Monday, March 22, 2021

Mendeteksi COVID-19 dengan USG, Sebuah Angin Segar di Tengah Pandemi?

Corona virus disease-2019 (COVID-19) telah dinyatakan WHO sebagai pandemi global sejak 11 Maret 2020. Wabah penyakit ini mengubah berbagai sendi kehidupan manusia di seluruh dunia, terutama tantangan terbesar tentu saja dihadapi oleh dunia kesehatan. 

Seiring dengan merebaknya COVID-19, diperlukan suatu sistem yang mampu mendeteksi penyakit ini secara mudah, murah, cepat, dan akurat untuk membantu penanganan dan mencegah penyebaran yang semakin luas. 

Metode Deteksi COVID-19
Saat ini, metode Reverse-Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) adalah metode pemeriksaan standar yang menjadi rujukan utama (gold standard) untuk mendeteksi COVID-19.

Namun, meskipun hasil pemeriksaan RT-PCR memiliki tingkat akurasi yang tinggi, metode ini memiliki kekurangan karena harus dilakukan secara invasif dengan memasukkan alat swab ke bagian dalam rongga hidung (nasofaring) dan tenggorokan.

Selain itu, metode membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan metode alternatif lainnya, misalnya pencitraan medis (x-ray, CT-scan, dan ultrasonografi/USG). Dalam praktiknya, untuk skrining umum secara cepat sebelum ditegakkan diagnosis oleh dokter, diperlukan metode-metode alternatif lainnya sebagai pendukung.
Mendeteksi COVID-19 dengan USG, Sebuah Angin Segar di Tengah Pandemi? (2)
Prosedur pengambilan sampel cairan dari rongga dalam hidung (nasofaring) dengan alat swab. (Raimond Spekking, Wikipedia).
Metode Deteksi COVID-19 Berbasis Pencitraan Medis
Metode pencitraan medis berbasis x-ray konvensional dan CT-scan dapat dijadikan rujukan untuk mendeteksi adanya kelainan pernapasan akut dari hasil analisis citra/gambar paru-paru.

Dalam penerapannya, metode ini tidak memungkinkan untuk digunakan langsung pada pasien di ruang IGD, ruang perawatan, ICU dan ruang isolasi. Pasien perlu dipindahkan ke ruang pemindaian (scanning) terpisah sehingga menambah risiko penularan/penyebaran infeksi dari pasien ke para tenaga kesehatan.

Masalah lain yang harus dihadapi di Indonesia adalah terbatasnya jumlah CT-scan, biaya scanning yang relatif mahal, standardisasi quality control dari citra medis yang masih harus ditingkatkan, serta risiko radiasi/ionisasi jika proses scanning dilakukan cukup intens.
Mendeteksi COVID-19 dengan USG, Sebuah Angin Segar di Tengah Pandemi? (4)
Hasil CT-scan paru-paru dari pasien COVID-19. (Jin, Y., Cai, L., Cheng, Z. et al., Wikipedia)
Metode Deteksi COVID-19 dengan Ultrasonografi
Salah satu alternatif lain yang telah banyak dipraktikkan di berbagai negara adalah metode POCUS (Point-of-care Ultrasound). POCUS merupakan metode pemindaian (scanning) USG yang diterapkan langsung pada pasien di tempat pasien berada (bedside), baik itu di ruang IGD, ruang perawatan, ICU, dan ruang isolasi.

Khusus untuk keperluan diagnosis COVID-19, pemindaian dilakukan pada area permukaan dada untuk memperoleh citra/gambar USG paru-paru tanpa metode invasif (melukai atau memasukkan alat ke dalam tubuh pasien). Dengan kelebihan ini, pasien tidak perlu dipindahkan ke ruang pemindaian terpisah sehingga dapat mengurangi risiko penularan.
Kelebihan lain dari metode USG paru-paru ini adalah penerapannya cukup menggunakan perangkat/mesin USG konvensional yang jumlahnya relatif banyak di faskes-faskes di Indonesia, sehingga biaya tes dapat ditekan serendah mungkin, tanpa risiko radiasi/ionisasi, serta hasil diagnosis dapat diperoleh secara cepat/langsung pada layar USG atau ponsel pintar.

Bagaimana Cara Mendeteksi COVID-19 dengan USG?

Prinsip dasar dari pencitraan (imaging) USG paru-paru untuk mendeteksi COVID-19 didasarkan pada terjadinya artifak tertentu pada citra USG paru-paru. Artifak, secara sederhana dapat diartikan sebagai “keanehan” atau perubahan yang terjadi pada citra USG yang tidak mewakili organ/objek sebenarnya yang sedang dipindai (di-scan).
Pada kondisi paru-paru normal, gelombang ultrasonik dari probe akan diteruskan oleh alveolus yang hanya berisi udara, sehingga bagian bawah citra USG di bawah lapisan paru-paru (pleura) memiliki pola seperti kantong udara kosong.

Secara umum, citra USG untuk paru-paru normal ditandai dengan pengulangan garis-garis horizontal (A-line) yang jaraknya teratur satu sama lain. A-line ini timbul dari hasil pemantulan gelombang ultrasonik oleh lapisan pleura.
Mendeteksi COVID-19 dengan USG, Sebuah Angin Segar di Tengah Pandemi? (5)
Citra USG paru-paru normal dengan kemunculan A-line berulang dengan jarak teratur. (Susanti, H., dan Suprijanto, 2021).
Kondisi terjadinya infeksi paru-paru dapat menyebabkan penebalan pada lapisan pleura atau timbulnya cairan pada alveolus atau bagian paru-paru lainnya. Kondisi ini menyebabkan terjadi pemantulan berulang-ulang (multiple reflection) dari gelombang ultrasonik oleh lapisan pleura dan/atau area alveolus dan sekitarnya.

Pemantulan berulang ini mengakibatkan terjadinya artifak khas pada citra USG paru-paru berupa garis-garis horizontal (A-line) berulang dengan jarak tidak teratur dan garis vertikal (B-line) berulang yang memotong atau menghilangkan A-line.

Sebelum menegakkan diagnosis, kemunculan artifak-artifak khas ini perlu pula ditambahkan dengan pengetahuan terhadap kondisi-kondisi khas lainnya pada citra USG paru-paru yang mengindikasikan gangguan/kelainan tertentu pada paru-paru.
Mendeteksi COVID-19 dengan USG, Sebuah Angin Segar di Tengah Pandemi? (6)
Garis-garis vertikal (B-line) pada paru-paru pasien pneumonia. (Neil.m.young, WikEM, The Global Emergency Medicine Wiki).
Perkembangan Teknologi USG untuk Deteksi COVID-19
Penilaian citra USG paru-paru ini memiliki tantangan lain dalam penerapannya, terutama dengan masifnya jumlah pasien per hari yang harus ditangani oleh tenaga kesehatan.

Keterbatasan jumlah dan kemampuan dokter dibandingkan dengan jumlah pasien dapat menurunkan ketepatan/akurasi penilaian langsung oleh dokter terhadap citra USG paru-paru.

Kondisi ini mendorong para peneliti untuk mengembangkan metode pengolahan citra/gambar USG dengan algoritme tertentu pada program komputer dan teknologi kecerdasan buatan (AI/Artificial Intelligence), sehingga penilaian citra USG paru-paru dapat dilakukan secara otomatis dan lebih cepat.
Bagaimana Membedakan Kondisi Paru-paru Akibat Infeksi COVID-19 dengan Kelainan/Penyakit Paru-paru lainnya?
Sampai saat ini, diagnosis kondisi paru-paru dengan metode USG ini belum memiliki konsensus internasional, pengujian kompetensi, serta sertifikasi yang dapat diterapkan pada semua pasien di setiap negara.

Selama ini, pengujian dilakukan berdasarkan pengalaman kasus per kasus. Untuk COVID-19 sendiri, sampai saat ini para ahli sudah mengembangkan beberapa acuan praktikal diagnosis untuk kasus-kasus khusus, misalnya yang dikembangkan oleh Youssef dkk untuk penerapan pada pasien terduga COVID-19 dalam kondisi hamil.
Meskipun demikian, metode pencitraan USG paru-paru untuk mendeteksi COVID-19 ini menjadi angin segar yang diharapkan dapat membantu melengkapi metode deteksi standar yang sudah ada sebelumnya.

Dengan kelebihannya yang praktis, aman, dan efektif, penggunaan USG paru-paru terutama di ruang IGD sebagai metode skrining awal COVID-19 semakin banyak diterapkan di berbagai negara.
Lalu, bagaimana Indonesia menjawab tantangan dan kesempatan ini?
Referensi
1. Susanti, Hesty, dan Suprijanto. (2021): Image Processing Framework for Pleural Line (A-Line) Detection in Video Lung Ultrasonography, IEEE-EMBS Conference on Biomedical Engineering and Sciences 2021.
2. Kulkarni, S., Down, B, dan Jha, S. (2020): Point-of-care (POC) lung ultrasound in intensive care during the COVID-19 pandemic, Clinical radiology.
3. Youssef, A., Serra, C., dan Pilu, G. (2020): Lung ultrasound in the COVID-19 pandemic: a practical guide for obstetricians and gynecologists, American Journal of Obstetrics and Gynecology.
4. Leidi, A., dkk. (2020): Point of care ultrasonography from the emergency department to the internal medicine ward: current trends and perspective, Internal and Emergency Medicine, 15(3): 395-408.
5. Buonsenso, D., dkk. (2020): Point-of-care lung ultrasound findings in novel coronavirus disease-19 pnemoniae: a case report and potential applications during COVID-19 outbreak, European Review for Medical and Pharmacological Sciences, 24(5): 2776-2780.
6. Fiala, M.J., dkk. (2020): A brief review of lung ultrasonography in COVID-19: is it useful? Annals of Emergency Medicine.
7. Poggiali, E., dkk. (2020): Can lung US help critical care clinicians in the early diagnosis of novel coronavirus (COVID-19) pneumonia? Radiology.
8. Huang, Y., dkk. (2020): A preliminary study on the ultrasonic manifestations of peripulmonary lesions of non-critical novel coronavirus pneumonia (COVID-19), Research Square.
9. Koenig, S., dan Tsegaye, A. (2019): POINT: Should point-of-care ultrasound examination be routine practice in the evaluation of the acutely breathless patient? Yes, Chest, 156(3), 424-426.
10. Peng, Q-Y., Wang, X-T., dan Zhang, L-N. (2020): Findings of lung ultrasonography of novel corona virus pneumonia during the 2019-2020 epidemic, Intensive Care Med, 46: 849-850.
11. Yoo, J, dkk. (2020): Emergency department lung ultrasound findings in novel coronavirus, Annals of Emergency Medicine.

'Melihat' dengan Gelombang Bunyi Ultrasonik, Indra yang Tertukar?

Ultrasonografi atau USG merupakan salah satu teknik pencitraan medis yang telah lama dikenal oleh masyarakat. Teknologi ini didasarkan pada gelombang ultrasonik yang sesungguhnya merupakan gelombang bunyi. 

Namun umumnya, masyarakat mengasosiasikan USG hanya terbatas untuk mencitrakan janin dalam kandungan, sebagaimana masyarakat sering mengasosiasikan x-ray hanya sebagai foto rontgen dada. 

Aplikasi lain dari USG dalam bidang medis belum terlalu banyak dikenal. Padahal, tahukah Anda? USG adalah salah satu teknik pencitraan yang memiliki banyak keunggulan dibandingkan teknik pencitraan medis lainnya.

Sejarah Ultrasonik
Sebelum mengenal bagaimana USG bekerja dan menghasilkan citra bagian dalam tubuh manusia, saya akan bercerita bagaimana teknologi ini bermula.

Menelisik sejarahnya, teknologi ultrasonik ternyata berasal dari laut, karena lautlah yang mula-mula mengilhami pemanfaatan teknologi ini sebagai indra penglihatan yang menggantikan keterbatasan manusia. Di kedalaman laut, indra penglihatan, penciuman, peraba dan perasa hampir-hampir tak bisa digunakan. Salah satu harapan yang tersisa adalah indra pendengaran.

Gelombang ultrasonik adalah harapan yang tersisa tersebut. USG adalah “indra pendengaran” yang direkayasa menjadi “indra penglihatan“ untuk mengamati berbagai fenomena yang terjadi di kedalaman samudra. Pada masa-masa awal pengembangannya, dikenal lah teknologi SONAR (Sound Navigation and Ringing) yang memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk navigasi atau mendeteksi objek bawah laut.
'Melihat' dengan Gelombang Bunyi Ultrasonik, Indra yang Tertukar?  (8)
Aplikasi SONAR dengan memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk navigasi dan deteksi objek bawah laut. (NOAA, Wikipedia)
Apa Itu Gelombang Ultrasonik?
Seiring dengan berkembangnya teknologi, pemanfaatan USG kemudian lebih banyak kita kenal dalam dunia medis.
Gelombang ultrasonik merupakan gelombang bunyi dengan frekuensi sangat tinggi melebihi ambang batas pendengaran manusia, yaitu di atas 20 kHz (20 ribu getaran per detik) sehingga kita tidak dapat mendengarnya.

Di alam, jenis-jenis hewan tertentu mampu mendengar jenis gelombang ini, di antaranya kelelawar dan lumba-lumba. Kedua hewan ini memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk berkomunikasi dan bernavigasi untuk pergerakannya.
Bagaimana Gelombang Ultrasonik dapat Menghasilkan Gambar?Pada sebuah perangkat USG, bagian probe yang dikenakan ke permukaan tubuh kita adalah komponen yang dinamakan transduser. Transduser ini berfungsi untuk mengirimkan gelombang ultrasonik dari sumbernya ke tubuh kita, lalu gelombang tersebut akan mengenai organ/objek di dalam tubuh.

Selanjutnya, pantulan gelombang ultrasonik dari objek tersebut akan diterima kembali oleh transduser untuk diproses lebih lanjut menjadi gambar/citra.

Gelombang pantul dari objek tadi mengandung informasi berupa jarak/kedalaman dari seberapa lama waktu yang diperlukan untuk kembali ke transduser. Semakin cepat pantulannya diterima, artinya letak objeknya lebih dangkal, dan seterusnya.

Informasi lain yang terkandung dalam gelombang pantul ini bisa berupa kepadatan, tekstur, bentuk, atau jenis jaringan dari objek/organ tersebut. Semakin kuat intensitas pantulannya, artinya organ tersebut relatif lebih padat dibandingkan dengan jaringan di sekitarnya, dan sebagainya.
'Melihat' dengan Gelombang Bunyi Ultrasonik, Indra yang Tertukar?  (10)'Melihat' dengan Gelombang Bunyi Ultrasonik, Indra yang Tertukar?  (11)
Kiri: Probe USG yang dikenakan ke permukaan tubuh manusia sebagai pengirim dan penerima gelombang ultrasonik. (Drickey, Wikipedia). Kanan: Perangkat/"mesin" USG yang umum digunakan di fasilitas kesehatan. (Drickey, Wikipedia)
Informasi-informasi ini kemudian diterjemahkan oleh perangkat USG sebagai gambar dengan skala keabuan (grayscale) tertentu, atau masyarakat mengenalnya sebagai foto USG “hitam putih”.

Objek-objek yang letaknya lebih dangkal dari permukaan kulit akan berada pada posisi pada gambar yang lebih dekat ke transduser (garis paling atas), dan seterusnya. Objek-objek dengan pantulan yang lebih kuat akan terlihat lebih putih, sebaliknya objek-objek yang lebih lunak atau mengandung lebih banyak cairan akan terlihat lebih gelap (kehitam-hitaman). Gambar “hitam putih” inilah yang kemudian dicetak oleh dokter dan seringkali dikoleksi oleh ibu-ibu hamil sebagai foto janin kesayangan mereka.

Pada perkembangan selanjutnya, gambar USG tidak hanya sebatas gambar “hitam putih” 2 dimensi saja. Informasi dari gelombang pantul tadi diolah lebih lanjut dengan mengikutsertakan informasi-informasi lainnya sehingga dapat diamati secara real time sebagai gambar 3 dimensi.
'Melihat' dengan Gelombang Bunyi Ultrasonik, Indra yang Tertukar?  (12)
Gambar/citra USG 2 dimensi janin dalam kandungan ibu, aplikasi teknologi ultrasonik dalam bidang medis. (Wolfgang Moroder, Wikipedia)
Keunggulan Teknologi Ultrasonografi
Meskipun dari segi kualitas gambar, USG masih kalah dibandingkan dengan x-ray, CT-scan, atau MRI, namun teknologi ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain tidak ada risiko radiasi/ionisasi, perangkatnya relatif kecil dan portabel, lebih praktis, dan lebih murah. Oleh karena itu, untuk banyak kasus tertentu misalnya untuk pasien ibu hamil, hanya USG yang dapat digunakan karena x-ray, CT-scan, dan MRI memiliki risiko tinggi paparan radiasi terhadap janin.

Dengan berbagai keunggulan ini, apakah USG dapat digunakan untuk aplikasi lain dalam bidang medis selain untuk melihat janin? Jawabannya tentu saja bisa. Lain waktu akan saya ceritakan bagaimana USG dapat dimanfaatkan untuk mendiagnosis paru-paru dari pasien COVID-19.

Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selama puluhan tahun, gelombang bunyi yang tak terdengar, tak teraba, tak tercium, dan tak terasa ini mampu diubah menjadi sesuatu yang dapat terlihat yang dalam perjalanannya mampu mengubah banyak hal dalam sejarah peradaban manusia, dari laut hingga ke perut.

Artikel ini pertama kali terbit di Kumparan:

Friday, March 19, 2021

Hari yang Jauh

Kemarin seperti hari yang jauh
sisa-sisanya menggenang di tepian
Tawa renyahmu terdengar sayup
ditelan kemarau panjang

Kuperhatikan delik matamu
kosong, tak terbaca
Kucermati gumam igaumu
bisu, tak terdengar

Engkau berlari-lari di tepi padang
mengajakku ikut serta
mengejar ekor pelangi
di bawah awan-awan sisik

Malam menjelang
tetapi hari masih panjang
mengulur, mengambang
seperti layang-layang

Kemarin seperti hari yang jauh
sisa-sisanya menuntunku pulang
Engkau melambai di kejauhan
sebelum hilang ditelan malam

Bandung, 18 Maret 2021

Wednesday, March 10, 2021

Art, Science, and Food

Why am I so passionate about art? 

I don't have any exact answer to this question. Just like the comparison between love and like. Some people said that like is because, but love is despite. Love doesn't have the so-called "reasons". Maybe it does, but I believe they can't be explained simply, they are imaginary. That's what I feel about art: love. 

How did I jump into the realm of the interconnection between art, science, and food, recently? 

Art? That's what I explained to you earlier, everything about it is love. Case's closed. 
Science? That's something else I passionate about. I have spent more that two thirds of my life to learn it formally in schools and colleges until Doctoral-level. Well, science and its derivative: engineering. 

But, what about food? This is the problem and the turning point. Since a long time ago, I have found that cooking is something pleasurable to me, but not the case for eating. Often, I have to struggle to adjust many things to increase my appetite. My most favorite month is Ramadan, but when I was a kid, the reason was something silly: during the month, I could skip the lunch without being in an argument with my parents.  

This problem have driven me to look for the things that can help me find the reasons to eat properly, things like science, art, psychology, environment, sustainability, or anything else behind the food. This quest have led me to the realm of the interconnection between art, science, and food. 

Nowadays, the sources of knowledge are abundant, especially online. We can learn many things from many valuable sources and many amazing people out there, way more easily than our previous generations could. Prof. Charles Spence and Charles Michel are currently my two favorite people as the main sources of knowledge to feed my hunger/quest about these fields. With their wonderful and beautiful minds, not to mention their bright personalities, dozen of books and scientific papers they recommend, accompanied by series of talks and lectures, can be digested more easily. 

You can check these links to learn more about their works:
Charles Spence:
Charles Michel:

List of books related to the fields recommended by Charles Michel:
1. Catching Fire, How Cooking Made Us Human, by Wrangham. 
2. Concerning the Spiritual in Art, by Kandinsky. 
3. Gastrophysics, the New Science of Eating, by Charles Spence. 
4. Human Evolution, by Dunbar. 
5. Hungry City, by Steel. 
6. Multisensory Flavor Perception from Fundamental Neuroscience through to the Marketplace, by Piqueras-Fiszman, and Charles Spence. 
7. Sensation and Perception, by Goldstein. 
8. Silo, the Zero Waste Blueprint a Food System for the Future, by McMaster. 
9. Sitopia, by Steel. 
10. The Perfect Meal the Multisensory Science of Food and Dining, by Charles Spence, and Piqueras-Fiszman. 
11. Umami, Unlocking the Secrets of the Fifth Taste, by Mouritsen, et al. 

Something else just popped up in my mind. I dream about what I can do to help solving the problem related to food, its sustainability, and its impact to the environment by applying my knowledge about ultrasound engineering. Some keywords started to fly before my eyes: power ultrasound, high intensity-low frequency ultrasound, cavitation effect, shockwave, food engineering, food preservation, etc. But, I just have to be patient, may Allah gives me sincere intention, ability, and opportunity to realize this dream.

However, above everything else inside the scope of these topics, I must not forget the problem I wanted to solve in the first place: fixing my appetite about food, not my appetite about knowledge that sometimes exceeds a normal rate. 

Bandung, 10 March 2021, precisely a year after my last visit to the campus. 

*What lessons can the pandemic give you within the period of one year? 



Wednesday, February 10, 2021

Pohon Rambutan Yai

Pergantian berupa-rupa kejadian dalam hidup kadang membawa kita kembali ke suatu masa yang rasanya tidak pernah tidak kita rindukan. Kejadian-kejadian itu tak melulu harus yang hebat-hebat. Kejadian-kejadian itu dapat pula meliputi sesuatu yang kecil, halus seperti pergerakan benda-benda yang tidak kita sadari, atau pergantian musim dan cuaca. Pergerakan matahari, aliran air, arah angin, dan bintang gemintang menyanyikan hidup pada bebijian yang berkecambah. Hara diisap oleh akar-akar tumbuhan, menyemi daun-daun, menyemai buah-buahan pada tangkai-tangkainya. 

Aku dilahirkan di tanah khatulistiwa yang disiram matahari sepanjang tahun. Pergantian musim-musim, panas dan hujan, berarti pula pergantian musim buah-buahan. Pertengahan musim hujan di awal tahun menandai salah satu musim buah kesukaanku sejak kanak-kanak, buah rambutan. Mengapa bagiku buah ini begitu istimewa, tak sekadar rasanya saja? Mari kuceritakan, Kawan. 

Dulu, dulu sekali, ketika aku masih kecil, tersebutlah seorang kakek, aku memanggilnya Yai. Beliau adalah tetangga kami, sekaligus keluarga dari pihak ayahku. Sejak aku bisa mengingat, yang kutahu Yai sudah pensiun. Dulu, kudengar beliau mengepalai Kantor Penerangan di kabupaten kami. 

Aku mengenal Yai sebagai seorang kakek yang rajin bercocok tanam. Apa saja yang ditanamnya pasti tumbuh dengan baik, berbunga, berbuah. Tangannya "dingin" kalau kata ibuku.  Hampir setiap hari ada saja tanaman yang dirawatnya. Sesekali aku melihatnya bepergian dengan sepeda phoenix. Rambutnya disisir rapi ke belakang, mengkilap dan wangi minyak rambutnya masih kuingat sampai sekarang. Lalu, rambut yang rapi itu akan ditutupinya dengan peci hitam dan sepeda pun dikayuhnya entah ke mana. Nanti, sepulangnya yang entah dari mana itu, ada saja cerita yang dibawanya. Yai juga kukenal sebagai sosok yang humoris dan ramah. Beliau mempunyai beberapa cucu, tapi yang juga bertetangga dengan kami dan umurnya tak berjauhan denganku hanya 4 orang. Mereka adalah sahabat-sahabat pertamaku dalam hidup. Kami tumbuh dan besar bersama dalam kasih sayang Yai. 

Di depan rumah kami dulu, pada sepetak tanah yang Yai jadikan kebun, tumbuhlah dua pohon rambutan. Sejak aku bisa mengingat, yang kutahu pohon rambutan itu sudah tinggi menjulang, cabang-cabangnya banyak sekali, rimbun pula daunnya. Saking rimbunnya, panas dan terik tak akan terasa bila kita berteduh di bawahnya. Ketika tiba musimnya, buah-buah manis itu akan menggelayut pada cabang-cabangnya, merah merona, menggoda tangan-tangan kecil kami. Tapi, aku tahu, Yai tak senang kalau kami memetik rambutan tanpa seizinnya. Maka, kami akan menunggu dengan sabar sampai tiba hari panen yang dinanti-nantikan. 

Ayahku tahu, aku menyukai buah rambutan. Maka, tak perlu menunggu hari panen itu pun, sejak para pedagang mulai menjual rambutan di pasar-pasar, ayahku pasti akan membelikan buah rambutan untuk dibawa pulang. Tapi, tetap saja, hari panen buah rambutan Yai adalah yang paling istimewa, tak pernah sama, tak ada yang bisa menggantikannya. 

Pada hari raya itu, aku, abangku, dan keempat cucu Yai akan bekerja sepanjang hari memetik buah-buah rambutan dari cabang-cabang rendah yang berada dalam jangkauan kami. Orang-orang dewasa akan memetik dari cabang-cabang yang lebih tinggi dengan memanjat atau dengan galah. Lalu, buah-buah rambutan itu akan dipilah-pilah, dibersihkan dari daunnya, dan diikat dalam kumpulan beberapa tangkai. Kami, anak-anak, akan bertugas membagi-bagikannya ke para tetangga, lalu sisanya dititipkan di kedai-kedai dekat rumah kami. 

Kenangan-kenangan sederhana tentang pohon rambutan Yai, selalu mengingatkanku kepada sahabat dan keluargaku, kepada kampung halamanku, kepada asal di mana aku bermula. Rambutan tak menjadi sekadar buah saja, ia adalah salah satu representasi paling manis dari kenangan masa kecilku, kenangan akan kasih sayang dari orang-orang terkasih. 

Bertahun-tahun kemudian, terlebih ketika aku merantau ke Eropa, di mana mendapatkan rambutan tak lebih mudah dari mencari ikan kala purnama, ketika aku benar-benar mendapatkannya, maka aku akan menyediakan waktu istimewa untuk mengingat Yai. Sekarang pun, meski aku sudah kembali ke tanah air dan mendapatkan buah rambutan tak lagi sesulit dulu, tetap saja awal tahun yang menandai musim rambutan itu selalu menjadi saat-saat yang istimewa. Maka, bagiku buah rambutan adalah buah kasih sayang, tak lebih dan tak kurang. 

Bandung, 10 Februari 2021





Tuesday, February 09, 2021

Kebebasan Berpikir

Pada gagasan tentang kemerdekaan, terkandung pula di dalamnya kebebasan berpikir. Jika engkau masih merasa takut untuk membaca buku-buku tertentu atau menyimak pembicaraan orang-orang tertentu karena kekhawatiran akan terpengaruh, bukan karena pilihan sadar masalah kesukaan saja, artinya engkau belum sepenuhnya berkuasa atas pikiranmu sendiri. Untuk sampai pada tahap ini, memang tidak serta merta terjadi begitu saja. Aku sendiri berproses sejak belia untuk memapar diriku sendiri dengan beragam pemikiran, tak peduli apapun pendapat orang tentang pemikiran-pemikiran tersebut. Aku lebih memilih untuk mencoba menyelaminya sendiri, membaca, mempelajari, menganalisis, membandingkan, berdiskusi dengan banyak orang, lalu memutuskan pada akhirnya, apakah pemikiran-pemikiran tersebut akan bersemayam dalam kepalaku sebagai sekadar pengetahuan saja, atau sebagai gagasan yang lebih besar untuk kuanut, tak terkecuali untuk masalah agama.

Mungkin terdengar liar dan berbahaya untuk sebagian orang, tapi tidak untuk kedua orang tuaku. Sejak kecil, aku dan abangku dibebaskan oleh mereka untuk memilih, untuk berpikir dan berpendapat, namun tentu dengan arahan-arahan yang kadarnya mereka atur sedemikian rupa, tidak mengekang tapi tidak pula lepas kendali, sampai pada saatnya ketika mereka yakin, aku dan abangku bisa berdiri sendiri. Dulu, kupikir, perlakuan yang kuterima ini biasa saja, tak ada yang istimewa, tapi semakin jauh aku merantau, semakin banyak orang yang kukenal, aku mendapati ternyata tak banyak anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan sepertiku, terlebih pula untuk seorang perempuan yang dibesarkan di dunia timur.

Di rumah kami dulu, aku membaca macam-macam buku, dari literatur tasawuf milik kakekku, novel-novel klasik dan modern, sampai komik milik abang sepupuku. Aku memilih pula untuk berpindah-pindah sekolah karena ternyata tak semua guru bisa berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan kritisku. Konsekuensi positifnya aku bisa mengenal semakin banyak kawan dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, etnis, budaya, dan agama. Aku ingin melihat dunia dari kacamata mereka yang berbeda dariku dan itu tidak kurang menyenangkannya dari kesukaanku melahap buku-buku.

Kemerdekaan berpikir adalah anugerah yang mesti kurawat baik-baik karena ia adalah pedang bermata dua. Intelektualitas hanya satu dari tiga komponen yang membentuk manusia serta membedakannya dari binatang. Manusia adalah makhluk biologis, intelektual, sekaligus spiritual. Timpang salah satunya saja, tak akan pernah baik kesudahannya. Maka, pada akhirnya, perjalanan hidup kita tak lain adalah petualangan tak henti-henti dalam menyeimbangkan ketiganya sejak kali pertama Ibu mengantarkan kita ke dunia, hingga napas terakhir kelak mengembus dari dalam dada.

Bandung, 9 Februari 2021. 

Home

If there is any vivid loving memory of my past, my childhood home is definitely one of them. Often in my dream, I just live my life as beautifully as I did at that time. As if it was never a past nor a bitterness of longing for the things that will never come back.

I never forget the moment I stepped my feet out of its door for the last time to find out later that we never came back to that home again for the noble reasons my parents made that I actually never regret. That home will still be the same in my dream with all the memories of my childhood. Our family homes after that have never been crafted more deeply in my heart. 

Wherever and whenever I go to find a nest, one after another, from the sunny day at my boarding school in Bangka to the cruel winter in Bochum, from the bustling morning of my neighborhood in Pangkalpinang to the chilly morning in Bandung, bittersweet memories of my childhood home is my very own definition of homesick. It always has been and always will be.

Bandung, 9 February 2021.