Tuesday, July 15, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 18 Ramadhan, Kartu Pos dari Texas

Membuka kotak surat selalu menjadi kebiasaan menyenangkan bagiku. Walaupun sedang tidak menunggu surat atau paket, kejutan-kejutan yang tak jarang kutemui di dalam kotak surat menjadikan rutinitas ini tak pernah membosankan. Sore kemarin, sepulang dari kampus, kutemukan selembar kartu pos bergambar bunga tergeletak di dalam kotak suratku. Setelah kubaca ternyata dikirim jauh melintasi samudera, dari Amerika.

Kartu pos cantik itu tepatnya bergambar sebuah buldozer yang teronggok di padang bunga bluebonnet, bunga khas musim panas yang banyak tumbuh di Negara Bagian Texas. Aku tersenyum membacanya. Dalam hatiku, kartu pos ini benar-benar merepresentasikan karakter pengirimnya, tomboy tapi sekaligus feminin. Uple, begitu kami biasa memanggilnya, pertama kali kukenal ketika dia baru memulai Tugas Akhir sarjananya di lab kami, lab Instrumentasi Medik, sekitar 4 tahun yang lalu. Uple sebenarnya berasal dari gedung sebelah, Jurusan Biologi, bukan Teknik Fisika. Tetapi kerjasama yang sudah terbangun sejak satu tahun sebelumnya antara lab kami dengan salah satu lab di Biologi telah mengantarkan Uple sejak saat itu menjadi sahabat sepermainan kami.

Aku teringat pada diriku sendiri bertahun-tahun sebelumnya ketika pertama kali bertemu Uple. Gadis ini sekilas tak tampak seperti perempuan kebanyakan seusianya. Pakaiannya lebih seperti anak laki-laki. Namun siapa sangka, setelah bertahun-tahun aku bersahabat dengannya, kuketahui bahwa perasaan Uple halus luar biasa. Uple dibesarkan sebagai anak tunggal dari orang tua yang keduanya adalah polisi. Aku yang sejak kecil sangat tertarik dengan hal-hal berbau militer, selalu tersenyum mendengar cerita-cerita Uple tentang masa kecilnya. Bagaimana pleton-pleton taruna Polri, kendaraan-kendaraan militer dan senjata menjadi kesehariannya. Cerita-cerita yang didengar Uple sejak masa kecilnya adalah tentang bagaimana ibunya mengurus korban-korban tindak kriminalitas, terutama perempuan dan anak-anak, bagaimana ibunya menghadapi para pelanggar lalu lintas di jalan raya, atau tentang bagaimana ayahnya terlibat dalam operasi penangkapan buronan berbagai tindak kejahatan. Lingkungan seperti ini telah membentuk karakter Uple menjadi seorang pemberani.  

Salah satu hal yang kukagumi dari sahabatku ini adalah sifat kemandiriannya. Walaupun lahir sebagai anak semata wayang, tak pernah ada kesan manja dan keras kepala yang tampak darinya, dua karakter yang aku sendiri pun sangat sulit menghilangkannya jika berinteraksi dengan orang-orang terdekat. Meski usianya lebih muda, sesungguhnya Uple berpikir jauh lebih dewasa. Tahun-tahun terakhirku di Bandung banyak kuhabiskan bersama Uple. Kami mengelilingi pelosok Bandung dengan sepeda motornya yang legendaris itu. Sepeda motor ini juga telah mengantar Tante, sahabat kami yang lain, ke sana ke mari, menerobos hujan, panas, dan malam yang dingin.

Uple, sama sepertiku dan beberapa sahabat kami yang lain, punya cita-cita untuk merantau ke tempat-tempat yang jauh dan merasakan pengalaman menuntut ilmu di negeri orang. Fase-fase pencarian ini kami lalui dalam proses yang tidak mudah. Penolakan demi penolakan tak jarang membuat semangatnya sedikit surut, tetapi cita-cita yang sudah tertanam sejak lama membuatnya tak menyerah. Aku dan beberapa sahabatku merantau lebih dahulu ke Eropa. Dia masih harus bersabar menunggu gilirannya tiba.

Lalu pada suatu sore, aku menerima kabar gembira. Uple mengabariku bahwa dia diterima di salah satu universitas di Amerika, tinggal menunggu beasiswa. Untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjana di luar negeri, tak jarang urusan beasiswa ini justru menjadi kunci. Banyak kawan-kawanku yang sudah diterima di universitas, namun urung untuk memulai studinya lantaran tak memiliki beasiswa. Uple melamar ke salah satu lembaga beasiswa yang prestisius dari Amerika, Fulbright. Aku yakin seyakin-yakinnya dia akan diterima, karena aku tahu bagaimana kemampuannya. Namun, sebagai orang beragama, kami tetap berusaha, menunggu dan menyerahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa.

Nasib memang telah merentangkan sayap-sayapnya, penuh misteri sehingga kita hanya bisa menduga-duga. Perjalanan panjang meraih cita-cita sungguh tak akan sia-sia. Ada banyak peluh dan air mata yang senantiasa mengiringinya. Musim panas tahun lalu, Uple akhirnya berangkat ke Amerika untuk memulai studi S2-nya dalam bidang neuroscience di University of Texas at Dallas. Dalam bulan-bulan terakhir sebelum keberangkatannya, aku menerima kabar dari Vebi bahwa kini Uple memutuskan untuk mengenakan pakaian muslimah. Uple akan menjadi duta, representasi muslimah Indonesia yang akan merantau untuk menuntut ilmu di Amerika. Dialah Ulfa, sahabatku yang mengajarkanku akan banyak hal, tentang hidup, keberanian dan cita-cita.

Bochum, 15 Juli 2014 

1 comment:

ulfa octaviani said...

Makcik I love you hhahahaha