Sunday, July 27, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 30 Ramadhan, Mengantarkan Ramadhan Pulang

Pulang tak selalu tentang kebahagiaan, terkadang kesedihan mengiringi rindu yang kian mengembang. Ramadhan melambai dari kejauhan, memperhatikan wajah-wajah perindu yang penuh harap akan sebuah perjumpaan. Matahari belum seberapa tinggi ketika kami tiba. Aku memanggul ransel dan sebuah tas tenteng, menahan terik matahari musim panas yang masih betah menemani hingga Ramadhan beranjak pergi.

"Assalamu'alaykum", brother muslim itu membukakan pintu seraya mengucapkan salam kepada kami. Kami disambut hangat dan dipersilakannya masuk. "Rachid", begitu dia memperkenalkan diri pada kami. Apartemen mini satu lantai ini sudah sejak jauh-jauh hari kupesan untuk kami sewa selama empat hari. Sebuah apartemen mahasiswa yang terletak tak jauh dari Masjid Raya. Begitulah kejadian acak yang seperti tak berpola mempertemukan kami dengan brother Rachid, saudara kami yang baik hati. Brother Rachid menjelaskan fasilitas apartemen yang akan kami tempati, meminjami kunci, lalu kemudian pamit pada kami. Selama kami di sini, dia akan menempati rumah yang lain, mungkin rumah orangtua atau kakaknya yang sejak tadi diceritakannya. Tak lupa dia menunjukkan arah menuju Masjid Raya, agar nanti kami bisa berlebaran di sana.

Ketika siang mulai beranjak, kami menyusuri sudut-sudut Rue menuju Masjid. Kompleks bangunan bercorak hijau abu-abu itu mencakup area yang cukup luas, diapit tiga jalan utama. Kami menuju pintu masuk utama. Dua orang bapak setengah baya duduk di belakang sebuah meja, melayani pembayaran zakat fitrah 5 € per jiwa. Aku memberanikan diri bertanya: " Assalamu'alaykum, apakah Bapak berbicara dalam bahasa Inggris?" Sang Bapak tersenyum menjawab salamku sambil membalas: "Apakah Anda berbicara dalam bahasa Arab?" Aku pun menggeleng sambil tersenyum. Baiklah, masih dalam bahasa Inggris aku mencoba bertanya tentang jadwal pelaksanaan sholat Idul Fitri. Sang Bapak dengan bahasa Inggris campur Perancis dan Arab berusaha menjelaskan pada kami. Intinya beliau belum dapat memastikan hingga hasil musyawarah para ulama setempat nanti malam diumumkan. Aku takjub bagaimana rasa persaudaraan itu telah memecahkan sekat-sekat bahasa, budaya dan suku bangsa. Assalamu'alaykum adalah salam yang sama pula, yang mengandung doa, berlaku di seluruh dunia dan senantiasa menyejukkan jiwa.

Sore itu, perjalanan kami lanjutkan menyusuri jalur-jalur kereta bawah tanah menuju "magnet" raksasa yang namanya telah tersohor hampir ke seluruh dunia. Entah bangsa apa saja yang lalu lalang tak habis-habis mengelilingi kaki-kakinya hingga radius sekian kilometer. Matahari masih menyengat. Hawa pengap dan debu diterbangkan angin hingga mengepul mengeruhkan udara. Sekelompok anak asyik berenang di sebuah kolam yang terletak tepat di hadapan muka sang raksasa. Caroussel mini berputar-putar mempermainkan kuda-kuda plastik yang ditingkahi kerlip lampu dan irama musik nan riang. Taman-taman dipenuhi para wisatawan, jalanan pun tak kunjung sepi.

Sambil menunggu matahari tenggelam, dalam riuh keramaian aku merasa kehilangan. Bias-bias senja disembunyikan gumpal-gumpal awan, namun sesekali mengintip pada celah-celah kaki sang raksasa pesolek malam. Tunai sudah Ramadhan tahun ini menemuiku, dan aku mengantarnya dari sudut berdebu di tengah keramaian. Senyumnya perlahan hilang ditelan malam. Lalu tak lama, brother Rachid menghubungi kami, memberitakan bahwa besok hari Senin, Masjid Raya akan mengadakan sholat Idul Fitri sekitar pukul 8 pagi. Riak-riak Seine menari-nari dipermainkan kerlip lampu kota dan kapal wisata yang hilir mudik melintasinya. Angin berhembus pelan, mengantarkan wangi kenangan Ramadhan yang akan selalu aku rindukan. Ramadhan, pulanglah ke peraduan, simpanlah cinta kami padamu dalam serpih-serpih kerinduan.

Paris, 27 Juli 2014

2 comments:

-ia- said...

Oooow, Maktjik lebaran di Paris kah?

Nyiayu Hesty Susanti said...

kan waktu itu udah cerita di chatting rame2, hehe