Saturday, November 03, 2012

Kawan-Kawan Baru

Sebagian besar waktuku dalam tiga bulan pertama ini kujalani dengan membaca, membaca berulang-ulang, lembar demi lembar buku dan paper, lalu merangkum intisarinya untuk didiskusikan dengan pembimbingku. Usaha belajarku harus lebih keras dari sebelumnya, karena bidang yang harus kupelajari sekarang berbeda dengan latar belakang yang pernah kukerjakan dulu.

Kawan-kawan baruku harus kubaca sambil minum kopi, sambil menggigil kedinginan, sambil menunggu antrian, sambil melamun, sambil makan siang, sambil chatting, sambil diam, kadang-kadang sambil tersenyum, sambil memasak bahkan sambil tertidur. Aku membaca di kantor, di kereta, di kantin, di kamar, atau di dapur. Tapi kalau akhir pekan tiba, aku tak akan menyentuh selembar pun anything related to my research. Akhir pekan adalah waktunya istirahat, belanja kebutuhan pokok, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan para sahabat.

Rasanya aku akan mati bosan kalau tak pandai-pandai menyeling rutinitas monoton seperti ini. Sabar saja lah, aku sudah memilih, janjiku dalam tekad yang akan terus kugenggam erat-erat, bismillah! Seorang temanku pernah menulis: The most basic question every Ph.D. student must know the answer to is: "Why the hell am I doing this?" Hehe :D Semuanya membutuhkan proses, tak ada proses yang terus menerus berjalan mulus, begitu pun sebaliknya.

Cerita yang menungguku akan semakin seru, ku harap begitu. Ketika mesin-mesin mulai menderu, ketika program-program mulai “berlari”, akan tiba pula masa-masa dimana aku harus menulis, berkicau dalam forum-forum, atau sekedar begadang dalam malam-malam panjang ketika deadline-deadline menunggu untuk diselesaikan.

Aku ingin mengenal berupa-rupa manusia dari seluruh dunia, tapi kakiku baru mampu melangkah sampai di sini dulu. Ingin sekali aku menjelajah sampai ke negeri-negeri yang jauh, menjangkau sampai jantung budayanya. Biarlah mimpi itu kusimpan dulu, sembari memetik beragam pengalaman yang bisa kutemui di sini. Di sini tidak ada mata kuliah yang harus kuikuti, tugas utamaku adalah riset. Aku rindu duduk di dalam kelas, mendengarkan kuliah dengan penuh semangat atau sampai tertidur kala ngantuk mendera. Sudah lama rupanya, hampir 2 tahun yang lalu adalah kala terakhir aku duduk di atas bangku-bangku kayu, dalam kelas-kelas berjendela kaca.

Mimpiku untuk mengenal berupa-rupa manusia itu setidaknya sedikit terwujud di kelas baruku, kursus bahasa Jerman. 28 orang teman baru dari seluruh dunia, dengan ciri khas masing-masing. Raut muka, warna kulit, warna rambut, nama-nama yang khas, mereka mewakili berbagai ras dan budaya. Betapa aku langsung jatuh cinta berada di tengah-tengah pusaran budaya seperti ini, mengenal berbagai bahasa dari penutur aslinya. Kawan-kawan baruku berasal dari China, Korea, Pakistan, Nepal, Iran, Israel, Maroko, Elfenbeink├╝ste (Pantai Gading), Turki, Perancis, Cyprus, Moldavia, Bulgaria, Rusia, Ukraina, Yunani, Spanyol, Mexico, Brazil dan Chile. Kadang-kadang kami harus menggunakan bahasa isyarat karena beberapa di antara kawanku tidak bisa berbahasa Inggris.

Aku bisa melihat begitu eratnya beberapa budaya berbeda diikat dengan bahasa yang sama. Di sisi lain, aku tak melihat adanya jarak yang memisahkan beberapa kawanku yang berasal dari negara-negara yang sebenarnya pernah atau bahkan masih berselisih. Dalam derai salju tipis pekan ini, di sini aku menemukan kedamaian dalam bentuk berbeda yang belum pernah kulihat sebelumnya, indah sekali, Kawan.

Bochum, 12 Februari 2012


No comments: