Sunday, June 29, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 2 Ramadhan, Wangi Kenangan yang Melayang-layang

Bagi masyarakat Indonesia, Ramadhan erat kaitannya dengan keluarga. Biasanya orang-orang akan memanfaatkan momen Ramadhan untuk berkumpul bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Bagiku Ramadhan menyimpan kenangan-kenangan sentimentil tentang masa kecil dan kampung halaman, layaknya anak-anak Melayu yang dibesarkan di kampung, diasuh alam, dibuai deru angin dan rinai hujan. Sudah hampir 10 tahun, aku menghabiskan Ramadhan jauh dari keluarga. Kesempatan untuk merasakan suasana Ramadhan di kampung halaman menjadi barang mahal. Apalagi di negeri antah berantah ini, sebagian besar orang tak tahu dan tak ambil peduli dengan Ramadhan. Tetapi bulan suci ini rupanya berhembus juga wanginya, sepenggal kalimat sederhana: "Hallo Hesty, Happy Ramadhan!" dari sahabatku yang berasal dari Uganda menjadi sesuatu yang sangat berkesan. Singkat, tetapi penuh energi semangat dan persahabatan lintas budaya.

Hari ke dua Ramadhan tahun ini kuhabiskan bersama 2 sahabatku, Nurbiah dan Bianca. Kami, para perantau yang jauh dari keluarga ini alhamdulillah masih bisa merasakan kebersamaan saat sahur dan berbuka. Sepiring nasi dan lauk pauk sederhana mengantarkan kenanganku pada piring-piring yang terhidang di atas meja makan rumah kami. Piring-piring yang mewakili budaya orang-orang Melayu pesisir, berisi segala macam hasil laut nan bergizi. Adzan dari aplikasi di HP dan komputerku sayup-sayup terdengar, merdu sekali seperti kumandang dari pengeras suara Surau As Salam, surau kecil tempat aku dan sahabat-sahabatku menghabiskan hampir separuh masa kecil kami. Lalu, tembakan meriam bambu yang tak jarang mengagetkan orang-orang tua sepulang Tarawih, meninggalkan aroma asap minyak tanah yang wangi. Decit-decit langkah bersendal jepit melewati jalan tanah tak berpenerangan, menjemput remang lampu teras 5 Watt di rumah-rumah berselang semak perdu dan kebun buah-buahan. Lalu senandung tilawah Al Qur’an yang berganti-ganti dengan riuh suara anak-anak yang berebut-rebut menabuh beduk. Wangi kenangan masa kecil yang kini berubah wujudnya dalam kesederhanaan Ramadhan kami di tanah rantau, dengan beberapa potong pudding mangga, butir-butir kurma dan Apple pie.

Bochum, 29 Juni 2014

Saturday, June 28, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 1 Ramadhan, Hari Pertama

Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan ke tiga yang akan kuhabiskan di negeri ini, Ramadhan ke tiga pula yang bertepatan jatuhnya dengan musim panas. Sanak saudara, handai taulan dan kaum kerabat yang berada jauh di tanah air acap kali bertanya, pukul berapa kami memulai puasa dan pukul berapa pula kami berbuka. Puasa di musim panas kurang lebih kami lakukan selama 19 jam, sejak pukul 3 dini hari dan matahari baru beranjak ke peraduannya menjelang pukul 22 malam. Lalu bagaimana kami mengatur jarak waktu  yang begitu singkat antara pukul 22 hingga pukul 3, untuk bebuka, melakukan ibadah harian Ramadhan, sahur hingga sholat subuh? Lalu, apa kami tidak tidur dan bagaimana pula kami menghabiskan waktu siang yang panjang dan panas dengan kegiatan sehari-hari seperti biasa? Tiap orang akan mempunyai jawaban berbeda.

Aku pun mempunyai cara tersendiri bagaimana menyiasati Ramadhan di musim panas ini. Biasanya aku memulai kegiatan di kampus dan laboratorium seperti biasa, kira-kira mulai pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore. Sepulang dari kampus, sambil menunggu waktu Ashar kira-kira pukul 6 sore, aku akan memasak makanan praktis yang tak sampai berjam-jam memerlukan waktu. Setelah mandi selepas Ashar aku pun akan bersiap-siap untuk tidur. Tak mudah memang, pukul 6 sore matahari masih terang benderang, panas dan menyilaukan, seperti matahari pukul 3 sore di Indonesia. Lalu aku akan bangun menjelang pukul 22 untuk berbuka dan akan terus terjaga hingga subuh menjelang. Lepas subuh, pukul setengah 4 pagi aku pun akan tidur kembali dan bangun kira-kira pukul 7 pagi.
 
Begitu terus berulang-ulang, hingga hari terakhir Ramadhan yang biasanya hanya mempunyai selisih durasi siang hari kurang lebih satu setengah jam lebih pendek dibandingkan hari pertama. Aku takjub, bagaimana Allah menciptakan kesempurnaan pada tubuh manusia. Secara logika, tak sanggup rasanya melewati hari-hari melelahkan seperti itu, tanpa makan dan minum di siang hari yang tak jarang temperaturnya melonjak hingga mendekati 40°C, dengan jam tidur yang tak „normal“ serta relatif kurang istirahat. Tapi, begitulah Allah sebaik-baik Pencipta, Alhamdulillah hingga hari ini aku dan saudara-saudaraku di sini baik-baik saja dan tak kekurangan sesuatu apapun juga. Bahkan kami tetap bisa melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa di siang hari. Tak jarang pula aku melakukan kegiatan-kegiatan „konyol“ bersama kawan-kawanku. Dua tahun yang lalu, saat matahari menyengat hampir 38°C, hari terakhir Ramadhan kuhabiskan dengan bersepeda keliling kota Groningen bersama kakak sepupuku, Kak Anis. Ramadhan tahun lalu, aku dan sahabatku Mira sempat pula menghabiskan satu hari nan panas di kota Köln, kami bertemu seorang Bapak penjual cherry asal Suriah yang menghadiahi kami bonus cherry ½ kg karena tahu bahwa kami sedang berpuasa, sama seperti dirinya. Kami juga sempat bertemu rombongan pemuda berwajah Timur Tengah dan Eropa yang membagi-bagikan Mushaf Al Qur’an berbahasa Jerman yang masih menghiasi rak bukuku hingga hari ini.

Sahur perdanaku tahun ini sedikit istimewa. Kemarin, pagi-pagi sekali aku menyempatkan diri untuk mengunjungi Mak Long Nani, Tanteku di kota Wegberg, sebuah kota kecil yang kutempuh kurang lebih 2 jam dari Bochum dengan kereta dan bis. Wegberg adalah kota kecil yang cantik. Di musim panas seperti ini ladang-ladang pertanian sedang ranum-ranumnya. Berhektar-hektar ladang gandung, kentang, jagung, raps, dan berbagai jenis sayur-sayuran menghampar luas sejauh mata memandang. Rumah-rumah penduduk berjajar rapi dengan taman-taman kecil berhias bunga warna-warni yang sedang mekar-mekarnya. Mak Long menyiapkan masakan istimewa hari ini: gangan, pepes, dan tumis tauge, masakan rumahan khas Belitong, kampung halaman kami. Menjelang sore aku pulang dengan tas yang penuh berisi makanan-makanan tadi. Kata Mak Long, oleh-oleh untuk sahur pertamaku. Alhamdulillah, ...“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?“.

Bochum, 28 Juni 2014

Thursday, June 26, 2014

Kebahagiaan-kebahagiaan Kecil yang Berserakan Sedari Pagi


Memunguti kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang berserakan sedari pagi selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan. Rasanya seperti memunguti cangkang-cangkang kerang di tepi pantai dekat rumahku ketika aku masih kecil dulu. Pagi ini lumayan dingin untuk ukuran musim panas, 8°C. Pukul 5 asramaku masih sepi, sementara aku sudah rapi dan siapberangkat ke kampus. 

Kebahagiaan pertama kudapati ketika membuka balkon dan memperhatikan padang rumput halaman belakang, domba-domba gendut yang tiba-tiba datang kemarin sore ternyata baru bangun dan langsung sarapan rumput. Senyum pertama lantaran domba-domba lucu itu mengantarkan langkah kaki pertamaku pagi ini beberapa saat setelah matahari terbit. Rerumputan masih bergeming, angin pun masih malas merayu. 

Kebahagiaan kedua menghampiriku ketika aku bertemu seorang ibu muslimah asal Togo dalam perjalanan. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada guru-guruku dulu, pengetahuan geografi zaman dahulu itu ternyata begitu berguna. Sang ibu sedikit tak yakin ketika memperkenalkan diri padaku ketika kutanya dari mana asalnya. "Togo, weisst du?" "Tentu saja", kataku. "Negaramu terletak bersebelahan dengan Benin dan Ghana, bukan? Daerah Teluk Guinea". Dia pun tersenyum senang. Percakapan singkat kami yang tak sampai 15 menit itu terasa menyenangkan. Dia bercerita tentang keluarga kecil dan pekerjaannya, lalu tentang Ramadhan dan suka duka hidup di perantauan. Tak lupa sang ibu mendoakan keberhasilan studiku dan kesehatan untukku sekeluarga. Aku kembali merasakan manisnya persaudaraan sesama muslim. Aku bahkan belum tahu siapa namanya, namun seuntai salam dan doa telah dihadiahkan olehnya sepagi ini untukku, saudaranya dari negeri yang mungkin tak dikenalnya.

Kebahagiaan ketiga melengkapi pagiku ketika aku sudah bisa memulai eksperimen sejak pukul 6, dan dilanjutkan eksperimen bersama Steffi pada pukul 9. Ibu muda Supervisor keduaku ini adalah perempuan penyayang yang kuhormati sekaligus kukagumi. Waktunya yang padat di kampus tak pernah menyurutkan perhatiannya pada 2 orang anaknya yang masih kecil. Pukul 15.30 sore, dia pasti sudah pulang, waktunya dia berganti peran dari seorang peneliti hebat menjadi ibu rumah tangga. Steffi tak pernah tak mengucapkan terima kasih padaku, sekecil apapun tugas yang aku lakukan, padahal tugas itu untuk diriku sendiri, dan bukankah aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih padanya? Ah, Steffi semoga suatu hari nanti aku pun bisa menjadi perempuan hebat sepertimu. 

Dan matahari pun kian meninggi. Beberapa gumpal awan yang menari-nari bersama langit biru tersenyum padaku. Alhamdulillah.

Bochum, 26 Juni 2014

Friday, June 13, 2014

Syukur

Sehelai nyawa yang kau pinjam setiap pagi
Lalu sepasang tangan dan kaki
Kau pakai berlari, katamu mengejar mimpi
Tentang segenap indra yang menggiring langkah
Adakah syukur tumbuh merekah?

Semburat mentari menyapamu malu-malu
Merenda kelopak bunga dan perdu
Lalu bahagiamu mengharu biru
Tentang wangi semilir musim semi
Adakah syukur menghiasi hati?

Langit membentang, petang menjelang
Lembayung senja membayang
Lalu pandanglah kerlip gemintang
Tentang damai lantunan malam
Adakah syukur kian menghujam?

Tentang nafas nan sementara
Tentang hidup nan fana
Tentang cinta pada Sang Pencipta
Tentang dunia yang hanya persinggahan saja

Bochum, 22 mei 2014
Dibacakan dalam Acara Silaturahim Piknik Kajian Muslimah Ruhr di Nordpark Düsseldorf, 24 Mei 2014.

Diemelbrücke, Diemelsee, Sauerland, Oktober 2103.

Explore Experience Enjoy Indonesia (3EI), Memperkenalkan Indonesia di Mata Dunia

Hari Indonesia merupakan sejenis event tahunan yang biasa diadakan oleh komunitas Indonesia di luar negeri. Acara semacam ini menjadi ajang promosi kebudayaan dan pariwisata Indonesia, atau penggalangan dana amal insidental yang akan disumbangkan ke lembaga sosial di Indonesia sekaligus sebagai kesempatan berkumpulnya masyarakat Indonesia di tanah rantau setiap tahunnya. Event massal seperti ini terutama membidik pengunjung internasional dari berbagai kalangan. Tahun ini, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Duisburg-Essen didukung oleh Deutsch-Indonesische Gesellschaft Rhein-Ruhr, Arbeitskreis Indonesien der Volkshochschule Duisburg, International Office Universität Duisburg Essen, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt, Muslim Ruhr serta IFGF Düsseldorf Church kembali mengadakan event serupa bertajuk Explore Experience Enjoy Indonesia (3EI). Acara yang berlangsung pada 17 Mei yang lalu ini melibatkan komunitas Indonesia yang berdomisili di Ruhr area dan sekitarnya, di Negara Bagian Nordrhein-Westfalen, Jerman.

Acara yang mampu menarik sekitar 600 pengunjung, yang terdiri dari masyarakat Indonesia maupun internasional ini berlangsung sangat meriah di Gedung Internationales Zentrum Duisburg. Acara 3EI ini berlangsung selama lebih kurang 6 jam dan dibuka pada pukul 15 sore. Tempat acara dibagi menjadi tiga area utama, yaitu area stand kuliner Indonesia, area panggung acara yang menampilkan berbagai kesenian khas Indonesia, serta area tutorial batik dan permainan tradisional. Pada kesempatan ini, KJRI Frankfurt menyediakan pula pelayanan konsuler bagi masyarakat Indonesia.

Area stand kuliner menjadi salah satu daya tarik utama bagi pengunjung. Berbagai makanan dan minuman khas Indonesia disajikan secara kreatif oleh para peserta stand. Menu utama terdiri dari Nasi Padang (lengkap dengan menu Rendang dan Gulai Kikil), Sate Ayam, Ayam Bumbu Rujak, Kwetiaw Goreng Spesial, Pempek, Nasi Tutug Sunda, Siomay, Ketoprak dan Soto Betawi. Selain itu dijual pula kue-kue dan minuman khas Indonesia, seperti Dadar Gulung, Gemblong, Pisang Molen, dan Cendol. Tak sampai di akhir acara, sekitar pukul 19.30 sebagian besar makanan telah terjual habis. Beberapa pengunjung internasional mengaku tertarik dan penasaran untuk mencicipi berbagai kuliner khas Indonesia ini karena tampilan makanan yang variatif dengan cita rasa yang khas dan gurih, sangat berbeda jika dibandingkan dengan kuliner Eropa pada umumnya.

Sementara itu, di area panggung acara, para pengunjung telah memadati tempat duduk yang berjajar hingga ke bagian belakang ruangan. Tak sedikit pula pengunjung yang harus rela berdiri dan berdesak-desakan karena tak kebagian kursi. Para pengisi acara menampilkan berbagai performance khas Indonesia, seperti tari-tarian, musik dan fashion show. Penampilan pertama dibawakan oleh Band Grupello yang beranggotakan para pelajar Indonesia di Ruhr area. Band yang didirikan pada tahun 2013 ini menampilkan lagu-lagu pop Indonesia dan barat, termasuk satu lagu penutup berirama dangdut di akhir acara. Tampil pula Angklung Ruhr yang seluruh anggotanya perempuan. Group yang didirikan pada tahun 2013 ini menampilkan lagu-lagu barat dan lagu nasional diiringi lantunan keyboard. Penampilan musik khas Indonesia ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung internasional, karena kekhasan irama tradisional yang harmonis dipadupadankan dengan instrumen musik modern menghasilkan sebuah pertunjukan seni yang sangat menarik.

Seorang pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Bonn, Albiruni, dengan sangat piawai menampilkan tari topeng dengan gerakan-gerakan luwes bak wayang yang menjelma menjadi manusia diiringi musik tradisional Gamelan. Setelahnya berturut-turut tampil pula tarian Bubuka-Jaipong dari Jawa Barat, serta tarian Saman dari Aceh oleh TanzRuhr yang telah berpengalaman tampil di berbagai event internasional di Jerman dalam 2 tahun terakhir ini, termasuk sebagai peserta Das Supertalent, acara pencarian bakat yang disiarkan oleh  salah satu stasiun televisi Jerman.

Dalam kesempatan ini ditampilkan pula presentasi menarik mengenai keragaman Indonesia, bertajuk “Erleben-Facettenreiches Indonesien“. Dalam presentasi ini diilustrasikan bagaimana keragaman ras, agama, alam dan budaya membentuk Negara Indonesia yang bersatu dalam harmoni. Kemudian para pengunjung dimanjakan pula oleh film dokumenter pendek karya sineas muda pendatang baru Indonesia, Febian Saktinegara berjudul “Epic Java”. Film berdurasi 30 menit ini mengajak penonton menjelajahi keindahan alam dan budaya Pulau Jawa dari timur ke barat, yang dikemas dalam tampilan visual yang istimewa. Dua orang pengunjung asal Libya dan Jerman mengaku kagum akan keragaman Indonesia dan berkeinginan untuk mengunjungi Indonesia suatu hari nanti.

Di area tutorial batik dan permainan tradisional, para pengunjung internasional sangat antusias mengikuti tutorial membatik yang dipandu oleh panitia. Mereka berkesempatan mempraktikkan langsung proses penggambaran pola-pola batik pada dasar kain dengan canting dan malam. Tak hanya itu, para pengunjung dapat pula mencoba permainan tradisional congklak serta angklung yang disediakan panitia. Di sudut lain, dua stand unik yang menjual berbagai produk batik dan pernak-pernik khas Indonesia tak kalah ramai dikerubungi pengunjung. 

Event yang berlangsung pada akhir pekan yang cerah itu sampai pada acara terakhir, yaitu fashion show yang menampilkan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Pembawa acara, Daniel Hutagalung dan Devis Angela akhirnya menutup rangkaian acara dengan mengajak seluruh peserta dan pengunjung yang hadir untuk menarikan tarian Poco-poco, tarian dari Papua yang diiringi musik berirama gembira. Kesuksesan acara ini tak lepas dari kerja keras panitia yang diketuai oleh Alexander Siahaan serta seluruh pendukung acara dan elemen masyarakat Indonesia di Ruhr area. Semoga event-event serupa di tahun-tahun mendatang semakin memperkenalkan Indonesia ke dunia internasional dan tak kalah penting semakin pula memupuk kecintaan masyarakat Indonesia di tanah rantau akan tanah air mereka.

 Bochum, 26 Mei 2014

Monday, May 12, 2014

3 Benua yang Bersaudara

Sebuah pertemuan kadang terjadi begitu saja, tanpa rencana. Ada orang-orang yang seperti tiba-tiba saja hadir dalam kehidupan kita, lalu menjadi layaknya saudara. Di negeri ini, aku bertemu berupa-rupa manusia, mewakili kebudayaan-kebudayaan dunia yang dulu hanya bisa kukhayalkan saja dari buku-buku yang pernah kubaca.

Pada suatu pagi nan sejuk, permulaan musim semi 2 tahun yang lalu, aku berangkat ke kampus seperti biasa, tak ada sesuatu yang istimewa. U-Bahn yang kutumpangi penuh sesak oleh penumpang yang rata-rata mahasiswa. Aku berangkat dari Markstraße, halte terdekat dari asrama. U-Bahn U35 jurusan Hustadt ini kemudian akan berhenti di halte Ruhr Universität, lalu tumpah ruah mahasiswa akan turun di halte utama ini. Gedung tempat aku beraktivitas sehari-hari terletak paling timur, maka biasanya aku memilih turun di halte berikutnya, Lennershof. Sejak tadi aku melihat dari kejauhan seorang perempuan berhijab berwajah Eropa, dia tersenyum ramah ke arahku sambil mengucapkan salam. Salamnya itu tak terdengar, aku hanya bisa membaca dari gerak bibirnya. Kami turun di halte yang sama, aku mempercepat langkahku karena dia memberi isyarat seperti menungguku dengan memperlambat langkahnya. Sekali lagi dia memberi salam, menjabat tangan dan menempelkan pipi kiri dan kanannya padaku, seperti kebiasaan muslimah di tanah air. Sambil tersenyum dia memperkenalkan diri padaku: "Ich bin Ayse. Wie heißt du?" Lalu aku pun memperkenalkan diri dalam Bahasa Jerman yang masih terbata-bata. Pertemuan singkat itu lalu mengawali persahabatanku dengan Ayse, perempuan Turki pertama yang kukenal di negeri ini.

Beberapa hari kemudian, Ayse menghubungiku lewat email, kami akhirnya berjanji untuk bertemu sambil makan siang bersama di kantin Fakultas kami, ID Cafetaria. Perempuan muda ini berbicara dalam Bahasa Jerman hampir-hampir seperti penutur aslinya. Dia bekerja sebagai staf peneliti di bidang Information Security di Fakultas kami. Ayse menyelesaikan pendidikan Dipl.-Ing. (setara Master) beberapa tahun yang lalu, dia adalah salah satu generasi terakhir yang mengenyam degree khas Jerman ini, sebuah gelar yang bisa dibilang prestisius, apalagi berhasil diraih tepat waktu oleh orang asing. Dengan latar belakang luar biasa seperti ini, Ayse berpenampilan sederhana, tutur katanya lembut dan tak sedikit pun menunjukkan kesombongan. Ayse hanya sedikit berbicara dalam Bahasa Inggris, jadilah percakapan kami terdengar lucu, tapi halangan ini tak sedikit pun mengurangi hangatnya persahabatan kami.

Bulan demi bulan berlalu, kami hampir selalu menyempatkan untuk makan siang bersama, setidaknya satu atau dua kali dalam sebulan. Pada suatu siang di musim panas, Ayse memperkenalkan sahabat baru padaku, Abeer namanya, seorang muslimah asal Sudan yang sedang menempuh pendidikan doktoral di research group yang sama dengan Ayse. Abeer merantau ke Jerman bersama suami dan dua anaknya yang masih balita. Suaminya baru saja menyelesaikan pendidikan doktoral di bidang yang sama, lalu sekarang bekerja di salah satu perusahaan di Ruhr area. Abeer pun tak kalah ramah dibanding Ayse, dia berbicara dalam 3 bahasa: Inggris, Jerman dan Arab. Aku belajar banyak dari Ibu muda ini, dia harus melakoni 3 perannya sekaligus: sebagai Doktorandin, ibu dan istri. Sejak pagi dia sudah harus mengantarkan anak-anaknya ke pusat penitipan anak yang tak jauh dari kampus kami, lalu bergegas melanjutkan aktivitasnya sebagai mahasiswa doktoral. Peran yang aku tahu tak mudah untuk dijalani, apalagi di tanah rantau ketika jauh dari keluarga besar. Maka aku sering merasa malu pada diriku sendiri ketika ada saat-saatnya aku mendapati diriku kehilangan semangat, padahal aku hanya melakoni salah satu peran yang dijalani Abeer. Aku seharusnya banyak-banyak bersyukur dengan belajar lebih giat lagi.

Lalu pada suatu sore di awal musim dingin 2012, Ayse mengundang kami ke rumahnya. Aku dan Abeer datang menjelang waktu Ashar. Ayse telah mempersiapkan berupa-rupa makanan khas Turki yang dimasaknya sendiri. Sambil menunggu menu terakhir siap, Ayse bercerita tentang makanan-makanan yang telah tersedia di atas meja. Ada roti bulat bertekstur lembut, sayuran fermentasi yang ditumis dengan bumbu-bumbu khas Turki, daging cincang yang diolah menjadi semacam perkedel, lalu tersedia pula semacam lumpia berisi keju, kata Ayse namanya kalem böreği. Roti tadi dimakan dengan 2 macam selai asin yang aku tak bisa menceritakan bagaimana rasanya, yang pasti cita rasa seperti itu baru pertama kali kurasakan seumur hidupku. Sumber karbohidrat pokok pada jamuan sore itu selain roti adalah kentang oven yang dibumbui ringan oleh Ayse, garam dan merica. Tak seperti masakan Eropa yang tak pernah cocok di lidahku bahkan hingga hari ini, makanan-makanan Turki yang disediakan Ayse terbilang cocok di lidahku. Lalu pertemuan kami sore itu ditutup dengan segelas teh hangat Turki yang disediakan Ayse dalam gelas cantik dari kampung halamannya, Istanbul.

Selain Ayse dan Abeer, aku dipertemukan pula dengan seorang saudara muslimah dari Libya, Areeg namanya. Perempuan muda ini baru saja menyelesaikan pendidikan masternya di bidang Computational Engineering. Aku mengenal Areeg di kelas Bahasa Jerman tingkat 2 yang kumulai pada pertengahan musim panas tahun 2012. Sesekali, Areeg juga ikut makan siang bersama kami (Aku, Ayse dan Abeer). Aku senang mendengarkan Abeer dan Areeg sesekali berbincang dalam bahasa ibu mereka, lalu aku dan Ayse hanya tersenyum-senyum saja. Nama mereka (Abeer dan Areeg) memiliki makna yang hampir sama dalam Bahasa Arab, artinya harum atau aroma yang wangi. Areeg ketika itu baru saja akan memulai pendidikan doktoralnya, namun dia sedikit terkendala dengan keberlangsungan beasiswanya. Kalian tentu masih ingat, Kawan, bagaimana tragedi yang terjadi di negeri asal Muammar Gaddafi itu, dalam kurun waktu antara 2011 hingga 2012 yang lalu. Sejak menempuh pendidikan masternya, Areeg memperoleh beasiswa dari negaranya, tragedi itu sedikit banyak telah mempengaruhi keberlangsungan beasiswanya. Maka sejak awal tahun 2013, Areeg harus pulang kembali ke Libya, pendidikan doktoralnya terhenti di tengah jalan. Pada pertemuan terakhirku dengannya, dia bercerita padaku bahwa dia masih berharap bisa kembali melanjutkan pendidikannya di Jerman.

Lalu hadir pula sosok perempuan luar biasa di tengah-tengah persahabatan kami, perempuan paling muda yang mula-mula bersahabat dengan Areeg. Dialah Saskia, perempuan Jerman yang dikenalkan Areeg padaku pada suatu sore berinai hujan. Saskia sedang menempuh pendidikan di bidang Orientalisme, dia seorang vegetarian sejak masih duduk di bangku sekolah menengah. Perempuan muda ini fasih berbicara dalam berbagai bahasa: Jerman, Inggris, Perancis, Arab, Turki dan Persia, lalu ketika itu dia sedang belajar bahasa Urdu. Bidang lingustik menyebut orang yang berkemampuan seperti Saskia ini dalam istilah polyglot. Dari cerita Areeg padaku, kuketahui bahwa sudah sejak lama Saskia mempelajari Al Qur'an dan mulai tertarik dengan Islam. Keluarga besarnya tinggal di Frankfurt, ibunya berkarir dan menetap di Ankara, Turki sejak beberapa tahun yang lalu. Jika kami makan siang bersama, Saskia akan berbincang dalam Bahasa Inggris dan Jerman padaku, lalu dalam Bahasa Turki pada Ayse, dan dalam Bahasa Arab pada Abeer dan Areeg, sungguh luar biasa. Pernah juga suatu hari aku bertemu dengannya di kereta, ketika itu aku sedang bepergian bersama kawanku, orang Indonesia yang sedang menempuh studi di Perancis, Saskia pun spontan mengajaknya berbincang dalam Bahasa Perancis. Saskia ini seorang pribadi yang menarik, dari perbincangannya pada kami, aku bisa menangkap bahwa dia seorang pembelajar yang ulung, pemikiran-pemikirannya jauh melampaui perempuan seusianya. Dia polyglot pertama yang kukenal seumur hidupku.

Setahun berlalu, Areeg kembali ke Bochum dan berhasil melanjutkan pendidikan doktoralnya yang sempat terhenti tahun lalu. Abeer masih sama sepertiku, masih berjuang menyelesaikan penelitian doktoral kami, menjalani hari-hari berkutat dengan buku-buku, dan eksperimen yang belum berhenti. Ayse memutuskan untuk menyudahi karirnya di research group yang dulu, lalu sekarang dia melamar pekerjaan ke sana ke mari, baik di Jerman maupun di tanah airnya. Saskia baru saja menyelesaikan internship-nya pada musim panas yang lalu di kantor DW (Deutsche Welle) yang bermarkas di Bonn. Sudah hampir setahun kami belum pernah berkumpul lagi. Aku merindukan cerita-cerita Abeer tentang anak-anaknya, lalu panggilan Ayse padaku "Meine liebe Schwester", cerita-cerita Areeg tentang tanah airnya dan perjuangan ayahnya bersama kawan-kawannya dulu di Libya, serta pemikiran-pemikiran gemilang Saskia. Kami dilahirkan di negeri yang berbeda-beda, terpisah dalam 3 benua; Asia, Afrika dan Eropa, lalu kota kecil nan bersahaja ini telah menyatukan kami, berjuang bersama mewujudkan cita-cita.

Bochum, 12 Mei 2014

Monday, April 28, 2014

Roncallihaus

Sepuluh tahun sudah berlalu sejak pertama kali aku meninggalkan rumah dan kampung halaman. Aku hidup berpindah-pindah dari satu rumah kos ke rumah kos lainnya di Bandung dulu. Belajar hidup mandiri, jauh dari keluarga dan sanak saudara, sekaligus belajar berbagi kebersamaan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Sampai saat ini pun, Sukamantri, sebuah kampung urban di Bandung yang kutinggali selama kurang lebih 7 tahun, masih menyisakan kenangan yang sulit rasanya aku lupakan. Berikut beberapa catatan kenang-kenanganku tentang Sukamantri yang sempat kutulis beberapa waktu yang lalu:


Perantauanku pun berlanjut, kali ini aku harus menembus batas negara, bangsa dan budaya. Sebelum berangkat, aku berusaha mengumpulkan berbagai informasi dari internet tentang segala hal yang berhubungan dengan Jerman pada umumnya, dan Bochum khususnya. Mencari tempat tinggal di Bochum untuk mahasiswa ternyata gampang-gampang susah. Melalui korespondensi email dengan Supervisorku sampai 2 minggu sebelum keberangkatan, aku belum kunjung mendapatkan tempat tinggal. Beliau berusaha mencari ke sana ke mari, termasuk menghubungi International Office untuk membantuku.

Singkat cerita dari beberapa orang Indonesia yang tinggal di Bochum, yang kukenal melalui Facebook, aku dihubungkan dengan sebuah asrama mahasiswa yang terletak tak jauh dari kampusku, hanya sekitar 1,5 km. Roncallihaus, begitu nama asrama tua itu, dibangun tahun 1965 bersamaan dengan dibukanya Ruhr Universität Bochum, universitas negeri pertama yang didirikan di Jerman setelah Perang Dunia II. Dari beberapa pengalaman yang kudengar dari mahasiswa Indonesia yang pernah tinggal di Roncallihaus, asrama ini tak begitu nyaman, air panasnya sering mati, pemanas ruangannya pun sering tak menyala ketika musim dingin tiba, mesin cucinya hanya ada 2, padahal kamar yang tersedia total berjumlah 160. Tapi, mendengar hal itu, nyaliku tak ciut, tak apalah bersusah-susah dulu pikirku, daripada tak mendapat tempat tinggal sama sekali dan harus menumpang di tempat orang lain. Kontrak pertama aku setujui selama 8 bulan, jika ternyata kemudian aku tak betah maka rencananya aku akan mencari tempat tinggal lain yang lebih nyaman.

Barbara, begitu nama salah seorang pegawai asrama yang bertanggung jawab mengurus administrasi sehari-hari di Roncallihaus. Berkas aplikasi sudah kukirimkan kepadanya melalui kenalanku yang juga tinggal di Roncallihaus. Tak ada satu pun foto Barbara yang dapat kutemukan di website resmi Roncallihaus. Aku hanya membayang-bayangkan saja bahwa perempuan ini berwajah seperti orang Jerman kebanyakan: dingin, kaku dan jarang tersenyum. Dari email terakhir yang kuterima, Barbara berpesan agar ketika aku sampai, aku harus menekan tombol 1 dan 6 pada sebuah telepon yang tergantung di depan pintu masuk asrama.

Michal dan Moni yang menjemputku di bandara Düsseldorf langsung mengantarku ke Roncallihaus. Asrama milik yayasan Evangelisch ini terletak di ujung sebuah jalan buntu, Laerheidestraße. Pada sore kelabu di bulan November itu, pohon-pohon hampir meranggas, daun-daun kuning kecoklatan berguguran diterbangkan angin, berserakan di pinggir-pinggir jalan. Michal membantuku membawa koper dan barang-barangku. Begitu tiba di pintu asrama, Moni langsung menekan tombol 1 dan 6 sesuai pesan Barbara. Moni berbicara dalam bahasa Jerman, lalu tak lama kemudian seorang perempuan berwajah ramah membukakan pintu, dialah Barbara. Perempuan ini kutaksir usianya sekitar 50an, berkacamata, rambutnya lurus pirang, tingginya tak seberapa, tak seperti orang Eropa kebanyakan, malah sedikit lebih pendek dariku. Aku yang masih setengah-setengah jetlag mendengarkan beberapa penjelasan singkat dari Barbara, dia memberiku 3 anak kunci dan satu berkas dokumen tipis berisi perjanjian sewa, semuanya tertulis dalam Bahasa Jerman. Aku yang ketika itu masih buta aksara sama sekali tidak mengerti apa isi surat kontrak itu. Moni lalu menjelaskan detailnya padaku dan aku pun akhirnya membubuhkan tanda tangan pada surat tersebut. Michal dan Moni menemaniku berkeliling-keliling asrama bersama Barbara. Dia mengantar kami ke beberapa ruangan utama fasilitas asrama, antara lain dapur dan ruang TV yang tersedia di setiap lantai, ruang laundry, perpustakaan, ruang pertemuan yang merangkap ruang piano, bar dan kapel kecil.

Kesan pertamaku tentang Jerman adalah dingin, iklimnya, juga orang-orangnya. Namun, orang-orang pertama yang kutemui justru sebaliknya, tak terkecuali Barbara. Perempuan ini tak berhenti tersenyum dan tertawa-tawa kecil di sela-sela pembicaraan pertamanya padaku sore itu, ramah sekali, tak ubahnya orang Indonesia. Sekarang waktunya bagiku membuktikan asumsi-asumsi lain yang tersusun di kepalaku sebelum tiba di sini. Malam pertama aku tinggal di Roncallihaus, kurasakan udara dingin menusuk luar biasa. Selimut yang disediakan tak cukup rasanya mengusir hawa dingin pada malam di akhir musim gugur itu. Aku memeriksa pemanas ruangan di bawah meja, masih menyala, tapi tak seberapa hangat, lewat pukul 11 malam, pemanas itu lalu tak menyala sama sekali.

Keesokan sorenya aku mencari Barbara di kantor asrama, aku bertanya tentang pemanas ruangan yang mungkin tidak berfungsi. Klaus, suami Barbara segera ke kamarku untuk memeriksanya. Kata Klaus, pemanasnya berfungsi baik, tapi memang tak dinyalakan full dari central controller-nya karena memang belum masuk musim dingin, dan setelah pukul 11 malam memang dimatikan dengan asumsi temperatur di dalam ruangan sudah stabil. Pemanas akan dinyalakan kembali sekitar pukul 6 pagi. Barbara yang mungkin tak tega melihatku, lalu mengajakku ke ruangan laundry, diberinya aku sebuah selimut tambahan bermotif coklat kotak-kotak, selimut wangi berbahan wol ini kelihatannya lebih hangat. "Pakailah ini." katanya sambil tersenyum. "Kalau ada apa-apa sampaikanlah pada kami, jangan sungkan-sungkan", ujar perempuan sederhana ini.

Pelajaran pertama yang kuperoleh sore itu adalah tentang standar dingin dan hangat relatif yang berlaku di sini. Udara bulan November yang terasa sangat menusuk menurut kulit Melayu-ku sebenarnya bukan apa-apa bagi orang Jerman, masih terhitung hangat bagi mereka. Mungkin dalam beberapa bulan ke depan seiring berjalannya waktu, tubuhku pun akan ikut menyesuaikan. Semuanya hanya tentang waktu dan serba relatif. Pelajaran kedua, Barbara dan Klaus-lah yang sesungguhnya secara tak langsung akan menjadi "orangtua angkatku" selama aku tinggal di sini. Masalah apapun yang aku rasakan di asrama, pengaduan akan tertuju pada mereka. Maka, aku pun harus pandai-pandai memperlakukan mereka dengan baik. Aku tak ingin berasumsi negatif tentang orang lain, apalagi yang baru kukenal. Rule yang ada dalam pikiranku bahwa hubungan manusia itu timbal balik, orang akan berlaku baik pada kita sebagaimana kita berlaku baik pada mereka, begitu pun sebaliknya.

Hari demi hari kulalui, tak terasa bulan demi bulan berganti. Aku mengenal banyak orang dari berbagai bangsa yang berbagi lantai denganku. Dapur sekaligus ruang TV di lantai kami, menjadi tempat utama kami berinteraksi sehari-hari. Tetanggaku datang dan pergi silih berganti. 8 bulan pun lewat, batas kontrak pertama yang kusepakati telah habis. Aku menemui Barbara pada suatu pagi, menyampaikan maksudku untuk meneruskan kontrakku di Roncallihaus. Tak ada alasan bagiku untuk pindah, sejauh ini tak ada masalah berarti yang kutemui di asrama ini. Kalau pun ada, hanya masalah-masalah sepele yang bisa diselesaikan dalam satu hari dengan melaporkannya langsung pada Barbara atau Klaus. Aku pun belajar berbagi dan bertoleransi dengan kawan-kawanku yang berasal dari berbagai negara, budaya dan latar belakang yang sangat beragam.

Suami istri ini bekerja bahu membahu mengurus asrama kami. Jika Barbara bertanggung jawab mengurus administrasi sehari-hari, maka Klaus bertugas mengurus segala urusan teknis dan pertukangan di asrama yang terbagi menjadi 2 gedung utama ini, gedung A dan gedung B. Sehari-hari dia dibantu oleh seorang tukang. Mereka mengerjakan sendiri instalasi dan perawatan alat-alat listrik, pertukangan, bengkel sampai mengurus keran yang bocor. Asrama ini memang sudah tua, tapi sering kuperhatikan setiap detail fasilitasnya, untuk ukuran barang-barang tua, keadaannya relatif terawat. Untuk perawatan kebersihan, biasanya beberapa pekerja paruh waktu datang setiap pagi untuk membersihkan dapur dan kamar mandi di tiap lantai. Setiap lantai kebagian giliran 2 kali dalam seminggu, lantai kami setiap Senin dan Kamis.

Ada kebiasaan unik yang sering kuperhatikan di Roncallihaus ini. Lobi utama di lantai satu, ruangan terbuka berjendela yang menghubungkan gedung A dan gedung B, selalu dihias oleh Barbara dengan tema yang berbeda-beda setiap beberapa bulan, sesuai musim. Dekorasinya lengkap, mulai dari barang pernak pernik, bunga-bunga dan tanaman hias, taplak meja sampai kain dan tempelan ornamen di beberapa dinding, serasi menyatu dengan suasana di luar, merepresentasikan musim yang sedang berlaku saat itu. Lalu, aku sedikit heran, Barbara selalu memanggil namaku setiap kali menyapa, padahal penghuni asrama ini berjumlah ratusan orang, sedang di dalam mobil pun dia sering melambai-lambai jika bertemu di jalan. Aku tak tahu apakah kebiasaan ini juga sering dilakukannya pada penghuni-penghuni lainnya, yang kutahu orang Jerman kebanyakan tak seperti itu.


Barbara dan Klaus sangat mencintai bunga dan tanaman hias. Maka, halaman asrama kami selalu semarak setiap menyambut musim semi, tak terkecuali tanaman hias dan bunga-bunga dalam pot yang mereka pajang di dalam lobi asrama. Ada beberapa pohon pisang yang mereka tanam di dalam pot besar. Meski tak pernah berbuah, pohon-pohon pisang ini mereka rawat dengan seksama, kalau tiba musim dingin bagian pucuknya akan dipangkas dan pohon-pohon dari negeri jauh ini akan "tidur" panjang selama berbulan-bulan di dalam ruangan lobi. Begitu "mulia"-nya tanaman tropis ini mereka perlakukan. Aku jadi teringat pohon-pohon pisang yang ditanam ayahku di belakang rumah kami dulu, waktu aku masih kecil sering kupotong-potong pelepah dan batangnya untuk kujadikan mainan, seperti tak berharga sama sekali. Lalu, di bagian tengah ruangan lobi teronggok 1 pot besar yang ditanami pohon palem tukas, pohon palem yang biasa tumbuh di hutan-hutan tropis. Getah buahnya bisa menimbulkan rasa gatal luar biasa. Pohon tukas ini juga bukan termasuk kategori tanaman berharga di kampungku dulu, kalau ayahku sedang membersihkan huma dan ladang di belakang rumah kami, pohon ini akan ditebang begitu saja karena sering tumbuh sembarang dan mengganggu pohon buah-buahan yang sengaja kami tanam. Begitulah nilai suatu benda, dia akan menjadi begitu berharga dan dimuliakan ketika menjadi sesuatu yang jarang dan berada jauh dari tanah asalnya. Aku sempat berpikir, jangan-jangan lama-kelamaan manusia juga cenderung diperlakukan seperti itu?

Pernah juga suatu sore sehabis hujan, aku melihat Barbara dan Klaus berjalan berdua menyusuri halaman dan hutan-hutan kecil sekitar asrama. Aku memperhatikan mereka dari kejauhan, dari jendela kamarku. Pada suatu sore sunyi nan sejuk di musim semi itu mereka berbincang-bincang sambil sesekali tertawa kecil memandangi bunga-bunga aneka warna yang berebutan menyembul-nyembul di sela-sela rerumputan. Ah, bahagia sekali pasangan yang tak lagi muda ini, masa tua yang mungkin menjadi impianku juga. Tiap menyambut pergantian musim, biasanya sepucuk kartu ucapan dari Klaus dan Barbara ditemani sekotak biskuit buatan Barbara sendiri, coklat atau setangkai bunga akan menghiasi meja ruangan keluarga di tiap lantai. Tulisan tangannya itu cantik sekali, tulisan rangkai bersambung seperti tulisan ibuku.

Beberapa minggu yang lalu, masih pagi sekali aku sudah berangkat ke kampus untuk menyiapkan eksperimen. "Morgen, Hesty." tiba-tiba Barbara menyapaku di pintu keluar. Aku yang masih setengah mengantuk membalas spontan: "Guten Morgen, Barbara." Rupanya Barbara menyuruhku mampir besok sore bila aku ada waktu, aku mengiyakan permintaannya. Aku bertanya-tanya dalam hati, ada undangan apa sebenarnya, karena terburu-buru aku tak menanyakan lagi lebih detail. 

Keesokan sorenya, aku mampir ke tempat Barbara, dia dan Klaus tinggal di lantai paling atas gedung kami, lantai 6. Rumah mereka dihiasi berbagai bunga dan tanaman hias, sederhana namun cantik dan terawat. Barbara mengajakku berbincang-bincang, dia menanyakan tentang hari-hari besar agama Islam, bagaimana tradisi perayaan, makanan khasnya dan sebagainya. Aku pun lalu bercerita panjang lebar tentang Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Lain waktu, kata Barbara jika dia berkesempatan dia ingin memberikan kenang-kenangan atau makanan kecil untuk kami demi merayakan hari-hari besar tersebut. Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Dalam hatiku, aku begitu bersyukur telah dititipkan Allah pada orang-orang baik seperti ini. Aku merasa berada di tengah-tengah keluarga sendiri walaupun jauh dari kampung halamanku. Maka aku benar-benar tak punya alasan lagi untuk pindah. Waktu berlalu seperti hanya sekejap mata, tak terasa sudah hampir 3 tahun aku menjalani hari-hari di kota kecil nan bersahaja ini. Suatu hari nanti ketika tiba waktunya aku harus kembali ke tanah air, pasti aku akan merindukan Barbara, Klaus dan hari-hari yang kulewati di asrama sederhana ini.

Bochum, 28 April 2014


Thursday, April 03, 2014

Bertualang ke Negeri Utara, Skandinavia [Bagian 1]

Waktu itu, awal April 2012, daratan Eropa bagian barat sudah mulai memasuki musim semi, musim semi pertama seumur hidupku. Aku takjub memperhatikan tunas-tunas yang bermunculan dari celah-celah tanah basah dan rerumputan yang masih menyisakan lapisan es tipis. Crocus, Daffodil, dan Tulip adalah bunga-bunga yang pertama tampil, warna-warni merona, kontras dengan latar belakang rerumputan hijau tua. Ranting-ranting pepohonan yang berbulan-bulan meranggas bisu diselimuti beku mulai menampakkan tanda-tanda kehidupan. Satu per satu pucuk-pucuk daun hijau muda dan bunga-bunga menjuntai-juntai pada ujung-ujung jemarinya. Kelinci, tupai dan tikus tanah, binatang-binatang penghuni lubang mulai bangun dari tidur panjangnya, menemani cericit burung-burung yang menyenandungkan bait-bait riang musim semi. Alam seakan terbangun dari istirahat panjangnya, sungguh luar biasa.

Penutup Saluran Air di Jalanan Kota Stockholm
Sementara itu, aku dan 3 sahabatku, Mira, Naren dan Yoga, mempersiapkan petualangan pertama kami ke wilayah Eropa bagian utara, Skandinavia. Sebenarnya ide ini mula-mula terpikirkan olehku lebih karena iseng dan nekat. Awalnya, kesan yang ada dalam pikiranku tentang Skandinavia tak lebih dari bayangan bahwa wilayah ini dihuni oleh manusia-manusia albino, yang lebih albino dibandingkan orang-orang Eropa di wilayah lainnya. Mungkin lantaran mereka lebih jarang terpapar matahari. Kebetulan aku juga memiliki tetangga satu lantai yang berasal dari Finlandia. Gadis cerdas ini berambut pirang hampir-hampir putih, bola matanya biru jernih, kulitnya putih pucat, tipikal orang Skandinavia.

Berbulan-bulan sebelumnya sejak ide ini tercetus, jauh-jauh hari kami mulai mempersiapkan segala sesuatunya. Aku baru menyadari bahwa bepergian itu tak segampang pelesir ke pantai dekat rumahku dulu ketika aku masih kecil. Apalagi, kali ini kami bepergian berempat dengan modal pas-pasan sebagai mahasiswa. Kami harus mengatur biaya perjalanan sehemat mungkin, namun bagaimana pun caranya kami harus pintar-pintar menyiasati agar tak sampai mengorbankan kenyamanan dan keselamatan perjalanan kami.

Kota pertama yang menjadi tujuan kami adalah Stockholm. Aku, Mira dan Naren berangkat dari bandara Schiphol Amsterdam pukul 9 malam, penerbangan ini kami tempuh selama lebih kurang 2 jam. Yoga tak ikut bersama kami lantaran masih harus mengurus perpanjangan visa, dia akan menyusul beberapa hari lagi. Kebetulan salah seorang kakak kelas kami sedang menempuh pendidikan Master di Stockholm ketika itu, Kang Dika, dialah yang akan menjadi guide kami selama di sana.

Kang Dika mewanti-wanti agar kami membawa perlengkapan musim dingin, karena musim semi di Skandinavia datang lebih lambat dibandingkan di wilayah Eropa barat. Benar saja, setibanya kami di sana, waktu menunjukkan hampir tengah malam, udara dingin begitu menggigit, perkiraanku sekitar -5 °C, sedangkan siang tadi kami masih merasakan udara hangat belasan derajat di Belanda. Sesuai rencana yang telah kami pelajari, kami harus mengambil kereta bawah tanah (subway) menuju penginapan, dari halte terakhir kami harus berjalan sekitar 5 menit melewati jejeran pertokoan, gedung-gedung kuno dan kompleks pemakaman. Ternyata perjalanan 5 menit yang kami ketahui sebelumnya dari google maps adalah perjalanan kaki "normal" tanpa membawa barang bawaan. Sedangkan masing-masing dari kami harus memanggul ransel dan koper yang lumayan berat, ditambah lagi harus melewati tanjakan sambil menahan udara dingin yang menusuk tulang. Di halaman kompleks pemakaman yang kami lalui, berdiri sebuah kapel dengan latar belakang pepohonan besar yang meranggas tak berdaun, nisan-nisan berbentuk salib setinggi anak kecil teronggok bisu memandangi langit kelam. Bulan separuh sesekali mengintip disamarkan awan tipis, tumpukan salju masih tersisa di pinggir-pinggir jalan dan celah rerumputan. Kami tiba di penginapan lewat tengah malam, setelah membereskan barang-barang dan mandi, kami pun tertidur karena kelelahan.

Skansen Open Air Museum
Keesokan harinya, rasa lelah perjalanan kemarin sebenarnya belum sepenuhnya hilang. Tetapi, cuaca cerah pagi ini berhasil menggoda kami untuk menjelajahi kota Stockholm menjelang musim semi. Dari penginapan, kami berjalan kaki menuju pusat pertokoan di tengah kota, Kang Dika sudah menunggu kami di sebuah stasiun tram, aku tak ingat lagi namanya. Sesuai saran Kang Dika, kami membeli tiket harian yang berlaku untuk naik kereta, tram, bus, dan kapal. Tujuan pertama kami hari ini adalah Skansen, sebuah Open Air Museum pertama di dunia yang merangkap sebagai kebun binatang. Skansen didirikan pada tahun 1891 dan terletak di Pulau Djurgården. Tram membawa kami melintasi jembatan Djurgårdsbron yang menghubungkan bagian daratan kota Stockholm. Sesampai di Skansen, kami harus mengantri untuk mendapatkan tiket, hari ini pengunjung ramai sekali. Museum Skansen mencakup area seluas kira-kira 30 hektar, meliputi museum-museum, rumah-rumah pertanian dan peternakan tradisional, kincir angin, gereja kayu dan bangunan-bangunan kuno lainnya dari abad ke 18. Skansen menampilkan bagaimana gaya hidup masyarakat Swedia berabad-abad yang lalu. Sayangnya kami tak sempat mengunjungi area kebun binatangnya.

Skogskyrkogården
Sepulang dari Skansen, Kang Dika mengajak kami ke tujuan berikutnya, Skogskyrkogården. Sebuah taman pemakaman, ya pemakaman dalam arti sebenarnya. Lalu apa yang istimewa dari tempat ini. Skogskyrkogården adalah kompleks pemakaman yang masuk dalam daftar UNESCO World Heritage. Sebelumnya tak banyak orang menyangka sebuah taman yang dibangun pada abad ke 20 ini akan memperoleh penghargaan yang begitu membanggakan. Kompleks Skogskyrkogården "menjual" harmonisasi keteraturan dan keindahan kompleks pemakaman, arsitektur beberapa bangunan dan hutan-hutan kecil yang terawat, sederhana tapi elegan. Kami berkeliling-keliling di sekitar taman terbuka berupa padang rumput dan perbukitan hijau nan luas. Di beberapa sisinya tangga-tangga beton menghubungkan sub-sub area pemakaman. Beberapa karangan bunga yang masih segar teronggok di atas makam. Aku masih berusaha mengakur-akurkan perasaanku yang campur aduk, antara ingin menikmati keindahan taman di sore yang cerah itu atau perasaan kosong mengamati makam-makam bisu yang menjadi simbol kesedihan dan kehilangan. 

Festival Perang bantal
Kami meninggalkan Skogskyrkogården menuju pusat kota. Kang Dika lalu mengajak kami menikmati kota Stockholm dari laut, kami menumpang kapal wisata kecil yang membawa para penumpang bolak balik di sepanjang garis pantai. Setumpuk awan putih bergumpal-gumpal menaungi kapal kami, burung-burung camar melintas terbang labuh ke sana ke mari. Udara dingin bertiup kencang, lalu beberapa saat salju tipis pun turun, tanganku terasa membeku. Di tengah kota, kami sempat menyaksikan orang-orang berkumpul di sebuah plaza. Rupanya hari ini diadakan festival perang bantal. Ratusan orang saling memukul dengan bantal hingga isi bantal terburai berhamburan, bulu-bulu angsa dan kapas pun memutih diterbangkan angin.

Petualangan kami hari itu kami sudahi dengan berjalan-jalan di sepanjang area pertokoan menuju penginapan untuk berburu souvenir. Kami bertemu salah seorang pemilik toko souvenir berwajah India, dia menyapa kami dalam Bahasa Indonesia, ternyata Bapak separuh baya ini berasal dari Malaysia. Oiya, hampir semua orang yang kami temui di toko-toko dan fasilitas umum di Stockholm fasih berbahasa Inggris. Sesekali aku mencuri dengar beberapa percakapan asing dalam Bahasa Svenska, sepatah kata pun aku tak mengerti, namun suaranya terdengar indah di telingaku.

Kawasan sekitar Kota Tua Stockholm
Keesokan harinya, hari terakhir di Stockholm, kami habiskan dengan mengunjungi kompleks istana Kerajaan Swedia. Swedia telah menjadi kerajaan yang masyhur selama berabad-abad. Sampai saat ini, negara yang bercorak monarki konstitusional ini masih dipimpin oleh seorang Raja sebagai Kepala Negara, King Carl XVI Gustaf of Sweden. Sedangkan Kepala Pemerintahannya adalah Perdana Menteri (saat ini John Fredrik Reinfeldt) yang dipilih oleh parlemen. Tentara-tentara Kerajaan lengkap dengan pakaian militer khasnya berjaga-jaga di sekeliling kompleks istana, beberapa kulihat bergeming, berdiri seperti patung pada pos-pos jaga yang tersebar di beberapa sudut kompleks. Swedia yang dikenal sebagai salah satu negara maju dari segi ekonomi ini ternyata masih memelihara budaya kerajaan yang bagi sebagian rakyatnya saat ini mulai dipandang sebagai kekuasaan kuno yang hanya memberikan hak-hak istimewa pada sekelompok manusia eksklusif, keluarga kerajaan.


Mira dan Kereta Tua Stockholm-Oslo
Tugu Perbatasan Swedia-Norwegia
Tak terasa hampir tengah hari, kami pun harus segera kembali ke penginapan untuk membereskan barang-barang bawaan. Kami bergegas menaiki tram menuju stasiun. Dari stasiun utama Stockholm, kami menumpang kereta menuju Oslo. Gerbong kereta ini mengingatkanku pada kereta Parahyangan yang dulu biasa kutumpangi dari Bandung ke Jakarta, sedikit lebih tua, namun masih sangat terawat dengan baik. Aku terkantuk-kantuk memulai perjalanan yang akan kami tempuh sekitar 7 jam ini. Gerbong kereta dipenuhi penumpang asing, sayup-sayup kudengar percakapan-percakapan dalam bahasa Mandarin, Inggris dan Perancis, pandanganku semakin kabur dan aku pun tertidur. 

Aku terbangun menjelang sore ketika kereta memasuki wilayah perbatasan, rumah-rumah penduduk semakin jarang, di kiri kanan, hutan dan padang diselingi danau menemani perjalanan kami. Suhu udara di luar sepertinya semakin dingin, permukaan danau masih dilapisi es, sinar matahari sore itu belum mampu menghalau dingin yang membekukan permukaan danau. Lalu serta merta perhatianku teralihkan, selingkar lukisan warna-warni menghiasi langit sebelah selatan, pelangi pertama yang kusaksikan di langit Eropa, cantik sekali. Sebuah tugu bertuliskan "Sverige-Norge" (Swedia-Norwegia) di antara celah hutan cemara melesat cepat kusaksikan dari jendela. Kereta kami pun terus melaju memasuki wilayah Norwegia.

Bochum, 3 April 2014
[Bersambung]