Friday, November 13, 2020

Life is a Grand Affair

The year of 2020 has given me many experiences. No matter what, all of them have been crafted deeply in my heart, Alhamdulillah. This year marks the end and the beginning of many things in my life. As long as the soul is still in the body, during that time all endings and beginnings will alternate in recorded rotation.

"I am marching into my own pace in my own path and will always be."

Normal standards that apply to the average person do not always have to be a reference. After all, I have been through my life for more than 3 decades without much heeding to these standards, and it's okay. For me, life is more exciting to be lived like this, run through the adventures in my own definition, not from the definitions set by others. If other people want to join me, that's great, otherwise that's great too. Because at the end of the day, we are all alone and will be responsible for our deeds only, not others'. 

Someone once asked me: "Have you ever want to have a permanent job, a permanent house, or a family of your own?" 

I don't know how to answer these questions properly. All I know, I never intend to dedicate my life just to pursue those "permanent-permanent club". I try to pursue something more essential than that: "How do I hold the responsibility for my life later after the death?" Again, if those "permanent-permanent club" ever pass by my life, it's great, otherwise it's great too. Because, this worldly life is basically not permanent either. Yes, "back to the basic" often works to answer those questions.

I have challenged myself in what I consider big: breaking boundaries. The first: breaking the limit of my intellectuality by challenging myself to complete my Ph.D journey. The second: breaking the limit of my independence by challenging myself to travel alone to foreign places. The first and the second one turn out to be addicting, it's not easy to brake them either. And the third one: breaking through the limit of my courage by challenging myself to be true to my own feelings. The third one sounds cliché, but it was one of the boldest moves in my life and I never regret it. So far, I've only ever loved 2 men besides my father and my brother. (Thank you for passing by my life, by the way). And I told them, if time has the limit and it is the death and/or the Judgment Day, I love them until the end of time, truly. Because after that, I can't help anyone and can't be helped by anyone other than Allah. 

After completing those three challenges during this year, it's already more than enough for myself, and I shall continue on the next journeys to be more useful to others, hopefully inshaa Allah.

People around me often consider me as a "free spirit". And I am always looking forward to meet many more "kindred spirits" during my lifetime. Even though, I don't care much about those terminologies. 

Someone else also once asked me: "Have you ever felt lonely being yourself that's often considered unconventional by others?"

Maybe yes sometimes, but most of the time, no. I feel completely complete. I am not saying that I am always happy. Happiness is just a bonus and I believe it's the state of mind, not the state of others' presences. I don't pursue it because this world is not the place of the true happines. This world is not the resting place, it's the testing place. My life has been also in many ups and downs, but I never have a reason to not love it. Yes, I love my life unconditionally until the day I meet My Rabb inshaa Allah. Hopefully, you too.

PS. I am in the process of writing my third book, I don't know when it will be finished, but I am excited to introduce it to the world someday inshaa Allah. Again, first thing first, need to arrange the priorities.

Bandung, 13 November 2020.

Photo courtesy: Michael Binuko. He once told me, "It's you, an anomaly".

Wednesday, May 11, 2016

Jemari Waktu

Di sela jemari itu,
menetes satu per satu,
ingatan yang terbelit jaring-jaring waktu

Ke mana suara itu?
Bersahut-sahutan ia menggema,
dipantul-pantulkan dinding,
yang mengepung darah,
meletup-letup dalam dadaku

Sesak, nafasku tersengal,
keringat berjatuhan dari langit
bulir-bulir bening di sela jemari itu
tak usah kau seka

Awan-awan rendah,
bernaung di bawah kabut,
bergumul dengan asap
yang kuciptakan sendiri,
dari api dan kerasak kering
dari pohon-pohon ingatan

Ke mana cahaya itu?
Tanganku menggapai-gapai
sayup-sayup sampai

Dingin memelukku,
angin membayang-bayangiku,
di sela jemari itu,
meniupkan napasnya yang wangi

Tidurlah, sayang
pagi akan membasuhmu.

Bandung, 11 Mei 2016




Teduh

Mengalirlah menuju samudera
hingga tak ada lagi kesedihan yang tersisa
Wahai butir-butir air yang membawa serta
segala kesementaraan

Kutitipkan pula,
satu dua perkara,
yang selalu kuhadirkan dalam doa-doa
Bawalah serta

Tunggu aku di sana,
di ujung bukit sebelah tenggara
saat angin bergeming menuju senja,
senja terakhir yang menjinggakan semesta

Ketika itu,
semua pulang,
satu per satu, menuju Sang Maha

Bandung, 29 April 2016

Jentera Langit

Pagi itu,
setelah didera ribuan rindu,
dua jentera langit saling bercumbu

Tak ada yang lebih indah dari perjumpaan mereka
pada sehelai pagi yang biru itu
Meski tak lama,
namun seisi angkasa seketika menjadi cemburu,
begitu pun aku

Lihatlah gumpal-gumpal awan itu,
berarak mereka menyelimuti langit timur yang sendu.

Tanjong Tinggi, Belitong, 9 Maret 2016

Tanjong Pendam [2]

Langitmu adalah hamparan kanvas
Lautmu adalah benatangan kertas
Bias cahaya senjamu adalah goresan kuas

Tanjong Pendam tak pernah mencintai yang lain,
hanya Engkau saja wahai Kalimoa
Tanjong Pendam tak pernah merindukan yang lain,
hanya Engkau saja wahai Air Saga

Tanjong Pendam adalah sebentuk permata yang merona setiap senja
Tanjong Pendam adalah sebentuk cinta yang teramat setia

Tanjong Pendam, Tanjung Pandan, Belitong, 7 Maret 2016

Suara

Aku mendengar gemericik sungai dipeluk sepi.
Aku mendengar amukan ombak
yang menelan parau suara.
Aku mendengar gemerosok kerasak
yang diterbangkan angin.
Aku mendengar halilintar yang merambat
bersama cahaya.
Aku mendengar lirih tangis anak pesisir
Aku mendengar keroncong perut-perut lapar.
Aku mendengar tawa-tawa terbahak
dari sekawanan bajing.

Aroma busuk menyerbak.
Mataku berair,
menahan bau serakah,
menahan kesedihan yang berkarat,
dalam aliran anak-anak sungai.

Bandung 17 Februari 2016

Puisi untuk Ibu

Helai-helai benang yang ia renda menjadi doa.
Derap-derap langkah yang ia hentakkan melawan masa.
Jaring-jaring rencana
yang berkelindan dalam kepalanya.

Letih dan bahagia yang mengambang di sela renyah tawanya.
Bias-bias harap yang berjentera
dalam bola matanya.
Butir-butir peluh yang ia seka dari keningnya.

Dingin malam, setangkup tangan.
Dibelai hembusan angin senja,
di wajahnya, aku melihat bayang-bayang surga.

Bandung, 18 Februari 2016

Berlembar-lembar Perca(ya)

Karena pagi masih teramat malu
untuk bercermin pada gumpal awan
yang melintas-lintas di sela bukit.

Anjing kampung berbulu coklat,
kemilau emas disiram cahaya fajar,
dari retak-retak cermin tak berbingkai

Rerumputan tak beranjak dari mesranya
bersama embun sejak semalam,
padahal hujan sudah lama pulang dijemput angin.

Tahun menuju penghujung doa
yang masih berhias rangkai-rangkai semoga.
Engkau hanya perlu menyimpan
berlembar-lembar perca(ya).

Bandung, 16 Februari 2016

Hitam-Hitam Cahaya

Berlari-lari ke dalam gelap.
Melompat-lompat di dalam gelap.
Hentak-hentak berdebu.
Aku diam.

Di dalam gelap,
lubang cahaya seperti jarum tajam,
menusuk, menghujam, menyilaukan.
Lambai-lambai memotong pedang cahaya itu,
sementara saja,
sampai malam datang.

Aku di dalam gelap,
memilih, bukan tersesat.
Pekat, lamat, berat,
suara dari lubang cahaya,
bercampur pendar cahaya,
bercampur debu-debu yang menari,
bercampur secangkir waktu,
tanpa gula.

Bandung, 16 Februari 2016

Cerita Kupu-Kupu

Sayap kupu-kupu tak pernah salah arah.
Dia terbang rendah di sela-sela kelopak bunga,
bercengkerama menghisap sarinya.

Lalu, disiram rinai hujan,
putik pun menyembul berenda-renda.
Sesekali kilau embun
menempel pada pipinya.

Aku hanya mengingat yang manis-manis saja tentang mereka:
cerita sekawanan kupu-kupu,
kelopak bunga,
embun,
dan matahari senja.

Gantong, Belitong, 6 Februari 2016

Bersama Engkau

Kepak-kepak sayap mengangkasa,
menerbangkan helai-helai mimpi.
Butir-butir hujan membumi,
membasahi jengkal-jengkal tanah.
Anak-anak panah menghujam,
menusuk bingkai-bingkai waktu.

Engkau tak sabar,
ingin membelah udara,
menjadi bilah-bilah sukma.
Padahal, dia
hanya ingin mengarung masa,
perlahan mengeja,
bersama engkau,
berdua saja.

Mengapa mereka tak juga membaca tanda-tanda?


Bandung, 28 Januari 2016

Silhouette

Kini pendar cahaya itu perlahan meredup,
menyisakan kerlip-kerlip di kejauhan.

Bayang-bayang berkelebat,
berebut ke arah timur,
terbang rendah.

Silhouette membeku satu per satu,
ditangkap mata yang letih,
menahan silau.

Langit dihamburi remah-remah kaca berkilauan,
anak-anak bintang.

Purnama murung saja,
dicumbu awan kelabu,
menunggu hujan membasuhnya.

Atau tiba-tiba saja pagi merenggutnya?
Jangan!

Bandung, 26 Januari 2016

Sisa Purnama

Pokok pepaya yang sebatang kara.
Anjing kecoklatan yang bahagia.
Rumah-rumah Wae Rebo yang bersahaja.
Punggung perbukitan yang hijau senantiasa.
Masih ingatkan Engkau sisa purnama
yang malu-malu dicumbu cakrawala?
Pada pagi yang wangi di jantung Nusa Tenggara. 

Ruteng, Flores, 28 Desember 2015

Lembah Wae Rebo

Kawan,
pada pagi yang biru itu,
halimun menguap perlahan
dari lembah-lembah Wae Rebo.

Sayup-sayup kudengar
cericit burung pada dahan kayu di tepi jurang.
Jalan setapak yang kulewati masih basah,
sisa hujan semalam,
yang masih malu-malu menyapa Manggarai.

Namamu kutulis di atas selembar daun,
di antara pokok-pokok berdaun merah
yang aku tak tahu namanya.
Biar angin yang menjaganya. 

Wae Rebo, Flores, 28 Desember 2015

Aku Pulang ke Matamu

Kupu-kupu melayang-layang,
seperti kertas kuning,
sisa layangan yang terbang gagah
di langit sebelah timur.

Hujan telah menyapu sebagian pulau.
Rumput keemasan perlahan menghijau.
Ombak berbuih-buih dihempaskan angin
pada karang-karang yang tumpah dari langit.

Bukit-bukit terjal, samar-samar,
kokoh tertancap di Laut Flores.
Elang terbang labuh,
perahu-perahu masih tertambat,
diombang-ambingkan riak pagi yang sepi.

Di kedalaman Laut Flores,
aku melihat mata yang merona-rona,
mata-mata dari surga.
Di kedalaman hatimu,
aku melihat jernih air mata yang biru,
berhulu di kaki bukit kelabu,
menghilir ke tepian sudut matamu.

Labuan Bajo, Flores, 24 Desember 2015

Wednesday, February 24, 2016

Pendar Cahaya Bulan Memelukku

Ingatanku tiba pada suatu malam yang sangat biasa, aku, ayahku, ibuku, dan abangku, saudara kandungku satu-satunya. Rembulan mengawang rendah, awan tipis seperti berasap-asap melingkupi bola matanya yang sendu. Cahaya pucatnya berpendar dipantulkan pucuk-pucuk pohon kelapa yang melambai-lambai, entah kepada siapa. Aku dipakaikan ibu jaket wol hijau tua, sedikit berbunga, tapi tak berenda. Abang dipakaikan ayah jaket bercorak hitam, coklat muda, dan biru tua, dari bahan wol juga.

Sisa hujan sore tadi masih menggenang di tepian jalan aspal berbatu. Suara jangkrik menguasai sudut-sudut temaram di tepi padang ilalang, menebas sepi-sepi. Sepeda motor ayah, Yamaha PX-80, warna merah, masih kerap lalu lalang dalam mimpiku. Malam tadi, ia menghampiriku.


Seperti yang dikisahkan kunang-kunang kepadaku. Malam itu, kami pulang dari rumah kakek, ayah membonceng abang di bagian depan, ibu duduk di bagian belakang, aku digendong ibu sehingga pandanganku menghadap ke belakang. Pada malam yang dingin itu, hanya aku saja yang menatap teduh wajah rembulan, sesekali ia merayuku, tak ada orang lain tahu. Aku bertanya pada ibu: “Wahai ibu, mengapakah gerangan rembulan mengikutiku dan masih tak hendak pulang? Bukankah malam semakin merambat? Tak takutkah ia dipeluk gelap?” Semakin erat ibu mendekapku. “Tidurlah Nak, sebentar lagi kita sampai”.

Payung langit dipenuhi anak-anak bintang yang berkerlap-kerlip memperhatikan kami. Seperti untaian cinta ayah yang mencium lembut rambut abang, seperti helaian cinta ibu yang menidurkanku dalam pelukannya, malam yang sangat biasa itu sesungguhnya teramat istimewa.

Bandung, 24 Februari 2016

Wednesday, December 16, 2015

Yogyakarta

Butiran pasir basah telah mengering
sisa hujan semalam
Aroma Sekaten menyergap
menyela lalu lalang yang melintas-lintas
memenuhi udara lembab bulan Desember

Engkau tak pernah menua 
hanya memupuk bijak bestari
Engkau tak penah berubah
hanya menyeka keringat tengah hari

Derap-derap sepatu kanvas
Gores-gores cat di ujung kuas
Denting-denting dawai gitar
Bait-bait ceritera, pula puisi
Patung-patung di tepi jalan
Ukiran kayu di sudut genteng
Bangsal-bangsal Joglo nan bersahaja

Jogja,
aku mencintaimu seperti hangat musim semi
aku mengenangmu seperti angin selatan nan mendayu-dayu
Tetaplah seperti itu,
seperti pertama kali aku mengenalmu, dahulu

Stasiun Tugu Yogyakarta, 13 Desember 2015


Thursday, November 26, 2015

Menjumpai yang Tak Tergantikan

Sahabat, meminjam kata-kata dari seniman Ugo Untoro, yang pernah dituliskan oleh salah seorang sahabat saya, Tiaswening Maharsi, dalam bukunya "Dunia Simon":

"Tidak hanya berbunga-bunga, hatiku berbuah-buah."

Begitu pun yang saya rasakan ketika buku pertama saya "Harum Hujan Bulan November" ini diterbitkan. Buku ini adalah hadiah kecil saya untuk tiga orang yang paling saya cintai: Mamak, Mamo, dan Abang. Sahabat-sahabat pun dapat membaca kisah mereka yang saya tuliskan dalam buku ini.

Berikut, beberapa bait resensi yang dituliskan sahabat saya yang lain, FX. Widyatmoko (Koskow):

Kumpulan kisah yang disusun secara alur waktu ini - yaitu sejak 3 November 2011 hingga 26 Juni 2014 - berkisah tentang sesuatu yang tak tergantikan. Yang tak tergantikan ini tak lain kisah-kisah yang dialami Hesty: tentang kedua orangtuanya, kakaknya, ibu petugas di kantor pos, guru, teman-teman sekolah, kuliah, dan mereka yang dijumpainya tanpa direncana. Beberapa kisah yang ditulis juga dialamatkan kepada alam, pula syukur kepada Tuhan. Kisah-kisah tersebut ditulis Hesty dari berbagai tempat: Bandung, Zug, Zürich, Nijmegen, Groningen, Utrecht, dan yang paling sering Bochum, Jerman, tempat Hesty melanjutkan studi. Kisah-kisah juga berasal dari orangtuanya, yang mana kisah tersebut membuat Hesty pergi menjumpai yang dikisahkan tersebut (tentang saudara jauh).

Tulisan-tulisan Hesty, meski terkesan sebagai sebuah catatan perjalanan, namun lebih dekat kepada surat. Jika catatan perjalanan lebih mendekati pada laporan, sebaliknya tulisan Hesty dalam buku berjudul "Harum Hujan Bulan November" ini lebih memilih untuk tak sebatas pelaporan, namun memberi alasan untuk apa ia dilaporkan. Di antara kisah-kisah tersebut hadir beberapa puisi, hadir pula foto. Setidaknya terdapat perbedaan antara kisah-kisah yang dituliskan (dalam bentuk esai), puisi, dan foto dalam buku tersebut.

Pada kisah-kisah yang dituliskan dalam bentuk esai, Hesty kerap bertutur tentang orang-orang yang dijumpainya. Pada puisi dan foto, tersampaikan yang sebaliknya, Hesty mengajukan pertanyaan-pertanyaan, terkesan lebih tentang dirinya, mungkin tentang sendirinya (pula foto seekor bebek yang di bagian bawah foto tersebut disertakan pertanyaan "kayuhmu hendak ke mana?"). Mungkin ada alasan tertentu mengapa hal tersebut terkesan demikian. Namun, yang lebih utama yaitu pada kejujuran serta keterbukaan dalam menuliskan kisah-kisah dan bagaimana memberi bingkai untuknya.

Kisah-kisah Hesty pun dapat dipahami sebagai satu kesadaran mengenal yang lain, yang berbeda. Pada kesadaran inilah kisah-kisah yang dituliskan Hesty dapat dipandang menjadi perjuangan kita bersama yaitu saling menghargai sesama, alam, masa lalu, benda-benda, serta harapan hidup ke depan, terutama di zaman yang kian bergegas dan menyisa sepotong-potong cerita yang berlalu lalang, yang membuat kita gagal utuh menangkapnya karena diri kita (di)sibuk(kan) oleh aktivitas mengganti-ganti citra.

Orang-orang dalam kisah-kisah yang dituliskan Hesty pun menjadi seseorang. Bingkai seseorang dan yang tak tergantikan inilah yang bagi saya terasa mengesankan. Dituliskan oleh Hesty, bahwa: "...Kata orang, bepergianlah, maka engkau akan mengenal sahabat seperjalananmu, karena banyak hal yang akan teruji di sana..." (Bochum-Nijmegen dan Mimpi-Mimpi Masa Silam). Kisah-kisah yang dituliskan Hesty, baik melalui bentuk esai, puisi, dan foto, tak lain adalah usaha mengingat dan memberi harapan pada orang-orang, pada waktu, pada ruang, yang dari situ menempatkan kita pun menjadi seseorang bagi yang lain, bagi yang tidak tergantikan itu.

Teruntuk para sahabat yang telah membantu saya hingga buku ini lahir, saya haturkan terima kasih sebesar-besarnya dari hati yang paling dalam. Semoga karya kecil ini menemui perannya, memberikan sepercik manfaat bagi orang-orang di sekelilingnya.

Bandung, 8 Oktober 2015



Thursday, October 22, 2015

Sehelai Daun Jati

Pada sehelai daun jati
Tersangkut debu yang digerus sepi
Bersama sehelai daun jati
Luruh perlahan jingga mentari

Pada sehelai daun jati
kukirimkan rindu pada maple
yang gugur dicumbu angin
Bersama sehelai daun jati
Cikapundung mengalir deras
menyapu lembah-lembah Ruhr

Di tepi tanah lapang
sehelai daun jati mencuri dengar
parau suara meneriakkan janji
"Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater"
Toga-toga wangi, basah tersiram euforia
pada sore nan gemuruh

Patung Ganesha masih tertegun
ditemani juntai-juntai bunga September,
helai-helai daun jati,
dan kemarau yang enggan pergi.

Ganesha 10, 17 Oktober 2015










Tuesday, September 29, 2015

Bochum, Sungguh Aku Mencintaimu

Aku masih ingat, sore itu, langit kelabumu menyambutku malu-malu. Aku meringis menahan desir dingin angin musim gugur yang menerbangkan helai-helai daun maple merah jingga. Berminggu-minggu mendung seperti terperangkap tak hendak beranjak. Hanya sesekali kulihat matahari mengintip di celah-celah ranting pepohonan yang mulai meranggas.

Lalu sampailah pada suatu masa, ketika remah-remah salju berderai-derai diterbangkan angin. Alam pun diam berselimut beku, dan hatiku tiba-tiba didera rindu, rindu pada hangat matahari yang membelai lembut kulitku.

Engkau tak membiarkan rinduku menjadi biru. Perlahan-lahan matahari musim semi menyelinap di sela-sela pucuk daun hijau muda. Lalu, engkau hadiahkan padaku helai-helai kelopak magnolia merah muda, juga kuntum-kuntum bunga raps kuning merona.
  

Hujanmu tak pernah lama, aku pun jarang mendengar gemuruh petir menyambar-nyambar. Namun pernah kulihat anginmu memberontak menjelma badai, menumbangkan pepohonan yang melintang di jalan-jalan dan rel kereta.

Lalu, datanglah hari-hari nan panjang. Sampai bosan aku menanti senja yang seperti tak kunjung tiba, panas dan gerah terperangkap lamat-lamat di celah-celah jendela. Sesekali kulihat sekawanan kuda dan domba-domba merumput di padang-padang hijau tepi telaga. Ladang-ladang terhampar sejauh mata memandang hingga ke ujung cakrawala.

Kemudian pelan-pelan, matahari seperti terenggut dari haluannya. Dedaunan hijau tua perlahan-lahan menguning, menjingga, lalu tangkai jemarinya mencoba berpegang erat pada ujung-ujung rantingnya, namun tak lagi kuasa. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, musim pun datang dan pergi, silih berganti.

Bochum, engkau telah memenuhi hatiku hingga meluap-luap, mengajarkanku kebijaksanaan dalam setiap helai pergantian musimmu. Pada detik ini aku sadar, bahwa aku telah jatuh cinta, pada setiap jengkal tanahmu, pada setiap desir anginmu, pada setiap tetes hujan dan derai saljumu, pada setiap lirih bahasa cintamu.

Bochum, terima kasih telah mengizinkanku menghirup desir nafasmu. Terima kasih untuk semua cinta dan kenangan indah yang akan terukir selamanya dalam sanubariku, hingga akhir hayatku. Suatu hari nanti jika kau izinkan lagi kita bertemu, tentu 'kan kubawakan engkau segenggam rindu.

Bochum, 7 November 2011 - 1 Agustus 2015