Thursday, March 13, 2014

Bochum - Nijmegen dan Mimpi-mimpi Masa Silam

Aku masih ingat, sore itu di beranda lantai 2 gedung Labtek VI, aku dan Mira duduk berdua, memandang hujan. Beranda sudah sepi, tak terdengar lagi hiruk pikuk mahasiswa yang mengurus ini itu di kantor tata usaha, hanya suara hujan yang menemani kami di sore bulan Juli itu. Tak terasa 4 tahun sudah aku mengenal gadis hitam manis ini, namun kami baru benar-benar akrab tak lebih dari 1 tahun belakangan ini, ketika nasib mempertemukan kami di lab yang sama, Lab Instrumentasi Medik. Pun belum genap sebulan kami diwisuda, masih hijau, fresh graduate kalau istilah orang-orang zaman sekarang.

Beberapa bulan sebelumnya, langkahku maju mundur tak karuan. Aku bingung hendak kemana. Pun sore itu, belum juga bulat keputusanku. Tiba-tiba, Mira memecah bisu, dia bercerita tentang salah satu mimpinya, yang sekaligus pula mimpi Ibundanya. Aku tahu, Mira juga sebenarnya masih diliputi ragu. Namun, mimpinya itu seketika menyihirku, derai-derai hujan seperti dibekukan udara, menjelma menjadi bilah-bilah bening menghujam mataku, menuding aku yang masih ragu.

Sore sunyi di bulan Juli itu tak mungkin aku lupakan, sore itu adalah salah satu titik balik yang mengantarkanku menjadi aku hari ini. Konsekuensi mimpi dan keputusanku (sekaligus kami: aku, Mira dan Vebi) tentunya bukan hal mudah. Ini pula berarti kami harus mengikatkan diri pada komitmen bertahun-tahun ke depan, bergelut dengan buku-buku, dan entah berapa eksperimen lagi yang seperti tak habis-habisnya menunggu kami. Betapa pun sulitnya, kami akan sekolah lagi!

Setahun berselang, aku dan Mira punya panggilan baru. Aku menjadi Makcik dan Mira menjadi Tante, karena Vebi sahabat kami telah menjadi Uma' (Ibu, bahasa Melayu Belitong, red.) dari seorang anak laki-laki yang lucu, Richie namanya. Lalu orang-orang sekitar kami pun serta merta memanggil kami dengan panggilan baru ini, pun hingga hari ini.

Singkat cerita, kami pun diwisuda lagi. Kali ini aku tertidur di gedung Sabuga, bosan mendengarkan ceramah ilmiah yang entah disampaikan oleh siapa saja, Tante entah masih khusyuk mengikuti prosesi wisuda atau ikut tertidur, aku tak ingat lagi. Lalu hidup kami kembali lagi seperti 2 tahun sebelumnya, fresh graduate yang pun belum kunjung punya pekerjaan tetap. Tante memang tak pernah ambil pusing soal rencana hidup. Slogan favoritnya: "bebas aja". Maka, dari perempuan penyayang ini aku belajar agar tak terlalu "ngoyo" menjalani hidup, tapi bukan pula berarti kami tak bekerja keras. Cukuplah Allah dan orang-orang terdekat saja yang mengetahui bagaimana kami bersusah payah. Kami lebih terlihat seperti sekumpulan anak muda santai yang gemar "mentertawakan" hidup.

Nasib mengantarkan Tante lebih dahulu ke Eropa, tanah yang memeluk mimpi-mimpi kami. Uma' juga sudah 1 semester memulai program Doktoralnya di tanah air. Tinggallah aku yang masih tak jelas rimba nasibnya. Enam bulan aku seperti "orang gila" melamar sekolah ke sana ke mari. Aku pun sudah tak mempan lagi dihujam penolakan bertubi-tubi, 25 aplikasi ditolak setelah mengikuti serangkaian proses seleksi yang terkadang sudah hampir di ujung harapan menang, 7 aplikasi tak jelas kabarnya. Suatu malam, Tante menanyakan bagaimana kabar aplikasi-aplikasiku, pertanyaan yang sama selama beberapa bulan terakhir ini, namun kali ini Tante merasa sedikit khawatir. Tenanglah Kawan, sihirmu sore itu belum hilang bekasnya, masih tak mempan dihujani kegagalan-kegagalan yang belum berbuah ini. Akhirnya, dari 33 aplikasi yang kukirim, aplikasi ke 26 lah yang menjadi awal perjalanan panjang kami berikutnya. Aku akan menyusul Tante ke Eropa.

Aku pun merantau lagi, lebih jauh lagi. Malam itu, 2 Desember 2011, belum genap satu bulan aku di Bochum, Tante dan Yoga datang mengunjungiku. Ah senang rasanya, bertemu saudara sendiri ketika betah belum kunjung mengakrabi hari-hari. Dua tahun belakangan ini, kami sering sekali bertemu, karena kebetulan jarak kota tempat tinggal kami tak terlalu jauh walaupun sudah berbeda negara, hanya kurang lebih 3 jam perjalanan kereta. Nijmegen pun sudah seperti kota keduaku. Aku mengenal Nijmegen sama seperti aku mengenal Bochum, dan aku pun mencintai keduanya. Dulu sekali aku pernah bermimpi, aku dan Tante sekolah ke Eropa dan kami saling mengunjungi, ternyata hari-hari belakangan ini mimpi itu menjadi kenyataan. Berikut potongan catatan kenang-kenanganku tentang kota Nijmegen.

Nijmegen, ke tujuh kalinya


Kalaulah ada gubahan lagu tentang kenangan akan sebuah kota, tentu banyak orang yang akan mengingat Yogyakarta. Aku pun menyimpan kenangan manis tentang persahabatanku di sana. Lalu, siapa gerangan penyair yang sudi kiranya menggubah lagu serupa untuk kota Nijmegen? Kota kecil nan cantik di tepi Sungai Rijn, yang riak-riaknya mengalir syahdu, mengirimkan limpahan berkah tak putus-putus dari negeri tetangga, Jerman dan Swiss. Nimwegen, begitu lafal Jerman menyebutnya, kota yang akan aku kenang seumur hidupku, tempat salah seorang sahabatku berjuang dalam 3 tahun terakhir ini. 

Di masa depan, aku akan mengingat setiap sudutnya yang akan menyimpan dengan indah helai-helai kenangan persahabatan kami di negeri orang. Kerlip selasar stasiun, jari-jari sepeda yang kami kendarai mengelilingi sudut kota, derum bus Breng bercorak merah muda, serta merdu lidah Belanda ketika melafalkan "Nai-me-hen". Gelung-gelung logam abstrak di pusat kota, pernah aku bergelantungan di sana pada suatu siang nan cerah di musim semi, lalu kuingat wajah ramah oma-oma Belanda. Demikianlah serpih-serpih kenangan yang akan kususun mozaiknya nanti pada suatu masa ketika kami tak lagi muda. Seperti kerlip lampu yang menari dalam temaram senja, senyum kota Nijmegen seperti tak akan sirna.

Stasiun Nijmegen Centraal menjelang senja, musim gugur 8 Oktober 2013.

***

Hampir selalu, aku dan Tante menghabiskan liburan bersama. Berbekal nekat, kami menjelajahi Eropa selama berhari-hari ketika musim liburan tiba. Mungkin semacam "hadiah" dari kami dan untuk kami sendiri. Tentu tak sedikit pengalaman pahit yang kami alami selama perjalanan, kami pernah tersesat, sakit, kelelahan, lapar. Tapi, tak sedikit pula pengalaman berharga yang akan kami kenang seumur hidup. Kata orang, bepergianlah, maka engkau akan mengenal sahabat seperjalananmu, karena banyak hal yang akan teruji di sana. Tante adalah sahabat seperjalananku, maka kami tak pernah sekali pun saling menyalahkan jika menghadapi kesulitan, paling hanya tertawa sambil kebingungan menemukan jalan keluar.

Obrolan kami jarang serius. Aku tahu kalau Tante sedang banyak pikiran, dia akan lebih banyak diam, dan aku juga sudah tahu bagaimana menghadapinya, diamkan saja, paling keesokan harinya dia sudah kembali "gila", itu berarti dia sudah normal kembali. Namun beberapa kali tak jarang pula kami terlibat obrolan serius, tak tanggung-tanggung sampai menjelang dini hari kami membahas masa depan bangsa! Hahaha, siapa kami ini, sekolah pun belum selesai sudah berani-beraninya. Tante pun tahu bagaimana menghadapi aku yang sedang banyak pikiran. Dia akan menyogokku dengan segala hal yang berbau kucing juga makanan-makanan enak yang dimasaknya sendiri.


Waktu berputar cepat sekali, tahu-tahu sudah seminggu, sebulan, setahun, dan sekarang sudah lewat 2 tahun. Tante sudah harus pulang ke tanah air, lebih dahulu. Perjuangannya memang belum genap, insyaAllah tahun ini dia akan menjadi Doktor, jebolan Radboud Universiteit Nijmegen, Belanda. Mungkin pergantian musim-musim di sepanjang perjalananku pulang pergi Bochum-Nijmegen tak akan terlalu sering lagi aku saksikan. Biarlah dia menetap dalam sanubariku sebagai serpih-serpih kenangan yang akan kami susun mozaiknya nanti pada suatu masa ketika kami tak lagi muda.

Ah, Tante, satu buku pun sebenarnya tak akan habis untuk menceritakan kebanggaanku padamu. Sesungguhnya aku tak pernah menyesal Allah pernah mempertemukan kita. Cepatlah pulang ke tanah air, raih mimpi-mimpimu yang lain. Jangan pernah berhenti untuk menjadi kebanggaan kami: keluarga dan sahabat-sahabatmu. Aku masih harus menuntaskan mimpi Eropa ini, untuk merajut mimpi-mimpi selanjutnya. Jika tiba waktunya nanti, kita akan berjumpa lagi, insyaAllah. Semoga persahabatan ini membawa kebaikan tak hanya di dunia, namun semoga Allah mengumpulkan kita di akhiratNya kelak dalam keadaan yang jauh lebih baik. Salamku untuk setiap jengkal tanah air, yang mengalirkan hidup pada kita, anak bangsa yang pernah berjuang bersama.

Bochum, 13 Maret 2014

Tuesday, February 11, 2014

"Ich bin Arzt"

Hari ini aku bangun lebih pagi dari biasanya. Salah satu kebiasaanku sejak dulu, jika ingin bertemu seorang guru untuk pertama kalinya, malam sebelumnya pasti aku tak enak tidur. Pikiranku menerawang, membayangkan untaian-untaian ilmu baru yang akan kudengar keesokan harinya.

Hari ini adalah salah satu hari besar bagi diriku sendiri. Aku akan bertemu seorang dokter yang akan membagi ilmunya padaku, pada kami. Pertama kali kudengar namanya dari Supervisorku, tak menunggu lama, segera kucari segala informasi yang berhubungan dengan sepak terjang sang dokter dalam bidang yang digelutinya. Informasi sudah terkumpul di kepalaku, Tim begitu namanya, singkat saja dan mudah dihafal, wajahnya sudah kuingat, begitu pula bidang keahliannya dan sedikit sifat antusiasnya yang diceritakan oleh Supervisorku.

Belum lepas tengah hari, aku dan Supervisor ke duaku menuju rumah sakit tempat sang dokter bekerja. Supervisor keduaku ini seorang ibu muda, Stefi namanya, bahasa Inggrisnya tak selancar Supervisor pertamaku. Namun tak sedikit pun hal ini menghilangkan keramahannya padaku dan secara tak langsung dia adalah guru Bahasa Jermanku selama lebih dari setahun terakhir ini. Jalanan masih sedikit basah sisa hujan tadi malam, Stefi  memarkir mobilnya pelan-pelan.

Tadi selama di perjalanan, Stefi bercerita tentang rumah sakit tempat Tim bekerja. Berufsgenossenschaftliches Universitätsklinikum Bergmannsheil begitu nama rumah sakit ini dalam bahasa Jerman, mungkin jika diterjemahkan secara bebas, kira-kira artinya rumah sakit yang berhubungan dengan pekerjaan (profesi) sekaligus sebagai sarana penelitian bagi universitas, profesi dalam hal ini pekerja tambang, dan universitas yang dimaksud adalah Ruhr Universität Bochum, universitas tempatku belajar saat ini. Sejarahnya begini, dulu sekali, Bochum dan kota-kota sekitarnya sepanjang Sungai Ruhr merupakan salah satu pusat pertambangan batubara di Eropa. Rumah sakit ini didirikan dalam rangka untuk menangani pekerja-pekerja pertambangan yang mengalami kecelakaan ketika menjalankan tugasnya. Bergmannsheil ini sudah sejak lama terkenal dalam bidang penanganan emergency (gawat darurat), sehingga menjadikannya rumah sakit emergency tertua dan terbesar di dunia. Fasilitas klasik, lengkap dan bersahaja ini rupanya tak jauh-jauh, tak lebih dari selemparan buah jambu dari tempat tinggalku. Kini, Bergmannsheil tidak hanya dikhususkan bagi pekerja tambang, namun terbuka untuk semua kalangan dan menjadi salah satu rumah sakit pendidikan yang mendukung penelitian di Ruhr Universität Bochum, khususnya Fakultas Kedokteran.

Sejak kecil, aku tak pernah takut ke rumah sakit. Aku senang memperhatikan dokter-dokter yang lalu lalang dengan jas putih dan stetoskop yang tergantung di leher mereka. Namun, tak pernah sekali pun aku bercita-cita ingin menjadi dokter, alasannya pun aku sendiri tak pernah tahu, pokoknya tak mau saja. Kami memasuki pintu utama, sudah 3 pasien berkursi roda yang lalu lalang di hadapanku. Pelajaran pertama, bersyukur, kedua kakiku masih kuat berjalan dan berlari ke sana kemari. Tak lebih dari 5 menit, Tim datang menyambut kami, wajahnya sumringah seperti baru bertemu kawan lama. Pakaian yang dikenakannya berwarna hijau tua, pakaian untuk operasi, pada saku jas putihnya terselip telepon emergency yang sering sekali berdering, dan berkali-kali dia minta maaf pada kami gara-gara telepon emergency ini.

Ruangan Tim lebih tampak seperti "bengkel" teknik daripada ruangan seorang dokter. Satu set ultrasonic device teronggok di sudut ruangan, jarum suntik dan kateter dari berbagai model dan ukuran berserakan di meja dan kardus-kardus. "Saya pencandu kopi", begitu kalimat perkenalannya padaku sambil tertawa ringan. Dia menawari kami kopi, tapi kuminta saja segelas air putih, perutku tak enak lantaran terlalu bersemangat sejak tadi pagi. "Dia mengerti Bahasa Jerman, namun akan lebih sering berbicara dalam Bahasa Inggris", begitu Stefi mengenalkanku pada Tim. Tim mengangguk senang, dan dia tampak lebih senang ketika tahu aku berasal dari Indonesia, tak tahu aku apa alasannya.

Obrolan kami mengalir hangat, Tim membuka-buka file presentasinya, menerangkan pada kami masalah-masalah yang dia hadapi dalam dunia klinis. Tim adalah seorang ahli anestesi, selain praktik sebagai dokter di Bergmannsheil, dia juga seorang Doktor yang aktif meneliti dan hadir dalam forum-forum ilmiah. Aku menjadi saksi bagaimana bersahajanya dokter muda ini. Sedikit banyak aku tahu sepak terjangnya dalam bidang ini, namun berkali-kali dia katakan "Ich bin Arzt", "Saya adalah dokter". Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, dia berkata begitu sembari menunjukkan kejanggalan-kejanggalan pada jarum suntik yang ditusukkannya ke tubuh pasien. Dia kehilangan jejak, pada berbagai keadaan tertentu, ultrasonik tak mampu "melihat" jarum yang menembus tubuh pasien, dia tak tahu alasannya karena dia seorang dokter, bukan insinyur. Untuk itu lah kami datang padanya, kami akan saling membantu memecahkan misteri ini, sampai suatu hari nanti ketika tiba saatnya aku boleh pulang ke tanah air.

Begitu ideal kondisi penelitian di Jerman ini, setidaknya sinergi seperti ini belum terlalu jamak kita temui di tanah air. Tapi, aku yakin, suatu hari nanti hal ini bukan tak mungkin kita wujudkan. Para ahli dari berbagai bidang duduk bersama dalam satu meja, satu sama lain saling melengkapi tanpa sekat-sekat senioritas dan fanatisme profesi.

Berbagai rekaman proses anestesi dan biopsy ditunjukkan oleh Tim pada kami. Giliran kami yang memaparkan ide-ide padanya, pandangan kami sebagai insinyur. Aku menunjukkan sebuah grafik yang kukerjakan dalam sebulan terakhir ini. Di sini aku belajar berbicara bagaimana menerjemahkannya bahasa teknik ke dalam bahasa yang bisa dimengerti oleh dokter, tak mudah memang, tapi tetap kucoba. Aku harus mengulang sampai 3 kali hingga Tim mengerti, dia mengangguk-angguk senang, dan sekali lagi dia berkata "Ich bin Arzt". Stefi nampak tak begitu kuat melihat rekaman "berdarah-darah" yang ditunjukkan Tim, aku malah menunjuk-nunjuk senang, kami bertiga pun lalu tertawa riang.

Tak terasa 1,5 jam berlalu begitu cepat. Tim mengoleh-olehi kami satu kardus berisi jarum suntik dan kateter dari berbagai ukuran untuk kami pakai dalam eksperimen nanti. Dia berseloroh, "Apa lagi yang bisa saya bantu dan sediakan? Jangan segan-segan memberitahu, asalkan bukan masalah fisika dan teknik", ujarnya sambil tertawa senang. Supervisorku ternyata benar, Tim adalah seorang dokter yang ramah dan antusias. Dia senang bisa berbagi dan mengutarakan masalah-masalah teknik yang dihadapinya pada kami. Tiba-tiba telepon Tim berdering lagi, kali ini benar-benar emergency. Tim harus segera berada di ruang operasi. Dia mengantar kami menuju lift sambil berlari sedikit tergesa, lalu dia berjanji akan mengatur jadwal pertemuan berikutnya.


Aku dan Stefi kembali menuju kampus sambil mendiskusikan rencana-rencana selanjutnya. Kami diliputi rasa senang karena keramahan dan ilmu-ilmu baru yang kami peroleh dari Tim. Di perempatan lampu merah menuju kampus, Stefi tiba-tiba menunjuk sebuah rumah tua. "Hesty, kau harus melihat rumah ini nanti beberapa bulan lagi". Aku bingung, apakah gerangan yang istimewa dari rumah ini. Stefi bercerita bahwa saat musim bunga tiba beberapa bulan lagi, rumah ini akan berubah menjadi istana kecil seperti dalam dongeng, berhias bunga warna-warni pada taman dan dinding-dindingnya. Aku mengangguk-angguk diliputi rasa penasaran. Namun rasa penasaranku ini tak mampu mengalahkan rasa penasaranku yang lain pada sekardus jarum suntik yang akan menemani kami hingga berbulan-bulan ke depan nanti, semoga mereka pun tak kalah "berbunga" dibandingkan rumah mungil ini.

Bochum, 11 Februari 2014.

Monday, January 13, 2014

Waktu Mengulur, Bersayap-sayap

Tengah hari
Kabut menari
Jelaga yang itu-itu saja
Mengeja nama-nama

Sore menggema
Memanggil aku
Di gerbang lorong gelap
Tak berpintu

Malam merangkak
Panjang
Diam
Kelam

Pagi 
Masih sepi
Digenggam sunyi
Kureguk setengah cangkir
Kopi sisa kemarin, pahit

[Bochum, 13 Januari 2014]

Katwijk, Belanda, Musim semi 2013

Wednesday, January 01, 2014

Winter Journey 2013

Catatan perjalanan di musim dingin, 20-31 Desember 2013

Rel-rel baja berdecit-decit digilas roda kereta, ratusan kilometer memanjang berliku-liku seperti tak putus-putus. Kabut pagi menyelimuti punggung-punggung bukit yang telah ditinggalkan daunnya. Alam membisu tatkala rona jingga perlahan merekah, memecah kebisuan pagi, menandai awal hari. Aku ingin menemuimu dalam setiap perjalanan, seperti janji kita dulu. Maka, tunggulah keretaku menyeruak senja di bibir telaga, ujung barat daya.
~Journal Footage Day 0, Bochum, Refleksi Awal Perjalanan~

Jumat telah purna bersama purnama yang perlahan luruh. Sabtu belum sepenuhnya utuh. Stasiun masih sepi ketika seekor merpati mengais remah-remah roti, masih terlalu pagi.
~Journal Footage Day 1, Koblenz, (Belum) Separuh Perjalanan~

Kereta berkelok-kelok menembus fajar, menyibak gelap yang membuntutiku sedari tadi. Namun, rona jingga cakrawala serta merta direnggut kabut yang mengawang rendah. Matahari menelusup sebilah demi sebilah, luntur di bibir bukit sebelah tenggara. Benteng-benteng kokoh menyembul-nyembul di puncak-puncak bukit cemara. Ladang anggur telah gugur, tertidur. Lalu, perlahan riak-riak telaga dipermainkan biduk. Camar-camar terbang labuh, menutup sore nan lusuh.
~Journal Footage Day 1.5, Bodensee, Konstanz, Kabut Hutan Cemara~

Pagi masih teramat muda, halimun menguap di permukaan telaga. Punggung-punggung Pegunungan Alpen berbaris-baris diselimuti salju, kokoh, dingin, kelabu. Di sini, musim dingin memang jarang menipu dan kereta kami pun terus melaju.
~Journal Footage Day 2, Konstanz-Lindau-Füssen, Menyusuri Telaga Para Raja~

Tumpukan salju membisu, menyambut kaki-kaki para pejalan dari negeri-negeri jauh. Bangunan klasik masih berdiri kokoh hampir di setiap sudut kota. Tebing-tebing karang berkelok-kelok dibelah biru zamrud Sungai Lech nan jernih. Di sini, waktu bagai berhenti dan mampu diputar kembali, zaman seperti enggan berganti.
~Journal Footage Day 2.5, Füssen, Persinggahan Kedua~

Masih terang tanah selepas subuh, bus membawa kami melintasi padang-padang bersalju. Bukit-bukit batu nan kokoh tersiram matahari yang perlahan muncul dari celah-celah pepohonan. Dari kejauhan samar-samar kastil-kastil nan cantik menampakkan kemegahannya. Di sini, dulu sekali, raja-raja Bavaria pernah berkuasa. Mereka membangun istana-istana di atas bukit, jurang-jurang terjal menganga di penjuru sisinya. Di balik tembok-tembok benteng nan angkuh, aku masih tak paham, apa sesungguhnya yang mereka cari.
~Journal Footage Day 3, Hohenschwangau (Schloßer), Menyusuri Istana di Bibir Tebing~

Bavaria menyimpan sejarah panjang kekuasaan raja-raja. Kini, salah satu kotanya telah bertransformasi menjadi metropolitan yang menjadi jantung ekonomi wilayah Jerman bagian selatan dan sekitarnya. Petualangan bagian pertama musim dingin ini berakhir di München, metropolitan klasik yang denyutnya terus berdetak hingga hari ini, seiring zaman berganti. Matahari perlahan terbenam mencumbu bibir cakrawala saat kaki-kaki kami menyusuri tepian Sungai Isar. Dan akhirnya aku tahu bahwa dalam setiap perjalanan, akan selalu ada kenangan baru, seperti kenangan masa kecilku tentang mimpi hari ini.
~Journal Footage Day 4, München, Very Busy Munich~

Dalam perjalanan, aku bertemu banyak orang, banyak kejadian, pun kenangan bersama sahabat-sahabat seperjalanan. Dalam deru kereta, bus dan langkah kakiku, aku pun menemukan diriku. Seiring hari berganti, senja kian menua, lalu entah berapa lagi usia yang tersisa.
~Journal Footage Day 5, München-Augsburg-Stuttgart-Karlsruhe-Mannheim-Köln-Duisburg, Menuju Kampung Halaman, Tepian Ruhr-Rhein~

I won't stay forever, but I'll always call it home, because home is where the heart is. 
~Journal Footage Day 1 part 2, Nijmegen, Second Home~

Sejauh mata memandang hanya laut biru. Wahai angin, penuhilah paru-paruku. Ingin kuhabiskan waktuku terombang-ambing di atas perahu. Wahai Nahkoda, antarkan aku berlayar ke laut biru.
~Journal Footage Day 2 part 2, Volendam, Sepucuk Sore di kampung Nelayan~

Matahari baru tergelincir lepas tengah hari. Antrian panjang tak putus-putus jauh hingga ke luar pagar. Sepeda lalu lalang melewati gerbang Rijksmuseum. Ibu kota tua ini gagah sekaligus cantik, pesonanya seperti tak pernah hilang. Maka pada suatu hari nanti, tunggulah Kawan, aku akan kembali.
~Journal Footage Day 3 part 2, Amsterdam, Riuh Museum di Ibu Kota~

"Berjalanlah, maka engkau akan menemukan dirimu sendiri." Perjalanan sebelas hari ini telah mengajarkanku akan banyak hal. Aku menumpang tidur di stasiun yang dingin, di kereta yang ramai, di bus yang sempit, di Islamic Center yang hangat, atau hostel murah meriah dengan pelayan yang ramah. Aku juga menginap di rumah para sahabat. Lalu aku makan apa saja dan di mana saja selama masih halal, sekedar untuk mengusir rasa lapar. Dalam segala keterbatasan waktu, tempat, tenaga dan kelapangan, sesungguhnya aku telah belajar untuk menaklukkan diriku sendiri. Karena hidup adalah perjalanan yang sesungguhnya, maka langkahku masih belum berhenti. Mimpiku masih kugantungkan tinggi-tinggi, tanganku masih menggapai-gapai, kakiku masih melompat dan terus berlari. Semoga sisa usia ini kiranya bermanfaat dan tak sia-sia. Ketika tiba waktunya nanti, aku pun akan bepergian lagi, sendiri, seperti dulu sekali ketika pertama kali Ibu mengantarkanku ke dunia ini.
~11 Days Winter Journey 2013, Nothing to Declare: Home~

Thursday, December 12, 2013

Reuni Kecil di Awal Musim Dingin, Akhir Tahun Ini

Dia seperti melayang tertiup angin yang datang tiba-tiba, hanya sekedipan mata. Kau jangkau-jangkau pun percuma, dia tak akan pernah kembali lagi. Pertemuanmu memang tak lama, itu lah waktu, Kawan. Bulan Desember adalah bulan dengan hari-hari terpendek dalam setahun di belahan bumi sebelah utara. Pagi rasanya tak tegak-tegak, tahu-tahu seperti disambar elang, matahari begitu lekasnya pulang.  Dan aku masih di sini, melalui hari demi hari, mengamati musim-musim berganti. Bulan-bulan terakhir tahun ini ditandai beberapa peristiwa penting dalam hidupku, tak terkecuali sore itu.

Suasana Hörsaal HID tak seperti biasanya, bukan ramai suara mahasiswa. Ruangan dengan langit-langit tinggi menjulang itu, dirancang dengan apik. Kiranya memenuhi kriteria-kriteria bagaimana seharusnya sebuah ruangan kuliah dibangun, pas secara akustik, termal, dan pencahayaan. Kesimpulannya memang nyaman dan tepat guna. Baris-baris bangkunya kokoh dari kayu berwarna coklat muda, disusun dalam deret-deret bertangga, persis seperti ruangan-ruangan kuliah antik di kampus ITB. Aku jadi ingat dosen-dosenku dulu, walaupun aku tak melanjutkan bidang keahlian fisika bangunan, namun pengetahuan tentang hal itu akan senantiasa bermanfaat bagiku di kemudian hari. 

Sore itu, para Profesor, dosen, pejabat Fakultas dan tamu undangan satu per satu memenuhi ruangan. Banyak wajah yang tak kukenal, sorot-sorot mata mereka teduh sekaligus tajam, pasti bukan orang-orang "sembarangan". Lalu, Supervisorku maju ke depan ruangan, memimpin acara dan memperkenalkan beberapa tamu undangan yang hadir. Acara dibuka dengan adat khas orang Eropa, musik klasik. Tiga orang musisi, "Ensemble Bellamira" sudah siap di depan ruangan. Dalam khayalanku, mereka seperti anak beranak, terdiri dari seorang ibu yang piawai memainkan piano, seorang anak bujangnya terampil menggesek cello, dan anak gadisnya yang tak kalah gesit jari-jarinya memainkan seruling kayu.

Semua hadirin sudah duduk dengan rapi di deretan bangku-bangku kuliah tadi, hening. Lalu alunan lembut seruling kayu merambat lamat-lamat, memenuhi seisi ruangan, berkejar-kejaran dengan denting-denting piano dan gesekan cello. Iramanya harmonis, dalam ketukan-ketukan cepat dan lambat berganti-ganti. Layar display di dinding bagian depan ruangan menampilkan judul lagu yang mereka bawakan. Di sana tertulis Sonata op.1 Nr. 2, Fransesco Barsanti (1690–1770). Mataku lekat mengamati tangan-tangan "sakti" di depan sana, siapa mereka yang dengan piawainya menjaga warisan nenek moyang mereka, musisi antah berantah yang hidup berabad-abad sebelumnya. Musik klasik pertama diakhiri tepuk tangan panjang dari seluruh hadirin. Tiga anak beranak tadi mengangguk-angguk membungkukkan badan sambil tersenyum mengembang.

Giliran pembicara pertama yang maju ke depan. Setelah sepatah dua patah sambutan, dia melanjutkan presentasinya dengan serangkaian slide. Baru slide pertama, sebagian wajah kami sudah sedikit "gelisah". Topik yang dia bicarakan begitu kental berbau kedokteran, sedangkan sebagian besar hadirin adalah orang-orang teknik. Fakultas kami pun dengan terang dinamakan "Fakultät für Elektrotechnik und Informationstechnik". Tapi, tunggu dulu, Kawan. Bapak setengah baya ini salah satu orang terpenting dalam perhelatan di sore yang dingin ini. Dia seorang Profesor dari RWTH Aachen, ahli pencitraan molekuler. Pak dokter ini kutaksir umurnya baru 40an awal, namun kecerdasannya berhasil menyihir hampir seluruh ruangan. Kuperhatikan beberapa wajah Profesor sepuh tampak mengangguk takzim, seperti hendak bertanya, tersenyum, lalu sesekali mengetuk-ngetukkan jarinya pelan-pelan ke meja, seperti sedang berpikir dengan seksama, sekaligus menikmati sajian dari seorang "anak muda" di depan mereka ini. Tak tampak lagi wajah gelisah seperti pada awal presentasi tadi. Presentasi hampir satu jam ini disajikan sebagai pembuka wawasan kedokteran yang telah "dikawinkan" dengan ilmu teknik, khususnya untuk aplikasi pencitraan molekuler. Tepuk tangan panjang menyudahi slide terakhir berisi foto sang dokter, supervisorku dan bintang tamu yang sesungguhnya paling kami tunggu, dalam sebuah konferensi di Dublin tahun lalu. 

Kelompok "Ensemble Bellamira" menunaikan tugas keduanya. Kali ini aku tak terlalu memperhatikan lagi judul lagu yang mereka bawakan. Pendeknya, mata hadirin kian tersihir oleh penampilan piawai mereka. Tak kurang dari 4 lagu karya musisi-musisi klasik abad ke 15 dan 16 mereka bawakan hingga akhir acara. Berganti-ganti dengan penampilan dua ilmuwan hebat yang berkicau-kicau menikmati helai-helai presentasi berisi penemuan yang menjadi salah satu pencapaian dalam hidup dan karir mereka. 

Siapakah gerangan bintang tamu yang paling kami tunggu sore itu? Dia lah Moni, sahabat kami yang cerdas dan baik hati. Walaupun sudah menjadi Doktor sejak musim semi tahun lalu, tak tampak ada yang berubah dari pribadi yang bersahaja ini. Beberapa jam sebelum acara, dia khusus datang ke kantor kami, rekan-rekan lamanya. Hari ini seperti sebuah reuni kecil untuk kami. Moni mengetuk pintuku saat aku sedang makan siang. Dia memelukku seperti pertama kali kami bertemu 2 tahun yang lalu, ketika dia menjemputku di bandara Düsseldorf, kali pertama kakiku menginjak tanah Eropa. Senyumnya tak berubah, pun gaya bicaranya yang terkesan begitu akrab. "Bagaimana, Hesty? Sudah benar-benar jadi orang Jerman kah, kau sekarang?" begitu sapaan pertamanya padaku, mungkin lantaran dia melihat aku makan roti, bukan nasi. Aku mengucapkan selamat padanya atas sebuah pencapaian hebat untuk ilmuwan muda sepertinya, dan aku pun turut merasa bangga sebagai kawannya. Tahun ini, Moni memperoleh penghargaan bergengsi dari sebuah asosiasi ahli dan teknologi atas hasil penelitian disertasinya dulu yang dianggap luar biasa, berjudul: "Pencitraan Ultrasonik Molekuler Kuantitatif".

Moni maju ke depan, menyajikan hasil penelitiannya yang rupanya masih dilanjutkannya hingga sekarang bersama Profesor muda dari Aachen tadi. Deja vu aku memandang baris-baris tulisan yang disajikan Moni, presentasi yang sama yang kami nikmati setahun yang lalu ketika ujian sidang doktoralnya. Kontras dengan presentasi pertama, slide-slide Moni lebih didominasi oleh benda-benda yang lebih akrab kami lihat sehari-hari, rumus dan angka serta animasi gambar 3 dimensi. Di bagian akhir baru berbau kedokteran sebagai bagian dari tahap aplikasi dunia teknik di bidang kedokteran. Presentasi hampir setengah jam itu, ditutup dengan tepuk tangan yang lebih meriah. Perwakilan asosiasi pemberi penghargaan maju ke depan bersama Supervisorku, menyerahkan piagam dan seikat bunga untuk Moni. Kulihat ayah Moni sedikit terharu, wajahnya seperti hendak menangis. Matanya lekat memperhatikan anak kesayangannya itu, satu dua blitz kameranya mengabadikan salah satu momen bahagianya tahun ini.

Sore itu, aku menyaksikan bagaimana berbagai kecerdasan dipadu-padankan dalam satu kesempatan. Ketika ilmu-ilmu eksakta menari-nari dalam kepala kami, serta merta pula alunan musik klasik dari abad-abad yang telah lalu membelai lembut telinga kami. Aku menutup sore itu dengan satu tekad dan mimpi. Suatu hari aku ingin seperti Moni, yang mendedikasikan ilmunya untuk kebaikan dan kemanfaatan banyak orang. Kakiku sudah jauh melangkah, tak elok rasanya jika aku mengkhianati semua kesempatan ini. Maka, di sini aku masih berdiri di atas kedua kaki, mari berlari lagi, lebih kencang lagi!

Bochum, 12 Desember 2013

Saturday, December 07, 2013

Mengunjungi Tanah Air, Sebentar Saja

Sejak tadi malam, aku hanya tidur barang sebentar. Sudah lama aku tak menonton film Indonesia. Dari browsing singkat beberapa sinopsis, setidaknya 3 film sudah kutonton hingga siang tadi. Dari tema-tema yang beragam, ada satu benang merah yang bisa ditarik dari film-film tersebut. Persepsi tentang dunia luar, Eropa khususnya, digambarkan agak aneh menurutku. Ataukah aku yang memang lugu?

Eropa digambarkan sebagai budaya unggul yang terlalu diagung-agungkan. Tempat segala tujuan dunia ditambatkan serta cita-cita yang tak jelas motivasinya. Gaya hidup ke-Eropa-Eropa-an diadopsi mentah-mentah sebagai patokan kemapanan dan modernitas yang kebablasan. Padahal, orang Eropa sendiri tak sebegitunya. Bagi orang dewasa yang sudah matang pola pikirnya, mungkin film-film ini hanya akan sedikit membuat tersenyum, dan menganggapnya sebagai hiburan saja. Namun coba bayangkan bagaimana pengaruhnya bagi anak-anak, remaja, dan usia-usia pra-dewasa. Masa-masa di mana manusia sedang giat-giatnya mencari jati diri.

Aku jadi ingat sebait kalimat dalam Roman Sejarah "Anak Semua Bangsa", Pram pernah menulis: "Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan. Di mana pun ada yang mulia dan jahat....Kau sudah lupa kiranya, Nak, yang kolonial selalu iblis. Tak ada yang kolonial pernah mengindahkan kepentingan bangsamu." Sekian dekade sudah berlalu, zaman sudah berganti. Setting masa kolonial dalam cerita Pram ini sudah bertransformasi menjadi bentuk lain. Namun relevansinya, menurutku, masih mengena hingga saat ini. 

Hamburg, pada suatu malam di Bulan September

Diam-diam aku sangat bersyukur dibesarkan orang tuaku di lingkungan "udik", di kampung. Tempat segala kesederhanaan, mimpi dan cita-cita kami pupuk sejak belia. Aku bangga di masa kecilku aku tak terlalu mengenal segala macam hiburan elektronik, internet dan sebangsanya. Alam yang mengasuh kami. Masa kecil akan membentuk bagaimana seseorang ketika dewasanya. Masa kecilku di Pulau Belitong, bagiku adalah masa kecil yang paling indah yang akan aku kenang seumur hidupku. Di dalam Novel "Edensor", Pak Cik Ikal pernah menulis: "Kemanapun tempat telah kutempuh, apapun yang telah kucapai, dan dengan siapapun aku berhubungan, aku tetaplah lelaki udik, tak dapat kubasuh-basuh."

Bochum, 7 Desember 2013

Wednesday, December 04, 2013

Jarum Anestesi dan Kasih Sayang Ibu

Kapan terakhir kali engkau bertemu Ibumu, Kawan? Kalau aku baru malam tadi. Beliau tak banyak bicara, hanya tersenyum memperhatikan gerak-gerikku. Demikianlah, sudah 2 tahun berlalu, aku hanya bertemu beliau lewat mimpi atau sayup-sayup suaranya terdengar di ujung saluran internet ketika Ayahku menelpon. Beliau jarang menelponku secara langsung, pun begitu saat aku masih di Bandung dulu. Tak terasa, sudah lebih dari 10 tahun aku meninggalkan rumah. Tak ada yang berubah, aku dan Ibu punya definisi sendiri tentang cinta dan rindu, tak ada orang lain tahu.

Sepanjang hari ini, aku mencorat-coret kertas, menyiapkan rancangan yang besok akan kubawa ke bengkel workshop. Jarum-jarum anestesi berserakan di atas mejaku, dingin dan tak peduli. Tiap centimeternya akan menembus kulit dan daging, mengalirkan "obat bius" ke tubuh-tubuh yang menahan sakit. Berlembar-lembar literatur tentang anestesi yang kubaca sampai hari ini tak lebih dari helaian kertas bisu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana dulu Ibu berjuang melawan rasa sakit demi melahirkanku. Maka, Kawan, doakanlah selalu Ibumu.

Bochum, 4 Desember 2013


Monday, December 02, 2013

Tanjong Pendam

Surut jauh sampai tepian
Mentari luntur indah kilauan
Belaian mayang elok lambaian 
Rinduku hanyut dalam buaian

Pantai Tanjong Pendam, Tanjongpandan, Belitong 
29 Desember 2010

Sepenggal Cerita di Kantor Imigrasi

Pagi masih muda, musim panas mulai beranjak perlahan-lahan, angin pagi nan sejuk menyentuh kulitku dengan ramah. Hari ini, kali kedua aku harus ke Ausländerbüro, kantor imigrasi, untuk mengurus perpanjangan visa. Semua diurus serba rapi dan teratur, bahkan aku sudah mendapatkan nomor antrian sejak minggu kemarin, tepat pukul 10 pagi aku harus menyerahkan semua dokumen yang diperlukan. 

Orang Jerman tak banyak basa basi, jangan terlalu berharap bahwa engkau akan bertemu orang-orang dengan wajah tersenyum ramah di jalan-jalan, langka. Tapi pagi ini, aku punya pengalaman unik. Pegawai Ausländerbüro terkenal lebih tak banyak berbasa-basi, bahkan cenderung 'dingin' dan sangat irit bicara, apalagi dalam bahasa Inggris. 

Aku berusaha mengikuti prosedur dan berbicara sedapat mungkin dalam bahasa Jerman, lalu voíla, wanita muda yang mengurus dokumenku hari ini tiba-tiba ramah dan menimpali semua pembicaraanku dalam bahasa Inggris. Pelajaran moralnya: orang akan senang jika kita berusaha berbicara dalam bahasa ibu di tanah air mereka. Ramah itu tak mengenal bangsa, Kawan.

Bochum, 13 Agustus 2013

Menjalani Mimpi-Mimpi

Aku masih memimpikan banyak hal, tentang dunia penelitian yang bersinergi satu sama lain. Dunia penelitian yang kuhadapi saat ini begitu ideal untuk ukuran orang Indonesia. Betapa tidak, peneliti-peneliti di bidang kedokteran senantiasa bahu membahu bersinergi dengan kami peneliti-peneliti di bidang Engineering. Hal yang masih sulit kita temui di tanah air kita tercinta. Namun, bukan hal yang mustahil, bukan?

Ingatanku melayang-layang jauh ke belakang. Pada suatu siang yang panas, lebih dari 10 tahun yang lalu, aku yang terkantuk-kantuk karena mulai bosan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, tiba-tiba ditunjuk ke depan kelas untuk menceritakan mimpi dan cita-cita di masa yang akan datang. Lalu dengan spontan aku menceritakan mimpi-mimpi yang ada dalam kepalaku saat itu. 

Dari sederet mimpi itu, aku uraikan bahwa suatu hari nanti, aku ingin meneliti di suatu lembaga penelitian atau universitas di negara maju, entah di mana, pokoknya ingin saja. Saat itu kukatakan alasannya, sederhana saja, aku hanya ingin tahu apa yang orang-orang lakukan di luar sana, singkatnya aku ingin melihat dunia.

Lalu, sekarang aku menjalani mimpi itu sedikit demi sedikit. Masih berkelut tak habis-habis dengan perjuangan yang juga tak mudah. Namun, sedikit pun aku tak pernah menyesal telah memilih jalan ini. Lalu, alasan sederhana belasan tahun yang lalu itu, kini bertambah dengan kesadaran-kesadaran lain, kesadaran akan manfaat dan tujuan hidup di dunia ini. Suatu saat aku yakin, insyaAllah apa yang aku pelajari hingga saat ini ada manfaatnya. Syukur-syukur bisa dirasakan kontribusi nyatanya dalam aplikasi klinis, suatu hari nanti. Agar lebih banyak lagi dokter yang bisa membantu para pasiennya.

Beberapa bulan terakhir ini, aku dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa. Aku diberikan kesempatan oleh Allah untuk mengenal lebih dekat apa-apa yang dilakukan para dokter di rumah sakit, masalah-masalah apa yang sering dihadapi pasien, lalu mendiskusikannya dengan Profesor pembimbingku, yang notabene adalah seorang "insinyur". Dua tahun belakangan ini, beliau sudah seperti pamanku sendiri, yang masih sabar dan tak lelah menjadi pendengar dan kawan diskusiku hampir setiap minggu.

Suatu hari nanti akan kuceritakan, Kawan, apa yang aku geluti saat ini, dalam dunia "Medizintechnik/ Medical Engineering", sebuah nama yang dulu sangat asing di telingaku. Lalu kuputuskan untuk berakrab-akrab dengannya sejak 5 tahun belakangan ini. 

Oiya, jika suatu hari nanti, kau juga diberikan kesempatan untuk sekolah lagi dan melihat dunia, ambillah cepat-cepat kesempatan itu, Kawan. Niscaya, engkau tak akan menyesal. Sekian banyak tantangan, kesulitan, dan halangan akan menempa jiwamu sekeras baja, agar tak cengeng menghadapi dunia yang kian sombong ini. 

Ada hal lain yang tak kalah menarik, aku dan beberapa orang kawanku yang juga mengalami nasib serupa, "terdampar" di negeri antah berantah, jauh dari bangsanya ini, diam-diam menemukan bakat-bakat tersembunyi, yang kadang kala sulit kita temukan dengan sengaja. Mungkin aku menyebutnya sekedar hobi saja, tak percaya diri jika aku menyebutnya sebagai bakat terpendam.

Lalu pada akhirnya, Kau pun akan pula berpikir, betapa lemahnya diri ini, betapa hanya sedikit ilmu yang kita ketahui, dan betapa Maha Hebat-nya Allah, Yang Menciptakan dunia beserta segala isinya dengan sangat sempurna.

Bochum, 2 Desember 2013
Catatan ini kutulis untuk guru-guruku yang sangat hebat yang tak bisa kusebutkan satu per satu, terutama Bu Nuraini dan alm. Pak Asnawi, serta pasien-pasien di luar sana yang sedang berjuang melawan penyakitnya. Tetap semangat!

Wednesday, November 27, 2013

Pagiku pagi ini

Rembulan luntur di sela kabut
Tengadahku menerobos pokok-pokok meranggas
Remah-remah daun dilahap hujan
Gemericik berbisik lamat-lamat disamarkan angin
Aku, terpaku dibekukan pagi, perlahan-lahan

Bochum, 27 November 2013

Friday, November 08, 2013

Nijmegen, ke tujuh kalinya

Kalaulah ada gubahan lagu tentang kenangan akan sebuah kota, tentu banyak orang yang akan mengingat Yogyakarta. Aku pun menyimpan kenangan manis tentang persahabatanku di sana. Lalu, siapa gerangan penyair yang sudi kiranya menggubah lagu serupa untuk kota Nijmegen? Kota kecil nan cantik di tepi Sungai Rijn, yang riak-riaknya mengalir syahdu, mengirimkan limpahan berkah tak putus-putus dari negeri tetangga, Jerman dan Swiss. Nimwegen, begitu lafal Jerman menyebutnya, kota yang akan aku kenang seumur hidupku, tempat salah seorang sahabatku berjuang dalam 3 tahun terakhir ini. 

Di masa depan, aku akan mengingat setiap sudutnya yang akan menyimpan dengan indah helai-helai kenangan persahabatan kami di negeri orang. Kerlip selasar stasiun, jari-jari sepeda yang kami kendarai mengelilingi sudut kota, derum bus Breng bercorak merah muda, serta merdu lidah Belanda ketika melafalkan "Nai-me-hen". Gelung-gelung logam abstrak di pusat kota, pernah aku bergelantungan di sana pada suatu siang nan cerah di musim semi, lalu kuingat wajah ramah oma-oma Belanda. Demikianlah serpih-serpih kenangan yang akan kususun mozaiknya nanti pada suatu masa ketika kami tak lagi muda. Seperti kerlip lampu yang menari dalam temaram senja, senyum kota Nijmegen seperti tak akan sirna.

Stasiun Nijmegen Centraal menjelang senja, musim gugur 8 Oktober 2013.

Wednesday, October 16, 2013

Balada Gerbong Kereta

Catatan Perjalanan di akhir musim panas, September 2013

Musim panas baru saja berlalu, namun hangatnya masih meninggalkan bekas dalam ingatan. Hari-hari kelabu tak bermatahari, semilir angin dingin merenggut daun-daun yang tak kuasa lagi berpegang erat pada rantingnya. Ada perasaan sedih terselip dalam hati ini, perasaan seperti ditinggalkan orang terkasih, yang menyelinap diam-diam tanpa peringatan.

Aku gemar sekali menghabiskan waktu luangku memperhatikan lalu lalang manusia dan hiruk pikuknya di dalam gerbong kereta. Sore ini, seperti hari-hari yang telah lalu dalam dua tahun terakhir ini, sesekali kuluangkan akhir pekanku untuk mengunjungi sahabatku Mira di kota Nijmegen, Belanda. Sebuah kota kecil nan cantik di hilir Sungai Rhein, yang berubah namanya menjadi Rijn dalam lafal Belanda. Dua setengah jam perjalanan kereta melintasi perbatasan Jerman-Belanda di Kota Kaldenkirchen-Venlo ini selalu menyisakan kesan yang senantiasa menyemai kenangan.  

Biasanya aku memulai perjalanan pada sore hari dan sampai di stasiun Nijmegen Centraal menjelang magrib. Aku menumpang kereta pertama menuju Viersen, kereta regional tujuan Mönchengladbach. Kereta ini hanya 1 tingkat, tak seperti jenis kereta regional lainnya yang biasanya bertingkat 2. Perjalanan tak sampai 1 jam ini biasanya kuhabiskan dengan membaca buku, sambil sesekali memperhatikan orang-orang yang lalu lalang dan asyik dengan kesibukannya masing-masing.

Hampir selalu aku bertemu orang-orang yang membawa serta anjing peliharaannya, anjing-anjing yang sudah terbiasa diajak dalam perjalanan antar kota, sehingga jarang sekali menyalak atau mengganggu penumpang lain. Sore ini, seorang nenek menggendong seekor anjing mungil nan lucu, yang sejak tadi hanya memperhatikan saja lalu lalang orang di sekitarnya, damai dia dalam gendongan sang nenek. Lalu tak jauh dari bangku mereka, duduk seorang Bapak yang sejak tadi membolak-balik halaman surat kabar, mimik mukanya agak serius, tak tertarik dia pada keadaan di sekelilingnya.

Salah satu alasanku membaca buku dalam perjalanan adalah kegemaranku menghubung-hubungkan peristiwa-peristiwa dalam buku pada kenyataan yang sedang kualami dalam setiap perjalanan. Selalu saja jalinan cerita dalam buku yang kubaca saling terhubung dengan khayalan dan memori dalam tempurung kepalaku yang tak lebih besar dari bola cricket ini. Lalu frame-frame pemandangan dari jendela kereta melesap berganti-ganti seperti rangkaian cerita dalam film-film.

Selalu ada suasana berbeda di setiap musim. Beberapa bulan lalu di musim semi, ladang gandum masih menghijau, ladang raps menguning sempurna, lalu beberapa hamparan lainnya ditanami sayur-sayuran. Di akhir musim panas ini, gandum telah selesai dipanen, gulungan jerami dibiarkan terserak di ladang-ladang. Beberapa ladang sudah ditanami jagung yang tak lama lagi akan dipanen di musim gugur. Ketika kereta berjalan agak melambat, pelan-pelan aku bisa melihat pucuk-pucuk pepohonan yang berbaris rapi di kejauhan, rupanya pohon-pohon cemara yang sengaja dibudidayakan untuk hiasan di hari Natal.

Ladang-ladang ini sungguh luas seperti tak bertepi, sampai batas cakrawala yang kulihat hanya hamparan hijau tanam-tanaman. Batas-batasnya adalah deretan pepohonan yang berjajar rapi atau jalan-jalan desa yang hanya sesekali dilalui kendaraan. Rumah-rumah petani dengan kebun kecil berbunga sesekali menyembul di balik pepohonan, menyelinap berganti-ganti dengan pemandangan orang bersepeda atau mesin-mesin pertanian yang teronggok bisu tak bertuan. Tak lama lagi, pohon-pohon ini akan menguning, memerah, lalu berguguran daunnya tertiup angin, menyisakan ranggas yang harus tegar menantang beku. Ladang-ladang ini pun akan tidur panjang berselimut salju, putih menyilaukan mata.


Lalu aku akan melintasi perbatasan dengan kereta kedua, Eurobahn, kereta kuning yang akan mengantarkanku sampai ke Kota Venlo. Biasanya aku hanya berdiri saja dalam kereta ini, karena perjalanannya tak lebih dari setengah jam. Desa-desa yang kulewati semakin sulit aku mendefinisikannya, masih Jerman atau sudah Belanda, biasanya aku bisa menandainya jika sinyal telepon genggamku sudah berubah menjadi NL-KPN, sebuah nama operator komunikasi asal Belanda. Tanda lain adalah semakin banyaknya kulihat orang bersepeda. Di dalam kereta ini, biasanya lebih banyak kutemui orang-orang yang berbicara dalam bahasa Belanda, mimik wajah mereka lebih ramah, lebih terkesan santai dan tidak sekaku orang Jerman. Dari tadi sekelompok anak usia belasan tahun tak berhenti bercerita, mereka sepertinya sedang merencanakan liburan akhir pekan bersama-sama, ah aku hanya menebak-nebak saja karena aku tak begitu paham bahasa Belanda.

Oh iya, buku yang kubaca sore ini adalah "Teman Merawat Percakapan", sebuah catatan jejak perjalanan berkarya Pak Koskow dalam dunia seni grafis. Beliau adalah dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta, seorang guru sekaligus sahabat dari sahabatku Ponda. Cerita-cerita Pak koskow tentang masa kecilnya, tentang reuni bersama kawan-kawan SD-nya sampai pengalaman-pengalamannya berkarya dari waktu ke waktu telah memenuhi otakku akan kenangan-kenangan pada tanah air tercinta. Seseorang pernah mengatakan padaku, cerita yang luar biasa itu bukan tentang pencapaian yang tiada terkira, namun justru tentang keseharian yang senantiasa menorehkan makna untuk kemudian dikenang pada masa yang akan datang. Itulah cerita yang dimiliki semua orang, yakni cerita tentang masa kecil yang tak terlupakan, cerita tentang perjuangan menemukan makna kehidupan, cerita tentang persahabatan atau cinta yang tak lekang dimakan waktu. Cerita-cerita yang sama sesungguhnya akan selalu kita temukan kapan saja dan tak peduli di mana, bahkan di sudut-sudut kereta di negeri jauh ini. Dia melintasi batas negara dan budaya, bahkan mimik wajah bisa menceritakan seribu kisah yang boleh jadi hanya tak mampu saja terekspresikan lewat kata-kata.

Kereta berhenti lambat-lambat di ujung stasiun Venlo. Aku turun dengan sedikit tergesa demi mengejar kereta selanjutnya, kereta senja Veolia. Hiasan bunga-bunga plastik di tiang-tiang stasiun tak kuhiraukan, bunga-bunga yang tetap cantik di segala musim, tak peduli musim apa dan tak peduli pula dengan lalu lalang orang-orang di sekitarnya. Kereta Belanda ini berwarna merah putih dan di beberapa dinding luarnya terlukis wajah-wajah tokoh yang tak kukenal, entah siapa. Perjalanan dari Venlo menuju Nijmegen kurang lebih 1 jam, dan perjalanan terakhir ini yang sesungguhnya paling kutunggu-tunggu, saat lembar-lembar terakhir buku yang kubaca mencapai kesimpulannya, lalu segenap cerita mencapai titik baliknya, berkejaran dengan matahari yang pelan-pelan menunduk ingin mencumbu cakrawala. Awan kelabu sedikit tersibak membiarkan berkas-berkas sinar dari langit mengintip malu-malu pada sapi-sapi gemuk yang digiring petani pulang ke kandang. Kemudian perlahan ladang-ladang petani berganti oleh deretan rumah penduduk, lalu tak lama kemudian Sungai Rijn dengan cantiknya memantulkan kilau matahari senja. Sebuah sore yang sempurna, sesempurna ingatanku akan kenangan pada orang-orang tercinta. Lalu sebaris kata-kata dari Buku "Teman Merawat Percakapan" terngiang-ngiang dibisikkan angin senja: "Aku mengingatmu dengan cara yang sederhana, menyimpanmu di tempat yang teristimewa."

Bochum, 16 Oktober 2013
[Tamat]
[Sambungan dari: Balada Stasiun Kereta:
http://maktjik.blogspot.de/2012/12/balada-stasiun-kereta.html]

Monday, August 12, 2013

Bait-bait Ramadhan

Oleh: Ian Sancin

Hari Pertama Ramadhan. Nafsu terindah bersama Tuhan. 
Bangunlah sahur... katamu, agar dingin pagi hinggap di kulit lembut yang kelak bakal rapuh dihisap bumi. Sementara lidah merasakan nikmatnya sebelum fajar. Tetapi nafsu ternikmat ketika matahari menyentuh siang... semakin lapar semakin dekat di hatimu. Mengapa itu hadir di tanyaku. Jawabmu, itu jembatan terpendek bahwa kau tak perlu membawa apa pun ketika datang padaNYA, kecuali yang kau dapatkan di siang puasamu.

Hari Ketiga Ramadhan. Di bawah Kaki Tuhan.
Seperti gelegar petir menghenjakkan ingatan agar tersadar pada pemiliknya... tetapi desir angin yang sejuk kadang melupakan ingatan hingga tertidur... seperti primata dihembus angin timur. Betapa mudah terlenanya ingatan bahkan lupa... Itukah rasa lapar diberikan, tanyaku padamu. Bisa jadi begitu, jawabmu... sebab bagaimana kau bisa minta maaf jika melupakan kesalahan yang pernah kau buat... agar mata lebih terang melihat dan telinga lebih peka mendengar....

Hari Ketujuh Ramadhan. Angin Melintasi Pucuk Pinus.
Lembang masih lengang, subuh di temaram fajar. Hanya terlihat bayang pucuk pinus bergerak lembut ditiup angin. Sebentar lagi cahaya berpendar... tanda puasa dimulai. Aku masih terdiam ketika kau tanyakan mengapa mematung memandang noktah cahaya di langit. Padahal kau tahu aku tak memikirkan apa-apa kecuali takjubku pada sang pemiliknya. Sungguh semestanya langit dan betapa kecil diri jika tak sanggup melintasi siang menuju senja yang hanya setengah bumi mengitari matahari. Dan setengah hari bukan apa-apa, bukan jarak antara cahaya ke cahaya yang bertabur di langit sana... Maha Besar dan Pemurahnya Allah meringankan beban umatNYA.

Hari Kedelapan Ramadhan. Di atas Belitong.
Hijau putih kuning masih menempel di ingatan... terbingkai di jendela kecil yang melintasi langit... warna itu seperti luka kulit menganga sukar tersembuhkan. Juga tak kulihat pondok huma atau pun ladang sahang, hanya barisan palma merimba.... Milik siapakah bumi tanyaku padamu, ketika terpikir bahwa tanah dikuasai manusia... lalu kau tersenyum sembari mengatakan... kematian pasti datang tapi mempercepat prosesnya tentu diharamkam... lantas aku jadi ikutan tersenyum sembari membayangkan bahwa hanya proses alam dapat membuat usia lebih panjang. Ah, tak cukuplah pelajaran dahaga dan lapar dalam puasa buat memahaminya.... Tidak, kecuali dari kebahagiaan, makan dan minum yang kau dapatkan, begitulah tegasmu....

Hari Kesepuluh Ramadhan. Menghormati Tanah.
Ketika rembulan, angin, hujan dan panas mengatur waktu, tetapi keinginan kita diatur kehendak memasuki segala musim. Ah! Kehendak tak berbatas dan kadang memang menghilangkan batas. Itukah puasa di berikan... tanyaku padamu. Lalu kau tersenyum tak menjawab. Aku terdiam cukup lama, dan akhirnya kau berkata bahwa bukan sekedar tak makan minum dan mengendalikan nafsu tapi mensucikan bumi di dalam tubuhmu. Aku hampir tertawa tapi tertahan setelah tahu bahwa nanti bakal jadi tanah lagi.

Ramadhan Keempatbelas. Sayup Azan.
Sayup azan menenteramkan, menggetarkan... membelah pagi buta di sunyi dingin tanpa mata... lalu, kokok ayam pun terhenti agar sujud subuh terlaksana. Ada yang berbeda dari gema yang sampai ke telinga ketika pikiran bertanya dan hati menjawabnya.... Sebuah suara hanyalah pertanda, katamu. Hanya untuk satu jawabankah, tanyaku padamu. Iya, semua untuk Tuhan, katamu, begitupun puasa sebab lapar bukanlah rasa laparnya, sebab lapar akan hilang jika kau berbuka. Lantas ia buat apa, tanyaku lagi. Ada keteguhan yang baik bakal membaikan sebab bahagia hanya di ketentraman bukan yang di kegelisahan, tegasmu...

Ramadhan Kedelapanbelas. 
Jika setiap hari ada hal sama yang berulang... mata tak liar lagi memandang. Lalu pikiran diam di kesenyapan... dan di dalamnya ada sesuatu yang kudapatkan, aku mengatakannya hanya gambaran... kau sendiri menyebutnya sekedar khayalan.... Keduanya seperti awan bergerak dengan bentuk berbeda... Mengapa begitu, tanyaku padamu... dan katamu, di balik gambaran bukan hanya sesuatu yang lain.... Lalu apa, tanyaku lagi. Kau diam tak menjawab... aku juga diam karena ternyata puasa tak pernah bakal berakhir yang isinya hanya batasan, sebab di luar Ramadhanlah ujian yang paling menentukan.

Ramadhan Keduapuluh. 
Dari manakah datangnya angin ini, ucapmu kepadaku ketika bergidik merasakan dinginnya.... Tentu saja dari arah mata angin, jawabku asal saja guna menepis rasa ngeri yang seketika hadir di gelap malam.... Ia datang kala rasa takutmu hadir, lanjutnya. Lalu mengapa rasa takutku muncul dalam kesunyianku, tanyaku lagi. Agar kau tahu bahwa kematian menjadi kesunyian yang mengerikan kecuali puasamu mabrur dalam zikirmu bersama angin di segala musim.

Ramadhan Keduapuluhtiga.
Di keheningan malam menanti laila... membuatmu tersenyum lugu padaku. Salahkah aku, tanyaku. Tak ada yang salah, jawabmu. Lalu, mengapa senyummu menyimpan sesuatu, tanyaku lagi. Seraya memandang langit malam yang pekat... kau berkata, laila ada di hatimu tak perlu kau tunggu turun dari langit pekat malam sebab dia ada di hati yang benderang ketika puasamu sepenuh cahaya. Lalu, yang dari langit itu apa...? Itu rahmat bagimu.

Ramadhan Keduapuluhempat.
Jika gelap datang pasti ada cahaya yang menerangi setidaknya satu malam di beredarnya rembulan... lalu aku diam, bermandi cahayanya tatkala gelap hatiku memekat dan ia mesti hilang dibersihkannya. Mengapa hanya satu malam laila hadir, tanyaku padamu... dan katamu, rembulan yang menerangi malam sesungguhnya sudah lebih dari laila memberikan berkahnya, hanya yang tak berpikirlah tak pernah merasakannya. Mengapa begitu... Katamu, dinding hati terlalu keras untuk ditembus. Ah, aku jadi malu pada puasaku... sebab enam hari lagi rembulan datang, apakah bakal membawa cahaya baru....

Ramadhan Keduapuluhlima.
Setidaknya perjalanan menuju lima hari lagi bukanlah perjalanan yang pendek sebab apa yang didapat di duapuluh lima hari lalu tak mesti terbawa angin begitu saja... kelapangan hati mestilah dipeluk erat agar tetap bersama sepanjang masa, agar ketika menghadapNya ada teman dalam kesunyian... dan bahagia dalam kegembiraan... begitulah aku berkata padamu. Lalu kau tersenyum, tapi menandai apa? Sudahlah kupikir kau memahami apa yang kupikirkan.... Ternyata tidak, lalu kau berujar, selalu kukatakan padamu... setelah beberapa hari berikutnya, permulaan perjalanan panjang ke ujian sesungguhnya.

Ramadhan Keduapuluhenam.
Bagimana mesti memulainya jika puasa merupakan permulaan di hidup berikutnya menuju yang sebenarnya... kau tak segera menjawab tapi memberikan daun kering yang jatuh ke tanah... lalu berkata, dia menjadi ringan sebab beban dunia tak lagi ada padanya.

Ramadhan Keduapuluhtujuh.
Aku masih tercenung bukan memikirkan ringannya beban yang terlepas selama duapuluh tujuh hari lalu, bukan pula memikirkan permulaan di ujian setelah tiga hari selanjutnya. Bukan, bukan itu... tapi ada yang mengganjal di pikiranku, setelah itu kau bakal ke mana, sebab kau tidak akan menemaniku di sepanjang masa, tanyaku padamu... dan jawabmu, jika puasamu mabrur, aku tetap bersamamu tapi tak lagi berkata-kata hanya memantaskan apa yang pantas untuk dipantaskan... maka pantaskanlah dirimu menjadi yang sebenarnya dirimu...

Ramadhan Keduapuluhdelapan.
Tak ada yang lebih mulia daripada kemuliaan itu sendiri... lalu jika didapatkan akankah derajadku menjadikanku lebih mulia dari yang sesungguhnya... Kau tertawa ngakak... seraya berkata, kemuliaan bukanlah mengejar derajat lebih tinggi tapi memeluk bahagia sejati. Aku tercenung... sepertinya ada yang salah di perjalanan puasaku. Kau tak salah, tandasmu, hanya bagimu kemuliaan serupa kehormatan yang kau dapatkan... padahal kemuliaan hadir atas kehendakNya.

Ramadhan Keduapuluhsembilan
Jika aku tak bersabar maka waktu begitu cepat berlalu sebab semua bisa kugapai dengan lebih cepat... akankah semua alat bantu yang menyertaiku mempercepat proses kematian... bisa jadi begitu jawabmu. Mengapa kau tak begitu tegas mengatakan yang sebenarnya, tanyaku. Jawabmu, kau masih memiliki pilihan hidup yang lebih panjang sebab waktu tidaklah berubah kecuali kau sendiri yang tak sabar dikawal olehnya...

Catatan kaki:
Pak Cik Ian, begitu aku memanggilnya. Mungkin lebih dari sepuluh tahun yang lalu, pertama kali aku bertemu beliau. Saat itu, aku masih duduk di bangku SMA, bukan sekali dua kudengar ayahku bercerita tentang Pak Cik Ian. Ayah begitu gembira menemukan saudara sepupunya ini ketika kami sekeluarga baru pindah ke Pangkalpinang. Waktu berlalu, kali kedua aku bertemu Pak Cik adalah ketika aku masih di Bandung, bulan April 2010, ketika Ayah Ibu mengunjungiku. Lalu kuminta Pak Cik membubuhkan tandatangan di sebuah novel karya Beliau, Yin Galema. Sebuah novel yang meninggalkan rasa bangga ketika selesai membacanya, sebuah novel yang kata ayahku tak sembarang orang bisa menulisnya bahkan untuk membacanya pun kau harus menggunakan hati serta halus perasaanmu, demi meresapi bait demi bait rangkai katanya. 

Aku masih ingat kata-kata Pak Cik, mungkin redaksinya berbeda, namun maknanya tetap kuingat: 'Dunia itu butuh seni dan seniman. Tak elok rasanya kalau hidup tanpa dibumbui seni', begitu kata Beliau. Terima kasih Pak Cik telah mengizinkan untuk merangkum bait-bait Ramadhan ini, terima kasih pula telah menjadi guru bagiku, karya-karyamu selalu menginspirasiku di tengah semak otak kiriku yang sering kali meluap tak mau kalah dengan otak kananku. Salam takzim dari Bochum. 

Bochum, musim panas, 12 Agustus 2013