Tuesday, February 11, 2014

"Ich bin Arzt"

Hari ini aku bangun lebih pagi dari biasanya. Salah satu kebiasaanku sejak dulu, jika ingin bertemu seorang guru untuk pertama kalinya, malam sebelumnya pasti aku tak enak tidur. Pikiranku menerawang, membayangkan untaian-untaian ilmu baru yang akan kudengar keesokan harinya.

Hari ini adalah salah satu hari besar bagi diriku sendiri. Aku akan bertemu seorang dokter yang akan membagi ilmunya padaku, pada kami. Pertama kali kudengar namanya dari Supervisorku, tak menunggu lama, segera kucari segala informasi yang berhubungan dengan sepak terjang sang dokter dalam bidang yang digelutinya. Informasi sudah terkumpul di kepalaku, Tim begitu namanya, singkat saja dan mudah dihafal, wajahnya sudah kuingat, begitu pula bidang keahliannya dan sedikit sifat antusiasnya yang diceritakan oleh Supervisorku.

Belum lepas tengah hari, aku dan Supervisor ke duaku menuju rumah sakit tempat sang dokter bekerja. Supervisor keduaku ini seorang ibu muda, Stefi namanya, bahasa Inggrisnya tak selancar Supervisor pertamaku. Namun tak sedikit pun hal ini menghilangkan keramahannya padaku dan secara tak langsung dia adalah guru Bahasa Jermanku selama lebih dari setahun terakhir ini. Jalanan masih sedikit basah sisa hujan tadi malam, Stefi  memarkir mobilnya pelan-pelan.

Tadi selama di perjalanan, Stefi bercerita tentang rumah sakit tempat Tim bekerja. Berufsgenossenschaftliches Universitätsklinikum Bergmannsheil begitu nama rumah sakit ini dalam bahasa Jerman, mungkin jika diterjemahkan secara bebas, kira-kira artinya rumah sakit yang berhubungan dengan pekerjaan (profesi) sekaligus sebagai sarana penelitian bagi universitas, profesi dalam hal ini pekerja tambang, dan universitas yang dimaksud adalah Ruhr Universität Bochum, universitas tempatku belajar saat ini. Sejarahnya begini, dulu sekali, Bochum dan kota-kota sekitarnya sepanjang Sungai Ruhr merupakan salah satu pusat pertambangan batubara di Eropa. Rumah sakit ini didirikan dalam rangka untuk menangani pekerja-pekerja pertambangan yang mengalami kecelakaan ketika menjalankan tugasnya. Bergmannsheil ini sudah sejak lama terkenal dalam bidang penanganan emergency (gawat darurat), sehingga menjadikannya rumah sakit emergency tertua dan terbesar di dunia. Fasilitas klasik, lengkap dan bersahaja ini rupanya tak jauh-jauh, tak lebih dari selemparan buah jambu dari tempat tinggalku. Kini, Bergmannsheil tidak hanya dikhususkan bagi pekerja tambang, namun terbuka untuk semua kalangan dan menjadi salah satu rumah sakit pendidikan yang mendukung penelitian di Ruhr Universität Bochum, khususnya Fakultas Kedokteran.

Sejak kecil, aku tak pernah takut ke rumah sakit. Aku senang memperhatikan dokter-dokter yang lalu lalang dengan jas putih dan stetoskop yang tergantung di leher mereka. Namun, tak pernah sekali pun aku bercita-cita ingin menjadi dokter, alasannya pun aku sendiri tak pernah tahu, pokoknya tak mau saja. Kami memasuki pintu utama, sudah 3 pasien berkursi roda yang lalu lalang di hadapanku. Pelajaran pertama, bersyukur, kedua kakiku masih kuat berjalan dan berlari ke sana kemari. Tak lebih dari 5 menit, Tim datang menyambut kami, wajahnya sumringah seperti baru bertemu kawan lama. Pakaian yang dikenakannya berwarna hijau tua, pakaian untuk operasi, pada saku jas putihnya terselip telepon emergency yang sering sekali berdering, dan berkali-kali dia minta maaf pada kami gara-gara telepon emergency ini.

Ruangan Tim lebih tampak seperti "bengkel" teknik daripada ruangan seorang dokter. Satu set ultrasonic device teronggok di sudut ruangan, jarum suntik dan kateter dari berbagai model dan ukuran berserakan di meja dan kardus-kardus. "Saya pencandu kopi", begitu kalimat perkenalannya padaku sambil tertawa ringan. Dia menawari kami kopi, tapi kuminta saja segelas air putih, perutku tak enak lantaran terlalu bersemangat sejak tadi pagi. "Dia mengerti Bahasa Jerman, namun akan lebih sering berbicara dalam Bahasa Inggris", begitu Stefi mengenalkanku pada Tim. Tim mengangguk senang, dan dia tampak lebih senang ketika tahu aku berasal dari Indonesia, tak tahu aku apa alasannya.

Obrolan kami mengalir hangat, Tim membuka-buka file presentasinya, menerangkan pada kami masalah-masalah yang dia hadapi dalam dunia klinis. Tim adalah seorang ahli anestesi, selain praktik sebagai dokter di Bergmannsheil, dia juga seorang Doktor yang aktif meneliti dan hadir dalam forum-forum ilmiah. Aku menjadi saksi bagaimana bersahajanya dokter muda ini. Sedikit banyak aku tahu sepak terjangnya dalam bidang ini, namun berkali-kali dia katakan "Ich bin Arzt", "Saya adalah dokter". Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, dia berkata begitu sembari menunjukkan kejanggalan-kejanggalan pada jarum suntik yang ditusukkannya ke tubuh pasien. Dia kehilangan jejak, pada berbagai keadaan tertentu, ultrasonik tak mampu "melihat" jarum yang menembus tubuh pasien, dia tak tahu alasannya karena dia seorang dokter, bukan insinyur. Untuk itu lah kami datang padanya, kami akan saling membantu memecahkan misteri ini, sampai suatu hari nanti ketika tiba saatnya aku boleh pulang ke tanah air.

Begitu ideal kondisi penelitian di Jerman ini, setidaknya sinergi seperti ini belum terlalu jamak kita temui di tanah air. Tapi, aku yakin, suatu hari nanti hal ini bukan tak mungkin kita wujudkan. Para ahli dari berbagai bidang duduk bersama dalam satu meja, satu sama lain saling melengkapi tanpa sekat-sekat senioritas dan fanatisme profesi.

Berbagai rekaman proses anestesi dan biopsy ditunjukkan oleh Tim pada kami. Giliran kami yang memaparkan ide-ide padanya, pandangan kami sebagai insinyur. Aku menunjukkan sebuah grafik yang kukerjakan dalam sebulan terakhir ini. Di sini aku belajar berbicara bagaimana menerjemahkannya bahasa teknik ke dalam bahasa yang bisa dimengerti oleh dokter, tak mudah memang, tapi tetap kucoba. Aku harus mengulang sampai 3 kali hingga Tim mengerti, dia mengangguk-angguk senang, dan sekali lagi dia berkata "Ich bin Arzt". Stefi nampak tak begitu kuat melihat rekaman "berdarah-darah" yang ditunjukkan Tim, aku malah menunjuk-nunjuk senang, kami bertiga pun lalu tertawa riang.

Tak terasa 1,5 jam berlalu begitu cepat. Tim mengoleh-olehi kami satu kardus berisi jarum suntik dan kateter dari berbagai ukuran untuk kami pakai dalam eksperimen nanti. Dia berseloroh, "Apa lagi yang bisa saya bantu dan sediakan? Jangan segan-segan memberitahu, asalkan bukan masalah fisika dan teknik", ujarnya sambil tertawa senang. Supervisorku ternyata benar, Tim adalah seorang dokter yang ramah dan antusias. Dia senang bisa berbagi dan mengutarakan masalah-masalah teknik yang dihadapinya pada kami. Tiba-tiba telepon Tim berdering lagi, kali ini benar-benar emergency. Tim harus segera berada di ruang operasi. Dia mengantar kami menuju lift sambil berlari sedikit tergesa, lalu dia berjanji akan mengatur jadwal pertemuan berikutnya.


Aku dan Stefi kembali menuju kampus sambil mendiskusikan rencana-rencana selanjutnya. Kami diliputi rasa senang karena keramahan dan ilmu-ilmu baru yang kami peroleh dari Tim. Di perempatan lampu merah menuju kampus, Stefi tiba-tiba menunjuk sebuah rumah tua. "Hesty, kau harus melihat rumah ini nanti beberapa bulan lagi". Aku bingung, apakah gerangan yang istimewa dari rumah ini. Stefi bercerita bahwa saat musim bunga tiba beberapa bulan lagi, rumah ini akan berubah menjadi istana kecil seperti dalam dongeng, berhias bunga warna-warni pada taman dan dinding-dindingnya. Aku mengangguk-angguk diliputi rasa penasaran. Namun rasa penasaranku ini tak mampu mengalahkan rasa penasaranku yang lain pada sekardus jarum suntik yang akan menemani kami hingga berbulan-bulan ke depan nanti, semoga mereka pun tak kalah "berbunga" dibandingkan rumah mungil ini.

Bochum, 11 Februari 2014.

4 comments:

Riph said...

Ternyata cerita yang masih terus bersambung. Tulisan yang menarik. Sebuah petualangan yang epik, tabik!
:D

Nyiayu Hesty Susanti said...

Terima kasih atas apresiasinya, Riph :D

Hidajah Mochzeober said...

sangat suka membaca tulisan kamu

terima kasih kerana berbagi cerita :)

Nyiayu Hesty Susanti said...

Terima kasih, Hidajah :D