Rembulan luntur di sela kabut
Tengadahku menerobos pokok-pokok meranggas
Remah-remah daun dilahap hujan
Gemericik berbisik lamat-lamat disamarkan angin
Aku, terpaku dibekukan pagi, perlahan-lahan
Bochum, 27 November 2013
Wednesday, November 27, 2013
Friday, November 08, 2013
Nijmegen, ke tujuh kalinya
Kalaulah ada gubahan lagu tentang kenangan akan sebuah kota, tentu banyak orang yang akan mengingat Yogyakarta. Aku pun menyimpan kenangan manis tentang persahabatanku di sana. Lalu, siapa gerangan penyair yang sudi kiranya menggubah lagu serupa untuk kota Nijmegen? Kota kecil nan cantik di tepi Sungai Rijn, yang riak-riaknya mengalir syahdu, mengirimkan limpahan berkah tak putus-putus dari negeri tetangga, Jerman dan Swiss. Nimwegen, begitu lafal Jerman menyebutnya, kota yang akan aku kenang seumur hidupku, tempat salah seorang sahabatku berjuang dalam 3 tahun terakhir ini.
Di masa depan, aku akan mengingat setiap sudutnya yang akan menyimpan dengan indah helai-helai kenangan persahabatan kami di negeri orang. Kerlip selasar stasiun, jari-jari sepeda yang kami kendarai mengelilingi sudut kota, derum bus Breng bercorak merah muda, serta merdu lidah Belanda ketika melafalkan "Nai-me-hen". Gelung-gelung logam abstrak di pusat kota, pernah aku bergelantungan di sana pada suatu siang nan cerah di musim semi, lalu kuingat wajah ramah oma-oma Belanda. Demikianlah serpih-serpih kenangan yang akan kususun mozaiknya nanti pada suatu masa ketika kami tak lagi muda. Seperti kerlip lampu yang menari dalam temaram senja, senyum kota Nijmegen seperti tak akan sirna.
Stasiun Nijmegen Centraal menjelang senja, musim gugur 8 Oktober 2013.
Wednesday, October 16, 2013
Balada Gerbong Kereta
Catatan Perjalanan di akhir musim panas, September 2013
Musim panas baru saja berlalu, namun hangatnya masih
meninggalkan bekas dalam ingatan. Hari-hari kelabu tak bermatahari, semilir
angin dingin merenggut daun-daun yang tak kuasa lagi berpegang erat pada
rantingnya. Ada perasaan sedih terselip dalam hati ini, perasaan seperti
ditinggalkan orang terkasih, yang menyelinap diam-diam tanpa peringatan.
Aku gemar sekali menghabiskan waktu luangku
memperhatikan lalu lalang manusia dan hiruk pikuknya di dalam gerbong kereta.
Sore ini, seperti hari-hari yang telah lalu dalam dua tahun terakhir ini,
sesekali kuluangkan akhir pekanku untuk mengunjungi sahabatku Mira di kota Nijmegen,
Belanda. Sebuah kota kecil nan cantik di hilir Sungai Rhein, yang berubah
namanya menjadi Rijn dalam lafal Belanda. Dua setengah jam perjalanan kereta melintasi
perbatasan Jerman-Belanda di Kota Kaldenkirchen-Venlo ini selalu menyisakan kesan
yang senantiasa menyemai kenangan.
Biasanya aku memulai perjalanan pada sore hari dan
sampai di stasiun Nijmegen Centraal menjelang magrib. Aku menumpang kereta
pertama menuju Viersen, kereta regional tujuan Mönchengladbach. Kereta ini
hanya 1 tingkat, tak seperti jenis kereta regional lainnya yang biasanya
bertingkat 2. Perjalanan tak sampai 1 jam ini biasanya kuhabiskan dengan
membaca buku, sambil sesekali memperhatikan orang-orang yang lalu lalang dan
asyik dengan kesibukannya masing-masing.
Hampir selalu aku bertemu orang-orang yang membawa
serta anjing peliharaannya, anjing-anjing yang sudah terbiasa diajak dalam
perjalanan antar kota, sehingga jarang sekali menyalak atau mengganggu
penumpang lain. Sore ini, seorang nenek menggendong seekor anjing mungil nan
lucu, yang sejak tadi hanya memperhatikan saja lalu lalang orang di sekitarnya,
damai dia dalam gendongan sang nenek. Lalu tak jauh dari bangku mereka, duduk
seorang Bapak yang sejak tadi membolak-balik halaman surat kabar, mimik mukanya agak serius,
tak tertarik dia pada keadaan di sekelilingnya.
Salah satu alasanku membaca buku dalam perjalanan
adalah kegemaranku menghubung-hubungkan peristiwa-peristiwa dalam buku pada
kenyataan yang sedang kualami dalam setiap perjalanan. Selalu saja jalinan
cerita dalam buku yang kubaca saling terhubung dengan khayalan dan memori dalam
tempurung kepalaku yang tak lebih besar dari bola cricket ini. Lalu frame-frame
pemandangan dari jendela kereta melesap berganti-ganti seperti rangkaian cerita
dalam film-film.
Selalu ada suasana berbeda di setiap musim. Beberapa
bulan lalu di musim semi, ladang gandum masih menghijau, ladang raps menguning
sempurna, lalu beberapa hamparan lainnya ditanami sayur-sayuran. Di akhir musim
panas ini, gandum telah selesai dipanen, gulungan jerami dibiarkan terserak di
ladang-ladang. Beberapa ladang sudah ditanami jagung yang tak lama lagi akan
dipanen di musim gugur. Ketika kereta berjalan agak melambat, pelan-pelan aku
bisa melihat pucuk-pucuk pepohonan yang berbaris rapi di kejauhan, rupanya pohon-pohon
cemara yang sengaja dibudidayakan untuk hiasan di hari Natal.
Ladang-ladang
ini sungguh luas seperti tak bertepi, sampai batas cakrawala yang kulihat hanya
hamparan hijau tanam-tanaman. Batas-batasnya adalah deretan pepohonan
yang berjajar rapi atau jalan-jalan desa yang hanya sesekali dilalui kendaraan.
Rumah-rumah petani dengan kebun kecil berbunga sesekali menyembul di balik
pepohonan, menyelinap berganti-ganti dengan pemandangan orang bersepeda atau
mesin-mesin pertanian yang teronggok bisu tak bertuan. Tak lama lagi,
pohon-pohon ini akan menguning, memerah, lalu berguguran daunnya tertiup angin,
menyisakan ranggas yang harus tegar menantang beku. Ladang-ladang ini pun akan
tidur panjang berselimut salju, putih menyilaukan mata.
Lalu aku akan melintasi perbatasan dengan kereta
kedua, Eurobahn, kereta kuning yang akan mengantarkanku sampai ke Kota Venlo.
Biasanya aku hanya berdiri saja dalam kereta ini, karena perjalanannya tak
lebih dari setengah jam. Desa-desa yang
kulewati semakin sulit aku mendefinisikannya, masih Jerman atau sudah
Belanda, biasanya aku bisa menandainya jika sinyal telepon genggamku sudah
berubah menjadi NL-KPN, sebuah nama operator komunikasi asal Belanda. Tanda
lain adalah semakin banyaknya kulihat orang bersepeda. Di dalam kereta ini,
biasanya lebih banyak kutemui orang-orang yang berbicara dalam bahasa Belanda,
mimik wajah mereka lebih ramah, lebih terkesan santai dan tidak sekaku orang
Jerman. Dari tadi sekelompok anak usia belasan tahun tak berhenti bercerita,
mereka sepertinya sedang merencanakan liburan akhir pekan bersama-sama, ah aku
hanya menebak-nebak saja karena aku tak begitu paham bahasa Belanda.
Oh iya, buku yang kubaca sore ini adalah "Teman
Merawat Percakapan", sebuah catatan jejak perjalanan berkarya Pak Koskow
dalam dunia seni grafis. Beliau adalah dosen Institut Seni Indonesia
Yogyakarta, seorang guru sekaligus sahabat dari sahabatku Ponda. Cerita-cerita
Pak koskow tentang masa kecilnya, tentang reuni bersama kawan-kawan SD-nya
sampai pengalaman-pengalamannya berkarya dari waktu ke waktu telah memenuhi
otakku akan kenangan-kenangan pada tanah air tercinta. Seseorang pernah
mengatakan padaku, cerita yang luar biasa itu bukan tentang pencapaian yang
tiada terkira, namun justru tentang keseharian yang senantiasa menorehkan makna
untuk kemudian dikenang pada masa yang akan datang. Itulah cerita yang dimiliki
semua orang, yakni cerita tentang masa kecil yang tak terlupakan, cerita
tentang perjuangan menemukan makna kehidupan, cerita tentang persahabatan atau
cinta yang tak lekang dimakan waktu. Cerita-cerita yang sama sesungguhnya akan
selalu kita temukan kapan saja dan tak peduli di mana, bahkan di sudut-sudut
kereta di negeri jauh ini. Dia melintasi batas negara dan budaya, bahkan mimik wajah
bisa menceritakan seribu kisah yang boleh jadi hanya tak mampu saja terekspresikan
lewat kata-kata.
Kereta berhenti lambat-lambat di ujung stasiun Venlo.
Aku turun dengan sedikit tergesa demi mengejar kereta selanjutnya, kereta senja
Veolia. Hiasan bunga-bunga plastik di tiang-tiang stasiun tak kuhiraukan,
bunga-bunga yang tetap cantik di segala musim, tak peduli musim apa dan tak
peduli pula dengan lalu lalang orang-orang di sekitarnya. Kereta Belanda ini
berwarna merah putih dan di beberapa dinding luarnya terlukis wajah-wajah tokoh
yang tak kukenal, entah siapa. Perjalanan dari Venlo menuju Nijmegen kurang
lebih 1 jam, dan perjalanan terakhir ini yang sesungguhnya paling kutunggu-tunggu,
saat lembar-lembar terakhir buku yang kubaca mencapai kesimpulannya, lalu
segenap cerita mencapai titik baliknya, berkejaran dengan matahari yang
pelan-pelan menunduk ingin mencumbu cakrawala. Awan kelabu sedikit tersibak
membiarkan berkas-berkas sinar dari langit mengintip malu-malu pada sapi-sapi
gemuk yang digiring petani pulang ke kandang. Kemudian perlahan ladang-ladang
petani berganti oleh deretan rumah penduduk, lalu tak lama kemudian Sungai Rijn
dengan cantiknya memantulkan kilau matahari senja. Sebuah sore yang sempurna, sesempurna
ingatanku akan kenangan pada orang-orang tercinta. Lalu sebaris kata-kata dari Buku "Teman
Merawat Percakapan" terngiang-ngiang dibisikkan angin senja: "Aku mengingatmu dengan cara yang sederhana, menyimpanmu
di tempat yang teristimewa."
Bochum, 16 Oktober 2013
[Tamat]
[Tamat]
[Sambungan dari: Balada Stasiun Kereta:
http://maktjik.blogspot.de/2012/12/balada-stasiun-kereta.html]
http://maktjik.blogspot.de/2012/12/balada-stasiun-kereta.html]
Labels:
Bochum,
Catatan,
Eropa,
Jerman,
Perjalanan,
Review Karya
Monday, August 12, 2013
Bait-bait Ramadhan
Oleh: Ian Sancin
Hari Pertama Ramadhan. Nafsu terindah bersama Tuhan.
Bangunlah sahur... katamu, agar dingin pagi hinggap di kulit lembut yang kelak bakal rapuh dihisap bumi. Sementara lidah merasakan nikmatnya sebelum fajar. Tetapi nafsu ternikmat ketika matahari menyentuh siang... semakin lapar semakin dekat di hatimu. Mengapa itu hadir di tanyaku. Jawabmu, itu jembatan terpendek bahwa kau tak perlu membawa apa pun ketika datang padaNYA, kecuali yang kau dapatkan di siang puasamu.
Bangunlah sahur... katamu, agar dingin pagi hinggap di kulit lembut yang kelak bakal rapuh dihisap bumi. Sementara lidah merasakan nikmatnya sebelum fajar. Tetapi nafsu ternikmat ketika matahari menyentuh siang... semakin lapar semakin dekat di hatimu. Mengapa itu hadir di tanyaku. Jawabmu, itu jembatan terpendek bahwa kau tak perlu membawa apa pun ketika datang padaNYA, kecuali yang kau dapatkan di siang puasamu.
Hari Ketiga Ramadhan. Di bawah Kaki Tuhan.
Seperti gelegar petir menghenjakkan ingatan agar tersadar pada pemiliknya... tetapi desir angin yang sejuk kadang melupakan ingatan hingga tertidur... seperti primata dihembus angin timur. Betapa mudah terlenanya ingatan bahkan lupa... Itukah rasa lapar diberikan, tanyaku padamu. Bisa jadi begitu, jawabmu... sebab bagaimana kau bisa minta maaf jika melupakan kesalahan yang pernah kau buat... agar mata lebih terang melihat dan telinga lebih peka mendengar....
Seperti gelegar petir menghenjakkan ingatan agar tersadar pada pemiliknya... tetapi desir angin yang sejuk kadang melupakan ingatan hingga tertidur... seperti primata dihembus angin timur. Betapa mudah terlenanya ingatan bahkan lupa... Itukah rasa lapar diberikan, tanyaku padamu. Bisa jadi begitu, jawabmu... sebab bagaimana kau bisa minta maaf jika melupakan kesalahan yang pernah kau buat... agar mata lebih terang melihat dan telinga lebih peka mendengar....
Hari Ketujuh Ramadhan. Angin Melintasi Pucuk Pinus.
Lembang masih lengang, subuh di temaram fajar. Hanya terlihat bayang pucuk pinus bergerak lembut ditiup angin. Sebentar lagi cahaya berpendar... tanda puasa dimulai. Aku masih terdiam ketika kau tanyakan mengapa mematung memandang noktah cahaya di langit. Padahal kau tahu aku tak memikirkan apa-apa kecuali takjubku pada sang pemiliknya. Sungguh semestanya langit dan betapa kecil diri jika tak sanggup melintasi siang menuju senja yang hanya setengah bumi mengitari matahari. Dan setengah hari bukan apa-apa, bukan jarak antara cahaya ke cahaya yang bertabur di langit sana... Maha Besar dan Pemurahnya Allah meringankan beban umatNYA.
Lembang masih lengang, subuh di temaram fajar. Hanya terlihat bayang pucuk pinus bergerak lembut ditiup angin. Sebentar lagi cahaya berpendar... tanda puasa dimulai. Aku masih terdiam ketika kau tanyakan mengapa mematung memandang noktah cahaya di langit. Padahal kau tahu aku tak memikirkan apa-apa kecuali takjubku pada sang pemiliknya. Sungguh semestanya langit dan betapa kecil diri jika tak sanggup melintasi siang menuju senja yang hanya setengah bumi mengitari matahari. Dan setengah hari bukan apa-apa, bukan jarak antara cahaya ke cahaya yang bertabur di langit sana... Maha Besar dan Pemurahnya Allah meringankan beban umatNYA.
Hari Kedelapan Ramadhan. Di atas Belitong.
Hijau putih kuning masih menempel di ingatan... terbingkai di jendela kecil yang melintasi langit... warna itu seperti luka kulit menganga sukar tersembuhkan. Juga tak kulihat pondok huma atau pun ladang sahang, hanya barisan palma merimba.... Milik siapakah bumi tanyaku padamu, ketika terpikir bahwa tanah dikuasai manusia... lalu kau tersenyum sembari mengatakan... kematian pasti datang tapi mempercepat prosesnya tentu diharamkam... lantas aku jadi ikutan tersenyum sembari membayangkan bahwa hanya proses alam dapat membuat usia lebih panjang. Ah, tak cukuplah pelajaran dahaga dan lapar dalam puasa buat memahaminya.... Tidak, kecuali dari kebahagiaan, makan dan minum yang kau dapatkan, begitulah tegasmu....
Hijau putih kuning masih menempel di ingatan... terbingkai di jendela kecil yang melintasi langit... warna itu seperti luka kulit menganga sukar tersembuhkan. Juga tak kulihat pondok huma atau pun ladang sahang, hanya barisan palma merimba.... Milik siapakah bumi tanyaku padamu, ketika terpikir bahwa tanah dikuasai manusia... lalu kau tersenyum sembari mengatakan... kematian pasti datang tapi mempercepat prosesnya tentu diharamkam... lantas aku jadi ikutan tersenyum sembari membayangkan bahwa hanya proses alam dapat membuat usia lebih panjang. Ah, tak cukuplah pelajaran dahaga dan lapar dalam puasa buat memahaminya.... Tidak, kecuali dari kebahagiaan, makan dan minum yang kau dapatkan, begitulah tegasmu....
Hari Kesepuluh Ramadhan. Menghormati Tanah.
Ketika rembulan, angin, hujan dan panas mengatur waktu, tetapi keinginan kita diatur kehendak memasuki segala musim. Ah! Kehendak tak berbatas dan kadang memang menghilangkan batas. Itukah puasa di berikan... tanyaku padamu. Lalu kau tersenyum tak menjawab. Aku terdiam cukup lama, dan akhirnya kau berkata bahwa bukan sekedar tak makan minum dan mengendalikan nafsu tapi mensucikan bumi di dalam tubuhmu. Aku hampir tertawa tapi tertahan setelah tahu bahwa nanti bakal jadi tanah lagi.
Ketika rembulan, angin, hujan dan panas mengatur waktu, tetapi keinginan kita diatur kehendak memasuki segala musim. Ah! Kehendak tak berbatas dan kadang memang menghilangkan batas. Itukah puasa di berikan... tanyaku padamu. Lalu kau tersenyum tak menjawab. Aku terdiam cukup lama, dan akhirnya kau berkata bahwa bukan sekedar tak makan minum dan mengendalikan nafsu tapi mensucikan bumi di dalam tubuhmu. Aku hampir tertawa tapi tertahan setelah tahu bahwa nanti bakal jadi tanah lagi.
Ramadhan Keempatbelas. Sayup Azan.
Sayup azan menenteramkan, menggetarkan... membelah pagi buta di sunyi dingin tanpa mata... lalu, kokok ayam pun terhenti agar sujud subuh terlaksana. Ada yang berbeda dari gema yang sampai ke telinga ketika pikiran bertanya dan hati menjawabnya.... Sebuah suara hanyalah pertanda, katamu. Hanya untuk satu jawabankah, tanyaku padamu. Iya, semua untuk Tuhan, katamu, begitupun puasa sebab lapar bukanlah rasa laparnya, sebab lapar akan hilang jika kau berbuka. Lantas ia buat apa, tanyaku lagi. Ada keteguhan yang baik bakal membaikan sebab bahagia hanya di ketentraman bukan yang di kegelisahan, tegasmu...
Sayup azan menenteramkan, menggetarkan... membelah pagi buta di sunyi dingin tanpa mata... lalu, kokok ayam pun terhenti agar sujud subuh terlaksana. Ada yang berbeda dari gema yang sampai ke telinga ketika pikiran bertanya dan hati menjawabnya.... Sebuah suara hanyalah pertanda, katamu. Hanya untuk satu jawabankah, tanyaku padamu. Iya, semua untuk Tuhan, katamu, begitupun puasa sebab lapar bukanlah rasa laparnya, sebab lapar akan hilang jika kau berbuka. Lantas ia buat apa, tanyaku lagi. Ada keteguhan yang baik bakal membaikan sebab bahagia hanya di ketentraman bukan yang di kegelisahan, tegasmu...
Ramadhan Kedelapanbelas.
Jika setiap hari ada hal sama yang berulang... mata tak liar lagi memandang. Lalu pikiran diam di kesenyapan... dan di dalamnya ada sesuatu yang kudapatkan, aku mengatakannya hanya gambaran... kau sendiri menyebutnya sekedar khayalan.... Keduanya seperti awan bergerak dengan bentuk berbeda... Mengapa begitu, tanyaku padamu... dan katamu, di balik gambaran bukan hanya sesuatu yang lain.... Lalu apa, tanyaku lagi. Kau diam tak menjawab... aku juga diam karena ternyata puasa tak pernah bakal berakhir yang isinya hanya batasan, sebab di luar Ramadhanlah ujian yang paling menentukan.
Jika setiap hari ada hal sama yang berulang... mata tak liar lagi memandang. Lalu pikiran diam di kesenyapan... dan di dalamnya ada sesuatu yang kudapatkan, aku mengatakannya hanya gambaran... kau sendiri menyebutnya sekedar khayalan.... Keduanya seperti awan bergerak dengan bentuk berbeda... Mengapa begitu, tanyaku padamu... dan katamu, di balik gambaran bukan hanya sesuatu yang lain.... Lalu apa, tanyaku lagi. Kau diam tak menjawab... aku juga diam karena ternyata puasa tak pernah bakal berakhir yang isinya hanya batasan, sebab di luar Ramadhanlah ujian yang paling menentukan.
Ramadhan Keduapuluh.
Dari manakah datangnya angin ini, ucapmu kepadaku ketika bergidik merasakan dinginnya.... Tentu saja dari arah mata angin, jawabku asal saja guna menepis rasa ngeri yang seketika hadir di gelap malam.... Ia datang kala rasa takutmu hadir, lanjutnya. Lalu mengapa rasa takutku muncul dalam kesunyianku, tanyaku lagi. Agar kau tahu bahwa kematian menjadi kesunyian yang mengerikan kecuali puasamu mabrur dalam zikirmu bersama angin di segala musim.
Di keheningan malam menanti laila... membuatmu tersenyum lugu padaku. Salahkah aku, tanyaku. Tak ada yang salah, jawabmu. Lalu, mengapa senyummu menyimpan sesuatu, tanyaku lagi. Seraya memandang langit malam yang pekat... kau berkata, laila ada di hatimu tak perlu kau tunggu turun dari langit pekat malam sebab dia ada di hati yang benderang ketika puasamu sepenuh cahaya. Lalu, yang dari langit itu apa...? Itu rahmat bagimu.
Jika gelap datang pasti ada cahaya yang menerangi setidaknya satu malam di beredarnya rembulan... lalu aku diam, bermandi cahayanya tatkala gelap hatiku memekat dan ia mesti hilang dibersihkannya. Mengapa hanya satu malam laila hadir, tanyaku padamu... dan katamu, rembulan yang menerangi malam sesungguhnya sudah lebih dari laila memberikan berkahnya, hanya yang tak berpikirlah tak pernah merasakannya. Mengapa begitu... Katamu, dinding hati terlalu keras untuk ditembus. Ah, aku jadi malu pada puasaku... sebab enam hari lagi rembulan datang, apakah bakal membawa cahaya baru....
Ramadhan Keduapuluhlima.
Setidaknya perjalanan menuju lima hari lagi bukanlah perjalanan yang pendek sebab apa yang didapat di duapuluh lima hari lalu tak mesti terbawa angin begitu saja... kelapangan hati mestilah dipeluk erat agar tetap bersama sepanjang masa, agar ketika menghadapNya ada teman dalam kesunyian... dan bahagia dalam kegembiraan... begitulah aku berkata padamu. Lalu kau tersenyum, tapi menandai apa? Sudahlah kupikir kau memahami apa yang kupikirkan.... Ternyata tidak, lalu kau berujar, selalu kukatakan padamu... setelah beberapa hari berikutnya, permulaan perjalanan panjang ke ujian sesungguhnya.
Ramadhan Keduapuluhenam.
Bagimana mesti memulainya jika puasa merupakan permulaan di hidup berikutnya menuju yang sebenarnya... kau tak segera menjawab tapi memberikan daun kering yang jatuh ke tanah... lalu berkata, dia menjadi ringan sebab beban dunia tak lagi ada padanya.
Bagimana mesti memulainya jika puasa merupakan permulaan di hidup berikutnya menuju yang sebenarnya... kau tak segera menjawab tapi memberikan daun kering yang jatuh ke tanah... lalu berkata, dia menjadi ringan sebab beban dunia tak lagi ada padanya.
Aku masih tercenung bukan memikirkan ringannya beban yang terlepas selama duapuluh tujuh hari lalu, bukan pula memikirkan permulaan di ujian setelah tiga hari selanjutnya. Bukan, bukan itu... tapi ada yang mengganjal di pikiranku, setelah itu kau bakal ke mana, sebab kau tidak akan menemaniku di sepanjang masa, tanyaku padamu... dan jawabmu, jika puasamu mabrur, aku tetap bersamamu tapi tak lagi berkata-kata hanya memantaskan apa yang pantas untuk dipantaskan... maka pantaskanlah dirimu menjadi yang sebenarnya dirimu...
Ramadhan Keduapuluhdelapan.
Tak ada yang lebih mulia daripada kemuliaan itu sendiri... lalu jika didapatkan akankah derajadku menjadikanku lebih mulia dari yang sesungguhnya... Kau tertawa ngakak... seraya berkata, kemuliaan bukanlah mengejar derajat lebih tinggi tapi memeluk bahagia sejati. Aku tercenung... sepertinya ada yang salah di perjalanan puasaku. Kau tak salah, tandasmu, hanya bagimu kemuliaan serupa kehormatan yang kau dapatkan... padahal kemuliaan hadir atas kehendakNya.
Tak ada yang lebih mulia daripada kemuliaan itu sendiri... lalu jika didapatkan akankah derajadku menjadikanku lebih mulia dari yang sesungguhnya... Kau tertawa ngakak... seraya berkata, kemuliaan bukanlah mengejar derajat lebih tinggi tapi memeluk bahagia sejati. Aku tercenung... sepertinya ada yang salah di perjalanan puasaku. Kau tak salah, tandasmu, hanya bagimu kemuliaan serupa kehormatan yang kau dapatkan... padahal kemuliaan hadir atas kehendakNya.
Ramadhan Keduapuluhsembilan
Jika aku tak bersabar maka waktu begitu cepat berlalu sebab semua bisa kugapai dengan lebih cepat... akankah semua alat bantu yang menyertaiku mempercepat proses kematian... bisa jadi begitu jawabmu. Mengapa kau tak begitu tegas mengatakan yang sebenarnya, tanyaku. Jawabmu, kau masih memiliki pilihan hidup yang lebih panjang sebab waktu tidaklah berubah kecuali kau sendiri yang tak sabar dikawal olehnya...
Jika aku tak bersabar maka waktu begitu cepat berlalu sebab semua bisa kugapai dengan lebih cepat... akankah semua alat bantu yang menyertaiku mempercepat proses kematian... bisa jadi begitu jawabmu. Mengapa kau tak begitu tegas mengatakan yang sebenarnya, tanyaku. Jawabmu, kau masih memiliki pilihan hidup yang lebih panjang sebab waktu tidaklah berubah kecuali kau sendiri yang tak sabar dikawal olehnya...
Catatan kaki:
Pak Cik Ian, begitu aku memanggilnya. Mungkin lebih dari sepuluh tahun yang lalu, pertama kali aku bertemu beliau. Saat itu, aku masih duduk di bangku SMA, bukan sekali dua kudengar ayahku bercerita tentang Pak Cik Ian. Ayah begitu gembira menemukan saudara sepupunya ini ketika kami sekeluarga baru pindah ke Pangkalpinang. Waktu berlalu, kali kedua aku bertemu Pak Cik adalah ketika aku masih di Bandung, bulan April 2010, ketika Ayah Ibu mengunjungiku. Lalu kuminta Pak Cik membubuhkan tandatangan di sebuah novel karya Beliau, Yin Galema. Sebuah novel yang meninggalkan rasa bangga ketika selesai membacanya, sebuah novel yang kata ayahku tak sembarang orang bisa menulisnya bahkan untuk membacanya pun kau harus menggunakan hati serta halus perasaanmu, demi meresapi bait demi bait rangkai katanya.
Pak Cik Ian, begitu aku memanggilnya. Mungkin lebih dari sepuluh tahun yang lalu, pertama kali aku bertemu beliau. Saat itu, aku masih duduk di bangku SMA, bukan sekali dua kudengar ayahku bercerita tentang Pak Cik Ian. Ayah begitu gembira menemukan saudara sepupunya ini ketika kami sekeluarga baru pindah ke Pangkalpinang. Waktu berlalu, kali kedua aku bertemu Pak Cik adalah ketika aku masih di Bandung, bulan April 2010, ketika Ayah Ibu mengunjungiku. Lalu kuminta Pak Cik membubuhkan tandatangan di sebuah novel karya Beliau, Yin Galema. Sebuah novel yang meninggalkan rasa bangga ketika selesai membacanya, sebuah novel yang kata ayahku tak sembarang orang bisa menulisnya bahkan untuk membacanya pun kau harus menggunakan hati serta halus perasaanmu, demi meresapi bait demi bait rangkai katanya.
Aku masih ingat kata-kata Pak Cik, mungkin redaksinya berbeda, namun maknanya tetap kuingat: 'Dunia itu butuh seni dan seniman. Tak elok rasanya kalau hidup tanpa dibumbui seni', begitu kata Beliau. Terima kasih Pak Cik telah mengizinkan untuk merangkum bait-bait Ramadhan ini, terima kasih pula telah menjadi guru bagiku, karya-karyamu selalu menginspirasiku di tengah semak otak kiriku yang sering kali meluap tak mau kalah dengan otak kananku. Salam takzim dari Bochum.
Bochum, musim panas, 12 Agustus 2013
Wednesday, August 07, 2013
Friday, July 12, 2013
Semburat Langkah dalam Bayangan Hujan
Malam sudah larut tapi mataku tak kunjung
terpejam, bukannya tak mau, tapi memang malam itu aku tak boleh tidur. Malam yang akan tercerai
definisinya karena berkejaran dengan matahari, dalam ribuan mil perjalananku ke
tanah seberang. Dalam gelap, kakiku sepertinya harus berlari lagi,
berlari lebih kencang lagi. Apa yang akan kutemui nanti juga masih gelap. Lambaian ayah ibu mengantarku di tengah pekat malam
Jakarta. Lambaian yang entah kapan akan kulihat lagi. Aku menoleh pada mereka
untuk terakhir kali, senyumku mengembang, senyum pamitku untuk mereka yang
selalu aku cintai.
Nekat saja pikirku,
bekalku sudah lebih dari cukup, aku berbekal doa dan cinta dari orang-orang
yang kusayangi. Perasaanku campur aduk, mereka yang telah memenuhi hatiku
hingga meluap-luap selama hidupku, kini harus kutinggalkan jauh. Ah, kalau
titik referensinya kutukar, bisa kuanggap mereka yang pergi, bukan aku. Gampang
juga kupikir, ini hanya main-mainan logika saja. Baiklah, langkahku harus
kukayuh, ceritanya baru akan dimulai.
Sore itu, di penghujung musim gugur,
langit kelabu menyambutku. Tak ada basa basi, petugas pemeriksa paspor bertanya
dengan tatapan dingin "What are you going to do in Germany?" "Study, Sir",
jawabku singkat. Tak ada siapa-siapa yang kukenal di sini, harap-harap cemas
kutunggu dua teman baruku. Lega ketika kulihat mereka melambai-lambai di pintu
keluar. Moni dan Michal, dua teman baru yang dalam seminggu berikutnya
membuatku merubah semua persepsiku tentang negeri dingin ini.
Terbangun aku di
suatu pagi, kehilangan definisi ruang dan waktu. Kamar ini, ranjang ini,
jendela ini, tiba-tiba tak sama lagi. Aku di mana? Kubuka gordyn jendela, hitam
pekat di luar sana, aku pun kehilangan pagi, tapi pagi yang mana? Kulirik jam
tanganku di atas meja, baru pukul 2, pukul 2 yang mana pula? Aku
menghitung-hitung, mencoba kembali pada kesadaran yang sempurna.
Semua serba baru
bagiku. Lingkungan baru, teman-teman baru, sistem dan aturan-aturan baru.
Berkali-kali kuulangi dalam hati, "Mohon bersabar wahai tubuhku, jangan lelah dulu,
petualangan ini baru saja dimulai". Aku tak punya alasan untuk tidak bersyukur
apalagi menjadi malas dan skeptis tentang masa depanku.
Pukul 07.30,
pagi-pagi sekali, aku sudah rapi jali, menunggu kawan baruku Moni, janji
pertama yang aku buat dengan orang Jerman, dan memang tepat pukul 07.30 dia
datang. Pelajaran pertama: tepat waktu. Banyak sekali yang harus kuurus hari
ini, salah satu yang kutunggu-tunggu adalah bertemu supervisorku, Prof.
Schmitz. Lalu, aku berkenalan dengan kawan-kawan baru, 8 orang muda yang penuh
semangat. Kuperhatikan gerak-gerik dan tutur kata mereka, pelajaran berikutnya:
tak satupun dari mereka yang memanggil supervisor kami dengan embel-embel Prof,
Herr atau pun nama belakangnya, cukup nama depannya saja. Dengan begitu,
obrolan mengalir lebih hangat, lebih akrab.
Pukul 12 siang, aku
dan Moni masih berada di bank, tiba-tiba seperti tergesa ia menelpon. "Kau
ada janji?" tanyaku. "Tidak, hanya sudah waktunya makan siang,
sebentar lagi kita menyusul mereka ke Mensa", jawabnya sambil tersenyum. Oh, rupanya mereka punya kebiasaan makan siang bersama di Mensa, kantin
universitas. Satu meja bersama supervisor dan para kolega. Dari obrolan mereka,
terkesan tak ada jarak, walaupun aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan,
tak sepatah pun. Siang ini aku makan roti, belum ada nasi. Lalu mereka
bertanya-tanya, makanan apa yang aku bawa. Agak sulit menjelaskan apa itu
rendang, kubilang saja semacam kari khas Indonesia, karena kupikir tak ada juga
padanan kata dari bumbu-bumbunya dalam bahasa mereka.
Alhamdulillah, Dia mempertemukanku dengan orang-orang baik di saat aku tak punya siapa-siapa di
sini. Dua teman baruku, Moni dan Michal, mahasiswa doctoral dan peneliti
poctdoctoral, muda, cerdas dan baik hati. Di minggu pertama aku di sini,
merekalah yang mengantarku ke sana kemari, mengurus ini itu, sampai menemaniku
belanja barang-barang kebutuhanku hingga ke kota tetangga. Mereka yang
menanyaiku tentang makanan apa yang tidak boleh kumakan, tentang kebutuhan
khususku untuk beribadah sampai menjemputku di pagi dingin berkabut, menemaniku
berjalan kaki ke kampus di saat semester ticket kereta-ku belum kuperoleh.
Sampai hari ini pun,
tak jarang aku sampai merasa tidak enak karena kebaikan mereka. Michal akhirnya
memilih berkarir di perusahaan. Cake pisang, bolu coklat dan teh hangat, sore
sederhana yang akan tetap kuingat, perpisahan dengan teman kami, Michal yang
baik hati.
Di sini, satuan
terkecil Fakultas adalah Institut. Institut kami terdiri dari seorang Profesor,
2 orang dosen, 8 asisten peneliti (mahasiswa doctoral), seorang sekretaris dan
seorang pegawai administrasi. Dengan 12 orang ini lah, hidupku dalam beberapa
tahun ke depan akan kuwarnai. Kukenali wajah mereka satu persatu, salah seorang
temanku berasal dari Iran, satu lagi berasal dari Kazakhstan namun sejak
kecil pindah ke Jerman, dan sisanya adalah native Jerman.
Salah satu alasanku
untuk berpetualang adalah aku ingin mengenal berupa-rupa manusia. Ingin
kuselami pikiran mereka, kubaca budaya mereka dan kukenal dunia selain tanah
asalku. Aku ingin belajar banyak hal.
Di sini aku tak akan kesepian,
selama masih ada hujan, derainya bisa kutatap dari balik jendela, indah. Selama
masih ada bintang, bulan dan awan, dongakku tak akan bosan menatap langit. Pun
matahari walau tak sehangat yang selama ini kukenal, tak akan berubah
menyiratkan harapan. Dalam setiap desir angin, pergantian musim dan lalu lalang
manusia, ingin kuhirup nafas terdalam dengan mata terpejam. Biar serpihnya
mengalir hingga urat nadiku, menenangkan.
Singkat saja kulewati
bulan-bulan pertama yang semakin dingin, aku rindu matahari. Tanpa sadar, kita
selalu mencetak persepsi-persepsi di kepala kita. Lalu pelan-pelan
mencocokkannya dengan kenyataan yang kita temui setiap hari. Persepsi selalu
bersifat subjektif, dibangun dari perasaan dan pengalaman, lalu tersusun
sedemikian rupa menemani pembelajaran setiap insan sepanjang hidup. Persepsi
pertamaku tentang Jerman adalah dingin, iklimnya, juga orang-orangnya. Benar
atau tidak, sedikit demi sedikit kucoba definisikan sendiri. Dingin, menurut
kulit Melayuku yang sebelumnya tak pernah tersentuh salju, tapi tidak setelah
kulewati musim dingin pertama dengan suhu yang anjlok hingga -18°C. Allah Maha
Kuasa, Dia menciptakan tubuh manusia sesempurna-sempurnanya, yang bisa menyesuaikan
diri seiring waktu. Aku pun tetap bertahan hingga hari ini, menyambut musim
dingin kedua yang terasa lebih "hangat", relatif bukan? Dingin, jika
kita bertemu orang-orang tak dikenal yang lalu lalang di perjalanan, tapi
tidak jika kita mengenal mereka secara personal. Ramah mereka tak kalah hangat
dibanding matahari bulan Juli.
Dari 365 hari dalam
satu tahun, mungkin tak lebih dari 3 bulan, Jerman disiram hangat matahari
sempurna. Sisanya adalah hari-hari kelabu, dingin, hujan, bahkan bersalju, yang
membuat orang tak betah berlama-lama di luar, bahkan sering sekali menciutkan
semangat untuk bangun pagi. Bagaimana mungkin mereka akan seramah orang
Indonesia yang bisa menikmati hangat sepanjang tahun. Mereka hanya punya musim
panas yang tak begitu lama, yang sontak membuat orang-orang tiba-tiba riang
gembira. Generasi demi generasi, alam telah membentuk mereka seperti itu. Suatu
hari, aku duduk seorang diri di bangku kereta menuju Belanda. Aku harus turun
di Arnhem, sebuah kota di timur Belanda dan melanjutkan perjalanan dengan
kereta berikutnya. Orang Belanda relatif lebih ramah, teoriku tentang iklim tak
sepenuhnya benar, mungkin karena mereka bangsa pedagang, entahlah. Sesampai di
Belanda aku menjadi pelupa, satu hal yang paling lumrah dilakukan orang
Indonesia: tersenyum!
Suatu waktu aku
berpikir, apa yang membuat orang Jerman begitu giat. Dibanding Indonesia mereka
tak punya apa-apa! Indonesia punya semuanya, iklim yang ramah sepanjang tahun,
sumber daya alam yang melimpah, laut yang luas, hutan yang kaya, dan penduduk
dengan persentase usia produktif yang relatif tinggi. Sungguh anugerah yang
tak terhingga. Orang Jerman harus berjuang mengatasi tantangan alam, mereka tak
boleh manja, kalau tak pintar-pintar mereka bisa mati konyol. Berabad-abad kenyataan
ini mendorong mereka berpikir keras, mencari cara, mengolah akal, lalu
terciptalah penemuan-penemuan hasil teknologi rekayasa untuk memudahkan hidup
mereka. Selanjutnya seiring zaman, mereka lalu berpikir untuk menguasai dunia!
Itulah manusia, kisahnya tak jauh-jauh dari nafsu yang senantiasa menderu.
Sejak kecil aku senang sekali mendengarkan bahasa-bahasa yang terdengar
asing di telingaku. Dulu setiap pukul 5 pagi, radio BBC berbahasa Inggris
gemerosok timbul tenggelam terdengar sayup-sayup dari ruangan tengah rumah kami
atau sesekali ayahku menonton berita CNN di televisi. Aku belum mengerti apa
yang disampaikan pewarta berita itu setiap pagi, sederhananya aku hanya senang
mendengarkan mereka berkicau-kicau dalam bahasa mereka sendiri. Pada kenyataannya
bahasa Inggrisku tak maju-maju. Belasan tahun kemudian, mau tak mau aku harus
bisa berbahasa seperti mereka, ditambah lagi kenyataan baru, aku harus bisa
berbahasa Jerman. Orang Jerman
mencintai bahasa mereka seperti orang Melayu mencintai syair, tak bisa
ditawar-tawar. Sejak Februari, di akhir musim dingin yang lalu, kupecut lidahku
untuk belajar bahasa baru. Bahasa Jerman terdengar lebih berat, seperti suara
orang sedang menggeram, huruf-hurufnya seperti keluar dari pangkal-pangkal
leher dan nadanya naik turun, sekali lagi ini hanya persepsiku. Bulan
demi bulan, sedikit demi sedikit aku tak lagi buta aksara. Kali pertama kulihat
pamflet dan pengumuman di jalan-jalan, aku hanya mampu menerka-nerka dari
gambarnya. Sekarang semuanya sudah terlihat lebih menarik, aku tak lagi buta
arah, pun suara Ibu-Ibu pemaklumat di stasiun kereta sudah terdengar akrab di
telinga. Sekarang aku paham apa isi perbincangan sahabat-sahabatku setiap makan
siang, sekarang aku tahu apa yang mereka tertawakan. Setiap aku mencoba
berbincang dalam bahasa Jerman, mereka begitu senang, walaupun berkali-kali aku
harus mengulang-ngulang: "Wie bitte?". Tak masalah, setidaknya aku sudah
mencoba, dan itu yang mereka hargai.
Satu lagi yang kupelajari dari
sahabat-sahabatku: segala sesuatu itu harus dibicarakan jika memang diperlukan,
kalau kita tidak menyampaikan jangan harap mereka akan berinisiatif menanyakan,
apalagi memberi bantuan. "Kami tak mahir membaca pikiran", begitulah
kira-kira maksud mereka. Dan kalau sudah berniat membantu, mereka tak pernah
setengah-setengah, kalau memang tidak bisa mereka akan menyampaikannya sejak
awal.
Orang Jerman senang sekali menstatistikkan
segala sesuatu, sehingga memudahkan mereka untuk melakukan evaluasi dan
terus-menerus meningkatkan kualitas. Semuanya dibuat serba terstruktur dan
rapi. Perjalanan dari kota A ke kota B akan lebih mudah diperkirakan, sehingga
tak menyusahkan jika hendak membuat janji bertemu. Semuanya jadi serba mudah.
Tapi diam-diam aku merindukan semrawut transportasi di tanah air, rasanya lebih
menantang dan penuh duga-duga, lebih "nyeni"!
Sejak kecil
aku menyukai museum, dan kota kecilku nun jauh di Pulau Belitong sana hanya punya satu museum mungil yang
berdiri hingga hari ini, tak jauh dari sekolahku dulu. Museum
yang merangkap menjadi kebun binatang, museum yang selalu aku rindukan. Aku
begitu menikmati saat-saat larut terbawa bingkai-bingkai waktu yang terserak
dalam keping-keping sejarah. Rasanya seperti hidup di zaman yang berbeda,
dilahirkan kembali dan kebingungan menemukan jalan pulang. Di Jerman, hampir di
setiap kota bisa kita temukan berbagai museum, mulai dari museum sejarah,
museum seni, museum makanan, museum olahraga, museum tambang dan macam-macam
museum lainnya. Tiap ada waktu luang aku selalu ke museum, menelisik
helai-helai sejarah dalam temaram lampu di sudut-sudut ruangan tak berdaun
pintu.
Aku tak ingin menilai
suatu bangsa lebih berbudaya dibanding bangsa lainnya, karena aku percaya
setiap budaya terbentuk oleh serangkaian alasan yang panjang, yang pada
akhirnya membentuk ciri khas masing-masing. Kita hanya perlu meletakkannya pada
tempat yang tepat.
Aku tak akan pernah
tahu apa yang akan kuhadapi dalam petualangan ini, pun sampai kapan waktuku
habis. Hidup kusebut sebagai petualangan, seperti yang selalu seorang sahabatku
kenangkan. Aku hanya ingin berbuat terbaik yang aku bisa, menjalani setiap
prosesnya dengan sabar dan syukur sambil sesekali menikmati kejutan-kejutannya.
Biarlah kutinggalkan semua kemudahan-kemudahan di sana, yang sepanjang tahun
bisa kukenakan pakaian dengan jenis yang sama, yang dengan mudahnya kuperoleh
makanan-makanan yang tak perlu aku bertanya-tanya tentang kehalalannya, yang sepanjang
hari bisa kuhabiskan waktu bersama keluarga dan para sahabat.
Di sini, memang tak
akan ada pengganti yang sama, tapi akan kutemui pula berupa-rupa pengalaman
yang tidak akan kuperoleh di sana. Tak terasa, sudah lebih dari setahun aku di
sini. Empat musim telah menyapa dari balik jendela kamarku. Waktu tak akan
pernah menunggu, sedetik pun, sekejap pun. Nyatanya dia terus berlalu, tak
peduli berapa helai sesal yang kau bakar menjadi abu. Biarlah
hanya rindu saja yang akan beradu dengan deru semangat, seperti bayangan hujan
yang derainya beradu dengan matahari, langkahku masih belum berhenti.
Bochum, 12 Juli 2013
![]() |
| Empat musim yang setia menyapa dari balik jendela |
Thursday, June 27, 2013
di antara
Menyoal pilihan hidup, bagiku tak lebih dari memandang elemen paling dasar dari kehidupan itu sendiri: "hidup untuk apa?" Otakku sedang sedikit rumit sore ini, ingin menalar sekelumit tanya pada diri sendiri. Aku ingin duduk sebentar, berhenti berlari lalu menoleh ke belakang, memandang kelok-kelok yang kadang sudah gelap tertelan belukar.
Pada detik ini, aku mencoba menyusun kembali remah-remah memori yang telah dengan sangat ajaib terangkai membentuk kehidupan yang kujalani pada sekian hari belakangan ini. Beruntung, tak sekali pun ayah ibuku memaksaku untuk menjadi apa, tapi terkadang nalar bebasku sering sekali terlalu menguasai.
Aku masih ingat, berbelas-belas tahun yang lalu, aku pernah punya cita-cita ingin menjadi penerjun payung, lalu ingin jadi tentara, dan terakhir ingin jadi insinyur. Khayalan-khayalan bebas masa kecil adalah api semangat yang senantiasa menyala, merangkai mimpi-mimpi yang bebas pula. Lalu asumsi-asumsi yang dulu kubuat dalam imajinasiku sendiri, dibumbui dengan perhitungan-perhitungan konyol, lambat laun menciptakan kesadaran-kesadaran baru di kemudian hari, kesadaran akan berbagai ketidakmungkinan dan kenyataan yang pelan-pelan tak jarang bertolak belakang.
Aku paling gemar memperhatikan bagaimana kehidupan merangkai cerita yang diperankan oleh para pelakonnya. Kawan-kawan kecilku dulu, yang berbelas-belas tahun tak terdengar kabarnya, lalu seperti tiba-tiba saja telah menjadi "Bapak-Bapak" dan "Ibu-Ibu" yang dulu hanya kami kagumi lewat buku-buku atau tokoh-tokoh hidup yang kebetulan hadir dalam masa kecil kami. Si A kini telah menjadi dokter, si B jadi guru, lalu si C jadi polisi, dan si D jadi pengusaha. Sayangnya, aku telah melewatkan kisah-kisah mereka, yang tentu bukan hanya sesingkat dan semudah menggoreng telur untuk sarapan pagi.
Lalu, di fase kehidupan selanjutnya, aku bertemu orang-orang dengan berbagai kisah yang tak kalah seru. Ada sahabat yang pun tanpa diminta, selalu menyelipkan nama kita di setiap doanya, ada pula sahabat yang diam-diam menyimpan rindu dalam setiap pertengkaran kecil dan debat tak berkesudahan. Ada sahabat yang sudah tak tahu ingin mencapai apa lagi dalam hidupnya, karena saking suksesnya dalam takaran hidup duniawi, lalu merasakan kegamangan hidup yang luar biasa. Banyak orang yang tak seperti bagaimana tampaknya, keropos paling rapuh yang tersimpan dalam hati adalah teritori paling pribadi yang hanya diketahui oleh si pemilik raga, juga Sang Penciptanya. Oleh karena itu, aku tak pernah berani menilai pribadi orang lain, sedekat apa pun aku mengenalnya.
Lalu bagaimana dengan aku sendiri? Pun demikian adanya. Rangkaian pengalaman, mimpi, logika, usaha dan segala macam kelumit dalam hidup pelan-pelan telah membentuk aku yang seperti sekarang ini. Aku yang masih dengan mimpi-mimpi bebal menari-nari dalam kepala semenjak pagi, aku yang masih sering tak sabar menikmati episode-episode seru yang mengajakku berlari, lalu aku yang pun belum bisa bermanfaat untuk ayah ibuku hingga hari ini.
Setinggi apa pun cita-cita, sejauh apa pun jarak yang pernah ditempuh, selalu ada kata kembali yang senantiasa memberikan secercah harapan. Lelah yang terakumulasi sepanjang hari, punya kata kembali: malam, tidur, atau istirahat. Perjalanan jauh baik itu untuk merantau atau sekedar bepergian, punya kata kembali: pulang, atau mudik. Hidup dengan episode-episode yang tak terduga punya kata kembali: mati, kubur, atau akhirat. Pun fenomena-fenomena di alam ini senantiasa menemui fase kembali untuk istirahat dan memulai siklus berikutnya. Kata ayah ibuku: "Jadi apa pun engkau nanti, jadilah orang yang bermanfaat. Tujuan hidup di dunia ini hanya satu: untuk beribadah, itu saja".
Dalam rangkaian imajinasi bebalku ini, aku punya cita-cita yang sungguh sederhana: menikmati sisa hidup dengan damai di kampung halamanku nun jauh di seberang samudera sana. Hidup sederhana dalam rumah panggung beratap rumbia, tak punya segala macam alat komunikasi elektronik yang mengalihkan dunia nyata yang tinggal satu-satunya di hadapan mata. Lalu pelan-pelan nyawa ini direnggut tanpa ada yang menangisi, dan tanpa menyusahkan seorang pun juga. Ah, damai sekali rasanya.
Bochum, 27 Juni 2013
musim panas berinai hujan
Tuesday, May 07, 2013
Langlang Buana ‘Percakapan Diam-Diam’
Berawal dari kecintaanku pada seni, demikianlah kisah
petualangan sebuah buku bermula. Sebuah buku berisi lantunan kata-kata dalam
sebuah ‘Percakapan Diam-Diam’, yang telah tunai petualangannya sampai ke
Bochum, Jerman, kota kecil tempatku berjuang saat ini.
Suatu sore di bulan Juni, musim panas tahun lalu, sepulang dari
kampus, seperti biasa aku melepas lelah sambil membaca buku, menunggu malam
tiba, sambil mengamati deras arus informasi dari berbagai media sosial. Sore itu, tanpa sengaja aku menemukan sebuah akun twitter:
@lelakibudiman, nama yang unik kupikir. Sejak saat itu, sering kusimak ‘kicauan’
sang @lelakibudiman, yang di kemudian hari kuketahui bahwa ia menulis sebuah buku
kumpulan puisi: ‘Percakapan Diam-Diam’, ilustrasi oleh Koskow, dosen ISI
Yogyakarta, yang juga pernah mengajar sahabatku, Ponda.
Ayahku juga seorang pembaca akut, kupikir
tak ada salahnya menghadiahi beliau sebuah buku. Tanpa pikir panjang, aku pun
memesan ‘Percakapan Diam-Diam’ untuk dikirim ke kampung halaman. Nanti saja
pikirku, bila masih ada umur untuk pulang, ‘Percakapan Diam-Diam’ bisa kubaca
sambil menikmati sore di beranda rumah bersama Ayah.
‘Percakapan Diam-Diam’ pun memulai petualangan
pertamanya dari Jogja ke Tanjungpandan
pada November 2012. ‘Bukumu sudah sampai’, kata Ayah pada suatu sore. Lalu
Beliau membacakan beberapa bait puisi di dalamnya. ‘Percakapan Diam-Diam’ masih
tak terjangkau olehku, saat itu ia mewakili rindu.
Januari lalu, karibku Mira yang sedang
belajar di Nijmegen, Belanda, berencana pulang untuk menghadiri pernikahan
kerabatnya. Aku pun serta merta meminta kesediaan Mira untuk mengajak ‘Percakapan
Diam-Diam’ pulang bersamanya nanti ke Belanda. ‘Percakapan Diam-Diam’ pun
melanjutkan petualangan berikutnya dari Tanjungpandan ke Cimahi, Depok dan
Jakarta, untuk selanjutnya menempuh perjalanan ribuan mil ke Amsterdam dan
Nijmegen pada Februari lalu.
‘Percakapan Diam-Diam’ menikmati musim
dingin di Nijmegen, musim dingin yang panjang dan baru beranjak pergi di awal April
tahun ini. Mungkin ia terkejut agaknya, melihat kelabu yang enggan pergi,
kadang sayup dingin menggigit tiba-tiba menyelinap dari celah pintu. Saat itu
ia mewakili tubuh kami, orang Indonesia, yang ringkih diterjang hawa dingin,
demi mengejar mimpi di negeri antah berantah ini.
![]() |
| 'Percakapan Diam-Diam' pada suatu siang nan cerah di Keukenhof, Lisse, Belanda |
Musim semi datang terlambat, bunga-bunga
liar yang sempat bersemi di awal Maret, harus mengurungkan niatnya, rupanya salju
masih betah menemani kami berlama-lama. Kuharap ‘Percakapan Diam-Diam’ masih
sabar menungguku sampai musim semi tak berbohong lagi.
Bulan Mei pun tiba membawa hawa hangat dan
semilir teduh sepanjang sore. Waktu yang tepat untuk menjemput ‘Percakapan
Diam-Diam’. Sabtu pagi di Stasiun Leiden Centraal, pada sebuah pertemuan malu-malu,
‘Percakapan Diam-Diam’ terbata mengenalkan diri padaku, tabik senyum rindu, tak
ragu lalu kuajak ia menikmati semi di taman bunga Keukenhof.
Dalam perjalanan pulang kembali ke
Nijmegen, kubaca lirih sebuah puisi dalam ‘Percakapan Diam-Diam’:
![]() |
| 'Percakapan Diam-Diam' di jendela kereta dalam perjalanan pulang menuju Nijmegen |
Pun Angin Tak Mampu
Ijinkan aku sejenak
menikmati lembut denyut
yang tak sempat kau ucapkan
Hingga esok
Kubisikkan lirih
selamat pagi.
Pun angin tak mampu
mencuri dengar
debar itu dari hatimu.
***
***
Seorang gadis Belanda, melirik penasaran
mendengar lirih suaraku, senyumnya mengembang. ‘Ini puisi, Nona. Puisi yang
kami bawa jauh dari negeri kami, tempat nenek moyangmu dulu pernah menjajah
leluhur kami’, gumamku dalam hati.
‘Percakapan Diam-Diam’ pun mengakhiri
petualangan panjangnya, tiba dengan senyum bersahaja di Bochum. Kini ia duduk manis
di rak bukuku, rumah barunya. Sore ini kami bercakap-cakap, sambil minum kopi.
Kabarnya rindu tak perlu alasan, begitu kata ‘Percakapan Diam-Diam’:
Sajak Kecil tentang Rindu
Mungkin tak semua hal membutuhkan alasan,
seperti kerinduan.
Datang begitu saja, tiba-tiba. Tanpa alasan, namun menyenangkan.
Kita tak pernah tahu alasan apa yang membuat kita saling
merindukan?
Jarak?
Sebelumnya kita tak pernah dipersatukan jarak.
Atau mungkin kita merindukan sebuah pertemuan? Kita belum pernah bertemu sebelumnya. Rindu itu menelusup tiba-tiba.
Kita tak saling memikirkan, namun saling merindukan.
Sebab kerinduan teramat jujur hingga tak mampu membuat alasan.
Alasan kerinduan adalah rindu itu sendiri.
***
***
Kami pun menutup sore nan manis, semanis reguk-reguk kopi kami
yang mulai dingin dicuri senja, dengan sajak terakhir dari 'Percakapan Diam-Diam':
Tiga Sajak Kecil yang Kutulis Sebagai Surat Cinta
(1)
Aku
Tingkap jendela
Datang memberi nama
Pada Warna
(2)
Engkau
Cahaya, tanpa nama
Menyapa
Tanpa kata
Tanpa swara
(3)
Kita
Hanyalah kecil ruang
Menjamu cahaya
Meramu warna
Dan, menamainya: Cinta
***
***
Bochum, 7 Mei 2013
Catatan kaki:
Terima kasih Mas @lelakibudiman dan Pak
Koskow, yang telah mempersembahkan karya unik nan indah. Saya menantikan
karya-karya selanjutnya. ‘Adik’ sang ‘Percakapan Diam-Diam’ di tan kinira, ‘Teman
Merawat Percakapan’ sudah sampai dengan selamat di London, ia akan ikut
berpetualang bersama sahabat saya ke Belanda, Perancis dan Swiss, sebelum kami
bertemu musim panas nanti di Jerman.
Labels:
Bochum,
Catatan,
Eropa,
Indonesia,
Jerman,
Perjalanan,
Puisi,
Review Karya
Sunday, April 07, 2013
Secarik Sore di Tepi Telaga
![]() |
| Riak telaga, semburat cahaya, lalu kayuhmu hendak kemana?
SchloĂź StrĂĽnkede, Herne, Bochum, 28 April 2013
Please find my amateur photoworks here: http://www.flickr.com/photos/maktjik/ |
Save Belitong Campaign
“Save Belitong” is a cause to gather support from people all
over the world to SAVE THE SEA OF BELITONG FROM SEA MINING.
Belitong Island or Billiton is an Island in Indonesia blessed
with heavenly beautiful white sandy beaches, and hundreds of granite boulders
decorating the crystal clear sea water. Home for magnificent coral reefs and diverse
sea biota, the sea around Billiton has nourished the people in the island. The
harmony of this nature is threatened by the sea mining activity that currently
under planning. The aim of this cause is to make the voice against sea mining
in Belitong majority so that the government has no reason not to stop this
mining plan from going on.
Belitung atau Billiton adalah sebuah pulau di bagian barat
Indonesia yang dianugerahi keindahan alam berupa pantai-pantai berpasir putih
berhiaskan batu-batu granit raksasa. Perairan laut Belitung menjadi surga bagi
keanekaragaman hayati seperti ikan, terumbu karang dan biota laut lainnya, yang
telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakatnya. Namun, harmoni alam di
Belitong saat ini terancam oleh rencana penambangan di laut
sekitarnya. Tujuan dari page ini adalah untuk menggalang dukungan
menjadikan suara penolakan terhadap penambangan laut sebagai suara mayoritas
sehingga bisa didengarkan oleh pemerintah.
If you would like to support Save Belitong, you can make your own video as friends of Save Belitong, share it to youtube or other social media, join #SaveBelitong on Facebook (https://www.facebook.com/SaveBelitong) and follow us on Twitter (@SAVEBELITONG).
When the Last Tree Is Cut Down,
the Last Fish Eaten,
and the Last Stream Poisoned,
You Will Realize
That You Cannot Eat Money
Thank you!
These are the links of the videos:
Ep.0: Belitong, Local Case Global Issue
Friends of Belitong Ep.3: Hanni, Padang
Friends of Belitong Ep.4: Sheriffo, Gambia
Friends of Belitong Ep.5: Nadia, Surabaya
Friends of Belitong Ep.4: Sheriffo, Gambia
Friends of Belitong Ep.5: Nadia, Surabaya
![]() |
| Lengkuas island, Belitong, Indonesia. Photograph by Ponda Sujadi |
Thursday, April 04, 2013
Kopi, racik, teguk, lalu diam tanpa kantuk
seperti secangkir kopi tanpa gula
pekatnya berani, getirnya beradu
tiap teguknya nikmat kata pecandu kopi
namun, pengopi biasa akan tertipu
dikiranya seruak wangi, manis merayu
lalu dituanglah sesendok gula
melarut butirnya hingga menyatu
kopi pun tak lagi pahit
kini si pecandu kopi yang akan tertipu
jadi silakan memilih, Kawan
kopi hitam alias pahit
atau kopi manis yang biasa saja
tak 'kan mabuk kau meminumnya
seperti kata seorang sastrawan
"kopi adalah cinta di dalam gelas"
lalu kutambahkan...
"dan rinduku terlarut di dalamnya"
Bochum, 4 April 2013
pekatnya berani, getirnya beradu
tiap teguknya nikmat kata pecandu kopi
namun, pengopi biasa akan tertipu
dikiranya seruak wangi, manis merayu
lalu dituanglah sesendok gula
melarut butirnya hingga menyatu
kopi pun tak lagi pahit
kini si pecandu kopi yang akan tertipu
jadi silakan memilih, Kawan
kopi hitam alias pahit
atau kopi manis yang biasa saja
tak 'kan mabuk kau meminumnya
seperti kata seorang sastrawan
"kopi adalah cinta di dalam gelas"
lalu kutambahkan...
"dan rinduku terlarut di dalamnya"
Bochum, 4 April 2013
Saturday, February 23, 2013
Salju Februari
-22 Februari-
Salju tipis masih turun di akhir Februari nan sunyi, melayang-layang dipermainkan angin, menari tak tentu arah bagai remah kapas yang dihambur-hamburkan dari langit. Salju Februari adalah salju malu-malu yang tak pernah membekas remahnya menapak bumi.
-23 Februari-
Sepasang manusia tergesa menerobos remah salju di bawah payung warna warni. Sore mulai beranjak pamit, dan salju belum mereda. Salju Februari tak lagi malu-malu. Matahari rasanya masih sabar menunggu semi, ingin merenda kelopak bunga dan pucuk-pucuk di ujung ranting, berdua saja.
Wednesday, January 30, 2013
Salju tak bersisa di Hari Rabu
mataku masih menunggu
satu satu, tetes hujan terus memburu
ternyata sudah Rabu
lagi-lagi, hujan boleh menghapus salju
tapi bukan rindu
Bochum, 30 Januari 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)









