Thursday, July 10, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 13 Ramadhan, Para Perantau dari Afrika

Sejak kecil aku mengagumi para perantau. Mereka rela meninggalkan kampung halaman dengan pengorbanan lahir batin yang tidak sedikit, untuk menuntut ilmu, mencari penghidupan yang lebih layak serta tujuan-tujuan mulia lainnya. Kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang para perantau dari benua dengan kebudayaan unik dan kaya, Afrika.

Tak seperti bangsa Eropa, aku pertama kali bertemu bangsa Afrika baru-baru saja, sejak merantau ke Jerman. Sebelumnya di tanah air, tak sekalipun aku bertemu orang-orang dari bangsa mereka. Silih berganti aku memiliki tetangga yang berasal dari Afrika, antara lain dari Uganda, Kenya, Ghana dan Guinea. Rata-rata dari mereka sangat fasih berbicara paling tidak dalam satu bahasa Eropa, imbas dari sejarah masa lalu ketika tanah air mereka diduduki oleh bangsa-bangsa Eropa. Mereka adalah perempuan-perempuan cerdas yang mampu mengubah stereotip yang ada di kepala orang-orang yang masih beranggapan bahwa bangsa Afrika adalah masyarakat kelas dua. Sebagai contoh saja, aku mengenal Catherine, sahabatku dari Uganda sebagai kandidat Doktor bidang ekonomi yang sangat brilian. Ibu muda ini menamatkan pendidikan Masternya di Swiss dengan sangat gemilang.

Salah satu hal yang menarik perhatianku sejak lama adalah kebudayaan dan sejarah bangsa-bangsa di dunia. Sebuah peta Afrika Timur yang menggambarkan danau-danau terbesar di Afrika menempel di samping tempat tidurku, sering mengantarkan mimpiku untuk mengunjunginya suatu hari nanti. Dulu waktu masih kecil, aku paling suka mengamat-amati Atlas yang dibelikan ayahku di Toko Buku Usaha. Membayang-bayangkan negeri-negeri jauh, serta berbagai bangsa yang mendiaminya. Ketika itu internet belum jamak seperti sekarang, sehingga imajinasiku hanya terbatas pada gambar-gambar yang kulihat dari buku-buku atau siaran televisi. Aku tak pernah mendengar bahasa-bahasa asing langsung dari penutur aslinya, yang kukenal hanya sebatas nama.
 
Perempuan-perempuan Afrika. Sumber: ingenieur.de (Universität Hohenheim)
Sore kemarin, aku memasak di dapur seperti biasa. Dapur kami ini seperti pusaran budaya tempat berkumpulnya berbagai bangsa. Sudah hampir seminggu aku kedatangan tetangga baru berwajah Afrika, belum juga sempat aku berbincang-bincang dengannya. Aku hanya sekedar menyapa dan tersenyum. Sore itu kali pertama aku berkenalan dengan Umu, begitu dia memperkenalkan namanya. Perempuan muda ini berasal dari sebuah negara yang dulu sulit aku membedakannya karena setidaknya ada 3 negara bernama sama di sekitar wilayah Teluk Guinea Afrika. Negara itu adalah Guinea, sering disebut Guinea Perancis, untuk membedakannya dengan Guinea Bissau dan Guinea Ekuator. Aku bertanya apakah dia bisa berbahasa Inggris, dia menggeleng: “Ich spreche ein bisschen Deutsch...“ “Saya hanya berbicara sedikit dalam Bahasa Jerman...“ Umu bercerita padaku bahwa saat ini dia sedang mengambil kursus Bahasa Jerman untuk mempersiapkan kuliah Masternya dalam bidang Informatika tahun depan. Lalu kutanya pula, sehari-hari dia berbicara dalam bahasa apa di tanah airnya. Bahasa Pular, ujarnya, lalu Bahasa Perancis sebagai bahasa kedua. Tak lama telepon genggam Umu berdering, dia berbicara dalam Bahasa Pular yang tadi diceritakannya. Aku seketika takjub mendengar bahasa asing ini untuk pertama kalinya. Iramanya cepat dengan penekanan-penekanan pada beberapa huruf konsonan serta diucapkan dengan intonasi lantang, seperti senandung yang mengiringi tarian-tarian eksotik berirama gembira.

Lalu setengah bercanda kutanyakan pada Umu, mengapa dia tidak kuliah saja di Perancis, tentunya dia tak perlu repot-repot untuk mempelajari Bahasa Jerman dan bisa langsung memulai kuliah Masternya. Umu menjawab sambil sedikit menggeleng, “Aku juga tidak tahu, Hesty. Tiba-tiba saja aku sudah menemukan diriku berada di negeri ini. Nasib seperti mengantarku ke sini, bukan ke Perancis“. Dalam hatiku, kita ternyata tak jauh berbeda, Umu. Aku pun begitu, niat merantau ke benua lain yang terpatri sejak lama seperti tiba-tiba saja mengantarkanku ke sini, ke Bochum, yang bahkan baru kukenal tak lebih dari 2 bulan sebelum keberangkatanku, bukan ke kota atau negara lain. Serangkaian usaha yang kita lakukan hanyalah cara, bukan penentu. Syarat cukupnya adalah izin Allah. Nasib senantiasa penuh misteri seperti masa depan yang tak pernah pasti.

Setelah hampir seminggu ini Bochum diguyur hujan, hari ini di hari ke 13 Ramadhan, matahari menampakkan senyumnya. Sebelumnya, sejak sore kemarin, kabut tebal menyelimuti udara. Dingin dan sendu, seperti halimun di punggung-punggung pegunungan yang melingkupi Bandung hampir setiap pagi. Aku pun menjadi rindu. Bandung sudah seperti kampung halaman ke dua bagiku, kampung halaman tempat aku menghabiskan awal-awal masa dewasa dan pencarian jati diri.

Aku pun teringat pada sebuah syair Ethiopia berjudul Guramayle. Guramayle adalah istilah yang digunakan oleh suku-suku di Ethiopia utara untuk menamakan sejenis tattoo yang mereka pasang di gusi bagian atas untuk memperindah senyuman. Guramayle sekaligus juga dipakai untuk menyebut orang-orang yang sok mencampuradukkan istilah-istilah bahasa asing ke dalam bahasa ibu mereka, dengan tujuan agar terdengar keren dan intelek. Syair “ejekan“ ini diciptakan oleh pengarangnya dengan maksud positif untuk mencerminkan pengaruh multibudaya bagi orang-orang Ethiopia yang merantau ke seluruh penjuru dunia. Guramayle adalah syair cinta para diaspora. Syair ini menggambarkan bagaimana sang pengarang mengalami gagap budaya ketika kembali ke tanah airnya setelah sekian lama mengalami banyak hal selama di perantauan. Di Ethiopia sendiri, Guramayle sering digunakan sebagai sindiran bagi mereka yang menjadi terlalu ke-“Eropa-Eropa“-an dan melupakan akar budaya mereka. Syair syahdu ini berpesan: “Ke manapun kakimu melangkah, sejauh apapun jarak yang pernah Kau tempuh, jangan pernah melupakan akarmu, tanah air dan bangsamu sendiri“.

Bochum, 10 Juli 2014

Wednesday, July 09, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 12 Ramadhan, Sahabat-sahabat dari Tepi Barat

“Bagaimana kabarmu, Kawan?“ “Alhamdulillah...“ sambil menjabat tanganku erat-erat. Selalu begitu dan senyum gadis pintar itu tak pernah pudar. Dialah Hafsa. Aku mengenalnya pertama kali secara tak sengaja. Saat itu, belum begitu lama aku kedatangan tetangga baru berkewarganegaraan Israel, Sirin namanya. Aku pun sempat dimintai bantuan oleh Sirin untuk mengatur setting internet di laptopnya. Sontak aku kaget dan bingung, karena tak satu pun tuts-tuts di keyboard laptopnya yang bisa kubaca, semuanya dalam abjad Hebrew. Kami berdua pun spontan tertawa. Aku kembali terkejut ketika dia mengucapkan salam padaku ketika aku pamit untuk kembali ke kamar. “Danke, Hesty! Assalamu’alaykum! Ich bin auch Muslim“. “Terima kasih, Hesty! Assalamu’alaykum! Saya juga seorang Muslim“ begitu katanya sambil tersenyum dan melambai padaku. 

Di lain kesempatan Sirin bercerita bahwa mereka sekeluarga berkewarganegaraan Israel, akan tetapi ibunya sebenarnya berasal dari Palestina. Ayahnya berasal dari Israel dan memeluk Islam sejak menikah dengan ibunya. Mereka sehari-hari berkomunikasi dalam Bahasa Arab dan sedikit Hebrew. Dia juga bercerita bahwa keadaan di Israel adalah selayaknya di sini (Jerman), orang-orang hidup makmur dan terpenuhi berbagai kebutuhannya. Komposisi masyarakatnya pun beragam, mulai dari Arab Muslim, penganut agama Yahudi, dan Kristen. Lalu hanya selemparan batu dari “negeri surga“ yang digambarkan Sirin tadi, orang-orang lainnya hidup dalam keprihatinan dan ketakutan akan ancaman serangan. Sampai di sini aku bingung, model konflik seperti apa yang sebenarnya terjadi di wilayah Tepi Barat (West Bank) dan sekitarnya, yang seingatku sejak aku bisa menonton televisi waktu aku masih kecil dulu hingga sekarang belum berkesudahan.

Sore itu kira-kira setahun yang lalu, seperti biasa sepulang dari kampus aku memasak makanan seadanya untuk makan malam. Sirin memperkenalkan Hafsa padaku. Kata Sirin, “Hafsa, ini Hesty, saudara kita dari Indonesia“. Waktu itu, Hafsa sedang mengunjungi Sirin, lalu beberapa bulan kemudian aku bertemu Hafsa untuk kedua kalinya di ruang cuci asrama. Dia bercerita bahwa dia baru saja pindah ke Roncallihaus. Gadis berkerudung ini berbicara dalam bahasa Jerman yang sangat fasih. Dia sedang menempuh pendidikan di salah universitas di Düsseldorf. Hafsa lalu bercerita padaku, bahwa dirinya berasal dari Palestina. Dia mengaku Bahasa Inggris-nya tak begitu lancar, lalu kami bertukar email untuk saling memberi kabar. Dia memintaku agar sering-sering menggunakan Bahasa Inggris ketika berkomunikasi dengannya, agar dia bisa belajar. Aku pun meminta kebalikannya, agar aku bisa memperbaiki Bahasa Jermanku.

Ini bukan kali pertama aku berkenalan dengan orang-orang dari wilayah Tepi Barat. Dulu ketika pertama kali mengambil kursus Bahasa Jerman, aku mengenal Manhal, seorang Muslim Israel, juga Ahmed dan Khalil, dua kawanku warga Palestina yang selalu meminta izin pada guru kami untuk menunaikan sholat setiap Jumat siang. Mereka tak secara spesifik menyebutkan perihal sholat Jumat, tapi guru kami yang baik hati selalu memberikan izin. Ahmed dan Khalil tak jarang bertemu denganku di jalan sekitar halte depan asrama. Dari kejauhan mereka sudah memberi salam, “Assalamu’alaykum, Schwester! Wie geht’s?“ “Assalamu’alaykum, Saudariku! Apa kabar?“ Khalil pernah bercerita padaku, bahwa untuk merantau ke sini bukanlah hal yang mudah bagi mereka. Dia sempat harus terjebak selama berminggu-minggu di Lebanon bersama ayahnya karena masalah keimigrasian dan konflik yang terjadi di sana. Lain waktu Manhal juga sempat bercerita padaku, ketika aku menanyakan bagaimana keadaan di sana. “Wilayah Israel itu ya wilayah Palestina. Permasalahan di sana sudah begitu kompleks. Saudara-saudara kami yang masih berada di wilayah Palestina hampir selalu menjadi korban. Aku tak tahu lagi harus mengatakan apa“, begitu kata Manhal dengan wajah murung dan sedih.

Aku tak paham detail persoalan yang sesungguhnya terjadi di sana. Yang kutahu dari sejarah yang pernah kubaca, awal mula konflik ini adalah ketika warga Yahudi dari seluruh dunia yang tergabung dalam gerakan Zionist berbondong-bondong “pulang” ke wilayah Tepi Barat. Mereka mengklaim wilayah itu sebagai hak mereka bulat-bulat. Pemerintahan pun dibentuk dan mereka menamakan diri sebagai Negara Israel. Pemukim Palestina yang menolak klaim orang-orang Zionist ini menjadi sasaran empuk tentara-tentara Israel. Peperangan yang terjadi pun sering kali tak seimbang, lemparan batu melawan perlengkapan militer Israel yang canggih. Berpuluh-puluh tahun, konflik tadi lalu berkembang menjadi konflik agama. Palestina kemudian menjadi simbol perjuangan Islam hampir di seluruh dunia, utamanya di Indonesia.

Di abad modern ini, ketika penjajahan fisik sudah menjadi hal yang tabu dan dianggap sebagai masa lalu hampir di seluruh dunia, warga Palestina masih merasakannya pun hingga detik ini. Aku bercerita di sini bukan ingin mengait-ngaitkan konflik ini dengan hal-hal berbau agama atau ras yang mungkin bisa menimbulkan prasangka bagi kawan-kawan. Tak ada orang yang bisa meminta untuk dilahirkan sebagai Arab, Yahudi (definisi Yahudi di sini sebagai bangsa bukan agama) atau apapun. Setelah kita lahir, selanjutnya hidup adalah tentang pilihan-pilihan, ingin kita jalani seperti apa. Agresi yang terjadi sekarang di Jalur Gaza adalah tragedi kemanusiaan, terlepas dari embel-embel persoalan lain yang kini berkembang. Aku juga bukan tak membaca, bahwa tak sedikit warga Yahudi di seluruh dunia yang menentang keras gerakan Zionist dan invasi Negara Israel atas Palestina ini.

Bagi kawan-kawan, tak ada salahnya menyisihkan waktu sejenak untuk mendoakan mereka yang saat ini sedang didera konflik di sana. Bulan Ramadhan yang seharusnya menjadi waktu-waktu spesial penuh keceriaan, selayaknya Ramadhan bagi muslim lainnya di seluruh dunia, kini menjadi mimpi buruk bagi mereka. Rudal-rudal Israel silih berganti ditembakkan ke wilayah pemukiman Palestina. Hujan mereka bukan lagi air, butir-butir es atau salju, tapi peluru. Jangan remehkan kekuatan doa. “Maafkan kami yang belum bisa membantu banyak dari sini”. Jika kawan-kawan mempunyai kelebihan rezeki, bisa kita temukan banyak sekali link-link di internet yang memuat informasi dari lembaga-lembaga penyalur bantuan materi untuk Palestina.

Masalah Palestina ini tak jarang pula menjadi isu sensitif di masyarakat. Terlepas dari apapun niatnya, persoalan ini bukan lagi hanya sekedar permasalahan agama, tapi lebih-lebih adalah masalah kemanusiaan. Ada pula yang berseloroh: “Ngapain sih capek-capek ngurusin negara orang? Negara sendiri aja belum beres.” Orang bijak tak akan berkata seperti itu. Bung Karno pernah dengan sangat lantang berkata: “Selama kemerdekaan bangsa Palestina beloem diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itoelah Bangsa Indonesia berdiri menantang pendjadjahan Israel” [Ir. Soekarno, 1962]. Semoga niat baik orang-orang yang berjuang untuk membantu Palestina, sekecil apa pun itu, senantiasa dijaga oleh Allah, dan bukan hanya sekedar latah atau ikut-ikutan. Aku percaya, kekuatan media yang dibangun dengan independensi dan niat yang tulus akan sangat berarti bagi mereka. Dunia harus tahu! Bahwa di era modern ini, penjajah Israel masih dengan sangat percaya diri dan sombong membunuhi sejumlah besar manusia. Bahwa, ada orang-orang yang bahkan tak sempat lagi memikirkan besok mau makan apa, tapi apakah besok nyawa dan tanah ini masih ada? Ingin rasanya aku menghabiskan sisa hidupku menjadi jurnalis di sana, agar darah dan nyawa ini ada juga artinya.

Sejak kemarin malam aku kehilangan kabar darinya, account Facebook-nya tiba-tiba nonaktif. “Hafsa, bagaimana kabarmu?” Aku yakin, dia akan selalu menjawab: “Alhamdulillah...“, seperti yang selama ini selalu diucapkannya, lalu teriring doa yang dihadiahkannya untukku. Doa kami semoga Allah melindungi keluargamu dan seluruh saudara-saudara kita di Palestina.

Sumber foto: 
Abdillah Onim, jurnalis dan relawan Indonesia yang saat ini bermukim di Gaza.
Facebook: Abdillah Onim

Bochum, 9 Juli 2014

Tuesday, July 08, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 11 Ramadhan, Memori Hujan

Langit Eropa jarang sekali menurunkan hujan sepanjang hari, bukan seperti di negeri tropis, air tumpah ruah seperti tercurah dari langit setiap musim penghujan. Di sini, rinai-rinai hujan kadang kala berubah wujudnya menjadi butiran-butiran es yang berhamburan dari langit. Bila musim dingin tiba, dia berubah menjadi derai-derai salju yang menari-nari dipermainkan angin seperti kapas yang kehilangan bobotnya. Langit Eropa selalu punya butir-butir penuh kejutan di setiap musimnya.

Hari ini hujan turun tak henti-henti sejak dini hari. Musim panas tahun ini seperti enggan menampakkan diri, malu-malu. Ramadhan telah memasuki babak kedua, seperti mimpi saja 10 hari berlalu. Steffi pamit padaku akhir pekan yang lalu, dia akan liburan bersama keluarganya selama 3 minggu. Aku "dioleh-olehi"-nya 2 lembar tulisan, daftar pekerjaan yang harus kuselesaikan selama dia pergi. Matahari tak hadir sepanjang hari ini, seperti Steffi, namun entah disengat memori hujan, aku malah bangun terlalu pagi. Ratusan data yang kukumpulkan selama berminggu-minggu sebelumnya kini harus kuterjemahkan satu per satu. Hari ini aku hanya beristirahat tak lebih dari 30 menit, selebihnya aku tak beranjak dari kursi. Menjelang sore, ratusan data tadi mulai tersenyum padaku, senyum penuh misteri dalam ratusan angka dan diagram warna-warni.



***
Genangan-genangan air sepanjang jalan yang kulewati tadi pagi, rombongan mahasiswa yang berjalan di bawah payung warna-warni, mengingatkanku pada memori hujan bulan Februari. Bandung 3 tahun yang lalu. Hampir pukul 6 sore, perutku sudah sangat lapar. Rintik-rintik hujan pertama mulai turun, padahal aku baru seperempat perjalanan pulang. Hari ini, tiba-tiba saja aku memilih jalur angkutan umum berbeda dari biasanya. Aku rindu suasana Gedung Sate sore hari, juga pucuk-pucuk mahoni yang baru bersemi di sepanjang Jalan Diponegoro.

Perjalananku singkat saja. Aku turun di pertigaan Jalan Supratman, tepat di depan Asrama Mahasiswa Gunong Tajam, asrama mahasiswa Belitong, persinggahanku ketika pertama kali ke Bandung, 10 tahun yang lalu. Hari makin gelap dan hujan masih lebat, air tergenang dimana-dimana. Aku bertemu seorang ibu yang kelihatannya baru pulang kerja. "Nak, mau pulang kemana? Boleh Ibu ikut sampai Surapati? Nanti Ibu mau naik angkot pink dari situ". "Oh, tentu saja boleh Bu", jawabku spontan.

Kami melewati Jalan Pusdai yang tergenang, sambil sesekali berhenti untuk menghindari cipratan air dari kendaraan yang lewat. Di bawah naungan payung kecil itu, obrolan kami mengalir. Ibu Maya, begitu beliau mengenalkan diri padaku. Beliau bekerja di Jalan Citarum, hanya beberapa ratus meter dari Pusdai, rumahnya lumayan jauh dari sini, di Ujung Berung. Bu Maya bercerita bahwa anak sulungnya sudah bekerja, seorang alumnus Farmasi Unpad. Sedangkan anak bungsunya baru tamat dari jurusan perhotelan, juga sudah bekerja dan berniat melanjutkan kuliah lagi.Tersirat rasa bangga di wajah beliau, padahal aku tahu beliau sedang lelah setelah seharian bekerja.

Aku pun mengenalkan diriku. Beliau antusias sekali ketika tahu bahwa aku hidup terpisah jauh dari keluarga, hidup sendiri di Bandung dan masih memimpikan banyak hal. "Ibu doakan Nak Hesty sukses dan tercapai cita-citanya. Orangtua seperti Ibu tidak akan mewariskan apa-apa, selain ilmu yang bermanfaat. Karena warisan harta betapapun banyaknya, akan habis". Kami berpisah di tepi jalan Surapati, dalam rintik hujan yang mulai reda.

Pesan Bu Maya adalah pesan yang sama seperti yang disampaikan Ibuku dulu ketika aku akan merantau ke Bandung. Aku menjadi rindu, rindu sekali pada Ibuku. Kiranya hujan sore ini mampu mengantarkan rinduku kepada Beliau, jauh sampai ke kampung halamanku. Kupeluk erat tasku yang basah. Dalam dingin dan mendung, hatiku tiba-tiba menjadi hangat, sehangat kasih sayang Ibuku.

Bochum, 8 Juli 2014

Monday, July 07, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 10 Ramadhan, Abiyan Kesayangan Kami

Waktu berlalu begitu cepat. Dari hari ke hari rasanya hanya seperti mimpi, tahu-tahu sudah malam, tahu-tahu sudah lewat 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun. Kita pun semakin menua dan sisa usia semakin berkurang jatahnya. Lalu, kita sudah berbuat apa? Untuk orang tua, keluarga, agama, bangsa dan negara. Kalau teringat akan hal ini, aku selalu diliputi perasaan bersalah. Hingga hari ini rasanya aku hanya berorientasi lebih banyak untuk diriku sendiri, jangankan memberikan manfaat untuk orang lain, lebih banyak merepotkan lebih tepatnya.

Musim gugur tahun 2011 pertama kali aku menginjakkan kaki di Bochum. Belum banyak orang Indonesia lainnya yang kukenal di kota kecil ini. Aku memulai studiku di Bochum atas rekomendasi Pak Yul, dosenku yang ketika itu sedang ditugaskan sebagai Atase Pendidikan di KBRI Berlin. Lewat email, Pak Yul memperkenalkanku dengan seorang mahasiswa Indonesia lainnya yang kebetulan satu fakultas denganku di Ruhr Universität Bochum, dialah Friska. Neng Pika, begitu kami memanggilnya, sedang menempuh program sarjana di Teknik Elektro. Dia tinggal di Bochum bersama suaminya, Panji, yang sama-sama sedang menempuh program sarjana. Aku mengenal pasangan muda ini sebagai orang-orang yang santun, ramah dan penyayang.

Singkat cerita, hari-hari pun berlalu, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Akhir musim semi tahun lalu, saat Neng Pika sedang hamil tua, aku sempat berjanji ingin memotretnya. Mumpung suasana musim semi sedang cantik-cantiknya. Tapi, rupanya karena kesibukan masing-masing, kesempatan itu tak tertunaikan. Musim panas pun mulai menyapa. Aku ingat di minggu-minggu terakhir sebelum bulan Ramadhan, Neng Pika sekeluarga telah bersiap-siap menanti kehadiran si buah hati. Harap-harap cemas kami menunggu. Berdasarkan perkiraan dokter, sang jabang bayi akan lahir beberapa hari lagi, mungkin pada hari-hari pertama bulan Ramadhan. Tapi, takdir kelahiran dan kematian, Allah-lah Yang Maha Mengatur. Bayi mungil itu lahir 3 hari sebelum Ramadhan tiba, tepat 1 tahun yang lalu, 7 Juli 2013.

Berita bahagia itu diumumkan oleh sahabat kami di group pengajian Indonesia Ruhr area dan sekitarnya. Berbagai ucapan selamat dan doa tak henti-hentinya berdatangan. Suatu kebahagiaan tak terhingga sekaligus amanah yang dititipkan Allah kepada Panji dan Neng Pika. Abiyan Adam Ashriza, begitu bayi laki-laki itu diberi nama. Kata Abiyan diambil dari kata Bayan dalam Bahasa Arab (Q.S Ar Rahman: 4), yang berarti berbicara. Maka nama Abiyan mengandung doa, yang berarti "fasih" dalam berbicara, berbahasa Arab dan bahasa-bahasa lainnya, termasuk bahasa Al Qur'anul Karim. Secara lengkap nama Abiyan Adam Ashriza mengandung arti keturunan pertama yang fasih dari keluarga Ashari dan Roza. Serangkaian nama yang indah, yang didalamnya terselip doa dan harapan bagi sang anak dari kedua orang tuanya.

Neng Pika dan Panji melalui hari-hari sebagai orang tua baru, sekaligus tetap menjalani rutinitas mereka sebagai mahasiswa. Aku kagum dengan ketangguhan pasangan muda ini. Hidup di perantauan tak pernah selalu mudah, berbagai tantangan senantiasa menghadang untuk menguji kesabaran dan sejauh mana rasa syukur kita kepada Sang Pencipta. Aku saja yang hanya sendiri dan tak harus mengurus siapa-siapa, tak jarang gelagapan menghadapi berbagai tantangan hidup, apalagi bagi mereka sebagai keluarga muda yang berada jauh dari orang tua. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan keberkahan untuk Neng Pika sekeluarga.

Abiyan tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria. Anak lucu ini jarang menangis dan lagi-lagi aku kagum melihat kesabaran Neng Pika dalam mengasuh Abiyan. Tak jarang kami bepergian bersama. Dalam setiap kesempatan, Abiyan mau diasuh hampir oleh siapa saja. Hanya sekali aku melihatnya rewel, waktu itu kami sedang di kereta dalam perjalanan pulang ke Bochum. Mungkin lantaran capek dan lapar, Abiyan menangis dan sedikit rewel. Selebihnya aku mengenal Abiyan sebagai anak periang.


Baru beberapa minggu yang lalu Abiyan bisa berjalan untuk pertama kalinya. Tak terasa hari ini, di hari ke 10 Ramadhan, tepat 1 tahun usianya. Teriring doa agar Abiyan tumbuh menjadi anak yang cerdas, sehat, serta soleh dan mensolehkan orang-orang di sekitarnya. Memperhatikan foto-fotonya yang kuabadikan dalam kamera dari waktu ke waktu, aku takjub bagaimana Allah sebaik-baik Pencipta, menciptakan makhluk yang bernama manusia. Sorot mata nan lugu, tangan dan kaki yang perlahan tegak, lalu melangkah dan kemudian berlari. Dalam setiap isyarat penciptaan ini terselip tanda-tanda Kekuasaan Allah. Maka, tak ada hak kita untuk menjadi sombong, lalu lupa bahwa kita pernah dan akhirnya pula akan menjadi makhluk tak berdaya.

Abiyan, kesayangan kami
Bila engkau dewasa nanti
Ingatlah bahwa engkau pernah berjanji
untuk menjadi sebaik-baik khalifah di muka bumi

Abiyan, kesayangan kami
Bila engkau dewasa nanti
Ingatlah orang tuamu yang tak henti-henti
mendoakanmu lebih dari mereka sendiri

Teriring salam sayang dan doa dari Maktjik untuk Abiyan.

Bochum, 7 Juli 2014

Sunday, July 06, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 9 Ramadhan, Mimpi untuk Nelayan Nusantara

Sebuah Ulasan Proposal


Siang itu, di awal Mei tahun ini, aku terkantuk-kantuk seorang diri di ruangan kantor. Sembari menghabiskan dua potong roti makan siangku, aku berselancar di internet, sekedar iseng mencari-cari artikel tentang jurnalisme. Lalu tanpa sengaja aku menemukan link tawaran beasiswa proyek fotografi oleh sebuah lembaga di Amerika. Kubaca dengan seksama segala keterangan dan persyaratannya. Masih ada waktu sekitar 2 bulan untuk mendaftar. Namun yang menjadi masalah, aku tak punya kapasitas dan kemampuan yang memadai untuk bidang ini. Mungkin aku bisa kalau hanya sekedar menuliskan beberapa ide, namun documentary photography dan photojournalism bukanlah bidangku. Lalu aku teringat akan mimpi salah seorang sahabatku, Ponda, untuk mendokumentasikan budaya kelautan nusantara. Tanpa membuang waktu, kesempatan ini pun lalu kuceritakan padanya.

Singkat cerita, sejak pertengahan Mei kami mulai bergerak untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Tawaran beasiswa ini bukan hal main-main, perlu persiapan matang dan serius. Kami mulai mengumpulkan semua literatur yang berhubungan dengan ide-ide dalam proposal yang nantinya akan diajukan. Setidaknya proposal ini nantinya akan membahas ulasan mengenai budaya kelautan nusantara, bidang keilmuan photojournalism, serta ide orisinal yang “menggigit” agar bisa bersaing dengan peserta-peserta lainnya dari seluruh dunia. Berikut ulasan secara umum dari proposal yang pada hari ini, hari ke 9 Ramadhan, akhirnya rampung dikerjakan.

Berangkat dari kenyataan bahwa kehidupan nelayan nusantara masih jauh dari kata sejahtera, proposal ini mengulas berbagai fakta dan data secara umum yang menggambarkan kehidupan nelayan nusantara dari segi ekonomi. Sebagian besar masyarakat miskin di Indonesia hidup di daerah pesisir dan pedesaan. Beberapa faktor penting menjadi penyebab utama kemiskinan nelayan di Indonesia, antara lain minimnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan mereka serta sebuah sistem yang sudah seperti “lingkaran setan”, yang menjerat nelayan dengan ketergantungan dan minimnya upah dari pemodal. Dari waktu ke waktu, nelayan-nelayan tradisional hidup di bawah garis kemiskinan, tanpa pula ada kemajuan yang berarti dari sisi teknologi.

Ide menarik yang menjadi pokok gagasan yang diajukan dalam proposal ini adalah pendokumentasian kehidupan nelayan ketika menghadapi masa-masa paceklik dalam serangkaian foto. Masa paceklik berlangsung hampir 8 bulan. Dalam musim ini tak jarang mereka pulang melaut tanpa hasil sama sekali. Kenyataan ini telah membentuk suatu sistem imajiner yang didasari oleh intuisi mereka untuk bertahan hidup. Keluarga nelayan harus pandai-pandai mencari penghasilan tambahan selain melaut ketika musim paceklik tiba. Perbedaan budaya dan karakteristik sumber daya ekonomi lokal akan menghasilkan keragaman foto dokumentasi yang unik di tiap-tiap daerah. 


Seorang penulis pernah mengatakan bahwa kemiskinan itu tidak untuk ditangisi. Foto dokumentasi yang menggambarkan kehidupan miskin suatu komunitas telah lama dilakukan orang. Umumnya mereka digambarkan sebagai objek yang lemah, tak berdaya dan menunggu uluran tangan. Namun, dalam proposal ini, Ponda menginginkan untuk memotret sisi lain dari kehidupan miskin nelayan nusantara, berkebalikan dari anggapan umum yang ada sekarang. Nelayan dikenal sebagai kelompok masyarakat yang tangguh dan tahan banting menghadapi kesulitan hidup. Karakter ini terbentuk dari kerasnya pekerjaan mereka di laut, yang menuntut kesabaran, keberanian dan kerjasama yang solid di antara mereka. Karakter-karakter seperti ketangguhan, kerja keras, serta kemandirian yang ditunjukkan nelayan dan keluarganya inilah yang nanti akan ditekankan dalam foto-foto yang akan dibuat. 

Sudut pandang ini nantinya diharapkan mampu menggugah audience untuk belajar banyak dari nilai-nilai positif karakter nelayan tadi serta menerapkannya dalam kehidupan. Adapun impact  tidak langsung yang tidak kalah penting, diharapkan foto-foto ini mampu membangkitkan kepedulian masyarakat dan pemerintah akan lingkungan laut dan kesejahteraan nelayan. Indonesia menyimpan potensi kelautan yang luar biasa, mulai dari sumber daya perikanan sampai budaya maritimnya. Maka sungguh ironis menyaksikan kenyataan sekarang di mana lebih banyak pihak asing yang berlomba-lomba untuk mempelajari, memanfaatkan dan melestarikannya, sedangkan masyarakat Indonesia sendiri seperti tidak peduli. Selain itu, proyek ini dapat pula menjadi sumber data visual dan pemetaan budaya maritim nusantara yang akan bermanfaat di masa yang akan datang. 

Foto telah lama menjadi media penyampai informasi yang dapat diandalkan. “A picture is worth a thousand words”. Genre fotografi yang akan ditekankan dalam hal ini adalah documentary photography dan photojournalism. Kedua genre ini telah lama dijadikan sarana untuk menyampaikan informasi yang dapat dipercaya. Baik documentary photography maupun photojournalism, memiliki kode etik yang sama, yang menekankan pada kejujuran serta membatasi photo editing seminimal mungkin, yaitu terbatas hanya pada tujuan untuk memperbaiki kualitas teknis dari foto.

Masalah-masalah teknis dari pengimplementasian proyek kemudian dibahas lebih detail di bagian akhir tulisan. Proposal ini juga dilengkapi dengan portfolio dari proyek sebelumnya yang sudah sejak beberapa tahun yang lalu dikerjakan secara pribadi oleh Ponda, proyek sepanjang masa yang dinamakannya “Manusia Laut”, berisi rangkaian foto-foto kehidupan nelayan di Belitung dan Sulawesi. Aku didaulat Ponda untuk memberikan judul yang pas, satu malam aku memikirkannya. Lalu, aku datang dengan sebuah judul yang di dalamnya kusisipkan semangat: “Sea People, a Vivid Portrait of Indonesian Fishermen’s Struggle”. Berangkat dari mimpi-mimpi sederhana, semoga proposal ini menjadi langkah awal untuk mewujudkannya.

Ingatanku pun melayang-layang ke masa silam, belasan tahun yang lalu. Perahu nelayan setengah jadi tergeletak di tepi pantai. Papan-papannya pun masih basah dan wangi, belum dicat. Perahu itu dibuat oleh ayah kawan kecilku, seorang nelayan asal Desa Juru Seberang. Kami biasa menghabiskan sore bermain-main di rumahnya yang terletak di bibir Pantai Air Saga, menunggu air pasang sambil bermain bola atau melempari buah-buah asam jawa di halaman kosong tak jauh dari dermaga. Perlahan-lahan matahari beranjak ke peraduannya, hendak mencium bibir cakrawala. Kaki-kaki kecil kami telah basah oleh deraian ombak air pasang menjelang senja, menitipkan rindu pada jiwa-jiwa penjelajah samudera, nelayan nusantara.

Foto-foto diambil dari koleksi "Manusia Laut" [Ponda Sujadi]
Terima kasih kepada Pak Koskow yang telah bersedia meminjamkan buku-buku sebagai bahan bacaan serta Ulfa yang telah meluangkan waktunya untuk memeriksa tata bahasa dan ejaan proposal dalam Bahasa Inggris.

Bochum, 6 Juli 2014

Saturday, July 05, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 8 Ramadhan, Resep Akhir Pekan, Membuat Banana Cake dengan Rice Cooker

Tak terasa, 1 minggu sudah Ramadhan menyapa. Sejak pagi tadi, mendung menggelayut rendah, awan kelabu bergumpal-gumpal, tapi hujan tak kunjung turun. Hawa panas dan pengap menyergap diam-diam. Musim panas memang begitu, sering pura-pura meniru cuaca dari negeri-negeri nan jauh. Sebenarnya aku merindukan sahabatku Mira, biasanya kalau akhir pekan seperti ini kami sering menghabiskan liburan bersama, mengotori dapur di rumah mungilnya di Nijmegen sana dengan berbagai resep masakan dan kue hasil kreasi iseng kami berdua. Hari ini, di hari ke 8 Ramadhan, aku mencoba satu resep praktis dari internet, banana cake yang dibuat dengan rice cooker

Berikut bahan-bahan dan cara membuatnya.

Bahan-bahan (basah):
1. 2 butir telur (pisahkan bagian kuning dan putih telurnya).
2. 50 gram gula pasir
3. 2 buah pisang (lebih bagus jika sudah terlalu matang).
4. 50 gram mentega (cairkan).
5. Kismis secukupnya.

Bahan-bahan (kering):
1. ½ cup tepung terigu (ayak).
2. ½ sendok teh baking powder.
3. Sedikit garam.

Alat:
1. Baskom besar
2. Pengocok
3. Rice cooker (rice cooker kecil kapasitas 5 cup untuk 1 resep).
4. Spatula
5. Timbangan atau gelas takar
6. Kantong plastik ukuran 1 liter untuk menghancurkan pisang.
7. Piring saji atau loyang


Cara membuat:
  1. Kocok putih telur sampai busanya mengembang (sedang), masukkan gula sedikit demi sedikit. Kocok hingga rata.
  2. Kemudian masukkan berturut-turut kuning telur, pisang yang telah dihancurkan, dan mentega cair. Kocok hingga semua bahan tercampur sempurna. Tambahkan kismis, aduk rata.
  3. Campurkan bahan-bahan kering hingga merata, lalu masukkan adonan ke dalam panci rice cooker.
  4. Tekan tombol cook, kemudian setelah beberapa menit, rice cooker akan kembali ke mode warm. Tunggu 10 menit, kemudian tekan kembali tombol cook. Ulangi proses cook-warm hingga 5 kali siklus.
  5. Tes apakah adonan sudah matang sempurna dengan menusukkan lidi, jika sudah tidak basah dan lengket berarti sudah matang.
  6. Keluarkan panci rice cooker dari penanaknya, letakkan dalam posisi terbalik pada piring saji atau loyang hingga seluruh bagian kue terhidang di piring. Banana cake siap disajikan.
Sumber (dengan sedikit modifikasi):

Bochum, 5 Juli 2014

Friday, July 04, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 7 Ramadhan, Nasihat dari Pak Guru

Ada orang-orang yang dilahirkan untuk menjadi inspirasi bagi banyak orang. Menebar semangat pantang menyerah yang menjalar hingga ke sum-sum tulang. Tak berlebihan rasanya jika yang akan kuceritakan ini adalah sosok guru yang telah lama menjadi salah satu inspirasi dalam hidupku. Beliau berhasil membakar semangat kami, murid-muridnya, tak berhenti, pun hingga hari ini.

Ingatanku kembali ke masa-masa yang kuhabiskan di tanah air beberapa tahun yang lalu. Selepas SMA, sebagaimana anak-anak sebaya di kampung halamanku, aku meninggalkan rumah untuk melanjutkan pendidikan ke Pulau Jawa. Sejak SD aku memang selalu bercita-cita untuk sekolah di ITB, padahal aku sendiri tak begitu paham apa, di mana, dan ilmu seperti apa yang diajarkan di sana. Cita-citaku ketika itu sangatlah dangkal dan lebih tergiring oleh kebiasaan sekitar. Aku pun diliputi rasa tidak percaya diri, lantaran hanya lulusan sekolah daerah, dan kampung halamanku pun tak banyak dikenal, belum seperti sekarang.

Singkat cerita, di akhir tahun 2004 aku seperti tiba-tiba saja sudah menjadi mahasiswa, masih sedikit mabuk akan euphoria menjadi mahasiswa baru dengan segala atribut yang melekat padanya. Saat itu aku belum berpikir tentang tanggung jawab sebagai manusia, dilahirkan dengan membawa misi yang tidak sederhana di dunia ini. Mungkin jangan jauh-jauh dulu, tanggung jawab sebagai individu pun ketika itu belum sepenuhnya terpatri dalam alam pikiran sadarku, apalagi tanggung jawab kepada keluarga, agama bahkan bangsa dan negara. Menjadi mahasiswa baru bukanlah hal yang mudah, jika tak pandai-pandai kita akan terlalu hanyut oleh euphoria, atau bahkan menjadi panik menemukan diri sendiri yang kalah bersaing dengan orang lain. Jauh tertinggal dan akhirnya harus rela pulang lewat pintu Annex (Gedung Rektorat ITB), alias drop out. Tingkat pertama kulalui dengan hasil lumayan, namun belum ada motivasi yang benar-benar "menggigit" untuk kujadikan alasan kuat bertahan di sana.

Kolam "Indonesia Tenggelam" - Kampus ITB
Kemudian aku dipertemukan Allah dengan sosok Pak Guru, Pak Hermawan, dosen mata kuliah Matematika Rekayasa, mata kuliah wajib yang ketika itu kuambil di semester tiga. Sejak perkuliahan pertama, ada sesuatu yang kurasakan berbeda dari sosok beliau.  Mulai dari gaya bicara, bahasa tubuh, dan gaya mengajarnya selalu membangkitkan semangat dan motivasi baru bagiku. Sampai pada suatu pagi, perkuliahan Pak Her hari itu menjadi salah satu hari paling bersejarah dalam hidupku yang masih kuingat sampai hari ini. Pak Her dikenal sebagai sosok dosen yang cerdas, santun, berjiwa kepemimpinan, dan relijius. Beliau adalah salah satu ahli nano technology  yang dimiliki Indonesia. Belum pernah aku melihat beliau marah. Namun pagi itu rupanya tingkah kami membuat beliau sedikit gusar. Pagi itu, setelah perkuliahan Pak Her, kami harus mengumpulkan PR untuk mata kuliah yang lain sebelum pukul 9. Selama perkuliahan, sebagian besar dari kami sibuk menyelesaikan PR, lalu bolak-balik keluar kelas untuk mengumpulkannya di kantor tata usaha. Pak Her tetap melanjutkan kuliahnya seperti biasa, lalu sampai pada suatu ketika beliau berhenti dan meminta kami semua untuk menutup buku dan mendengarkan beliau. Aku tahu ketika itu beliau menahan marah, namun yang keluar dari mulutnya adalah nasihat panjang penuh penyesalan akan sikap kami sepanjang pagi tadi, seperti seorang bapak yang dengan lembut menasihati anak-anaknya. Suara beliau timbul tenggelam. Aku seperti mendengarkan riwayat panjang perjuangan anak bangsa yang sangat kuat menancapkan cita-citanya untuk bermanfaat bagi banyak orang. Ketika menempuh pendidikan S2 dan S3 di Amerika, Pak Her pun sempat harus bekerja paruh waktu, mulai dari menjadi petugas cleaning service, memberi makan binatang percobaan di laboratorium Biologi sampai menjadi tukang parkir di stadion sepak bola kampus. Kata-kata beliau yang selalu kuingat adalah "Never ever surrender!"

Satu nasihat beliau yang menjadi titik awal perubahan besar dalam hidupku adalah nasihat beliau tentang pentingnya pendidikan bagi kami, kaum perempuan. Kata Pak Her, mau jadi apapun engkau nanti, sekolahlah setinggi-tingginya, jadilah perempuan secerdas-cerdasnya, karena generasi yang hebat lahir dari rahim perempuan-perempuan yang hebat pula. Beliau melanjutkan: "Saya bisa membayangkan, anak-anak yang sejak dalam buaian diasuh oleh ibu-ibu luar biasa itu nantinya akan menjadi apa". Senyumnya mengembang dengan nada penutup kalimat yang hampir-hampir tak terdengar. Seketika semangat dari sorot mata Pak Her membiusku hingga ke ubun-ubun. Sejak hari itu, aku bertekad untuk menjadi perempuan hebat seperti kata beliau.

Siang ini, di hari ke 7 Ramadhan, Pak Joko, seorang Pak guruku yang lain, membagikan tautan ceramah Pak Her di halaman Facebook-nya. Pak Her berbicara sebagai Ketua Asosiasi Masjid Kampus Indonesia. Kuliah singkat tak sampai 30 menit itu lagi-lagi berhasil memompa semangatku, judulnya pun lantang dan penuh energi: "Panggilan Konstitusi, Seruan Kitab Suci – Tanggungjawab Umat Islam dalam Membangun Peradaban Indonesia yang Unggul." Pertama-tama Pak Her memaparkan potensi Indonesia yang dianugerahi kekayaan yang sangat luar biasa, mulai dari kekayaan alam, budaya, wilayah yang luas dan strategis, serta jumlah penduduk yang sangat besar. Sejak lahir, sebagai bangsa kita sudah diberi tantangan dengan problem yang luar biasa kompleks. Tentunya kita akan bertanya, mengapa kita merupakan bagian dari negara yang sedemikian luar biasanya ini? Tujuan itu, sebenarnya dengan sangat cerdas telah dirumuskan oleh para pendiri negara ini, yang dituangkan dalam konstitusi, yaitu agar kita turut berperan secara aktif memelihara dan menjaga perdamaian dunia. Akan sangat efektif kita memikul tugas dan amanah tersebut jika kita telah mampu membenahi dan menyelesaikan persoalan di dalam negeri kita sendiri. Tugas dan amanah ini sebenarnya juga tertera di Al Qur’an, yaitu dalam Surat Al Baqarah ayat 143: "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu". 


Bukan Pak Her namanya kalau beliau tak mampu mengajak muridnya untuk menggantungkan mimpi setinggi-tingginya. Beliau bercerita tentang negara-negara yang sudah lebih dahulu unggul dalam peradaban dunia. Kita sebagai bangsa yang masih dipandang sebelah mata tak boleh sedikit pun ragu dan pesimis, bahwa pada suatu saat nanti kita akan mampu mewujudkan cita-cita luhur para pendiri negara ini untuk berperan aktif di level dunia karena kita sudah bisa menyelesaikan persoalan di dalam negeri. Mindset ini harus selalu hidup di dalam pikiran setiap warga negara, khususnya bagi kita yang beragama Islam karena hal itu sekaligus merupakan tugas suci yang diamanahkan oleh Al Qur’an. 

Untuk mewujudkan itu semua, pertama-tama, yang harus kita kuasai sebagai syarat perlu adalah 3 hal, yaitu sains, teknologi, dan seni. Namun syarat perlu ini harus dilengkapi pula dengan syarat cukup, yaitu karakter atau akhlakul karimah. "Knowledge is power, but character is more". Sehingga kekuatan yang dimiliki itu nantinya tidak digunakan secara sewenang-wenang. 

Berangkat dari amanah luar biasa ini, Pak Her kembali memaparkan persoalan-persoalan yang kini dihadapi bangsa Indonesia. Intinya bangsa kita tak pernah kekurangan masalah. Dari segala potensi yang sudah dipaparkan tadi, lalu bagaimana kita mengolah itu semua menjadi sesuatu yang berdaya guna untuk mewujudkan mimpi dari para founding fathers negeri ini sekaligus amanah dari kitab suci tadi? Untuk menjawab pertanyaan ini, tidak ada salahnya kita belajar dari bangsa-bangsa lain yang telah lebih dahulu berperan luar biasa dalam memajukan peradaban dunia. Dunia ini diisi oleh berbagai bangsa agar kita saling mengenal dan saling belajar satu sama lain. Lalu berturut-turut beliau bercerita tentang bangsa Jerman, Korea dan Amerika. Intinya kita bisa belajar banyak dari contoh-contoh tersebut dimulai dari adanya tekad untuk mentransformasi bangsa ini menjadi bangsa yang lebih maju, sejahtera, dan adil.

Semuanya harus dimulai dari sebuah keyakinan bahwa kita bisa melakukannya. Barangkali tidak perlu seluruh warga negara, tetapi cukup sekelompok kecil yang benar-benar mempunyai tekad yang sangat kuat, bersungguh-sungguh dan berdedikasi. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang diberikan nikmat lebih, salah satunya adalah kelompok kecil yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi.  Tanggung jawab mereka menjadi lebih besar untuk menggerakkan semua perubahan itu. Sampai di sini, aku tertegun dan merasa tertampar, bukankah aku juga menjadi bagian dari orang-orang yang beliau maksud?

Di akhir kuliah, beliau menekankan bahwa kita harus yakin, bahwa selama yang kita lakukan adalah untuk kebaikan, tidak hanya bagi diri kita sendiri tetapi juga untuk kemanusiaan, maka yakinlah semua mimpi dan cita-cita kita insyaAllah akan tercapai. Hanya dengan keyakinan itu kita berani melangkah. Kita membutuhkan karakter yang siap untuk bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja tuntas, bekerja mawas, bekerja yang berkualitas, dengan landasan integritas dan ikhlas.

Setengah jam pun berlalu dengan sangat singkat. Tak terasa mataku berkaca-kaca mendengarkan rangkaian nasihat beliau dan foto-foto tanah air yang sudah hampir 3 tahun aku tinggalkan. Aku teringat pertemuan terakhirku dengan Pak Her sebelum berangkat ke sini. Beliau menasihatkan kepadaku agar aku belajar dan berusaha sekeras-kerasnya. Kata Pak Her aku harus jadi orang cerdas dan tak boleh kalah dengan rekan-rekanku nanti, orang-orang Eropa. Pak Her juga sempat mengucapkan maaf dan terima kasih padaku karena telah bersedia meluangkan waktuku di kampus dalam 1 tahun terakhir sebelum keberangkatanku. Aku terdiam menahan haru, bukankah aku yang seharusnya meminta maaf dan berterima kasih kepada beliau? Bapak guru ini, sosok luar biasa yang duduk di depanku siang itu akan senantiasa menjadi inspirasi luar biasa dalam hidupku. Aku membuka kembali email balasan dari Pak Her yang beliau kirim kepadaku beberapa tahun yang lalu ketika aku baru tiba di Jerman. "Hesty, kalau pun ada pengalaman saya di US, sewaktu mengambil S3 dulu, yang mungkin bermanfaat adalah jangan menyerah sampai usaha terakhir dan selalu berdoa kepada Allah agar diberi jalan keluar yang terbaik dari masalah yang dihadapi". "Guruku, terima kasihku, semoga Allah senantiasa memberkahi hidupmu."

Link video kuliah di atas:

Berikut kukutipkan pernyataan yang pernah disampaikan seorang kawan:

748 languages
1340 ethnic groups
17480 islands
6 official religions
Length of the area is equal as from Paris to Moscow
Hold together as one nation, Indonesia

Isn't that incredible?

I used to think that "one motherland, one nation, one language" was not more than a jargon. But after I travelled to Switzerland where all announcements are in three languages (German, French and Italian) and so with Belgium which is divided into "French Belgium" and "Dutch Belgium", I realize now that Indonesia is a miracle. [Rihan Handaulah]

Bochum, 4 Juli 2014

Thursday, July 03, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 6 Ramadhan, Bertemu Kawan Lama, Control Engineering

Sejak memutuskan untuk melanjutkan studi selepas sarjana, sebenarnya aku sempat berakrab-akrab dengan bidang yang sebenarnya kurang kusukai, control engineering. Akan tetapi program magister yang dulu kuambil, sebagian besar kurikulumnya membahas tentang hal tersebut. Program yang dulu kuambil mempunyai singkatan nama yang charming, PINK (Program Instrumentasi dan Kontrol), juga menjadi nama salah satu dari 2 kelompok keahlian di Teknik Fisika. Lalu mengapa aku memutuskan untuk berakrab-akrab dengan bidang yang justru tidak kusukai? Begini ceritanya.

Di akhir semester 6 program sarjana Teknik Fisika, kami harus memutuskan untuk mengambil bidang keahlian apa yang nantinya akan terus diseriusi hingga mengambil Tugas Akhir di semester 8. Aku yang pada waktu itu masih bingung untuk memutuskan di antara 2 pilihan, bidang Proses Material atau Instrumentasi Medik, akhirnya memutuskan untuk mengambil yang ke dua. Laboratorium Instrumentasi Medik berada di bawah Kelompok Keahlian Instrumentasi dan Kontrol. Semakin jauh kami tenggelam di dalamnya, tergiring pula nasibku untuk mengambil program magister tadi. Sebenarnya penekanan yang kuambil lebih ke arah instrumentasi, bukan kontrol. Tetapi semasa perkuliahan di 2 semester pertama, tetap saja kami harus mengambil mata kuliah wajib yang sangat pekat berbau kontrol. 

Sejak masih di program sarjana, kalau bertemu mata kuliah kontrol, hidupku jumpalitan seperti tikus yang berusaha keluar dari lubang jarum, asal lulus. Di program magister pun tak jauh berbeda, seperti mengulang trauma masa lalu, namun tak juga jera. Melelahkan, tapi getir manisnya terasa pula. Aku masih ingat hari-hari yang kami lalui di minggu terakhir masa ujian akhir mata kuliah Kontrol Otomatik. Aku dan beberapa kawanku hanya tidur mungkin tak lebih dari 1 jam, selepas ujian kami pulang dengan wajah hampir seperti zombie. Tetapi nasib rupanya selalu menyimpan rahasia. Beberapa tahun kemudian atas rekomendasi dari Pak Yul, dosen pengampu Kontrol Otomatik dan salah seorang ahli control engineering di Teknik Fisika, akhirnya aku terdampar di sini. Ketika itu Pak Yul masih menjabat sebagai Atase Pendidikan di KBRI Berlin, beliau baru saja mengadakan kunjungan ke Ruhr Universität Bochum, universitas tempat beliau menamatkan program doktoralnya dulu. Kini aku pun seperti mengulang masa-masa  perjuangan beliau pada dekade 90-an di kota kecil ini.

Lalu hari ini, di hari ke 6 Ramadhan, aku mendapat sedikit kejutan. Sudah hampir 4 tahun aku tak berakrab-akrab dengan kontrol, aku pun sudah tak tahu lagi bagaimana kabarnya. Pagi ini, seorang mahasiswa master di Research Group kami mempresentasikan thesis-nya di depan kami. Tertegun aku membaca judulnya: "Design and Implementation of Adaptive Control for Blood Pumps". Sang mahasiswa yang sejak tadi berdiri di depan ruangan tiba-tiba berubah menjadi Pak Yul, bahasa Jermannya hampir-hampir seperti native, dari namanya kuduga dia berasal dari Iran. Serta merta ratusan istilah kontrol seperti termuntahkan dari kepalanya, mengambang di udara, lalu menari-nari dan tersenyum sinis ke arahku. Aku seperti dipertemukan dengan kawan lama, cinta yang dulu, tetapi masih sama indahnya.

Bochum, 3 Juli 2014

Wednesday, July 02, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 5 Ramadhan, Sahabat-sahabat Sepanjang Masa

Beberapa tahun yang lalu ketika pertama kali aku mulai mengerjakan Tugas Akhir sarjana di laboratorium, dipertemukanlah aku dengan sekelompok anak muda yang hingga hari ini menjadi sahabat-sahabat baikku. Kami menghabiskan sebagian besar waktu bersama, tak jarang hingga larut malam ketika eksperimen-eksperimen menunggu untuk dikerjakan. Jika tiba bulan Ramadhan, tak jarang pula kami masih berada di kampus saat waktu berbuka. Biasanya kami akan berbuka puasa bersama di Masjid Salman atau warung-warung makan di sekitar Jalan Gelap Nyawang. Lain waktu menjelang libur lebaran, Pak Supri kepala lab kami, Lab Instrumentasi Medik, akan mengajak kami berbuka puasa bersama di lab. Momen ini biasanya kami jadikan ajang berkumpul bersama sebelum sebagian besar dari kami mudik ke kampung halaman masing-masing.

Assembly Point di kampus ITB
Hari-hari yang kami lalui bersama sedikit banyak telah mengubah sebagian besar hidupku dalam beberapa tahun belakangan ini. Aku pun belajar banyak hal dari mereka, tak cukup pula waktu rasanya jika sudah berkumpul bersama, mulai dari mengerjakan hal-hal serius sampai hal-hal paling konyol. Pernah pada suatu periode, ITB mendirikan rambu-rambu penanda untuk berkumpul pada keadaan darurat atau Assembly Point di sejumlah titik di wilayah kampus. Kalau aku tak salah ingat tersebar di 21 titik. Entah angin apa yang membawa kami, pada suatu hari tercetus ide untuk berfoto bersama di setiap titik tersebut. Hampir setiap akhir pekan kami berkeliling kampus dan mengabadikannya dalam foto-foto tak penting, kami sampai hampir hafal di mana letak titik-titik tersebut. Kegiatan konyol tak penting ini lalu kami namakan “Wisata Assembly Point”. Ketika itu entah serius atau bercanda kami sering berseloroh, suatu hari nanti kami harus melanjutkan wisata Assembly Point ini sampai ke luar negeri.

Assembly Point di Ruhr Universität Bochum
Sekian tahun berlalu, nasib pun membawa kami sampai ke negeri-negeri yang jauh. Kami harus berpisah karena mimpi-mimpi yang dulu kami rajut bersama, mimpi untuk sekolah lagi. Dalam 4 tahun terakhir ini kami hidup terpisah-pisah, aku di Bochum, sahabat-sahabatku yang lain memilih ke Bremen (Jerman), Nijmegen (Belanda), London (Inggris), Dallas (Amerika Serikat), Manchester (Inggris), Tsukuba (Jepang), dan beberapa memilih tetap berada di tanah air. Saat tiba bulan Ramadhan seperti ini, meskipun kami tak bisa berbuka puasa bersama lagi, tetapi keseharian yang kami bagi dalam group chatting cukuplah menggantikan kebersamaan itu. Di saat sahabat-sahabatku di tanah air berbuka puasa, kami yang di Eropa masih merasakan terik panas tengah hari, lalu yang di Amerika baru lepas waktu subuh untuk memulai puasanya, sementara yang di Jepang sudah akan siap-siap sholat Tarawih. Kebiasaan berfoto di Assembly Point  pun masih kami lanjutkan sampai sekarang. Suatu hari nanti akan tiba saatnya ketika kami diizinkan Allah untuk kembali bersama. Lalu, serpih-serpih kenangan itu akan kami susun mozaiknya pada suatu masa ketika kami tak lagi muda, sejuta cerita tentangku, tentang kita. 

Bochum, 2 Juli 2014

Tuesday, July 01, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 4 Ramadhan, Berkawan Jarum dan Buku-Buku

Hari ini adalah hari pertama Ramadhan tahun ini yang kuhabiskan di kampus. Suasana pagi, kampus masih sepi, baru Steffi dan Lily yang sudah duduk rapi di depan komputer, di kantor mereka masing-masing. Awal pekan ini pikiranku melayang-layang memikirkan tumpukan jarum anestesi dan hasil eksperimen kami dalam sebulan terakhir ini. Data-data menumpuk, menunggu untuk diolah dan "diterjemahkan". Aku teringat pesan Supervisorku pada suatu kesempatan: "Riset itu bukan hanya sekedar eksperimen yang berulang-ulang. Tapi lebih dari itu, kita harus mampu mencari rahasia dibalik fenomena yang kita temukan". Aku menarik nafas panjang, inilah salah satu konsekuensi terdalam yang harus dihadapi peneliti, bidang apapun itu. 

Seorang kawan pernah pula berujar, aku sudah lupa redaksinya, tetapi kurang lebih seperti ini: "Menjadi Doktor adalah gerbang yang membuka kepada ketidaktahuan yang lebih dalam". Semakin dalam kita berpikir dan terus berpikir mengenai suatu fenomena, semakin paham pula kita bahwa sesungguhnya sangat banyak hal-hal yang tidak/belum kita ketahui. Menjadi seorang peneliti menuntut kesabaran dan ketekunan. Tak jarang kami harus mengulang-ulang eksperimen yang sama, berkali-kali. Tak jarang pula aku terbangun di tengah malam buta, memikirkan paper yang sepanjang siang tadi kubaca. Maka, bila tak ada keindahan seni di dunia ini, otakku akan menjadi timpang dan tidak seimbang. Kamarku tak menggambarkan kehidupanku sebagai mahasiswa, semua buku-buku terkait riset dan kawan-kawannya kutinggalkan di ruangan kantor. Yang tersisa di kamarku hanya buku-buku sastra, kamera dan perlengkapannya, serta poster-poster dari dunia antah berantah. Ironis? Mungkin.


Aku mulai berpikir, betapa ruginya hidupku bila hanya sampai di situ kuhabiskan lebih dari 20 tahun bergulat dengan bangku sekolah dan buku-buku, sedangkal ilmuku yang memang sangat dangkal, tak ada bandingnya dengan rahasia Allah di alam semesta ini. Lalu, bagaimana bila sekonyong-konyong giliranku tiba? Kata ayah, ibu dan abangku, kata kuncinya adalah "ibadah". Seberapa jauh apa-apa yang kukerjakan ini dapat mendatangkan kebaikan, sejauh mana aku belajar menjadi tekun, sabar dan ikhlas, serta sejauh apa aku menghabiskan sisa usiaku untuk kemanfaatan bagi orang lain. 

Beberapa tahun yang lalu ketika masih di Bandung, hari-hari terakhir Ramadhan biasanya kuhabiskan di kampung halaman, bersama ayah ibuku. Hanya kurang lebih 2 minggu dalam setahun. Biasanya dalam obrolan-obrolan ringan bersama mereka, sering tercetus mimpi-mimpi yang ada dalam kepalaku. Beruntung, sejak kecil aku tak pernah diharuskan oleh mereka untuk menjadi ini dan itu. Kini aku berada jauh dari kampung halaman, mimpi-mimpi masa lalu itu harus kujalani satu persatu. Cinta dari keluarga, saudara, para guru dan kawan-kawanku tak pernah bisa kubalas sampai mati. Kepada harum Ramadhan di musim panas ini, kutitipkan maaf dan terima kasihku untuk mereka, mereka yang telah membuatku menjadi aku.

Bochum, 1 Juli 2014

Monday, June 30, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 3 Ramadhan, Memori Pasar Ramadhan dan Baju Lebaran

Ramadhan tak jarang berbelok tujuannya bila kita tak pandai-pandai menahan diri. Di tanah air, kecenderungan perilaku konsumtif di masyarakat justru semakin menjadi-jadi saat Ramadhan tiba, terlebih menjelang hari raya. Samar-samar kuingat suasana pasar Tanjongpandan yang selalu ramai, apalagi menjelang waktu berbuka. Makanan yang entah dari jenis apa saja melimpah ruah, dijual oleh para pedagang bahkan sampai ke pinggir-pinggir jalan. Ruas-ruas jalan utama padat oleh kendaraan dan pejalan kaki, begitulah suasana khas pasar Ramadhan. Sejak berada di sini, aku sudah lama tak merasakan jajanan pasar khas bulan puasa. Tapi lantaran pencernaanku yang memang sering bermasalah, sejak masih di Indonesia pun jarang-jarang sekali aku menikmati jajanan pasar dan berbagai jenis kolak serta minuman khas untuk berbuka puasa.

Menjelang hari raya, suasana pasar semakin ramai, tak hanya untuk tujuan konsumsi makan minum. Tiba pula saatnya ketika orang-orang mulai sibuk mempersiapkan busana untuk hari raya. Pedagang pakaian sudah mempersiapkan stock jauh-jauh hari, ditambah pula pedagang-pedagang dadakan yang menggelar lapak dagangannya di pasar-pasar Ramadhan. Pakaian dari jenis paling murah sampai paling mahal, untuk anak-anak, remaja, hingga orang dewasa lengkap tersedia. Aku sudah tak ingat, kapan terakhir kali aku dibelikan baju lebaran oleh orang tuaku, mungkin belasan tahun yang lalu. Setelahnya aku tak pernah mengkhususkan waktu untuk membeli pakaian menjelang hari raya, sesuai kebutuhan saja.

Soal pakaian ini aku punya kenangan tentang rasa bersalah pada ibuku. Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentunya Mamak ingin aku menjadi sebenar-benarnya anak perempuan. Tak terbayang kecewanya Mamak ketika aku dulu tak pernah mau memakai pakaian-pakaian cantik untuk anak perempuan yang beliau belikan. Model pakaian yang hanya mau kupakai ketika kecil adalah model pakaian yang tidak “keperempuan-perempuanan”, polos tak banyak corak, apalagi berenda-renda. Nasib pakaian-pakaian itu selalu berakhir di lemari sepupu-sepupu atau tetangga kami, ketika sampai tak cukup lagi untuk kupakai dan tak pernah sekali pun aku memakainya. Tapi, Mamak tak pernah menyerah, pakaian-pakaian itu selalu beliau beli dengan harapan yang selalu sama, bertahun-tahun sampai aku tak ingat lagi berapa jumlahnya dan Mamak tak pernah mengeluh padaku. "Maafkan aku, Mak". 

Hari-hari belakangan ini, ketika aku berada jauh dari rumah, pakaian menjadi hal lain dan tak jarang meninggalkan pengalaman-pengalaman berkesan. Di negeri ini, pakaian muslimah menjadi semacam identitas, sehingga aku dikenali orang asing sebagai seorang muslim, pun dengan segala macam embel-embel yang melekat pada identitas itu. Aku tak mau ambil pusing dengan anggapan orang lain tentang citra Islam yang negatif, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri dan berusaha sesuai kemampuanku untuk menjadi “duta” Islam yang baik. Aku pun tak mau berburuk sangka pada orang asing yang menganggap orang Islam ini dan itu. Alhamdulillah, hampir 3 tahun aku merantau di sini, hanya kesan baik yang kuterima dari hampir setiap orang asing yang aku temui, baik secara acak di jalan-jalan, atau yang kemudian menjadi orang-orang yang kerap berinteraksi denganku. 

Pernah suatu hari aku bertemu rombongan "preman" di kereta. Sekitar 6 orang usia 20an berbusana punk, sudah setengah mabuk, masing-masing dengan rokok mengepul dan botol minuman keras. Aku duduk sendiri di sudut bangku kereta, lalu rombongan preman tadi tiba-tiba datang ke arahku dan mengisi 3 bangku kosong tepat di depan dan sampingku. Satu orang lagi, perempuan yang tampaknya sudah terlalu mabuk hampir rebah ke arahku. Aku pun membantunya untuk duduk kembali. Dua orang yang duduk di depanku juga perempuan, sedangkan sisanya laki-laki memilih berdiri di sepanjang lorong. Aku berusaha memasang wajah ramah. Dua orang perempuan tadi mengajakku berbincang-bincang, berkali-kali mereka meminta maaf karena temannya yang mabuk tadi sudah mulai meracau. Lalu, momen yang paling membuatku terharu adalah ketika mereka meminta izin dengan sangat sopan untuk merokok, lalu kukatakan pula dengan sopan bahwa aku tak tahan asap rokok dan meminta mereka untuk mematikan rokok yang tadi sudah terlanjur disulut. Seketika, mereka semua menurut dan kembali meminta maaf. Rombongan tadi hanya melewati 2 stasiun dan turun lebih dahulu, masing-masing dari mereka melambaikan tangan sambil tersenyum ke arahku, lalu meminta maaf, mengucapkan terima kasih dan tak lupa mengucapkan "Schönes Wochenende!" "Selamat berakhir pekan!". Lalu kubalas salam mereka sambil tersenyum. Aku pun teringat pada Bapak penjahit langgananku di Bandung dulu yang menjahit kerudung yang ketika itu aku kenakan. "Selamat berpuasa, Pak". Aku tahu pasti sekarang beliau sedang sibuk mengerjakan pesanan jahitan yang sering menumpuk menjelang lebaran.  

Bochum, 30 Juni 2014