Saturday, July 05, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 8 Ramadhan, Resep Akhir Pekan, Membuat Banana Cake dengan Rice Cooker

Tak terasa, 1 minggu sudah Ramadhan menyapa. Sejak pagi tadi, mendung menggelayut rendah, awan kelabu bergumpal-gumpal, tapi hujan tak kunjung turun. Hawa panas dan pengap menyergap diam-diam. Musim panas memang begitu, sering pura-pura meniru cuaca dari negeri-negeri nan jauh. Sebenarnya aku merindukan sahabatku Mira, biasanya kalau akhir pekan seperti ini kami sering menghabiskan liburan bersama, mengotori dapur di rumah mungilnya di Nijmegen sana dengan berbagai resep masakan dan kue hasil kreasi iseng kami berdua. Hari ini, di hari ke 8 Ramadhan, aku mencoba satu resep praktis dari internet, banana cake yang dibuat dengan rice cooker. 

Berikut bahan-bahan dan cara membuatnya.

Bahan-bahan (basah):
1. 2 butir telur (pisahkan bagian kuning dan putih telurnya).
2. 50 gram gula pasir
3. 2 buah pisang (lebih bagus jika sudah terlalu matang).
4. 50 gram mentega (cairkan).
5. Kismis secukupnya.

Bahan-bahan (kering):
1. ½ cup tepung terigu (ayak).
2. ½ sendok teh baking powder.
3. Sedikit garam.

Alat:
1. Baskom besar
2. Pengocok
3. Rice cooker (rice cooker kecil kapasitas 5 cup untuk 1 resep).
4. Spatula
5. Timbangan atau gelas takar
6. Kantong plastik ukuran 1 liter untuk menghancurkan pisang.
7. Piring saji atau loyang


Cara membuat:
  1. Kocok putih telur sampai busanya mengembang (sedang), masukkan gula sedikit demi sedikit. Kocok hingga rata.
  2. Kemudian masukkan berturut-turut kuning telur, pisang yang telah dihancurkan, dan mentega cair. Kocok hingga semua bahan tercampur sempurna. Tambahkan kismis, aduk rata.
  3. Campurkan bahan-bahan kering hingga merata, lalu masukkan adonan ke dalam panci rice cooker.
  4. Tekan tombol cook, kemudian setelah beberapa menit, rice cooker akan kembali ke mode warm. Tunggu 10 menit, kemudian tekan kembali tombol cook. Ulangi proses cook-warm hingga 5 kali siklus.
  5. Tes apakah adonan sudah matang sempurna dengan menusukkan lidi, jika sudah tidak basah dan lengket berarti sudah matang.
  6. Keluarkan panci rice cooker dari penanaknya, letakkan dalam posisi terbalik pada piring saji atau loyang hingga seluruh bagian kue terhidang di piring. Banana cake siap disajikan.
Sumber (dengan sedikit modifikasi):

Bochum, 5 Juli 2014

Friday, July 04, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 7 Ramadhan, Nasihat dari Pak Guru

Ada orang-orang yang dilahirkan untuk menjadi inspirasi bagi banyak orang. Menebar semangat pantang menyerah yang menjalar hingga ke sum-sum tulang. Tak berlebihan rasanya jika yang akan kuceritakan ini adalah sosok guru yang telah lama menjadi salah satu inspirasi dalam hidupku. Beliau berhasil membakar semangat kami, murid-muridnya, tak berhenti, pun hingga hari ini.

Ingatanku kembali ke masa-masa yang kuhabiskan di tanah air beberapa tahun yang lalu. Selepas SMA, sebagaimana anak-anak sebaya di kampung halamanku, aku meninggalkan rumah untuk melanjutkan pendidikan ke Pulau Jawa. Sejak SD aku memang selalu bercita-cita untuk sekolah di ITB, padahal aku sendiri tak begitu paham apa, di mana, dan ilmu seperti apa yang diajarkan di sana. Cita-citaku ketika itu sangatlah dangkal dan lebih tergiring oleh kebiasaan sekitar. Aku pun diliputi rasa tidak percaya diri, lantaran hanya lulusan sekolah daerah, dan kampung halamanku pun tak banyak dikenal, belum seperti sekarang.

Singkat cerita, di akhir tahun 2004 aku seperti tiba-tiba saja sudah menjadi mahasiswa, masih sedikit mabuk akan euphoria menjadi mahasiswa baru dengan segala atribut yang melekat padanya. Saat itu aku belum berpikir tentang tanggung jawab sebagai manusia, dilahirkan dengan membawa misi yang tidak sederhana di dunia ini. Mungkin jangan jauh-jauh dulu, tanggung jawab sebagai individu pun ketika itu belum sepenuhnya terpatri dalam alam pikiran sadarku, apalagi tanggung jawab kepada keluarga, agama bahkan bangsa dan negara. Menjadi mahasiswa baru bukanlah hal yang mudah, jika tak pandai-pandai kita akan terlalu hanyut oleh euphoria, atau bahkan menjadi panik menemukan diri sendiri yang kalah bersaing dengan orang lain. Jauh tertinggal dan akhirnya harus rela pulang lewat pintu Annex (Gedung Rektorat ITB), alias drop out. Tingkat pertama kulalui dengan hasil lumayan, namun belum ada motivasi yang benar-benar "menggigit" untuk kujadikan alasan kuat bertahan di sana.

Kolam "Indonesia Tenggelam" - Kampus ITB
Kemudian aku dipertemukan Allah dengan sosok Pak Guru, Pak Hermawan, dosen mata kuliah Matematika Rekayasa, mata kuliah wajib yang ketika itu kuambil di semester tiga. Sejak perkuliahan pertama, ada sesuatu yang kurasakan berbeda dari sosok beliau.  Mulai dari gaya bicara, bahasa tubuh, dan gaya mengajarnya selalu membangkitkan semangat dan motivasi baru bagiku. Sampai pada suatu pagi, perkuliahan Pak Her hari itu menjadi salah satu hari paling bersejarah dalam hidupku yang masih kuingat sampai hari ini. Pak Her dikenal sebagai sosok dosen yang cerdas, santun, berjiwa kepemimpinan, dan relijius. Beliau adalah salah satu ahli nano technology  yang dimiliki Indonesia. Belum pernah aku melihat beliau marah. Namun pagi itu rupanya tingkah kami membuat beliau sedikit gusar. Pagi itu, setelah perkuliahan Pak Her, kami harus mengumpulkan PR untuk mata kuliah yang lain sebelum pukul 9. Selama perkuliahan, sebagian besar dari kami sibuk menyelesaikan PR, lalu bolak-balik keluar kelas untuk mengumpulkannya di kantor tata usaha. Pak Her tetap melanjutkan kuliahnya seperti biasa, lalu sampai pada suatu ketika beliau berhenti dan meminta kami semua untuk menutup buku dan mendengarkan beliau. Aku tahu ketika itu beliau menahan marah, namun yang keluar dari mulutnya adalah nasihat panjang penuh penyesalan akan sikap kami sepanjang pagi tadi, seperti seorang bapak yang dengan lembut menasihati anak-anaknya. Suara beliau timbul tenggelam. Aku seperti mendengarkan riwayat panjang perjuangan anak bangsa yang sangat kuat menancapkan cita-citanya untuk bermanfaat bagi banyak orang. Ketika menempuh pendidikan S2 dan S3 di Amerika, Pak Her pun sempat harus bekerja paruh waktu, mulai dari menjadi petugas cleaning service, memberi makan binatang percobaan di laboratorium Biologi sampai menjadi tukang parkir di stadion sepak bola kampus. Kata-kata beliau yang selalu kuingat adalah "Never ever surrender!"

Satu nasihat beliau yang menjadi titik awal perubahan besar dalam hidupku adalah nasihat beliau tentang pentingnya pendidikan bagi kami, kaum perempuan. Kata Pak Her, mau jadi apapun engkau nanti, sekolahlah setinggi-tingginya, jadilah perempuan secerdas-cerdasnya, karena generasi yang hebat lahir dari rahim perempuan-perempuan yang hebat pula. Beliau melanjutkan: "Saya bisa membayangkan, anak-anak yang sejak dalam buaian diasuh oleh ibu-ibu luar biasa itu nantinya akan menjadi apa". Senyumnya mengembang dengan nada penutup kalimat yang hampir-hampir tak terdengar. Seketika semangat dari sorot mata Pak Her membiusku hingga ke ubun-ubun. Sejak hari itu, aku bertekad untuk menjadi perempuan hebat seperti kata beliau.

Siang ini, di hari ke 7 Ramadhan, Pak Joko, seorang Pak guruku yang lain, membagikan tautan ceramah Pak Her di halaman Facebook-nya. Pak Her berbicara sebagai Ketua Asosiasi Masjid Kampus Indonesia. Kuliah singkat tak sampai 30 menit itu lagi-lagi berhasil memompa semangatku, judulnya pun lantang dan penuh energi: "Panggilan Konstitusi, Seruan Kitab Suci – Tanggungjawab Umat Islam dalam Membangun Peradaban Indonesia yang Unggul." Pertama-tama Pak Her memaparkan potensi Indonesia yang dianugerahi kekayaan yang sangat luar biasa, mulai dari kekayaan alam, budaya, wilayah yang luas dan strategis, serta jumlah penduduk yang sangat besar. Sejak lahir, sebagai bangsa kita sudah diberi tantangan dengan problem yang luar biasa kompleks. Tentunya kita akan bertanya, mengapa kita merupakan bagian dari negara yang sedemikian luar biasanya ini? Tujuan itu, sebenarnya dengan sangat cerdas telah dirumuskan oleh para pendiri negara ini, yang dituangkan dalam konstitusi, yaitu agar kita turut berperan secara aktif memelihara dan menjaga perdamaian dunia. Akan sangat efektif kita memikul tugas dan amanah tersebut jika kita telah mampu membenahi dan menyelesaikan persoalan di dalam negeri kita sendiri. Tugas dan amanah ini sebenarnya juga tertera di Al Qur’an, yaitu dalam Surat Al Baqarah ayat 143: "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu". 


Bukan Pak Her namanya kalau beliau tak mampu mengajak muridnya untuk menggantungkan mimpi setinggi-tingginya. Beliau bercerita tentang negara-negara yang sudah lebih dahulu unggul dalam peradaban dunia. Kita sebagai bangsa yang masih dipandang sebelah mata tak boleh sedikit pun ragu dan pesimis, bahwa pada suatu saat nanti kita akan mampu mewujudkan cita-cita luhur para pendiri negara ini untuk berperan aktif di level dunia karena kita sudah bisa menyelesaikan persoalan di dalam negeri. Mindset ini harus selalu hidup di dalam pikiran setiap warga negara, khususnya bagi kita yang beragama Islam karena hal itu sekaligus merupakan tugas suci yang diamanahkan oleh Al Qur’an. 

Untuk mewujudkan itu semua, pertama-tama, yang harus kita kuasai sebagai syarat perlu adalah 3 hal, yaitu sains, teknologi, dan seni. Namun syarat perlu ini harus dilengkapi pula dengan syarat cukup, yaitu karakter atau akhlakul karimah. "Knowledge is power, but character is more". Sehingga kekuatan yang dimiliki itu nantinya tidak digunakan secara sewenang-wenang. 

Berangkat dari amanah luar biasa ini, Pak Her kembali memaparkan persoalan-persoalan yang kini dihadapi bangsa Indonesia. Intinya bangsa kita tak pernah kekurangan masalah. Dari segala potensi yang sudah dipaparkan tadi, lalu bagaimana kita mengolah itu semua menjadi sesuatu yang berdaya guna untuk mewujudkan mimpi dari para founding fathers negeri ini sekaligus amanah dari kitab suci tadi? Untuk menjawab pertanyaan ini, tidak ada salahnya kita belajar dari bangsa-bangsa lain yang telah lebih dahulu berperan luar biasa dalam memajukan peradaban dunia. Dunia ini diisi oleh berbagai bangsa agar kita saling mengenal dan saling belajar satu sama lain. Lalu berturut-turut beliau bercerita tentang bangsa Jerman, Korea dan Amerika. Intinya kita bisa belajar banyak dari contoh-contoh tersebut dimulai dari adanya tekad untuk mentransformasi bangsa ini menjadi bangsa yang lebih maju, sejahtera, dan adil.

Semuanya harus dimulai dari sebuah keyakinan bahwa kita bisa melakukannya. Barangkali tidak perlu seluruh warga negara, tetapi cukup sekelompok kecil yang benar-benar mempunyai tekad yang sangat kuat, bersungguh-sungguh dan berdedikasi. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang diberikan nikmat lebih, salah satunya adalah kelompok kecil yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi.  Tanggung jawab mereka menjadi lebih besar untuk menggerakkan semua perubahan itu. Sampai di sini, aku tertegun dan merasa tertampar, bukankah aku juga menjadi bagian dari orang-orang yang beliau maksud?

Di akhir kuliah, beliau menekankan bahwa kita harus yakin, bahwa selama yang kita lakukan adalah untuk kebaikan, tidak hanya bagi diri kita sendiri tetapi juga untuk kemanusiaan, maka yakinlah semua mimpi dan cita-cita kita insyaAllah akan tercapai. Hanya dengan keyakinan itu kita berani melangkah. Kita membutuhkan karakter yang siap untuk bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja tuntas, bekerja mawas, bekerja yang berkualitas, dengan landasan integritas dan ikhlas.

Setengah jam pun berlalu dengan sangat singkat. Tak terasa mataku berkaca-kaca mendengarkan rangkaian nasihat beliau dan foto-foto tanah air yang sudah hampir 3 tahun aku tinggalkan. Aku teringat pertemuan terakhirku dengan Pak Her sebelum berangkat ke sini. Beliau menasihatkan kepadaku agar aku belajar dan berusaha sekeras-kerasnya. Kata Pak Her aku harus jadi orang cerdas dan tak boleh kalah dengan rekan-rekanku nanti, orang-orang Eropa. Pak Her juga sempat mengucapkan maaf dan terima kasih padaku karena telah bersedia meluangkan waktuku di kampus dalam 1 tahun terakhir sebelum keberangkatanku. Aku terdiam menahan haru, bukankah aku yang seharusnya meminta maaf dan berterima kasih kepada beliau? Bapak guru ini, sosok luar biasa yang duduk di depanku siang itu akan senantiasa menjadi inspirasi luar biasa dalam hidupku. Aku membuka kembali email balasan dari Pak Her yang beliau kirim kepadaku beberapa tahun yang lalu ketika aku baru tiba di Jerman. "Hesty, kalau pun ada pengalaman saya di US, sewaktu mengambil S3 dulu, yang mungkin bermanfaat adalah jangan menyerah sampai usaha terakhir dan selalu berdoa kepada Allah agar diberi jalan keluar yang terbaik dari masalah yang dihadapi". "Guruku, terima kasihku, semoga Allah senantiasa memberkahi hidupmu."

Link video kuliah di atas:

Berikut kukutipkan pernyataan yang pernah disampaikan seorang kawan:

748 languages
1340 ethnic groups
17480 islands
6 official religions
Length of the area is equal as from Paris to Moscow
Hold together as one nation, Indonesia

Isn't that incredible?

I used to think that "one motherland, one nation, one language" was not more than a jargon. But after I travelled to Switzerland where all announcements are in three languages (German, French and Italian) and so with Belgium which is divided into "French Belgium" and "Dutch Belgium", I realize now that Indonesia is a miracle. [Rihan Handaulah]

Bochum, 4 Juli 2014

Thursday, July 03, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 6 Ramadhan, Bertemu Kawan Lama, Control Engineering

Sejak memutuskan untuk melanjutkan studi selepas sarjana, sebenarnya aku sempat berakrab-akrab dengan bidang yang sebenarnya kurang kusukai, control engineering. Akan tetapi program magister yang dulu kuambil, sebagian besar kurikulumnya membahas tentang hal tersebut. Program yang dulu kuambil mempunyai singkatan nama yang charming, PINK (Program Instrumentasi dan Kontrol), juga menjadi nama salah satu dari 2 kelompok keahlian di Teknik Fisika. Lalu mengapa aku memutuskan untuk berakrab-akrab dengan bidang yang justru tidak kusukai? Begini ceritanya.

Di akhir semester 6 program sarjana Teknik Fisika, kami harus memutuskan untuk mengambil bidang keahlian apa yang nantinya akan terus diseriusi hingga mengambil Tugas Akhir di semester 8. Aku yang pada waktu itu masih bingung untuk memutuskan di antara 2 pilihan, bidang Proses Material atau Instrumentasi Medik, akhirnya memutuskan untuk mengambil yang ke dua. Laboratorium Instrumentasi Medik berada di bawah Kelompok Keahlian Instrumentasi dan Kontrol. Semakin jauh kami tenggelam di dalamnya, tergiring pula nasibku untuk mengambil program magister tadi. Sebenarnya penekanan yang kuambil lebih ke arah instrumentasi, bukan kontrol. Tetapi semasa perkuliahan di 2 semester pertama, tetap saja kami harus mengambil mata kuliah wajib yang sangat pekat berbau kontrol. 

Sejak masih di program sarjana, kalau bertemu mata kuliah kontrol, hidupku jumpalitan seperti tikus yang berusaha keluar dari lubang jarum, asal lulus. Di program magister pun tak jauh berbeda, seperti mengulang trauma masa lalu, namun tak juga jera. Melelahkan, tapi getir manisnya terasa pula. Aku masih ingat hari-hari yang kami lalui di minggu terakhir masa ujian akhir mata kuliah Kontrol Otomatik. Aku dan beberapa kawanku hanya tidur mungkin tak lebih dari 1 jam, selepas ujian kami pulang dengan wajah hampir seperti zombie. Tetapi nasib rupanya selalu menyimpan rahasia. Beberapa tahun kemudian atas rekomendasi dari Pak Yul, dosen pengampu Kontrol Otomatik dan salah seorang ahli control engineering di Teknik Fisika, akhirnya aku terdampar di sini. Ketika itu Pak Yul masih menjabat sebagai Atase Pendidikan di KBRI Berlin, beliau baru saja mengadakan kunjungan ke Ruhr Universität Bochum, universitas tempat beliau menamatkan program doktoralnya dulu. Kini aku pun seperti mengulang masa-masa  perjuangan beliau pada dekade 90-an di kota kecil ini.

Lalu hari ini, di hari ke 6 Ramadhan, aku mendapat sedikit kejutan. Sudah hampir 4 tahun aku tak berakrab-akrab dengan kontrol, aku pun sudah tak tahu lagi bagaimana kabarnya. Pagi ini, seorang mahasiswa master di Research Group kami mempresentasikan thesis-nya di depan kami. Tertegun aku membaca judulnya: "Design and Implementation of Adaptive Control for Blood Pumps". Sang mahasiswa yang sejak tadi berdiri di depan ruangan tiba-tiba berubah menjadi Pak Yul, bahasa Jermannya hampir-hampir seperti native, dari namanya kuduga dia berasal dari Iran. Serta merta ratusan istilah kontrol seperti termuntahkan dari kepalanya, mengambang di udara, lalu menari-nari dan tersenyum sinis ke arahku. Aku seperti dipertemukan dengan kawan lama, cinta yang dulu, tetapi masih sama indahnya.

Bochum, 3 Juli 2014

Wednesday, July 02, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 5 Ramadhan, Sahabat-sahabat Sepanjang Masa

Beberapa tahun yang lalu ketika pertama kali aku mulai mengerjakan Tugas Akhir sarjana di laboratorium, dipertemukanlah aku dengan sekelompok anak muda yang hingga hari ini menjadi sahabat-sahabat baikku. Kami menghabiskan sebagian besar waktu bersama, tak jarang hingga larut malam ketika eksperimen-eksperimen menunggu untuk dikerjakan. Jika tiba bulan Ramadhan, tak jarang pula kami masih berada di kampus saat waktu berbuka. Biasanya kami akan berbuka puasa bersama di Masjid Salman atau warung-warung makan di sekitar Jalan Gelap Nyawang. Lain waktu menjelang libur lebaran, Pak Supri kepala lab kami, Lab Instrumentasi Medik, akan mengajak kami berbuka puasa bersama di lab. Momen ini biasanya kami jadikan ajang berkumpul bersama sebelum sebagian besar dari kami mudik ke kampung halaman masing-masing.

Assembly Point di kampus ITB
Hari-hari yang kami lalui bersama sedikit banyak telah mengubah sebagian besar hidupku dalam beberapa tahun belakangan ini. Aku pun belajar banyak hal dari mereka, tak cukup pula waktu rasanya jika sudah berkumpul bersama, mulai dari mengerjakan hal-hal serius sampai hal-hal paling konyol. Pernah pada suatu periode, ITB mendirikan rambu-rambu penanda untuk berkumpul pada keadaan darurat atau Assembly Point di sejumlah titik di wilayah kampus. Kalau aku tak salah ingat tersebar di 21 titik. Entah angin apa yang membawa kami, pada suatu hari tercetus ide untuk berfoto bersama di setiap titik tersebut. Hampir setiap akhir pekan kami berkeliling kampus dan mengabadikannya dalam foto-foto tak penting, kami sampai hampir hafal di mana letak titik-titik tersebut. Kegiatan konyol tak penting ini lalu kami namakan “Wisata Assembly Point”. Ketika itu entah serius atau bercanda kami sering berseloroh, suatu hari nanti kami harus melanjutkan wisata Assembly Point ini sampai ke luar negeri.

Assembly Point di Ruhr Universität Bochum
Sekian tahun berlalu, nasib pun membawa kami sampai ke negeri-negeri yang jauh. Kami harus berpisah karena mimpi-mimpi yang dulu kami rajut bersama, mimpi untuk sekolah lagi. Dalam 4 tahun terakhir ini kami hidup terpisah-pisah, aku di Bochum, sahabat-sahabatku yang lain memilih ke Bremen (Jerman), Nijmegen (Belanda), London (Inggris), Dallas (Amerika Serikat), Manchester (Inggris), Tsukuba (Jepang), dan beberapa memilih tetap berada di tanah air. Saat tiba bulan Ramadhan seperti ini, meskipun kami tak bisa berbuka puasa bersama lagi, tetapi keseharian yang kami bagi dalam group chatting cukuplah menggantikan kebersamaan itu. Di saat sahabat-sahabatku di tanah air berbuka puasa, kami yang di Eropa masih merasakan terik panas tengah hari, lalu yang di Amerika baru lepas waktu subuh untuk memulai puasanya, sementara yang di Jepang sudah akan siap-siap sholat Tarawih. Kebiasaan berfoto di Assembly Point  pun masih kami lanjutkan sampai sekarang. Suatu hari nanti akan tiba saatnya ketika kami diizinkan Allah untuk kembali bersama. Lalu, serpih-serpih kenangan itu akan kami susun mozaiknya pada suatu masa ketika kami tak lagi muda, sejuta cerita tentangku, tentang kita. 

Bochum, 2 Juli 2014

Tuesday, July 01, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 4 Ramadhan, Berkawan Jarum dan Buku-Buku

Hari ini adalah hari pertama Ramadhan tahun ini yang kuhabiskan di kampus. Suasana pagi, kampus masih sepi, baru Steffi dan Lily yang sudah duduk rapi di depan komputer, di kantor mereka masing-masing. Awal pekan ini pikiranku melayang-layang memikirkan tumpukan jarum anestesi dan hasil eksperimen kami dalam sebulan terakhir ini. Data-data menumpuk, menunggu untuk diolah dan "diterjemahkan". Aku teringat pesan Supervisorku pada suatu kesempatan: "Riset itu bukan hanya sekedar eksperimen yang berulang-ulang. Tapi lebih dari itu, kita harus mampu mencari rahasia dibalik fenomena yang kita temukan". Aku menarik nafas panjang, inilah salah satu konsekuensi terdalam yang harus dihadapi peneliti, bidang apapun itu. 

Seorang kawan pernah pula berujar, aku sudah lupa redaksinya, tetapi kurang lebih seperti ini: "Menjadi Doktor adalah gerbang yang membuka kepada ketidaktahuan yang lebih dalam". Semakin dalam kita berpikir dan terus berpikir mengenai suatu fenomena, semakin paham pula kita bahwa sesungguhnya sangat banyak hal-hal yang tidak/belum kita ketahui. Menjadi seorang peneliti menuntut kesabaran dan ketekunan. Tak jarang kami harus mengulang-ulang eksperimen yang sama, berkali-kali. Tak jarang pula aku terbangun di tengah malam buta, memikirkan paper yang sepanjang siang tadi kubaca. Maka, bila tak ada keindahan seni di dunia ini, otakku akan menjadi timpang dan tidak seimbang. Kamarku tak menggambarkan kehidupanku sebagai mahasiswa, semua buku-buku terkait riset dan kawan-kawannya kutinggalkan di ruangan kantor. Yang tersisa di kamarku hanya buku-buku sastra, kamera dan perlengkapannya, serta poster-poster dari dunia antah berantah. Ironis? Mungkin.


Aku mulai berpikir, betapa ruginya hidupku bila hanya sampai di situ kuhabiskan lebih dari 20 tahun bergulat dengan bangku sekolah dan buku-buku, sedangkal ilmuku yang memang sangat dangkal, tak ada bandingnya dengan rahasia Allah di alam semesta ini. Lalu, bagaimana bila sekonyong-konyong giliranku tiba? Kata ayah, ibu dan abangku, kata kuncinya adalah "ibadah". Seberapa jauh apa-apa yang kukerjakan ini dapat mendatangkan kebaikan, sejauh mana aku belajar menjadi tekun, sabar dan ikhlas, serta sejauh apa aku menghabiskan sisa usiaku untuk kemanfaatan bagi orang lain. 

Beberapa tahun yang lalu ketika masih di Bandung, hari-hari terakhir Ramadhan biasanya kuhabiskan di kampung halaman, bersama ayah ibuku. Hanya kurang lebih 2 minggu dalam setahun. Biasanya dalam obrolan-obrolan ringan bersama mereka, sering tercetus mimpi-mimpi yang ada dalam kepalaku. Beruntung, sejak kecil aku tak pernah diharuskan oleh mereka untuk menjadi ini dan itu. Kini aku berada jauh dari kampung halaman, mimpi-mimpi masa lalu itu harus kujalani satu persatu. Cinta dari keluarga, saudara, para guru dan kawan-kawanku tak pernah bisa kubalas sampai mati. Kepada harum Ramadhan di musim panas ini, kutitipkan maaf dan terima kasihku untuk mereka, mereka yang telah membuatku menjadi aku.

Bochum, 1 Juli 2014

Monday, June 30, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 3 Ramadhan, Memori Pasar Ramadhan dan Baju Lebaran

Ramadhan tak jarang berbelok tujuannya bila kita tak pandai-pandai menahan diri. Di tanah air, kecenderungan perilaku konsumtif di masyarakat justru semakin menjadi-jadi saat Ramadhan tiba, terlebih menjelang hari raya. Samar-samar kuingat suasana pasar Tanjongpandan yang selalu ramai, apalagi menjelang waktu berbuka. Makanan yang entah dari jenis apa saja melimpah ruah, dijual oleh para pedagang bahkan sampai ke pinggir-pinggir jalan. Ruas-ruas jalan utama padat oleh kendaraan dan pejalan kaki, begitulah suasana khas pasar Ramadhan. Sejak berada di sini, aku sudah lama tak merasakan jajanan pasar khas bulan puasa. Tapi lantaran pencernaanku yang memang sering bermasalah, sejak masih di Indonesia pun jarang-jarang sekali aku menikmati jajanan pasar dan berbagai jenis kolak serta minuman khas untuk berbuka puasa.

Menjelang hari raya, suasana pasar semakin ramai, tak hanya untuk tujuan konsumsi makan minum. Tiba pula saatnya ketika orang-orang mulai sibuk mempersiapkan busana untuk hari raya. Pedagang pakaian sudah mempersiapkan stock jauh-jauh hari, ditambah pula pedagang-pedagang dadakan yang menggelar lapak dagangannya di pasar-pasar Ramadhan. Pakaian dari jenis paling murah sampai paling mahal, untuk anak-anak, remaja, hingga orang dewasa lengkap tersedia. Aku sudah tak ingat, kapan terakhir kali aku dibelikan baju lebaran oleh orang tuaku, mungkin belasan tahun yang lalu. Setelahnya aku tak pernah mengkhususkan waktu untuk membeli pakaian menjelang hari raya, sesuai kebutuhan saja.

Soal pakaian ini aku punya kenangan tentang rasa bersalah pada ibuku. Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentunya Mamak ingin aku menjadi sebenar-benarnya anak perempuan. Tak terbayang kecewanya Mamak ketika aku dulu tak pernah mau memakai pakaian-pakaian cantik untuk anak perempuan yang beliau belikan. Model pakaian yang hanya mau kupakai ketika kecil adalah model pakaian yang tidak “keperempuan-perempuanan”, polos tak banyak corak, apalagi berenda-renda. Nasib pakaian-pakaian itu selalu berakhir di lemari sepupu-sepupu atau tetangga kami, ketika sampai tak cukup lagi untuk kupakai dan tak pernah sekali pun aku memakainya. Tapi, Mamak tak pernah menyerah, pakaian-pakaian itu selalu beliau beli dengan harapan yang selalu sama, bertahun-tahun sampai aku tak ingat lagi berapa jumlahnya dan Mamak tak pernah mengeluh padaku. "Maafkan aku, Mak". 

Hari-hari belakangan ini, ketika aku berada jauh dari rumah, pakaian menjadi hal lain dan tak jarang meninggalkan pengalaman-pengalaman berkesan. Di negeri ini, pakaian muslimah menjadi semacam identitas, sehingga aku dikenali orang asing sebagai seorang muslim, pun dengan segala macam embel-embel yang melekat pada identitas itu. Aku tak mau ambil pusing dengan anggapan orang lain tentang citra Islam yang negatif, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri dan berusaha sesuai kemampuanku untuk menjadi “duta” Islam yang baik. Aku pun tak mau berburuk sangka pada orang asing yang menganggap orang Islam ini dan itu. Alhamdulillah, hampir 3 tahun aku merantau di sini, hanya kesan baik yang kuterima dari hampir setiap orang asing yang aku temui, baik secara acak di jalan-jalan, atau yang kemudian menjadi orang-orang yang kerap berinteraksi denganku. 

Pernah suatu hari aku bertemu rombongan "preman" di kereta. Sekitar 6 orang usia 20an berbusana punk, sudah setengah mabuk, masing-masing dengan rokok mengepul dan botol minuman keras. Aku duduk sendiri di sudut bangku kereta, lalu rombongan preman tadi tiba-tiba datang ke arahku dan mengisi 3 bangku kosong tepat di depan dan sampingku. Satu orang lagi, perempuan yang tampaknya sudah terlalu mabuk hampir rebah ke arahku. Aku pun membantunya untuk duduk kembali. Dua orang yang duduk di depanku juga perempuan, sedangkan sisanya laki-laki memilih berdiri di sepanjang lorong. Aku berusaha memasang wajah ramah. Dua orang perempuan tadi mengajakku berbincang-bincang, berkali-kali mereka meminta maaf karena temannya yang mabuk tadi sudah mulai meracau. Lalu, momen yang paling membuatku terharu adalah ketika mereka meminta izin dengan sangat sopan untuk merokok, lalu kukatakan pula dengan sopan bahwa aku tak tahan asap rokok dan meminta mereka untuk mematikan rokok yang tadi sudah terlanjur disulut. Seketika, mereka semua menurut dan kembali meminta maaf. Rombongan tadi hanya melewati 2 stasiun dan turun lebih dahulu, masing-masing dari mereka melambaikan tangan sambil tersenyum ke arahku, lalu meminta maaf, mengucapkan terima kasih dan tak lupa mengucapkan "Schönes Wochenende!" "Selamat berakhir pekan!". Lalu kubalas salam mereka sambil tersenyum. Aku pun teringat pada Bapak penjahit langgananku di Bandung dulu yang menjahit kerudung yang ketika itu aku kenakan. "Selamat berpuasa, Pak". Aku tahu pasti sekarang beliau sedang sibuk mengerjakan pesanan jahitan yang sering menumpuk menjelang lebaran.  

Bochum, 30 Juni 2014

Sunday, June 29, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 2 Ramadhan, Wangi Kenangan yang Melayang-layang

Bagi masyarakat Indonesia, Ramadhan erat kaitannya dengan keluarga. Biasanya orang-orang akan memanfaatkan momen Ramadhan untuk berkumpul bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Bagiku Ramadhan menyimpan kenangan-kenangan sentimentil tentang masa kecil dan kampung halaman, layaknya anak-anak Melayu yang dibesarkan di kampung, diasuh alam, dibuai deru angin dan rinai hujan. Sudah hampir 10 tahun, aku menghabiskan Ramadhan jauh dari keluarga. Kesempatan untuk merasakan suasana Ramadhan di kampung halaman menjadi barang mahal. Apalagi di negeri antah berantah ini, sebagian besar orang tak tahu dan tak ambil peduli dengan Ramadhan. Tetapi bulan suci ini rupanya berhembus juga wanginya, sepenggal kalimat sederhana: "Hallo Hesty, Happy Ramadhan!" dari sahabatku yang berasal dari Uganda menjadi sesuatu yang sangat berkesan. Singkat, tetapi penuh energi semangat dan persahabatan lintas budaya.

Hari ke dua Ramadhan tahun ini kuhabiskan bersama 2 sahabatku, Nurbiah dan Bianca. Kami, para perantau yang jauh dari keluarga ini alhamdulillah masih bisa merasakan kebersamaan saat sahur dan berbuka. Sepiring nasi dan lauk pauk sederhana mengantarkan kenanganku pada piring-piring yang terhidang di atas meja makan rumah kami. Piring-piring yang mewakili budaya orang-orang Melayu pesisir, berisi segala macam hasil laut nan bergizi. Adzan dari aplikasi di HP dan komputerku sayup-sayup terdengar, merdu sekali seperti kumandang dari pengeras suara Surau As Salam, surau kecil tempat aku dan sahabat-sahabatku menghabiskan hampir separuh masa kecil kami. Lalu, tembakan meriam bambu yang tak jarang mengagetkan orang-orang tua sepulang Tarawih, meninggalkan aroma asap minyak tanah yang wangi. Decit-decit langkah bersendal jepit melewati jalan tanah tak berpenerangan, menjemput remang lampu teras 5 Watt di rumah-rumah berselang semak perdu dan kebun buah-buahan. Lalu senandung tilawah Al Qur’an yang berganti-ganti dengan riuh suara anak-anak yang berebut-rebut menabuh beduk. Wangi kenangan masa kecil yang kini berubah wujudnya dalam kesederhanaan Ramadhan kami di tanah rantau, dengan beberapa potong pudding mangga, butir-butir kurma dan Apple pie.

Bochum, 29 Juni 2014

Saturday, June 28, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 1 Ramadhan, Hari Pertama

Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan ke tiga yang akan kuhabiskan di negeri ini, Ramadhan ke tiga pula yang bertepatan jatuhnya dengan musim panas. Sanak saudara, handai taulan dan kaum kerabat yang berada jauh di tanah air acap kali bertanya, pukul berapa kami memulai puasa dan pukul berapa pula kami berbuka. Puasa di musim panas kurang lebih kami lakukan selama 19 jam, sejak pukul 3 dini hari dan matahari baru beranjak ke peraduannya menjelang pukul 22 malam. Lalu bagaimana kami mengatur jarak waktu  yang begitu singkat antara pukul 22 hingga pukul 3, untuk bebuka, melakukan ibadah harian Ramadhan, sahur hingga sholat subuh? Lalu, apa kami tidak tidur dan bagaimana pula kami menghabiskan waktu siang yang panjang dan panas dengan kegiatan sehari-hari seperti biasa? Tiap orang akan mempunyai jawaban berbeda.

Aku pun mempunyai cara tersendiri bagaimana menyiasati Ramadhan di musim panas ini. Biasanya aku memulai kegiatan di kampus dan laboratorium seperti biasa, kira-kira mulai pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore. Sepulang dari kampus, sambil menunggu waktu Ashar kira-kira pukul 6 sore, aku akan memasak makanan praktis yang tak sampai berjam-jam memerlukan waktu. Setelah mandi selepas Ashar aku pun akan bersiap-siap untuk tidur. Tak mudah memang, pukul 6 sore matahari masih terang benderang, panas dan menyilaukan, seperti matahari pukul 3 sore di Indonesia. Lalu aku akan bangun menjelang pukul 22 untuk berbuka dan akan terus terjaga hingga subuh menjelang. Lepas subuh, pukul setengah 4 pagi aku pun akan tidur kembali dan bangun kira-kira pukul 7 pagi.
 
Begitu terus berulang-ulang, hingga hari terakhir Ramadhan yang biasanya hanya mempunyai selisih durasi siang hari kurang lebih satu setengah jam lebih pendek dibandingkan hari pertama. Aku takjub, bagaimana Allah menciptakan kesempurnaan pada tubuh manusia. Secara logika, tak sanggup rasanya melewati hari-hari melelahkan seperti itu, tanpa makan dan minum di siang hari yang tak jarang temperaturnya melonjak hingga mendekati 40°C, dengan jam tidur yang tak „normal“ serta relatif kurang istirahat. Tapi, begitulah Allah sebaik-baik Pencipta, Alhamdulillah hingga hari ini aku dan saudara-saudaraku di sini baik-baik saja dan tak kekurangan sesuatu apapun juga. Bahkan kami tetap bisa melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa di siang hari. Tak jarang pula aku melakukan kegiatan-kegiatan „konyol“ bersama kawan-kawanku. Dua tahun yang lalu, saat matahari menyengat hampir 38°C, hari terakhir Ramadhan kuhabiskan dengan bersepeda keliling kota Groningen bersama kakak sepupuku, Kak Anis. Ramadhan tahun lalu, aku dan sahabatku Mira sempat pula menghabiskan satu hari nan panas di kota Köln, kami bertemu seorang Bapak penjual cherry asal Suriah yang menghadiahi kami bonus cherry ½ kg karena tahu bahwa kami sedang berpuasa, sama seperti dirinya. Kami juga sempat bertemu rombongan pemuda berwajah Timur Tengah dan Eropa yang membagi-bagikan Mushaf Al Qur’an berbahasa Jerman yang masih menghiasi rak bukuku hingga hari ini.

Sahur perdanaku tahun ini sedikit istimewa. Kemarin, pagi-pagi sekali aku menyempatkan diri untuk mengunjungi Mak Long Nani, Tanteku di kota Wegberg, sebuah kota kecil yang kutempuh kurang lebih 2 jam dari Bochum dengan kereta dan bis. Wegberg adalah kota kecil yang cantik. Di musim panas seperti ini ladang-ladang pertanian sedang ranum-ranumnya. Berhektar-hektar ladang gandung, kentang, jagung, raps, dan berbagai jenis sayur-sayuran menghampar luas sejauh mata memandang. Rumah-rumah penduduk berjajar rapi dengan taman-taman kecil berhias bunga warna-warni yang sedang mekar-mekarnya. Mak Long menyiapkan masakan istimewa hari ini: gangan, pepes, dan tumis tauge, masakan rumahan khas Belitong, kampung halaman kami. Menjelang sore aku pulang dengan tas yang penuh berisi makanan-makanan tadi. Kata Mak Long, oleh-oleh untuk sahur pertamaku. Alhamdulillah, ...“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?“.

Bochum, 28 Juni 2014

Thursday, June 26, 2014

Kebahagiaan-kebahagiaan Kecil yang Berserakan Sedari Pagi


Memunguti kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang berserakan sedari pagi selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan. Rasanya seperti memunguti cangkang-cangkang kerang di tepi pantai dekat rumahku ketika aku masih kecil dulu. Pagi ini lumayan dingin untuk ukuran musim panas, 8°C. Pukul 5 asramaku masih sepi, sementara aku sudah rapi dan siapberangkat ke kampus. 

Kebahagiaan pertama kudapati ketika membuka balkon dan memperhatikan padang rumput halaman belakang, domba-domba gendut yang tiba-tiba datang kemarin sore ternyata baru bangun dan langsung sarapan rumput. Senyum pertama lantaran domba-domba lucu itu mengantarkan langkah kaki pertamaku pagi ini beberapa saat setelah matahari terbit. Rerumputan masih bergeming, angin pun masih malas merayu. 

Kebahagiaan kedua menghampiriku ketika aku bertemu seorang ibu muslimah asal Togo dalam perjalanan. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada guru-guruku dulu, pengetahuan geografi zaman dahulu itu ternyata begitu berguna. Sang ibu sedikit tak yakin ketika memperkenalkan diri padaku ketika kutanya dari mana asalnya. "Togo, weisst du?" "Tentu saja", kataku. "Negaramu terletak bersebelahan dengan Benin dan Ghana, bukan? Daerah Teluk Guinea". Dia pun tersenyum senang. Percakapan singkat kami yang tak sampai 15 menit itu terasa menyenangkan. Dia bercerita tentang keluarga kecil dan pekerjaannya, lalu tentang Ramadhan dan suka duka hidup di perantauan. Tak lupa sang ibu mendoakan keberhasilan studiku dan kesehatan untukku sekeluarga. Aku kembali merasakan manisnya persaudaraan sesama muslim. Aku bahkan belum tahu siapa namanya, namun seuntai salam dan doa telah dihadiahkan olehnya sepagi ini untukku, saudaranya dari negeri yang mungkin tak dikenalnya.

Kebahagiaan ketiga melengkapi pagiku ketika aku sudah bisa memulai eksperimen sejak pukul 6, dan dilanjutkan eksperimen bersama Steffi pada pukul 9. Ibu muda Supervisor keduaku ini adalah perempuan penyayang yang kuhormati sekaligus kukagumi. Waktunya yang padat di kampus tak pernah menyurutkan perhatiannya pada 2 orang anaknya yang masih kecil. Pukul 15.30 sore, dia pasti sudah pulang, waktunya dia berganti peran dari seorang peneliti hebat menjadi ibu rumah tangga. Steffi tak pernah tak mengucapkan terima kasih padaku, sekecil apapun tugas yang aku lakukan, padahal tugas itu untuk diriku sendiri, dan bukankah aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih padanya? Ah, Steffi semoga suatu hari nanti aku pun bisa menjadi perempuan hebat sepertimu. 

Dan matahari pun kian meninggi. Beberapa gumpal awan yang menari-nari bersama langit biru tersenyum padaku. Alhamdulillah.

Bochum, 26 Juni 2014

Friday, June 13, 2014

Syukur

Sehelai nyawa yang kau pinjam setiap pagi
Lalu sepasang tangan dan kaki
Kau pakai berlari, katamu mengejar mimpi
Tentang segenap indra yang menggiring langkah
Adakah syukur tumbuh merekah?

Semburat mentari menyapamu malu-malu
Merenda kelopak bunga dan perdu
Lalu bahagiamu mengharu biru
Tentang wangi semilir musim semi
Adakah syukur menghiasi hati?

Langit membentang, petang menjelang
Lembayung senja membayang
Lalu pandanglah kerlip gemintang
Tentang damai lantunan malam
Adakah syukur kian menghujam?

Tentang nafas nan sementara
Tentang hidup nan fana
Tentang cinta pada Sang Pencipta
Tentang dunia yang hanya persinggahan saja

Bochum, 22 mei 2014
Dibacakan dalam Acara Silaturahim Piknik Kajian Muslimah Ruhr di Nordpark Düsseldorf, 24 Mei 2014.

Diemelbrücke, Diemelsee, Sauerland, Oktober 2103.

Explore Experience Enjoy Indonesia (3EI), Memperkenalkan Indonesia di Mata Dunia

Hari Indonesia merupakan sejenis event tahunan yang biasa diadakan oleh komunitas Indonesia di luar negeri. Acara semacam ini menjadi ajang promosi kebudayaan dan pariwisata Indonesia, atau penggalangan dana amal insidental yang akan disumbangkan ke lembaga sosial di Indonesia sekaligus sebagai kesempatan berkumpulnya masyarakat Indonesia di tanah rantau setiap tahunnya. Event massal seperti ini terutama membidik pengunjung internasional dari berbagai kalangan. Tahun ini, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Duisburg-Essen didukung oleh Deutsch-Indonesische Gesellschaft Rhein-Ruhr, Arbeitskreis Indonesien der Volkshochschule Duisburg, International Office Universität Duisburg Essen, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt, Muslim Ruhr serta IFGF Düsseldorf Church kembali mengadakan event serupa bertajuk Explore Experience Enjoy Indonesia (3EI). Acara yang berlangsung pada 17 Mei yang lalu ini melibatkan komunitas Indonesia yang berdomisili di Ruhr area dan sekitarnya, di Negara Bagian Nordrhein-Westfalen, Jerman.

Acara yang mampu menarik sekitar 600 pengunjung, yang terdiri dari masyarakat Indonesia maupun internasional ini berlangsung sangat meriah di Gedung Internationales Zentrum Duisburg. Acara 3EI ini berlangsung selama lebih kurang 6 jam dan dibuka pada pukul 15 sore. Tempat acara dibagi menjadi tiga area utama, yaitu area stand kuliner Indonesia, area panggung acara yang menampilkan berbagai kesenian khas Indonesia, serta area tutorial batik dan permainan tradisional. Pada kesempatan ini, KJRI Frankfurt menyediakan pula pelayanan konsuler bagi masyarakat Indonesia.

Area stand kuliner menjadi salah satu daya tarik utama bagi pengunjung. Berbagai makanan dan minuman khas Indonesia disajikan secara kreatif oleh para peserta stand. Menu utama terdiri dari Nasi Padang (lengkap dengan menu Rendang dan Gulai Kikil), Sate Ayam, Ayam Bumbu Rujak, Kwetiaw Goreng Spesial, Pempek, Nasi Tutug Sunda, Siomay, Ketoprak dan Soto Betawi. Selain itu dijual pula kue-kue dan minuman khas Indonesia, seperti Dadar Gulung, Gemblong, Pisang Molen, dan Cendol. Tak sampai di akhir acara, sekitar pukul 19.30 sebagian besar makanan telah terjual habis. Beberapa pengunjung internasional mengaku tertarik dan penasaran untuk mencicipi berbagai kuliner khas Indonesia ini karena tampilan makanan yang variatif dengan cita rasa yang khas dan gurih, sangat berbeda jika dibandingkan dengan kuliner Eropa pada umumnya.

Sementara itu, di area panggung acara, para pengunjung telah memadati tempat duduk yang berjajar hingga ke bagian belakang ruangan. Tak sedikit pula pengunjung yang harus rela berdiri dan berdesak-desakan karena tak kebagian kursi. Para pengisi acara menampilkan berbagai performance khas Indonesia, seperti tari-tarian, musik dan fashion show. Penampilan pertama dibawakan oleh Band Grupello yang beranggotakan para pelajar Indonesia di Ruhr area. Band yang didirikan pada tahun 2013 ini menampilkan lagu-lagu pop Indonesia dan barat, termasuk satu lagu penutup berirama dangdut di akhir acara. Tampil pula Angklung Ruhr yang seluruh anggotanya perempuan. Group yang didirikan pada tahun 2013 ini menampilkan lagu-lagu barat dan lagu nasional diiringi lantunan keyboard. Penampilan musik khas Indonesia ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung internasional, karena kekhasan irama tradisional yang harmonis dipadupadankan dengan instrumen musik modern menghasilkan sebuah pertunjukan seni yang sangat menarik.

Seorang pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Bonn, Albiruni, dengan sangat piawai menampilkan tari topeng dengan gerakan-gerakan luwes bak wayang yang menjelma menjadi manusia diiringi musik tradisional Gamelan. Setelahnya berturut-turut tampil pula tarian Bubuka-Jaipong dari Jawa Barat, serta tarian Saman dari Aceh oleh TanzRuhr yang telah berpengalaman tampil di berbagai event internasional di Jerman dalam 2 tahun terakhir ini, termasuk sebagai peserta Das Supertalent, acara pencarian bakat yang disiarkan oleh  salah satu stasiun televisi Jerman.

Dalam kesempatan ini ditampilkan pula presentasi menarik mengenai keragaman Indonesia, bertajuk “Erleben-Facettenreiches Indonesien“. Dalam presentasi ini diilustrasikan bagaimana keragaman ras, agama, alam dan budaya membentuk Negara Indonesia yang bersatu dalam harmoni. Kemudian para pengunjung dimanjakan pula oleh film dokumenter pendek karya sineas muda pendatang baru Indonesia, Febian Saktinegara berjudul “Epic Java”. Film berdurasi 30 menit ini mengajak penonton menjelajahi keindahan alam dan budaya Pulau Jawa dari timur ke barat, yang dikemas dalam tampilan visual yang istimewa. Dua orang pengunjung asal Libya dan Jerman mengaku kagum akan keragaman Indonesia dan berkeinginan untuk mengunjungi Indonesia suatu hari nanti.

Di area tutorial batik dan permainan tradisional, para pengunjung internasional sangat antusias mengikuti tutorial membatik yang dipandu oleh panitia. Mereka berkesempatan mempraktikkan langsung proses penggambaran pola-pola batik pada dasar kain dengan canting dan malam. Tak hanya itu, para pengunjung dapat pula mencoba permainan tradisional congklak serta angklung yang disediakan panitia. Di sudut lain, dua stand unik yang menjual berbagai produk batik dan pernak-pernik khas Indonesia tak kalah ramai dikerubungi pengunjung. 

Event yang berlangsung pada akhir pekan yang cerah itu sampai pada acara terakhir, yaitu fashion show yang menampilkan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Pembawa acara, Daniel Hutagalung dan Devis Angela akhirnya menutup rangkaian acara dengan mengajak seluruh peserta dan pengunjung yang hadir untuk menarikan tarian Poco-poco, tarian dari Papua yang diiringi musik berirama gembira. Kesuksesan acara ini tak lepas dari kerja keras panitia yang diketuai oleh Alexander Siahaan serta seluruh pendukung acara dan elemen masyarakat Indonesia di Ruhr area. Semoga event-event serupa di tahun-tahun mendatang semakin memperkenalkan Indonesia ke dunia internasional dan tak kalah penting semakin pula memupuk kecintaan masyarakat Indonesia di tanah rantau akan tanah air mereka.

 Bochum, 26 Mei 2014

Monday, May 12, 2014

3 Benua yang Bersaudara

Sebuah pertemuan kadang terjadi begitu saja, tanpa rencana. Ada orang-orang yang seperti tiba-tiba saja hadir dalam kehidupan kita, lalu menjadi layaknya saudara. Di negeri ini, aku bertemu berupa-rupa manusia, mewakili kebudayaan-kebudayaan dunia yang dulu hanya bisa kukhayalkan saja dari buku-buku yang pernah kubaca.

Pada suatu pagi nan sejuk, permulaan musim semi 2 tahun yang lalu, aku berangkat ke kampus seperti biasa, tak ada sesuatu yang istimewa. U-Bahn yang kutumpangi penuh sesak oleh penumpang yang rata-rata mahasiswa. Aku berangkat dari Markstraße, halte terdekat dari asrama. U-Bahn U35 jurusan Hustadt ini kemudian akan berhenti di halte Ruhr Universität, lalu tumpah ruah mahasiswa akan turun di halte utama ini. Gedung tempat aku beraktivitas sehari-hari terletak paling timur, maka biasanya aku memilih turun di halte berikutnya, Lennershof. Sejak tadi aku melihat dari kejauhan seorang perempuan berhijab berwajah Eropa, dia tersenyum ramah ke arahku sambil mengucapkan salam. Salamnya itu tak terdengar, aku hanya bisa membaca dari gerak bibirnya. Kami turun di halte yang sama, aku mempercepat langkahku karena dia memberi isyarat seperti menungguku dengan memperlambat langkahnya. Sekali lagi dia memberi salam, menjabat tangan dan menempelkan pipi kiri dan kanannya padaku, seperti kebiasaan muslimah di tanah air. Sambil tersenyum dia memperkenalkan diri padaku: "Ich bin Ayse. Wie heißt du?" Lalu aku pun memperkenalkan diri dalam Bahasa Jerman yang masih terbata-bata. Pertemuan singkat itu lalu mengawali persahabatanku dengan Ayse, perempuan Turki pertama yang kukenal di negeri ini.

Beberapa hari kemudian, Ayse menghubungiku lewat email, kami akhirnya berjanji untuk bertemu sambil makan siang bersama di kantin Fakultas kami, ID Cafetaria. Perempuan muda ini berbicara dalam Bahasa Jerman hampir-hampir seperti penutur aslinya. Dia bekerja sebagai staf peneliti di bidang Information Security di Fakultas kami. Ayse menyelesaikan pendidikan Dipl.-Ing. (setara Master) beberapa tahun yang lalu, dia adalah salah satu generasi terakhir yang mengenyam degree khas Jerman ini, sebuah gelar yang bisa dibilang prestisius, apalagi berhasil diraih tepat waktu oleh orang asing. Dengan latar belakang luar biasa seperti ini, Ayse berpenampilan sederhana, tutur katanya lembut dan tak sedikit pun menunjukkan kesombongan. Ayse hanya sedikit berbicara dalam Bahasa Inggris, jadilah percakapan kami terdengar lucu, tapi halangan ini tak sedikit pun mengurangi hangatnya persahabatan kami.

Bulan demi bulan berlalu, kami hampir selalu menyempatkan untuk makan siang bersama, setidaknya satu atau dua kali dalam sebulan. Pada suatu siang di musim panas, Ayse memperkenalkan sahabat baru padaku, Abeer namanya, seorang muslimah asal Sudan yang sedang menempuh pendidikan doktoral di research group yang sama dengan Ayse. Abeer merantau ke Jerman bersama suami dan dua anaknya yang masih balita. Suaminya baru saja menyelesaikan pendidikan doktoral di bidang yang sama, lalu sekarang bekerja di salah satu perusahaan di Ruhr area. Abeer pun tak kalah ramah dibanding Ayse, dia berbicara dalam 3 bahasa: Inggris, Jerman dan Arab. Aku belajar banyak dari Ibu muda ini, dia harus melakoni 3 perannya sekaligus: sebagai Doktorandin, ibu dan istri. Sejak pagi dia sudah harus mengantarkan anak-anaknya ke pusat penitipan anak yang tak jauh dari kampus kami, lalu bergegas melanjutkan aktivitasnya sebagai mahasiswa doktoral. Peran yang aku tahu tak mudah untuk dijalani, apalagi di tanah rantau ketika jauh dari keluarga besar. Maka aku sering merasa malu pada diriku sendiri ketika ada saat-saatnya aku mendapati diriku kehilangan semangat, padahal aku hanya melakoni salah satu peran yang dijalani Abeer. Aku seharusnya banyak-banyak bersyukur dengan belajar lebih giat lagi.

Lalu pada suatu sore di awal musim dingin 2012, Ayse mengundang kami ke rumahnya. Aku dan Abeer datang menjelang waktu Ashar. Ayse telah mempersiapkan berupa-rupa makanan khas Turki yang dimasaknya sendiri. Sambil menunggu menu terakhir siap, Ayse bercerita tentang makanan-makanan yang telah tersedia di atas meja. Ada roti bulat bertekstur lembut, sayuran fermentasi yang ditumis dengan bumbu-bumbu khas Turki, daging cincang yang diolah menjadi semacam perkedel, lalu tersedia pula semacam lumpia berisi keju, kata Ayse namanya kalem böreği. Roti tadi dimakan dengan 2 macam selai asin yang aku tak bisa menceritakan bagaimana rasanya, yang pasti cita rasa seperti itu baru pertama kali kurasakan seumur hidupku. Sumber karbohidrat pokok pada jamuan sore itu selain roti adalah kentang oven yang dibumbui ringan oleh Ayse, garam dan merica. Tak seperti masakan Eropa yang tak pernah cocok di lidahku bahkan hingga hari ini, makanan-makanan Turki yang disediakan Ayse terbilang cocok di lidahku. Lalu pertemuan kami sore itu ditutup dengan segelas teh hangat Turki yang disediakan Ayse dalam gelas cantik dari kampung halamannya, Istanbul.

Selain Ayse dan Abeer, aku dipertemukan pula dengan seorang saudara muslimah dari Libya, Areeg namanya. Perempuan muda ini baru saja menyelesaikan pendidikan masternya di bidang Computational Engineering. Aku mengenal Areeg di kelas Bahasa Jerman tingkat 2 yang kumulai pada pertengahan musim panas tahun 2012. Sesekali, Areeg juga ikut makan siang bersama kami (Aku, Ayse dan Abeer). Aku senang mendengarkan Abeer dan Areeg sesekali berbincang dalam bahasa ibu mereka, lalu aku dan Ayse hanya tersenyum-senyum saja. Nama mereka (Abeer dan Areeg) memiliki makna yang hampir sama dalam Bahasa Arab, artinya harum atau aroma yang wangi. Areeg ketika itu baru saja akan memulai pendidikan doktoralnya, namun dia sedikit terkendala dengan keberlangsungan beasiswanya. Kalian tentu masih ingat, Kawan, bagaimana tragedi yang terjadi di negeri asal Muammar Gaddafi itu, dalam kurun waktu antara 2011 hingga 2012 yang lalu. Sejak menempuh pendidikan masternya, Areeg memperoleh beasiswa dari negaranya, tragedi itu sedikit banyak telah mempengaruhi keberlangsungan beasiswanya. Maka sejak awal tahun 2013, Areeg harus pulang kembali ke Libya, pendidikan doktoralnya terhenti di tengah jalan. Pada pertemuan terakhirku dengannya, dia bercerita padaku bahwa dia masih berharap bisa kembali melanjutkan pendidikannya di Jerman.

Lalu hadir pula sosok perempuan luar biasa di tengah-tengah persahabatan kami, perempuan paling muda yang mula-mula bersahabat dengan Areeg. Dialah Saskia, perempuan Jerman yang dikenalkan Areeg padaku pada suatu sore berinai hujan. Saskia sedang menempuh pendidikan di bidang Orientalisme, dia seorang vegetarian sejak masih duduk di bangku sekolah menengah. Perempuan muda ini fasih berbicara dalam berbagai bahasa: Jerman, Inggris, Perancis, Arab, Turki dan Persia, lalu ketika itu dia sedang belajar bahasa Urdu. Bidang lingustik menyebut orang yang berkemampuan seperti Saskia ini dalam istilah polyglot. Dari cerita Areeg padaku, kuketahui bahwa sudah sejak lama Saskia mempelajari Al Qur'an dan mulai tertarik dengan Islam. Keluarga besarnya tinggal di Frankfurt, ibunya berkarir dan menetap di Ankara, Turki sejak beberapa tahun yang lalu. Jika kami makan siang bersama, Saskia akan berbincang dalam Bahasa Inggris dan Jerman padaku, lalu dalam Bahasa Turki pada Ayse, dan dalam Bahasa Arab pada Abeer dan Areeg, sungguh luar biasa. Pernah juga suatu hari aku bertemu dengannya di kereta, ketika itu aku sedang bepergian bersama kawanku, orang Indonesia yang sedang menempuh studi di Perancis, Saskia pun spontan mengajaknya berbincang dalam Bahasa Perancis. Saskia ini seorang pribadi yang menarik, dari perbincangannya pada kami, aku bisa menangkap bahwa dia seorang pembelajar yang ulung, pemikiran-pemikirannya jauh melampaui perempuan seusianya. Dia polyglot pertama yang kukenal seumur hidupku.

Setahun berlalu, Areeg kembali ke Bochum dan berhasil melanjutkan pendidikan doktoralnya yang sempat terhenti tahun lalu. Abeer masih sama sepertiku, masih berjuang menyelesaikan penelitian doktoral kami, menjalani hari-hari berkutat dengan buku-buku, dan eksperimen yang belum berhenti. Ayse memutuskan untuk menyudahi karirnya di research group yang dulu, lalu sekarang dia melamar pekerjaan ke sana ke mari, baik di Jerman maupun di tanah airnya. Saskia baru saja menyelesaikan internship-nya pada musim panas yang lalu di kantor DW (Deutsche Welle) yang bermarkas di Bonn. Sudah hampir setahun kami belum pernah berkumpul lagi. Aku merindukan cerita-cerita Abeer tentang anak-anaknya, lalu panggilan Ayse padaku "Meine liebe Schwester", cerita-cerita Areeg tentang tanah airnya dan perjuangan ayahnya bersama kawan-kawannya dulu di Libya, serta pemikiran-pemikiran gemilang Saskia. Kami dilahirkan di negeri yang berbeda-beda, terpisah dalam 3 benua; Asia, Afrika dan Eropa, lalu kota kecil nan bersahaja ini telah menyatukan kami, berjuang bersama mewujudkan cita-cita.

Bochum, 12 Mei 2014