Wednesday, October 16, 2013

Balada Gerbong Kereta

Catatan Perjalanan di akhir musim panas, September 2013

Musim panas baru saja berlalu, namun hangatnya masih meninggalkan bekas dalam ingatan. Hari-hari kelabu tak bermatahari, semilir angin dingin merenggut daun-daun yang tak kuasa lagi berpegang erat pada rantingnya. Ada perasaan sedih terselip dalam hati ini, perasaan seperti ditinggalkan orang terkasih, yang menyelinap diam-diam tanpa peringatan.

Aku gemar sekali menghabiskan waktu luangku memperhatikan lalu lalang manusia dan hiruk pikuknya di dalam gerbong kereta. Sore ini, seperti hari-hari yang telah lalu dalam dua tahun terakhir ini, sesekali kuluangkan akhir pekanku untuk mengunjungi sahabatku Mira di kota Nijmegen, Belanda. Sebuah kota kecil nan cantik di hilir Sungai Rhein, yang berubah namanya menjadi Rijn dalam lafal Belanda. Dua setengah jam perjalanan kereta melintasi perbatasan Jerman-Belanda di Kota Kaldenkirchen-Venlo ini selalu menyisakan kesan yang senantiasa menyemai kenangan.  

Biasanya aku memulai perjalanan pada sore hari dan sampai di stasiun Nijmegen Centraal menjelang magrib. Aku menumpang kereta pertama menuju Viersen, kereta regional tujuan Mönchengladbach. Kereta ini hanya 1 tingkat, tak seperti jenis kereta regional lainnya yang biasanya bertingkat 2. Perjalanan tak sampai 1 jam ini biasanya kuhabiskan dengan membaca buku, sambil sesekali memperhatikan orang-orang yang lalu lalang dan asyik dengan kesibukannya masing-masing.

Hampir selalu aku bertemu orang-orang yang membawa serta anjing peliharaannya, anjing-anjing yang sudah terbiasa diajak dalam perjalanan antar kota, sehingga jarang sekali menyalak atau mengganggu penumpang lain. Sore ini, seorang nenek menggendong seekor anjing mungil nan lucu, yang sejak tadi hanya memperhatikan saja lalu lalang orang di sekitarnya, damai dia dalam gendongan sang nenek. Lalu tak jauh dari bangku mereka, duduk seorang Bapak yang sejak tadi membolak-balik halaman surat kabar, mimik mukanya agak serius, tak tertarik dia pada keadaan di sekelilingnya.

Salah satu alasanku membaca buku dalam perjalanan adalah kegemaranku menghubung-hubungkan peristiwa-peristiwa dalam buku pada kenyataan yang sedang kualami dalam setiap perjalanan. Selalu saja jalinan cerita dalam buku yang kubaca saling terhubung dengan khayalan dan memori dalam tempurung kepalaku yang tak lebih besar dari bola cricket ini. Lalu frame-frame pemandangan dari jendela kereta melesap berganti-ganti seperti rangkaian cerita dalam film-film.

Selalu ada suasana berbeda di setiap musim. Beberapa bulan lalu di musim semi, ladang gandum masih menghijau, ladang raps menguning sempurna, lalu beberapa hamparan lainnya ditanami sayur-sayuran. Di akhir musim panas ini, gandum telah selesai dipanen, gulungan jerami dibiarkan terserak di ladang-ladang. Beberapa ladang sudah ditanami jagung yang tak lama lagi akan dipanen di musim gugur. Ketika kereta berjalan agak melambat, pelan-pelan aku bisa melihat pucuk-pucuk pepohonan yang berbaris rapi di kejauhan, rupanya pohon-pohon cemara yang sengaja dibudidayakan untuk hiasan di hari Natal.

Ladang-ladang ini sungguh luas seperti tak bertepi, sampai batas cakrawala yang kulihat hanya hamparan hijau tanam-tanaman. Batas-batasnya adalah deretan pepohonan yang berjajar rapi atau jalan-jalan desa yang hanya sesekali dilalui kendaraan. Rumah-rumah petani dengan kebun kecil berbunga sesekali menyembul di balik pepohonan, menyelinap berganti-ganti dengan pemandangan orang bersepeda atau mesin-mesin pertanian yang teronggok bisu tak bertuan. Tak lama lagi, pohon-pohon ini akan menguning, memerah, lalu berguguran daunnya tertiup angin, menyisakan ranggas yang harus tegar menantang beku. Ladang-ladang ini pun akan tidur panjang berselimut salju, putih menyilaukan mata.


Lalu aku akan melintasi perbatasan dengan kereta kedua, Eurobahn, kereta kuning yang akan mengantarkanku sampai ke Kota Venlo. Biasanya aku hanya berdiri saja dalam kereta ini, karena perjalanannya tak lebih dari setengah jam. Desa-desa yang kulewati semakin sulit aku mendefinisikannya, masih Jerman atau sudah Belanda, biasanya aku bisa menandainya jika sinyal telepon genggamku sudah berubah menjadi NL-KPN, sebuah nama operator komunikasi asal Belanda. Tanda lain adalah semakin banyaknya kulihat orang bersepeda. Di dalam kereta ini, biasanya lebih banyak kutemui orang-orang yang berbicara dalam bahasa Belanda, mimik wajah mereka lebih ramah, lebih terkesan santai dan tidak sekaku orang Jerman. Dari tadi sekelompok anak usia belasan tahun tak berhenti bercerita, mereka sepertinya sedang merencanakan liburan akhir pekan bersama-sama, ah aku hanya menebak-nebak saja karena aku tak begitu paham bahasa Belanda.

Oh iya, buku yang kubaca sore ini adalah "Teman Merawat Percakapan", sebuah catatan jejak perjalanan berkarya Pak Koskow dalam dunia seni grafis. Beliau adalah dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta, seorang guru sekaligus sahabat dari sahabatku Ponda. Cerita-cerita Pak koskow tentang masa kecilnya, tentang reuni bersama kawan-kawan SD-nya sampai pengalaman-pengalamannya berkarya dari waktu ke waktu telah memenuhi otakku akan kenangan-kenangan pada tanah air tercinta. Seseorang pernah mengatakan padaku, cerita yang luar biasa itu bukan tentang pencapaian yang tiada terkira, namun justru tentang keseharian yang senantiasa menorehkan makna untuk kemudian dikenang pada masa yang akan datang. Itulah cerita yang dimiliki semua orang, yakni cerita tentang masa kecil yang tak terlupakan, cerita tentang perjuangan menemukan makna kehidupan, cerita tentang persahabatan atau cinta yang tak lekang dimakan waktu. Cerita-cerita yang sama sesungguhnya akan selalu kita temukan kapan saja dan tak peduli di mana, bahkan di sudut-sudut kereta di negeri jauh ini. Dia melintasi batas negara dan budaya, bahkan mimik wajah bisa menceritakan seribu kisah yang boleh jadi hanya tak mampu saja terekspresikan lewat kata-kata.

Kereta berhenti lambat-lambat di ujung stasiun Venlo. Aku turun dengan sedikit tergesa demi mengejar kereta selanjutnya, kereta senja Veolia. Hiasan bunga-bunga plastik di tiang-tiang stasiun tak kuhiraukan, bunga-bunga yang tetap cantik di segala musim, tak peduli musim apa dan tak peduli pula dengan lalu lalang orang-orang di sekitarnya. Kereta Belanda ini berwarna merah putih dan di beberapa dinding luarnya terlukis wajah-wajah tokoh yang tak kukenal, entah siapa. Perjalanan dari Venlo menuju Nijmegen kurang lebih 1 jam, dan perjalanan terakhir ini yang sesungguhnya paling kutunggu-tunggu, saat lembar-lembar terakhir buku yang kubaca mencapai kesimpulannya, lalu segenap cerita mencapai titik baliknya, berkejaran dengan matahari yang pelan-pelan menunduk ingin mencumbu cakrawala. Awan kelabu sedikit tersibak membiarkan berkas-berkas sinar dari langit mengintip malu-malu pada sapi-sapi gemuk yang digiring petani pulang ke kandang. Kemudian perlahan ladang-ladang petani berganti oleh deretan rumah penduduk, lalu tak lama kemudian Sungai Rijn dengan cantiknya memantulkan kilau matahari senja. Sebuah sore yang sempurna, sesempurna ingatanku akan kenangan pada orang-orang tercinta. Lalu sebaris kata-kata dari Buku "Teman Merawat Percakapan" terngiang-ngiang dibisikkan angin senja: "Aku mengingatmu dengan cara yang sederhana, menyimpanmu di tempat yang teristimewa."

Bochum, 16 Oktober 2013
[Tamat]
[Sambungan dari: Balada Stasiun Kereta:
http://maktjik.blogspot.de/2012/12/balada-stasiun-kereta.html]

2 comments:

-ia- said...

Semoga maktjik selalu ada waktu yg lapang untuk mengunjungiku di kota Nijmegen yang berhiber ini.
Nanti, maktjik akan kujemput di peron 1b :D

Nyiayu Hesty Susanti said...

kunjungan selanjutnya naik bis! gratis, tunggu di samping stasiun atuh berarti, hehehe