Sunday, July 20, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 23 Ramadhan, Resep Akhir Pekan, Ikan Buncis Pedas

Ramadhan akhir pekan kali ini, aku ingin berbagi resep masakan yang kumodifikasi sendiri, ikan buncis pedas. Sebagai anak melayu pesisir, aku dibesarkan bersama laut dan ikan menjadi makanan utama keluarga kami. Resep sederhana kali ini terinspirasi dari cuaca panas beberapa hari ini yang telah mengubah Bochum layaknya kampung halamanku sendiri, pesisir Belitong yang sepanjang tahun tersiram panas matahari khatulistiwa. Berikut bahan-bahan dan cara memasaknya.

Bahan-bahan:
1. Ikan (kali ini aku menggunakan ikan dorade).
2. Buncis
3. Minyak goreng
4. Daun jeruk
5. Tomat kecil (tomat cherry)

Bumbu-bumbu:
1. Cabe merah keriting
2. Bawang merah
3. Bawang putih
4. Terasi
5. Lengkuas (memarkan)
6. Garam
7. Gula

Cara memasak:
  1. Haluskan semua bumbu, kecuali lengkuas. Tumis hingga harum, tambahkan gula, garam dan daun jeruk.
  2. Masukkan ikan dorade yang sudah dipotong-potong, tambahkan sedikit air.
  3. Masukkan potongan buncis (1 batang dipotong menjadi 2 bagian saja) dan tomat.
  4. Tutup wajan hingga ikan dan buncis empuk (kira-kira 15 menit dengan api sedang). Ikan buncis pedas siap dihidangkan dengan nasi putih hangat.
Bochum, 20 Juli 2014

Saturday, July 19, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 22 Ramadhan, Aku dan Teknik Fisika

Aku masih teringat, malam itu selepas magrib, aku dan abang harap-harap cemas menunggu pengumuman SPMB (Seleksi Peneriman Mahasiswa Baru) di internet. Aku sudah pasrah, tanganku mulai dingin. Kuketikkan nomor ujianku satu per satu, lalu serta merta di layar monitor muncul deretan angka "250945", kode jurusan Teknik Fisika. Aku menulis jurusan Teknik Sipil sebagai pilihan ke dua, lantaran aku paling suka memperhatikan konstruksi jembatan yang kokoh dan jalan raya yang berkelok-kelok.

Sebenarnya, aku memilih Teknik Fisika sebagai pilihan pertama bukan karena mengenal apa itu Teknik Fisika. Sepanjang masa persiapan SPMB 2 bulan sebelumnya, tak pernah terlintas di pikiranku untuk memilih jurusan asing ini. Niat awalku dulu ketika pertama kali meninggalkan rumah, aku ingin mendaftar di jurusan Arsitektur, lalu berganti lagi menjadi jurusan Teknik Penerbangan, Teknik Elektro, berubah lagi menjadi Matematika, lalu yang terakhir Teknik Sipil. Berubah-ubah tak tentu arah, lalu pada suatu sore kutanyakan pada guruku, satu per satu tentang jurusan-jurusan yang kuminati tadi, terakhir tiba-tiba kutanyakan tentang Teknik Fisika. Dari sekian banyak penjelasan itu, hanya Teknik Fisika yang tidak kumengerti apa isinya, guruku menyebut-nyebut tentang akustik dan teknologi nano, istilah-istilah yang masih terlalu asing di telingaku ketika itu.

Lalu seperti tiba-tiba saja aku sudah menjadi mahasiswa. Ketika itu Jurusan Teknik Fisika hanya dibuka di 4 institusi pendidikan di seluruh Indonesia: ITB, ITS, UGM, dan Universitas Nasional. Lalu menyusul beberapa tahun kemudian di Universitas Telkom (dulu STT Telkom). Aku menjalani hari-hari sebagai calon insinyur bersama kawan-kawanku. Cita-citaku ketika itu pun terus-menerus berubah. Suatu hari aku ingin menjadi insinyur, selanjutnya tiba-tiba aku ingin sekali membangun sebuah biro arsitek, lalu kemudian berganti lagi, aku ingin menjadi peneliti, lalu entah cita-cita seperti apa lagi yang melintas-lintas dalam pikiranku ketika itu.

Kehidupan di kampus begitu dinamis, tempat berpusarnya arus deras berbagai macam ilmu pengetahuan, pandangan hingga ideologi. Tempat berbagai ilmu dikicau-kicaukan, dipikirkan, dipelajari, bahkan disombongkan. Di Teknik Fisika pula aku mengenal sahabat-sahabatku di lab medik untuk pertama kalinya. Pagi itu, pagi yang cerah di bulan Agustus, kuperhatikan satu persatu wajah kawan-kawanku. Dari 118 orang kawan sejurusanku, hanya 19 orang mahasiswinya. Wajah kami masih polos, lidah kami masih kental berbau kampung halaman, dengan logat khas dari berbagai daerah.

Kami semakin terbiasa ketika orang-orang bertanya: "Kuliah jurusan apa, Dek?" "Teknik Fisika, Bu". Lalu dijawab dengan nada agak panjang: "Oooh, Fisika…". Lalu, kami akan merasa perlu menjelaskan apa itu Teknik Fisika kepada mereka. Aku tidak tahu, apakah generasi mahasiswa Teknik Fisika sekarang masih mengalami hal serupa hingga saat ini. Lalu, apa sebenarnya Teknik Fisika?

Seorang dosenku pernah becerita, bahwa Teknik Fisika itu adalah tentang "mengukur" atau "measure". Mengukur apa? Mengukur apa saja yang perlu diukur. Sehingga seorang sarjana Teknik Fisika harus memahami segala macam fenomena fisis dari berbagai lintas ilmu keteknikan atau engineering sekaligus matematika untuk keperluan pengukuran tersebut. Pola pendidikan berbagai cabang ilmu teknik yang terbagi sekarang umumnya menghasilkan lulusan-lulusan dengan disiplin ilmu yang spesifik dan terspesialisasi. Akan tetapi, hubungan antara berbagai ilmu rekayasa dan teknologi tadi dengan ilmu-ilmu dasar murni dan ilmu dasar terapan belum terjembatani. Di sinilah sebenarnya peran Teknik Fisika, sebagai jembatan untuk mempercepat riset dan pengembangan ilmu-ilmu dasar serta menunjang pemanfaatannya secara lebih efektif  di sektor-sektor industri dan dunia usaha.

Oleh karena itu, kami mempelajari berbagai ilmu dasar keteknikan dan fisika dalam spektrum yang relatif lebar, termasuk pula bahasa penunjangnya, matematika. Tak heran, lulusan Teknik Fisika yang melanjutkan ke pendidikan Pascasarjana dapat masuk ke berbagai jurusan teknik yang sangat beragam, demikian pula bagi lulusannya yang memilih langsung untuk bekerja. Lulusan Teknik Fisika itu ibarat pisau "tumpul" dan panjang yang menunggu untuk dipotong, diambil bagian yang disukai lalu ditajamkan kembali sesuai kebutuhan.


Hari ini, 19 Juli, 6 tahun yang lalu, yang juga bertepatan dengan hari Sabtu, aku dan kawan-kawanku diwisuda. Masih mengenakan toga, hari itu kami diarak berkeliling kampus dengan sebuah mobil pick up bak terbuka, dari halaman belakang Gedung Sabuga lalu disambut sorak sorai kerumunan mahasiswa yang sudah menyemut di depan Gerbang Ganesha. 10 tahun berlalu hanya seperti mimpi. Rasanya baru kemarin aku berkenalan dengan kawan-kawan baru. Kini kawan-kawanku sudah bertebaran hampir di seluruh benua, mengejar mimpi mereka, mewarnai dunia dengan Teknik Fisika.

Bochum, 19 Juli 2014

Friday, July 18, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 21 Ramadhan, Memori Bratislava, Slovakia

Musim panas seperti baru menampakkan wajahnya yang malu-malu sejak awal Ramadhan tahun ini. Hawa panas, pengap dan gerah menyergap dari celah-celah jendela sejak malam tadi. 32 derajat Celcius ketika kulirik penunjuk cuaca di komputerku, pantas saja. Begitu jauhnya perbedaan temperatur udara antara musim panas dan musim dingin yang dirasakan oleh orang-orang di negara 4 musim. Aku jadi teringat perjalanan bersama sahabatku Mira di bulan Desember 2012 yang lalu, ketika musim dingin mulai menggigit, menyelimuti lamat-lamat bumi Eropa Timur.

Kami menumpang bis milik sebuah perusahaan transportasi Ceko dari Prague menuju Bratislava. Perjalanan sekitar 4 jam itu terasa lebih lama dari seharusnya, entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Salju mulai turun perlahan, lalu rinai-rinainya seperti tumpah ruah berhamburan dari langit. Kami yang memilih tempat duduk paling depan, tepat di belakang sopir, bisa menyaksikan langsung penampakan jalan raya yang kami lalui sepanjang perjalanan. Seperti di negeri dongeng antah berantah, aku ingat perjalanan sore itu, bis yang membawa kami seperti tertelan kabut salju. Jarak pandang mungkin tak lebih dari 3 meter. Pak sopir melambatkan kecepatan bis, di kiri kanan, kulihat samar-samar padang-padang yang tertutup salju, muram, kelabu berselimut beku.

Singkat cerita, sampailah kami di Bratislava, di sebuah stasiun bis yang sepi dan tampak tak begitu terawat. Tumpukan salju yang setengah mencair bercampur tanah kecoklatan membuat suasana terminal semakin kotor. Aku merapatkan retsleting jaket dan mengenakan sarung tanganku, angin musim dingin kali ini rupanya tak kalah mengiris. Tak ada catatan khusus mengenai kota tua di jantung Eropa Timur ini, sebelum kami menginjakkan kaki di sana, di sebuah negara “baru” pecahan Cekoslovakia. Seperti umumnya kota-kota di Eropa, Bratislava juga relatif sepi di hari natal.

Pegunungan di sekitar Devin Castle, Bratislava
Kami menginap di sebuah hostel di pusat kota, tak jauh dari gedung kedutaan Jerman dan Amerika Serikat. Pemilik hostel ini adalah seorang bapak setengah baya yang sangat ramah dan fasih berbahasa Inggris. Karena sedang liburan natal, semua pegawai hostel mengambil cuti. Semua kamar pun kosong, sehingga kami seperti menyewa sebuah hostel tak berpenghuni. Sang bapak pemilik hostel tinggal agak jauh dari situ, sehingga dia hanya datang setiap pagi untuk menyiapkan sarapan kami, selebihnya hanya kami berdua, menginap di bangunan sebesar rumah 3 lantai itu. Kami bebas menggunakan ruangan mana saja yang kami suka dan kami dipinjami kunci sendiri.

Di lantai bawah, sekaligus lobi tempat menerima tamu, terdapat Cafe dengan interior yang unik, atau kalau tak boleh dibilang seram. Betapa tidak, 3 boneka nenek sihir menggantung di langit-langitnya, menyeringai di bawah temaram lampu. Aksesoris lainnya berupa barang-barang antik dan koleksi uang kertas dari berbagai negara yang ditempel di salah satu dindingnya. Kami menemukan pecahan 500 Rupiah bergambar orang utan yang bergaya bersama wajah-wajah tokoh dari berbagai negara pada pecahan uang lainnya.

Di hari kedua, pegawai hostel sudah kembali bekerja. Seorang bapak yang membantu pemilik hostel mengelola Cafe ternyata tak kalah ramah, namun dia tak bisa berbahasa Inggris. Aku mencoba-coba saja mengajaknya berbicara dalam bahasa Jerman, dan ternyata dia menimpalinya. Transportasi umum di Bratislava adalah bis, tram dan taksi. Slovakia merupakan salah satu negara Eropa Timur pertama yang menggunakan mata uang Euro. Kesan semrawut masih terlihat di beberapa sudut kota. Namun, kesan paling dalam dari kunjungan kami ke kota di tepian Danube ini adalah keramahan penduduknya. Beberapa kali kami dibantu oleh orang-orang yang tak kami kenal ketika kami terlihat bingung melihat jadwal bis di sebuah terminal. Walaupun sebagian besar dari mereka tak bisa berbahasa Inggris, namun mereka berusaha membantu kami, bahkan dengan bahasa isyarat. Pernah juga pada suatu pagi, seorang kakek menawarkan diri untuk memotret kami tak jauh dari jembatan Novy Most yang membelah Danube, juga dengan bahasa isyarat. Ternyata keramahan pun tak ubahnya kejujuran, mata uang yang berlaku di mana-mana, Kawan. 

Bochum, 18 Juli 2014

Thursday, July 17, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 20 Ramadhan, Kampung Halaman

Ramadhan hampir memasuki babak ke tiga, babak terakhir menuju hari raya. Ada perasaan sedih bercampur bahagia. Sedih, karena hanya tinggal beberapa hari lagi kita akan berpisah dengannya. Tapi sekaligus bahagia, karena tak lama lagi akan tiba pula hari raya. Dulu, ketika aku masih di Bandung, di minggu-minggu terakhir bulan Ramadhan, aku sudah bersiap-siap untuk pulang ke kampung halaman. Aku biasanya menumpang mobil travel yang berangkat pagi buta, lalu sampai di bandara Soekarno-Hatta ketika kantuk belum reda. Penerbangan dari Jakarta ke Tanjongpandan tak memakan waktu lama, 45 menit saja.

Tanjongpandan, tempat kelahiranku itu, bagiku selamanya tak pernah berubah. Wangi paginya, terik mataharinya, debu jalanannya, riuh pasarnya, selalu menyimpan kenangan yang tak musnah dilindas zaman. Sebenarnya rutinitas mudik bagiku lebih dari sekedar pulang. Bukan hanya menemukan rumah, tapi lebih dari itu, aku ingin menemui aku, diriku sendiri di masa lalu, yang belum hanyut oleh gelombang pasang. Aku yang hanya mengenal batas dermaga sebagai ujung dunia. Aku yang hanya tahu kerontang kemarau dan hujan yang tumpah ruah memenuhi sungai, lalu dihanyutkan mimpi menuju muara.

Perairan Pulau lengkuas, Belitong
Aku ingin menemui berupa-rupa kesederhanaan yang disembunyikan zaman dari hiruk pikuk kebaruan. Meskipun tak bisa terlalu sering pulang, aku bersyukur masih memiliki kampung halaman. Kampung halaman adalah representasi semangat yang mula-mula, yang muncul pada pagi jingga nan teramat muda. Kampung halaman adalah representasi rindu, yang tumbuh di sela-sela ombak yang terhempas mengharu biru. Kampung halaman adalah tempat kembali, bingkai yang menunggu keping-keping mozaiknya tersusun kembali, suatu hari nanti.

Bochum, 17 Juli 2014

Tuesday, July 15, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 18 Ramadhan, Kartu Pos dari Texas

Membuka kotak surat selalu menjadi kebiasaan menyenangkan bagiku. Walaupun sedang tidak menunggu surat atau paket, kejutan-kejutan yang tak jarang kutemui di dalam kotak surat menjadikan rutinitas ini tak pernah membosankan. Sore kemarin, sepulang dari kampus, kutemukan selembar kartu pos bergambar bunga tergeletak di dalam kotak suratku. Setelah kubaca ternyata dikirim jauh melintasi samudera, dari Amerika.

Kartu pos cantik itu tepatnya bergambar sebuah buldozer yang teronggok di padang bunga bluebonnet, bunga khas musim panas yang banyak tumbuh di Negara Bagian Texas. Aku tersenyum membacanya. Dalam hatiku, kartu pos ini benar-benar merepresentasikan karakter pengirimnya, tomboy tapi sekaligus feminin. Uple, begitu kami biasa memanggilnya, pertama kali kukenal ketika dia baru memulai Tugas Akhir sarjananya di lab kami, lab Instrumentasi Medik, sekitar 4 tahun yang lalu. Uple sebenarnya berasal dari gedung sebelah, Jurusan Biologi, bukan Teknik Fisika. Tetapi kerjasama yang sudah terbangun sejak satu tahun sebelumnya antara lab kami dengan salah satu lab di Biologi telah mengantarkan Uple sejak saat itu menjadi sahabat sepermainan kami.

Aku teringat pada diriku sendiri bertahun-tahun sebelumnya ketika pertama kali bertemu Uple. Gadis ini sekilas tak tampak seperti perempuan kebanyakan seusianya. Pakaiannya lebih seperti anak laki-laki. Namun siapa sangka, setelah bertahun-tahun aku bersahabat dengannya, kuketahui bahwa perasaan Uple halus luar biasa. Uple dibesarkan sebagai anak tunggal dari orang tua yang keduanya adalah polisi. Aku yang sejak kecil sangat tertarik dengan hal-hal berbau militer, selalu tersenyum mendengar cerita-cerita Uple tentang masa kecilnya. Bagaimana pleton-pleton taruna Polri, kendaraan-kendaraan militer dan senjata menjadi kesehariannya. Cerita-cerita yang didengar Uple sejak masa kecilnya adalah tentang bagaimana ibunya mengurus korban-korban tindak kriminalitas, terutama perempuan dan anak-anak, bagaimana ibunya menghadapi para pelanggar lalu lintas di jalan raya, atau tentang bagaimana ayahnya terlibat dalam operasi penangkapan buronan berbagai tindak kejahatan. Lingkungan seperti ini telah membentuk karakter Uple menjadi seorang pemberani.  

Salah satu hal yang kukagumi dari sahabatku ini adalah sifat kemandiriannya. Walaupun lahir sebagai anak semata wayang, tak pernah ada kesan manja dan keras kepala yang tampak darinya, dua karakter yang aku sendiri pun sangat sulit menghilangkannya jika berinteraksi dengan orang-orang terdekat. Meski usianya lebih muda, sesungguhnya Uple berpikir jauh lebih dewasa. Tahun-tahun terakhirku di Bandung banyak kuhabiskan bersama Uple. Kami mengelilingi pelosok Bandung dengan sepeda motornya yang legendaris itu. Sepeda motor ini juga telah mengantar Tante, sahabat kami yang lain, ke sana ke mari, menerobos hujan, panas, dan malam yang dingin.

Uple, sama sepertiku dan beberapa sahabat kami yang lain, punya cita-cita untuk merantau ke tempat-tempat yang jauh dan merasakan pengalaman menuntut ilmu di negeri orang. Fase-fase pencarian ini kami lalui dalam proses yang tidak mudah. Penolakan demi penolakan tak jarang membuat semangatnya sedikit surut, tetapi cita-cita yang sudah tertanam sejak lama membuatnya tak menyerah. Aku dan beberapa sahabatku merantau lebih dahulu ke Eropa. Dia masih harus bersabar menunggu gilirannya tiba.

Lalu pada suatu sore, aku menerima kabar gembira. Uple mengabariku bahwa dia diterima di salah satu universitas di Amerika, tinggal menunggu beasiswa. Untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjana di luar negeri, tak jarang urusan beasiswa ini justru menjadi kunci. Banyak kawan-kawanku yang sudah diterima di universitas, namun urung untuk memulai studinya lantaran tak memiliki beasiswa. Uple melamar ke salah satu lembaga beasiswa yang prestisius dari Amerika, Fulbright. Aku yakin seyakin-yakinnya dia akan diterima, karena aku tahu bagaimana kemampuannya. Namun, sebagai orang beragama, kami tetap berusaha, menunggu dan menyerahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa.

Nasib memang telah merentangkan sayap-sayapnya, penuh misteri sehingga kita hanya bisa menduga-duga. Perjalanan panjang meraih cita-cita sungguh tak akan sia-sia. Ada banyak peluh dan air mata yang senantiasa mengiringinya. Musim panas tahun lalu, Uple akhirnya berangkat ke Amerika untuk memulai studi S2-nya dalam bidang neuroscience di University of Texas at Dallas. Dalam bulan-bulan terakhir sebelum keberangkatannya, aku menerima kabar dari Vebi bahwa kini Uple memutuskan untuk mengenakan pakaian muslimah. Uple akan menjadi duta, representasi muslimah Indonesia yang akan merantau untuk menuntut ilmu di Amerika. Dialah Ulfa, sahabatku yang mengajarkanku akan banyak hal, tentang hidup, keberanian dan cita-cita.

Bochum, 15 Juli 2014 

Monday, July 14, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 17 Ramadhan, Hari-Hari Pertama Masuk Sekolah

Hari ini, di hari ke 17 Ramadhan yang jatuh bertepatan dengan hari senin adalah hari yang istimewa. Setidaknya bagi beberapa sahabat, sanak saudara, dan handai taulanku yang memiliki anak berusia sekitar 6 hingga 7 tahun. Hari ini adalah hari pertama anak-anak mereka masuk Sekolah Dasar, sebuah titik awal perjalanan panjang yang akan mereka tempuh setidaknya dalam 12 tahun ke depan. Sebagian ada pula yang sudah mengawali lebih dahulu sekitar satu pekan.

Tidak seperti di Jerman, anak-anak di Indonesia, mulai dari pendidikan dasar hingga sekolah menengah diwajibkan memakai seragam, lengkap dengan topi dan dasi. Aku masih ingat wangi kain pakaian seragam yang baru dibeli ibuku di Pasar Dalam, Tanjongpandan. Pasarnya pun sekarang sudah tak ada lagi, sudah berubah menjadi area taman dan Tugu Bundaran Satam yang menjadi ikon Kota Tanjongpandan. Rok merah model lipat-lipat, kemeja putih yang kerahnya masih kaku dan baru sedikit lembut setelah beberapa kali dicuci, dasi dengan tali karet yang masih sempit mencekik leher, sepatu baru yang masih agak kebesaran, lalu topi yang harus diberi nama di bagian dalamnya karena rawan tertukar. Seragam SD adalah seragam yang paling kuingat seumur hidupku, seragam penuh kenangan.

Di hari pertama masuk SD dulu, aku didaftarkan orang tuaku di SD yang terletak di depan rumah kakek, SD Negeri 9 Tanjongpandan, SD yang berbeda dengan abang. Tiga tahun sebelumnya abang didaftarkan ayah di SD PN Timah, yang kemudian menjadi SD Negeri 39 Tanjongpandan. Memori hari pertama yang paling kuingat adalah ketika kami, murid-murid kelas 1 dikumpulkan oleh guru kelas kami, Bu Emi, untuk difoto satu per satu. Pas foto yang kemudian akan ditempel di halaman pertama Buku Rapor kami. Foto itu masih disimpan hingga hari ini oleh ibuku, wajahku tegang dan agak cemberut, karena kuingat banyak sekali anak-anak lain yang menangis di hari istimewa itu. Aku gusar melihat tingkah mereka.

Pelajaran yang paling kusukai sejak pekan pertama kelas 1 adalah Berhitung dan Menggambar. Pelajaran-pelajaran lain aku kurang suka. Aku ingat dulu ketika guru kami memberikan soal ulangan untuk pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila), aku protes dan tak mau mengerjakan sama sekali. Entah apa yang ada dalam pikiranku ketika itu. Protesku rupanya terus berlanjut ketika aku hanya mendapat peringkat kelas urutan ke 11, padahal aku yakin, nilaiku tak seburuk itu. Siang itu, aku pulang dengan wajah cemberut, aku minta pindah. Kalau tak dikabulkan, aku mengancam akan mogok sekolah. Ayahku kalang kabut, maka sejak kelas 2 aku dipindahkan ayah ke SD Negeri 39, SD yang sama dengan abang.

Ternyata aku lebih betah di sekolah yang baru. Jumlah murid dalam 1 kelas tak sebanyak waktu di sekolah yang lama. Kami menjadi sangat dekat satu sama lain. Aku menamatkan Sekolah Dasarku di sekolah yang terletak tak jauh dari Pantai Tanjong Pendam ini. Lima tahun masa kanak-kanak yang sangat berharga dan penuh kenangan. Di sekolah ini, pertama kali aku memiliki kawan anak nelayan. Lalu ada pula seorang kawan yang usianya terpaut sekitar 5 tahun lebih tua dari kami. Dialah kakak tertua yang selalu membela dan melindungi kami. Di sekolah ini pula, kepalaku pernah terluka. Pada suatu siang yang terik, ketika sedang asyik berlari-lari bersama kawan-kawanku, tiba-tiba tanpa sengaja dahiku membentur tiang besi penyangga ring basket. Darah segar mengucur, kawan-kawanku berteriak-teriak karena panik. Tetapi, aku tak sedikit pun menangis. Siang itu ketika ibuku datang menjemput dengan wajah pucat, aku malah tersenyum bangga. Di sekolah ini aku belajar untuk menjadi pemberani dan tidak cengeng, karena aku tahu banyak kawan-kawanku yang lebih tidak beruntung dariku.
 
Senja di Pantai Tanjong Pendam
Hari perpisahan SD adalah hari perpisahan sekolah paling sedih yang pernah aku rasakan. Karena ikatan emosional yang terbangun selama 5 tahun itu membuat kami sudah seperti saudara. Siang itu, kuperhatikan wajah kawan-kawan sekelasku satu per satu. Aku tak menangis karena gengsi, sebab aku tak dikenal sebagai anak yang cengeng. Padahal, bangunan sekolah rasanya seperti doyong dan akan roboh menimpaku. Aku sedih karena kami tak bisa lagi menghabiskan sore di sekitar dermaga dan pesisir perkampungan nelayan sepanjang Pantai Tanjong Pendam dan Air Saga. Kami tak bisa lagi bersepeda berkejar-kejaran hingga ujung Jeramba Kubu, yang ketika itu masih terbuat dari papan-papan kayu lusuh. Kami tak bisa lagi mandi air hujan lalu berlari-lari memanjat anak-anak tangga benteng Belanda. Begitu kami menamakan reruntuhan bangunan di bawah pohon beringin samping sekolah kami. Lalu ketika tiba bulan Agustus, bulan kemerdekaan yang identik dengan berbagai perlombaan, aku pernah memimpin kawan-kawanku mengikuti lomba baris-berbaris antar sekolah. Walaupun kemudian kami tak juara, tetapi selalu ada kenang-kenangan yang tak lekang dimakan usia.

Hari ini, melihat foto-foto anak-anak dengan seragam baru, ingin rasanya aku berpesan. "Nak, habiskanlah masa SD-mu dengan bermain sepuas-puasnya. Carilah sahabat sebanyak-banyaknya. Habiskan waktumu untuk mengenal alam dan ciptaan-Nya yang sungguh luar biasa. Berlarilah sejah-jauhnya, melompatlah setinggi-tingginya. Karena nanti di masa depan akan kau hadapi dunia yang kian sombong dan tak peduli. Dunia tak akan iba pada orang-orang pengecut dan tak punya jati diri. Maka jadilah pemberani!"

Bochum, 14 Juli 2014

Sunday, July 13, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 16 Ramadhan, Resep Akhir Pekan, Ikan dan Telur Masak Acar

Makanan tak jarang mengingatkan orang pada rumah, masa kecil dan kampung halaman. Lalu, hampir setiap orang pula menganggap masakan ibunya sebagai masakan terenak di dunia. Ada ikatan psikologis pada memori rasa, aroma dan kasih sayang yang hanya terkandung dalam masakan ibu. Ikatan psikologis ini akan tetap teringat bahkan hingga kita dewasa. Kalau bagiku, masakan paling enak adalah masakan ibu, juga ayahku. Masakan melayu pesisir yang didominasi oleh bahan-bahan yang berasal dari laut, bumbu-bumbu dengan cita rasa pedas dan sedikit asin. Di rumah kami, makanan laut adalah menu utama, daging-dagingan hanya dimasak oleh ibuku pada kesempatan-kesempatan khusus seperti hari raya. 

Akhir pekan ini, di hari ke 16 Ramadhan, aku memasak masakan Belitong favoritku sejak kecil. Masakan ini adalah masakan berbumbu pertama yang kukenal dan mau kumakan. Dulu, ketika Acik (adik ibuku) mengasuhku, kalau beliau bertanya aku ingin dimasakkan apa, yang kujawab selalu Acar. Cara memasaknya sangat mudah dan memerlukan waktu yang tidak terlalu lama. Berikut bahan-bahan dan cara memasaknya.

Bahan-bahan:
1.     Ikan laut ½ kg (kali ini aku menggunakan ikan Forelle (sejenis Salmon)).
2.     4 butir telur.
3.     Minyak goreng.
4.     Garam secukupnya.
5.     Gula secukupnya.
6.     Daun jeruk.
7.     Air perasan jeruk (lime atau lemon).

Bumbu-bumbu yang dihaluskan:
1.     6 siung bawang merah
2.     2 siung bawang putih.
3.     6 buah cabe merah keriting.
4.     3 buah cabe rawit.
5.     2 cm lengkuas.
6.     3 cm kunyit.
7.     1 batang sereh.
8.     2 biji kemiri.

Cara memasak:
  1. Haluskan bumbu dengan blender atau ulekan.
  2. Rebus telur hingga matang, bersihkan kulitnya, lalu goreng hingga permukaannya mampu menyerap bumbu.
  3. Bersihkan ikan, potong-potong lalu lumuri dengan air perasan jeruk dan garam. Kemudian goreng hingga kekuningan (jangan terlalu matang).
  4. Tumis bumbu-bumbu hingga harum dan matang. Tambahkan daun jeruk, gula, garam dan air perasan jeruk.
  5. Masukkan ikan dan telur ke dalam bumbu sedikit demi sedikit hingga tercampur sempurna. Acar siap dihidangkan dengan nasi putih hangat.

 Bochum, 13 Juli 2014

Saturday, July 12, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 15 Ramadhan, Sahabat dari Tanah Rencong

Sudah 2 tahun aku mengenalnya. Perempuan cerdas yang hanya terpaut 2 tahun pula usianya lebih muda dariku ini adalah sosok sahabat yang aku kagumi. Rachmi Meutia, begitu namanya. Nama belakangnya itu nama khas yang menunjukkan tanah kelahirannya, tanah rencong Aceh yang sudah sejak lama aku ingin mengunjunginya.

Aceh sudah sejak dulu menarik perhatianku. Sejarah panjang perjuangan rakyatnya pada masa pendudukan kolonial Belanda mengenalkanku pada sosok yang sangat aku kagumi, Laksamana Keumalahayati, seorang tokoh pejuang Aceh yang sangat disegani pada masanya. Di salah satu sudut ruang temaram Museum Bahari di Jakarta Utara, aku bertemu Keumalahayati untuk pertama kalinya. Sosok perempuan pejuang ini diabadikan sejarahnya dalam sebuah lukisan seukuran manusia dewasa. Keumalahayati konon merupakan laksamana perempuan pertama di dunia dalam sejarah modern. Dia memimpin armada perang Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah gugur) yang dikenal tangguh dan berani. Bahkan Cornelis de Houtman, pemimpin rombongan pertama kolonial Belanda yang sampai ke Nusantara pada tahun 1596 itu mati di ujung rencong sang laksamana. Sejarah ketokohan para pahlawan Aceh adalah representasi keberanian dan watak tangguh orang-orang Aceh.

Di era kemerdekaan, Aceh melalui pula sejarah panjang pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM). Kemudian peristiwa dahsyat tsunami pada 26 Desember 2004 telah pula menoreh sejarah di tanah rencong. Dalam 2 periode peristiwa besar inilah Rachmi dibesarkan. Dia menjadi saksi hidup bagaimana Aceh melalui pasang surut dan serangkaian masa-masa kelam.

Rachmi pernah bercerita bagaimana dia melalui masa-masa SMP-nya di sebuah pesantren berasrama yang berada cukup jauh dari rumahnya, sehingga hanya beberapa kali dalam sebulan dia bisa pulang ke Banda Aceh. Ketika itu, Aceh sedang berada dalam situasi tak menentu saat diberlakukannya DOM oleh pemerintah pusat. Berita kematian seolah menjadi santapan mereka sehari-hari, suasana di mana-mana terasa sangat tidak aman. Kecurigaan antar pihak-pihak yang berselisih sangat mudah memicu kontak senjata. Pernah pada suatu hari, ketika Rachmi dan teman-temannya sedang berada di kelas, sebuah peluru nyasar mengenai dinding dan sebuah pohon di halaman sekolahnya. Setiap kali terjadi kontak senjata, mereka akan dikumpulkan oleh guru dan bersembunyi mengendap-endap hampir dalam posisi tiarap untuk menghindari peluru nyasar. Perjalanan pulang pergi rumah-asramanya pun bukan hal yang mudah. Ayah dan ibu yang mengantar jemputnya ketika itu hampir selalu harus melalui pemeriksaan dari aparat keamanan di pos-pos penjagaan. Rachmi juga menjadi saksi bagaimana orang-orang yang dikenalnya menjadi korban dalam periode mencekam penuh ketidakpastian itu.

Kemudian, ketika gempa dan tsunami melanda Aceh pada tahun 2004, Rachmi saat itu duduk di kelas 2 SMA Modal Bangsa, salah satu SMA favorit di Aceh yang juga berasrama. Saat kejadian itu, Rachmi dan teman-teman sekelasnya sedang berolahraga di halaman kompleks asrama. Mereka merasakan gempa yang sangat dahsyat, yang kemudian diketahui berkekuatan hingga 9 Mw (moment magnitude scale). Sedangkan keluarga besar Rachmi: Ayah, Ibu, serta 3 adiknya saat kejadian itu sedang berada di rumah mereka di Banda Aceh. Aku merinding ketika Rachmi menceritakan kejadian ini, mataku berkaca-kaca. Namun, kulihat sorot matanya begitu tegar, tak ada setitik pun air mata. Ibu dan 2 adik Rachmi ikut menjadi korban meninggal dalam peristiwa ini. Maka yang tersisa adalah Ayah, seorang adik, dan abangnya yang ketika itu sedang kuliah di Yogyakarta.

Kata Rachmi, dia tak banyak menangis di depan ayahnya karena dia ingin agar ayahnya tegar menghadapi ujian yang sungguh luar biasa ini. Tsunami Aceh merenggut korban jiwa hingga lebih dari 230.000 orang. Lalu hadirlah sosok Bunda, begitu Rachmi dan saudara-saudara kandungnya memanggil ibu sambung mereka. Bukan hal mudah bagi keluarga-keluarga Aceh yang menjadi korban tsunami untuk bangkit kembali dan melanjutkan hidup. Aku tak bisa membayangkan jika aku sendiri yang mengalaminya.

Singkat cerita Rachmi pun menikah tak lama sebelum keberangkatannya ke Jerman untuk melanjutkan pendidikan Masternya. Tak lama setelah itu pula, Rachmi kehilangan ayahnya. Rachmi, betapa besar ujian yang telah Allah berikan untukmu di usia semuda ini, bahkan sejak engkau menghabiskan masa kanak-kanakmu. Engkau sungguh telah mewarisi sifat-sifat tangguh dan berani dari para leluhurmu dulu, seperti sang laksamana dan perempuan-perempuan hebat Aceh lainnya. Cerita-cerita Rachmi ini sering membuatku malu pada diri sendiri. Aku yang tak pernah mengalami ujian sehebat itu kadang tak jarang berkeluh kesah dan kurang bersyukur.

Persahabatanku bersama Rachmi mengajarkanku banyak sekali pelajaran hidup. Kami sering berdiskusi tentang berbagai hal, dari persoalan remeh temeh hingga tema-tema serius. Kemarin sore ketika Ramadhan sudah lewat 2 pekan, Rachmi mengunjungiku. Menunggu waktu berbuka puasa kami bercerita tentang banyak hal, lagi-lagi cerita Rachmi selalu membuatku terus berpikir dan banyak belajar. Perempuan penyayang ini adalah sahabat solihah yang senantiasa akan kukenang kebaikannya seumur hidupku, insyaAllah. Terima kasih, Mi. Semoga Allah selalu memberkahi keluargamu.

Bochum, 12 Juli 2014

Friday, July 11, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 14 Ramadhan, Sehelai Sore di Pantai Katwijk

Ramadhan sudah hampir memasuki paruh kedua, hanya sekejap mata. Hujan dan mendung yang menyelimuti Bochum akhir-akhir ini membuatku rindu pada kehangatan pantai. Aku dilahirkan jauh di negeri tropis, di tanah pesisir yang tersiram terik matahari sepanjang tahun. Jerman diselimuti musim dingin selama berbulan-bulan, bahkan hawa dingin sudah kami rasakan sejak permulaan musim gugur dan masih pula betah menemani hingga awal musim semi. Mungkin tak lebih dari 3 bulan, tanah ini benar-benar merasakan hawa hangat dan terik matahari sempurna. Di bulan-bulan musim panas pun tak jarang pula hujan dan badai menghembuskan hawa dingin yang tidak menyenangkan. Maka tak jarang aku merindukan siraman hangat mentari yang seperti tak habis-habis tercurah dari langit, menyulap butiran pasir di tepi pantai menjadi kerlip-kerlip putih yang menyilaukan. Pantai-pantai nan elok terhampar luas, sepanjang pesisir bagian barat Pulau Belitong, tanah kelahiranku. 

Di Eropa, kami hanya bisa mengunjungi pantai pada bulan-bulan tertentu, sejak sekitar pertengahan Mei hingga awal September. Selebihnya, pantai hanya akan menjadi mimpi buruk. Angin dingin berhembus menusuk tulang, air laut pun bahkan tak jarang sampai membeku. Di akhir musim semi tahun lalu, aku berkesempatan mengunjungi seorang sahabat lama, Hani, yang ketika itu sedang menempuh pendidikan Masternya di Leiden. Hani paham kalau aku merindukan laut, maka aku diajaknya menghabiskan sore nan cerah di Pantai Katwijk, sekitar setengah jam dari Leiden. Saat itulah kali pertama aku berkunjung ke pantai Eropa.

Pantai yang membentang panjang itu diselimuti pasir berwarna kelabu kecoklatan, bukan putih seperti di kampung halamanku. Tak ada sebatang pohon pun yang kutemui di sana, hanya semak rerumputan berdaun panjang dan ramping, sedikit menyerupai ilalang. Lalu, di sepanjang punggung dataran tanah yang lebih tinggi, berdiri beberapa bangunan, restoran-restoran serta penginapan. Saat itu, musim panas belum sepenuhnya menghampiri kami, semilir angin masih lumayan dingin. Aku berjalan menyusuri bibir pantai. Air lautnya seperti mengandung lumpur, kecoklatan dan berbuih. Melihat pantai seperti ini pun, orang Belanda sudah sangat bahagia. Aku membayangkan jika mereka melihat biru jernih air laut sepanjang bibir pantai berpasir putih di kampung halamanku. Mungkin mereka tak akan memilih pulang. Aku tak kecewa, setidaknya kerinduanku pada laut selama hampir dua tahun sedikit terobati. Aku mencari kesenangan sendiri, memperhatikan gerak-gerik orang-orang di tepi pantai yang menghabiskan sore di akhir musim semi itu dengan penuh keceriaan. Berikut beberapa foto yang sempat kuabadikan.


Bochum, 11 Juli 2014

Thursday, July 10, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 13 Ramadhan, Para Perantau dari Afrika

Sejak kecil aku mengagumi para perantau. Mereka rela meninggalkan kampung halaman dengan pengorbanan lahir batin yang tidak sedikit, untuk menuntut ilmu, mencari penghidupan yang lebih layak serta tujuan-tujuan mulia lainnya. Kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang para perantau dari benua dengan kebudayaan unik dan kaya, Afrika.

Tak seperti bangsa Eropa, aku pertama kali bertemu bangsa Afrika baru-baru saja, sejak merantau ke Jerman. Sebelumnya di tanah air, tak sekalipun aku bertemu orang-orang dari bangsa mereka. Silih berganti aku memiliki tetangga yang berasal dari Afrika, antara lain dari Uganda, Kenya, Ghana dan Guinea. Rata-rata dari mereka sangat fasih berbicara paling tidak dalam satu bahasa Eropa, imbas dari sejarah masa lalu ketika tanah air mereka diduduki oleh bangsa-bangsa Eropa. Mereka adalah perempuan-perempuan cerdas yang mampu mengubah stereotip yang ada di kepala orang-orang yang masih beranggapan bahwa bangsa Afrika adalah masyarakat kelas dua. Sebagai contoh saja, aku mengenal Catherine, sahabatku dari Uganda sebagai kandidat Doktor bidang ekonomi yang sangat brilian. Ibu muda ini menamatkan pendidikan Masternya di Swiss dengan sangat gemilang.

Salah satu hal yang menarik perhatianku sejak lama adalah kebudayaan dan sejarah bangsa-bangsa di dunia. Sebuah peta Afrika Timur yang menggambarkan danau-danau terbesar di Afrika menempel di samping tempat tidurku, sering mengantarkan mimpiku untuk mengunjunginya suatu hari nanti. Dulu waktu masih kecil, aku paling suka mengamat-amati Atlas yang dibelikan ayahku di Toko Buku Usaha. Membayang-bayangkan negeri-negeri jauh, serta berbagai bangsa yang mendiaminya. Ketika itu internet belum jamak seperti sekarang, sehingga imajinasiku hanya terbatas pada gambar-gambar yang kulihat dari buku-buku atau siaran televisi. Aku tak pernah mendengar bahasa-bahasa asing langsung dari penutur aslinya, yang kukenal hanya sebatas nama.
 
Perempuan-perempuan Afrika. Sumber: ingenieur.de (Universität Hohenheim)
Sore kemarin, aku memasak di dapur seperti biasa. Dapur kami ini seperti pusaran budaya tempat berkumpulnya berbagai bangsa. Sudah hampir seminggu aku kedatangan tetangga baru berwajah Afrika, belum juga sempat aku berbincang-bincang dengannya. Aku hanya sekedar menyapa dan tersenyum. Sore itu kali pertama aku berkenalan dengan Umu, begitu dia memperkenalkan namanya. Perempuan muda ini berasal dari sebuah negara yang dulu sulit aku membedakannya karena setidaknya ada 3 negara bernama sama di sekitar wilayah Teluk Guinea Afrika. Negara itu adalah Guinea, sering disebut Guinea Perancis, untuk membedakannya dengan Guinea Bissau dan Guinea Ekuator. Aku bertanya apakah dia bisa berbahasa Inggris, dia menggeleng: “Ich spreche ein bisschen Deutsch...“ “Saya hanya berbicara sedikit dalam Bahasa Jerman...“ Umu bercerita padaku bahwa saat ini dia sedang mengambil kursus Bahasa Jerman untuk mempersiapkan kuliah Masternya dalam bidang Informatika tahun depan. Lalu kutanya pula, sehari-hari dia berbicara dalam bahasa apa di tanah airnya. Bahasa Pular, ujarnya, lalu Bahasa Perancis sebagai bahasa kedua. Tak lama telepon genggam Umu berdering, dia berbicara dalam Bahasa Pular yang tadi diceritakannya. Aku seketika takjub mendengar bahasa asing ini untuk pertama kalinya. Iramanya cepat dengan penekanan-penekanan pada beberapa huruf konsonan serta diucapkan dengan intonasi lantang, seperti senandung yang mengiringi tarian-tarian eksotik berirama gembira.

Lalu setengah bercanda kutanyakan pada Umu, mengapa dia tidak kuliah saja di Perancis, tentunya dia tak perlu repot-repot untuk mempelajari Bahasa Jerman dan bisa langsung memulai kuliah Masternya. Umu menjawab sambil sedikit menggeleng, “Aku juga tidak tahu, Hesty. Tiba-tiba saja aku sudah menemukan diriku berada di negeri ini. Nasib seperti mengantarku ke sini, bukan ke Perancis“. Dalam hatiku, kita ternyata tak jauh berbeda, Umu. Aku pun begitu, niat merantau ke benua lain yang terpatri sejak lama seperti tiba-tiba saja mengantarkanku ke sini, ke Bochum, yang bahkan baru kukenal tak lebih dari 2 bulan sebelum keberangkatanku, bukan ke kota atau negara lain. Serangkaian usaha yang kita lakukan hanyalah cara, bukan penentu. Syarat cukupnya adalah izin Allah. Nasib senantiasa penuh misteri seperti masa depan yang tak pernah pasti.

Setelah hampir seminggu ini Bochum diguyur hujan, hari ini di hari ke 13 Ramadhan, matahari menampakkan senyumnya. Sebelumnya, sejak sore kemarin, kabut tebal menyelimuti udara. Dingin dan sendu, seperti halimun di punggung-punggung pegunungan yang melingkupi Bandung hampir setiap pagi. Aku pun menjadi rindu. Bandung sudah seperti kampung halaman ke dua bagiku, kampung halaman tempat aku menghabiskan awal-awal masa dewasa dan pencarian jati diri.

Aku pun teringat pada sebuah syair Ethiopia berjudul Guramayle. Guramayle adalah istilah yang digunakan oleh suku-suku di Ethiopia utara untuk menamakan sejenis tattoo yang mereka pasang di gusi bagian atas untuk memperindah senyuman. Guramayle sekaligus juga dipakai untuk menyebut orang-orang yang sok mencampuradukkan istilah-istilah bahasa asing ke dalam bahasa ibu mereka, dengan tujuan agar terdengar keren dan intelek. Syair “ejekan“ ini diciptakan oleh pengarangnya dengan maksud positif untuk mencerminkan pengaruh multibudaya bagi orang-orang Ethiopia yang merantau ke seluruh penjuru dunia. Guramayle adalah syair cinta para diaspora. Syair ini menggambarkan bagaimana sang pengarang mengalami gagap budaya ketika kembali ke tanah airnya setelah sekian lama mengalami banyak hal selama di perantauan. Di Ethiopia sendiri, Guramayle sering digunakan sebagai sindiran bagi mereka yang menjadi terlalu ke-“Eropa-Eropa“-an dan melupakan akar budaya mereka. Syair syahdu ini berpesan: “Ke manapun kakimu melangkah, sejauh apapun jarak yang pernah Kau tempuh, jangan pernah melupakan akarmu, tanah air dan bangsamu sendiri“.

Bochum, 10 Juli 2014

Wednesday, July 09, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 12 Ramadhan, Sahabat-sahabat dari Tepi Barat

“Bagaimana kabarmu, Kawan?“ “Alhamdulillah...“ sambil menjabat tanganku erat-erat. Selalu begitu dan senyum gadis pintar itu tak pernah pudar. Dialah Hafsa. Aku mengenalnya pertama kali secara tak sengaja. Saat itu, belum begitu lama aku kedatangan tetangga baru berkewarganegaraan Israel, Sirin namanya. Aku pun sempat dimintai bantuan oleh Sirin untuk mengatur setting internet di laptopnya. Sontak aku kaget dan bingung, karena tak satu pun tuts-tuts di keyboard laptopnya yang bisa kubaca, semuanya dalam abjad Hebrew. Kami berdua pun spontan tertawa. Aku kembali terkejut ketika dia mengucapkan salam padaku ketika aku pamit untuk kembali ke kamar. “Danke, Hesty! Assalamu’alaykum! Ich bin auch Muslim“. “Terima kasih, Hesty! Assalamu’alaykum! Saya juga seorang Muslim“ begitu katanya sambil tersenyum dan melambai padaku. 

Di lain kesempatan Sirin bercerita bahwa mereka sekeluarga berkewarganegaraan Israel, akan tetapi ibunya sebenarnya berasal dari Palestina. Ayahnya berasal dari Israel dan memeluk Islam sejak menikah dengan ibunya. Mereka sehari-hari berkomunikasi dalam Bahasa Arab dan sedikit Hebrew. Dia juga bercerita bahwa keadaan di Israel adalah selayaknya di sini (Jerman), orang-orang hidup makmur dan terpenuhi berbagai kebutuhannya. Komposisi masyarakatnya pun beragam, mulai dari Arab Muslim, penganut agama Yahudi, dan Kristen. Lalu hanya selemparan batu dari “negeri surga“ yang digambarkan Sirin tadi, orang-orang lainnya hidup dalam keprihatinan dan ketakutan akan ancaman serangan. Sampai di sini aku bingung, model konflik seperti apa yang sebenarnya terjadi di wilayah Tepi Barat (West Bank) dan sekitarnya, yang seingatku sejak aku bisa menonton televisi waktu aku masih kecil dulu hingga sekarang belum berkesudahan.

Sore itu kira-kira setahun yang lalu, seperti biasa sepulang dari kampus aku memasak makanan seadanya untuk makan malam. Sirin memperkenalkan Hafsa padaku. Kata Sirin, “Hafsa, ini Hesty, saudara kita dari Indonesia“. Waktu itu, Hafsa sedang mengunjungi Sirin, lalu beberapa bulan kemudian aku bertemu Hafsa untuk kedua kalinya di ruang cuci asrama. Dia bercerita bahwa dia baru saja pindah ke Roncallihaus. Gadis berkerudung ini berbicara dalam bahasa Jerman yang sangat fasih. Dia sedang menempuh pendidikan di salah universitas di Düsseldorf. Hafsa lalu bercerita padaku, bahwa dirinya berasal dari Palestina. Dia mengaku Bahasa Inggris-nya tak begitu lancar, lalu kami bertukar email untuk saling memberi kabar. Dia memintaku agar sering-sering menggunakan Bahasa Inggris ketika berkomunikasi dengannya, agar dia bisa belajar. Aku pun meminta kebalikannya, agar aku bisa memperbaiki Bahasa Jermanku.

Ini bukan kali pertama aku berkenalan dengan orang-orang dari wilayah Tepi Barat. Dulu ketika pertama kali mengambil kursus Bahasa Jerman, aku mengenal Manhal, seorang Muslim Israel, juga Ahmed dan Khalil, dua kawanku warga Palestina yang selalu meminta izin pada guru kami untuk menunaikan sholat setiap Jumat siang. Mereka tak secara spesifik menyebutkan perihal sholat Jumat, tapi guru kami yang baik hati selalu memberikan izin. Ahmed dan Khalil tak jarang bertemu denganku di jalan sekitar halte depan asrama. Dari kejauhan mereka sudah memberi salam, “Assalamu’alaykum, Schwester! Wie geht’s?“ “Assalamu’alaykum, Saudariku! Apa kabar?“ Khalil pernah bercerita padaku, bahwa untuk merantau ke sini bukanlah hal yang mudah bagi mereka. Dia sempat harus terjebak selama berminggu-minggu di Lebanon bersama ayahnya karena masalah keimigrasian dan konflik yang terjadi di sana. Lain waktu Manhal juga sempat bercerita padaku, ketika aku menanyakan bagaimana keadaan di sana. “Wilayah Israel itu ya wilayah Palestina. Permasalahan di sana sudah begitu kompleks. Saudara-saudara kami yang masih berada di wilayah Palestina hampir selalu menjadi korban. Aku tak tahu lagi harus mengatakan apa“, begitu kata Manhal dengan wajah murung dan sedih.

Aku tak paham detail persoalan yang sesungguhnya terjadi di sana. Yang kutahu dari sejarah yang pernah kubaca, awal mula konflik ini adalah ketika warga Yahudi dari seluruh dunia yang tergabung dalam gerakan Zionist berbondong-bondong “pulang” ke wilayah Tepi Barat. Mereka mengklaim wilayah itu sebagai hak mereka bulat-bulat. Pemerintahan pun dibentuk dan mereka menamakan diri sebagai Negara Israel. Pemukim Palestina yang menolak klaim orang-orang Zionist ini menjadi sasaran empuk tentara-tentara Israel. Peperangan yang terjadi pun sering kali tak seimbang, lemparan batu melawan perlengkapan militer Israel yang canggih. Berpuluh-puluh tahun, konflik tadi lalu berkembang menjadi konflik agama. Palestina kemudian menjadi simbol perjuangan Islam hampir di seluruh dunia, utamanya di Indonesia.

Di abad modern ini, ketika penjajahan fisik sudah menjadi hal yang tabu dan dianggap sebagai masa lalu hampir di seluruh dunia, warga Palestina masih merasakannya pun hingga detik ini. Aku bercerita di sini bukan ingin mengait-ngaitkan konflik ini dengan hal-hal berbau agama atau ras yang mungkin bisa menimbulkan prasangka bagi kawan-kawan. Tak ada orang yang bisa meminta untuk dilahirkan sebagai Arab, Yahudi (definisi Yahudi di sini sebagai bangsa bukan agama) atau apapun. Setelah kita lahir, selanjutnya hidup adalah tentang pilihan-pilihan, ingin kita jalani seperti apa. Agresi yang terjadi sekarang di Jalur Gaza adalah tragedi kemanusiaan, terlepas dari embel-embel persoalan lain yang kini berkembang. Aku juga bukan tak membaca, bahwa tak sedikit warga Yahudi di seluruh dunia yang menentang keras gerakan Zionist dan invasi Negara Israel atas Palestina ini.

Bagi kawan-kawan, tak ada salahnya menyisihkan waktu sejenak untuk mendoakan mereka yang saat ini sedang didera konflik di sana. Bulan Ramadhan yang seharusnya menjadi waktu-waktu spesial penuh keceriaan, selayaknya Ramadhan bagi muslim lainnya di seluruh dunia, kini menjadi mimpi buruk bagi mereka. Rudal-rudal Israel silih berganti ditembakkan ke wilayah pemukiman Palestina. Hujan mereka bukan lagi air, butir-butir es atau salju, tapi peluru. Jangan remehkan kekuatan doa. “Maafkan kami yang belum bisa membantu banyak dari sini”. Jika kawan-kawan mempunyai kelebihan rezeki, bisa kita temukan banyak sekali link-link di internet yang memuat informasi dari lembaga-lembaga penyalur bantuan materi untuk Palestina.

Masalah Palestina ini tak jarang pula menjadi isu sensitif di masyarakat. Terlepas dari apapun niatnya, persoalan ini bukan lagi hanya sekedar permasalahan agama, tapi lebih-lebih adalah masalah kemanusiaan. Ada pula yang berseloroh: “Ngapain sih capek-capek ngurusin negara orang? Negara sendiri aja belum beres.” Orang bijak tak akan berkata seperti itu. Bung Karno pernah dengan sangat lantang berkata: “Selama kemerdekaan bangsa Palestina beloem diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itoelah Bangsa Indonesia berdiri menantang pendjadjahan Israel” [Ir. Soekarno, 1962]. Semoga niat baik orang-orang yang berjuang untuk membantu Palestina, sekecil apa pun itu, senantiasa dijaga oleh Allah, dan bukan hanya sekedar latah atau ikut-ikutan. Aku percaya, kekuatan media yang dibangun dengan independensi dan niat yang tulus akan sangat berarti bagi mereka. Dunia harus tahu! Bahwa di era modern ini, penjajah Israel masih dengan sangat percaya diri dan sombong membunuhi sejumlah besar manusia. Bahwa, ada orang-orang yang bahkan tak sempat lagi memikirkan besok mau makan apa, tapi apakah besok nyawa dan tanah ini masih ada? Ingin rasanya aku menghabiskan sisa hidupku menjadi jurnalis di sana, agar darah dan nyawa ini ada juga artinya.

Sejak kemarin malam aku kehilangan kabar darinya, account Facebook-nya tiba-tiba nonaktif. “Hafsa, bagaimana kabarmu?” Aku yakin, dia akan selalu menjawab: “Alhamdulillah...“, seperti yang selama ini selalu diucapkannya, lalu teriring doa yang dihadiahkannya untukku. Doa kami semoga Allah melindungi keluargamu dan seluruh saudara-saudara kita di Palestina.

Sumber foto: 
Abdillah Onim, jurnalis dan relawan Indonesia yang saat ini bermukim di Gaza.
Facebook: Abdillah Onim

Bochum, 9 Juli 2014