Wednesday, December 16, 2015

Yogyakarta

Butiran pasir basah telah mengering
sisa hujan semalam
Aroma Sekaten menyergap
menyela lalu lalang yang melintas-lintas
memenuhi udara lembab bulan Desember

Engkau tak pernah menua 
hanya memupuk bijak bestari
Engkau tak penah berubah
hanya menyeka keringat tengah hari

Derap-derap sepatu kanvas
Gores-gores cat di ujung kuas
Denting-denting dawai gitar
Bait-bait ceritera, pula puisi
Patung-patung di tepi jalan
Ukiran kayu di sudut genteng
Bangsal-bangsal Joglo nan bersahaja

Jogja,
aku mencintaimu seperti hangat musim semi
aku mengenangmu seperti angin selatan nan mendayu-dayu
Tetaplah seperti itu,
seperti pertama kali aku mengenalmu, dahulu

Stasiun Tugu Yogyakarta, 13 Desember 2015


Thursday, November 26, 2015

Menjumpai yang Tak Tergantikan

Sahabat, meminjam kata-kata dari seniman Ugo Untoro, yang pernah dituliskan oleh salah seorang sahabat saya, Tiaswening Maharsi, dalam bukunya "Dunia Simon":

"Tidak hanya berbunga-bunga, hatiku berbuah-buah."

Begitu pun yang saya rasakan ketika buku pertama saya "Harum Hujan Bulan November" ini diterbitkan. Buku ini adalah hadiah kecil saya untuk tiga orang yang paling saya cintai: Mamak, Mamo, dan Abang. Sahabat-sahabat pun dapat membaca kisah mereka yang saya tuliskan dalam buku ini.

Berikut, beberapa bait resensi yang dituliskan sahabat saya yang lain, FX. Widyatmoko (Koskow):

Kumpulan kisah yang disusun secara alur waktu ini - yaitu sejak 3 November 2011 hingga 26 Juni 2014 - berkisah tentang sesuatu yang tak tergantikan. Yang tak tergantikan ini tak lain kisah-kisah yang dialami Hesty: tentang kedua orangtuanya, kakaknya, ibu petugas di kantor pos, guru, teman-teman sekolah, kuliah, dan mereka yang dijumpainya tanpa direncana. Beberapa kisah yang ditulis juga dialamatkan kepada alam, pula syukur kepada Tuhan. Kisah-kisah tersebut ditulis Hesty dari berbagai tempat: Bandung, Zug, Zürich, Nijmegen, Groningen, Utrecht, dan yang paling sering Bochum, Jerman, tempat Hesty melanjutkan studi. Kisah-kisah juga berasal dari orangtuanya, yang mana kisah tersebut membuat Hesty pergi menjumpai yang dikisahkan tersebut (tentang saudara jauh).

Tulisan-tulisan Hesty, meski terkesan sebagai sebuah catatan perjalanan, namun lebih dekat kepada surat. Jika catatan perjalanan lebih mendekati pada laporan, sebaliknya tulisan Hesty dalam buku berjudul "Harum Hujan Bulan November" ini lebih memilih untuk tak sebatas pelaporan, namun memberi alasan untuk apa ia dilaporkan. Di antara kisah-kisah tersebut hadir beberapa puisi, hadir pula foto. Setidaknya terdapat perbedaan antara kisah-kisah yang dituliskan (dalam bentuk esai), puisi, dan foto dalam buku tersebut.

Pada kisah-kisah yang dituliskan dalam bentuk esai, Hesty kerap bertutur tentang orang-orang yang dijumpainya. Pada puisi dan foto, tersampaikan yang sebaliknya, Hesty mengajukan pertanyaan-pertanyaan, terkesan lebih tentang dirinya, mungkin tentang sendirinya (pula foto seekor bebek yang di bagian bawah foto tersebut disertakan pertanyaan "kayuhmu hendak ke mana?"). Mungkin ada alasan tertentu mengapa hal tersebut terkesan demikian. Namun, yang lebih utama yaitu pada kejujuran serta keterbukaan dalam menuliskan kisah-kisah dan bagaimana memberi bingkai untuknya.

Kisah-kisah Hesty pun dapat dipahami sebagai satu kesadaran mengenal yang lain, yang berbeda. Pada kesadaran inilah kisah-kisah yang dituliskan Hesty dapat dipandang menjadi perjuangan kita bersama yaitu saling menghargai sesama, alam, masa lalu, benda-benda, serta harapan hidup ke depan, terutama di zaman yang kian bergegas dan menyisa sepotong-potong cerita yang berlalu lalang, yang membuat kita gagal utuh menangkapnya karena diri kita (di)sibuk(kan) oleh aktivitas mengganti-ganti citra.

Orang-orang dalam kisah-kisah yang dituliskan Hesty pun menjadi seseorang. Bingkai seseorang dan yang tak tergantikan inilah yang bagi saya terasa mengesankan. Dituliskan oleh Hesty, bahwa: "...Kata orang, bepergianlah, maka engkau akan mengenal sahabat seperjalananmu, karena banyak hal yang akan teruji di sana..." (Bochum-Nijmegen dan Mimpi-Mimpi Masa Silam). Kisah-kisah yang dituliskan Hesty, baik melalui bentuk esai, puisi, dan foto, tak lain adalah usaha mengingat dan memberi harapan pada orang-orang, pada waktu, pada ruang, yang dari situ menempatkan kita pun menjadi seseorang bagi yang lain, bagi yang tidak tergantikan itu.

Teruntuk para sahabat yang telah membantu saya hingga buku ini lahir, saya haturkan terima kasih sebesar-besarnya dari hati yang paling dalam. Semoga karya kecil ini menemui perannya, memberikan sepercik manfaat bagi orang-orang di sekelilingnya.

Bandung, 8 Oktober 2015



Thursday, October 22, 2015

Sehelai Daun Jati

Pada sehelai daun jati
Tersangkut debu yang digerus sepi
Bersama sehelai daun jati
Luruh perlahan jingga mentari

Pada sehelai daun jati
kukirimkan rindu pada maple
yang gugur dicumbu angin
Bersama sehelai daun jati
Cikapundung mengalir deras
menyapu lembah-lembah Ruhr

Di tepi tanah lapang
sehelai daun jati mencuri dengar
parau suara meneriakkan janji
"Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater"
Toga-toga wangi, basah tersiram euforia
pada sore nan gemuruh

Patung Ganesha masih tertegun
ditemani juntai-juntai bunga September,
helai-helai daun jati,
dan kemarau yang enggan pergi.

Ganesha 10, 17 Oktober 2015










Tuesday, September 29, 2015

Bochum, Sungguh Aku Mencintaimu

Aku masih ingat, sore itu, langit kelabumu menyambutku malu-malu. Aku meringis menahan desir dingin angin musim gugur yang menerbangkan helai-helai daun maple merah jingga. Berminggu-minggu mendung seperti terperangkap tak hendak beranjak. Hanya sesekali kulihat matahari mengintip di celah-celah ranting pepohonan yang mulai meranggas.

Lalu sampailah pada suatu masa, ketika remah-remah salju berderai-derai diterbangkan angin. Alam pun diam berselimut beku, dan hatiku tiba-tiba didera rindu, rindu pada hangat matahari yang membelai lembut kulitku.

Engkau tak membiarkan rinduku menjadi biru. Perlahan-lahan matahari musim semi menyelinap di sela-sela pucuk daun hijau muda. Lalu, engkau hadiahkan padaku helai-helai kelopak magnolia merah muda, juga kuntum-kuntum bunga raps kuning merona.
  

Hujanmu tak pernah lama, aku pun jarang mendengar gemuruh petir menyambar-nyambar. Namun pernah kulihat anginmu memberontak menjelma badai, menumbangkan pepohonan yang melintang di jalan-jalan dan rel kereta.

Lalu, datanglah hari-hari nan panjang. Sampai bosan aku menanti senja yang seperti tak kunjung tiba, panas dan gerah terperangkap lamat-lamat di celah-celah jendela. Sesekali kulihat sekawanan kuda dan domba-domba merumput di padang-padang hijau tepi telaga. Ladang-ladang terhampar sejauh mata memandang hingga ke ujung cakrawala.

Kemudian pelan-pelan, matahari seperti terenggut dari haluannya. Dedaunan hijau tua perlahan-lahan menguning, menjingga, lalu tangkai jemarinya mencoba berpegang erat pada ujung-ujung rantingnya, namun tak lagi kuasa. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, musim pun datang dan pergi, silih berganti.

Bochum, engkau telah memenuhi hatiku hingga meluap-luap, mengajarkanku kebijaksanaan dalam setiap helai pergantian musimmu. Pada detik ini aku sadar, bahwa aku telah jatuh cinta, pada setiap jengkal tanahmu, pada setiap desir anginmu, pada setiap tetes hujan dan derai saljumu, pada setiap lirih bahasa cintamu.

Bochum, terima kasih telah mengizinkanku menghirup desir nafasmu. Terima kasih untuk semua cinta dan kenangan indah yang akan terukir selamanya dalam sanubariku, hingga akhir hayatku. Suatu hari nanti jika kau izinkan lagi kita bertemu, tentu 'kan kubawakan engkau segenggam rindu.

Bochum, 7 November 2011 - 1 Agustus 2015

Wednesday, June 10, 2015

Merantau dan Lihatlah Dunia di Luar Sana

Apa yang ada di benak Anda saat mendengar kata "merantau"? Bagi saya pribadi, merantau tak hanya sekedar meninggalkan kampung halaman berbekal nekat, namun pola pikir yang matang harus dibangun jauh-jauh hari, jauh sebelum langkah kaki meninggalkan segala kenyamanan di tanah kelahiran. Segala kemungkinan tak terduga, baik kemungkinan positif maupun negatif akan kita temui di negeri orang. Yang pertama harus dipersiapkan adalah tujuan apa yang ingin kita capai di perantauan nanti. Tak ada salahnya bermimpi, bahkan mimpilah yang masih menjadi bara semangat yang tetap menyala, yang menguatkan saya menjalani hari-hari. Jangan lupa persiapkan mental sekeras baja dan kunci terakhir adalah tawakal.

Motivasi terbesar saya ketika merantau meninggalkan kampung halaman adalah keinginan untuk mengisi masa muda dengan ilmu-ilmu baru, duduk bersama orang-orang yang belum saya kenal sebelumnya, mendengarkan kuliah dari guru-guru terbaik, membaca buku-buku dari perpustakaan-perpustakaan terbaik, serta mengenal orang-orang dari berbagai ras dan kebudayaan yang berbeda-beda. Singkatnya, saya ingin melihat dunia, melebihi sekat-sekat bahasa, usia, ruang dan waktu.

Dalam era globalisasi sekarang ini, dunia seakan tanpa sekat. Orang-orang dengan mudahnya bisa bepergian ke sana ke mari dalam waktu yang relatif singkat. Arus deras informasi menghantam dari segala penjuru. Apa jadinya jika kita tak mempersiapkan bekal dalam diri kita? Tentunya kita akan terombang-ambing seperti tanpa pendirian, menjadi gagap budaya, gagap kepribadian serta gagap-gagap lainnya yang akan susul-menyusul menghantui hidup kita. Bekal pertama bagi seorang anak adalah pendidikan keluarga, satuan komunitas terkecil, tempat segala mimpi bermula. Kepribadian yang kuat, nilai-nilai moral dan agama yang baik, akan menjadi mata uang berharga yang akan berlaku sepanjang usia.

Salah satu benang merah yang mewarnai motivasi orang untuk merantau adalah kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Pendidikan tak pernah mengenal usia, berapa pun usia Anda, jangan pernah berhenti belajar. Bagi generasi muda, kesempatan emas ini jangan disia-siakan. Sebelum kesehatan terenggut dari tubuh kita, sebelum waktu terampas oleh kesibukan-kesibukan lainnya, isilah masa muda untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Generasi muda khususnya, mempunyai kesempatan luas untuk menuntut ilmu di negeri orang. Kesempatan terbuka lebar di depan mata, kembali ke diri sendiri, mau atau tidak kita memanfaatkan kesempatan-kesempatan tersebut. Saya sering menemui anak-anak muda dengan potensi luar biasa, tapi ketidakpercayaan diri mengungkung keberanian mereka untuk melangkah. Rasa rendah diri karena berasal dari daerah atau keluarga yang kurang mampu, rasa minder karena dibesarkan di kampung, dan beban-beban negatif lainnya telah menghalangi sekian banyak bibit-bibit unggul di masa depan untuk menularkan energi-energi positif bagi lingkungan di sekelilingnya.

Sebelum melangkah meninggalkan kampung halaman untuk melanjutkan pendidikan, terutama selepas SMA, kita harus mengetahui lebih dahulu, potensi dan bakat terbesar apa yang ada dalam diri kita masing-masing. Jika sudah yakin, carilah sekolah dan lingkungan terbaik untuk mengembangkan bakat dan potensi tersebut. Tancapkan cita-cita untuk bergabung di lingkungan pendidikan terbaik. Tercapai atau tidak nantinya, itu urusan belakangan. Namun, motivasi awal ini akan menjadi bekal kita untuk mempersiapkan usaha terbaik demi mewujudkannnya.

Saya memperhatikan dengan seksama sistem pendidikan di Jerman, di mana sedari kecil anak-anak Jerman sudah diajak untuk mengenal potensinya masing-masing. Pendidikan dasar diwarnai sebagian besar oleh proses bermain, anak-anak tak terlalu disibukkan dengan beragam PR yang menyita waktu bermain mereka. Melalui proses bermain yang menyenangkan ini, mereka diarahkan untuk mengenal hobi dan bakat masing-masing. Dalam tahap pendidikan selanjutnya, sejak kira-kira tingkat setara SMP, mereka sudah harus memilih sekolah jenis apa yang menentukan nasib mereka nantinya sampai tahap perguruan tinggi. Sistem ini meminimalisasi gagap dan kebingungan-kebingungan yang umumnya dialami anak-anak selepas SMA ketika akan memilih program studi di perguruan tinggi.

Saya tak ingin menyalahkan sistem pendidikan yang berlaku sekarang di Indonesia, di mana sekolah-sekolah pada umumnya belum bisa memfasilitasi terlalu jauh untuk mengenali dan mengembangkan bakat dan potensi diri ini. Lingkungan dan budaya kita tak jarang masih mempunyai pola pikir, bahwa anak pintar itu adalah anak yang meraih nilai-nilai terbaik bidang eksakta, atau "straight A" dalam semua mata pelajaran. Padahal, kecerdasan itu tak hanya kecerdasan matematika dan sains, banyak kecerdasan lain yang tak kalah berharga, seperti kecerdasan dalam bidang seni, olahraga, dan lain-lain. Manusia dikaruniai bakat-bakat yang berbeda-beda untuk menjadi yang terbaik sesuai potensinya masing-masing jika dimaksimalkan. Dengan sistem dan budaya sekeliling yang belum terlalu mengakomodasi tujuan ini, tugas kitalah untuk memaksimalkan pencarian diri masing-masing. Maksimalkan potensi yang ada sejak belia, warnai dengan kepercayaan diri dan bercita-citalah setinggi-tingginya.

Selain ketidakpercayaan diri, hal lain yang sering menghinggapi generasi muda yang baru merantau ke luar daerah adalah sifat "ikut-ikutan" atau dalam bahasa Belitung dikenal istilah "seuru'-uru'an". "Seuru'an-uru'an" ini adalah sifat yang sangat berbahaya, apalagi seringkali menyerang pada fase-fase kritis yang sangat menentukan. Anak-anak muda yang dihinggapi sifat ini hatinya dipenuhi oleh euforia karena baru saja mencapai tahap paling keren dalam hidupnya: lulus SMA dan diizinkan oleh orang tua untuk pertama kalinya merantau meninggalkan tanah kelahiran. Akibatnya, mereka lupa tujuan awal untuk apa mereka merantau. Padahal kompetisi yang luar biasa sudah menunggu di depan mata. Untuk mendapatkan sekolah dan lingkungan pendidikan terbaik, tentunya kita harus bersaing dengan ribuan siswa dari seluruh tanah air. Persaingan sengit sesungguhnya dimulai pada tahap ini, bukan hanya sebelum menghadapi UN.

Kepercayaan diri, motivasi dan tujuan yang kuat serta moral dan kepribadian yang tangguh adalah bekal terbaik yang harus kita persiapkan untuk meraih cita-cita. Apapun yang akan kita hadapi di luar sana, kita tak akan kehilangan pijakan paling dasar: motivasi untuk bermanfaat bagi orang banyak dalam bidang apapun yang akan kita geluti nantinya. Merantau akan melatih mental kita sekeras baja, karena berupa-rupa pengalaman yang akan kita temui tak akan selalu manis. Keberhasilan dan kegagalan hanyalah bagian yang sangat relatif, proses yang kita jalani adalah pelajaran sesungguhnya yang tak akan pernah kita peroleh jika kita hanya berdiam diri di zona nyaman dan tanah kelahiran sendiri. Merantau pada akhirnya akan mengantarkan kita pada perjalanan-perjalanan tak terduga, bukan hanya untuk mengenal dunia, tapi lebih dari itu, dalam perjalanan panjang tersebut kita akan diajak untuk mengenal siapa diri kita sesungguhnya. Betapa kerdilnya kita di hadapan Sang Pencipta dan alam raya yang tak akan ada habis-habisnya untuk kita jelajahi sampai akhir usia.




Mengutip sebuah syair yang sangat terkenal dari Imam Syafi'i, cukuplah rindu pada tanah kelahiran yang menguatkan para perantau menjelajahi setiap jengkal tanah-tanah impian.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak 'kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak 'kan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak 'kan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa sebelum ditambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

Merantaulah
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkanlah negerimu dan menjadi asinglah di negeri orang

Bochum, tepian Sungai Ruhr, 9 Juni 2015

Sunday, May 17, 2015

Adikku Sayang

Terlahir sebagai bungsu, aku tak pernah merasakan menjadi seorang kakak. Namun, dari sekian sepupu yang aku miliki, aku paling dekat dengan Cici, adik kecilku yang kini sudah beranjak dewasa. Tujuh setengah tahun jarak usia kami. Aku masih ingat ketika dulu, pagi-pagi sekali, Mamak mengajakku menjenguk Acik di klinik bersalin dekat rumah kami. Acik adalah panggilanku untuk Ibunda Cici, adik ibuku. Pagi itu, aku merasa seperti baru saja dibelikan mainan baru atau seperti baru bisa naik sepeda, bahagianya sederhana, namun tak terkira. Sejak kecil aku memang sangat dekat dengan Acik, beliaulah yang membantu Mamak untuk mengasuhku sejak kanak-kanak. Pagi itu, Acik telah menjadi seorang ibu, dari seorang bayi perempuan mungil, adik sepupuku.

Waktu memang tak pernah iba, dia melesat meninggalkan kita, yang kadang masih termangu dalam lorong-lorongnya. Dulu ketika Cici masih kecil, setiap pulang sekolah, aku selalu minta diantar Mamak ke rumah Acik. Liburan sekolah pun biasanya kuhabiskan di rumah Acik untuk bermain bersama Cici.

Sore ini, aku termangu melihat teks-teks yang dikirimkan Cici ke emailku. Ada perasaan haru sekaligus bangga. Cici minta dikoreksikan abstrak Tugas Akhirnya, artinya sebentar lagi dia akan diwisuda. Adik kecilku kini telah menjadi gadis pintar yang sedang meneliti pengembangan reaktor nuklir. Sejak SD prestasinya memang sangat cemerlang. 2011 lalu, tepat sebelum aku merantau ke Jerman, Cici memperoleh beasiswa penuh dari BATAN untuk menempuh program sarjana di Fisika ITB, bidang kekhususan nuklir.

Adikku sebentar lagi akan menjadi sarjana. Mimpi-mimpiku akan selalu kubagi bersamanya. Jangan berhenti sampai di situ saja, merantaulah lebih jauh dan lihatlah dunia. Suatu hari nanti, kita ceritakan kepada nenek dan kakek tentang negeri-negeri jauh dan mimpi-mimpi masa kecil kita, meskipun hanya di hadapan pusara mereka.

Bochum, 17 Mei 2015

Thursday, April 23, 2015

Tentang Bandung, Kampung Halaman Keduaku

Bandung, sebuah kota yang namanya terngiang-ngiang dalam benakku, bahkan jauh sebelum aku menginjakkan kaki di sana. Kalau tak salah ingat, aku mendengar nama Bandung pertama kali dari ayahku. Beliau bercerita tentang sebuah sekolah, sebuah institut, tempat orang-orang belajar sains, seni dan teknologi. Waktu itu mulut kecilku spontan berseloroh, "Baiklah, nanti kalau sudah besar, aku mau sekolah ke Bandung saja, ambil jurusan mesin, biar bisa membuat mesin-mesin canggih!" "Dipakai untuk apa?", tanya ayahku. Aku menggeleng, "Belum tahu, nanti kita lihat saja!"

Sejak saat itu, kalau ditanya mau ke mana kalau sudah besar, aku selalu menjawab, "Aku ingin ke Bandung!" Belasan tahun kemudian, aku pun diantar ayah ke kota kembang ini, mengadu nasib, merantau meninggalkan kampung halaman. Tujuh tahun kuhabiskan masa mudaku di kota ini. Satu-satunya hal yang masih kusesali hingga saat ini adalah kemampuan Basa Sundaku yang tak maju-maju. Hanya dapat logatnya saja, yang bahkan menjadi aksen Bahasa Indonesiaku sampai saat ini. Aku mesti bertemu orang sekampung dulu untuk mengembalikan aksen Melayuku, lebih dari itu, orang yang baru mengenalku akan mengira bahwa aku berasal dari tatar Sunda.

Bandung menjadi kampung halaman ke dua bagiku, setelah Belitung. Bangka luput dari perhatianku, karena masa SMA yang kuhabiskan di sana masih kalah berkesan dibandingkan masa-masa yang kuhabiskan di Kota Paris van Java ini. Ketika aku meninggalkan Indonesia, tak jarang secara tak sadar, aku mengaku sebagai orang Bandung. Spontan saja, alam bawah sadarku yang menginginkannya. Meskipun jika mengobrol lebih jauh, aku tentu saja akan bercerita tentang kampung halamanku, Belitung, tanah Melayu yang melahirkanku.
 
Lama meninggalkan kampung halaman, membuatku merasa cepat betah berada di tempat yang baru. Lalu, setelah beberapa lama, aku pun akan merasa bahwa perantauan adalah juga kampung halamanku. Bochum pun akan bernasib serupa dalam benakku. Dia telah menggerogoti relung-relung terdalam dalam hatiku. Aku belum pergi meninggalkannya, namun pelan-pelan aku mulai didera rindu.

Besok pagi, Bandung akan menyambut tamu-tamu kehormatan dari berbagai negara, khususnya dari kawasan Asia dan Afrika. Wajah Bandung sudah banyak berubah, semakin cantik dan sering membuatku menitikkan air mata, bangga dan haru. Bandung, izinkan aku sekali lagi mendekap sejuk udara pagimu, ketika halimun perlahan-lahan menyeruak dari punggung-punggung gemunung di sekelilingmu. Izinkan aku berlari lagi bersama derumu. Sabarlah, kelak kita akan bertemu, tak lupa kubawakan engkau segenggam rindu.

Bochum, 23 April 2015

Thursday, April 16, 2015

Cerita "Mati Lampu" di Kampus Kami

Sore kemarin, sekitar pukul 2, aku baru saja menyelesaikan pekerjaan di kantor. Sisa waktu istirahat kupakai saja untuk berselancar di dunia maya. Tiba-tiba, "crek" aliran listrik terputus. Rekan-rekan kerjaku segera keluar ruangan, memastikan bahwa ruangan lain mengalami hal serupa. Lampu di beberapa lorong masih tampak menyala, karena listriknya berasal dari sumber cadangan.

Wajah mereka tampak gelisah, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mungkin terdengar aneh dan berlebihan bagi kita orang Indonesia. "Pasti ada yang tidak beres!", pikir mereka. Sejak aku tinggal di Jerman 4 tahun belakangan ini, ini kali pertama terjadi pemutusan aliran listrik secara mendadak, tanpa pemberitahuan sama sekali. Biasanya kalau pun ada pemutusan untuk tujuan perawatan jaringan, pemberitahuannya sudah dari jauh-jauh hari, bahkan 3 bulan sebelumnya, dan itu pun tak pernah total diputuskan semua, agar kegiatan akademik dapat berlangsung sebagaimana biasa.

Kami pun dipulangkan lebih awal. Sesampai di asrama aku menyalakan laptop dan mencoba mencari tahu lewat internet. Ah, aku baru sadar, internet di asrama terhubung dengan jaringan yang sama dari kampus. Jadi, percuma saja. Lalu, aku mencoba mengecek melalui telepon selularku yang sudah kehabisan kuota internet, lambatnya bukan main. Akun Facebook RUB ternyata tak henti-hentinya memberikan informasi tentang kejadian "luar biasa" ini.

Dari beberapa informasi yang kuperoleh, sejak sore petugas terkait bahu-membahu sigap bekerja, layaknya tim siaga bencana, memastikan tak ada orang yang celaka oleh karena kejadian ini. Para petugas dari "stadwerke" segera memeriksa penyebab putusnya aliran listrik yang melumpuhkan seluruh area kampus.

Perbaruan informasi terus menerus disampaikan oleh para petugas. Sampai pukul 2 pagi, masih kulihat beberapa berita bersliweran. Para petugas menemukan bagian yang bermasalah pada salah satu sambungan yang terletak tak jauh dari pabrik Opel. Katanya ini kejadian stromausfall terbesar sejak 25 tahun terakhir ini. Beberapa petugas yang diwawancarai menyampaikan bahwa mereka tak akan pulang, sampai semuanya selesai diperbaiki.

Pukul 4 pagi, kuterima email dari sekretariat kampus. Mereka memberitahukan proses perbaikan yang sedang berjalan dan beberapa hal terkait kegiatan di kampus yang terkena dampak langsung. Pukul 8 pagi, kuterima email lain dari Supervisorku, berisi himbauan untuk tetap berada di rumah selama masa perbaikan, terkait alasan keselamatan kerja dan sebagainya.

Itulah, sekelumit kisah "mati lampu", yang sedikit menghebohkan warga kampus kami. Banyak pelajaran yang dapat kita petik dari kejadian ini, tentang dedikasi para petugas, tentang kesigapan dan tanggap bencana, serta tentang arti penting teknologi yang telah mendarah daging dalam jiwa mereka. Lalu, di tanah air bagaimana? Mari kita berbenah, Kawan.

Bochum, 16 April 2015

Thursday, December 04, 2014

Refleksi Waktu

Waktu seperti benang yang diulurkan memanjang, terkadang menyimpul, kusut tak menemui ujungnya. Tetapi, selalu ada cara untuk mengurainya perlahan, menemui untaiannya yang mula-mula. Begitulah yang aku rasakan ketika kembali ke tanah air setelah bertahun-tahun tak pulang. Hari-hari berjalan sebiasa malam dan siang berganti dalam keteraturannya, seperti tak ada yang berubah. Tetapi ketika menoleh kembali ke belakang, aku takjub bagaimana waktu telah mengubah segalanya, pun aku sendiri yang perlahan digerogoti usia. Kini, aku merasakan bahwa waktu hanyalah lembar-lembar persinggahan yang mengantarkanku ke berbagai tempat dan peristiwa, menemui orang-orang yang juga datang silih berganti. Aku ingin tak satu pun menguasai hati ini, sehebat apa pun dia menggetarkan relung-relung terdalam, bilik-bilik rapuh yang seringkali tak terjamah logika. Wahai dunia, aku ingin engkau hanya bersemayam dalam genggaman tanganku saja, karena persinggahanku sesungguhnya tak akan lama.

Bochum, 4 Desember 2014

Pantai Katwijk, The Netherlands, musim semi 2013.


Wednesday, October 15, 2014

Dr.-Ing. versus Dr. med.

Takaran mudah dan tidaknya segala sesuatu sangat relatif. Tergantung siapa lawan bicara kita, bagaimana horizon pengetahuan masing-masing pihak yang berbicara, apa konteks pembicaraannya, dan sebagainya. Namun, kerelatifan ini tidak serta merta menjadikan salah satu pihak merasa lebih tinggi atau lebih tahu dari pihak lain. Kerendahhatian inilah pelajaran yang kuperoleh sepanjang hari kemarin. 

Setelah beberapa bulan hanya berkonsultasi via e-mail. Akhirnya kami kembali bertemu dengan dokter Tim secara langsung. Kali ini, dia yang mengunjungi institut kami. Dengan segudang ide baru, Tim mengemukakan permintaannya di depan kami. Aku tergelitik dengan kalimat pembuka yang diucapkannya: "Mungkin aku akan mengajukan beberapa pertanyaan "bodoh", tapi kalian jangan tertawa, ya." 

Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Tim adalah pertanyaan dari sudut pandangnya sebagai seorang dokter tentang masalah teknis yang lebih berkaitan dengan latar belakang kami sebagai insinyur. Kali ini, Tim mengajak kami berkolaborasi untuk menulis publikasi di sebuah jurnal kedokteran. Hal-hal teknis yang dimintanya dari kami mungkin terlihat "sederhana" di mata kedua pembimbingku, Georg dan Steffi. Namun, bagi Tim, hal ini tentu saja tidak sederhana.  

Kedua pembimbingku mencoba menjelaskan solusi-solusi teknis yang akan kami tawarkan, dengan bahasa yang sedapat mungkin bisa dimengerti oleh Tim. Georg mengajak Tim "membaca" beberapa grafik dan diagram. Tim mengangguk-angguk, sambil beberapa kali berkata: "Luar biasa, aku takjub dengan penerjemahan masalah klinis ini di dalam bahasa kalian." Matanya berbinar-binar.

Di akhir diskusi, Georg bertukar peran menjadi penanya "awam". Dia menirukan kalimat Tim: "Saya juga punya pertanyaan "bodoh", tapi jangan ditertawakan ya." Tim tersenyum, lalu mendongeng tentang sistem saraf yang menjadi kawan akrabnya sehari-hari sebagai anestesiologis. Georg pun memujinya, sambil menggeleng-geleng, menandakan kekagumannya pada Tim. Tiga orang bersahaja ini berasal dari latar belakang yang sangat berbeda. Masing-masing berdedikasi terhadap bidangnya. Namun tak sedikit pun saling meremehkan dan merasa lebih tinggi satu sama lain. 

Pagi ini Steffi kembali berdiskusi denganku untuk merencanakan eksperimen lanjutan. Kata Steffi, jurnal kedokteran ini impact factor-nya jauh lebih besar dibandingkan tulisan-tulisan kami di bidang engineering. "Kita sungguh beruntung, Hesty, bertemu orang seperti Tim. Kau akan belajar banyak hal, bagaimana berbagi dan belajar di tengah pusaran arus berbagai bidang keilmuan. Jaga baik-baik semangatmu sampai akhir." Aku tertegun mendengar nasihat Steffi. 
  
Aku tak bisa lagi meminta lebih dari ini. Perjalanan ini mungkin akan membawaku kepada petualangan-petualangan yang lebih panjang, "berkarat" dalam pengelanaan intelektual sekaligus spiritual yang akan membentang antara Bochum dan Bandung, Jerman dan Indonesia. "Dr.-Med., Dr.-Ing., Dr. atau apa pun "hanyalah" sederet huruf, gelar yang akan kau pertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Maka, berpikirlah lebih dalam, lebih dari sekedar permukaan", nasihatku kepada diriku sendiri.  
  
Bochum, 15 Oktober 2014.



Sunday, July 27, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 30 Ramadhan, Mengantarkan Ramadhan Pulang

Pulang tak selalu tentang kebahagiaan, terkadang kesedihan mengiringi rindu yang kian mengembang. Ramadhan melambai dari kejauhan, memperhatikan wajah-wajah perindu yang penuh harap akan sebuah perjumpaan. Matahari belum seberapa tinggi ketika kami tiba. Aku memanggul ransel dan sebuah tas tenteng, menahan terik matahari musim panas yang masih betah menemani hingga Ramadhan beranjak pergi.

"Assalamu'alaykum", brother muslim itu membukakan pintu seraya mengucapkan salam kepada kami. Kami disambut hangat dan dipersilakannya masuk. "Rachid", begitu dia memperkenalkan diri pada kami. Apartemen mini satu lantai ini sudah sejak jauh-jauh hari kupesan untuk kami sewa selama empat hari. Sebuah apartemen mahasiswa yang terletak tak jauh dari Masjid Raya. Begitulah kejadian acak yang seperti tak berpola mempertemukan kami dengan brother Rachid, saudara kami yang baik hati. Brother Rachid menjelaskan fasilitas apartemen yang akan kami tempati, meminjami kunci, lalu kemudian pamit pada kami. Selama kami di sini, dia akan menempati rumah yang lain, mungkin rumah orangtua atau kakaknya yang sejak tadi diceritakannya. Tak lupa dia menunjukkan arah menuju Masjid Raya, agar nanti kami bisa berlebaran di sana.

Ketika siang mulai beranjak, kami menyusuri sudut-sudut Rue menuju Masjid. Kompleks bangunan bercorak hijau abu-abu itu mencakup area yang cukup luas, diapit tiga jalan utama. Kami menuju pintu masuk utama. Dua orang bapak setengah baya duduk di belakang sebuah meja, melayani pembayaran zakat fitrah 5 € per jiwa. Aku memberanikan diri bertanya: " Assalamu'alaykum, apakah Bapak berbicara dalam bahasa Inggris?" Sang Bapak tersenyum menjawab salamku sambil membalas: "Apakah Anda berbicara dalam bahasa Arab?" Aku pun menggeleng sambil tersenyum. Baiklah, masih dalam bahasa Inggris aku mencoba bertanya tentang jadwal pelaksanaan sholat Idul Fitri. Sang Bapak dengan bahasa Inggris campur Perancis dan Arab berusaha menjelaskan pada kami. Intinya beliau belum dapat memastikan hingga hasil musyawarah para ulama setempat nanti malam diumumkan. Aku takjub bagaimana rasa persaudaraan itu telah memecahkan sekat-sekat bahasa, budaya dan suku bangsa. Assalamu'alaykum adalah salam yang sama pula, yang mengandung doa, berlaku di seluruh dunia dan senantiasa menyejukkan jiwa.

Sore itu, perjalanan kami lanjutkan menyusuri jalur-jalur kereta bawah tanah menuju "magnet" raksasa yang namanya telah tersohor hampir ke seluruh dunia. Entah bangsa apa saja yang lalu lalang tak habis-habis mengelilingi kaki-kakinya hingga radius sekian kilometer. Matahari masih menyengat. Hawa pengap dan debu diterbangkan angin hingga mengepul mengeruhkan udara. Sekelompok anak asyik berenang di sebuah kolam yang terletak tepat di hadapan muka sang raksasa. Caroussel mini berputar-putar mempermainkan kuda-kuda plastik yang ditingkahi kerlip lampu dan irama musik nan riang. Taman-taman dipenuhi para wisatawan, jalanan pun tak kunjung sepi.

Sambil menunggu matahari tenggelam, dalam riuh keramaian aku merasa kehilangan. Bias-bias senja disembunyikan gumpal-gumpal awan, namun sesekali mengintip pada celah-celah kaki sang raksasa pesolek malam. Tunai sudah Ramadhan tahun ini menemuiku, dan aku mengantarnya dari sudut berdebu di tengah keramaian. Senyumnya perlahan hilang ditelan malam. Lalu tak lama, brother Rachid menghubungi kami, memberitakan bahwa besok hari Senin, Masjid Raya akan mengadakan sholat Idul Fitri sekitar pukul 8 pagi. Riak-riak Seine menari-nari dipermainkan kerlip lampu kota dan kapal wisata yang hilir mudik melintasinya. Angin berhembus pelan, mengantarkan wangi kenangan Ramadhan yang akan selalu aku rindukan. Ramadhan, pulanglah ke peraduan, simpanlah cinta kami padamu dalam serpih-serpih kerinduan.

Paris, 27 Juli 2014

Saturday, July 26, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 29 Ramadhan, Pulanglah, Meski dalam Bayang-Bayang

Ramadhan terlalu lekas pergi. Pagi ini, ketika bias-bias mentari mengintip samar-samar dari celah ranting pepohonan, aku melihat senyum yang ragu. Ragu akan sebuah pertemuan kembali. Waktu berputar perlahan-lahan menggerogoti zaman dan hidup masih tentang pilihan-pilihan.

Di hari-hari terakhir Ramadhan, masih membekas dalam ingatan, ketika wangi asap mengepul pelan-pelan, menyeruak dari dapur-dapur hingga malam menjelang. Aku termenung di sudut stasiun yang ramai. Memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang dalam perjalanan. Kubiarkan kenangan-kenangan masa silam melintas-lintas memenuhi udara, mengambang larut dalam kerinduan yang paling dalam.

Ramadhan menguap pelan-pelan. Langkah-langkah kaki tergesa dalam kerumunan. Pulang menemui jejak-jejak kerinduan, menjumpai cinta yang mula-mula. Harum hari raya memanggil-manggil dari kejauhan. Aku pun pulang, menemui aku yang terjebak dalam keramaian dan hiruk pikuk impian.

Aku ingin menemui kenangan masa silam dalam setiap perjalanan. Aku ingin merangkul kerinduan yang kusematkan dalam setiap langkah. Aku ingin membisikkan harum Ramadhan pada desir angin yang meriakkan aliran Seine. Aku ingin hanya Kau saja yang menemaniku menjemput Syawal di bawah gemintang. Hingga luruh segenap jiwa, ketika aku menemuiMu nanti pada suatu masa.

Essen - Mülheim an der Ruhr, 26 Juli 2014

Friday, July 25, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 28 Ramadhan, Berbuka Puasa Bersama Muslimah Bochum

Ramadhan identik dengan berbagai tradisi yang membudaya dalam masyarakat. Salah satunya adalah berbuka puasa bersama. Di tanah air, acara semacam ini biasanya menjadi ajang silaturahim, sekaligus tak jarang menjadi semacam reuni bagi orang-orang yang telah lama tak saling berjumpa. Maka muncullah undangan-undangan acara berbuka puasa bersama dari kawan-kawan semasa sekolah atau kuliah. Ada banyak sekali cerita nostalgia yang akan dibagi di sana.

Di negeri-negeri lintang tinggi, ketika Ramadhan jatuh bertepatan dengan musim panas, matahari baru akan tenggelam menjelang pukul sepuluh malam, sudah hampir tengah malam. Dengan kata lain, berbuka puasa bersama bukanlah acara yang mudah untuk diselenggarakan sebagaimana di tanah air. Mengumpulkan banyak orang pada waktu selarut itu mempunyai tantangan tersendiri. Menjaga ketenangan menjadi sesuatu yang wajib, apalagi sebagai kaum minoritas dan perantau, tentunya kami tidak ingin membawa kesan buruk bagi masyarakat sekitar. Seperti yang dulu pernah kuceritakan di awal Ramadhan, waktu sejak lepas Ashar hingga Magrib biasanya kupakai untuk tidur. Namun, ketika digelar acara berbuka puasa bersama, tentunya selang waktu tersebut tak akan bisa dipakai untuk beristirahat. Singkatnya, berbuka puasa bersama di musim panas menyimpan nilai rasa yang sungguh berbeda.

Di negeri ini, kawan setanah air rasanya sudah seperti saudara sendiri. Tempat berbagi butir-butir kebahagiaan, suka dan duka di tengah segala keterbatasan dan kerinduan pada tanah air. Kemarin sore, para muslimah Indonesia di Bochum menyempatkan diri untuk berbagi kebahagiaan di hari-hari terakhir Ramadhan tahun ini. Kami berkumpul sejak sore untuk mempersiapkan acara berbuka puasa bersama. Alhamdulillah limpahan rezeki dari para sahabat membuat malam itu menjadi istimewa, makan malam bersama dengan berbagai makanan khas Indonesia.

Semangkok bakso Malang hangat yang di tanah air merupakan menu biasa, ketika di sini menjadi sesuatu yang istimewa. Wangi masakan itu pelan-pelan mengobati rindu kami pada kampung halaman. Secangkir cendol dingin meluruhkan rasa haus, semanis persaudaraan kami. Aku tak ingin berandai-andai, ingin begini dan begitu, atau mengeluhkan Ramadhan yang terasa sepi. Tak ada yang lebih membahagiakanku pada Ramadhan tahun ini selain kebersamaan dan persaudaraan yang kami bagi di perantauan ini. Udara musim panas masih meninggalkan gerah hingga malam menjelang. Bus tengah malam mengantarkan kami pulang, meninggalkan serpih-serpih kebahagiaan yang terasa damai dipeluk malam.

Bochum, 25 Juli 2014

Thursday, July 24, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 27 Ramadhan, U-35 Sahabat Kami

Transportasi umum di Bochum, kota kecil kesayangan kami ini bisa dibilang sangat baik, aman, dan nyaman. Jalur-jalur utama dalam kota hingga ke wilayah pinggiran kota dilalui oleh U-Bahn, tram dan bus. U-Bahn adalah kepanjangan dari Untergrund-Bahn, jika diartikan secara bebas menjadi "kereta bawah tanah". Pada kenyataannya U-Bahn di Bochum berwujud kereta "mini" 2 gerbong yang berhenti di halte-halte bawah tanah maupun halte yang dibangun di permukaan, untuk melayani transportasi dalam kota.

Salah satu jalur utama yang membelah Bochum dari utara ke selatan adalah jalur U-Bahn U-35 yang menghubungkan Schloß Strünkede, sebuah istana peninggalan bangsawan Roman dari abad ke-12, dengan Hustadt di bagian selatan yang terletak tak jauh dari tepian Sungai Ruhr dan Danau Kemnadersee di selatan kampus Ruhr Universität Bochum. U-35 juga berhenti di stasiun utama Bochum Hauptbahnhof dan 2 kampus terbesar di Bochum, Ruhr Universität Bochum dan Fachhochschule Bochum (Bochum University of Applied Science). Maka U-35 lah yang menjadi moda transportasi utama yang kutumpangi sehari-hari.

Aku masih ingat ketika pertama kali menjadi penumpang U-35. Pagi itu, di akhir musim gugur 2011, kabut tipis menyelimuti Bochum, udara dingin mendesir menerbangkan dedaunan dari ranting-ranting pohon. Halte Markstraße yang bisa kucapai dengan berjalan kaki 5 menit dari asrama telah dipenuhi oleh  antrian penumpang yang rata-rata mahasiswa. Karena ini kali pertama, maka aku mencoba bertanya ke salah satu penumpang untuk memastikan apakah aku tidak menuju arah yang salah.

Sejak pagi itu, U-35 menjadi sahabat baikku. Dia selalu setia mengantarku ke sana ke mari, tak peduli hujan, badai, salju, siang maupun malam. Dia hampir selalu tiba tepat waktu. Selama aku di sini, hanya tiga kali seingatku U-35 tak beroperasi, yaitu ketika protes besar-besaran digelar oleh serikat buruh di Ruhr area dan sekitarnya. Praktis, transportasi umum di Bochum lumpuh total. Semua U-Bahn, tram, dan bus dalam kota, termasuk kereta regional antar kota dihentikan operasinya. Maka mau tak mau aku harus berjalan kaki ke kampus, melewati deretan hutan kecil dan pemukiman. Kalau cuaca sedang bagus, perjalanannya akan terasa menyenangkan, tetapi ketika musim dingin mulai mengintai, perjalanan sekitar 25 menit itu akan terasa cukup menantang. Berjalan di bawah udara beku dalam waktu sesingkat itu pernah membuat hidungku sampai berdarah.

Interior U-35 dirancang sedemikian rupa sehingga bisa menampung para penumpang dengan optimal. Di beberapa bagian disediakan space khusus untuk mereka yang membawa sepeda atau kereta bayi, termasuk beberapa tempat duduk yang disediakan untuk penumpang difabel, manula, ibu hamil dan orang sakit. Pada jam-jam sibuk, U-35 akan dipenuhi penumpang, maka hampir setiap pagi jarang sekali aku mendapat tempat duduk. Namun, mau sepadat apapun antriannya, tak pernah aku melihat penumpang yang berebut dan saling mendorong tak terkendali. Semuanya tetap berjalan tertib. Tempelan iklan di dalam gerbongnya ditata teratur, badan gerbongnya berwarna putih keabuan berlist merah, corak kain jok tempat duduknya berwarna merah cerah, lantainya selalu bersih dan dering sirine pengaman pintunya tak kalah merdu berpadu dengan rekaman suara pemaklumat yang mengumumkan nama setiap halte pemberhentian. Begitulah U-35 sahabat kami melalui hari-harinya, dia telah bersolek sejak pagi buta untuk mengantarkan orang-orang yang mencintainya.

U-35 mewarnai sebagian besar perjalananku. Aku bertemu orang-orang asing yang tak kukenal dari berbagai bangsa, juga orang-orang yang kemudian menjadi sahabat dan saudara. Aku mendengar bahasa-bahasa asing yang dituturkan oleh penutur aslinya. Aku melihat bagaimana hormatnya para penumpang kepada manula dan orang difabel. Namun di sisi lain, aku juga mengagumi kemandirian mereka. Di sini tak jarang aku melihat para manula dan orang difabel yang bepergian sendiri, karena fasilitas umum yang disediakan negara memang sangat mendukung. Tetapi tetap saja, semuanya tak semudah yang kita bayangkan dan tetap butuh keberanian. Lain waktu aku juga sering bertemu dengan pegawai cleaning service yang bertugas membersihkan halte, seorang bapak berwajah Asia Selatan, seorang ibu berambut keriting berwajah Latin, dan satu orang lagi bapak berperawakan besar dan berambut pirang. Jika tiba musim dingin dan bersalju, pekerjaan mereka menjadi bertambah, mengeruk salju dan menaburkan remah-remah pasir dan garam agar orang-orang tak terpeleset.

Setiap hari, selalu saja aku bertemu orang-orang dengan raut wajah yang berbeda-beda. Seorang ibu setengah baya yang menatap kosong keluar jendela, anak kecil yang sesenggukan karena baru berhenti menangis, sepasang kekasih yang saling menatap malu-malu, seorang mahasiswa yang sedang serius membolak-balik halaman buku, seorang bapak yang membaca headline berita pagi dari surat kabar terbitan lokal, seorang ayah yang menggandeng tangan anak perempuannya, dan aku yang tak bosan-bosan menyaksikan denyut kehidupan yang masih terus mengalir di dalam U-35, drama kehidupan yang menyimpan sejuta cerita.

Baru kali ini, aku benar-benar kehilangan U-35. Sejak tanggal 19 yang lalu hingga besok, seminggu penuh U-35 dari Wasserstraße menuju Hustadt tak beroperasi. Kabarnya ada perbaikan beberapa jalur rel utama dan penyelesaian sebuah halte baru. U-35 dalam beberapa hari ini digantikan oleh bus khusus yang diberi nama U-35E. Maka benarlah adanya, sesuatu itu terkadang akan terasa sangat bernilai ketika dia tiada. Ketika masih ada dan tersedia sebagaimana biasa, maka kita sering melupakan jasanya. U-35 sahabat kami, terima kasih yang tak terhingga kuucapkan untuk setiap orang yang telah bekerja keras untuk menjadikanmu ada.

Bochum, 24 Juli 2014 

Wednesday, July 23, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 26 Ramadhan, Dunia Simon, Dunia dalam Lipatan

Seperti halnya kakek, ayah dan abang, membaca adalah salah satu kegemaranku, terutama membaca buku-buku sastra dan buku-buku bertema kebudayaan. Buku adalah dunia lain tempat pikiranku menyepi, berkelana ke tempat-tempat asing dan mengenal orang-orang yang asing pula, yang sesungguhnya berada tak jauh-jauh, dalam tempurung kepalaku sendiri. Dunia-dunia asing yang kuciptakan sendiri itu meluap-luap seperti asap yang mengepul dari sebuah bejana. Kemudian melayang perlahan-lahan, wangi menyeruak seisi ruangan, lalu kuhirup dalam-dalam. Aromanya itu memabukkan, seperti wangi kertas usang di sudut perpustakaan. Hadiah-hadiah terbaik dalam hidupku, juga kiriman-kiriman pos yang paling kutunggu biasanya adalah buku. Bila hatiku dirundung rindu yang kucari juga buku. Langit boleh kelabu, September boleh bersalju, selama ada buku mimpi-mimpiku akan senantiasa mengharu biru. 

Musim semi tahun ini, sebuah buku menghampiriku, buku yang melanglang jauh dari tanah kelahiranku. Dunia Simon, sebuah kumpulan cerita pendek. Ibarat kekasih yang dipertemukan kembali, aku seperti telah lama jatuh cinta pada Dunia Simon. Cinta lama yang masih sama indahnya. Sejak helai halaman pertama, aku menemukan diriku terperangkap dalam kejadian-kejadian yang dialami oleh tokoh "aku" dalam Dunia Simon. Menebak-nebak apa yang melintas dalam tatapan kosongnya kepada rinai hujan pukul tiga yang memburamkan kaca jendela. Aku melamun ketika "aku" termenung, aku gelisah ketika "aku" menunggu. Kadang-kadang "aku" tiba-tiba pula berubah menjadi aku, merindu. 

Dunia Simon kuajak bercengkrama sambil berdiri di dalam gerbong kereta, sambil melangkah menyusuri anak tangga, atau sambil menunggu hujan reda. Lain waktu akan kuajak dia berkelana, mewakili mimpi penulisnya. Aku terkadang lupa, bahwa "aku" tak sepenuhnya ingin menceritakan semua kisahnya padaku. Tatapnya sering berbalas tajam ke arahku ketika aku mulai menggerutu, tak sabar ingin menyaru menjadi dirinya. "Aku" terkadang lugu, terkadang naif, lain waktu seketika berubah menjadi sosok pemberani. "Aku" adalah jiwa yang jujur yang tak hendak menutup-nutupi jati dirinya di hadapanku. "Aku" akan menangis bila hendak menangis, akan mengumpat bila hendak mengumpat. "Aku" seperti diombang-ambingkan waktu yang dilesap-lesapkan oleh jendela kereta yang tengah menderu.  

Ketika "aku" mengalami kejadian-kejadian konyol, aku terkekeh, seperti menertawakan diriku sendiri. Ketika "aku" terjebak dalam momen-momen emosional, aku terdiam, bungkam tak hendak melawan. Ketika "aku" dikalahkan oleh masa lalu, aku cepat-cepat membalik helai-helai halaman terdahulu. Berharap masih ada hal-hal yang dapat kuperbaiki. Bagaimana aku tak jatuh cinta pada Dunia Simon. Pandai sekali dia mengajak pembacanya menyaru menjadi "aku", atau setidaknya hadir dalam lipatan-lipatan waktu yang telah membeku, dalam sebuah buku.


Aku percaya, karya-karya indah seperti ini hadir dari tangan-tangan dingin milik orang-orang yang jujur dalam berkarya. Karya yang tak hendak berteriak-teriak ingin dipuji, namun pandai mengambil hati para pembacanya. Karya yang tak perlu dimenangkan oleh terlalu banyak jiwa, namun cukup memenuhi hati orang-orang yang mencintainya. Dalam sastra, hampir segala peristiwa memungkinkan untuk dilukiskan sekehendak hati penulisnya, namun sangat mungkin pula untuk ditafsirkan sekehendak hati pembacanya. Aku mencintai sastra-sastra yang bersahaja, yang ramah mengajak pembacanya merasuk ke dalam setiap peristiwa. Mengutip pengantar yang ditulis Koskow dalam Dunia Simon: "Dalam seni, soal rasa merasa diharapkan memberikan gambaran bahwa hidup tak selalu dapat dimengerti tuntas. Menulis tak mampu menggantikan sentuhan. Namun, sastra, mungkin, diciptakan agar sentuhan yang dituliskan jadi cara agar rasa merasa memang dibutuhkan, se-ordinary apa yang dituliskannya tersebut."

Dunia Simon, lahir sebagai buah karya dari Wihambuko Tiaswening Maharsi. Perempuan yang baru saja kukenal di dunia maya melalui Tan Kinira, sebuah penerbit di Yogyakarta. Sebelumnya buku-buku terbitan Tan Kinira telah menyusulku lebih dahulu ke Eropa, buah karya Lelaki Budiman (Percakapan Diam-Diam), Koskow (Teman Merawat Percakapan) dan Mohammad Hadid (Meledek Pesona Metropolitan). Ilustrasi dalam Dunia Simon pun tak kalah apik. Gores-gores pensil Avira Paramastuti telah serta-merta menjebak aku dalam ketidaksadaran yang lebih dalam, hanyut perlahan bersama limpahan hujan. Tiba-tiba "aku" datang dengan seulas senyum penuh tanda tanya. "Mungkin cinta diciptakan kemudian, setelah semuanya, setelah manusia-manusia di dunia mulai merasa kesepian", bisiknya padaku sambil menghela nafasnya dalam-dalam. Aku terdiam. 

Bochum, 23 Juli 2014