Thursday, July 24, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 27 Ramadhan, U-35 Sahabat Kami

Transportasi umum di Bochum, kota kecil kesayangan kami ini bisa dibilang sangat baik, aman, dan nyaman. Jalur-jalur utama dalam kota hingga ke wilayah pinggiran kota dilalui oleh U-Bahn, tram dan bus. U-Bahn adalah kepanjangan dari Untergrund-Bahn, jika diartikan secara bebas menjadi "kereta bawah tanah". Pada kenyataannya U-Bahn di Bochum berwujud kereta "mini" 2 gerbong yang berhenti di halte-halte bawah tanah maupun halte yang dibangun di permukaan, untuk melayani transportasi dalam kota.

Salah satu jalur utama yang membelah Bochum dari utara ke selatan adalah jalur U-Bahn U-35 yang menghubungkan Schloß Strünkede, sebuah istana peninggalan bangsawan Roman dari abad ke-12, dengan Hustadt di bagian selatan yang terletak tak jauh dari tepian Sungai Ruhr dan Danau Kemnadersee di selatan kampus Ruhr Universität Bochum. U-35 juga berhenti di stasiun utama Bochum Hauptbahnhof dan 2 kampus terbesar di Bochum, Ruhr Universität Bochum dan Fachhochschule Bochum (Bochum University of Applied Science). Maka U-35 lah yang menjadi moda transportasi utama yang kutumpangi sehari-hari.

Aku masih ingat ketika pertama kali menjadi penumpang U-35. Pagi itu, di akhir musim gugur 2011, kabut tipis menyelimuti Bochum, udara dingin mendesir menerbangkan dedaunan dari ranting-ranting pohon. Halte Markstraße yang bisa kucapai dengan berjalan kaki 5 menit dari asrama telah dipenuhi oleh  antrian penumpang yang rata-rata mahasiswa. Karena ini kali pertama, maka aku mencoba bertanya ke salah satu penumpang untuk memastikan apakah aku tidak menuju arah yang salah.

Sejak pagi itu, U-35 menjadi sahabat baikku. Dia selalu setia mengantarku ke sana ke mari, tak peduli hujan, badai, salju, siang maupun malam. Dia hampir selalu tiba tepat waktu. Selama aku di sini, hanya tiga kali seingatku U-35 tak beroperasi, yaitu ketika protes besar-besaran digelar oleh serikat buruh di Ruhr area dan sekitarnya. Praktis, transportasi umum di Bochum lumpuh total. Semua U-Bahn, tram, dan bus dalam kota, termasuk kereta regional antar kota dihentikan operasinya. Maka mau tak mau aku harus berjalan kaki ke kampus, melewati deretan hutan kecil dan pemukiman. Kalau cuaca sedang bagus, perjalanannya akan terasa menyenangkan, tetapi ketika musim dingin mulai mengintai, perjalanan sekitar 25 menit itu akan terasa cukup menantang. Berjalan di bawah udara beku dalam waktu sesingkat itu pernah membuat hidungku sampai berdarah.

Interior U-35 dirancang sedemikian rupa sehingga bisa menampung para penumpang dengan optimal. Di beberapa bagian disediakan space khusus untuk mereka yang membawa sepeda atau kereta bayi, termasuk beberapa tempat duduk yang disediakan untuk penumpang difabel, manula, ibu hamil dan orang sakit. Pada jam-jam sibuk, U-35 akan dipenuhi penumpang, maka hampir setiap pagi jarang sekali aku mendapat tempat duduk. Namun, mau sepadat apapun antriannya, tak pernah aku melihat penumpang yang berebut dan saling mendorong tak terkendali. Semuanya tetap berjalan tertib. Tempelan iklan di dalam gerbongnya ditata teratur, badan gerbongnya berwarna putih keabuan berlist merah, corak kain jok tempat duduknya berwarna merah cerah, lantainya selalu bersih dan dering sirine pengaman pintunya tak kalah merdu berpadu dengan rekaman suara pemaklumat yang mengumumkan nama setiap halte pemberhentian. Begitulah U-35 sahabat kami melalui hari-harinya, dia telah bersolek sejak pagi buta untuk mengantarkan orang-orang yang mencintainya.

U-35 mewarnai sebagian besar perjalananku. Aku bertemu orang-orang asing yang tak kukenal dari berbagai bangsa, juga orang-orang yang kemudian menjadi sahabat dan saudara. Aku mendengar bahasa-bahasa asing yang dituturkan oleh penutur aslinya. Aku melihat bagaimana hormatnya para penumpang kepada manula dan orang difabel. Namun di sisi lain, aku juga mengagumi kemandirian mereka. Di sini tak jarang aku melihat para manula dan orang difabel yang bepergian sendiri, karena fasilitas umum yang disediakan negara memang sangat mendukung. Tetapi tetap saja, semuanya tak semudah yang kita bayangkan dan tetap butuh keberanian. Lain waktu aku juga sering bertemu dengan pegawai cleaning service yang bertugas membersihkan halte, seorang bapak berwajah Asia Selatan, seorang ibu berambut keriting berwajah Latin, dan satu orang lagi bapak berperawakan besar dan berambut pirang. Jika tiba musim dingin dan bersalju, pekerjaan mereka menjadi bertambah, mengeruk salju dan menaburkan remah-remah pasir dan garam agar orang-orang tak terpeleset.

Setiap hari, selalu saja aku bertemu orang-orang dengan raut wajah yang berbeda-beda. Seorang ibu setengah baya yang menatap kosong keluar jendela, anak kecil yang sesenggukan karena baru berhenti menangis, sepasang kekasih yang saling menatap malu-malu, seorang mahasiswa yang sedang serius membolak-balik halaman buku, seorang bapak yang membaca headline berita pagi dari surat kabar terbitan lokal, seorang ayah yang menggandeng tangan anak perempuannya, dan aku yang tak bosan-bosan menyaksikan denyut kehidupan yang masih terus mengalir di dalam U-35, drama kehidupan yang menyimpan sejuta cerita.

Baru kali ini, aku benar-benar kehilangan U-35. Sejak tanggal 19 yang lalu hingga besok, seminggu penuh U-35 dari Wasserstraße menuju Hustadt tak beroperasi. Kabarnya ada perbaikan beberapa jalur rel utama dan penyelesaian sebuah halte baru. U-35 dalam beberapa hari ini digantikan oleh bus khusus yang diberi nama U-35E. Maka benarlah adanya, sesuatu itu terkadang akan terasa sangat bernilai ketika dia tiada. Ketika masih ada dan tersedia sebagaimana biasa, maka kita sering melupakan jasanya. U-35 sahabat kami, terima kasih yang tak terhingga kuucapkan untuk setiap orang yang telah bekerja keras untuk menjadikanmu ada.

Bochum, 24 Juli 2014 

Wednesday, July 23, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 26 Ramadhan, Dunia Simon, Dunia dalam Lipatan

Seperti halnya kakek, ayah dan abang, membaca adalah salah satu kegemaranku, terutama membaca buku-buku sastra dan buku-buku bertema kebudayaan. Buku adalah dunia lain tempat pikiranku menyepi, berkelana ke tempat-tempat asing dan mengenal orang-orang yang asing pula, yang sesungguhnya berada tak jauh-jauh, dalam tempurung kepalaku sendiri. Dunia-dunia asing yang kuciptakan sendiri itu meluap-luap seperti asap yang mengepul dari sebuah bejana. Kemudian melayang perlahan-lahan, wangi menyeruak seisi ruangan, lalu kuhirup dalam-dalam. Aromanya itu memabukkan, seperti wangi kertas usang di sudut perpustakaan. Hadiah-hadiah terbaik dalam hidupku, juga kiriman-kiriman pos yang paling kutunggu biasanya adalah buku. Bila hatiku dirundung rindu yang kucari juga buku. Langit boleh kelabu, September boleh bersalju, selama ada buku mimpi-mimpiku akan senantiasa mengharu biru. 

Musim semi tahun ini, sebuah buku menghampiriku, buku yang melanglang jauh dari tanah kelahiranku. Dunia Simon, sebuah kumpulan cerita pendek. Ibarat kekasih yang dipertemukan kembali, aku seperti telah lama jatuh cinta pada Dunia Simon. Cinta lama yang masih sama indahnya. Sejak helai halaman pertama, aku menemukan diriku terperangkap dalam kejadian-kejadian yang dialami oleh tokoh "aku" dalam Dunia Simon. Menebak-nebak apa yang melintas dalam tatapan kosongnya kepada rinai hujan pukul tiga yang memburamkan kaca jendela. Aku melamun ketika "aku" termenung, aku gelisah ketika "aku" menunggu. Kadang-kadang "aku" tiba-tiba pula berubah menjadi aku, merindu. 

Dunia Simon kuajak bercengkrama sambil berdiri di dalam gerbong kereta, sambil melangkah menyusuri anak tangga, atau sambil menunggu hujan reda. Lain waktu akan kuajak dia berkelana, mewakili mimpi penulisnya. Aku terkadang lupa, bahwa "aku" tak sepenuhnya ingin menceritakan semua kisahnya padaku. Tatapnya sering berbalas tajam ke arahku ketika aku mulai menggerutu, tak sabar ingin menyaru menjadi dirinya. "Aku" terkadang lugu, terkadang naif, lain waktu seketika berubah menjadi sosok pemberani. "Aku" adalah jiwa yang jujur yang tak hendak menutup-nutupi jati dirinya di hadapanku. "Aku" akan menangis bila hendak menangis, akan mengumpat bila hendak mengumpat. "Aku" seperti diombang-ambingkan waktu yang dilesap-lesapkan oleh jendela kereta yang tengah menderu.  

Ketika "aku" mengalami kejadian-kejadian konyol, aku terkekeh, seperti menertawakan diriku sendiri. Ketika "aku" terjebak dalam momen-momen emosional, aku terdiam, bungkam tak hendak melawan. Ketika "aku" dikalahkan oleh masa lalu, aku cepat-cepat membalik helai-helai halaman terdahulu. Berharap masih ada hal-hal yang dapat kuperbaiki. Bagaimana aku tak jatuh cinta pada Dunia Simon. Pandai sekali dia mengajak pembacanya menyaru menjadi "aku", atau setidaknya hadir dalam lipatan-lipatan waktu yang telah membeku, dalam sebuah buku.


Aku percaya, karya-karya indah seperti ini hadir dari tangan-tangan dingin milik orang-orang yang jujur dalam berkarya. Karya yang tak hendak berteriak-teriak ingin dipuji, namun pandai mengambil hati para pembacanya. Karya yang tak perlu dimenangkan oleh terlalu banyak jiwa, namun cukup memenuhi hati orang-orang yang mencintainya. Dalam sastra, hampir segala peristiwa memungkinkan untuk dilukiskan sekehendak hati penulisnya, namun sangat mungkin pula untuk ditafsirkan sekehendak hati pembacanya. Aku mencintai sastra-sastra yang bersahaja, yang ramah mengajak pembacanya merasuk ke dalam setiap peristiwa. Mengutip pengantar yang ditulis Koskow dalam Dunia Simon: "Dalam seni, soal rasa merasa diharapkan memberikan gambaran bahwa hidup tak selalu dapat dimengerti tuntas. Menulis tak mampu menggantikan sentuhan. Namun, sastra, mungkin, diciptakan agar sentuhan yang dituliskan jadi cara agar rasa merasa memang dibutuhkan, se-ordinary apa yang dituliskannya tersebut."

Dunia Simon, lahir sebagai buah karya dari Wihambuko Tiaswening Maharsi. Perempuan yang baru saja kukenal di dunia maya melalui Tan Kinira, sebuah penerbit di Yogyakarta. Sebelumnya buku-buku terbitan Tan Kinira telah menyusulku lebih dahulu ke Eropa, buah karya Lelaki Budiman (Percakapan Diam-Diam), Koskow (Teman Merawat Percakapan) dan Mohammad Hadid (Meledek Pesona Metropolitan). Ilustrasi dalam Dunia Simon pun tak kalah apik. Gores-gores pensil Avira Paramastuti telah serta-merta menjebak aku dalam ketidaksadaran yang lebih dalam, hanyut perlahan bersama limpahan hujan. Tiba-tiba "aku" datang dengan seulas senyum penuh tanda tanya. "Mungkin cinta diciptakan kemudian, setelah semuanya, setelah manusia-manusia di dunia mulai merasa kesepian", bisiknya padaku sambil menghela nafasnya dalam-dalam. Aku terdiam. 

Bochum, 23 Juli 2014

Tuesday, July 22, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 25 Ramadhan, Menikmati Keindahan Jerman bersama WandernRuhr

Di akhir musim panas tahun lalu, aku dipertemukan dengan sekelompok anak muda yang mempunyai kegemaran yang sama denganku, bertualang menikmati alam. Kata orang, persahabatan itu bukan lantaran lamanya saling mengenal, tapi kecenderungan jiwa, itu saja. Aku menemukan mimpi-mimpiku bersama sahabat-sahabatku ini, menjelajahi pelosok hutan, menikmati harum rerumputan dan desir angin belaian alam. Pada sehelai pagi nan sejuk di awal September tahun lalu, sebuah perjalanan panjang pun dimulai. Perjalanan tentang persahabatan dan butir-butir rindu yang kami kumpulkan untuk tanah kelahiran.  


Aku percaya, setiap pertemuan di dunia ini terjadi bukan karena kebetulan. Seorang guruku pernah bercerita, bahwa segala fenomena acak di alam ini disebut acak karena manusia saja yang belum menemukan polanya. Sesungguhnya memang ada formula-formula yang telah tersusun dengan sempurna di balik segala peristiwa. Begitu pula dengan pertemuanku dengan sahabat-sahabatku ini, seperti tanpa sengaja dan tanpa rencana. Pagi itu, embun masih tersisa pada helai-helai daun dan rerumputan. Hari-hari di awal September adalah masa-masa pergantian musim, ketika musim panas belum sepenuhnya beranjak, tetapi musim gugur pun belum sepenuhnya tiba. Petualangan pertama kami dimulai pada pagi yang masih sepi, ketika gerbong-gerbong kereta regional menuju Heimbach mengantarkan kami ke Taman Nasional Eifel, sebuah taman nasional yang terletak di sebelah tenggara kota Aachen.

Hari itu sekaligus menjadi pengalaman pertama bagiku menjelajahi taman nasional di Jerman. Aku kagum pada sistem yang diatur oleh pemerintah Jerman untuk melestarikan alam tanpa mengesampingkan potensi lokal yang sudah lama terbangun di sekitar taman nasional. Di sepanjang wilayah perbatasan hutan dan pemukiman, para penduduk tetap bisa mengusahakan ladang dan tanah pertanian. Sistem yang terintegrasi ini kemudian dibangun untuk dijadikan sumber perekonomian yang lain, pariwisata. Area taman nasional sekaligus juga menjadi guru, layar terkembang dari sang alam. Salah satu kearifan alam yang kukagumi dari orang Jerman adalah bagaimana mereka menjaga sumber-sumber air. Sungai terpencil di tengah hutan akan sama jernihnya dengan danau-danau di pinggiran kota atau aliran selokan di sepanjang jalan pedesaan.


Sejak petualangan pertama itu, kami menjadi termotivasi untuk mengunjungi taman-taman nasional lainnya di sekitar negara bagian Nordrhein-Westfalen. Sepanjang musim gugur sampai menjelang musim dingin tahun lalu setidaknya kami mengunjungi 6 kawasan hutan dan pedesaan sampai ke daerah perbatasan Belgia dan Belanda. Dalam setiap perjalanan, aku menemukan kerinduan pada petualangan-petualangan masa kecilku, berguru pada alam. Aku pun menemukan sahabat-sahabat baru, yang kemudian menjadi seperti saudaraku sendiri di perantauan ini. Kegemaran yang sama menjelajah alam, memotret, dan bepergian bersama membuat persahabatan kami semakin erat. Maka pada suatu hari, terbentuklah klub para petualang nekat yang lalu kami namakan WandernRuhr. Wandern diambil dari bahasa Jerman yang berarti berjalan kaki atau hiking dalam bahasa Inggris. Lalu, Ruhr adalah nama dari sebuah sungai yang mengalir melintasi kota-kota di mana kami tinggal, mulai dari Dortmund, Bochum, Essen, Duisburg, Mülheim, dan sekitarnya. Sungai Ruhr merupakan anak sungai Rhein nan legendaris itu, sungai yang menjadi salah satu urat nadi perekonomian wilayah Jerman bagian barat hingga Belanda.  

Dalam setiap petualangan bersama WandernRuhr, aku belajar tentang arti kedisiplinan dan kekompakan. Untuk mencapai kawasan hutan yang ingin kami kunjungi, biasanya kami sudah harus stand by di stasiun yang menjadi titik tolak perjalanan sejak pagi buta. Keterlambatan 5 menit saja bisa menyebabkan perubahan jadwal tiba di tempat tujuan hingga berjam-jam. Pada setiap kesempatan, kami menjadi mengerti artinya saling berbagi, menghormati dan bertoleransi. Selain menerobos kawasan hutan, kami biasanya melintasi wilayah pedesaan yang cantik dengan tanah-tanah pertanian yang subur. Pada musim panas, sapi-sapi gemuk, domba dan kuda-kuda dibiarkan berkeliaran di sekitar ladang dan padang rumput. Menikmati siraman matahari yang masih cukup hangat menjelang musim gugur.

Dalam beberapa kesempatan, aku bertemu pula dengan penduduk lokal. Pada suatu sore ketika menunggu bis pulang dari kawasan hutan Winterberg di Elkeringhausen, aku sempat bertegur sapa dengan seorang nenek yang tengah menyapu daun-daun yang berguguran di halaman rumahnya. Sang nenek sejak tadi tersenyum ramah sambil memperhatikan kami dari kejauhan. Beliau tiba-tiba menghampiri dan bertanya padaku: "Kalian mengenakan Kopftuch (kerudung), berarti kalian Muslim ya?" Setengah terkejut aku mendengar pertanyaan sang nenek. Aku terharu, di desa sesepi ini, yang bahkan kendaraan pun jarang sekali lewat di depan rumahnya, nenek baik hati ini mengenal kehidupan Muslim dan tanpa menaruh curiga menyapaku dengan ramah bahkan mengajak berbincang-bincang. Sang nenek melanjutkan, "Lalu dengan tetap berbusana seperti ini (sambil menunjuk kerudung dan rok yang kukenakan), kalian tadi menjelajah hutan dan turun naik perbukitan? Hebat sekali!" "Iya, Nek" jawabku mantap. Aku mengucapkan terima kasih pada sang nenek sebelum pamit meninggalkan desa yang perlahan ditelan kabut pada sore musim gugur itu, sebuah desa nan cantik yang tak akan aku lupakan.

Riak-riak aliran sungai yang memantulkan bias-bias matahari menjelang senja, helai-helai daun yang merona jingga, semak dan rerumputan yang menyembunyikan jamur-jamur cantik berwarna-warni, hewan-hewan ternak yang bebas berkeliaran di tepi ladang, kucing-kucing yang malu-malu mengintip dari teras rumah pemiliknya, serta perahu yang teronggok bisu di permukaan telaga. Serpih-serpih kenangan dari setiap perjalananku bersama WandernRuhr akan senantiasa memenuhi lorong-lorong hatiku, meskipun nanti ketika kami tak bersama-sama lagi. Berikut ini catatan kenang-kenangan yang pernah kutulis dan foto-foto yang kuabadikan dari sebagian perjalanan kami. Dokumentasi petualangan WandernRuhr biasanya kami kumpulkan pada halaman Facebook di bawah ini: 

"Sehelai pagi nan sejuk mengabarkan rindu yang mengawang rendah di pelupuk mata. Rindu yang tak tahu aku definisinya, yang tiba-tiba saja menelusup celah-celah kenangan ribuan hari yang telah lalu, dahulu. Tak segores awan menghias langit, mentari betah berlama-lama hingga senja tiba, merona secerah biru samudera. Riak-riak telaga tersiram cahaya, kemilau tak ada habisnya. Langkah-langkah kakiku seperti menelusur masa lalu, saat mimpi kurajut dari pilinan benang semangat yang kukumpulkan satu-persatu. Aku berhenti, angin diam, syahdu alam mengalun dalam pejam. "Masih ingatkah engkau perjalanan kita waktu itu?" Begitu sepenggal rindu yang mungkin kau lantunkan nanti, dalam ribuan hari yang masih kutunggu, mungkin juga kau". [Taman Nasional Eifel, Heimbach, September 2013].

"Harum rumput basah dibasuh embun. Ramah mentari malu-malu mengintip dari celah-celah gemunung, menyeruak halimun yang diam-diam menunggu. Kerlip lampu dari kejauhan samar-samar menari, ditingkahi semburat bayangan pagi. Ranting masih diam, angin pun masih malas merayu". [Elkeringhausen, Winterberg, Oktober 2013]


Bochum, 22 Juli 2014

Monday, July 21, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 24 Ramadhan, Dhani, Lelaki Kecil Permata Hati Kami

Lebih dari dua tahun yang lalu, lelaki kecil itu lahir ke dunia. Masih belum terbit pagi di sini, kabar bahagia itu serta merta mengenyahkan rasa kantukku. Pada pagi musim semi itu, abang telah menjadi ayah. Bayi mungil itu diberi nama Muhammad Dhani Cakrawijaya, lelaki kecil permata hati kami. Aku belum pernah bertemu Dhani hingga hari ini. Jarak dan waktu memisahkan kami, seperti perahu nelayan yang disembunyikan cakrawala. Meski tak pernah tampak dari ujung dermaga, tetapi senantiasa hadir di sana. Akulah sang perahu itu, sedangkan Dhani adalah lelaki kecil yang berlari-lari di bibir dermaga, masih tak bosan-bosan menunggu senja.

Waktu seperti dipermainkan dalam gulungan-gulungan sekoci benang yang berputar-putar, dikayuh oleh sang penjahit kemudian menjelujur bermeter-meter kain tak bertepi. Tahu-tahu telah habis segulung, berganti lagi dengan gulungan baru. Begitu terus menerus sampai penjahit pun lupa bahwa jarum telah menggerogoti helai-helai usianya, perlahan-lahan.

Dhani, lelaki kecil yang hadir kali pertama di musim semi itu, perlahan-lahan memenuhi lorong-lorong hati kami. Tangisnya dirindukan, sorot mata lugunya tak puas-puas menjadi pemandangan. Setiap hari ada saja cerita yang kudengar dari ayah, bunda, kakek dan neneknya. Dhani mulai pandai berjalan ketika usianya belum genap setahun. Semua barang ingin diraihnya, sejauh jangkauan kaki kecilnya. Seisi rumah pun sibuk dibuatnya. Lain lagi ceritanya ketika Dhani mulai pandai mengucapkan kata-kata sederhana. Semua pembicaraan yang didengar pasti akan ditirunya. Sepanjang hari, rumah abang tak pernah sepi oleh ocehan Dhani. Kicaunya baru akan reda ketika tidur, seperti mainan yang kehabisan baterainya. Dhani tumbuh menjadi anak periang dan senang berkawan. Setiap bertemu kakek dan nenek, dia selalu bercerita tentang apa saja yang baru dialaminya, pengalaman bersama kawan-kawannya atau orang-orang yang baru dikenalnya.

Dhani tak setiap hari bisa bertemu ayahnya, lantaran abang ditugaskan di luar kota. Tiap bertemu ayahnya beberapa pekan sekali, dari kejauhan Dhani sudah memanggil-manggil: “Ayah...Ayah...!“ sambil menghambur ke arah ayahnya. Lalu mulut kecilnya tak berhenti berkicau-kicau, bercerita ini itu, sambil sibuk bermain menunjukkan keahlian-keahlian barunya. Mainan pertama yang disukai Dhani adalah bola dan sepeda roda tiga. Barang-barang di rumahnya pun tak luput menjadi sasaran. Kursi dibolak-balik, lalu ditungganginya seperti kuda. Meja didorong-dorongnya ke sana ke mari tak tentu arah.

Setiap hari selalu saja ada kejutan yang dibuat Dhani. Sudah beberapa pekan ini, dia punya kebiasaan baru, minta diantar ke Taman Kanak-kanak, padahal tak ada orang yang menyuruhnya. Setiap hari, dia sudah bangun pagi-pagi sekali, minta dimandikan dan dipakaikan baju kesayangannya. Lalu minta disiapkan tas sandang kesukaannya. Bang Nugra, begitu Dhani memanggil sahabat kesayangan yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Tahun ini, Nugra yang sudah berusia 5 tahun, masuk TK. Dhani tak mau ketinggalan, dia pun serta merta minta diantar bersama Nugra. Di sekolah barunya itu, Dhani ikut bermain bersama kakak-kakaknya, orang menyanyi, dia pun ikut menyanyi juga. Setiap tiba waktu bermain di luar kelas, Dhani berlari-lari ke sana ke mari, tak kenal takut dan lelah. Dhani tak pernah malu-malu menanyakan ini itu pada gurunya, padahal bicaranya pun masih belum sempurna. Meskipun menjadi murid tak resmi alias anak bawang, kadang Dhani justru lebih bersemangat dibanding kawan-kawannya. Dalam alam pikiran sederhananya, Dhani menemukan kegembiraan tiada tara bisa bermain bersama Nugra dan kawan-kawannya. 

Dhani, pada pundakmu teriring doa dan harapan dari orang-orang yang menyayangimu. Walau kita belum sempat bertemu, selalu ada rindu yang terombang-ambing dipermainkan riak-riak gelombang. Makcik memperhatikanmu dari kejauhan, tangan-tangan kecilmu yang mengumpulkan remah-remah kerang, kaki-kaki kecilmu yang berlari-lari menentang hujan. Jika nanti engkau telah dewasa, jangan hanya bermenung di bibir dermaga. Berlarilah hingga teriakmu tersapu angin musim gugur. Melompatlah hingga nafasmu mengembun dibekukan musim dingin. Tersenyumlah seperti musim semi dan bersemangatlah seperti matahari musim panas. Bila telah tiba waktunya, kayuhlah bidukmu, lintasi samudera, lalu berkelanalah hingga ujung dunia.

Bochum, 21 Juli 2014

Sunday, July 20, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 23 Ramadhan, Resep Akhir Pekan, Ikan Buncis Pedas

Ramadhan akhir pekan kali ini, aku ingin berbagi resep masakan yang kumodifikasi sendiri, ikan buncis pedas. Sebagai anak melayu pesisir, aku dibesarkan bersama laut dan ikan menjadi makanan utama keluarga kami. Resep sederhana kali ini terinspirasi dari cuaca panas beberapa hari ini yang telah mengubah Bochum layaknya kampung halamanku sendiri, pesisir Belitong yang sepanjang tahun tersiram panas matahari khatulistiwa. Berikut bahan-bahan dan cara memasaknya.

Bahan-bahan:
1. Ikan (kali ini aku menggunakan ikan dorade).
2. Buncis
3. Minyak goreng
4. Daun jeruk
5. Tomat kecil (tomat cherry)

Bumbu-bumbu:
1. Cabe merah keriting
2. Bawang merah
3. Bawang putih
4. Terasi
5. Lengkuas (memarkan)
6. Garam
7. Gula

Cara memasak:
  1. Haluskan semua bumbu, kecuali lengkuas. Tumis hingga harum, tambahkan gula, garam dan daun jeruk.
  2. Masukkan ikan dorade yang sudah dipotong-potong, tambahkan sedikit air.
  3. Masukkan potongan buncis (1 batang dipotong menjadi 2 bagian saja) dan tomat.
  4. Tutup wajan hingga ikan dan buncis empuk (kira-kira 15 menit dengan api sedang). Ikan buncis pedas siap dihidangkan dengan nasi putih hangat.
Bochum, 20 Juli 2014

Saturday, July 19, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 22 Ramadhan, Aku dan Teknik Fisika

Aku masih teringat, malam itu selepas magrib, aku dan abang harap-harap cemas menunggu pengumuman SPMB (Seleksi Peneriman Mahasiswa Baru) di internet. Aku sudah pasrah, tanganku mulai dingin. Kuketikkan nomor ujianku satu per satu, lalu serta merta di layar monitor muncul deretan angka "250945", kode jurusan Teknik Fisika. Aku menulis jurusan Teknik Sipil sebagai pilihan ke dua, lantaran aku paling suka memperhatikan konstruksi jembatan yang kokoh dan jalan raya yang berkelok-kelok.

Sebenarnya, aku memilih Teknik Fisika sebagai pilihan pertama bukan karena mengenal apa itu Teknik Fisika. Sepanjang masa persiapan SPMB 2 bulan sebelumnya, tak pernah terlintas di pikiranku untuk memilih jurusan asing ini. Niat awalku dulu ketika pertama kali meninggalkan rumah, aku ingin mendaftar di jurusan Arsitektur, lalu berganti lagi menjadi jurusan Teknik Penerbangan, Teknik Elektro, berubah lagi menjadi Matematika, lalu yang terakhir Teknik Sipil. Berubah-ubah tak tentu arah, lalu pada suatu sore kutanyakan pada guruku, satu per satu tentang jurusan-jurusan yang kuminati tadi, terakhir tiba-tiba kutanyakan tentang Teknik Fisika. Dari sekian banyak penjelasan itu, hanya Teknik Fisika yang tidak kumengerti apa isinya, guruku menyebut-nyebut tentang akustik dan teknologi nano, istilah-istilah yang masih terlalu asing di telingaku ketika itu.

Lalu seperti tiba-tiba saja aku sudah menjadi mahasiswa. Ketika itu Jurusan Teknik Fisika hanya dibuka di 4 institusi pendidikan di seluruh Indonesia: ITB, ITS, UGM, dan Universitas Nasional. Lalu menyusul beberapa tahun kemudian di Universitas Telkom (dulu STT Telkom). Aku menjalani hari-hari sebagai calon insinyur bersama kawan-kawanku. Cita-citaku ketika itu pun terus-menerus berubah. Suatu hari aku ingin menjadi insinyur, selanjutnya tiba-tiba aku ingin sekali membangun sebuah biro arsitek, lalu kemudian berganti lagi, aku ingin menjadi peneliti, lalu entah cita-cita seperti apa lagi yang melintas-lintas dalam pikiranku ketika itu.

Kehidupan di kampus begitu dinamis, tempat berpusarnya arus deras berbagai macam ilmu pengetahuan, pandangan hingga ideologi. Tempat berbagai ilmu dikicau-kicaukan, dipikirkan, dipelajari, bahkan disombongkan. Di Teknik Fisika pula aku mengenal sahabat-sahabatku di lab medik untuk pertama kalinya. Pagi itu, pagi yang cerah di bulan Agustus, kuperhatikan satu persatu wajah kawan-kawanku. Dari 118 orang kawan sejurusanku, hanya 19 orang mahasiswinya. Wajah kami masih polos, lidah kami masih kental berbau kampung halaman, dengan logat khas dari berbagai daerah.

Kami semakin terbiasa ketika orang-orang bertanya: "Kuliah jurusan apa, Dek?" "Teknik Fisika, Bu". Lalu dijawab dengan nada agak panjang: "Oooh, Fisika…". Lalu, kami akan merasa perlu menjelaskan apa itu Teknik Fisika kepada mereka. Aku tidak tahu, apakah generasi mahasiswa Teknik Fisika sekarang masih mengalami hal serupa hingga saat ini. Lalu, apa sebenarnya Teknik Fisika?

Seorang dosenku pernah becerita, bahwa Teknik Fisika itu adalah tentang "mengukur" atau "measure". Mengukur apa? Mengukur apa saja yang perlu diukur. Sehingga seorang sarjana Teknik Fisika harus memahami segala macam fenomena fisis dari berbagai lintas ilmu keteknikan atau engineering sekaligus matematika untuk keperluan pengukuran tersebut. Pola pendidikan berbagai cabang ilmu teknik yang terbagi sekarang umumnya menghasilkan lulusan-lulusan dengan disiplin ilmu yang spesifik dan terspesialisasi. Akan tetapi, hubungan antara berbagai ilmu rekayasa dan teknologi tadi dengan ilmu-ilmu dasar murni dan ilmu dasar terapan belum terjembatani. Di sinilah sebenarnya peran Teknik Fisika, sebagai jembatan untuk mempercepat riset dan pengembangan ilmu-ilmu dasar serta menunjang pemanfaatannya secara lebih efektif  di sektor-sektor industri dan dunia usaha.

Oleh karena itu, kami mempelajari berbagai ilmu dasar keteknikan dan fisika dalam spektrum yang relatif lebar, termasuk pula bahasa penunjangnya, matematika. Tak heran, lulusan Teknik Fisika yang melanjutkan ke pendidikan Pascasarjana dapat masuk ke berbagai jurusan teknik yang sangat beragam, demikian pula bagi lulusannya yang memilih langsung untuk bekerja. Lulusan Teknik Fisika itu ibarat pisau "tumpul" dan panjang yang menunggu untuk dipotong, diambil bagian yang disukai lalu ditajamkan kembali sesuai kebutuhan.


Hari ini, 19 Juli, 6 tahun yang lalu, yang juga bertepatan dengan hari Sabtu, aku dan kawan-kawanku diwisuda. Masih mengenakan toga, hari itu kami diarak berkeliling kampus dengan sebuah mobil pick up bak terbuka, dari halaman belakang Gedung Sabuga lalu disambut sorak sorai kerumunan mahasiswa yang sudah menyemut di depan Gerbang Ganesha. 10 tahun berlalu hanya seperti mimpi. Rasanya baru kemarin aku berkenalan dengan kawan-kawan baru. Kini kawan-kawanku sudah bertebaran hampir di seluruh benua, mengejar mimpi mereka, mewarnai dunia dengan Teknik Fisika.

Bochum, 19 Juli 2014

Friday, July 18, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 21 Ramadhan, Memori Bratislava, Slovakia

Musim panas seperti baru menampakkan wajahnya yang malu-malu sejak awal Ramadhan tahun ini. Hawa panas, pengap dan gerah menyergap dari celah-celah jendela sejak malam tadi. 32 derajat Celcius ketika kulirik penunjuk cuaca di komputerku, pantas saja. Begitu jauhnya perbedaan temperatur udara antara musim panas dan musim dingin yang dirasakan oleh orang-orang di negara 4 musim. Aku jadi teringat perjalanan bersama sahabatku Mira di bulan Desember 2012 yang lalu, ketika musim dingin mulai menggigit, menyelimuti lamat-lamat bumi Eropa Timur.

Kami menumpang bis milik sebuah perusahaan transportasi Ceko dari Prague menuju Bratislava. Perjalanan sekitar 4 jam itu terasa lebih lama dari seharusnya, entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Salju mulai turun perlahan, lalu rinai-rinainya seperti tumpah ruah berhamburan dari langit. Kami yang memilih tempat duduk paling depan, tepat di belakang sopir, bisa menyaksikan langsung penampakan jalan raya yang kami lalui sepanjang perjalanan. Seperti di negeri dongeng antah berantah, aku ingat perjalanan sore itu, bis yang membawa kami seperti tertelan kabut salju. Jarak pandang mungkin tak lebih dari 3 meter. Pak sopir melambatkan kecepatan bis, di kiri kanan, kulihat samar-samar padang-padang yang tertutup salju, muram, kelabu berselimut beku.

Singkat cerita, sampailah kami di Bratislava, di sebuah stasiun bis yang sepi dan tampak tak begitu terawat. Tumpukan salju yang setengah mencair bercampur tanah kecoklatan membuat suasana terminal semakin kotor. Aku merapatkan retsleting jaket dan mengenakan sarung tanganku, angin musim dingin kali ini rupanya tak kalah mengiris. Tak ada catatan khusus mengenai kota tua di jantung Eropa Timur ini, sebelum kami menginjakkan kaki di sana, di sebuah negara “baru” pecahan Cekoslovakia. Seperti umumnya kota-kota di Eropa, Bratislava juga relatif sepi di hari natal.

Pegunungan di sekitar Devin Castle, Bratislava
Kami menginap di sebuah hostel di pusat kota, tak jauh dari gedung kedutaan Jerman dan Amerika Serikat. Pemilik hostel ini adalah seorang bapak setengah baya yang sangat ramah dan fasih berbahasa Inggris. Karena sedang liburan natal, semua pegawai hostel mengambil cuti. Semua kamar pun kosong, sehingga kami seperti menyewa sebuah hostel tak berpenghuni. Sang bapak pemilik hostel tinggal agak jauh dari situ, sehingga dia hanya datang setiap pagi untuk menyiapkan sarapan kami, selebihnya hanya kami berdua, menginap di bangunan sebesar rumah 3 lantai itu. Kami bebas menggunakan ruangan mana saja yang kami suka dan kami dipinjami kunci sendiri.

Di lantai bawah, sekaligus lobi tempat menerima tamu, terdapat Cafe dengan interior yang unik, atau kalau tak boleh dibilang seram. Betapa tidak, 3 boneka nenek sihir menggantung di langit-langitnya, menyeringai di bawah temaram lampu. Aksesoris lainnya berupa barang-barang antik dan koleksi uang kertas dari berbagai negara yang ditempel di salah satu dindingnya. Kami menemukan pecahan 500 Rupiah bergambar orang utan yang bergaya bersama wajah-wajah tokoh dari berbagai negara pada pecahan uang lainnya.

Di hari kedua, pegawai hostel sudah kembali bekerja. Seorang bapak yang membantu pemilik hostel mengelola Cafe ternyata tak kalah ramah, namun dia tak bisa berbahasa Inggris. Aku mencoba-coba saja mengajaknya berbicara dalam bahasa Jerman, dan ternyata dia menimpalinya. Transportasi umum di Bratislava adalah bis, tram dan taksi. Slovakia merupakan salah satu negara Eropa Timur pertama yang menggunakan mata uang Euro. Kesan semrawut masih terlihat di beberapa sudut kota. Namun, kesan paling dalam dari kunjungan kami ke kota di tepian Danube ini adalah keramahan penduduknya. Beberapa kali kami dibantu oleh orang-orang yang tak kami kenal ketika kami terlihat bingung melihat jadwal bis di sebuah terminal. Walaupun sebagian besar dari mereka tak bisa berbahasa Inggris, namun mereka berusaha membantu kami, bahkan dengan bahasa isyarat. Pernah juga pada suatu pagi, seorang kakek menawarkan diri untuk memotret kami tak jauh dari jembatan Novy Most yang membelah Danube, juga dengan bahasa isyarat. Ternyata keramahan pun tak ubahnya kejujuran, mata uang yang berlaku di mana-mana, Kawan. 

Bochum, 18 Juli 2014

Thursday, July 17, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 20 Ramadhan, Kampung Halaman

Ramadhan hampir memasuki babak ke tiga, babak terakhir menuju hari raya. Ada perasaan sedih bercampur bahagia. Sedih, karena hanya tinggal beberapa hari lagi kita akan berpisah dengannya. Tapi sekaligus bahagia, karena tak lama lagi akan tiba pula hari raya. Dulu, ketika aku masih di Bandung, di minggu-minggu terakhir bulan Ramadhan, aku sudah bersiap-siap untuk pulang ke kampung halaman. Aku biasanya menumpang mobil travel yang berangkat pagi buta, lalu sampai di bandara Soekarno-Hatta ketika kantuk belum reda. Penerbangan dari Jakarta ke Tanjongpandan tak memakan waktu lama, 45 menit saja.

Tanjongpandan, tempat kelahiranku itu, bagiku selamanya tak pernah berubah. Wangi paginya, terik mataharinya, debu jalanannya, riuh pasarnya, selalu menyimpan kenangan yang tak musnah dilindas zaman. Sebenarnya rutinitas mudik bagiku lebih dari sekedar pulang. Bukan hanya menemukan rumah, tapi lebih dari itu, aku ingin menemui aku, diriku sendiri di masa lalu, yang belum hanyut oleh gelombang pasang. Aku yang hanya mengenal batas dermaga sebagai ujung dunia. Aku yang hanya tahu kerontang kemarau dan hujan yang tumpah ruah memenuhi sungai, lalu dihanyutkan mimpi menuju muara.

Perairan Pulau lengkuas, Belitong
Aku ingin menemui berupa-rupa kesederhanaan yang disembunyikan zaman dari hiruk pikuk kebaruan. Meskipun tak bisa terlalu sering pulang, aku bersyukur masih memiliki kampung halaman. Kampung halaman adalah representasi semangat yang mula-mula, yang muncul pada pagi jingga nan teramat muda. Kampung halaman adalah representasi rindu, yang tumbuh di sela-sela ombak yang terhempas mengharu biru. Kampung halaman adalah tempat kembali, bingkai yang menunggu keping-keping mozaiknya tersusun kembali, suatu hari nanti.

Bochum, 17 Juli 2014

Tuesday, July 15, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 18 Ramadhan, Kartu Pos dari Texas

Membuka kotak surat selalu menjadi kebiasaan menyenangkan bagiku. Walaupun sedang tidak menunggu surat atau paket, kejutan-kejutan yang tak jarang kutemui di dalam kotak surat menjadikan rutinitas ini tak pernah membosankan. Sore kemarin, sepulang dari kampus, kutemukan selembar kartu pos bergambar bunga tergeletak di dalam kotak suratku. Setelah kubaca ternyata dikirim jauh melintasi samudera, dari Amerika.

Kartu pos cantik itu tepatnya bergambar sebuah buldozer yang teronggok di padang bunga bluebonnet, bunga khas musim panas yang banyak tumbuh di Negara Bagian Texas. Aku tersenyum membacanya. Dalam hatiku, kartu pos ini benar-benar merepresentasikan karakter pengirimnya, tomboy tapi sekaligus feminin. Uple, begitu kami biasa memanggilnya, pertama kali kukenal ketika dia baru memulai Tugas Akhir sarjananya di lab kami, lab Instrumentasi Medik, sekitar 4 tahun yang lalu. Uple sebenarnya berasal dari gedung sebelah, Jurusan Biologi, bukan Teknik Fisika. Tetapi kerjasama yang sudah terbangun sejak satu tahun sebelumnya antara lab kami dengan salah satu lab di Biologi telah mengantarkan Uple sejak saat itu menjadi sahabat sepermainan kami.

Aku teringat pada diriku sendiri bertahun-tahun sebelumnya ketika pertama kali bertemu Uple. Gadis ini sekilas tak tampak seperti perempuan kebanyakan seusianya. Pakaiannya lebih seperti anak laki-laki. Namun siapa sangka, setelah bertahun-tahun aku bersahabat dengannya, kuketahui bahwa perasaan Uple halus luar biasa. Uple dibesarkan sebagai anak tunggal dari orang tua yang keduanya adalah polisi. Aku yang sejak kecil sangat tertarik dengan hal-hal berbau militer, selalu tersenyum mendengar cerita-cerita Uple tentang masa kecilnya. Bagaimana pleton-pleton taruna Polri, kendaraan-kendaraan militer dan senjata menjadi kesehariannya. Cerita-cerita yang didengar Uple sejak masa kecilnya adalah tentang bagaimana ibunya mengurus korban-korban tindak kriminalitas, terutama perempuan dan anak-anak, bagaimana ibunya menghadapi para pelanggar lalu lintas di jalan raya, atau tentang bagaimana ayahnya terlibat dalam operasi penangkapan buronan berbagai tindak kejahatan. Lingkungan seperti ini telah membentuk karakter Uple menjadi seorang pemberani.  

Salah satu hal yang kukagumi dari sahabatku ini adalah sifat kemandiriannya. Walaupun lahir sebagai anak semata wayang, tak pernah ada kesan manja dan keras kepala yang tampak darinya, dua karakter yang aku sendiri pun sangat sulit menghilangkannya jika berinteraksi dengan orang-orang terdekat. Meski usianya lebih muda, sesungguhnya Uple berpikir jauh lebih dewasa. Tahun-tahun terakhirku di Bandung banyak kuhabiskan bersama Uple. Kami mengelilingi pelosok Bandung dengan sepeda motornya yang legendaris itu. Sepeda motor ini juga telah mengantar Tante, sahabat kami yang lain, ke sana ke mari, menerobos hujan, panas, dan malam yang dingin.

Uple, sama sepertiku dan beberapa sahabat kami yang lain, punya cita-cita untuk merantau ke tempat-tempat yang jauh dan merasakan pengalaman menuntut ilmu di negeri orang. Fase-fase pencarian ini kami lalui dalam proses yang tidak mudah. Penolakan demi penolakan tak jarang membuat semangatnya sedikit surut, tetapi cita-cita yang sudah tertanam sejak lama membuatnya tak menyerah. Aku dan beberapa sahabatku merantau lebih dahulu ke Eropa. Dia masih harus bersabar menunggu gilirannya tiba.

Lalu pada suatu sore, aku menerima kabar gembira. Uple mengabariku bahwa dia diterima di salah satu universitas di Amerika, tinggal menunggu beasiswa. Untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjana di luar negeri, tak jarang urusan beasiswa ini justru menjadi kunci. Banyak kawan-kawanku yang sudah diterima di universitas, namun urung untuk memulai studinya lantaran tak memiliki beasiswa. Uple melamar ke salah satu lembaga beasiswa yang prestisius dari Amerika, Fulbright. Aku yakin seyakin-yakinnya dia akan diterima, karena aku tahu bagaimana kemampuannya. Namun, sebagai orang beragama, kami tetap berusaha, menunggu dan menyerahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa.

Nasib memang telah merentangkan sayap-sayapnya, penuh misteri sehingga kita hanya bisa menduga-duga. Perjalanan panjang meraih cita-cita sungguh tak akan sia-sia. Ada banyak peluh dan air mata yang senantiasa mengiringinya. Musim panas tahun lalu, Uple akhirnya berangkat ke Amerika untuk memulai studi S2-nya dalam bidang neuroscience di University of Texas at Dallas. Dalam bulan-bulan terakhir sebelum keberangkatannya, aku menerima kabar dari Vebi bahwa kini Uple memutuskan untuk mengenakan pakaian muslimah. Uple akan menjadi duta, representasi muslimah Indonesia yang akan merantau untuk menuntut ilmu di Amerika. Dialah Ulfa, sahabatku yang mengajarkanku akan banyak hal, tentang hidup, keberanian dan cita-cita.

Bochum, 15 Juli 2014 

Monday, July 14, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 17 Ramadhan, Hari-Hari Pertama Masuk Sekolah

Hari ini, di hari ke 17 Ramadhan yang jatuh bertepatan dengan hari senin adalah hari yang istimewa. Setidaknya bagi beberapa sahabat, sanak saudara, dan handai taulanku yang memiliki anak berusia sekitar 6 hingga 7 tahun. Hari ini adalah hari pertama anak-anak mereka masuk Sekolah Dasar, sebuah titik awal perjalanan panjang yang akan mereka tempuh setidaknya dalam 12 tahun ke depan. Sebagian ada pula yang sudah mengawali lebih dahulu sekitar satu pekan.

Tidak seperti di Jerman, anak-anak di Indonesia, mulai dari pendidikan dasar hingga sekolah menengah diwajibkan memakai seragam, lengkap dengan topi dan dasi. Aku masih ingat wangi kain pakaian seragam yang baru dibeli ibuku di Pasar Dalam, Tanjongpandan. Pasarnya pun sekarang sudah tak ada lagi, sudah berubah menjadi area taman dan Tugu Bundaran Satam yang menjadi ikon Kota Tanjongpandan. Rok merah model lipat-lipat, kemeja putih yang kerahnya masih kaku dan baru sedikit lembut setelah beberapa kali dicuci, dasi dengan tali karet yang masih sempit mencekik leher, sepatu baru yang masih agak kebesaran, lalu topi yang harus diberi nama di bagian dalamnya karena rawan tertukar. Seragam SD adalah seragam yang paling kuingat seumur hidupku, seragam penuh kenangan.

Di hari pertama masuk SD dulu, aku didaftarkan orang tuaku di SD yang terletak di depan rumah kakek, SD Negeri 9 Tanjongpandan, SD yang berbeda dengan abang. Tiga tahun sebelumnya abang didaftarkan ayah di SD PN Timah, yang kemudian menjadi SD Negeri 39 Tanjongpandan. Memori hari pertama yang paling kuingat adalah ketika kami, murid-murid kelas 1 dikumpulkan oleh guru kelas kami, Bu Emi, untuk difoto satu per satu. Pas foto yang kemudian akan ditempel di halaman pertama Buku Rapor kami. Foto itu masih disimpan hingga hari ini oleh ibuku, wajahku tegang dan agak cemberut, karena kuingat banyak sekali anak-anak lain yang menangis di hari istimewa itu. Aku gusar melihat tingkah mereka.

Pelajaran yang paling kusukai sejak pekan pertama kelas 1 adalah Berhitung dan Menggambar. Pelajaran-pelajaran lain aku kurang suka. Aku ingat dulu ketika guru kami memberikan soal ulangan untuk pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila), aku protes dan tak mau mengerjakan sama sekali. Entah apa yang ada dalam pikiranku ketika itu. Protesku rupanya terus berlanjut ketika aku hanya mendapat peringkat kelas urutan ke 11, padahal aku yakin, nilaiku tak seburuk itu. Siang itu, aku pulang dengan wajah cemberut, aku minta pindah. Kalau tak dikabulkan, aku mengancam akan mogok sekolah. Ayahku kalang kabut, maka sejak kelas 2 aku dipindahkan ayah ke SD Negeri 39, SD yang sama dengan abang.

Ternyata aku lebih betah di sekolah yang baru. Jumlah murid dalam 1 kelas tak sebanyak waktu di sekolah yang lama. Kami menjadi sangat dekat satu sama lain. Aku menamatkan Sekolah Dasarku di sekolah yang terletak tak jauh dari Pantai Tanjong Pendam ini. Lima tahun masa kanak-kanak yang sangat berharga dan penuh kenangan. Di sekolah ini, pertama kali aku memiliki kawan anak nelayan. Lalu ada pula seorang kawan yang usianya terpaut sekitar 5 tahun lebih tua dari kami. Dialah kakak tertua yang selalu membela dan melindungi kami. Di sekolah ini pula, kepalaku pernah terluka. Pada suatu siang yang terik, ketika sedang asyik berlari-lari bersama kawan-kawanku, tiba-tiba tanpa sengaja dahiku membentur tiang besi penyangga ring basket. Darah segar mengucur, kawan-kawanku berteriak-teriak karena panik. Tetapi, aku tak sedikit pun menangis. Siang itu ketika ibuku datang menjemput dengan wajah pucat, aku malah tersenyum bangga. Di sekolah ini aku belajar untuk menjadi pemberani dan tidak cengeng, karena aku tahu banyak kawan-kawanku yang lebih tidak beruntung dariku.
 
Senja di Pantai Tanjong Pendam
Hari perpisahan SD adalah hari perpisahan sekolah paling sedih yang pernah aku rasakan. Karena ikatan emosional yang terbangun selama 5 tahun itu membuat kami sudah seperti saudara. Siang itu, kuperhatikan wajah kawan-kawan sekelasku satu per satu. Aku tak menangis karena gengsi, sebab aku tak dikenal sebagai anak yang cengeng. Padahal, bangunan sekolah rasanya seperti doyong dan akan roboh menimpaku. Aku sedih karena kami tak bisa lagi menghabiskan sore di sekitar dermaga dan pesisir perkampungan nelayan sepanjang Pantai Tanjong Pendam dan Air Saga. Kami tak bisa lagi bersepeda berkejar-kejaran hingga ujung Jeramba Kubu, yang ketika itu masih terbuat dari papan-papan kayu lusuh. Kami tak bisa lagi mandi air hujan lalu berlari-lari memanjat anak-anak tangga benteng Belanda. Begitu kami menamakan reruntuhan bangunan di bawah pohon beringin samping sekolah kami. Lalu ketika tiba bulan Agustus, bulan kemerdekaan yang identik dengan berbagai perlombaan, aku pernah memimpin kawan-kawanku mengikuti lomba baris-berbaris antar sekolah. Walaupun kemudian kami tak juara, tetapi selalu ada kenang-kenangan yang tak lekang dimakan usia.

Hari ini, melihat foto-foto anak-anak dengan seragam baru, ingin rasanya aku berpesan. "Nak, habiskanlah masa SD-mu dengan bermain sepuas-puasnya. Carilah sahabat sebanyak-banyaknya. Habiskan waktumu untuk mengenal alam dan ciptaan-Nya yang sungguh luar biasa. Berlarilah sejah-jauhnya, melompatlah setinggi-tingginya. Karena nanti di masa depan akan kau hadapi dunia yang kian sombong dan tak peduli. Dunia tak akan iba pada orang-orang pengecut dan tak punya jati diri. Maka jadilah pemberani!"

Bochum, 14 Juli 2014