Friday, July 18, 2014

Catatan Ramadhan 1435 H - 21 Ramadhan, Memori Bratislava, Slovakia

Musim panas seperti baru menampakkan wajahnya yang malu-malu sejak awal Ramadhan tahun ini. Hawa panas, pengap dan gerah menyergap dari celah-celah jendela sejak malam tadi. 32 derajat Celcius ketika kulirik penunjuk cuaca di komputerku, pantas saja. Begitu jauhnya perbedaan temperatur udara antara musim panas dan musim dingin yang dirasakan oleh orang-orang di negara 4 musim. Aku jadi teringat perjalanan bersama sahabatku Mira di bulan Desember 2012 yang lalu, ketika musim dingin mulai menggigit, menyelimuti lamat-lamat bumi Eropa Timur.

Kami menumpang bis milik sebuah perusahaan transportasi Ceko dari Prague menuju Bratislava. Perjalanan sekitar 4 jam itu terasa lebih lama dari seharusnya, entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Salju mulai turun perlahan, lalu rinai-rinainya seperti tumpah ruah berhamburan dari langit. Kami yang memilih tempat duduk paling depan, tepat di belakang sopir, bisa menyaksikan langsung penampakan jalan raya yang kami lalui sepanjang perjalanan. Seperti di negeri dongeng antah berantah, aku ingat perjalanan sore itu, bis yang membawa kami seperti tertelan kabut salju. Jarak pandang mungkin tak lebih dari 3 meter. Pak sopir melambatkan kecepatan bis, di kiri kanan, kulihat samar-samar padang-padang yang tertutup salju, muram, kelabu berselimut beku.

Singkat cerita, sampailah kami di Bratislava, di sebuah stasiun bis yang sepi dan tampak tak begitu terawat. Tumpukan salju yang setengah mencair bercampur tanah kecoklatan membuat suasana terminal semakin kotor. Aku merapatkan retsleting jaket dan mengenakan sarung tanganku, angin musim dingin kali ini rupanya tak kalah mengiris. Tak ada catatan khusus mengenai kota tua di jantung Eropa Timur ini, sebelum kami menginjakkan kaki di sana, di sebuah negara “baru” pecahan Cekoslovakia. Seperti umumnya kota-kota di Eropa, Bratislava juga relatif sepi di hari natal.

Pegunungan di sekitar Devin Castle, Bratislava
Kami menginap di sebuah hostel di pusat kota, tak jauh dari gedung kedutaan Jerman dan Amerika Serikat. Pemilik hostel ini adalah seorang bapak setengah baya yang sangat ramah dan fasih berbahasa Inggris. Karena sedang liburan natal, semua pegawai hostel mengambil cuti. Semua kamar pun kosong, sehingga kami seperti menyewa sebuah hostel tak berpenghuni. Sang bapak pemilik hostel tinggal agak jauh dari situ, sehingga dia hanya datang setiap pagi untuk menyiapkan sarapan kami, selebihnya hanya kami berdua, menginap di bangunan sebesar rumah 3 lantai itu. Kami bebas menggunakan ruangan mana saja yang kami suka dan kami dipinjami kunci sendiri.

Di lantai bawah, sekaligus lobi tempat menerima tamu, terdapat Cafe dengan interior yang unik, atau kalau tak boleh dibilang seram. Betapa tidak, 3 boneka nenek sihir menggantung di langit-langitnya, menyeringai di bawah temaram lampu. Aksesoris lainnya berupa barang-barang antik dan koleksi uang kertas dari berbagai negara yang ditempel di salah satu dindingnya. Kami menemukan pecahan 500 Rupiah bergambar orang utan yang bergaya bersama wajah-wajah tokoh dari berbagai negara pada pecahan uang lainnya.

Di hari kedua, pegawai hostel sudah kembali bekerja. Seorang bapak yang membantu pemilik hostel mengelola Cafe ternyata tak kalah ramah, namun dia tak bisa berbahasa Inggris. Aku mencoba-coba saja mengajaknya berbicara dalam bahasa Jerman, dan ternyata dia menimpalinya. Transportasi umum di Bratislava adalah bis, tram dan taksi. Slovakia merupakan salah satu negara Eropa Timur pertama yang menggunakan mata uang Euro. Kesan semrawut masih terlihat di beberapa sudut kota. Namun, kesan paling dalam dari kunjungan kami ke kota di tepian Danube ini adalah keramahan penduduknya. Beberapa kali kami dibantu oleh orang-orang yang tak kami kenal ketika kami terlihat bingung melihat jadwal bis di sebuah terminal. Walaupun sebagian besar dari mereka tak bisa berbahasa Inggris, namun mereka berusaha membantu kami, bahkan dengan bahasa isyarat. Pernah juga pada suatu pagi, seorang kakek menawarkan diri untuk memotret kami tak jauh dari jembatan Novy Most yang membelah Danube, juga dengan bahasa isyarat. Ternyata keramahan pun tak ubahnya kejujuran, mata uang yang berlaku di mana-mana, Kawan. 

Bochum, 18 Juli 2014

2 comments:

-ia- said...

Kota yang ramah penduduknya, walau belum sepenuhnya ramah pada turisnya.

--tante

Nyiayu Hesty Susanti said...

hahaha, iya, masih suka bingung gara2 minim info dan keterbatasan bahasa Inggris mereka :)