![]() |
| Riak telaga, semburat cahaya, lalu kayuhmu hendak kemana?
Schloß Strünkede, Herne, Bochum, 28 April 2013
Please find my amateur photoworks here: http://www.flickr.com/photos/maktjik/ |
Sunday, April 07, 2013
Secarik Sore di Tepi Telaga
Save Belitong Campaign
“Save Belitong” is a cause to gather support from people all
over the world to SAVE THE SEA OF BELITONG FROM SEA MINING.
Belitong Island or Billiton is an Island in Indonesia blessed
with heavenly beautiful white sandy beaches, and hundreds of granite boulders
decorating the crystal clear sea water. Home for magnificent coral reefs and diverse
sea biota, the sea around Billiton has nourished the people in the island. The
harmony of this nature is threatened by the sea mining activity that currently
under planning. The aim of this cause is to make the voice against sea mining
in Belitong majority so that the government has no reason not to stop this
mining plan from going on.
Belitung atau Billiton adalah sebuah pulau di bagian barat
Indonesia yang dianugerahi keindahan alam berupa pantai-pantai berpasir putih
berhiaskan batu-batu granit raksasa. Perairan laut Belitung menjadi surga bagi
keanekaragaman hayati seperti ikan, terumbu karang dan biota laut lainnya, yang
telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakatnya. Namun, harmoni alam di
Belitong saat ini terancam oleh rencana penambangan di laut
sekitarnya. Tujuan dari page ini adalah untuk menggalang dukungan
menjadikan suara penolakan terhadap penambangan laut sebagai suara mayoritas
sehingga bisa didengarkan oleh pemerintah.
If you would like to support Save Belitong, you can make your own video as friends of Save Belitong, share it to youtube or other social media, join #SaveBelitong on Facebook (https://www.facebook.com/SaveBelitong) and follow us on Twitter (@SAVEBELITONG).
When the Last Tree Is Cut Down,
the Last Fish Eaten,
and the Last Stream Poisoned,
You Will Realize
That You Cannot Eat Money
Thank you!
These are the links of the videos:
Ep.0: Belitong, Local Case Global Issue
Friends of Belitong Ep.3: Hanni, Padang
Friends of Belitong Ep.4: Sheriffo, Gambia
Friends of Belitong Ep.5: Nadia, Surabaya
Friends of Belitong Ep.4: Sheriffo, Gambia
Friends of Belitong Ep.5: Nadia, Surabaya
![]() |
| Lengkuas island, Belitong, Indonesia. Photograph by Ponda Sujadi |
Thursday, April 04, 2013
Kopi, racik, teguk, lalu diam tanpa kantuk
seperti secangkir kopi tanpa gula
pekatnya berani, getirnya beradu
tiap teguknya nikmat kata pecandu kopi
namun, pengopi biasa akan tertipu
dikiranya seruak wangi, manis merayu
lalu dituanglah sesendok gula
melarut butirnya hingga menyatu
kopi pun tak lagi pahit
kini si pecandu kopi yang akan tertipu
jadi silakan memilih, Kawan
kopi hitam alias pahit
atau kopi manis yang biasa saja
tak 'kan mabuk kau meminumnya
seperti kata seorang sastrawan
"kopi adalah cinta di dalam gelas"
lalu kutambahkan...
"dan rinduku terlarut di dalamnya"
Bochum, 4 April 2013
pekatnya berani, getirnya beradu
tiap teguknya nikmat kata pecandu kopi
namun, pengopi biasa akan tertipu
dikiranya seruak wangi, manis merayu
lalu dituanglah sesendok gula
melarut butirnya hingga menyatu
kopi pun tak lagi pahit
kini si pecandu kopi yang akan tertipu
jadi silakan memilih, Kawan
kopi hitam alias pahit
atau kopi manis yang biasa saja
tak 'kan mabuk kau meminumnya
seperti kata seorang sastrawan
"kopi adalah cinta di dalam gelas"
lalu kutambahkan...
"dan rinduku terlarut di dalamnya"
Bochum, 4 April 2013
Saturday, February 23, 2013
Salju Februari
-22 Februari-
Salju tipis masih turun di akhir Februari nan sunyi, melayang-layang dipermainkan angin, menari tak tentu arah bagai remah kapas yang dihambur-hamburkan dari langit. Salju Februari adalah salju malu-malu yang tak pernah membekas remahnya menapak bumi.
-23 Februari-
Sepasang manusia tergesa menerobos remah salju di bawah payung warna warni. Sore mulai beranjak pamit, dan salju belum mereda. Salju Februari tak lagi malu-malu. Matahari rasanya masih sabar menunggu semi, ingin merenda kelopak bunga dan pucuk-pucuk di ujung ranting, berdua saja.
Wednesday, January 30, 2013
Salju tak bersisa di Hari Rabu
mataku masih menunggu
satu satu, tetes hujan terus memburu
ternyata sudah Rabu
lagi-lagi, hujan boleh menghapus salju
tapi bukan rindu
Bochum, 30 Januari 2013
Seperempat Hari
![]() |
| Photo by Ponda Sujadi |
aku masih tertatih, terjebak di 1/4 hari!
berharap pulang malam ini, seperti selalu, dalam bias-bias mimpi, hanya itu penghiburku
namun tampaknya bus malam sudah tak jalan lagi, terlalu lama menungguku
bermalam di sini bersama remah-remah huruf yang sudah kusiram kopi
aku tak pulang...
Bochum, 29-30 Januari 2013
Saturday, December 15, 2012
Karena
Karena malam cemburu pada pagi
Dan pagi selalu tak sabar menanti siang
Karena laut mengirimkan ombak kepada angin
Dan angin malu-malu balas merayu
Karena hujan boleh menghapus salju
Tapi bukan rindu
Karena daun tak pernah membenci ranting
Dan ranting masih sabar menunggu semi
Karena rumput tak pernah menyimpan duri
Tapi pagi selalu menitipkan embun pada semak
Karena…
Aku tak punya karena
Dan karenanya, sebab pun malu untuk bertanya
Antar saja aku ke sana, sebelum senja...
Bochum, 15 Desember 2012
Friday, December 14, 2012
Balada Stasiun Kereta
Curilah waktumu sesekali dan berdirilah di stasiun kereta. Perhatikan lalu lalang manusia yang seperti tak ada habisnya. Ada wajah-wajah tergesa, tertawa, menunggu. Ada perpisahan yang mengharukan atau kegelisahan menanti sebuah pertemuan. Berpasang-pasang kaki berderap-derap menyusuri anak tangga dan peron-peron stasiun. Setiap rupa yang tak kukenal ini pasti punya cerita.
Langkah sepasang lansia perlahan menegakkan tubuh mereka yang mulai condong ke depan. Wajah sang kakek agaknya tergesa, tapi tangannya seperti tak hendak lepas merangkul sang nenek yang berjalan lebih perlahan. Keduanya tersenyum, sambil sesekali menunjuk-nunjuk display raksasa yang merangkum jadwal keberangkatan kereta. Kutaksir usia mereka tak kurang dari 80 tahun, kerut-kerut wajah dan helai-helai rambut putih itu yang membisikkannya padaku. Aku membayangkan, berpuluh-puluh tahun yang lalu ketika mereka masih muda, apakah mereka pernah membayangkan dunia yang mereka lihat sekarang? Entah berapa macam zaman telah mereka lalui, zaman perang tentu saja masuk dalam salah satu episodenya. Penyesalan seperti apa yang diam-diam mereka tanggungkan? Atau punyakah mereka pencapaian-pencapaian hidup yang gilang gemilang?
Seorang Bapak setengah baya menarik koper kulit beroda, warna coklat tua. Tangan kirinya menggenggam gulungan surat kabar. Langkahnya teratur tak terburu-buru. Sesekali dia melirik jam di pergelangan tangan kirinya, memastikan jadwal hari ini masih sesuai rencana. Sepatu, celana dan jaketnya berwarna serupa, coklat tua. Rambutnya coklat kemerahan, disisir rapi ke belakang. Bingkai kacamatanya juga coklat tua. Bapak coklat ini pasti seorang yang disiplin, gerak-gerik dan apapun yang disandangnya tak bisa berdusta.
Kuperhatikan antrian di loket penjualan tiket kereta. Para petugas yang duduk di balik loket-loket itu sejak pagi masih saja tersenyum ramah. Wajah mereka seperti sudah tercetak seperti itu, mau tak mau, sudah tuntutan profesi. Para pegawai Perusahaan Jawatan Kereta ini setidaknya menguasai dua bahasa, dan tentu saja mereka pendengar yang baik. Entah sudah berapa keluhan yang mereka dengar sejak pagi, aku yakin ucapan terima kasih yang menguatkan mereka menjalani hari demi hari. Ada dua kata sederhana yang sering kita lupakan namun sangat berarti bagi orang-orang seperti para petugas loket ini, ’maaf’ dan ’terima kasih’. Tangan-tangan terampil ini telah mengantar orang-orang ke tempat-tempat yang jauh, sementara sang empunya hanya duduk di loket yang sama, menghitung antrian demi antrian yang menawarkan berupa-rupa wajah dari berbagai bangsa.
Di ujung peron nomor dua, berdiri seorang pemuda. Tatapannya kosong memandang rel kereta. Ransel di punggungnya terlihat padat dan berat. Sudah batang kedua rokok yang dihisapnya sejak tadi. Tangan kanannya sibuk menyentuh layar ponsel, earphone berkabel putih tersambung ke telinganya. Aku membayangkan orang seperti apa yang menantinya di ujung perjalanannya hari ini. Apa kira-kira hobinya, mahasiswakah dia atau seniman dadakan yang baru pulang mengurus sebuah pameran?
Tak jauh di belakangku terdengar gelak tawa seorang bocah perempuan. Wajahnya lugu dan lucu. Rambutnya keriting hitam lebat, bulu matanya lentik, cantik sekali. Dia berlari-lari ke sana kemari, berputar-putar mengelilingi ibunya yang sedang kerepotan menenteng sebuah koper besar. Sesekali ibunya harus berhenti dan menenangkan peri cantik yang tak mau diam ini. Apa yang sedang dipikirkan anak sekecil ini? Dunia di matanya pasti selalu menarik, semenarik renda-renda yang menghiasi rok merah mudanya.
Di salah satu sudut hall stasiun berdiri sebuah toko roti. Pegawainya 3 orang perempuan muda, tersenyum hangat seperti roti-roti yang baru keluar dari pemanggang. Tangan-tangan mereka terampil menata roti-roti di etalase sembari melayani pembeli. Wangi roti, kopi dan coklat yang sama menemani mereka setiap hari. Aku membayangkan pertanyaan-pertanyaan sederhana: apakah mereka juga ikut menikmati roti-roti itu? Pernahkah mereka bercita-cita memiliki toko roti sendiri suatu saat nanti?
Aku melangkah perlahan menuju peron nomor tiga, menanti kereta regional yang akan mengantarku ke kota tetangga. Seorang Bapak terlihat melambai-lambai, tangan kirinya menggandeng seorang anak laki-laki yang juga ikut melambai-lambai. Tatapan mereka tertuju pada seorang ibu setengah baya, yang entah hendak kemana. Mungkin mereka bertiga adalah anak beranak yang akan berpisah dalam waktu agak lama, bisa kubaca dari tatapan sedih sang anak, yang sejak tadi tak berhenti menangis.
Aku memang senang menghabiskan waktu luang seperti ini, memperhatikan lalu lalang manusia di stasiun lalu berangkat dengan kereta jurusan mana saja. Gratis, mengapa disia-siakan? Cerita di gerbong kereta pun tak kalah seru. Kalau penumpang sedang ramai, aku harus berdiri sambil sesekali menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh. Kalau sedang beruntung, aku paling senang memilih tempat duduk tepat di samping jendela. Jendela kereta menawarkan gambar-gambar hidup yang juga pandai bercerita, sepandai dalang mendongengkan babat tanah Jawa.
Bochum, 14 Desember 2012
[Bersambung ke cerita ke dua:
Balada Gerbong Kereta: http://maktjik.blogspot.de/2013/10/balada-gerbong-kereta.html]
Balada Gerbong Kereta: http://maktjik.blogspot.de/2013/10/balada-gerbong-kereta.html]
Saturday, December 08, 2012
Tercekik Mimpi

Bawa aku ke tepian, lelahku hendak
bersandar, dahulu
Riak mimpi berkelebat
Lambat, pekat, menjerat
Nafas satu-satu, tersengal
Kunang-kunang hinggap di pelupuk mata,
hendak mengeja
Mengaburkan pandang, mengabukan sadar, jadi
abu bukan abu-abu
Teriak parau mengigau, tergesa
Pagi tak peduli, katamu
Kutunggu kau di ujung hari, setelah pukul
tiga
Abangku, Abang juara satu seluruh dunia
Sejak terlahir ke dunia, seperti tiba-tiba saja aku sudah punya
saudara, ya memang karena kenyataannya aku lahir lebih belakangan darinya. Dia,
abangku, saudara kandungku satu-satunya. Masa kecil kami, kami habiskan di
Tanjungpandan, Pulau Belitong. Dulu waktu aku masih kecil, yang ada di
pikiranku hanya bagaimana caranya agar aku seperti abang. Jadilah aku seorang
peniru dan pengiri. Apapun yang abang lakukan, aku tak pernah mau kalah. Tapi
kawan, hendak kuceritakan padamu, betapa aku menyayangi laki-laki sederhana ini.
Aku lupa, kapan abangku bisa naik sepeda. Sepedanya
dulu warna biru, merk Senator. Sepeda yang dikayuhnya sepanjang hari kesana
kemari, dan jarang dicuci. Aku jarang diajak abang bermain bersama kawan-kawannya,
alasannya satu, ini urusan anak laki-laki katanya. Aku hanya mendengar-dengar
saja mereka memperbincangkan ikan-ikan peliharaan, meriam bambu atau rencana
mereka berenang di kulong, danau bekas galian timah. Aku paling senang kalau
mereka, kawan-kawan abang, berkunjung ke rumah kami. Rasanya memang lebih seru
bermain bersama anak laki-laki.
Dulu, kalau musim libur sekolah, abang
paling senang menonton film di televisi. Film Boboho adalah salah satu film
yang disukainya, film anak-anak khas tahun 90an. Gelak tawa abang ketika
menonton film Boboho terkadang lebih lucu daripada film yang ditontonnya. Biasanya
kami menghabiskan liburan di rumah nenek, menginap bersama sepupu-sepupu,
sambil belajar berdagang di warung milik nenek. Sesekali nenek akan mengajak
kami ke kebun paman untuk belajar bercocok tanam.
Dulu abang pernah punya cita-cita jadi
advokat, lalu jadi pengusaha, lalu jadi pemain musik, lalu jadi apa lagi,
entahlah aku pun lupa. Kami memang diajarkan
ayah ibu untuk berani bermimpi dan percaya diri. Kata ibu, percuma pintar kalau
tak percaya diri. Saking percaya dirinya, dulu abang sering sekali mengikuti
festival band yang memang sedang ’ngetrend’ ketika itu. Gitar kesayangannya
warna biru, gitar listrik yang sering dicakar-cakar oleh kucing kesayanganku.
Sampai akhir SMP, abang masih menjadi kawanku. Namun, sejak dia
masuk SMA, aku tak banyak mengenal abang. Masing-masing kami seperti sudah
punya dunia sendiri. Kalau dia pulang, obrolan kami tak jarang berujung
pertengkaran. Waktu itu, kuanggap abang adalah orang paling menyebalkan di
rumah kami. Bertahun-tahun kemudian baru aku paham. Abang dan aku ketika itu berada
pada usia peralihan dari anak-anak menjelang remaja, dua-duanya keras kepala. Jadilah kami tak pernah akur, sampai bosan
ayah melerai kami.
Setamat SMA abang merantau ke Bandung. Hari
itu di pelabuhan Pegantongan, kulihat abang melambai-lambai sampai hilang di
kejauhan. Entah harus senang atau sedih, tapi nyatanya beberapa hari kemudian aku
merasa kehilangan. Kami sekeluarga pun pindah ke Pangkalpinang. Ketika SMA aku
seperti anak tunggal, paling keras kepala dan semakin menyebalkan. Hanya
sesekali kudengar kabar abang kalau dia menelpon. Kalau musim liburan pun, dia
lebih memilih pulang ke rumah nenek di Tanjungpandan, bukan ke Pangkalpinang. Aku
tak tahu bagaimana kuliahnya di Bandung sana, aku hanya asyik dengan urusanku
sendiri. Kami pun semakin jauh.
Singkat cerita, akhirnya aku pun menyusul
abang ke Bandung, menjemput giliran menjadi mahasiswa. Sejak saat itulah aku banyak mengenal abang. Kami jauh dari
orang tua, lalu seperti tiba-tiba saja dia tak semenyebalkan dulu. Ketika itu,
aku tiba-tiba dihinggapi rasa tak percaya diri. Masih kuingat sampai hari ini
kata-kata abang: ‘Mereka memang orang-orang hebat. Tapi ingat, kau juga bisa
menjadi bagian dari mereka.‘ Abang tak ingin aku mengkhianati mimpi-mimpiku
sendiri. Suatu malam di bulan Juli, saat pengumuman kelulusan tes masuk Perguruan
Tinggi, aku diliputi sukacita. Allah mengabulkan doa kami. Lalu abang
mengingatkanku: ‘Boleh kau bersukacita, tapi ini baru awal. Perjuangan panjang
siap menunggumu mulai besok‘.
Saat di Bandung dulu, aku sering sekali
sakit. Abang tak pernah mengeluh mengurusku setiap aku sakit, tak pernah
sekalipun. Kalau sakitku tak begitu parah, abang melarangku menelpon ayah ibu.
Abang mengajarkanku agar tak menjadi cengeng. Orang rantau itu harus kuat kata
abang. Sampai tiba waktunya kami harus berpisah, aku pun tegar berjalan dengan
kedua kakiku hingga hari ini.
Abangku orang yang cerdas dan jujur, buku yang
dibacanya bermacam-macam. Kalau dia berbicara, banyak orang yang akan menyimaknya,
karena kata-katanya berisi. Dulu dia dipercaya kawan-kawannya untuk menjadi
ketua Asrama Mahasiswa Belitong di Bandung. Bukan perkara gampang, Kawan,
mengurus belasan mahasiswa rantau dengan belasan perangai pula. Bertahun-tahun
kemudian, aku yakin abang pasti bersyukur pernah menjadi ketua Asrama yang
sebenarnya tak pernah diinginkannya. Abang paling sedih ketika marah.
Kata abang, dia menjadi seperti orang lain, orang yang bahkan tak dikenalnya
sendiri.
Kini abang telah menjadi ayah dari seorang
anak laki-laki yang lucu, Dhani namanya. Maafkan aku tak bisa hadir di hari-hari
bahagiamu, Bang. Dari dulu hingga sekarang, aku memang tak pernah menjadi adik yang
baik, tak pernah sekali pun. Kerjaku hanya menyusahkanmu saja, pun tak
terhitung kalinya aku telah menyakiti hatimu. Terima kasih Bang, untuk semuanya,
cintamu untukku tak habis-habis dan tak pernah bisa kubalas sampai mati. Semoga
Allah senantiasa memberkahi hidupmu, Bang.
Aku tak pernah bisa memilih siapa yang
menjadi abangku, tapi aku tak pernah menyesal telah menjadi adiknya. 7000 mil
jarak memisahkan kami, tapi aku selalu merasakan hangat cintanya begitu dekat.
Karena kata abang, keluarga adalah hal pertama yang hadir dalam hidup manusia dan mereka akan selalu ada untuk kita. Abang
telah mengajarkanku menjadi seorang manusia, seutuh-utuhnya. Karena abang, aku berani
bermimpi, berani mencintai, berani hidup dan berani menjadi aku.
Bochum, 7 Desember 2012
Tulisan lain tentang Ayah dan Ibu, 3 orang inilah, manusia-manusia terbaik dalam hidupku:
http://maktjik.blogspot.de/2012/11/mamo-ayah-juara-satu-seluruh-dunia.html
http://maktjik.blogspot.de/2012/11/mamak-ibu-juara-satu-seluruh-dunia.html
Tulisan lain tentang Ayah dan Ibu, 3 orang inilah, manusia-manusia terbaik dalam hidupku:
http://maktjik.blogspot.de/2012/11/mamo-ayah-juara-satu-seluruh-dunia.html
http://maktjik.blogspot.de/2012/11/mamak-ibu-juara-satu-seluruh-dunia.html
Saturday, December 01, 2012
Medan kedua belas
Lalu apalagi yang hendak kau tanyakan pada
bingkai-bingkai jendela? Terserak, lancip kepingnya tak lagi segitiga. Sedih berujar, air mata telah mengering tak bersisa pada sudut pipi merah saga. Tangis mengiris malam, lalu dinding seolah bertelinga. Menangkap
lekat-lekat, sayup menderu memecah bongkah-bongkah baja, porak poranda. Kaki
kecil kehilangan raga, raganya kehilangan nyawa. Hujan tak lagi air, tapi
peluru. Angin tak lagi mengantar debu, tapi beku. Takut pun lantas meringkuk tak berkutik, tak
tahu lagi jalan pulang...
Bochum, 1 Desember 2012
Saturday, November 24, 2012
Malam diam, heningnya pejam
Aku
tak kenal lagi sore yang dulu
Malam
kian panjang saja
Tertatih
aku menunggu pagi
Pagi
beku meringis, mengiris
Mengantar
siang kelabu
Lalu
gelap mengintai remang sore
yang belum pun tegak berdiri
terseok rangkaknya dirampas
malam
Bochum, 24 November 2012
Friday, November 23, 2012
Sukamantri [2]
hujan sejak pukul tujuh pagi
Mari merayakan hujan bersama keping-keping
hidup di Sukamantri, begitu mungkin isi kepalaku saat itu. Kuyup hujan pukul tujuh
pagi, kalau sudah begini kami tak peduli. Bocah-bocah
kecil sudah ramai sejak tadi, berceloteh di bawah payung warna-warni. Ah, rindu
aku meminjam mata mereka, hidup tak banyak perkara, semua serba sederhana. Satu-satu
lekat kutatap wajah mereka, ada mimpi dalam sorot mata nan lugu, hidup, penuh energi
seperti hujan pagi ini.
Selalu ada yang menarik yang bisa dinikmati
sejak pagi. Ramah mentari malu-malu mengintip di celah-celah gemunung,
menyeruak halimun yang diam-diam menunggu. Kerlip lampu dari kejauhan
samar-samar menari. Rumput masih diam, angin pun masih malas merayu.
Warga Sukamantri selalu punya cara sendiri untuk
merayakan hidup. Walaupun harus melewati sudut-sudut gang yang sempit, namun
selalu ada karnaval meriah setiap bulan Agustus. Lapangan yang tak seberapa
luas di samping Masjid Miftahul Huda selalu ramai saat hari kemerdekaan tiba,
pun tak kalah meriah menyambut dua hari raya. Kalau musim hujan tiba, selokan
kami sering sekali meluap, jalanan menjadi becek. Namun jarang kudengar orang
bertengkar karena harus bergantian melintasi jalanan tergenang. Kendaraan dari
arah berlawanan harus saling mengalah karena kelok-kelok jalan yang sempit. Di
sana mereka berbagi di tengah keleluasaan yang serba sedikit, secarik bahagia
yang sederhana.
Di salah sudut gang, seorang pengemis setia
menengadah dengan kaleng lusuh berkarat. Belum menggerincing kalengnya pagi
ini, tatapnya lesu. Aku paling tak betah bertemu pengemis, serba salah.
Pulang-pulang pasti aku akan mengutuk dalam hati. Antara mengutuki diriku
sendiri, atau mengutuki sang pengemis. Belas
kasihan itu fitrah manusia, tapi mengemis juga tak baik. Pengemis di sudut
jalan itu masih segar bugar, tak malu apa dia dengan nenek penjual surabi di
depan Pasar Suci, kutukku dalam hati. Kalau aku mengabaikannya: ‘Tak punya belas kasihan!‘, kutukku
lagi kepada diriku sendiri. Sungguh tak senang hatiku dihadapkan pada perasaan
campur aduk seperti ini.
Ah sudahlah, mari kuceritakan soal perasaan
yang lain, milik manusia-manusia di Sukamantri. Bandung telah lama menjadi salah
satu tempat tujuan belajar bagi pemuda-pemudi dari pelosok Nusantara. Dari sana
muncullah hubungan unik dalam simpul-simpul masyarakat urban kaum pendatang
dengan kaum pribumi. Entah berapa ratus rumah sewa dan kamar-kamar kos
mahasiswa yang berbagi jengkal-jengkal tanah di Sukamantri, yang umumnya
dimiliki juragan-juragan kos pribumi. Ada keterkaitan yang unik antara pemilik
kos dan para penyewa petak-petak bangunan ini. Walau sering kudengar gerutu
mahasiswa mengeluhkan harga sewa, namun selalu ada persaudaraan yang tulus di
sana.
Aku senang menghabiskan sore di salah satu
warung nasi di sudut Sukamantri. Ibu pemilik warung nasi ini juga menyewakan
beberapa kamar kos untuk mahasiswa. Binar matanya jika kuminta bercerita
tentang anak-anak kosnya zaman dulu, ketika Bandung belum musim macet, ketika
pohon-pohon rindang di jalan Surapati masih berderet-deret. ‘Dulu mah Neng,
anak kos Ibu ada yang suka sekali Ibu masakin oncom, padahal orang Sumatera.
Sekarang katanya sudah jadi orang hebat di Jakarta. Kalau hari raya, tak pernah
lupa dia menelpon Ibu dari kampung halamannya.‘ Nostalgia sederhana seperti itu
selalu menyenangkan untuk dikenang.
![]() |
| Sore yang damai di Sukamantri |
Di sudut-sudut gang Sukamantri, di
pinggir-pinggir gerobak pedagang nasi, di setiap gesek sepatuku menyusuri gang setiap
pagi, di sana kutemui pelajaran hidup berharga. Kisah tentang kesederhanaan,
persaudaraan, peluh-peluh perjuangan dan keindahan hidup di tengah
keterbatasan. Mereka yang telah menyediakan ramah keluarganya untuk kami,
mereka yang telah memasak makanan untuk perut-perut lapar kami, mereka yang
telah mengiringi langkah-langkah kecil kami mengejar mimpi. Kepada mereka, kami
tak pernah bisa membalas butir-butir kebaikan yang telah tercurah seperti hujan hari ini, yang tak juga hendak berhenti sejak pukul tujuh pagi.
Bochum, 23 November 2012
[Tamat]
Friday, November 16, 2012
Sukamantri
kampung kecil yang ramai sejak dini hari
Laju roda menggilas jalanan tak rata sejak
pagi buta, menyusuri gang-gang sempit di antara pemukiman padat di jantung
kota. Entah berapa nyawa yang berbagi hidup di antara petak-petak rumah yang
rata-rata tak berpekarangan ini. Para perantau yang mengadu nasib, pribumi-pribumi
“tersingkir“ atau barangkali anak-anak muda yang jauh-jauh datang berbekal
mimpi. Entah mimpi apa pula, nekat mungkin lebih tepatnya.
Sebagian besar para pengadu nasib dari negeri-negeri jauh ini mengais rezeki dengan berniaga. Riuh tawar-menawar memecah hening bahkan sebelum matahari memulai pagi. Pedagang tumpah ruah meniagakan hasil bumi Priangan yang tersohor karena kesuburannya. Becek dan pengap menguap dari kios-kios sempit di Pasar Suci yang ramai sejak dini hari. Kalau sedang “beruntung“, bau sampah menyeruak dari timbunan di sebelah timur pasar. Kumuh, serba tak teratur dan kotor, begitulah kesan ketika pertama kali kuinjakkan kakiku di kampung ini. Sukamantri, sebuah kampung di jantung kota Bandung, yang geliatnya tak pernah padam hingga hari ini.
Di salah satu petak bangunan di Sukamantri inilah, kuhabiskan 7 tahun hidupku mengenal berupa-rupa manusia. Kampung kecil kami ini seperti miniatur Indonesia, menampung masyarakat kelas menengah ke bawah dari berbagai etnik seluruh Nusantara.
Aku tak paham, mengapa orang rela menukar kedamaian di kampung halamannya dengan riuh ibu kota, bergelut dengan asap kendaraan, sampah, dan debu jalanan. Kalau aku pandai melukis, mungkin tak habis-habis kanvas kucorat-coret untuk menggambarkan kekagumanku pada keindahan hidup di kampung ini. Bait-bait cerita selalu berkisah tentang hidup manusia, ya tentang hidup dan perjuangannya, bukan tentang kematiannya. Di sana, kutemukan keindahan yang kudefinisikan sendiri di kepala pemimpiku yang bebal ini.
Mari kita mulai cerita ini dari kisah pedagang sate. Mengapa pedagang sate? Karena, dia lah sang pemecah hening pertama, berteriak-teriak di malam buta. Wangi asapnya hinggap dari celah-celah jendela, membangunkan perut-perut lapar anak-anak muda yang hobi menukar malamnya dan baru tidur menjelang pagi. Malam demi malam, roda gerobak sang pedagang sate berkelok-kelok mencari pembeli, menjemput rezeki dalam hembus angin dingin hingga dini hari. Sesekali di sudut-sudut gang, pedagang sate akan berpapasan dengan pedagang sekoteng, bandrek dan bajigur, minuman hangat khas tanah Sunda. Gerobak pedagang sekoteng juga tak kalah gesit menyusuri gang-gang sempit Sukamantri, membawa toples-toples berisikan air gula merah, santan, roti dan rupa-rupa bahan racikan lainnya.
Malam makin larut, pekatnya berganti remang dan pagi sudah menunggu. Satu per satu gerobak pedagang sarapan dikeluarkan oleh pemiliknya, pedagang bubur, nasi kuning, kupat tahu, lontong kari, surabi, roti dan aneka rupa menu sarapan pagi. Makanan adalah salah satu penemuan manusia yang tak ada habisnya. Aku juga tak paham, dari mana, sejak kapan dan siapa yang pertama kali menamai makanan-makanan ini dengan nama-nama yang khas, bahkan kadang-kadang aneh.
Hening pagi di Sukamantri
Di sudut gerbang gang Sukamantri, teronggok kios kecil kedai kopi, buka tepat pukul 6 pagi dan baru tutup hampir tengah malam. Pemiliknya orang Jawa yang sudah ke Sunda-sundaan, terlalu lama merantau mungkin. Kedai ini menyediakan bubur kacang hijau, mie instan modifikasi dan tentu saja kopi. Pemiliknya ramah dan paling betah meladeni penarik becak yang kerap singgah bersama makelar-makelar dadakan dari Pasar Suci, mengobrol ini itu dari mulai sepak bola sampai politik negeri ini. Lucu sekaligus ironis.
Menjelang siang, berganti-ganti gerobak pedagang parkir di sudut-sudut gang. Kali ini giliran pedagang buah, dan warung-warung nasi. Lepas tengah hari, warung ini ramai dikerubungi pembeli, rata-rata anak kos yang jauh-jauh merantau hanya untuk menjadi mahasiswa. Kata “maha“ yang begitu berat harus dipikul oleh pundak-pundak anak-anak muda ini, yang terkadang lupa akan ke“maha“annya. Bertahun-tahun kemudian mereka entah jadi apa, ibu-ibu pemilik warung nasi ini tak pernah tahu, tak lebih tahu dari mereka sendiri.
Bochum, 16 November 2012
[Bersambung]
Saturday, November 10, 2012
Manusia Laut
sebuah identitas budaya masyarakat pesisir Belitong
Foto essay oleh: Ponda Sujadi
170an mil di selatan lingkar
khatulistiwa, dimana matahari menepati janjinya mengukir senja yang sama sejak
bumi ini ada. Di sana, di perairan Nusantara, tersebutlah sebuah pulau tropis
yang dianugerahi keindahan pantai-pantai berpasir putih dan hasil laut berlimpah.
Belitong, demikian masyarakat lokal menyebut kampung halaman mereka.
Pukul setengah enam sore, langit
sebelah barat merona jingga, matahari beranjak pulang. Senja adalah pertanda
alam menutup hari, ketika sebagian besar orang mengakhiri aktivitas utama mereka
sejak pagi. Namun, bagi para nelayan pesisir, saat senja merekah adalah saat
bagi mereka membuka hari, menjemput rezeki di tengah samudera.
Perahu-perahu dikayuh menuju lautan luas. Mesin-mesin dinyalakan,
meraung-raung menantang gelombang. Saat angin sedang bagus, para nelayan ini
akan menghabiskan sepanjang malam di atas perahu, menyusuri mil demi mil perairan
Belitong demi mengumpulkan hasil laut sumber nafkah utama bagi mereka.
Menjelang pagi, perahu-perahu nelayan merapat ke dermaga. Para “perae“
telah menunggu untuk membeli hasil tangkapan para nelayan. Ada pula yang memilih
menjual langsung ke pelelangan atau perusahaan perdagangan yang akan mengemas
ikan-ikan segar ini dalam kemasan beku untuk dikirim ke Pulau Jawa atau
diekspor ke luar negeri. Sebagian lagi mengolah hasil tangkapan mereka menjadi
ikan asin untuk konsumsi pasar lokal maupun luar daerah.
Turun-temurun nelayan tradisional
pesisir Pulau Belitong, baik suku Sawang, Melayu maupun Bugis, menjelajah
samudera berbekal perahu “kater“, perahu motor maupun bagan. Laut bagi mereka
ibarat ladang bagi petani, yang menjadi tumpuan hidup bukan hanya untuk saat
ini, namun juga bagi generasi-generasi selanjutnya.
Rangkaian rantai ekonomi yang
saling berkaitan ini telah membentuk suatu identitas budaya. Kehidupan
masyarakat pesisir Pulau Belitong sangat bergantung pada laut. Laut adalah
hidup, kebanggaan dan harga diri mereka. Identitas budaya ini memiliki keunikan berpadu dengan potensi keindahan
pantai. Sebuah potensi pariwisata yang sangat menjanjikan jika dikelola dengan
bijaksana, tentu saja dengan tetap memperhatikan aspek-aspek kelestarian
lingkungan dan budaya lokal. Kearifan memanfaatkan alam menjadi tantangan bagi
generasi Belitong saat ini.
Di saat potensi pariwisata Belitong didengung-dengungkan di berbagai media
lokal, nasional bahkan internasional, sekonyong-konyong rencana beroperasinya
kapal hisap di perairan Belitong datang bak petir di siang bolong. Bagi
masyarakat Belitong, ini adalah masalah pilihan hidup. Memilih untuk diam dan membiarkan
laut mereka rusak atau memilih menjadi arif mempertahankan kelestarian alam
yang sudah diwariskan kepada mereka. Pengoperasian kapal hisap ini tentunya
hanya akan mendatangkan keuntungan sesaat, itu pun tentu saja keuntungan bagi
segelintir orang terutama para pengusaha dan pemerintah yang kongkalikong
menjual kampungnya sendiri.
Kerusakan laut akibat beroperasinya kapal hisap bukan hanya isapan jempol. Peneliti
dari Universitas Bangka Belitung melaporkan, dari penelitian pada 30 titik
wilayah perairan Pulau Bangka dan Belitung sejak 2007-2010, sekitar 50 persen
terumbu karang mengalami kerusakan akibat tertutup lumpur sebagai dampak
beroperasinya kapal hisap dan TI apung (tambang inkonvensional) serta
diperparah oleh aktivitas pengeboman ikan [*]. Ribuan nelayan
menjerit mengeluhkan hasil tangkapan mereka yang kian menurun dari hari ke
hari.
Kalau kerusakan laut sudah nyata-nyata di depan mata, jangan berbicara lagi
tentang pariwisata. Identitas budaya tadi secara perlahan akan hilang. Pemeran-pemeran
hidup dalam foto-foto ini hanya akan menjadi kenangan masa lalu yang hilang dilupakan
zaman. Pada akhirnya Pulau Belitong tinggal menunggu hari menuju kehancuran.
Lalu pertanyaan terbesar yang harus kita jawab adalah: “Apa yang tersisa untuk
anak cucu kita?“
Bochum, 10 November 2012
[*] ANTARANEWS.com, 24 Oktober 2010 (http://www.antaranews.com/berita/1287920964/50-persen-terumbu-karang-babel-rusak)
![]() |
| Seorang anak nelayan Tanjung Kubu sedang bersiap-siap melaut pada suatu sore |
![]() |
Nelayan
tradisional Tanjung Kubu berangkat melaut menggunakan perahu “kater“
|
![]() |
| Perahu-perahu nelayan di perairan Tanjung Kubu |
![]() |
Para nelayan Tanjung Batu sedang
membangun jembatan untuk memancing
|
![]() |
| Nelayan-nelayan Tanjung Batu pulang memancing |
![]() |
Seorang
pedagang pengumpul (atau “perae“ dalam bahasa lokal) sedang menuju dermaga
menunggu hasil tangkapan para nelayan
|
![]() |
Proses
pensortiran ikan di salah satu perusahaan pengekspor di Tanjungpandan
|
Saturday, November 03, 2012
Aku ketika Tua [2]
Temaram beranda tersiram purnama, sesekali serangga malam singgah mencari cahaya. Kita hanyalah bayang-bayang samar menuju malam. Di antara rumpun-rumpun gelagah di kaki bukit sana, dulu pernah kau bercerita. Ada nelayan paruh baya, terampil dia membuat perahu. Dia tak pernah sekolah, tapi mahir membaca gugus bintang, haluan satu-satunya saat dia berada di tengah samudera.
Katamu, belajar itu sederhana saja. Mimpiku dulu tak muluk-muluk, kau juga. Toh sekarang dalam damai yang sederhana, sudah lebih dari cukup kita habiskan usia senja kita. Aku menulis, kau membaca. Kau melukis, aku bersenandung saja. Entah berapa sore lagi yang tersisa untuk kita di beranda ini. Tak banyak tanda, tahu-tahu telah lewat satu minggu, satu bulan, satu tahun, dan kita pun semakin menua.
Obrolan kita tak jauh dari kata "dulu", dan selorohmu menertawakan kebodohan-kebodohan masa muda kita. Suatu waktu kau berkata, katamu kau ingin melihat ujung dunia, entah dimana. Ujung dunia? Saat nafas-nafas manusia seperti meniti hati-hati di pinggir jurang desing peluru? Atau, saat sunyi mengendap lamat-lamat di tepi-tepi jurang gemunung tengah benua? Kakiku pernah ke sana, kau juga. Lalu kita tersenyum bangga atas pencapaian konyol sepanjang masa.
Besok kalau ada waktu, aku ingin merombak perpustakaan kita. Rak buku kita juga sudah menua. Kata anak-anak di sekolah Pak Cik, mereka ingin menghabiskan libur Ramadhan di perpustakaan kita. Siap-siap lah kau hibur mereka. Kalau musim sedang bagus, akan kuajak mereka ke hutan mencari cendawan atau boleh kau ajak mereka memotret senja di ujung muara.
Tahun depan, muridku dulu hendak berlibur ke sini katanya. Musim panas ini, dia akan pulang membawa oleh-oleh dari negeri sakura, rampung sudah studinya setelah 5 tahun yang penuh warna. Satu persatu muridku menjelajah dunia, kini kutahu apa itu rasa bangga di hati seorang guru. Bagaimana kabar sahabatmu dulu? Masih sering dia mendaki gunung? Satu persatu pula sahabat terbaik mendahului kita, kita pun menunggu giliran tiba.
Semalam aku bermimpi melihat ladang gandum luas tak bertepi, sudah kuning kecoklatan menunggu panen raya. Lalu kita berubah kembali muda, tiba-tiba seekor elang terbang labuh ke arah kita. Matanya mengancam penuh selidik. Pertanda apa, entahlah. Aku ragu, apakah tahun depan masih ada untuk kita? Mungkin potret kemarin sore di dermaga itu, bayang terakhir kita.
Bila aku mendahuluimu, aku ingin kau teruskan tulisanku tentang rumah hari tua, naskahnya sudah kusimpan rapi di komputer kita. Pun bila engkau yang mendahuluiku, akan kuteruskan petualanganmu menyusuri kampung pesisir setiap senja. Merangkai potret diam namun pandai bercerita, lalu kutulis kisah bahwa aku bangga pernah dipertemukan dengan seorang manusia, kau...
Bochum, 4 November 2012
Photo illustration by Ponda Sujadi
[Sambungan dari tulisan pertama: http://maktjik.blogspot.de/2012/11/aku-ketika-tua.html]
Subscribe to:
Posts (Atom)




























