saya menantikan karya-karya selanjutnya. ‘Adik’ sang ‘Percakapan Diam-Diam’ di tan kinira, ‘Teman Merawat Percakapan’ sudah sampai dengan selamat di London, ia akan ikut berpetualang bersama sahabat saya ke Belanda, Perancis dan Swiss, sebelum kami bertemu musim panas nanti di Jerman.

Sunday, April 07, 2013

Secarik Sore di Tepi Telaga


Riak telaga, semburat cahaya, lalu kayuhmu hendak kemana?


Schloß Strünkede, Herne, Bochum, 28 April 2013

Please find my amateur photoworks here: http://www.flickr.com/photos/maktjik/

Save Belitong Campaign


“Save Belitong” is a cause to gather support from people all over the world to SAVE THE SEA OF BELITONG FROM SEA MINING.

Belitong Island or Billiton is an Island in Indonesia blessed with heavenly beautiful white sandy beaches, and hundreds of granite boulders decorating the crystal clear sea water. Home for magnificent coral reefs and diverse sea biota, the sea around Billiton has nourished the people in the island. The harmony of this nature is threatened by the sea mining activity that currently under planning. The aim of this cause is to make the voice against sea mining in Belitong majority so that the government has no reason not to stop this mining plan from going on.

Belitung atau Billiton adalah sebuah pulau di bagian barat Indonesia yang dianugerahi keindahan alam berupa pantai-pantai berpasir putih berhiaskan batu-batu granit raksasa. Perairan laut Belitung menjadi surga bagi keanekaragaman hayati seperti ikan, terumbu karang dan biota laut lainnya, yang telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakatnya. Namun, harmoni alam di Belitong saat ini terancam oleh rencana penambangan di laut sekitarnya. Tujuan dari page ini adalah untuk menggalang dukungan menjadikan suara penolakan terhadap penambangan laut sebagai suara mayoritas sehingga bisa didengarkan oleh pemerintah.


Dear friends, 
If you would like to support Save Belitong, you can make your own video as friends of Save Belitong, share it to youtube or other social media, join #SaveBelitong on Facebook (https://www.facebook.com/SaveBelitong) and follow us on Twitter (@SAVEBELITONG).

When the Last Tree Is Cut Down, 
the Last Fish Eaten, 
and the Last Stream Poisoned, 
You Will Realize
That You Cannot Eat Money

Thank you!


These are the links of the videos:
Ep.0: Belitong, Local Case Global Issue
Lengkuas island, Belitong, Indonesia. Photograph by Ponda Sujadi

Thursday, April 04, 2013

Kopi, racik, teguk, lalu diam tanpa kantuk

seperti secangkir kopi tanpa gula
pekatnya berani, getirnya beradu
tiap teguknya nikmat kata pecandu kopi
namun, pengopi biasa akan tertipu
dikiranya seruak wangi, manis merayu

lalu dituanglah sesendok gula

melarut butirnya hingga menyatu
kopi pun tak lagi pahit
kini si pecandu kopi yang akan tertipu

jadi silakan memilih, Kawan
kopi hitam alias pahit
atau kopi manis yang biasa saja
tak 'kan mabuk kau meminumnya

seperti kata seorang sastrawan
"kopi adalah cinta di dalam gelas"
lalu kutambahkan...
"dan rinduku terlarut di dalamnya"

Bochum, 4 April 2013

Saturday, February 23, 2013

Salju Februari

-22 Februari-
Salju tipis masih turun di akhir Februari nan sunyi, melayang-layang dipermainkan angin, menari tak tentu arah bagai remah kapas yang dihambur-hamburkan dari langit. Salju Februari adalah salju malu-malu yang tak pernah membekas remahnya menapak bumi.

-23 Februari-

Sepasang manusia tergesa menerobos remah salju di bawah payung warna warni. Sore mulai beranjak pamit, dan salju belum mereda. Salju Februari tak lagi malu-malu. Matahari rasanya masih sabar menunggu semi, ingin merenda kelopak bunga dan pucuk-pucuk di ujung ranting, berdua saja.

Bochum, Februari 2013



Wednesday, January 30, 2013

Salju tak bersisa di Hari Rabu


sudah lewat pukul satu
mataku masih menunggu
satu satu, tetes hujan terus memburu
ternyata sudah Rabu
lagi-lagi, hujan boleh menghapus salju
tapi bukan rindu

Bochum, 30 Januari 2013


Seperempat Hari


Photo by Ponda Sujadi
hampir pukul 6 pagi, sudahkah kau sambut matahari?
aku masih tertatih, terjebak di 1/4 hari!
berharap pulang malam ini, seperti selalu, dalam bias-bias mimpi, hanya itu penghiburku
namun tampaknya bus malam sudah tak jalan lagi, terlalu lama menungguku
bermalam di sini bersama remah-remah huruf yang sudah kusiram kopi
aku tak pulang...

Bochum, 29-30 Januari 2013

Saturday, December 15, 2012

Karena


Karena malam cemburu pada pagi
Dan pagi selalu tak sabar menanti siang
Karena laut mengirimkan ombak kepada angin
Dan angin malu-malu balas merayu
Karena hujan boleh menghapus salju
Tapi bukan rindu
Karena daun tak pernah membenci ranting
Dan ranting masih sabar menunggu semi
Karena rumput tak pernah menyimpan duri
Tapi pagi selalu menitipkan embun pada semak
Karena…
Aku tak punya karena
Dan karenanya, sebab pun malu untuk bertanya
Antar saja aku ke sana, sebelum senja...

Bochum, 15 Desember 2012


Friday, December 14, 2012

Balada Stasiun Kereta


Curilah waktumu sesekali dan berdirilah di stasiun kereta. Perhatikan lalu lalang manusia yang seperti tak ada habisnya. Ada wajah-wajah tergesa, tertawa, menunggu. Ada perpisahan yang mengharukan atau kegelisahan menanti sebuah pertemuan. Berpasang-pasang kaki berderap-derap menyusuri anak tangga dan peron-peron stasiun. Setiap rupa yang tak kukenal ini pasti punya cerita.

Langkah sepasang lansia perlahan menegakkan tubuh mereka yang mulai condong ke depan. Wajah sang kakek agaknya tergesa, tapi tangannya seperti tak hendak lepas merangkul sang nenek yang berjalan lebih perlahan. Keduanya tersenyum, sambil sesekali menunjuk-nunjuk display raksasa yang merangkum jadwal keberangkatan kereta. Kutaksir usia mereka tak kurang dari 80 tahun, kerut-kerut wajah dan helai-helai rambut putih itu yang membisikkannya padaku. Aku membayangkan, berpuluh-puluh tahun yang lalu ketika mereka masih muda, apakah mereka pernah membayangkan dunia yang mereka lihat sekarang? Entah berapa macam zaman telah mereka lalui, zaman perang tentu saja masuk dalam salah satu episodenya. Penyesalan seperti apa yang diam-diam mereka tanggungkan? Atau punyakah mereka pencapaian-pencapaian hidup yang gilang gemilang? 

Seorang Bapak setengah baya menarik koper kulit beroda, warna coklat tua. Tangan kirinya menggenggam gulungan surat kabar. Langkahnya teratur tak terburu-buru. Sesekali dia melirik jam di pergelangan tangan kirinya, memastikan jadwal hari ini masih sesuai rencana. Sepatu, celana dan jaketnya berwarna serupa, coklat tua. Rambutnya coklat kemerahan, disisir rapi ke belakang. Bingkai kacamatanya juga coklat tua. Bapak coklat ini pasti seorang yang disiplin, gerak-gerik dan apapun yang disandangnya tak bisa berdusta. 

Kuperhatikan antrian di loket penjualan tiket kereta. Para petugas yang duduk di balik loket-loket itu sejak pagi masih saja tersenyum ramah. Wajah mereka seperti sudah tercetak seperti itu, mau tak mau, sudah tuntutan profesi. Para pegawai Perusahaan Jawatan Kereta ini setidaknya menguasai dua bahasa, dan tentu saja mereka pendengar yang baik. Entah sudah berapa keluhan yang mereka dengar sejak pagi, aku yakin ucapan terima kasih yang menguatkan mereka menjalani hari demi hari. Ada dua kata sederhana yang sering kita lupakan namun sangat berarti bagi orang-orang seperti para petugas loket ini, ’maaf’ dan ’terima kasih’. Tangan-tangan terampil ini telah mengantar orang-orang ke tempat-tempat yang jauh, sementara sang empunya hanya duduk di loket yang sama, menghitung antrian demi antrian yang menawarkan berupa-rupa wajah dari berbagai bangsa.

Di ujung peron nomor dua, berdiri seorang pemuda. Tatapannya kosong memandang rel kereta. Ransel di punggungnya terlihat padat dan berat. Sudah batang kedua rokok yang dihisapnya sejak tadi. Tangan kanannya sibuk menyentuh layar ponsel, earphone berkabel putih tersambung ke telinganya. Aku membayangkan orang seperti apa yang menantinya di ujung perjalanannya hari ini. Apa kira-kira hobinya, mahasiswakah dia atau seniman dadakan yang baru pulang mengurus sebuah pameran?

Tak jauh di belakangku terdengar gelak tawa seorang bocah perempuan. Wajahnya lugu dan lucu. Rambutnya keriting hitam lebat, bulu matanya lentik, cantik sekali. Dia berlari-lari ke sana kemari, berputar-putar mengelilingi ibunya yang sedang kerepotan menenteng sebuah koper besar. Sesekali ibunya harus berhenti dan menenangkan peri cantik yang tak mau diam ini. Apa yang sedang dipikirkan anak sekecil ini? Dunia di matanya pasti selalu menarik, semenarik renda-renda yang menghiasi rok merah mudanya.

Di salah satu sudut hall stasiun berdiri sebuah toko roti. Pegawainya 3 orang perempuan muda, tersenyum hangat seperti roti-roti yang baru keluar dari pemanggang. Tangan-tangan mereka terampil menata roti-roti di etalase sembari melayani pembeli. Wangi roti, kopi dan coklat yang sama menemani mereka setiap hari. Aku membayangkan pertanyaan-pertanyaan sederhana: apakah mereka juga ikut menikmati roti-roti itu? Pernahkah mereka bercita-cita memiliki toko roti sendiri suatu saat nanti?

Aku melangkah perlahan menuju peron nomor tiga, menanti kereta regional yang akan mengantarku ke kota tetangga. Seorang Bapak terlihat melambai-lambai, tangan kirinya menggandeng seorang anak laki-laki yang juga ikut melambai-lambai. Tatapan mereka tertuju pada seorang ibu setengah baya, yang entah hendak kemana. Mungkin mereka bertiga adalah anak beranak yang akan berpisah dalam waktu agak lama, bisa kubaca dari tatapan sedih sang anak, yang sejak tadi tak berhenti menangis.


Aku memang senang menghabiskan waktu luang seperti ini, memperhatikan lalu lalang manusia di stasiun lalu berangkat dengan kereta jurusan mana saja. Gratis, mengapa disia-siakan? Cerita di gerbong kereta pun tak kalah seru. Kalau penumpang sedang ramai, aku harus berdiri sambil sesekali menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh. Kalau sedang beruntung, aku paling senang memilih tempat duduk tepat di samping jendela. Jendela kereta menawarkan gambar-gambar hidup yang juga pandai bercerita, sepandai dalang mendongengkan babat tanah Jawa.

Bochum, 14 Desember 2012 
[Bersambung ke cerita ke dua: 
Balada Gerbong Kereta: http://maktjik.blogspot.de/2013/10/balada-gerbong-kereta.html]

Saturday, December 08, 2012

Tercekik Mimpi


Bawa aku ke tepian, lelahku hendak bersandar, dahulu
Riak mimpi berkelebat
Lambat, pekat, menjerat
Nafas satu-satu, tersengal
Kunang-kunang hinggap di pelupuk mata, hendak mengeja
Mengaburkan pandang, mengabukan sadar, jadi abu bukan abu-abu
Teriak parau mengigau, tergesa
Pagi tak peduli, katamu
Kutunggu kau di ujung hari, setelah pukul tiga

Bochum, 8 Desember 2012

Abangku, Abang juara satu seluruh dunia


Sejak terlahir ke dunia, seperti tiba-tiba saja aku sudah punya saudara, ya memang karena kenyataannya aku lahir lebih belakangan darinya. Dia, abangku, saudara kandungku satu-satunya. Masa kecil kami, kami habiskan di Tanjungpandan, Pulau Belitong. Dulu waktu aku masih kecil, yang ada di pikiranku hanya bagaimana caranya agar aku seperti abang. Jadilah aku seorang peniru dan pengiri. Apapun yang abang lakukan, aku tak pernah mau kalah. Tapi kawan, hendak kuceritakan padamu, betapa aku menyayangi laki-laki sederhana ini.

Aku lupa, kapan abangku bisa naik sepeda. Sepedanya dulu warna biru, merk Senator. Sepeda yang dikayuhnya sepanjang hari kesana kemari, dan jarang dicuci. Aku jarang diajak abang bermain bersama kawan-kawannya, alasannya satu, ini urusan anak laki-laki katanya. Aku hanya mendengar-dengar saja mereka memperbincangkan ikan-ikan peliharaan, meriam bambu atau rencana mereka berenang di kulong, danau bekas galian timah. Aku paling senang kalau mereka, kawan-kawan abang, berkunjung ke rumah kami. Rasanya memang lebih seru bermain bersama anak laki-laki.

Dulu, kalau musim libur sekolah, abang paling senang menonton film di televisi. Film Boboho adalah salah satu film yang disukainya, film anak-anak khas tahun 90an. Gelak tawa abang ketika menonton film Boboho terkadang lebih lucu daripada film yang ditontonnya. Biasanya kami menghabiskan liburan di rumah nenek, menginap bersama sepupu-sepupu, sambil belajar berdagang di warung milik nenek. Sesekali nenek akan mengajak kami ke kebun paman untuk belajar bercocok tanam.

Dulu abang pernah punya cita-cita jadi advokat, lalu jadi pengusaha, lalu jadi pemain musik, lalu jadi apa lagi, entahlah aku pun lupa. Kami memang diajarkan ayah ibu untuk berani bermimpi dan percaya diri. Kata ibu, percuma pintar kalau tak percaya diri. Saking percaya dirinya, dulu abang sering sekali mengikuti festival band yang memang sedang ’ngetrend’ ketika itu. Gitar kesayangannya warna biru, gitar listrik yang sering dicakar-cakar oleh kucing kesayanganku.

Sampai akhir SMP, abang masih menjadi kawanku. Namun, sejak dia masuk SMA, aku tak banyak mengenal abang. Masing-masing kami seperti sudah punya dunia sendiri. Kalau dia pulang, obrolan kami tak jarang berujung pertengkaran. Waktu itu, kuanggap abang adalah orang paling menyebalkan di rumah kami. Bertahun-tahun kemudian baru aku paham. Abang dan aku ketika itu berada pada usia peralihan dari anak-anak menjelang remaja, dua-duanya keras kepala.  Jadilah kami tak pernah akur, sampai bosan ayah melerai kami.

Setamat SMA abang merantau ke Bandung. Hari itu di pelabuhan Pegantongan, kulihat abang melambai-lambai sampai hilang di kejauhan. Entah harus senang atau sedih, tapi nyatanya beberapa hari kemudian aku merasa kehilangan. Kami sekeluarga pun pindah ke Pangkalpinang. Ketika SMA aku seperti anak tunggal, paling keras kepala dan semakin menyebalkan. Hanya sesekali kudengar kabar abang kalau dia menelpon. Kalau musim liburan pun, dia lebih memilih pulang ke rumah nenek di Tanjungpandan, bukan ke Pangkalpinang. Aku tak tahu bagaimana kuliahnya di Bandung sana, aku hanya asyik dengan urusanku sendiri. Kami pun semakin jauh.

Singkat cerita, akhirnya aku pun menyusul abang ke Bandung, menjemput giliran menjadi mahasiswa. Sejak saat itulah aku banyak mengenal abang. Kami jauh dari orang tua, lalu seperti tiba-tiba saja dia tak semenyebalkan dulu. Ketika itu, aku tiba-tiba dihinggapi rasa tak percaya diri. Masih kuingat sampai hari ini kata-kata abang: ‘Mereka memang orang-orang hebat. Tapi ingat, kau juga bisa menjadi bagian dari mereka.‘ Abang tak ingin aku mengkhianati mimpi-mimpiku sendiri. Suatu malam di bulan Juli, saat pengumuman kelulusan tes masuk Perguruan Tinggi, aku diliputi sukacita. Allah mengabulkan doa kami. Lalu abang mengingatkanku: ‘Boleh kau bersukacita, tapi ini baru awal. Perjuangan panjang siap menunggumu mulai besok‘.

Saat di Bandung dulu, aku sering sekali sakit. Abang tak pernah mengeluh mengurusku setiap aku sakit, tak pernah sekalipun. Kalau sakitku tak begitu parah, abang melarangku menelpon ayah ibu. Abang mengajarkanku agar tak menjadi cengeng. Orang rantau itu harus kuat kata abang. Sampai tiba waktunya kami harus berpisah, aku pun tegar berjalan dengan kedua kakiku hingga hari ini.

Abangku orang yang cerdas dan jujur, buku yang dibacanya bermacam-macam. Kalau dia berbicara, banyak orang yang akan menyimaknya, karena kata-katanya berisi. Dulu dia dipercaya kawan-kawannya untuk menjadi ketua Asrama Mahasiswa Belitong di Bandung. Bukan perkara gampang, Kawan, mengurus belasan mahasiswa rantau dengan belasan perangai pula. Bertahun-tahun kemudian, aku yakin abang pasti bersyukur pernah menjadi ketua Asrama yang sebenarnya tak pernah diinginkannya. Abang paling sedih ketika marah. Kata abang, dia menjadi seperti orang lain, orang yang bahkan tak dikenalnya sendiri.

Kini abang telah menjadi ayah dari seorang anak laki-laki yang lucu, Dhani namanya. Maafkan aku tak bisa hadir di hari-hari bahagiamu, Bang. Dari dulu hingga sekarang, aku memang tak pernah menjadi adik yang baik, tak pernah sekali pun. Kerjaku hanya menyusahkanmu saja, pun tak terhitung kalinya aku telah menyakiti hatimu. Terima kasih Bang, untuk semuanya, cintamu untukku tak habis-habis dan tak pernah bisa kubalas sampai mati. Semoga Allah senantiasa memberkahi hidupmu, Bang.

Aku tak pernah bisa memilih siapa yang menjadi abangku, tapi aku tak pernah menyesal telah menjadi adiknya. 7000 mil jarak memisahkan kami, tapi aku selalu merasakan hangat cintanya begitu dekat. Karena kata abang, keluarga adalah hal pertama yang hadir dalam hidup manusia dan mereka akan selalu ada untuk kita. Abang telah mengajarkanku menjadi seorang manusia, seutuh-utuhnya. Karena abang, aku berani bermimpi, berani mencintai, berani hidup dan berani menjadi aku. 

Bochum, 7 Desember 2012

Tulisan lain tentang Ayah dan Ibu, 3 orang inilah, manusia-manusia terbaik dalam hidupku:

http://maktjik.blogspot.de/2012/11/mamo-ayah-juara-satu-seluruh-dunia.html
http://maktjik.blogspot.de/2012/11/mamak-ibu-juara-satu-seluruh-dunia.html

Saturday, December 01, 2012

Medan kedua belas


Lalu apalagi yang hendak kau tanyakan pada bingkai-bingkai jendela? Terserak, lancip kepingnya tak lagi segitiga. Sedih berujar, air mata telah mengering tak bersisa pada sudut pipi merah saga. Tangis mengiris malam, lalu dinding seolah bertelinga. Menangkap lekat-lekat, sayup menderu memecah bongkah-bongkah baja, porak poranda. Kaki kecil kehilangan raga, raganya kehilangan nyawa. Hujan tak lagi air, tapi peluru. Angin tak lagi mengantar debu, tapi beku. Takut pun lantas meringkuk tak berkutik, tak tahu lagi jalan pulang...

Bochum, 1 Desember 2012


Saturday, November 24, 2012

Malam diam, heningnya pejam

Aku tak kenal lagi sore yang dulu
Malam kian panjang saja
Tertatih aku menunggu pagi
Pagi beku meringis, mengiris
Mengantar siang kelabu
Lalu gelap mengintai remang sore
yang belum pun tegak berdiri
terseok rangkaknya dirampas malam

Bochum, 24 November 2012