Tuesday, April 01, 2014

Mengunjungi Kerabat di Jantung Eropa, Switzerland

Aku teringat sebuah acara yang sempat ditayangkan di televisi ketika aku masih kecil dulu, judulnya "Tali Kasih", acara yang mengisahkan keluarga yang sempat terpisah sekian lama. Tak jarang pula mereka tak saling mengenali lagi satu sama lain, lalu acara akan ditutup dengan suasana haru ketika para anggota keluarga tersebut berhasil dipertemukan kembali di studio tempat acara berlangsung. Dari dulu aku memang tak gampang menangis, aku juga tak tahu alasannya. Aku lebih mudah menangis karena marah, bukan karena sedih, dan orang-orang yang "berhasil" membuatku menangis justru biasanya orang-orang yang sangat aku sayangi. Aneh memang, tapi begitulah hidup. Waktu itu kuanggap acara tersebut hanya sekedar tontonan di waktu senggang saja, tak ada simpul-simpul kejadian yang membuatku mampu meresapi setiap kisahnya.

Bertahun-tahun kemudian, teknologi informasi semakin maju. Orang-orang di seluruh dunia terkoneksi dengan mudahnya melalui internet. Aku pernah membaca kisah seorang anak India yang "hilang" dalam perjalanan bersama keluarganya karena tertidur di kereta. Lalu kemudian dia ditemukan oleh orang lain dan akhirnya diadopsi oleh sebuah keluarga di Australia. 25 tahun kemudian dia berhasil menemukan kembali keluarga dan kampung halamannya di Khandwa, India melalui bantuan google maps. Kisah ini kemudian dituliskannya dalam sebuah buku berjudul "A Long Way Home".

Aku tak pernah mengalami sendiri kisah-kisah luar biasa seperti itu. Tapi aku memiliki satu kisah berkesan yang sudah lama ingin kuceritakan, yaitu kisah pertemuanku dengan Tanteku, yang sebelumnya belum pernah kutemui langsung seumur hidupku, jauh di jantung Eropa, di sebuah kota kecil nan cantik, Zug namanya. Kisahnya bermula ketika suatu hari aku menemukan sebuah account Facebook dari group Begalor Ngenangkan Suke, sebuah group silaturahim masyarakat Belitong, kampung halamanku. Atik Woeber, begitu nama itu tertulis, asal Belitong dan kini tinggal di Swiss. Hanya itu informasi yang kuketahui. Lalu, aku mencoba mengingat-ngingat, bertahun-tahun yang lalu ibuku pernah bercerita bahwa dia memiliki seorang sepupu yang tinggal di Swiss. Aku pun lalu menanyakan langsung pada beliau untuk mengonfirmasi, benar saja, Atik Woeber inilah yang beliau maksud. Lalu aku pun merubah panggilanku kepada beliau, yang tadinya Kak menjadi Mak Atik, karena beliau setingkat dengan orang tuaku dalam garis keluarga. Melalui beberapa kali chatting lewat Facebook, aku mengobrol ringan dengan Mak Atik, lalu timbullah ideku untuk mengunjunginya saat libur musim dingin ketika itu.

Singkat cerita, aku berangkat ke Swiss bersama kawanku akhir 2011 yang lalu. Penerbangan tak sampai 1 jam kami tempuh dari Düsseldorf menuju Zürich. Ini perjalanan pertamaku ke luar Jerman, sekaligus pengalaman pertamaku merasakan musim dingin. Musim dingin waktu itu, salju hampir-hampir tak turun di Bochum, hanya tak sampai 6 kali seingatku, itu pun hanya sedikit sehingga langsung mencair dan tak sempat menumpuk. Tapi, udara dingin menusuk luar biasa, suhu terendah konon mencapai -17°C, yang membuat hidungku berdarah pada suatu pagi. Musim dingin kelabu dan terasa "garing" tanpa salju. Sebagian besar wilayah Swiss ditutupi pegunungan, punggung-punggung pegunungan Alpen membentang dari bagian timur hingga ke selatan. Oleh karenanya, musim dingin di Swiss hampir selalu bersalju, terutama di wilayah pegunungannya. Perjalananku kali ini terasa menyenangkan, karena aku akan bertemu Mak Atik dan tak kalah penting, tumpukan salju.

Zürich Hauptbahnhof
Pesawat yang membawa kami mendarat dengan mulus di Zürich, hari sudah gelap. Kami harus naik kereta menuju Zürich Hauptbahnhof (Stasiun Utama), lalu mengambil kereta selanjutnya menuju Zug. Kereta Zürich-Zug masih lebih dari 1 jam lagi, sembari menunggu, kami sempat berjalan-jalan menikmati suasana kota Zürich malam hari. Lampu-lampu kota berbinar-binar dipantulkan riak permukaan telaga, di udara sedingin itu kulihat sekawanan bebek berenang-renang dengan riangnya. Kerlip lampu menghiasi avenue di beberapa sudut kota, sedikit tak biasa karena memang masih suasana Natal dan menyambut Tahun Baru.

Kami tiba di Stasiun Zug menjelang pukul 10 malam, aku keluar menuju hall utama stasiun, sesuai petunjuk Mak Atik. Di sana, beliau dan suaminya, Om Erwin, sudah menunggu kami. Om Erwin mengenalkan diri pada kami, ternyata beliau sangat fasih berbahasa Indonesia, sedangkan Mak Atik masih sangat lancar berbicara dalam Bahasa Belitong. Aku jadi teringat Tanteku yang lain, adik kandung ibuku, parasnya agak mirip dengan beliau. Aku masih diliputi rasa gembira karena menemukan saudara di tengah "belantara" Eropa ini, ketika aku jauh dari keluarga. Saudara yang seumur hidup baru pertama kali aku temui. Kini aku mengerti dan sedikit bisa meresapi keharuan yang dirasakan para peserta di acara "Tali Kasih" yang kutonton bertahun-tahun yang lalu. Mak Atik menyediakan ayam panggang untuk makan malam kami, tak lama setelah mengobrol ringan aku pun tertidur karena kelelahan.

Zugersee pada suatu siang
Keesokan harinya, kami diantar Mak Atik berkeliling menikmati Kota Zug. Zug adalah kota kecil yang indah dan nyaman, tak terlalu ramai tapi juga tak terlalu sepi. Tak jauh dari rumah Mak Atik, terdapat sebuah danau yang membentang sampai pusat kota, Zugersee namanya. Beberapa taman terawat rapi di pinggiran danau, tak jauh dari tempat bermain anak-anak berdiri sebuah gereja tua, halamannya sering dipakai untuk acara pernikahan, kata Mak Atik. Permukaan air danau yang tenang sedikit beriak dipermainkan kawanan angsa dan bebek yang berenang ke sana ke mari. Kaki-kaki pegunungan Alpen yang ditutupi salju samar-samar tampak dari kejauhan. Mak Atik bercerita, kalau musim panas tiba,orang-orang biasa berenang di danau ini, sama seperti kebiasaan orang Belitong mandi di pantai, ujarnya. Tapi jika musim dingin mencapai puncaknya, air danau akan membeku hingga setebal 20 cm, dan orang-orang pun bisa bermain ski di atasnya.  

Vierwaldstättersee
Aku dan kawanku melanjutkan perjalanan berdua ke kota lain, Lucerne, Mak Atik tak ikut bersama kami karena ada keperluan lain. Perjalanan kereta dari Zug menuju Lucerne memakan waktu kurang lebih 1 jam kalau aku tak salah ingat. Kereta berkelok-kelok membelah punggung-punggung perbukitan dan tepian danau, pemandangannya sungguh menyejukkan mata, mendamaikan hati. Cahaya matahari dipantulkan permukaan danau, bukit-bukit hijau diselingi tumpukan salju tipis dan peternakan sapi, persis seperti dalam film-film. Ferien Wohnung  atau rumah-rumah yang dipakai untuk berlibur tersusun seperti kotak warna warni di tepian danau. Latar belakangnya punggung-punggung pegunungan salju, putih kelabu, gagah sekali. Kami sampai di Stasiun Lucerne, suasananya ramai sekali, karena Lucerne sepertinya memang salah satu tujuan wisata favorit di Swiss. Sama seperti Zug, Lucerne juga terletak di tepi danau, Vierwaldstättersee namanya, lebih besar dari Zugersee. Beberapa kapal pesiar lalu lalang melintasi danau, membawa para wisatawan menikmati suasana Lucerne sore itu. Kami berjalan-jalan di pinggiran danau, lalu aku bertemu seseorang yang duduk termenung di atas kursi roda, memandangi riak-riak air danau, diam membisu seorang diri. Entah apa yang dipikirkannya ketika itu, aku tak pernah tahu, yang kutahu, aku seharusnya banyak-banyak bersyukur karena masih bisa berjalan bahkan berlari ke sana ke mari dengan bebasnya, semau yang aku suka. Matahari mulai tenggelam, suasana di pinggir danau masih ramai, beberapa anak kulihat masih asyik bermain-main menikmati arena ski buatan yang disediakan tak jauh dari Museum Seni Lucerne.

Kami tiba di rumah Mak Atik sudah lewat waktu magrib. Malam ini, Mak Atik memasak nasi goreng udang, aromanya khas, mengundang selera. Mak Atik dan Om Erwin mengajak kami mengobrol, mereka memperlihatkan album-album foto kenangan ketika masih di Indonesia. Mira, anak pertama mereka lahir di Indonesia, di Sulawesi Tenggara tepatnya, sedangkan Evelyn, si bungsu kalau aku tak salah lahir di Swiss. Mira bisa bahasa Indonesia, Inggris, Perancis dan Jerman-Swiss, lalu sekarang sedang mulai belajar bahasa Spanyol. Evelyn baru bisa bahasa Jerman-Swiss. Sehari-hari keluarga ini menggunakan bahasa Inggris, Indonesia, dan Jerman-Swiss, sungguh luar biasa. Kuperhatikan wajah adik-adik sepupuku ini, percampuran yang sempurna antara wajah Asia dan Eropa, cantik sekali. Waktu itu aku belum bisa bahasa Jerman, sehingga aku tak bisa mengobrol banyak bersama Evelyn, namun gadis cilik ini sebagaimana anak-anak seusianya, periang dan murah senyum.

Puncak Gunung Rigi 1.797,5 m dpl.
Tak lengkap rasanya kalau ke Swiss tidak mengunjungi Alpen. Tapi, hari ini, hari ke tiga kami di sini, cuaca tak begitu mendukung, sejak semalam salju turun agak deras, lalu menjelang waktu dhuha berganti menjadi hujan air. Om Erwin menyarankan agar kami tetap ke Alpen, rugi katanya sudah jauh-jauh datang ke mari. Mak Atik dan Om Erwin mengantar kami dengan mobil sampai ke Goldau, sebuah kota kecil di kaki Gunung Rigi. Dari Goldau kami naik kereta gantung menuju punggung gunung Rigi, lalu disambung dengan kereta biasa yang khusus mengantar wisatawan sampai ke puncak. Hujan air di bawah tadi berubah menjadi hujan salju yang sangat deras ketika kami tiba di puncak. Salju menumpuk hingga setinggi lutut orang dewasa, untuk berjalan pun kami harus menutupi muka karena derai salju yang begitu deras membuat mata perih dan berair. Tak banyak yang bisa kami perhatikan di atas puncak, lalu kami berlindung di tempat penyewaan perlengkapan ski sambil menunggu kereta berikutnya menuju Goldau. Kami sempat turun di stasiun kecil di punggung gunung, aku memesan coklat panas. Sekelompok anak-anak usia sekitar 6 tahun lengkap dengan perlengkapan skinya duduk berjejer di bangku stasiun memperhatikanku, pipi mereka merona kemerahan karena kedinginan. Tak lama kami pun turun dengan kereta selanjutnya menuju Stasiun Goldau, di sana Om Erwin sudah menunggu di mobil untuk menjemput kami. Sepanjang perjalanan pulang Om Erwin bercerita padaku, kata beliau beginilah hidup di Eropa, tak ada yang namanya cuaca buruk, yang ada hanya orang yang salah memakai pakaian. Artinya, manusianya yang harus pandai-pandai menyiasati alam, karena keumuman cuaca di sini memang begitu, dingin, hujan, kelabu bahkan bersalju.

Malam terakhir di Swiss kami habiskan dengan menonton film sambil berbincang-bincang bersama keluarga Mak Atik. Kebetulan malam ini malam pergantian tahun, sehingga suasana di sekitar rumah Mak Atik juga lumayan semarak. Om Erwin membuka pintu balkon, dari kejauhan kembang api warna warni menghiasi langit, cantik sekali. Setiap tahun orang-orang berkumpul di tepian danau sekitar pusat kota untuk menyaksikan kembang api yang ditembakkan di atas danau, kami cukuplah menontonnya dari kejauhan.

Matahari pertama 2012
Besoknya pagi-pagi sekali Om Erwin dan Mak Atik mengantar kami sampai ke Zürich Airport dengan mobil. Penerbangan kami pukul 8 pagi, masih gelap karena masih musim dingin, matahari terbit sekitar pukul setengah 9. Kami berpamitan pada Mak Atik dan Om Erwin, kucium tangan keduanya. Aku bersyukur diberi kesempatan oleh Allah untuk bertemu saudara sepupu ibuku ini, beliau orang yang bersahaja, ramah dan baik hati, begitu pun dengan suaminya. Dilahirkan jauh di Pulau Belitong sana, sama sepertiku, rupanya jalan hidup telah mengantarkan Mak Atik jauh ke negeri orang, ke negeri indah di "belantara" Eropa ini. Semoga suatu hari nanti aku berkesempatan lagi bertemu beliau. Aku pun menjadi rindu pada Paman-paman dan Bibi-bibiku di tanah air nun jauh di sana. Pesawat meninggalkan Zürich Airport perlahan-lahan, kuperhatikan kerlip kota Zürich dari ketinggian, cakrawala mulai bercahaya, membias lembayung biru jingga. Tak lama berselang, matahari mengintip malu-malu dari tumpukan awan putih nan tebal, cahayanya hangat menyapu pipiku yang kutempelkan pada kaca jendela. Matahari pertama tahun 2012 yang kusaksikan dari ketinggian itu tak akan pernah aku lupakan, dia mewakili hangat ikatan persaudaraan kami yang telah lama dipisahkan jarak dan waktu. Aku terdiam diselimuti haru, juga bias-bias rindu.

Bochum, 1 April 2014

Monday, March 31, 2014

3 Nona Belanda

Tak terasa, sudah lewat 2 tahun aku merantau untuk menuntut ilmu di Bochum, kota kecil nan bersahaja di tepian Sungai Ruhr. Bochum terletak di Negara Bagian Nordrhein-Westfalen (NRW), salah satu dari Negara Bagian Jerman yang letaknya paling barat, berbatasan dengan Belanda. Rencana semula yang kususun bertahun-tahun yang lalu adalah aku ingin sekolah ke Belanda. Salah satu alasannya karena keinginanku untuk mengenal lebih dekat lagi negara yang pernah menjadikan Indonesia sebagai salah satu koloninya ini. Alasan lain, aku tak perlu belajar bahasa asing baru selain Bahasa Inggris, karena hampir setiap orang Belanda fasih dan mau berbahasa Inggris, begitu yang kudengar dari dosen dan senior-seniorku di Bandung dulu.

Tapi rupanya, nasib yang misterius itu telah menembakkan busur panahnya ke arahku lalu mengantarkan kaki ini untuk merantau ke Jerman, bukan Belanda. Tapi tunggu dulu, Kawan, jangan berpikir bahwa aku menyesal telah terdampar di negeri antah berantah ini, tidak, sama sekali tidak. Justru kenyataan lain yang kemudian aku temui telah membuatku takjub dan sangat bersyukur. Walaupun hidup di Jerman, ternyata dengan mudahnya aku bisa berkunjung ke Belanda, kapan saja aku mau dan punya kesempatan. Perjalanan ke kota-kota perbatasan hanya ditempuh dalam waktu sekitar 2-4 jam perjalanan kereta dan/atau bus, bahkan ke beberapa kota tertentu seperti Enschede dan Nijmegen, aku tak perlu membayar ongkos, karena semester ticket NRW masih berlaku sampai kota-kota tersebut. Aku pun mau tak mau harus belajar bahasa baru, bahasa Jerman, walaupun tak terlalu lancar, tapi cukuplah untuk berbelanja ke warung dan jadi bahan cerita di hari tua nanti.

Dari hari ke hari aku menikmati "kekakuan" Jerman, hampir semua urusan bisa diselesaikan tanpa banyak drama dan bertele-tele, disiplin. Setidaknya, sejauh ini begitu yang aku rasakan. Mahasiswa di sini, baik warga negara Jerman maupun asing begitu dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang disediakan negara, hak-hak warga sebagai konsumen sangat dilindungi, biaya hidup juga relatif lebih murah dibandingkan negara Eropa Barat lainnya. Tapi yang namanya orang Indonesia, ada pula saatnya ketika aku merasa sangat rindu kehangatan suasana di tanah air, rindu senyuman dan sapaan ramah orang-orang yang kita temui acak dalam perjalanan. Suasana seperti itu rupanya bisa kutemui tak jauh-jauh, Belandalah tempatnya. Aku merasa "pulang" setiap aku berkunjung ke Belanda. Produk makanan  khas Indonesia juga sangat mudah kita temui di toko-toko di Belanda, begitu pula dengan restoran Indonesia, tersedia hampir di setiap kota.

Sebelum sahabatku Mira pulang ke Indonesia, hampir setiap bulan aku ke Nijmegen mengunjunginya, artinya hampir setiap bulan pula aku "pulang" ke "tanah air". Mira tinggal di sebuah rumah berlantai dua, bersama 3 orang nona Belanda. Tadinya kupikir, hidup serumah bersama orang barat tak akan semenyenangkan itu, yang ada hanya suasana dingin dan kaku, jauh dari basa-basi. Tapi kenyataannya sungguh bertolak belakang, tersebutlah Sanne, Linda dan Jitske, 3 nona Belanda yang akhirnya juga menjadi kawan-kawanku.

Puck si pemalu
Sanne memelihara seekor anjing betina yang diberi nama Puck, dan Linda punya seekor burung parkit nan lucu, Jack namanya. Suasana di rumah mereka terasa semakin semarak dengan kehadiran binatang-binatang pintar ini. Kami biasa berkumpul dan berbincang-bincang di lantai 1, di ruang keluarga sekaligus dapur. Setiap aku berkunjung ke sana, kegiatan utama aku dan Mira adalah memasak atau membuat kue. Lalu kami biasa menghabiskan malam sambil mengobrol, nonton televisi, bermain bersama Jack dan Puck, atau menemani Mira siaran di Radio PPI Dunia.

Dari ketiga nona Belanda ini, yang paling pendiam adalah Jitske, sehingga aku tak banyak mengetahui tentang nona berambut keriting pirang ini. Jitske cenderung pemalu, tapi sesekali dia juga mengobrol bersama kami, atau aku mengajaknya bermain bersama Jack. Jitske dulu sempat kuliah, namun tak diselesaikannya, lalu sekarang dia bekerja paruh waktu di kios makanan dan es krim di dekat Centrum. Aku pernah diajak Mira jajan wafel es krim di kios Jitske. Sesekali dia pulang ke rumah orang tuanya, di kota tetangga yang tak terlalu jauh dari Nijmegen. Setiap aku ke sana, perasaanku yang dimakannya selalu keju dan roti, jarang aku melihatnya memasak.

Jack si burung parkit
Lalu nona kedua adalah Linda, anak pemilik rumah ini. Dulu kalau aku tak salah ingat Mira pernah bercerita bahwa orang tuanya tinggal di Paris. Nona berambut merah ini paling cantik di antara ketiganya, dan kalau dia sudah bercerita, aku seperti melihat Mira mengobrol bersama saudara-saudara perempuannya sendiri. Linda sudah lulus kuliah, sempat bekerja paruh waktu tapi sekarang dia sedang menganggur, ingin menikmati hidup mungkin. Linda tak hanya sering mengobrol bersama kami, Jack dan Puck pun sering diajaknya bercakap-cakap. Dia mengajariku bagaimana melatih Jack berbagai ketangkasan, mulai dari berguling-guling di atas lantai, sampai bermain bola, lalu Jack akan dihadiahi biji-biji kuaci sebagai upahnya. Sesekali jika Sanne tak di rumah, dia juga membantu mengurus Puck, memberinya makan dan mengajaknya berjalan-jalan.

Lalu nona yang terakhir adalah Sanne, yang paling sering mengobrol bersama aku dan Mira di antara ketiganya. Lidahnya juga paling Indonesia, makanan Indonesia kegemarannya adalah tempe dan perkedel jagung yang lalu disebutnya sebagai "corn cookies". Setiap aku dan Mira memasak, Sanne hampir selalu ikut makan bersama kami. Dia lalu belajar makan dengan tangan, tanpa sendok, walau sesekali dia harus menyerah karena belum terlalu terampil. Suatu waktu dia pernah berseloroh begini: "Someday, if I go to Indonesia, I can survive just by saying: Sanne makan tempe!". Dia juga sering menanyakan istilah-istilah Bahasa Indonesia, aku pun belajar mengenal istilah-istilah Belanda darinya.

Nona pirang ini adalah seorang kidal yang pintar melukis. Karya-karya lukisannya terpajang di dinding-dinding ruang keluarga dan koridor lantai 2. Sanne lulus dari Jurusan Drama Therapy, ya dia memang seorang seniman. Sejak masih kuliah dia sudah bekerja paruh waktu di sebuah toko pakaian. Sanne sering membantuku mencuci piring sehabis memasak, lalu menanyaiku tentang persahabatan aku dan Mira, dia sering terkagum-kagum melihat kami yang sudah seperti saudara sendiri. Kalau kami bertengkar dalam Bahasa Indonesia, Sanne akan buru-buru bertanya: "What are you guys arguing about?" Lalu aku dan Mira tertawa, dia pun semakin bingung melihat kelakuan kami berdua. Aku paling senang jika Sanne, Linda dan Jitske sesekali mengobrol dalam Bahasa Belanda. Aku akan menebak-nebak artinya karena Bahasa Belanda masih satu rumpun dengan Bahasa Jerman, bahasa turunannya.

Tot ziens, Tante!
Begitulah aku menghabiskan banyak akhir pekanku bersama Mira dan 3 nona Belanda ini selama 2 tahun belakangan. Aku mendapat kawan-kawan baru, sekaligus belajar banyak hal tentang budaya mereka. Memahami orang-orang dari bangsa yang berbeda, menyelami cara berpikir mereka, lalu mereka pun belajar banyak hal tentang budaya Indonesia dari kami. Pekan lalu, terakhir kali aku bertemu mereka, pagi-pagi sekali aku sudah mandi dan membereskan barang-barangku. Lalu aku pun pamit dan mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan mereka, Sanne dan Linda bergantian memelukku sambil menepuk-nepuk punggungku. "Hesty, what a nice person you are. It's a pleasure to know you. Thank you for always visiting us, see you again, someday!", begitulah kira-kira kalimat perpisahan dari Sanne, aku terdiam karena haru. Sayangnya aku tak bertemu Jitske, karena dia sedang mengunjungi orang tuanya. 

Di pagi yang dingin itu, aku pulang ke Bochum, kuperhatikan rumah mungil di Goeman Borgesiusstraat itu sampai hilang di kejauhan ketika aku harus berjalan berbelok arah menuju halte bus Van der Duyn van Maasdamstraat, halte yang ketika pertama kali aku menyebutkannya dulu begitu terbata-bata. Bus Breng merah muda itu mengantarku sampai ke Station Nijmegen Centraal, rinduku mengembang. Pada detik itu aku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta pada Belanda dan segala tentangnya. Tot ziens, Sanne, Linda dan Jitske!

Bochum, 31 Maret 2014

Thursday, March 27, 2014

Senandung Musim Semi

Hangat mentari malu-malu menyapa pagi jingga
Cericit burung menyenandungkan lagu cinta
Helai-helai kelopak Magnolia diterbangkan angin tenggara
Bunga-bunga berebutan mekar menampakkan ronanya
Adakah rindu ini menemuimu pada celah pepohonan hijau muda?
di antara binar-binar senja...

Bochum, 27 Maret 2014

Keukenhof Garden, Lisse, The Netherlands, Mei 2013

Ketika Musim-Musim Berganti

Aku dilahirkan jauh di negeri tropis, dibuai hangat mentari sepanjang tahun. Sinarnya itu jarang sekali malu-malu, seperti hujaman pedang-pedang cahaya yang tak habis-habis. Bila musim kemarau tiba, jalanan kering berdebu, daun-daun mahoni berguguran menyisakan ranggas-ranggas kerontang terbakar matahari. Waktu aku masih kecil, aku biasa bermain ke sana ke mari bertelanjang kaki, menyusuri jalanan tanah kerontang, keluar masuk huma dan hutan kecil, atau sesekali berenang di sungai bersama kawan-kawanku. Kalau sudah ke pantai, lain lagi ceritanya, pendeknya selalu saja ada hal baru yang menakjubkan yang kualami setiap hari. Hujannya pun jarang sebentar, tumpah ruah melimpah dari langit. Bila musim hujan tiba, aku paling tak suka kalau harus terkurung di rumah karena sakit. Aku lebih memilih mandi air hujan sambil menghanyutkan perahu kertas pada saluran-saluran air di tepi jalan. Hanya petir yang mampu menghentikan permainan kami di tengah hujan.

Ada pula masanya ketika kemarau betah berlama-lama. Sumur di rumah kami kerontang kehilangan airnya. Lalu orang-orang di kampung kami akan berbondong-bondong mengumpulkan air dari sebuah sumur yang tak pernah kering walaupun kemarau panjang. Sumur ini terletak tak jauh dari aliran sungai, di dekat rumah seorang tetangga kami yang keturunan Tionghoa, Babah Anyin namanya. Maka orang-orang pun menamakan sumur ini "perigi Anyin". Ayahku akan membawa jerigen-jerigen ukuran 20 liter yang disusunnya pada keranjang "pempang" di belakang sepeda motornya. Aku mengikutinya sambil berlari-lari kecil dari belakang. Musim kemarau itu musim susah, tapi keceriaan orang-orang di perigi Anyin mampu mengobati kesedihan kami. 

Pantai Tanjong Pendam, Belitong
Aku tak mengenal segala macam permainan elektronik seperti video game, internet apalagi, satu-satunya hiburan digital di rumah kami hanya televisi. Dulu, kupikir orang-orang di seluruh dunia itu merasakan musim yang sama, tak ada yang namanya musim dingin yang panjang, kalau pun salju paling hanya sebentar, karena kebanyakan film-film luar negeri yang kutonton di televisi menampilkan suasana musim panas, tak ada orang berjaket tebal yang kerepotan menahan dingin. Coba lihat serial Little House on The Prairie, pakaian mereka tak ubahnya pakaian orang-orang di negeri tropis juga. Langitnya pun biru cerah tak berawan, dihembus sepoi-sepoi udara hangat, lalu Laura berlari-lari kecil bersama anjingnya di atas padang rumput nan luas, amboi! Belasan tahun kemudian aku baru menyadari, bahwa suasana seperti itu sesungguhnya sangat jarang dirasakan mereka yang tinggal di negeri empat musim. Mereka hanya merasakan musim panas yang tak begitu lama, sisanya adalah hari-hari kelabu tak bermatahari, dingin, hujan, bahkan bersalju.

Ladang Raps di musim semi, Bochum
Rasanya dulu ketika musim-musim berganti tak pernah kurasakan begitu berkesan, biasa saja. Bunga-bunga liar dari berbagai jenis akan tumbuh dengan mudahnya sepanjang tahun, tak harus menunggu musim semi. Masa kecilku hanya tentang anak kampung yang betah menghabiskan sorenya menunggui matahari di ujung dermaga, bersepeda ke sana ke mari tak kenal lelah atau mengajari kucingku macam-macam ketangkasan. Tahun demi tahun lewat sampai tiba waktunya aku harus meninggalkan kampung halaman. Rupanya belasan tahun kemudian, aku sering diliputi rindu. Aku rindu suara bedug bertalu-talu dari Surau kecil di depan rumah kami, rindu kumandang adzan, rindu layangan warna-warni yang menghiasi angkasa, rindu teriakan ibuku memanggil-manggil jika aku masih betah bermain hingga sore menjelang. Lalu, akan kukatakan pada dunia bahwa masa kecilku terukir dengan sempurna di sebuah negeri indah, jauh di seberang samudera sana, Belitong, Indonesia.

Bochum, 27 Maret 2014

Monday, March 17, 2014

Sepucuk Surat Sensus dan Kantor Pos Kenangan

Beberapa pekan yang lalu, aku menerima sepucuk surat dari pemerintah negara bagian Nordrhein-Westfalen. Isinya tentang pemberitahuan sensus rumah tangga. Tepat seminggu kemudian, sesuai tanggal dan jam yang tertera di dalam surat, seorang petugas sensus, Bapak berperawakan tinggi besar dan berambut panjang datang ke asramaku. Sepintas lalu, mungkin orang akan merasa segan dan takut bertemu Bapak petugas sensus ini, namun sejak dulu aku tak mau menilai orang dari bagaimana dia tampaknya. Sambil menjinjing sebuah laptop dan satu bundel file, dia memperkenalkan diri dengan ramah, lalu kupersilakan masuk. Sesuai kebiasaan orang Jerman, aku pun sudah mempersiapkan semuanya, karpet yang melapisi lantai kamarku yang sekaligus kupakai sebagai tempat sholat sudah kulipat, karena bukan kebiasaan orang Jerman untuk melepas alas kaki ketika masuk ke rumah orang. Aku pun memperkenalkan diri, lalu kusampaikan bahwa aku tak begitu lancar berbahasa Jerman, namun sedapat mungkin aku akan menjawab setiap pertanyaannya dalam bahasa Jerman. Hampir 200 pertanyaan berhasil kujawab dengan baik, Bapak petugas sensus ini bekerja sangat efisien dan rapi. Tak lebih dari 20 menit dia menyelesaikan tugasnya, lalu dia pamit sambil mengucapkan "Vielen dank und viel Erfolg in Ihrem Studium" (Terima kasih banyak dan sukses untuk studimu). Aku membalas senyuman ramahnya dengan ucapan terima kasih. Begitulah tipikal Jerman, bekerja efektif, tepat waktu dan tak banyak basa-basi.

Entah mengapa, segala hal yang berhubungan dengan pos dan surat menyurat telah menyita sebagian perhatianku sejak aku masih kecil. Kelas 3 SD adalah salah satu titik balik ketika berbagai peristiwa penting terjadi dalam hidupku, salah satunya adalah ketika Mamak menghadiahiku album perangko untuk pertama kalinya. Sejak saat itulah aku jatuh cinta pada segala hal yang berhubungan dengan surat-menyurat. Aku mengumpulkan perangko yang kuperoleh dari mana saja, dari hasil menukar dengan kawan-kawan, mengumpulkan dari arsip-arsip surat milik Kakek, atau membeli koleksi SHP (Sampul Hari Pertama) dari kantor pos. Dulu, kantor pos Tanjungpandan yang terletak di Jalan Merdeka itu masih bangunan lama peninggalan Kolonial Belanda. Langit-langitnya tinggi menjulang dan anak-anak tangganya terasa begitu tinggi dan megah untuk ukuran anak SD. Aku rela menyisihkan uang jajanku demi membeli SHP dan berbagai macam kartu pos yang masih disimpan Ibuku sampai hari ini.

Zaman sekarang, ketika telepon rumah, HP dan internet sudah menjadi hal jamak di masyarakat, geliat kantor pos seperti kehilangan jiwanya. Setidaknya ini yang kurasakan di tanah air selama lebih dari satu dekade terakhir ini. Orang-orang tak gemar lagi berkirim surat atau sekedar menyampaikan kabar lewat kartu pos. Semua sudah tergantikan oleh alternatif media komunikasi yang lain. Kalau berbicara tentang efisiensi waktu tentu saja orang akan memilih berkomunikasi lewat media yang lebih cepat. Tapi sebenarnya budaya surat-menyurat ini tak serta merta harus kita tinggalkan.

Dulu aku masih mengalami zaman-zaman terakhir berkirim surat, ketika kami sekeluarga harus pindah ke Pangkalpinang. Tiap sebulan sekali aku bertukar kabar ke beberapa kawan dan nenekku di Tanjungpandan lewat surat. Kalau sepeda motor Pak pos yang berwarna orange itu singgah ke rumah kami, bukan main girangnya hatiku saat itu. Hal-hal sederhana seperti ini, berbekas begitu dalam dalam ingatan. Gores-gores tulisan tangan di atas kertas yang berhias gambar warna-warni atau beraroma parfum nan wangi sesungguhnya tak akan pernah tergantikan oleh email. Ada tumpahan emosi yang begitu kuat di setiap helainya, rindu pun meluap-luap tatkala surat yang dinanti tak kunjung datang, getir sekaligus indah. Surat menjadi sesuatu yang begitu dinantikan karena tak mudah sampai, tak ada konfirmasi telah diterima atau belum, pun jarak yang ditempuhnya tak jarang harus melintasi samudera.

Aku menemukan hal yang sedikit berbeda sejak berada di Jerman. Rupanya orang Jerman masih berakrab-akrab dengan kantor pos hingga hari ini. Hal-hal tentang berkirim kabar, ucapan selamat, ucapan duka cita dan sebagainya (selama masih dianggap bukan hal urgent yang menuntut penyampaian sesegera mungkin), selalu disampaikan lewat pos. Surat-surat resmi dari kantor-kantor pemerintah, instansi, dokter, dan sebagainya juga masih disampaikan lewat pos. Maka tak heran, kartu pos, dan berbagai kartu ucapan begitu mudah kita peroleh, tak hanya di kantor pos. Kartu pos juga menjadi ciri khas dan alternatif souvenir dari sebuah kota. Kantor pos mempunyai banyak cabang yang mudah dijangkau di sekitar tempat tinggal penduduk, begitu pula dengan mesin perangko dan kotak pos.

Maka, menemukan kenyataan ini, aku seperti dipertemukan kembali dengan cinta yang lama, masih sama indahnya walaupun berbelas-belas tahun kami tak berjumpa. Tiap berkunjung ke kota manapun, aku selalu menyempatkan diri untuk membeli kartu pos, lalu kutulis sebait dua bait kabar untuk kukirimkan kepada sahabat dan handai taulan. Aku pun punya kebiasaan baru, menulis puisi atau cerita pendek pada selembar kartu pos selama di perjalanan, karena inspirasi untuk menulis tak jarang datang selama di perjalanan. Aku masih ingat, tanggal 1 Januari 2012, aku menyaksikan matahari terbit pertama di tahun baru dari ketinggian ribuan meter di atas udara. Saat itu, aku dalam perjalanan pulang selepas mengunjungi Tanteku di kota Zug, Swiss. Satu bait cerita inilah hasilnya.

Ufuk Timur
 
Di timur cakrawala, matahari terbit seperti biasa.
Seperti sejak sejarah manusia mencatatnya.
Namun, pagi ini sedikit berbeda.
Itu sungging senyum pertamanya tahun ini.
Awan tebal menyertai semburat jingganya.
Seperti bulu-bulu domba, kelabu.
Itulah awan-awan yang menurunkan salju.

First sunrise of the year.
January 1, 2012 [Zürich-Düsseldorf]

Ketika pertama kali aku ke kantor pos Jerman, aku diliputi perasaan khawatir, karena ketika itu aku belum bisa berbahasa Jerman. Lalu kuberanikan menyampaikan keperluanku dalam bahasa Inggris. Bapak pegawai pos di hadapanku berwajah sangar, senyum pun tidak. Lalu tak dinyana, dia membalas permintaanku dengan ramah, juga dalam bahasa Inggris. Sejak saat itu aku tak pernah khawatir lagi, aku tahu pasti, kantor pos memang tak pernah mengkhianatiku. Kini, mengunjungi kantor pos kembali menjadi kebiasaan menyenangkan bagiku.

Lalu kenanganku kembali ke masa-masa belasan tahun yang lalu, aku teringat seorang Ibu pegawai pos di kantor pos Tanjungpandan dulu. Ibu dari kawan SMP-ku, Ibu Elizabeth namanya, namun kami biasa memanggilnya Bu Lisbet. Bu Lisbet ini begitu ramah, dan aku menaruh perhatian lebih padanya, bukan hanya karena dia Ibu dari kawanku, namun juga karena beliau keturunan Tionghoa. Profesi sebagai pegawai Jawatan pemerintah atau pegawai negeri tentu bukan hal yang jamak dilakoni saudara-saudara kita keturunan Tionghoa. Aku juga mendengar sebuah cerita dari Ayahku, Ayah Bu Lisbet ini ternyata pernah sampai memperoleh penghargaan khusus karena saking seringnya mendonorkan darah ke PMI. Diam-diam aku mengagumi keluarga hebat ini. Maka dari sepucuk surat sensus dan kantor pos kenangan, aku belajar memandang manusia seutuh-utuhnya, tak peduli apa pun latar belakang, agama, suku bangsa, pandangan politik dan pilihan hidupnya. Setiap manusia adalah manusia, sesederhana kita (mau) menghargainya.

Bochum, 17 maret 2014

Thursday, March 13, 2014

Bochum - Nijmegen dan Mimpi-mimpi Masa Silam

Aku masih ingat, sore itu di beranda lantai 2 gedung Labtek VI, aku dan Mira duduk berdua, memandang hujan. Beranda sudah sepi, tak terdengar lagi hiruk pikuk mahasiswa yang mengurus ini itu di kantor tata usaha, hanya suara hujan yang menemani kami di sore bulan Juli itu. Tak terasa 4 tahun sudah aku mengenal gadis hitam manis ini, namun kami baru benar-benar akrab tak lebih dari 1 tahun belakangan ini, ketika nasib mempertemukan kami di lab yang sama, Lab Instrumentasi Medik. Pun belum genap sebulan kami diwisuda, masih hijau, fresh graduate kalau istilah orang-orang zaman sekarang.

Beberapa bulan sebelumnya, langkahku maju mundur tak karuan. Aku bingung hendak kemana. Pun sore itu, belum juga bulat keputusanku. Tiba-tiba, Mira memecah bisu, dia bercerita tentang salah satu mimpinya, yang sekaligus pula mimpi Ibundanya. Aku tahu, Mira juga sebenarnya masih diliputi ragu. Namun, mimpinya itu seketika menyihirku, derai-derai hujan seperti dibekukan udara, menjelma menjadi bilah-bilah bening menghujam mataku, menuding aku yang masih ragu.

Sore sunyi di bulan Juli itu tak mungkin aku lupakan, sore itu adalah salah satu titik balik yang mengantarkanku menjadi aku hari ini. Konsekuensi mimpi dan keputusanku (sekaligus kami: aku, Mira dan Vebi) tentunya bukan hal mudah. Ini pula berarti kami harus mengikatkan diri pada komitmen bertahun-tahun ke depan, bergelut dengan buku-buku, dan entah berapa eksperimen lagi yang seperti tak habis-habisnya menunggu kami. Betapa pun sulitnya, kami akan sekolah lagi!

Setahun berselang, aku dan Mira punya panggilan baru. Aku menjadi Makcik dan Mira menjadi Tante, karena Vebi sahabat kami telah menjadi Uma' (Ibu, bahasa Melayu Belitong, red.) dari seorang anak laki-laki yang lucu, Richie namanya. Lalu orang-orang sekitar kami pun serta merta memanggil kami dengan panggilan baru ini, pun hingga hari ini.

Singkat cerita, kami pun diwisuda lagi. Kali ini aku tertidur di gedung Sabuga, bosan mendengarkan ceramah ilmiah yang entah disampaikan oleh siapa saja, Tante entah masih khusyuk mengikuti prosesi wisuda atau ikut tertidur, aku tak ingat lagi. Lalu hidup kami kembali lagi seperti 2 tahun sebelumnya, fresh graduate yang pun belum kunjung punya pekerjaan tetap. Tante memang tak pernah ambil pusing soal rencana hidup. Slogan favoritnya: "bebas aja". Maka, dari perempuan penyayang ini aku belajar agar tak terlalu "ngoyo" menjalani hidup, tapi bukan pula berarti kami tak bekerja keras. Cukuplah Allah dan orang-orang terdekat saja yang mengetahui bagaimana kami bersusah payah. Kami lebih terlihat seperti sekumpulan anak muda santai yang gemar "mentertawakan" hidup.

Nasib mengantarkan Tante lebih dahulu ke Eropa, tanah yang memeluk mimpi-mimpi kami. Uma' juga sudah 1 semester memulai program Doktoralnya di tanah air. Tinggallah aku yang masih tak jelas rimba nasibnya. Enam bulan aku seperti "orang gila" melamar sekolah ke sana ke mari. Aku pun sudah tak mempan lagi dihujam penolakan bertubi-tubi, 25 aplikasi ditolak setelah mengikuti serangkaian proses seleksi yang terkadang sudah hampir di ujung harapan menang, 7 aplikasi tak jelas kabarnya. Suatu malam, Tante menanyakan bagaimana kabar aplikasi-aplikasiku, pertanyaan yang sama selama beberapa bulan terakhir ini, namun kali ini Tante merasa sedikit khawatir. Tenanglah Kawan, sihirmu sore itu belum hilang bekasnya, masih tak mempan dihujani kegagalan-kegagalan yang belum berbuah ini. Akhirnya, dari 33 aplikasi yang kukirim, aplikasi ke 26 lah yang menjadi awal perjalanan panjang kami berikutnya. Aku akan menyusul Tante ke Eropa.

Aku pun merantau lagi, lebih jauh lagi. Malam itu, 2 Desember 2011, belum genap satu bulan aku di Bochum, Tante dan Yoga datang mengunjungiku. Ah senang rasanya, bertemu saudara sendiri ketika betah belum kunjung mengakrabi hari-hari. Dua tahun belakangan ini, kami sering sekali bertemu, karena kebetulan jarak kota tempat tinggal kami tak terlalu jauh walaupun sudah berbeda negara, hanya kurang lebih 3 jam perjalanan kereta. Nijmegen pun sudah seperti kota keduaku. Aku mengenal Nijmegen sama seperti aku mengenal Bochum, dan aku pun mencintai keduanya. Dulu sekali aku pernah bermimpi, aku dan Tante sekolah ke Eropa dan kami saling mengunjungi, ternyata hari-hari belakangan ini mimpi itu menjadi kenyataan. Berikut potongan catatan kenang-kenanganku tentang kota Nijmegen.

Nijmegen, ke tujuh kalinya


Kalaulah ada gubahan lagu tentang kenangan akan sebuah kota, tentu banyak orang yang akan mengingat Yogyakarta. Aku pun menyimpan kenangan manis tentang persahabatanku di sana. Lalu, siapa gerangan penyair yang sudi kiranya menggubah lagu serupa untuk kota Nijmegen? Kota kecil nan cantik di tepi Sungai Rijn, yang riak-riaknya mengalir syahdu, mengirimkan limpahan berkah tak putus-putus dari negeri tetangga, Jerman dan Swiss. Nimwegen, begitu lafal Jerman menyebutnya, kota yang akan aku kenang seumur hidupku, tempat salah seorang sahabatku berjuang dalam 3 tahun terakhir ini. 

Di masa depan, aku akan mengingat setiap sudutnya yang akan menyimpan dengan indah helai-helai kenangan persahabatan kami di negeri orang. Kerlip selasar stasiun, jari-jari sepeda yang kami kendarai mengelilingi sudut kota, derum bus Breng bercorak merah muda, serta merdu lidah Belanda ketika melafalkan "Nai-me-hen". Gelung-gelung logam abstrak di pusat kota, pernah aku bergelantungan di sana pada suatu siang nan cerah di musim semi, lalu kuingat wajah ramah oma-oma Belanda. Demikianlah serpih-serpih kenangan yang akan kususun mozaiknya nanti pada suatu masa ketika kami tak lagi muda. Seperti kerlip lampu yang menari dalam temaram senja, senyum kota Nijmegen seperti tak akan sirna.

Stasiun Nijmegen Centraal menjelang senja, musim gugur 8 Oktober 2013.

***

Hampir selalu, aku dan Tante menghabiskan liburan bersama. Berbekal nekat, kami menjelajahi Eropa selama berhari-hari ketika musim liburan tiba. Mungkin semacam "hadiah" dari kami dan untuk kami sendiri. Tentu tak sedikit pengalaman pahit yang kami alami selama perjalanan, kami pernah tersesat, sakit, kelelahan, lapar. Tapi, tak sedikit pula pengalaman berharga yang akan kami kenang seumur hidup. Kata orang, bepergianlah, maka engkau akan mengenal sahabat seperjalananmu, karena banyak hal yang akan teruji di sana. Tante adalah sahabat seperjalananku, maka kami tak pernah sekali pun saling menyalahkan jika menghadapi kesulitan, paling hanya tertawa sambil kebingungan menemukan jalan keluar.

Obrolan kami jarang serius. Aku tahu kalau Tante sedang banyak pikiran, dia akan lebih banyak diam, dan aku juga sudah tahu bagaimana menghadapinya, diamkan saja, paling keesokan harinya dia sudah kembali "gila", itu berarti dia sudah normal kembali. Namun beberapa kali tak jarang pula kami terlibat obrolan serius, tak tanggung-tanggung sampai menjelang dini hari kami membahas masa depan bangsa! Hahaha, siapa kami ini, sekolah pun belum selesai sudah berani-beraninya. Tante pun tahu bagaimana menghadapi aku yang sedang banyak pikiran. Dia akan menyogokku dengan segala hal yang berbau kucing juga makanan-makanan enak yang dimasaknya sendiri.


Waktu berputar cepat sekali, tahu-tahu sudah seminggu, sebulan, setahun, dan sekarang sudah lewat 2 tahun. Tante sudah harus pulang ke tanah air, lebih dahulu. Perjuangannya memang belum genap, insyaAllah tahun ini dia akan menjadi Doktor, jebolan Radboud Universiteit Nijmegen, Belanda. Mungkin pergantian musim-musim di sepanjang perjalananku pulang pergi Bochum-Nijmegen tak akan terlalu sering lagi aku saksikan. Biarlah dia menetap dalam sanubariku sebagai serpih-serpih kenangan yang akan kami susun mozaiknya nanti pada suatu masa ketika kami tak lagi muda.

Ah, Tante, satu buku pun sebenarnya tak akan habis untuk menceritakan kebanggaanku padamu. Sesungguhnya aku tak pernah menyesal Allah pernah mempertemukan kita. Cepatlah pulang ke tanah air, raih mimpi-mimpimu yang lain. Jangan pernah berhenti untuk menjadi kebanggaan kami: keluarga dan sahabat-sahabatmu. Aku masih harus menuntaskan mimpi Eropa ini, untuk merajut mimpi-mimpi selanjutnya. Jika tiba waktunya nanti, kita akan berjumpa lagi, insyaAllah. Semoga persahabatan ini membawa kebaikan tak hanya di dunia, namun semoga Allah mengumpulkan kita di akhiratNya kelak dalam keadaan yang jauh lebih baik. Salamku untuk setiap jengkal tanah air, yang mengalirkan hidup pada kita, anak bangsa yang pernah berjuang bersama.

Bochum, 13 Maret 2014

Tuesday, February 11, 2014

"Ich bin Arzt"

Hari ini aku bangun lebih pagi dari biasanya. Salah satu kebiasaanku sejak dulu, jika ingin bertemu seorang guru untuk pertama kalinya, malam sebelumnya pasti aku tak enak tidur. Pikiranku menerawang, membayangkan untaian-untaian ilmu baru yang akan kudengar keesokan harinya.

Hari ini adalah salah satu hari besar bagi diriku sendiri. Aku akan bertemu seorang dokter yang akan membagi ilmunya padaku, pada kami. Pertama kali kudengar namanya dari Supervisorku, tak menunggu lama, segera kucari segala informasi yang berhubungan dengan sepak terjang sang dokter dalam bidang yang digelutinya. Informasi sudah terkumpul di kepalaku, Tim begitu namanya, singkat saja dan mudah dihafal, wajahnya sudah kuingat, begitu pula bidang keahliannya dan sedikit sifat antusiasnya yang diceritakan oleh Supervisorku.

Belum lepas tengah hari, aku dan Supervisor ke duaku menuju rumah sakit tempat sang dokter bekerja. Supervisor keduaku ini seorang ibu muda, Stefi namanya, bahasa Inggrisnya tak selancar Supervisor pertamaku. Namun tak sedikit pun hal ini menghilangkan keramahannya padaku dan secara tak langsung dia adalah guru Bahasa Jermanku selama lebih dari setahun terakhir ini. Jalanan masih sedikit basah sisa hujan tadi malam, Stefi  memarkir mobilnya pelan-pelan.

Tadi selama di perjalanan, Stefi bercerita tentang rumah sakit tempat Tim bekerja. Berufsgenossenschaftliches Universitätsklinikum Bergmannsheil begitu nama rumah sakit ini dalam bahasa Jerman, mungkin jika diterjemahkan secara bebas, kira-kira artinya rumah sakit yang berhubungan dengan pekerjaan (profesi) sekaligus sebagai sarana penelitian bagi universitas, profesi dalam hal ini pekerja tambang, dan universitas yang dimaksud adalah Ruhr Universität Bochum, universitas tempatku belajar saat ini. Sejarahnya begini, dulu sekali, Bochum dan kota-kota sekitarnya sepanjang Sungai Ruhr merupakan salah satu pusat pertambangan batubara di Eropa. Rumah sakit ini didirikan dalam rangka untuk menangani pekerja-pekerja pertambangan yang mengalami kecelakaan ketika menjalankan tugasnya. Bergmannsheil ini sudah sejak lama terkenal dalam bidang penanganan emergency (gawat darurat), sehingga menjadikannya rumah sakit emergency tertua dan terbesar di dunia. Fasilitas klasik, lengkap dan bersahaja ini rupanya tak jauh-jauh, tak lebih dari selemparan buah jambu dari tempat tinggalku. Kini, Bergmannsheil tidak hanya dikhususkan bagi pekerja tambang, namun terbuka untuk semua kalangan dan menjadi salah satu rumah sakit pendidikan yang mendukung penelitian di Ruhr Universität Bochum, khususnya Fakultas Kedokteran.

Sejak kecil, aku tak pernah takut ke rumah sakit. Aku senang memperhatikan dokter-dokter yang lalu lalang dengan jas putih dan stetoskop yang tergantung di leher mereka. Namun, tak pernah sekali pun aku bercita-cita ingin menjadi dokter, alasannya pun aku sendiri tak pernah tahu, pokoknya tak mau saja. Kami memasuki pintu utama, sudah 3 pasien berkursi roda yang lalu lalang di hadapanku. Pelajaran pertama, bersyukur, kedua kakiku masih kuat berjalan dan berlari ke sana kemari. Tak lebih dari 5 menit, Tim datang menyambut kami, wajahnya sumringah seperti baru bertemu kawan lama. Pakaian yang dikenakannya berwarna hijau tua, pakaian untuk operasi, pada saku jas putihnya terselip telepon emergency yang sering sekali berdering, dan berkali-kali dia minta maaf pada kami gara-gara telepon emergency ini.

Ruangan Tim lebih tampak seperti "bengkel" teknik daripada ruangan seorang dokter. Satu set ultrasonic device teronggok di sudut ruangan, jarum suntik dan kateter dari berbagai model dan ukuran berserakan di meja dan kardus-kardus. "Saya pencandu kopi", begitu kalimat perkenalannya padaku sambil tertawa ringan. Dia menawari kami kopi, tapi kuminta saja segelas air putih, perutku tak enak lantaran terlalu bersemangat sejak tadi pagi. "Dia mengerti Bahasa Jerman, namun akan lebih sering berbicara dalam Bahasa Inggris", begitu Stefi mengenalkanku pada Tim. Tim mengangguk senang, dan dia tampak lebih senang ketika tahu aku berasal dari Indonesia, tak tahu aku apa alasannya.

Obrolan kami mengalir hangat, Tim membuka-buka file presentasinya, menerangkan pada kami masalah-masalah yang dia hadapi dalam dunia klinis. Tim adalah seorang ahli anestesi, selain praktik sebagai dokter di Bergmannsheil, dia juga seorang Doktor yang aktif meneliti dan hadir dalam forum-forum ilmiah. Aku menjadi saksi bagaimana bersahajanya dokter muda ini. Sedikit banyak aku tahu sepak terjangnya dalam bidang ini, namun berkali-kali dia katakan "Ich bin Arzt", "Saya adalah dokter". Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, dia berkata begitu sembari menunjukkan kejanggalan-kejanggalan pada jarum suntik yang ditusukkannya ke tubuh pasien. Dia kehilangan jejak, pada berbagai keadaan tertentu, ultrasonik tak mampu "melihat" jarum yang menembus tubuh pasien, dia tak tahu alasannya karena dia seorang dokter, bukan insinyur. Untuk itu lah kami datang padanya, kami akan saling membantu memecahkan misteri ini, sampai suatu hari nanti ketika tiba saatnya aku boleh pulang ke tanah air.

Begitu ideal kondisi penelitian di Jerman ini, setidaknya sinergi seperti ini belum terlalu jamak kita temui di tanah air. Tapi, aku yakin, suatu hari nanti hal ini bukan tak mungkin kita wujudkan. Para ahli dari berbagai bidang duduk bersama dalam satu meja, satu sama lain saling melengkapi tanpa sekat-sekat senioritas dan fanatisme profesi.

Berbagai rekaman proses anestesi dan biopsy ditunjukkan oleh Tim pada kami. Giliran kami yang memaparkan ide-ide padanya, pandangan kami sebagai insinyur. Aku menunjukkan sebuah grafik yang kukerjakan dalam sebulan terakhir ini. Di sini aku belajar berbicara bagaimana menerjemahkannya bahasa teknik ke dalam bahasa yang bisa dimengerti oleh dokter, tak mudah memang, tapi tetap kucoba. Aku harus mengulang sampai 3 kali hingga Tim mengerti, dia mengangguk-angguk senang, dan sekali lagi dia berkata "Ich bin Arzt". Stefi nampak tak begitu kuat melihat rekaman "berdarah-darah" yang ditunjukkan Tim, aku malah menunjuk-nunjuk senang, kami bertiga pun lalu tertawa riang.

Tak terasa 1,5 jam berlalu begitu cepat. Tim mengoleh-olehi kami satu kardus berisi jarum suntik dan kateter dari berbagai ukuran untuk kami pakai dalam eksperimen nanti. Dia berseloroh, "Apa lagi yang bisa saya bantu dan sediakan? Jangan segan-segan memberitahu, asalkan bukan masalah fisika dan teknik", ujarnya sambil tertawa senang. Supervisorku ternyata benar, Tim adalah seorang dokter yang ramah dan antusias. Dia senang bisa berbagi dan mengutarakan masalah-masalah teknik yang dihadapinya pada kami. Tiba-tiba telepon Tim berdering lagi, kali ini benar-benar emergency. Tim harus segera berada di ruang operasi. Dia mengantar kami menuju lift sambil berlari sedikit tergesa, lalu dia berjanji akan mengatur jadwal pertemuan berikutnya.


Aku dan Stefi kembali menuju kampus sambil mendiskusikan rencana-rencana selanjutnya. Kami diliputi rasa senang karena keramahan dan ilmu-ilmu baru yang kami peroleh dari Tim. Di perempatan lampu merah menuju kampus, Stefi tiba-tiba menunjuk sebuah rumah tua. "Hesty, kau harus melihat rumah ini nanti beberapa bulan lagi". Aku bingung, apakah gerangan yang istimewa dari rumah ini. Stefi bercerita bahwa saat musim bunga tiba beberapa bulan lagi, rumah ini akan berubah menjadi istana kecil seperti dalam dongeng, berhias bunga warna-warni pada taman dan dinding-dindingnya. Aku mengangguk-angguk diliputi rasa penasaran. Namun rasa penasaranku ini tak mampu mengalahkan rasa penasaranku yang lain pada sekardus jarum suntik yang akan menemani kami hingga berbulan-bulan ke depan nanti, semoga mereka pun tak kalah "berbunga" dibandingkan rumah mungil ini.

Bochum, 11 Februari 2014.

Monday, January 13, 2014

Waktu Mengulur, Bersayap-sayap

Tengah hari
Kabut menari
Jelaga yang itu-itu saja
Mengeja nama-nama

Sore menggema
Memanggil aku
Di gerbang lorong gelap
Tak berpintu

Malam merangkak
Panjang
Diam
Kelam

Pagi 
Masih sepi
Digenggam sunyi
Kureguk setengah cangkir
Kopi sisa kemarin, pahit

[Bochum, 13 Januari 2014]

Katwijk, Belanda, Musim semi 2013

Wednesday, January 01, 2014

Winter Journey 2013

Catatan perjalanan di musim dingin, 20-31 Desember 2013

Rel-rel baja berdecit-decit digilas roda kereta, ratusan kilometer memanjang berliku-liku seperti tak putus-putus. Kabut pagi menyelimuti punggung-punggung bukit yang telah ditinggalkan daunnya. Alam membisu tatkala rona jingga perlahan merekah, memecah kebisuan pagi, menandai awal hari. Aku ingin menemuimu dalam setiap perjalanan, seperti janji kita dulu. Maka, tunggulah keretaku menyeruak senja di bibir telaga, ujung barat daya.
~Journal Footage Day 0, Bochum, Refleksi Awal Perjalanan~

Jumat telah purna bersama purnama yang perlahan luruh. Sabtu belum sepenuhnya utuh. Stasiun masih sepi ketika seekor merpati mengais remah-remah roti, masih terlalu pagi.
~Journal Footage Day 1, Koblenz, (Belum) Separuh Perjalanan~

Kereta berkelok-kelok menembus fajar, menyibak gelap yang membuntutiku sedari tadi. Namun, rona jingga cakrawala serta merta direnggut kabut yang mengawang rendah. Matahari menelusup sebilah demi sebilah, luntur di bibir bukit sebelah tenggara. Benteng-benteng kokoh menyembul-nyembul di puncak-puncak bukit cemara. Ladang anggur telah gugur, tertidur. Lalu, perlahan riak-riak telaga dipermainkan biduk. Camar-camar terbang labuh, menutup sore nan lusuh.
~Journal Footage Day 1.5, Bodensee, Konstanz, Kabut Hutan Cemara~

Pagi masih teramat muda, halimun menguap di permukaan telaga. Punggung-punggung Pegunungan Alpen berbaris-baris diselimuti salju, kokoh, dingin, kelabu. Di sini, musim dingin memang jarang menipu dan kereta kami pun terus melaju.
~Journal Footage Day 2, Konstanz-Lindau-Füssen, Menyusuri Telaga Para Raja~

Tumpukan salju membisu, menyambut kaki-kaki para pejalan dari negeri-negeri jauh. Bangunan klasik masih berdiri kokoh hampir di setiap sudut kota. Tebing-tebing karang berkelok-kelok dibelah biru zamrud Sungai Lech nan jernih. Di sini, waktu bagai berhenti dan mampu diputar kembali, zaman seperti enggan berganti.
~Journal Footage Day 2.5, Füssen, Persinggahan Kedua~

Masih terang tanah selepas subuh, bus membawa kami melintasi padang-padang bersalju. Bukit-bukit batu nan kokoh tersiram matahari yang perlahan muncul dari celah-celah pepohonan. Dari kejauhan samar-samar kastil-kastil nan cantik menampakkan kemegahannya. Di sini, dulu sekali, raja-raja Bavaria pernah berkuasa. Mereka membangun istana-istana di atas bukit, jurang-jurang terjal menganga di penjuru sisinya. Di balik tembok-tembok benteng nan angkuh, aku masih tak paham, apa sesungguhnya yang mereka cari.
~Journal Footage Day 3, Hohenschwangau (Schloßer), Menyusuri Istana di Bibir Tebing~

Bavaria menyimpan sejarah panjang kekuasaan raja-raja. Kini, salah satu kotanya telah bertransformasi menjadi metropolitan yang menjadi jantung ekonomi wilayah Jerman bagian selatan dan sekitarnya. Petualangan bagian pertama musim dingin ini berakhir di München, metropolitan klasik yang denyutnya terus berdetak hingga hari ini, seiring zaman berganti. Matahari perlahan terbenam mencumbu bibir cakrawala saat kaki-kaki kami menyusuri tepian Sungai Isar. Dan akhirnya aku tahu bahwa dalam setiap perjalanan, akan selalu ada kenangan baru, seperti kenangan masa kecilku tentang mimpi hari ini.
~Journal Footage Day 4, München, Very Busy Munich~

Dalam perjalanan, aku bertemu banyak orang, banyak kejadian, pun kenangan bersama sahabat-sahabat seperjalanan. Dalam deru kereta, bus dan langkah kakiku, aku pun menemukan diriku. Seiring hari berganti, senja kian menua, lalu entah berapa lagi usia yang tersisa.
~Journal Footage Day 5, München-Augsburg-Stuttgart-Karlsruhe-Mannheim-Köln-Duisburg, Menuju Kampung Halaman, Tepian Ruhr-Rhein~

I won't stay forever, but I'll always call it home, because home is where the heart is. 
~Journal Footage Day 1 part 2, Nijmegen, Second Home~

Sejauh mata memandang hanya laut biru. Wahai angin, penuhilah paru-paruku. Ingin kuhabiskan waktuku terombang-ambing di atas perahu. Wahai Nahkoda, antarkan aku berlayar ke laut biru.
~Journal Footage Day 2 part 2, Volendam, Sepucuk Sore di kampung Nelayan~

Matahari baru tergelincir lepas tengah hari. Antrian panjang tak putus-putus jauh hingga ke luar pagar. Sepeda lalu lalang melewati gerbang Rijksmuseum. Ibu kota tua ini gagah sekaligus cantik, pesonanya seperti tak pernah hilang. Maka pada suatu hari nanti, tunggulah Kawan, aku akan kembali.
~Journal Footage Day 3 part 2, Amsterdam, Riuh Museum di Ibu Kota~

"Berjalanlah, maka engkau akan menemukan dirimu sendiri." Perjalanan sebelas hari ini telah mengajarkanku akan banyak hal. Aku menumpang tidur di stasiun yang dingin, di kereta yang ramai, di bus yang sempit, di Islamic Center yang hangat, atau hostel murah meriah dengan pelayan yang ramah. Aku juga menginap di rumah para sahabat. Lalu aku makan apa saja dan di mana saja selama masih halal, sekedar untuk mengusir rasa lapar. Dalam segala keterbatasan waktu, tempat, tenaga dan kelapangan, sesungguhnya aku telah belajar untuk menaklukkan diriku sendiri. Karena hidup adalah perjalanan yang sesungguhnya, maka langkahku masih belum berhenti. Mimpiku masih kugantungkan tinggi-tinggi, tanganku masih menggapai-gapai, kakiku masih melompat dan terus berlari. Semoga sisa usia ini kiranya bermanfaat dan tak sia-sia. Ketika tiba waktunya nanti, aku pun akan bepergian lagi, sendiri, seperti dulu sekali ketika pertama kali Ibu mengantarkanku ke dunia ini.
~11 Days Winter Journey 2013, Nothing to Declare: Home~

Thursday, December 12, 2013

Reuni Kecil di Awal Musim Dingin, Akhir Tahun Ini

Dia seperti melayang tertiup angin yang datang tiba-tiba, hanya sekedipan mata. Kau jangkau-jangkau pun percuma, dia tak akan pernah kembali lagi. Pertemuanmu memang tak lama, itu lah waktu, Kawan. Bulan Desember adalah bulan dengan hari-hari terpendek dalam setahun di belahan bumi sebelah utara. Pagi rasanya tak tegak-tegak, tahu-tahu seperti disambar elang, matahari begitu lekasnya pulang.  Dan aku masih di sini, melalui hari demi hari, mengamati musim-musim berganti. Bulan-bulan terakhir tahun ini ditandai beberapa peristiwa penting dalam hidupku, tak terkecuali sore itu.

Suasana Hörsaal HID tak seperti biasanya, bukan ramai suara mahasiswa. Ruangan dengan langit-langit tinggi menjulang itu, dirancang dengan apik. Kiranya memenuhi kriteria-kriteria bagaimana seharusnya sebuah ruangan kuliah dibangun, pas secara akustik, termal, dan pencahayaan. Kesimpulannya memang nyaman dan tepat guna. Baris-baris bangkunya kokoh dari kayu berwarna coklat muda, disusun dalam deret-deret bertangga, persis seperti ruangan-ruangan kuliah antik di kampus ITB. Aku jadi ingat dosen-dosenku dulu, walaupun aku tak melanjutkan bidang keahlian fisika bangunan, namun pengetahuan tentang hal itu akan senantiasa bermanfaat bagiku di kemudian hari. 

Sore itu, para Profesor, dosen, pejabat Fakultas dan tamu undangan satu per satu memenuhi ruangan. Banyak wajah yang tak kukenal, sorot-sorot mata mereka teduh sekaligus tajam, pasti bukan orang-orang "sembarangan". Lalu, Supervisorku maju ke depan ruangan, memimpin acara dan memperkenalkan beberapa tamu undangan yang hadir. Acara dibuka dengan adat khas orang Eropa, musik klasik. Tiga orang musisi, "Ensemble Bellamira" sudah siap di depan ruangan. Dalam khayalanku, mereka seperti anak beranak, terdiri dari seorang ibu yang piawai memainkan piano, seorang anak bujangnya terampil menggesek cello, dan anak gadisnya yang tak kalah gesit jari-jarinya memainkan seruling kayu.

Semua hadirin sudah duduk dengan rapi di deretan bangku-bangku kuliah tadi, hening. Lalu alunan lembut seruling kayu merambat lamat-lamat, memenuhi seisi ruangan, berkejar-kejaran dengan denting-denting piano dan gesekan cello. Iramanya harmonis, dalam ketukan-ketukan cepat dan lambat berganti-ganti. Layar display di dinding bagian depan ruangan menampilkan judul lagu yang mereka bawakan. Di sana tertulis Sonata op.1 Nr. 2, Fransesco Barsanti (1690–1770). Mataku lekat mengamati tangan-tangan "sakti" di depan sana, siapa mereka yang dengan piawainya menjaga warisan nenek moyang mereka, musisi antah berantah yang hidup berabad-abad sebelumnya. Musik klasik pertama diakhiri tepuk tangan panjang dari seluruh hadirin. Tiga anak beranak tadi mengangguk-angguk membungkukkan badan sambil tersenyum mengembang.

Giliran pembicara pertama yang maju ke depan. Setelah sepatah dua patah sambutan, dia melanjutkan presentasinya dengan serangkaian slide. Baru slide pertama, sebagian wajah kami sudah sedikit "gelisah". Topik yang dia bicarakan begitu kental berbau kedokteran, sedangkan sebagian besar hadirin adalah orang-orang teknik. Fakultas kami pun dengan terang dinamakan "Fakultät für Elektrotechnik und Informationstechnik". Tapi, tunggu dulu, Kawan. Bapak setengah baya ini salah satu orang terpenting dalam perhelatan di sore yang dingin ini. Dia seorang Profesor dari RWTH Aachen, ahli pencitraan molekuler. Pak dokter ini kutaksir umurnya baru 40an awal, namun kecerdasannya berhasil menyihir hampir seluruh ruangan. Kuperhatikan beberapa wajah Profesor sepuh tampak mengangguk takzim, seperti hendak bertanya, tersenyum, lalu sesekali mengetuk-ngetukkan jarinya pelan-pelan ke meja, seperti sedang berpikir dengan seksama, sekaligus menikmati sajian dari seorang "anak muda" di depan mereka ini. Tak tampak lagi wajah gelisah seperti pada awal presentasi tadi. Presentasi hampir satu jam ini disajikan sebagai pembuka wawasan kedokteran yang telah "dikawinkan" dengan ilmu teknik, khususnya untuk aplikasi pencitraan molekuler. Tepuk tangan panjang menyudahi slide terakhir berisi foto sang dokter, supervisorku dan bintang tamu yang sesungguhnya paling kami tunggu, dalam sebuah konferensi di Dublin tahun lalu. 

Kelompok "Ensemble Bellamira" menunaikan tugas keduanya. Kali ini aku tak terlalu memperhatikan lagi judul lagu yang mereka bawakan. Pendeknya, mata hadirin kian tersihir oleh penampilan piawai mereka. Tak kurang dari 4 lagu karya musisi-musisi klasik abad ke 15 dan 16 mereka bawakan hingga akhir acara. Berganti-ganti dengan penampilan dua ilmuwan hebat yang berkicau-kicau menikmati helai-helai presentasi berisi penemuan yang menjadi salah satu pencapaian dalam hidup dan karir mereka. 

Siapakah gerangan bintang tamu yang paling kami tunggu sore itu? Dia lah Moni, sahabat kami yang cerdas dan baik hati. Walaupun sudah menjadi Doktor sejak musim semi tahun lalu, tak tampak ada yang berubah dari pribadi yang bersahaja ini. Beberapa jam sebelum acara, dia khusus datang ke kantor kami, rekan-rekan lamanya. Hari ini seperti sebuah reuni kecil untuk kami. Moni mengetuk pintuku saat aku sedang makan siang. Dia memelukku seperti pertama kali kami bertemu 2 tahun yang lalu, ketika dia menjemputku di bandara Düsseldorf, kali pertama kakiku menginjak tanah Eropa. Senyumnya tak berubah, pun gaya bicaranya yang terkesan begitu akrab. "Bagaimana, Hesty? Sudah benar-benar jadi orang Jerman kah, kau sekarang?" begitu sapaan pertamanya padaku, mungkin lantaran dia melihat aku makan roti, bukan nasi. Aku mengucapkan selamat padanya atas sebuah pencapaian hebat untuk ilmuwan muda sepertinya, dan aku pun turut merasa bangga sebagai kawannya. Tahun ini, Moni memperoleh penghargaan bergengsi dari sebuah asosiasi ahli dan teknologi atas hasil penelitian disertasinya dulu yang dianggap luar biasa, berjudul: "Pencitraan Ultrasonik Molekuler Kuantitatif".

Moni maju ke depan, menyajikan hasil penelitiannya yang rupanya masih dilanjutkannya hingga sekarang bersama Profesor muda dari Aachen tadi. Deja vu aku memandang baris-baris tulisan yang disajikan Moni, presentasi yang sama yang kami nikmati setahun yang lalu ketika ujian sidang doktoralnya. Kontras dengan presentasi pertama, slide-slide Moni lebih didominasi oleh benda-benda yang lebih akrab kami lihat sehari-hari, rumus dan angka serta animasi gambar 3 dimensi. Di bagian akhir baru berbau kedokteran sebagai bagian dari tahap aplikasi dunia teknik di bidang kedokteran. Presentasi hampir setengah jam itu, ditutup dengan tepuk tangan yang lebih meriah. Perwakilan asosiasi pemberi penghargaan maju ke depan bersama Supervisorku, menyerahkan piagam dan seikat bunga untuk Moni. Kulihat ayah Moni sedikit terharu, wajahnya seperti hendak menangis. Matanya lekat memperhatikan anak kesayangannya itu, satu dua blitz kameranya mengabadikan salah satu momen bahagianya tahun ini.

Sore itu, aku menyaksikan bagaimana berbagai kecerdasan dipadu-padankan dalam satu kesempatan. Ketika ilmu-ilmu eksakta menari-nari dalam kepala kami, serta merta pula alunan musik klasik dari abad-abad yang telah lalu membelai lembut telinga kami. Aku menutup sore itu dengan satu tekad dan mimpi. Suatu hari aku ingin seperti Moni, yang mendedikasikan ilmunya untuk kebaikan dan kemanfaatan banyak orang. Kakiku sudah jauh melangkah, tak elok rasanya jika aku mengkhianati semua kesempatan ini. Maka, di sini aku masih berdiri di atas kedua kaki, mari berlari lagi, lebih kencang lagi!

Bochum, 12 Desember 2013