Saturday, November 03, 2012

Mamak, Ibu Juara Satu Seluruh Dunia

Mamak, itu mungkin kata pertama yang bisa kuucapkan. Huruf ‘k’-nya itu tidak penuh, tidak seperti huruf ‘k’ dalam kata ‘banyak’ misalnya. Mamak adalah panggilanku untuk Ibuku, orang yang paling aku cintai. Dulu waktu aku masih kecil, kalau aku minta sesuatu pasti yang kupanggil Mamak, kalau aku sakit aku akan mengadu pada Mamak, kalau aku menangis yang kucari juga Mamak.

Mamakku adalah anak tertua dalam keluarganya. Jadi, dari kecil dia sangat mandiri. Mamak jarang bercerita tentang masa kecilnya, tapi adik-adiknya lah yang bercerita pada kami. Dari cerita-cerita paman-paman dan bibi-bibiku, aku bisa menangkap bahwa adik-adiknya begitu sayang dan bangga pada Beliau. Pernah sekali, Mamak bercerita padaku, “Mamak sangat sayang pada adik-adik Mamak, walau bagaimana pun keadaan mereka”. Mamak ingin agar aku pun menyayangi Abangku, sama seperti Beliau menyayangi adik-adiknya. 

Mamak adalah seorang pekerja keras. Selain bekerja sebagai pegawai negeri, dulu waktu aku masih kecil, sepulang kerja Mamak masih menyempatkan diri untuk berdagang, mulai dari usaha berjualan makanan, toko sembako, membuat kerajinan renda, dan macam-macam usaha lainnya. Kata Mamak, jadi pegawai negeri itu cuma makan gaji yang tidak seberapa, kalau mau lebih ya harus usaha sendiri, jangan korupsi, bahkan menjual harga diri dengan mengemis. Dulu, Mamak dinas di Departemen Perdagangan, lahan ‘basah’ sebenarnya, kalau tak punya malu, banyak yang merendahkan diri dengan mengemis kepada pengusaha atau korupsi dan kolusi disana sini, “Tak tahu malu!”, kata Mamak. Aku simpan baik-baik pesan moral tersebut hingga kini.

Mamak adalah tipe orang yang mengajarkan segala sesuatu dengan contoh tindakan nyata. Kata Mamak kalau hanya dengan mulut, pelajaran hanya sampai di telinga, tak akan meresap dalam alam bawah sadar kita. Kalau mau mempunyai anak yang rajin sedekah, orangtua juga harus rajin sedekah. Hubungan silaturahim dengan saudara dan handai taulan pun begitu juga. Sejak kecil aku memang sering diajak Mamak berkunjung ke rumah kaum kerabat kami, agar tak putus tali silaturahim walau sampai masa yang akan datang. Kalau memberi sesuatu kepada orang lain, jangan pernah diungkit-ungkit, dan berilah selalu bagian terbaik yang kita punya, biar Allah saja yang akan membalasnya.

Mamak bukan tipe orang yang ekspresif untuk mengungkapkan cintanya kepada kami, anak-anaknya. Dulu, waktu aku belum mengerti, aku sering heran, mengapa Ibu dari teman-temanku sering menciumi anak-anaknya, karena seingatku aku tak pernah diperlakukan begitu oleh Beliau. Kalau Mamak mengenangkan kisah yang sebenarnya menggugah rasa, ekspresinya datar saja. Lambat laun, aku pun jadi paham, Mamak bukannya tak sayang padaku kalau dia tidak menciumku ketika aku berangkat sekolah seperti kawan-kawanku dulu. Mamak punya cara sendiri, aku tahu. Mamak tak pernah mengungkapkannya dalam kata-kata, semisal: “Mamak sayang padamu”, atau “Mamak rindu”, tak pernah, meskipun dalam momen-momen perpisahan di keluarga kami. Mungkin aneh bagi sebagian orang, tapi itulah Mamakku.

Sekian lama aku menjadi anaknya, diam-diam aku menjadi lebih sensitif dengan kata-kata Mamak. Dulu, waktu aku tamat SMA dan akan segera merantau ke Bandung untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi, Mamak pernah bilang begini: “Coba ya kalau di sini itu ada sekolah yang bagus”, sudah hanya begitu saja kalimatnya. Aku paham, artinya kalau nanti ketika aku sudah merantau dan jauh dari Mamak, beliau pasti akan rindu. Pun, ketika aku akan merantau lebih jauh lagi, Mamak hanya bilang begini: “Sudah, seperti biasa saja lah, kamu pasti bisa”. Mamak juga tak pernah menangis di hadapan kami, sama seperti Mamo, sesedih apa pun itu. Paling hanya aku dan Abangku saja tukang menangis di rumah kami, dan itu pun sangat jarang sekali, kecuali waktu kami masih kecil dulu.

Mungkin, salah satu kebahagiaan menjadi orang tua adalah ketika Allah menganugerahkan lengkap anak laki-laki dan anak perempuan dalam sebuah keluarga. Kami hanya dua bersaudara, dan aku anak perempuan satu-satunya. Belasan tahun kemudian, ketika aku sudah dewasa, aku sering diliputi perasaan bersalah. Tak terbayang kecewanya Mamak ketika aku dulu tak pernah ingin memakai pakaian-pakaian yang beliau belikan, pakaian-pakaian cantik untuk anak perempuan. Aku juga tak pernah mau beliau dandani. Nasib pakaian-pakaian itu selalu berakhir di lemari sepupu-sepupu atau tetangga kami, ketika sampai tak cukup lagi untuk kupakai dan tak pernah sekali pun aku memakainya. Tapi, Mamak tak pernah menyerah, pakaian-pakaian itu selalu Beliau beli dengan harapan yang selalu sama, bertahun-tahun sampai aku tak ingat lagi berapa jumlahnya dan Mamak tak pernah mengeluh padaku. Maafkan aku, Mak.

Mamak punya cita-cita yang sederhana dan tidak muluk-muluk. Mamak tak pernah menyuruh kami untuk jadi ini itu. Kata Mamak, jadilah orang yang bermanfaat, dan kalau sudah memilih, harus bertanggung jawab dengan pilihan tersebut. Mungkin Mamak pernah berkeinginan seperti kawan-kawannya, punya anak perempuan yang merantau untuk sekolah, lalu pulang, mencari pekerjaan di sana, berkeluarga dan beberapa tahun kemudian menghadiahi masa tuanya dengan cucu-cucu yang lucu. Maafkan aku Mak, anakmu ini pemimpi gila, sampai sekarang pun masih kesana kemari tak tentu arah. Mamak hanya bilang begini: “Sudah, semua orang punya bagiannya masing-masing, kalau tak ada orang sepertimu, mungkin tak ada yang mau menjadi menteri dan mengurus macam-macam untuk negara kita ini”. Aku hanya diam, tak bisa berkata-kata lagi.

Mamak kini tak lagi muda. Sejak aku merantau, aku menjadi jarang bertemu Beliau. Pernah suatu sore ketika aku pulang, aku duduk-duduk berdua dengan Mamak. Mamak minta tolong dicarikan uban, aku diam dan ingin rasanya menangis, betapa sudah sangat jarang aku memperhatikan Beliau, tak terasa rambut Mamak sudah mulai memutih. Helai-helainya itu pasti tahu bagaimana perjuangan Mamak agar aku bisa sekolah, ironisnya agar aku bisa meninggalkannya, egois sekali, bukan?

Mamak, aku tahu pasti, ada cinta dalam setiap peluhmu, ada cinta dalam setiap marahmu, ada cinta dalam setiap diammu, ada cinta dalam setiap doamu. Dalam dinginnya sepertiga malam, selalu kau mohonkan doa terbaik untuk kami. Dalam diammu, sesungguhnya kau telah mengajarkanku agar tak pernah kalah dengan rasa rindu kepadamu. Karena sejauh apa pun aku berjalan, doamu akan selalu mengiringiku. Aku malu, belum bisa menjadi apa-apa untukmu, Mak. Kerjaku hanya bisa menyusahkanmu, dari dulu bahkan sejak aku masih dalam kandunganmu. Tak terhitung dosa yang sudah kuperbuat kepadamu, jangankan untuk menebusnya, untuk membalas jasamu pun aku tak akan pernah bisa, tak pernah, sampai mati pun. Ya Allah sayangilah Mamakku, berkahilah selalu usianya, berikanlah Beliau kesehatan, dan berikanlah kebahagiaan padanya di dunia dan akhirat-Mu kelak.

Di sini, matahari baru tenggelam, langit masih mendung, tapi aku tahu di atas sana pasti ada bintang. Kiranya, kerlipnya sampai ke rumah kami, 7000 mil dari tempatku berada saat ini. Sampaikan salam rinduku untuk Mamakku, walaupun beliau pasti sudah terlelap. Biarkan malam menghapus lelahmu, Mak.

Bochum, 18 Februari 2012.

Tulisan lain tentang Ayah dan Abang, 3 orang inilah, manusia-manusia terbaik dalam hidupku:


http://maktjik.blogspot.de/2012/11/mamo-ayah-juara-satu-seluruh-dunia.htmlhttp://maktjik.blogspot.de/2012/12/abangku-abang-juara-satu-seluruh-dunia.html

Kawan-Kawan Baru

Sebagian besar waktuku dalam tiga bulan pertama ini kujalani dengan membaca, membaca berulang-ulang, lembar demi lembar buku dan paper, lalu merangkum intisarinya untuk didiskusikan dengan pembimbingku. Usaha belajarku harus lebih keras dari sebelumnya, karena bidang yang harus kupelajari sekarang berbeda dengan latar belakang yang pernah kukerjakan dulu.

Kawan-kawan baruku harus kubaca sambil minum kopi, sambil menggigil kedinginan, sambil menunggu antrian, sambil melamun, sambil makan siang, sambil chatting, sambil diam, kadang-kadang sambil tersenyum, sambil memasak bahkan sambil tertidur. Aku membaca di kantor, di kereta, di kantin, di kamar, atau di dapur. Tapi kalau akhir pekan tiba, aku tak akan menyentuh selembar pun anything related to my research. Akhir pekan adalah waktunya istirahat, belanja kebutuhan pokok, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan para sahabat.

Rasanya aku akan mati bosan kalau tak pandai-pandai menyeling rutinitas monoton seperti ini. Sabar saja lah, aku sudah memilih, janjiku dalam tekad yang akan terus kugenggam erat-erat, bismillah! Seorang temanku pernah menulis: The most basic question every Ph.D. student must know the answer to is: "Why the hell am I doing this?" Hehe :D Semuanya membutuhkan proses, tak ada proses yang terus menerus berjalan mulus, begitu pun sebaliknya.

Cerita yang menungguku akan semakin seru, ku harap begitu. Ketika mesin-mesin mulai menderu, ketika program-program mulai “berlari”, akan tiba pula masa-masa dimana aku harus menulis, berkicau dalam forum-forum, atau sekedar begadang dalam malam-malam panjang ketika deadline-deadline menunggu untuk diselesaikan.

Aku ingin mengenal berupa-rupa manusia dari seluruh dunia, tapi kakiku baru mampu melangkah sampai di sini dulu. Ingin sekali aku menjelajah sampai ke negeri-negeri yang jauh, menjangkau sampai jantung budayanya. Biarlah mimpi itu kusimpan dulu, sembari memetik beragam pengalaman yang bisa kutemui di sini. Di sini tidak ada mata kuliah yang harus kuikuti, tugas utamaku adalah riset. Aku rindu duduk di dalam kelas, mendengarkan kuliah dengan penuh semangat atau sampai tertidur kala ngantuk mendera. Sudah lama rupanya, hampir 2 tahun yang lalu adalah kala terakhir aku duduk di atas bangku-bangku kayu, dalam kelas-kelas berjendela kaca.

Mimpiku untuk mengenal berupa-rupa manusia itu setidaknya sedikit terwujud di kelas baruku, kursus bahasa Jerman. 28 orang teman baru dari seluruh dunia, dengan ciri khas masing-masing. Raut muka, warna kulit, warna rambut, nama-nama yang khas, mereka mewakili berbagai ras dan budaya. Betapa aku langsung jatuh cinta berada di tengah-tengah pusaran budaya seperti ini, mengenal berbagai bahasa dari penutur aslinya. Kawan-kawan baruku berasal dari China, Korea, Pakistan, Nepal, Iran, Israel, Maroko, Elfenbeinküste (Pantai Gading), Turki, Perancis, Cyprus, Moldavia, Bulgaria, Rusia, Ukraina, Yunani, Spanyol, Mexico, Brazil dan Chile. Kadang-kadang kami harus menggunakan bahasa isyarat karena beberapa di antara kawanku tidak bisa berbahasa Inggris.

Aku bisa melihat begitu eratnya beberapa budaya berbeda diikat dengan bahasa yang sama. Di sisi lain, aku tak melihat adanya jarak yang memisahkan beberapa kawanku yang berasal dari negara-negara yang sebenarnya pernah atau bahkan masih berselisih. Dalam derai salju tipis pekan ini, di sini aku menemukan kedamaian dalam bentuk berbeda yang belum pernah kulihat sebelumnya, indah sekali, Kawan.

Bochum, 12 Februari 2012


Pagi Jingga

Hari masih teramat muda, pagi jingga
Ombak ingin memecah temaram bulan, menderu
Fajar, urung sudah...

Angin tiupkan wangi bunga
Kemuning serbuk akasia
Hembusnya hilang
Diam dalam bayang, gemuruh samudera...

Wangi pagi Januari
Ada elang dibawa angin
Mengejar perahu dari bibir muara, jembatan jingga...

Tungguku
Menemukanmu dalam hilang, dahulu...

 Zürich, 1 Januari  2012

Secangkir Kopi

Mendung mega di semburat mentari pagi
Kabut tipis masih mengawang
Merpati terbang labuh berebut remah-remah roti
Gerimis dalam angin beku, putih
Dalam gores-gores pena dari balik jendela
Inginku bercerita
Masih ingatkah engkau wangi kopi dalam cangkir motif bunga?

Zug, Switzerland, penghujung 2011


Harum Hujan Bulan November

Bandung sudah masuk musim penghujan. Musim ketika rintik-rintik air berjatuhan dari langit, satu per satu saling berkejaran. Ada lukisan keindahan di setiap goresnya, di pucuk-pucuk pepohonan, atap-atap bangunan, dan derai curahnya yang terbawa angin.

Jendela kaca di ruanganku kubiarkan terbuka lebar. Biar harum bau hujan bisa kuhirup dalam-dalam, biar angin dinginnya menusuk hingga ke tulang. Tak ada minuman hangat dan hingar bingar kendaraan. Yang ada hanya suara hujan dan sayup-sayup senandung tilawah Al Qur'an.

Sore ini adalah sore terindahku di kampus ini. Kampus yang telah menumpahkan warna-warninya dalam jiwaku. Rasanya baru kemarin, ketika dengan malu-malu aku berkenalan dengan kawan-kawan baru. Ketika lidah-lidah kami masih bau "kampung halaman". Sudah 7 tahun ternyata, dan waktu berlalu begitu cepat.

Di sini aku pernah bangga, pernah benci, pernah jenuh, pernah gembira, tapi pada detik ini aku sadar bahwa aku telah jatuh cinta. Jatuh cinta pada setiap proses yang kujalani sampai hari ini. Cinta dari keluarga, saudara, para guru dan kawan-kawanku tak pernah bisa kubalas sampai mati. Kepada harum hujan bulan November, kutitipkan maaf dan terima kasihku untuk mereka, mereka yang telah membuatku menjadi aku.

Bandung 3 November 2011


Mamo, Ayah Juara Satu Seluruh Dunia


Mamo, panggilan Ayah yang ”terpeleset” dari kata Ramo, dari mulut kecilku dan Abangku. Sejak aku bisa mengingat, Beliau adalah laki-laki pertama yang kukenal dalam hidupku. Hadiah pertama yang kuterima dari Ayahku adalah namaku ini, yang akan kubawa sampai mati.

Beliau pasti laki-laki yang merasa paling bahagia ketika kami, anak-anaknya, lahir ke dunia ini. Dulu waktu aku masih kecil, aku paling senang kalau Mamo menggendongku. Rasanya, cintanya hanya untukku saja. Tangan kecilku akan menjangkau dan menunjuk ke sana kemari atau meraba-raba wajahnya yang kasar karena belum bercukur. Mamo mengajariku untuk mencintainya dengan sederhana.

Sepeda motor pertama yang dimilikinya adalah Yamaha PX-80 warna merah, bukan baru. Selanjutnya sepeda motor Mamo berganti-ganti dan selalu bukan baru. Satu-satunya sepeda motor baru yang dimiliki Mamo adalah sepeda motor yang dipakainya sampai sekarang. Itu pun dibeli ketika Mamo baru saja pensiun, ketika aku lulus SMA. Mengapa? Karena memang itulah adanya yang beliau bisa. Mamo pegawai negeri yang jujur, hanya makan gaji, itu saja. Gaji yang diaturnya setiap bulan dengan sangat hati-hati untuk menafkahi keluarganya, untuk menyekolahkan anak-anaknya. Dari laki-laki pendiam ini aku belajar tentang kejujuran dan kesederhanaan.

Dulu waktu aku masih SD, SMP dan SMA aku beberapa kali mogok tak mau sekolah, ingin minta pindah. Mamo kerepotan ke sana kemari mengurus kepindahan sekolahku. Tetapi tak sekali pun kudengar keluhnya. Mamo mengajariku tentang jiwa besar, Beliau ingin aku sekolah di tempat terbaik dan paling membuatku betah. Beliau tak pernah menuntut apa pun dari anak-anaknya.

Ketika pertama kali aku bisa naik sepeda, aku merengek minta dibelikan sepeda baru. Mamo hanya memberiku sepeda bekas, phoenix warna merah, yang terus kuprotes karena cat-nya sudah jelek. Di kemudian hari aku mengerti mengapa Mamo baru membelikanku sepeda baru beberapa bulan setelahnya. Karena di bulan-bulan pertama aku masih sering jatuh, Mamo tak ingin aku lebih kecewa kalau sepeda baruku rusak karena belum bisa kukendarai dengan baik. Dari laki-laki disiplin ini aku belajar tentang kesabaran.

Dulu aku sering diajak Mamo ke rumah paman sepulang dari klinik gigi. Klinik yang paling kubenci ketika pertama kali gigiku dicabut. Namun setelahnya aku yang meminta sendiri untuk diantar ke sana. Mengapa? Karena Mamo tak pernah bohong, “tidak sakit! Percayalah!” Pulangnya aku akan bertemu paman, mendengarkan obrolan mereka berdua tentang kakek. Mamo mengajarkanku tentang indahnya silaturahim. 

Waktu aku masih kecil, Mamo jarang marah kalau aku nakal, tapi Beliau paling marah kalau aku dan Abang bertengkar. Mamo mengajariku bagaimana mencintai saudaraku satu-satunya, Abang yang akan kubanggakan sampai mati. Mamo tak pernah menangis di depan kami, sesedih apa pun, sesakit apa pun, sesusah apa pun, tak pernah sekali pun kulihat Mamo menangis. Mamo mengajarkanku tentang ketegaran agar aku tak cengeng menjalani hidup ini.

Cinta Ayahku tak pernah habis-habis untuk kami. Aku tak bisa memilih siapa yang menjadi Ayahku. Tapi sekali pun aku tak pernah menyesal telah menjadi anaknya. Mamo adalah Ayah yang kucintai seumur hidupku. Sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa membalas jasanya. Dalam hatiku tertulis sejuta kenangan tentang Ayahku, salam rinduku untuknya, harum kasih sayangnya kan ku bawa sampai mati.

Bandung, 18 Oktober 2011
Photo illustration by Ponda Sujadi

Tulisan lain tentang Ibu dan Abang, 3 orang inilah, manusia-manusia terbaik dalam hidupku:
http://maktjik.blogspot.de/2012/11/mamak-ibu-juara-satu-seluruh-dunia.html
http://maktjik.blogspot.de/2012/12/abangku-abang-juara-satu-seluruh-dunia.html

Kisah Burung Pipit

Dan kisah itu telah kusampaikan pada rintik hujan kemarin petang
Hembus angin membawanya jauh ke ketinggian
Lalu senja menyambutnya pulang
Kisah itu pun damai dipeluk malam
Bersama bintang dan pesolek malam, Rembulan

Fajar akan menantinya esok pagi
Di ujung cakrawala sebelah timur sana
Rindunya akan kelana
Mungkin angin kemarin akan menyapanya
Tapi pada langit saja dia akan berkata
Teriaknya membahana
Aku rindu!

Pipit di pucuk pokok sana hanya tersenyum
Temanku ingin kutunjukan padamu, katanya
dari atas sini, dunia akan terlihat indah
tapi hanya jika kau melihat dia, cinta
Biarkan dia terbawa angin
Jauh sampai ke muara

Bandung 13 Agustus 2011
Photo illustration by Ponda Sujadi

Wahai Keumala

Indah nian namamu wahai Keumala. Kita belum pernah bertemu, namun sudah lama sosokmu berada dalam benakku. Keumalahayati, namamu kuambil dari nama Laksamana perempuan tangguh tanah Aceh, pun belum pernah kuinjakkan kakiku di sana. Tanah para raja yang sedari dulu ingin aku mengunjunginya. Hanya lukisan jaman baheula, dalam ruang temaram Museum Bahari di Jakarta Utara, aku pernah bertemu dengan Keumalahayati yang pernah ada. Itu pun bukan dirimu wahai Keumala.

Lahir ke dunia, atau tepatnya lahir dalam benakku, kau jangan malu. Tangis kerasmu akan membahagiakan orang-orang yang mungkin menjadi orangtuamu nanti. Waktunya entah kapan, aku pun tak pernah tahu. Dalam hari-harimu bermula, sederhana saja kau pandang dunia ini. Kau baru tahu hitam putih, nikmati saja. Mungkin membosankan, tapi percayalah kelak ‘kan tiba waktunya, saat-saat dimana kau akan merindukan dua macam warna itu. Jadi, resapi saja keindahannya. Nanti, warna-warni dunia kau lukislah bersama sahabat-sahabatmu.

Jangan pernah kau ragu melangkah untuk mencari dan menyebarkan kebaikan. Jangan pernah kau malu merajut mimpi-mimpimu, karena dia akan menjadi obor semangatmu. Jangan menyerah dalam jalan cita-citamu. Sekuat usaha dan doamu, akan kau petik manisnya nanti. Walau tak berbuah sekali pun, akan kau rasakan nikmatnya peluhmu. Dalam langkah-langkah bersemangat, bahkan berlari, tak mengapa sesekali kau berhenti sejenak, tapi jangan pernah kau khianati tujuan akhirmu. Hargai setiap jerih payahmu dengan kenikmatan syukur.

Aku tahu kau tangguh, tajam kerikil di tepi jalan akan mengasahmu. Jangan cengeng, karena dunia ini sombong dan tak peduli. Tak ada waktu untuk berkeluh kesah karena kau tahu kepada siapa kau harus mengadu. Nanti akan kau temui berupa-rupa manusia, jangan menjadi takut dan pengecut. Kau akan banyak belajar dari setiap pertemuanmu. Kau akan tahu, pertemuan dengan orang paling jahat sekali pun, tak ‘kan pernah tersia-sia.

Apa-apa yang hanya bisa yang kau rasakan dengan hati, kadang indah, kadang tidak. Mereka akan datang silih berganti, sedih akan bersahabat dengan senang, walau tak kau suruh. Meski kita belum pernah bertemu, namun suatu saat, ingin sekali ku katakan padamu. Ada keindahan yang belum pernah kutemukan tandingannya di dunia ini. Keindahan yang hanya bisa kau rasakan dengan hati. Bila nanti kau rasakan sendiri, kau akan tahu, bahwa aku tak berdusta padamu, wahai Keumala. Hmm, hampir saja aku lupa, nanti kalau kita bertemu, akan kupanggil engkau "Aya".

Bandung, 22 Februari 2011

Payung Rindu di bawah Rintik Hujan Sore ini

Beberapa hari ini cuaca Kota Bandung tidak menentu. Siang tadi, matahari bersinar terik sekali, sambil sesekali mendung dan berawan. Tiba-tiba, sore tadi, langit berubah menjadi gelap. Awan hitam terlihat bergumpal-gumpal di kejauhan. Angin berhembus kencang, hawa dingin merasuk hingga ke tulang.

Hampir pukul 6 sore, perutku sudah sangat lapar. Rintik-rintik hujan pertama mulai turun, padahal aku baru seperempat perjalanan pulang. Hari ini, tiba-tiba saja aku memilih jalur angkutan umum berbeda dari biasanya. Aku rindu suasana Gedung Sate sore hari, juga pucuk-pucuk mahoni yang baru bersemi di sepanjang Jalan Diponegoro.

Perjalananku singkat saja. Aku turun di pertigaan Jalan Supratman, tepat di depan Asrama Mahasiswa Gunong Tajam, asrama mahasiswa Belitong, persinggahanku ketika pertama kali ke Bandung, hampir 7 tahun yang lalu. Hari makin gelap dan hujan masih lebat, air tergenang dimana-dimana.

Di sudut jalan, aku menemukan pedagang batagor yang menjajakan dagangannya di mobil bak terbuka. Lumayan untuk mengganjal perut laparku malam ini. Aku bertemu seorang ibu yang kelihatannya baru pulang kerja. Beliau membeli batagor dalam porsi besar, mungkin untuk dihidangkan bersama keluarganya. Kelihatannya beliau tidak membawa payung. "Nak, mau pulang kemana? Boleh Ibu ikut sampai Surapati? Nanti Ibu mau naik angkot pink dari situ". "Oh, tentu saja boleh Bu", jawabku spontan.

Kami melewati Jalan Pusdai yang tergenang, sambil sesekali berhenti untuk menghindari cipratan air dari kendaraan yang lewat. Di bawah naungan payung kecil itu, obrolan kami mengalir. Ibu Maya, begitu beliau mengenalkan diri kepadaku. Beliau bekerja di Citarum, tak jauh dari Pusdai, dan bertempat tinggal di Ujung Berung. Anak sulungnya sudah bekerja, dulu kuliah di Farmasi Unpad. Anak bungsunya baru tamat dari jurusan Perhotelan, juga sudah bekerja dan berniat melanjutkan kuliah lagi.Tersirat rasa bangga di wajah beliau, padahal aku tahu beliau sedang lelah setelah seharian bekerja.

Aku pun mengenalkan diriku. Beliau antusias sekali ketika tahu bahwa aku hidup terpisah jauh dari keluarga, hidup sendiri di Kota Bandung, dan masih memimpikan banyak hal. "Ibu doakan Nak Hesty sukses dan tercapai cita-citanya. Orangtua seperti Ibu tidak akan mewariskan apa-apa, selain ilmu yang bermanfaat. Karena warisan harta betapapun banyaknya, akan habis." Kuaminkan doa dari Bu Maya, dan kudoakan pula Beliau selalu sehat dan dikaruniai usia yang berkah.

Kami berpisah di tepi jalan Surapati, dalam rintik hujan yang mulai reda. Pesan Bu Maya adalah pesan yang sama seperti yang disampaikan Ibuku dulu ketika aku akan merantau ke Bandung. Aku menjadi rindu, rindu sekali kepada Ibuku. Kiranya hujan sore ini mampu mengantarkan rinduku kepada Beliau, jauh sampai ke kampung halamanku. Kupeluk erat tasku yang basah. Dalam dingin dan mendung, hatiku tiba-tiba menjadi hangat, sehangat kasih sayang Ibuku.

Bandung, 17 Februari 2011

Sepenggal Perjalanan

Surapati-Panatayudha-Dipati Ukur-Sumur Bandung-Taman Sari. Itulah sepenggal jalur angkutan umum Cicaheum-Ciroyom yang kulewati hampir 7 tahun terakhir ini. Banyak cerita, dalam perjalanan singkat sekitar 30 menit itu. Kalau aku berangkat agak pagi, teman seperjalananku rata-rata anak-anak berseragam sekolah. Mereka biasanya terlihat lebih ceria di awal-awal semester. Seragam, sepatu atau peralatan sekolah mereka terlihat lebih bersih atau bahkan baru.

Kalau agak siang sedikit, teman seperjalananku adalah ibu-ibu atau pembantu rumah tangga yang baru pulang belanja dari pasar Cihaurgeulis (Pasar Suci), yang lain biasanya mahasiswa atau karyawan. Ibu-ibu ini membawa banyak belanjaan, sedikit tenang kalau hanya sendiri. Tetapi kalau berteman, obrolan mereka lumayan “hidup”. Kalau mahasiswa biasanya tak banyak bicara, di awal bulan terlihat lebih “sehat”, di akhir semester terlihat lebih “kusut”. Kalau Bandung sedang musim hujan dan dingin sekali, beberapa dari mereka kelihatan sekali sengaja tidak mandi sebelum ke kampus. Kalau musim ujian tiba, mereka mendadak berseragam putih-hitam, karena rata-rata mereka mahasiswa Unpad Kampus Dipati Ukur atau Unikom yang menerapkan aturan seperti itu.

Sopir angkutan umum ini rata-rata orang rantau dari Sumatera Utara. Awalnya aku belum terbiasa dengan style mereka, yang mungkin untuk sebagian orang agak kurang nyaman dengan gaya mengemudi yang “njut2an” atau gaya bicara mereka yang terkesan agak kasar bagi telinga orang Sunda. Tapi lama-lama, mereka jadi “teman baik”-ku selama hampir 7 tahun terakhir ini.

Perjalananku hampir setiap pagi akan melewati 2 lampu merah, yang pertama di perempatan Gasibu, salah satu perempatan paling ramai di Bandung. Di sini ada 2 atau 3 pedagang asongan dan sekitar 6 atau 7 pengamen. Salah satu dari mereka bertubuh gempal, lagu favoritnya: “Slank-SBY (Sosial Betawi Yoi)”. Yang lain biasanya berkolaborasi, satu penyanyi, satu pemain biola, satu pemetik gitar, dan satu penabuh gendang. Biasanya mereka membawakan lagu-lagu Iwan Fals, atau lagu-lagu karangan mereka sendiri, tapi gaya liriknya masih itu-itu juga: memaki-maki pemerintah.

Penumpang angkot biasanya turun di Panatayudha, karena disitu ada SMP dan SMA PGII dan rumah-rumah yang umumnya ber-pembantu rumah tangga. Sebagian akan turun di kampus-kampus sepanjang jalur ini. Di sekitar monument PRJB (Perjuangan Rakyat Jawa Barat), tepat di depan Kampus Iwa Kusumasumantri Unpad Dipati Ukur, biasanya pak sopir akan berhenti agak lama. Karena di kawasan ini lah, sebagian mahasiswa Unikom dan ITB bertempat tinggal. Tiga kali dalam setahun, aku akan bertemu para penjual bunga di sekitar kawasan ini, karena tiga kali pula Rektor Unpad akan mewisuda mahasiswanya. Senang sekali melihat wajah-wajah berbinar dari para wisudawan dan keluarganya. Dulu waktu aku belum diwisuda, secara tidak langsung mereka telah menjadi motivator-motivator ulung bagiku. Kalau sekarang, acara semacam ini menjadi seperti nostalgia saja. Masih seperti dahulu, kesannya tetap menyenangkan bagiku.

Pak Sopir akan kembali berhenti di pertigaan Sekeloa, menunggu mahasiswa-mahasiswa FKG Unpad yang akan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin. Mereka rata-rata berpenampilan rapi, lebih rapi dari mahasiswa pada umumnya. Mereka ini calon dokter gigi. Di sepanjang jalan Dipati Ukur ini, terdapat 4 pool travel Jakarta-Bandung PP. Usaha travel Bandung-Jakarta mulai ramai sejak tol Cipularang selesai dibangun sekitar April 2005, menjelang 50 tahun Peringatan Konferensi Asia Afrika di Bandung.

Lampu merah kedua yang kulewati adalah perempatan McD Dago. Restoran fast food asal Amerika ini buka 24 jam. Di seberangnya ada minimarket Circle K yang buka 24 jam pula, lalu di sampingnya teronggok warung kecil pinggir jalan tempat berkumpul para pengamen dan pedagang asongan. Mereka punya seorang bos, kepala preman atau apalah nama yang paling tepat. Yang jelas, pak bos ini terlihat sangat disegani. Setiap sopir akan menyetorkan iuran wajib kepadanya, tapi setiap pagi pula, mereka diberi jatah sarapan 1 kue basah, biasanya donat, risoles atau pastel.

Pengamen di sini relatif lebih terampil, kadang-kadang ada 2 orang anak kecil bersuara emas yang akan menyanyi diiringi lantunan biola. Ada pengamen yang senang sekali membawakan lagu-lagu jaman lawas, suaranya serak-serak basah. Seorang lagi selalu membawakan lagu cinta, belum pernah aku mendengar dia membawakan lagu bertema lain, kalau cuaca sedang cerah biasanya tentang orang yang sedang jatuh cinta, kalau musim hujan dan mendung, biasanya tentang orang yang dikhianati cinta. Sekarang gitarnya makin usang, maka sesekali dia akan memetik ukulele.

Di perempatan ini juga ada seorang juru parkir berseragam oranye dan selalu bertopi, pria setengah baya ini menyambi menjadi pedagang koran. Kalau dia tak berseragam parkir, wajahnya lebih mirip direktur perusahaan multinasional. Kadang kalau angkot yang ngetem di sini dinaiki banyak penumpang, si bapak akan mendapat bagian sepeser dua peser dari pak sopir.

Jalur terakhir yang kulewati sebelum turun adalah jalan Sumur Bandung. Jalannya tidak panjang, mungkin hanya sekitar 100 meter. Sekitar 2008 sampai pertengahan 2010 jalan ini berlubang-lubang, jelek sekali, sampai-sampai ada yang memasang bendera penanda seperti di track rally off road, sebagai sindiran bagi Pemda Bandung. Kalau musim hujan, air tergenang sampai mata kaki. Akhir 2010 jalan ini dan ujung jalan Siliwangi akhirnya diperbaiki dan dicor lebih tinggi. Ternyata salah satu rumah di ujung jalan Sumur Bandung ini adalah rumah Prof. Dr. Oei Ban Liang, sang perintis bioteknologi Indonesia. Rumah sederhana bergaya arsitektur kuno ini halamannya rindang dan pagarnya berwarna hijau teduh. Prof. Oei adalah Guru besar Kimia ITB, beliau meninggal pada bulan November 2010 yang lalu.

Di pertigaan Sumur Bandung-Tamansari, aku akan turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Begitu turun, aku akan “disapa” pengemis tua berbaju hitam dan selalu memakai kopiah. Biasanya bergantian dengan rekannya yang juga berpenampilan serupa. Lalu, aku akan bertemu dengan seorang pengemis buta, anak perempuan berusia sekitar 13 tahun, selalu mengenakan kerudung dan sering berteriak-teriak atau berbicara sendiri. Biasanya dia ditemani seekor anjing berwarna putih dengan sedikit corak hitam.

Teman perjalananku yang terakhir adalah pohon-pohon mahoni. Kalau musim kemarau tiba, daun-daunnya akan berguguran dan berserakan di pinggir jalan, indah sekali. Apalagi kalau angin bertiup agak kencang, seperti musim gugur saja. Kalau hujan pertama sudah turun, daun-daun mudanya akan bersemi, mula-mula agak merah, lama-lama kelamaan berubah menjadi hijau muda, hijau tua, dan akhirnya kembali gugur. Begitu terus menerus, sampai akhirnya meranggas dan benar-benar tak berdaun lagi. Sebuah siklus yang teratur, seteratur langkahku setiap pagi, langkah-langkah kecilku meraih mimpi.

Bandung, 3 Februari 2011

Sahabat

Aku ingin sedikit bercerita tentang persahabatanku yang sederhana. Aku bukanlah seorang yang bisa menghargai sahabat seperti layaknya orang lain. Yang akan selalu mengucapkan selamat di hari ulang tahunnya, yang akan selalu teringat padanya di saat susah maupun senang. Tapi bukan pula orang yang hanya akan datang padanya di saat-saat terpuruk.

Mengenalnya sekian lama, aku jadi tahu arti seorang sahabat yang kudefinisikan sendiri. Dia belum tentu ada saat kau susah atau senang. Dia akan ada di saat yang memang tepat. Ada kalanya kami tak saling mengetahui kabar masing-masing. Biarkan saja sesederhana itu, dan hal inilah yang akan membuat persahabatan kami bertahan sekian lama.

Kami telah melewati sekian banyak momen-momen berharga, bersama ataupun tidak, tak masalah. Sekian banyak pergolakan menuju pendewasaan, sekian banyak hal-hal yang tak akan tersia-sia. Yang akan selalu jadi bekalku di masa mendatang. Tanpa sadar, sahabatku ini adalah orang yang selalu membuatku semangat meraih mimpi-mimpiku, sekaligus mengajarkanku tentang kesederhanaan, ketulusan, dan keindahan hidup. 

Persahabatan kami mengalir begitu saja, tanpa ada embel-embel apa-apa. Aku menyukai persahabatan yang seperti itu. Seperti persahabatan anak-anak yang sederhana. Tak ada sesi curhat sampai tersedu sedan, tak ada pertengkaran, dan tak ada yang spesial. Namun karena kesederhanaan itulah, kami bisa menjadi layaknya saudara.

Aku telah bertemu dengan banyak orang, dan aku yakin bahwa kedekatan dengan seseorang itu bukannlah sesuatu yang dapat dipaksakan. Bukanlah terbangun dengan lamanya saling mengenal, kecocokan dalam berbagai hal atau apapun. Kedekatan itu adalah kecenderungan jiwa, itu saja. Ibuku pernah berpesan, sahabat yang tulus itu harus kau hargai layaknya saudara.

Bandung, 1 Desember 2010

Ibu

Walau kau tak bicara, tapi kutahu. Biar kau tersenyum, tapi kutahu. Bahkan, meski kau berbicara tak henti, aku pun tahu. Dimana kau simpan air mata itu? Dimana kau simpan rasa sayang itu? Aku tahu pasti. Katamu, sudah lama sekali kau latih perasaanmu itu. Mungkin sejak aku terlahir ke dunia ini. Tak pernah kulihat engkau menangis di depanku.

Tak pernah, walau sekalipun. Padahal, bila kuingat-ingat, tak kan pernah terhitung rasanya. Betapa banyak tingkah lakuku yang bisa melukai perasaannya. Ibu, di sini aku ingin memelukmu, sekali saja. Tak kan kulepas lagi. Walau langkah ini jauh, walau wajah ini berusaha selalu tegar, hanya engkau yang tahu, betapa jiwa ini rapuh.

Kau ikhlas dengan segenap jiwamu. Pintamu tak putus dalam malam-malam panjangmu mendoakanku. Ibu, bila tangan ini mampu, ku ingin menghapus tangismu yang tak berair mata itu. Bila pundak ini mampu, ku ingin memanggul beban di pundakmu yang semakin ringkih itu. Ku ingin hanya senyum yang paling dalam sampai ke lubuk hatimu. Ya Allah sayangi ibuku, sayangi ibuku..

Bandung, 13 Juli 2010

Alhamdulillah

Sampai detik ini, rasa syukur seharusnya tak berhenti kuhaturkan kehadirat Allah, alhamdulillah atas nikmat iman dan Islam, nikmat sehat, nikmat keluarga dan para sahabat, dan nikmat-nikmat lainnya yang tak mungkin kuhitung satu persatu. Malu rasanya diri ini, belum bisa memberikan manfaat apa-apa. Sampai detik ini, berapa banyak orang yang telah kurepotkan, berapa banyak orang yang telah kubuat kecewa, berapa banyak pula yang telah berbuat dosa oleh karena sebabku. Ya Allah, aku mohon ampun atas segala khilaf dan kelemahan diri ini.

Rasa terimakasih untuk keluarga dan sahabat-sahabatku. Atas izin Allah dan oleh sebab kalian, aku bisa mengakhiri semester ini dengan baik. Kamis pagi kemarin hari terakhir itu, hari terakhir untuk penelitian tesisku. Namun, bukan hari terakhir untuk terus belajar hingga akhir hayat. Mohon maaf atas segala khilaf. Semoga sisa usia kalian senantiasa dilimpahkan kebaikan oleh Allah.

Bandung, 6 Maret 2010
*alhamdulillah hari ini Allah masih mempertemukanku dengan sahabat-sahabat lama.


Ayah

Sejak kecil aku mengagumimu wahai ayahku. Engkau pendengar paling setia untuk setiap keluh kesah dan rasa ingin tahuku. Ini apa, itu apa? ini kenapa, itu kenapa? kalau begini bagaimana? Dulu PR matematika-ku, engkaulah orang pertama yang akan menilainya sebelum guruku. Sejak kecil, engkau mengajakku berdiskusi tentang banyak hal. Entah itu fisika, matematika, sejarah, geografi, bahasa, biologi, psikologi, atau apapun yang aku ingin ketahui. Luas sekali, seluas mata kecilku memandang cakrawala di pesisir pantai.

Diskusi malam tadi panjang sekali. Memanggil semua kenangan masa lalu kami. Dulu aku sebagai penanya, ayahku penjawab dan pendengar setia. Sejak aku mulai kuliah, diskusi berubah jadi 2 arah, lebih hidup. Aku berbagi ilmu yang kudapat di kampus atau sumber lainnya. "Tunggu sebentar, ayah kurang mengerti, sedikit rumit, hmm..". Ayah selalu berusaha untuk memahami topik yang kuajukan. Paling kalau sudah tak "termakan" lagi, Ayah akan berkata : "alhamdulillah, subhanallah engkau bisa memahaminya Nak, semoga bermanfaat ilmumu". Sampai sekarang, pengetahuan sejarah ayah yang belum pernah terlampaui olehku. Kaya sekali, seperti komik saja epik-epik sejarah yang pernah Ayah ceritakan.

Semoga Rahmat ALLAH senantiasa tercurah untukmu wahai ayahku. Lain waktu jika kita bertemu, aku berjanji akan selalu menjadi anak yang lebih baik lagi. Sampai tiba waktunya aku tak menjadi milikmu lagi atau salah satu dari kita dipanggil olehNya. Aku tak ingin melupakan setiap detik waktu yang pernah kita lalui.

Bandung, 1 Maret 2010.
Di malam-malam menjelang sidang, dalam cuaca yang makin "unpredictable" kata ayah, hmm..

Disini dulu aku dan ayah biasa menghabiskan sore. Menunggu adzan memanggil, mengantar mentari ke peraduannya sampai bibir cakrawala..

Bus Reyot pun Punya Cerita

Bus yang kutumpangi penuh sesak. Penumpangnya rata-rata ibu-ibu yang membawa serta anak-anaknya, selebihnya ada beberapa lansia. Aku sendiri ikut menumpang bersama ayah dan bibiku. Kami akan mengunjungi saudara di kampung Gantong.

Makin jauh bus melaju, jalan yang kami lewati makin sepi. Tipikal daerah kepulauan, penduduknya lebih ramai di bagian pesisir. Rumah penduduk makin jarang, kebanyakan hanya ladang yang ditinggalkan, area bekas tambang, atau hutan perawan.

Sudah lama aku tak mendengar dialek lokal kampung-kampung di Pulau Belitong. Terasa sangat menyenangkan mendengarkan obrolan-obrolan sederhana dari beberapa penumpang. Tercermin pola pikir mereka yang sederhana, namun sarat cita-cita. Sebutlah Bu Habibah, ibu dua anak ini sedang bercerita tentang anak angkatnya. Anak angkat yang ia besarkan sejak kecil, kini sudah berkeluarga dan menjadi perawat di rumah sakit Tanjongpandan. Kata Bu Habibah, sejak kecil ia ingin anak angkatnya itu mendapatkan pendidikan yang baik, namun ia tak punya biaya.

Beruntunglah Bu Habibah, si anak ternyata punya keinginan yang kuat. Ia usahakan sendiri kelangsungan pendidikannya, beberapa kali pula ia memperoleh beasiswa, sampai bisa meneruskan ke akademi keperawatan. Betapa bangganya kini Bu Habibah, beberapa kali ia ulang-ulang kalimat yang sama : “Kelak, mikak beduak dak kuang kala kan kakak ye..” (Kelak, kalian berdua tak boleh kalah dengan kakak ya..). Begitulah Bu Habibah menyemangati kedua anak kandungnya yang masih kecil. Sepenggal harap dari orang sederhana untuk anak-anaknya.

Bandung, 16 November 2009

Monday, January 19, 2009

Laskar Pelangi, Aku Pulang! [2]

Tanjongpandan

Mengapa hampir setiap orang mencintai kampung halamannya? Karena dari sanalah semua cerita bermula, dari sanalah aku merajut mimpi-mimpi masa kecilku, dan di sanalah aku merasakan cinta untuk pertama kalinya. Cinta dari Yang Maha Mencintai, cinta dari orang-orang yang paling mencintaiku, cinta dari setiap desir angin, tetes hujan dan riak gelombang.


Idul Fitri akhirnya tiba. Mataku basah ketika sampai di Surau As Salam. Takbir berkumandang dari pengeras suaranya. Surau kecil ini masih seperti dulu meskipun telah tujuh tahun aku meninggalkannya. Letaknya tak jauh dari rumah kami dulu. Rumah yang kami tinggali sejak aku bisa berjalan sampai lulus SMP, dan akhirnya kami sekeluarga pindah ke Pangkalpinang. Rumah itu kini telah dihuni orang lain.

Kuperhatikan setiap detail bangunan surau, kusen jendelanya kini mulai rapuh digerogoti rayap, warna catnya pun masih sama, biru laut. Beduknya masih yang dulu, dari pohon Kemang besar di tepi lapangan volley dan kulit sapi sumbangan orang Madura yang merantau di kampung kami. Dulu kami biasa memainkannya saat tiba malam lebaran, setelah makan bersama dari dulang (semacam nampan besar dari logam) yang diantar dari setiap rumah, hidangan khas hari raya.

Kupandangi dari kejauhan rumah kami dulu. Pohon Cempedak di halamannya kini sudah tak ada lagi. Catnya pun sudah berubah. Aku masih bisa mendengar suara kucingku, aku masih bisa melihat sepeda yang sering kupakai dulu, aku masih bisa melihat sahabat-sahabat masa kecilku bermain menghabiskan sore, aku masih bisa melihat diriku duduk di bawah rindangnya pohon rambutan. Masih adakah coretan dinding yang dulu kubuat bersama sahabatku? Oh, begitu banyak kenangan masa kecilku di rumah itu. Namun, sekarang aku hanya bisa mengenangnya dalam mimpi.

Suasana khas Pulau Belitong, rumah-rumah sederhana dengan halaman luas yang ditumbuhi pepohonan menghadap ke jalan raya, orang-orang yang suka duduk-duduk di serambi rumah menjelang senja tiba, atau pasar ikan yang ramai sejak dini hari. Rutinitas berbagai etnis yang menyatu dalam kehidupan yang damai di kampung kami.

Pantai Tanjong Pendam telah sedikit berubah, tampak lebih rapi dan terawat. Pantai ini berada tak jauh dari SD ku. Dulu, aku dan teman-teman sekelasku sering menghabiskan sore di sana. Memunguti cangkang-cangkang kerang, menangkap ikan Sembilang atau sekedar memandangi Pulau Kalimoa dari kejauhan. Kami pun sering latihan baris-berbaris menjelang perlombaan pada bulan Agustus. Kami juga pernah latihan pramuka “mencari jejak” dari ujung benteng Belanda sampai mulut dermaga Tanjongpandan melewati hutan bakau di sepanjang pesisir Tanjong Pendam. Benteng Belanda adalah nama yang kami buat sendiri untuk selasar luas yang bertangga cukup tinggi di sisi kiri kanannya. Letaknya di atas bukit kecil di samping sekolah kami yang ditumbuhi pohon-pohon beringin besar. Konon, bangunan itu memang peninggalan Belanda.

Libur lebaran kali ini tak lupa kucicipi jajanan pasar Belitong. Ada es campur Babah Pilai depan tugu pahlawan, ada pampi (kwetiaw) goreng yang lezat, ada kue putu dan kue lumpang atau sea food segar yang mengundang selera.

Tanjongpandan masih seperti dulu ketika aku masih kecil. Tak banyak yang berubah dan aku ingin tetap mengingatnya seperti itu.

Bandung, 19 Januari 2009


Monday, November 03, 2008

Laskar Pelangi, Aku Pulang! [1]

Pada liburan Idul Fitri tahun ini, aku akan sejenak memindahkan channel kehidupanku dari rutinitas yang padat di Bandung menjadi sebuah perjalanan indah meretas kembali jejak-jejak masa kecilku. Masa kecilku yang paling indah di sebuah pulau kecil yang sangat aku sayangi. Sejuta rindu kubawa untuk orang-orang tercinta dan hawa pesisir yang menghangatkan jiwa.

Aku Masih di Pulau Jawa

Aku akan menempuh perjalanan darat yang tak begitu lama dari Bandung ke Jakarta. Hampir tak ada pemandangan menarik yang bisa kulihat selain rambu dan penanda kilometer dalam hitungan mundur. Atau sesekali terlihat sawah dan perkebunan teh. Pejalanan hampir 3 jam ini akan sangat membosankan bagi sebagian orang. Tapi, sejak kecil ada perasaan istimewa yang muncul dalam benakku bila melihat bangunan tinggi, jalan layang atau jembatan. Aku mengagumi konstruksi-konstruksi simetris yang begitu kokoh dari beton bertulang ini. Dalam pikiran kecilku, terlihat begitu “teknik”. Hesty kecil ketika itu bercita-cita menjadi seorang insinyur.

Walaupun kini bidang yang kutekuni bukan teknik sipil, namun bayangan masa kecilku itu secara tak langsung telah membimbingku untuk mendedikasikan diri di bidang engineering. Kini aku menemukan diriku terbenam dalam dunia fisika teknik, bidang kekhususan instrumentasi medik.

Memasuki kota Jakarta, kulihat beberapa baliho Laskar Pelangi. Oh, kampong halamanku! Kini kau jadi perhatian banyak orang. Masih kuingat dulu waktu pertama kali aku menginjakkan kaki di Pulau Jawa. Banyak yang tak tahu dimana Pulau Belitung (aku lebih senang menyebutnya Belitong, ah…terdengar lebih indah di telinga kami sebagai orang Melayu). “Oh, di Sulawesi ya?” atau “Dekat Riau kan ?” atau “Rangkas Bitung maksudnya?”. Begitulah reaksi orang-orang yang baru kukenal.

Namun, sedikit harus kuceritakan rasa heranku pada orang-orang kota ini. Apakah pengetahuan geografi mereka begitu rendah? Kuingat dulu, sejak SD aku hafal pulau-pulau kecil di Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi atau kota-kota kecil di pulau-puau besar Nusantara.

Kalau masih tak paham, mari kuceritakan sekilas mengenai Pulau Belitong. Bukan dari ikon-ikon yang mengangkat namanya seperti timah, Laskar Pelangi, DN Aidit, Andrea Hirata, Yusril Ihza Mahendra atau nama-nama yang lain. Namun dari letak geografisnya.

Pulau Belitong dibatasi oleh Laut Cina Selatan di sebelah Utara, Laut Jawa di sebelah Selatan, Selat Karimata di sebelah Timur dan Selat Gaspar di sebelah Barat. Sedikit ke arah Barat membujur dari Barat Laut ke Tenggara terdapat Pulau Bangka yang lebih besar. Jadi Belitong dan Bangka adalah pulau yang terpisah. Dulu kedua pulau ini merupakan bagian dari Propinsi Sumatera Selatan, namun sekarang telah memisahkan diri menjadi Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Propinsi pertama di Indonesia yang mencantumkan nama “Kepulauan”.

Kepulauan Bangka Belitong terpisah jauh dari Kepulauan Riau seperti terpisahnya Kepulauan Raja Ampat dari Halmahera. Dibutuhkan beberapa jam perjalanan laut. Namun, akses dari Pulau Jawa ke Belitong sangat mudah. Hanya butuh 45 menit penerbangan dari Jakarta. Jadi, kami tak seterpencil yang orang kira.

Ada cerita menarik tentang keterpencilan ini. Dulu aku sempat tertawa dalam hati ketika seorang temanku yang berasal dari Jawa bertanya: “Di Belitung katanya belum ada listrik ya? Cuman siang aja?”. Hahaha…asal kalian tahu, instalasi listrik yang diklaim Belanda terbesar se-Asia Tenggara ketika itu telah dibangun penjajah pada masa pra kemerdekaan. Jauh sebelum Nusantara bisa menikmati listrik dari PLN seperti sekarang ini. Sampai disini, sudah paham dimana letak pulau kelahiranku? Kalau belum, rajin-rajinlah membuka peta! Atau tak kan kuceritakan perjalananku selama di sana.

Tak terasa, sampailah bis yang kutumpangi di Bandara Soekarno-Hatta. Suasana begitu ramai dan sibuk, arus mudik sedang mencapai puncaknya. 45 menit perjalanan yang singkat dari Jakarta ke Belitong. Tak ada yang istimewa, selain gerombolan kecil yang menarik perhatian penumpang lain, bocah-bocah Laskar Pelangi!

Bandung, 3 November 2008

Tuesday, June 10, 2008

Layang-layang Rindu

Matahari bersinar sepanjang hari, terang benderang sampai senja tiba. Rumput-rumput mulai menguning menyisakan tandus tanah berdebu. Gerah, kering dan gersang. Angin akan menerbangkan debu-debu yang akan menempel pada jendela-jendela kaca. Musim kemarau telah tiba.

Dulu, waktu aku masih kecil, musim masih teratur. April sampai September adalah bulan-bulan kerontang itu. Tapi ada hal lain yang menyenangkan. Akan ada lukisan taburan kertas warna-warni di langit yang biru cemerlang. Mengajak angan-angan kecilku untuk terbang tinggi, setinggi nasib yang telah diatur oleh Allah akan membawaku nanti.

Hari masih pagi ketika Abangku membeli lembaran-lembaran kertas minyak, lem perekat dan benang ukuran agak besar. Kalau bilah-bilah bambu tak perlu membeli. Ada rumpun bambu milik Pak Wahid di tepi lapangan volley kampung kami. Hari ini kami akan membuat layang-layang ukuran besar. Bilah-bilah bambu tadi akan dijadikan rangkanya. Layang-layang kami akan terbang gagah, merah pula warnanya.

Saat layangan berekor itu mulai terangkat, kami berharap-harap cemas ia akan mampu terbang tinggi. Karena ukurannya besar, tentunya tak semudah menerbangkan layang-layang biasa. Akhirnya ia mulai terbang, semakin diulur benangnya, semakin tinggi pula ia melambung. Terus melambung dan tampak semakin kecil.

Kini ia bisa bercengkrama dengan layang-layang lain, terbang tinggi tak peduli. Menari-nari di ketinggian, tak goyah dihembus angin seakan mengajakku untuk menyaksikan pemandangan menakjubkan di atas sana. Pasti rumah kami hanya tampak seperti kotak kecil dan aku mungkin sudah tak tampak lagi. Kiranya ia bisa memandang sampai ke tepian pulau, menyaksikan drama kehidupan penduduk di sepanjang pesisir barat Pulau Belitong. Pulau kecilku yang kini bau karat, tua dan tampak terluka. Sampai kemana nasib akan membawaku nanti? Tak pernah berkurang rasa rinduku pada pulau kelahiranku.

Bandung, 7 Juni 2008

Guruku

Seminggu yang lalu adalah hari-hari yang cukup melelahkan bagiku. Jumat pagi listrik tak menyala sampai sore tiba. Kampusku seperti kota mati Chernobyl yang ditinggal mengungsi oleh penduduknya. Sebegitu tergantungnya kita pada listrik, salah satu nikmat Allah yang sering terlupakan jika senantiasa menyala.

Aku pulang dengan lesu. Alhamdulillah listrik di kos-kosan tidak ikut padam. Malamnya aku tidur sangat larut, pelampiasan tak bisa mengerjakan apa-apa di siang harinya. Aku tak mau revisi terakhir laporan TA-ku terlambat.

Sudah seminggu Ibu Fatimah, guru SD-ku berkunjung ke Bandung. Telah seminggu pula aku tak sempat mengunjungi beliau. Besok Bu Fat sudah harus pulang. Tak ada waktu lagi, malam ini aku harus mengunjunginya. Ba’da magrib, aku berangkat ke rumah kerabat Bu Fat yang kebetulan adalah temanku, di Jalan Dipati Ukur. Tanganku dingin seperti akan menerima kertas ujian SPMB. Begitu rupanya reaksi tubuhku jika sudah sedemikian rindu.

Ketika aku sampai, Bu Fatimah sedang berkemas-kemas untuk persiapan pulang dini hari nanti. Beliau akan menumpang pesawat pukul 08.00 dari Bandara Soekarno-Hatta, maka pukul 01.00 Bu Fat sudah harus berangkat dari Bandung. Tak terasa sudah 10 tahun aku tak bertemu dengan Bu Fatimah. Beliau tampak lebih tua dari semenjak terakhir kami berjumpa. Namun, suara dan senyumnya tak lekang dimakan waktu. Garis-garis wajahnya menyiratkan jiwanya yang kukuh, tak lelah membagi ilmu kepada murid-muridnya. Kucium tangan Bu Fat yang kini mulai berkerut. Tak kusangka, bau minyak wangi beliau masih sama seperti dulu.

Ibu Fatimah adalah tipikal guru yang dekat dengan murid-muridnya, tipikal guru yang sesungguhnya. Kami saling bertukar cerita, menanyakan kabar masing-masing dan bernostalgia mengenang masa-masa SD-ku dulu. Rupanya sekarang Bu Fat sudah menjadi kepala sekolah, namun bukan di SD-ku dulu.

Aku teringat masa-masa ketika bersama beliau. Bu Fatimah membebaskan kami belajar sambil bermain. Suasana belajar di kelas beliau begitu menyenangkan. Murid kelas kami yang tak lebih dari 15 orang berebut mengerubungi meja beliau. Tak ada yang mau duduk di bangkunya sendiri dan tak ada yang mau ketinggalan mendengarkan penjelasan. Beliau tak pernah membatasi minat kami untuk belajar lebih cepat dari yang beliau ajarkan. Jadilah aku yang begitu menyukai pelajaran Matematika tak pernah menghabiskan lebih dari 2 bulan untuk melalap habis 1 jilid buku untuk 1 caturwulan.

Rumah Bu Fat pun tak pernah sepi kami kunjungi. Tak lelah kami bersepeda jauh-jauh hanya untuk belajar dan mendengarkan cerita-cerita beliau. Selesai belajar kami akan bermain sepuasnya di sekitar rumah Bu Fat yang tak jauh dari pantai. Aku paling suka memetik biji pohon karet atau bermain dengan kucing-kucing kesayangan Bu Fat.

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 24.00. Bu Fatimah sudah harus berangkat. Tak puas rasanya hanya berjumpa untuk beberapa jam saja. Bila masih ada umur, insyaAllah aku akan mengunjungi beliau saat pulang kampung nanti. Kucium lagi tangannya, tak lupa kuminta agar beliau mendoakanku. Kupandangi sampai jauh taksi yang membawa Bu Fat pulang. Semakin melayang rasa rinduku yang tak bertepi pada tanah kelahiranku. Dua malam yang sangat melelahkan sekaligus sangat berkesan.

Begitu aku menaruh hormat pada guruku ini. Beliaulah yang telah membuatku begitu menyukai Matematika sampai saat ini. Yang secara tak sadar telah membawaku atas izin Allah untuk menginjakkan kaki di kampus yang menjadi impian masa kecilku ini. Semoga Bu Fatimah senantiasa diberi keberkahan oleh Allah. Guruku, terimakasihku.....

Bandung, 7 Juni 2008
*kenang-kenangan menjelang sidang sarjana, hal serupa sudah menunggu di depan mata..yosh!  

Wednesday, May 28, 2008

Pelajaran Moral versi Laskar Pelangi

Ini adalah salah satu sisi paling lucu, absurd dan menarik menurut saya dari karya Andrea Hirata yang berisi pelajaran moral dan ungkapan-ungkapan yang mengandung sindiran. Selain teori gila menurut ibunya yang ada 44 macam itu tentu saja.

Berikut petikannya :
Pelajaran moral nomor satu : Jika tak rajin sholat maka pandai-pandailah berenang. 
Pelajaran moral nomor dua : Jangan tanyakan nama dan alamat pada orang yang tinggal di kebun. 
Pelajaran moral nomor tiga : Jika Anda cantik, hidup Anda tak tenang. 
Pelajaran moral nomor empat : Ternyata nasib yang juga sangat misterius itu adalah seorang pemandu bakat ! 
Pelajaran moral nomor lima : Jangan bersahabat dengan orang yang gila perdukunan. 
Pelajaran moral nomor enam : Jika Anda memiliki kesempatan untuk mendapatkan cinta pertama di sebuah toko kelontong, meskipun toko itu bobrok dan bau tengik, maka rebutlah cepat-cepat kesempatan itu, karena cinta pertama semacam itu bisa menjadi demikian indah tak terperikan ! 
Pelajaran moral nomor tujuh : Ternyata rahasia menarik perhatian seorang gadis adalah kita harus menjadi pelari yang gesit. 
Pelajaran moral nomor delapan : Jika Anda seorang produser film dan ingin untung besar, maka pakailah seorang sutradara yang otaknya bebal. 
Pelajaran moral nomor sembilan : Jika Anda sering ditanggap untuk berbicara di depan umum dan kerap tulalit karena kehabisan topik, maka belajarlah dulu jadi tukang gosip. 
Pelajaran moral nomor sepuluh : Jangan sekali-sekali datang ke Eropa pada bulan Desember. 
Pelajaran moral nomor sebelas : Untuk mendapatkan wanita cantik, tapi bodoh, rupanya Anda hanya perlu menjadi seorang provokator. 
Pelajaran moral nomor dua belas : Ke mana pun tempat telah kutempuh, apa pun yang telah kucapai, dan dengan siapa pun aku berhubungan, aku tetaplah seorang lelaki udik, tak dapat kubasuh-basuh. 
Pelajaran moral nomor tiga belas : Tukang jam, tukang reparasi televisi, tukang dadu cangkir dan penerbit buku adalah profesi-profesi yang patut dicurigai, dimana pun mereka berada. Jangan bicarakan keadaan negeri kita dengan seorang ekonom klasik. Pesimis ! 
Pelajaran moral nomor empat belas : Tertawalah, seisi dunia akan tertawa bersamamu; jangan bersedih karena engkau hanya akan bersedih sendiri.

Friday, May 02, 2008

Kehidupan Sosial Masyarakat dan Kerusakan Lingkungan berkaitan dengan Pertambangan Timah

Sejak pengelolaan timah dipegang penuh oleh PT. Timah, kehidupan sosial masyarakat mulai berubah. Sebagian besar pribumi menempati posisi pekerjaan rendahan di perusahaan ini. Sedangkan posisi-posisi strategisnya sebagian besar dipegang oleh orang luar daerah. Selama puluhan tahun terjadi kesenjangan sosial antara penduduk setempat dan pegawai-pegawai staf PT. Timah. Fasilitas yang disediakan oleh perusahaan untuk para pegawai staf sangat mewah, mulai dari fasilitas kesehatan, hiburan, olahraga, pendidikan dan lain-lain. Sedangkan masyarakat sekitar dan para pegawai rendahan hanya mendapatkan fasilitas yang tidak sebanding. Kesenjangan puluhan tahun ini lama-kelamaan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Puncaknya yaitu saat PT. Timah dilanda krisis pada akhir tahun 1980an sampai awal 1990an. Merosotnya harga timah dunia dan manajemen perusahaan yang salah urus disebut-sebut menjadi penyebabnya. PHK besar-besaran yang dilakukan perusahaan ini memunculkan angka pengangguran baru.

Masa-masa kejayaan pertambangan timah di Bangka Belitung telah melewati masanya. Krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1997 dan merosotnya harga komoditas pertanian lokal seperti karet dan lada memaksa ribuan petani mencari alternatif sumber penghidupan. Sebagian besar penduduk berubah profesi menjadi penambang di tambang-tambang inkonvensional (TI) atau tambang rakyat tak berizin. Aktivititas penambangan liar ini mulai marak sekitar tahun 2000an.

Pada tahun 1999, melalui Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No 146/MPP/Kep/4/1999 mengenai pencabutan timah sebagai komoditas strategis, Bupati Bangka saat itu, Eko Maulana Ali, sekarang Gubernur Provinsi Bangka Belitung, memberikan izin aktivitas penambangan skala kecil. Sejak saat itu, aktivitas penambang liar semakin tak terkendali. Data Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi tahun 2001 memperlihatkan, dari sekitar 70.000-an unit tambang rakyat, yang berizin hanya sekitar 30 persen.

Maraknya aktivitas penambangan liar ini secara tidak sadar cenderung sebagai pelampiasan penduduk lokal atas kesenjangan sosial yang telah terjadi selama puluhan tahun sebelumnya. Sektor ini kini menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat yang mendatangkan hasil jutaan rupiah. Lebih dari 70 persen penduduk dari setiap desa hidup dari TI. Sektor ini menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, apakah ini menjadi pertanda baik bagi kehidupan masyarakat di Bangka Belitung?

Kini masyarakat harus menghadapi dampak-dampak sosial karena maraknya aktivitas pertambangan rakyat ini, seperti kegiatan prostitusi, konsumtivisme, dan terkikisnya nilai-nilai positif lokal. Belum lagi, kerusakan lingkungan yang semakin tak terkendali.

Aktivitas penambangan liar yang semakin tak terkendali telah menjadi penyumbang terbesar pula bagi kerusakan lingkungan. Tanpa pengendalian dan pengawasan, tambang-tambang ini meninggalkan lubang-lubang menganga dan lahan-lahan tandus yang perlu waktu ratusan tahun untuk memulihkannnya kembali. Itupun kalau kegiatan reklamasi berjalan sebagaimana mestinya.

Reklamasi yang dilakukan oleh PT. Timah terhadap lahan bekas penambangan menemui berbagai hambatan. Kegiatan ini sempat terhenti beberapa tahun dan kelangsungannya tersendat-sendat. Hal ini disebabkan oleh aktivitas TI yang sering menambang di bekas lahan galian PT.Timah yang akan atau sudah direklamasi dan baru mulai menjadi hutan-hutan muda. PT. Timah memang menyisakan 10-15 persen kandungan bijih timah di suatu lahan pertambangan.

Kegiatan pertambangan di Bangka Belitung telah mencemari air permukaan, merusak hutan dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Namun di lain pihak, ternyata sekitar 70-80 persen produksi PT. Timah dan PT. Kobatin, dua perusahaan resmi pertambangan timah di Bangka Belitung, diperoleh dari TI. Jadi, rakyat bukan satu-satunya pihak yang bertanggungjawab atas kerusakan lingkungan di daerah ini. Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apa yang tersisa untuk generasi Bangka Belitung di masa mendatang?

Bandung, 21 Februari 2008
[dari berbagai sumber]

Sejarah Pertambangan Timah di Bangka Belitung

Propinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah sejak lama identik sebagai penghasil timah. Komoditas tambang berharga ini telah mewarnai ratusan tahun periode kehidupan sosial masyarakat di daerah ini. Menurut data dari Commodity Research Unit tahun 2005, kontribusi Bangka Belitung sekitar 90.000 ton dari sekitar 333.900 ton timah dunia.

Sebelum timah ditemukan, Bangka Belitung dipandang sebelah mata oleh para penguasa. Penambangan timah dimulai pada abad ke 18 ketika orang-orang Tionghoa mulai berdatangan. Karena kandungan bijih timah yang kaya, Bangka Belitung seolah menjadi barang dagangan yang diperebutkan oleh berbagai bangsa. Sebut saja Inggris, Belanda dan Kesultanan Palembang. Sampai pada masa penjajahan Belanda, pertambangan timah di Pulau Bangka dikelola oleh badan usaha pemerintah kolonial “Banka Tin Winning Bedrijf” (BTW). Sedangkan di Belitung dan Singkep dikelola oleh perusahaan swasta Belanda, masing-masing Gemeenschappelijke Mijnbouw Maatschappij Biliton (GMB) dan NV Singkep Tin Exploitatie Maatschappij (NV SITEM).

Setelah kemerdekaan RI, ketiga perusahaan Belanda tersebut dinasionalisasikan antara tahun 1953-1958. Pada tahun 1961 dibentuk Badan Pimpinan Umum Perusahaan Tambang-tambang Timah Negara (BPU PN Tambang Timah) untuk mengkoordinasikan ketiga perusahaan negara tersebut. Pada tahun 1968, ketiga perusahaan negara dan BPU tersebut digabung menjadi satu perusahaan yaitu Perusahaan Negara (PN) Tambang Timah.

Dengan diberlakukannya Undang-undang No. 9 Tahun 1969 dan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1969, pada tahun 1976 status PN Tambang Timah dan Proyek Peleburan Timah Mentok diubah menjadi bentuk Perusahaan Perseroan (Persero) yang seluruh sahamnya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia dan namanya diubah menjadi PT Tambang Timah (Persero).

Krisis industri timah dunia akibat hancurnya The International Tin Council (ITC) sejak tahun 1985 memicu perusahaan untuk melakukan perubahan mendasar untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Restrukturisasi perusahaan yang dilakukan dalam kurun 1991-1995, yang meliputi program-program reorganisasi, relokasi Kantor Pusat ke Pangkalpinang, rekonstruksi peralatan pokok dan penunjang produksi, serta penglepasan aset dan fungsi yang tidak berkaitan dengan usaha pokok perusahaan. Saat ini PT Timah (Persero) Tbk dikenal sebagai perusahaan penghasil logam timah terbesar di dunia, 35 persen saham perusahaan dimiliki oleh masyarakat dalam dan luar negeri, dan 65 persen sahamnya masih dimiliki oleh Negara Republik Indonesia.

Bandung, 21 Februari 2008
[dari berbagai sumber]

Kakekku yang Cendekia

Waktu itu aku masih sangat kecil untuk mengingat banyak hal. Mungkin hari-hari itu usiaku belum genap 4 tahun, sehingga tak banyak kenangan bersama kakek yang bisa terekam jelas dalam memoriku. Mungkin, hanya dua hal yang bisa kuingat. Waktu itu, kakek sering menggunakan tongkat, mungkin tubuhnya sudah sedemikian lemah untuk bisa berjalan tegak. Lalu yang kedua, beliau selalu meniup ubun-ubunku dan juga abangku setiap sore jika kami berkunjung ke rumah beliau. Sampai sekarang hal ini masih membuatku bertanya-tanya. Dan seingatku beliau tak pernah melakukannya pada kakak dan abang-abang sepupuku.

Beliau meninggal ketika usiaku baru 4 tahun, 3 bulan dan 21 hari. Hari itu adalah penghujung tahun 1990, tepatnya 31 Desember 1990. Sebelumnya beliau tidak mengalami sakit, hanya sejak pagi beliau tampak lemah dan terbaring di tempat tidur. Ayah, ibu, paman dan bibi-bibiku sudah berkumpul sejak pagi. Yang kuingat pada menit-menit terakhir sebelum wafat, beliau selalu menanyakan waktu. “Jam berapa sekarang ?”, ucap beliau lirih. Demikian berulang-ulang, padahal sebuah jam weker berada di samping beliau. Mungkin beliau sudah tak sabar ingin sholat Ashar dan hanya beberapa menit menjelang waktu Ashar beliau meninggalkan kami semua. Ayah, ibu, paman dan bibi-bibiku menangis dan aku pun ikut menangis. Karena masih kecil, aku tak paham betul apa yang terjadi ketika itu, sehingga sambil menangis aku berkata pada ayahku : “Aku tak punya kakek lagi….”. Lalu ayahku menjawab : “Sudah, jangan menangis lagi, kan masih ada kakek yang satunya lagi…”. Dan seketika tangisku reda. Demikian sederhana pemikiranku saat itu.

Maka, karena kakek sudah meninggal sejak aku masih kecil, aku lebih banyak mengenal beliau dari cerita-cerita ayahku. Alhamdulillah sejak kecil aku demikian suka bertanya tentang banyak hal, dan ayahku pun tak pernah lelah menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

Dari cerita-cerita ayah, aku mengenal pribadi bersahaja ini. Beliau adalah orang yang pintar dan demikian suka belajar. Dulu, kakek hanya pernah mengenyam pendidikan dasar jaman Belanda, dan itu pun tidak tamat. Aku tak tahu jelas alasannya. Mungkin karena berkepribadian terbuka dan selalu ingin tahu, beliau tak cocok dengan gaya pendidikan Belanda bagi pribumi ketika itu. Tetapi, Subhanallah, pemikirannya jernih luar biasa. Dulu aku mengira kakekku pernah menempuh pendidikan tinggi, karena buku-buku beliau demikian banyak, bertumpuk-tumpuk dan tak sedikit dari buku-buku beliau merupakan teks wajib di perguruan-perguruan tinggi. Buku beliau bermacam-macam, mulai dari buku-buku agama, sastra, sejarah, hukum dan lain-lain. Rupanya beliau memang seorang pembelajar dan otodidak yang sebenarnya.

Jaman dulu orang tak terlalu mementingkan soal ijazah, yang penting adalah kompetensi yang dimiliki. Tak terlalu buruk bagi kakek, dengan pendidikan formal yang demikian rendah, kakek pernah dipercaya pemerintah untuk menjadi seorang camat. Dulu namanya asisten wedana. Beliau pernah ditugaskan di Membalong, lalu dipindahkan ke Merawang di Pulau Bangka. Ketika akan dipindahkan lagi ke kecamatan Kelapa, beliau lebih memilih untuk pensiun dan pulang ke Belitong. Ketika bertugas di Bangka inilah beliau bersahabat dengan Kemas Duri, ayah dari Rafika Duri.

Waktu ditugaskan di Merawang, kakek sering diberi hadiah berupa hasil-hasil bumi dan peternakan oleh penduduk sekitar. Tapi kata ayah, kakek selalu menolak dengan halus pemberian mereka. Beliau demikian hati-hati memegang amanah sebagai pemimpin. Bila semua pejabat jaman sekarang berpendirian seperti itu, mungkin kita tak ’kan mengenal kosakata korupsi, kolusi, dan nepotisme di negara ini.

Sejak dulu aku senang sekali menjadi semacam peneliti sejarah, sejarah apapun itu. Maka tak heran aku demikian bersuka cita jika diajak ayah ke rumah peninggalan kakek. Ayah sering merapikan naskah-naskah kuno dan buku-buku milik kakek. Di sana banyak hal yang bisa kupelajari. Banyak sekali salinan surat-surat kakek ke berbagai penerbit. Rupanya secara rutin beliau memesan buku-buku ke penerbit-penerbit di Pulau Jawa. Selain itu, beliau sering berkirim surat ke berbagai sahabat, kerabat dan anak-anak beliau yang ketika itu bersekolah di Pulau Jawa, yaitu paman dan ayahku. Maka, kebiasaan kakekku ini mendukung hobiku yang lain sebagai filatelis.

Dulu sebelum direnovasi, rumah kakek punya satu ruangan kecil yang beliau pakai khusus untuk belajar. Di sana ada meja belajar kayu model lama, sepasang bangku dengan meja bulat untuk beliau menerima sahabat-sahabat dan handai taulan, buku-buku dan berbagai alat tulis. Rak buku tak diletakkan di ruangan itu, karena ruangan itu terlau sempit untuk meletakkan rak buku yang demikian besar untuk menampung buku-buku beliau.

Kakekku juga seorang yang disiplin dan rapi dalam berbagai hal. Hal ini terlihat dari cara beliau membagi waktu dan menata berbagai hal. Kuduga ada hubungan disiplin ini dengan pertanyaan beliau yang berulang-ulang sebelum beliau wafat, pertanyaan tentang waktu. Beliau juga menuliskan dengan rinci berbagai pengeluaran dan pemasukkan setiap bulan. Selain itu, tak terlewatkan pula dalam buku catatan beliau mengenai berbagai peristiwa-peristiwa penting yang beliau alami selama hidup. Tak terkecuali kelahiran anak-anak dan cucu-cucu beliau. Kuingat pula ada sebuah lemari kecil tepatnya kotak yang dipasang menempel pada dinding. Di kotak itu beliau menyimpan berbagai obat-obatan dan perlengkapan P3K.

Dari cerita ayah dan pamanku pula aku mengenal watak kakek yang cukup keras. Dulu waktu kakek masih tinggal di rumah yang lama di Jalan Merdeka, beliau punya kebiasaan duduk-duduk di teras sambil membaca. Ada salah seorang kerabat kami yang senang sekali bersiul, tetapi begitu lewat dekat rumah kakek ia tak ‘kan berani bersiul. Nyalinya terlalu kecil untuk menghadapi hardikan kakekku. Di rumah ini juga kakek menanam berbagai pohon buah-buahan. Pohonnya besar-besar dan tinggi sehingga layangan anak-anak di kampung itu seringkali tersangkut. Namun, tak ada anak yang berani memanjat untuk mengambil kembali layangan mereka, karena kakek akan sangat marah. Beliau juga akan sangat marah jika anak-anak beliau tak disiplin soal waktu. Aku tak pernah melihat rumah kakek yang di Jalan Merdeka ini, karena sebelum aku lahir rumah itu telah dijual dan menjadi kantor cabang BRI Tanjongpandan sampai saat ini. Aku hanya tahu rumah kakek yang sekarang, dan waktu kecil aku pun sempat tinggal di situ.

Kakekku juga sangat memperhatikan masalah pendidikan. Dengan segenap daya upaya yang bisa beliau lakukan, beliau selalu mendukung pendidikan anak-anaknya. Tapi, entah siapa yang salah. Sebagian besar anak-anak beliau tak terlalu mulus menjalani soal pendidikan ini. Banyak yang memilih berhenti dengan berbagai alasan, bahkan walaupun sudah sampai jenjang perguruan tinggi. Aku tak tahu jelas apa alasannya.

Demikian banyak kesan mendalam tentang kakekku yang kusimpan baik-baik dalam ingatanku. Aku merasa beruntung memiliki kakek seperti beliau. Kakekku dianggap ayahnya dulu sebagai anak yang beliau pilih untuk mengurus berbagai hal yang berhubungan dengan keluarga besar kami. Padahal kakekku bukan anak laki-laki tertua yang lazimnya dipilih orang Melayu untuk hal itu. Kuduga, kakekku memiliki kapasitas intelektual dan kebijaksanaan yang menjadi pertimbangan ayahnya untuk memilih beliau. Demikian mungkin yang tersirat dalam surat wasiat kuno dari leluhur beliau Ki Agus Endek yang sempat kubaca. Surat itu ditulis dalam huruf Arab Melayu dan dikirim dari Mekah melalui seorang kurir ketika Ki Agus Endek sedang menunaikan ibadah haji. Disana tertulis kata-kata : “......untuk anak cucuku yang cerdik dan cendikia....”

Dengan penuh rasa bangga aku menceritakan kebersahajaan, pendirian, dan kecendikiaan kakekku, 
Ki Agus Razak Unus bin Ki Agus Unus. Beliau lahir pada tahun 1909 dan meninggal pada usia 81 tahun. Semoga Allah menerima amal ibadah beliau dan mengampuni kesalahan-kesalahannya. Amin...

Bandung, 30 April 2008